Global Warming, Issue or Fact?


 

Abstract

 

Global warming is the term used to describe a gradual increase in the average temperature of the Earth’s atmosphere and its oceans, a change that is believed to be permanently changing the Earth’s climate. There is great debate among many people, and sometimes in the news, on whether global warming is real (some call it a hoax). But climate scientists looking at the data and facts agree the planet is warming. While many view the effects of global warming to be more substantial and more rapidly occurring than others do, the scientific consensus on climatic changes related to global warming is that the average temperature of the Earth has risen between 0.4 and 0.8 °C over the past 100 years. The increased volumes of carbon dioxide and other greenhouse gases released by the burning of fossil fuels, land clearing, agriculture, and other human activities, are believed to be the primary sources of the global warming that has occurred over the past 50 years. Scientists from the Intergovernmental Panel on Climate carrying out global warming research have recently predicted that average global temperatures could increase between 1.4 and 5.8 °C by the year 2100. Changes resulting from global warming may include rising sea levels due to the melting of the polar ice caps, as well as an increase in occurrence and severity of storms and other severe weather events.

sumber : http://www.livescience.com/topics/global-warming/

 

 

Abstrak

 

Pemanasan global adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan bertahap dalam suhu rata-rata atmosfer bumi dan lautan, sebuah perubahan yang diyakini secara permanen mengubah iklim bumi. Ada perdebatan besar di antara banyak orang, dan kadang-kadang dalam berita, apakah pemanasan global adalah nyata (beberapa menyebutnya tipuan). Tetapi para ilmuwan iklim dengan melihat data dan fakta setuju bahwa planet ini memanas. Sementara banyak terlihat efek dari pemanasan global menjadi lebih besar dan lebih cepat terjadi daripada yang lain lakukan, konsensus ilmiah tentang perubahan iklim yang terkait dengan pemanasan global adalah bahwa suhu rata-rata bumi telah meningkat antara 0,4 dan 0,8 ° C selama masa 100 tahun. Peningkatan volume  karbon dioksida dan gas rumah kaca yang dikeluarkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, pembukaan lahan, pertanian, dan aktivitas manusia lainnya, diyakini sebagai sumber utama dari pemanasan global yang telah terjadi selama 50 tahun terakhir. Para ilmuwan dari Panel Antarpemerintah tentang Iklim melakukan penelitian pemanasan global baru-baru ini memperkirakan bahwa suhu global rata-rata bisa meningkat antara 1,4 dan 5,8 ° C pada tahun 2100. Perubahan yang dihasilkan dari pemanasan global mungkin termasuk naiknya permukaan laut karena mencairnya es di kutub utara, serta peningkatan kejadian dan keparahan badai dan kejadian cuaca buruk lainnya.

 

 

Global Warming, issue or fact?

Pada era 1970-an, semua pakar iklim di dunia yakin bahwa zaman es berikutnya sudah di ambang pintu, karena mereka percaya dunia semakin dingin. Tetapi anehnya hanya selang beberapa tahun kemudian, tiba-tiba muncul isu pemanasan global yang menyatakan dunia semakin panas.

Seperti semua isu besar yang pernah lahir di dunia ini, uang, kekuasaan, dan kapitalisme adalah latar belakangnya. Pemanasan global menyulut sebuah krisis kolosal dan menggugah orang melakukan sesuatu. Krisis harus dikaji, diteliti dan penelitian itu perlu didanai serta didukung oleh struktur politik dan birokrasi di seluruh dunia.

Dalam sekejap semua pakar berubah menjadi pakar iklim untuk mengkaji isu tersebut. Peluang besar untuk yang menjanjikan banyak uang dan kekuasaan di depan mata mereka. Lalu isu ini pun lama-kelamaan berubah menjadi isu global.

Isu seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Sebagai contoh pada tahun 1983 ada sebuah isu yang disebut musim dingin nuklir. Sebelum tahun 1983 belum pernah ada satu orang pun di dunia ini yang mendengar kalimat itu. Sampai pada suatu hari diadakan suatu konferensi besar-besaran mengenai isu tersebut dan akhirnya isu aneh itu tersebar.

Padahal isu ini tidak didukung oleh makalah ilmiah apapun. Dalam lima hari, isu ini sanggup meracuni otak para masyarakat. Faktanya memang bohong karena sampai hari ini sesuatu yang disebut musim dingin nuklir  itu tidak pernah terjadi.

Jadi beginilah asal mula munculnya isu pemanasan global, pada Juni 1988 lembaga pemerintah Amerika mengadakan rapat dengan pendapat antara senat dan bagian legislative, yang waktu itu diketuai senator Wirth dari Colorado. Pada waktu itulah seorang pakar klimatologi terkenal bernama James Hansen menyampaikan teorinya mengenai pemanasan global yang disaksikan oleh ratusan wartawan. Pemaparan teori James Hansen ini langsung dirilis ke media yang serta merta ditelan bulat-bulat oleh masyarakat. Padahal rapat dengan pendapat itu telah diskenario sebelumnya.

Isu yang telah digulirkan tahun 1988 itu sebenarnya telah dirancang jauh-jauh hari dan berkaitan dengan dibentuknya IPCC oleh PBB. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) adalah badan organisasi besar beranggotakan para birokrat dan sejumlah ilmuwan yang bekerja di bawah segelintir birokrat. Organisasi atau badan itu dibentuk oleh PBB pada akhir tahun 1980-an dengan tujuan melakukan pemetaan dan pelacakan hasil-hasil riset mengenai iklim serta bulletin-buletin laporan yang diterbitkan setiap beberapa tahun sekali.

Pada tahun 1990, berbagai laporan yang dikumpulkan IPCC menunjukkan bahwa mayoritas ilmuwan menyatakan sulitnya mendeteksi pengaruh manusia terhadap iklim, meski banyak pihak meyakini keduanya memiliki keterkaitan. Pada tahun 1995, IPCC mengadakan sidang dengan para ilmuwan dari seluruh dunia yang menghasilkan kesimpulan tetap bahwa mereka sulit mendeteksi pengaruh manusia terhadap iklim. Waktu itu para ilmuwan mengatakan dengan tegas, “kami tidak tahu”.

Maka laporan mengenai hal itu ditulis. Berkas dokumen itu menyatakan para ilmuwan sama sekali tidak bisa mendeteksi pengaruh manusia terhadap iklim. Tetapi di saat sidang dibubarkan, IPCC menghapus semua berkas tentang itu dan mengubahnya dengan pernyataan bahwa mereka telah menemukan bukti-bukti pengaruh nyata manusia terhadap iklim. Itulah skandal pertama yang dibuat oleh IPCC.

Hasil dari itu semua, terjadilah skandal besar dalam dunia ilmu pengetahuan. Perubahan isi yang dilakukan dengan seenaknya oleh IPCC ini memicu konflik antar ilmuwan yang sangat panas. Pada waktu itu, para ilmuwan yang pro dan kontra sukses membuat masyarakat kebingungan antara mana yang benar dan mana yang salah.

Skandal yang dibuat IPCC tidak hanya berhenti sampai di situ. Sampai akhirnya semua pihak meyakini kalau organisasi itu bukanlah untuk kepentingan ilmiah, melainkan merupakan organisasi politik.

Pada tahun 1988, James Hansen mengadakan konferensi pers dan menyampaikan kesaksiannya. Ia meramalkan bahwa suhu bumi akan naik dalam 10 tahun ke depan sebanyak 35o C. namun pada tahun 2008, suhu bumi ternyata hanya naik 11o C. melihat ramalannya yang meleset, ia pun berargumen, bahwa mekanisme yang mengatur perubahan iklim belum dapat sepenuhnya dipahami, sehingga mustahil bisa dibuat prediksi untuk jangka panjang.

Perubahan iklim menjadi topic penting dalam pembahasan pemanasan global. Para pendukung isu yakin kalau perubahan iklim terjadi karena meningkatnya CO2 hasil perbuatan manusia. Faktanya, pembicaraan tentang iklim tidak semudah yang dibayangkan. Karena iklim hanya akan berubah dalam jangka waktu yang panjang. Bukti dari itu semua contohnya adalah badai El Nino.

El Nino adalah fenomena alam yang terjadi sekitar empat tahun sekali yang merupakan peristiwa terbesar dalam konteks iklim global. Dalam hal itu, tidak ada satupun model iklim yang dapat dibuat untuk memprediksi kapan badai itu akan muncul, juga berapa kecepatan dan durasinya.

Para pendukung isu ini mengatakan bahwa pada tahun 2100 anak cucu kita akan mengalami temperature global antara 1,4 sampai 5,8 derajat Celcius lebih panas dari sekarang jika emisi anthropogenic CO2 tidak dikurangi 50-60% dari tingkat yang sekarang pada tahun 2050. Faktanya, pernyataan itu hanya didasarkan pada proyeksi yang dijalankan oleh computer yang ditujukan untuk mensimulasikan respon atmosfer terhadap perubahan konsentrasi CO2.

Reid Bryson, Emeritus Professor di University of Winconsin, yang dianggap banyak kalangan sebagai bapak klimatologi, menanggapi bahwa “sebuah model tidak lebih dari pernyataan formal tentang apa yang dipercaya si pembuat model mengenai bagian dunia yang dikerjakannya. Mungkin butuh bertahun-tahun sebelum kapasitas pengetahuan manusia dan computer cukup untuk membuat simulasi yang beralasan. Model yang digunakan mempunyai kesalahan yang sama, karena pada dasarnya model yang satu adalah cloning dari model yang lain”.

Sementara Bill Kininmonth, Direktur The National Climate Center Australia menulis “kemampuan yang tampak pada model computer untuk mensimulasikan temperature permukaan global dari abad 20 muncul dengan banyak asumsi dan kelemahan. Walaupun IPCC membela diri, tidak mustahil untuk mengisolasi gas rumah kaca anthropogenic sebagai penyebab untuk mengamati pemanasan pada dua dan paruh decade abad 20. Proses internal iklim atau akibat dari luar tidak dapat ditentukan dengan tingkat kepercayaan berapapun berdasarkan data dan alat analisis yang ada”.

Pada Desember 2004, sejumlah negara berkumpul dalam konferensi di Buenos Aires untuk tujuan meratifikasi UNFCCC (United Nation Framework Convention on Climate Change). Beberapa hari sebelumnya Dr. Naomi Orekes, professor di University of California di San Diego yang merupakan pendukung IPCC menulis dalam jurnal science mengenai consensus ilmiah yang menyatakan emisi anthropogenic CO2 telah menyebabkan pemanasan global yang signifikan dan harus segera diatasi untuk mencegah malapetaka di masa mendatang.

Dalam tulisannya tersebut, Dr. Naomi Orekes mengklaim telah menganalisis abstrak dari semua paper ilmiah yang terdaftar dalam ISI database pada decade 1993-2003. 75% dari 928 abstrak yang dianalisisnya masuk kedalam kategori “baik secara implicit atau eksplisit menerima pandangan consensus”.

Untuk pertama kalinya bukti empiris menunjukkan kebulatan suara dengan consensus terhadap emisi anthropogenic pada global warming. Tetapi studi yang dipaparkan ini terbukti curang.

Dr. Benny Peiser dari John Moores University di Liverpool memutuskan memverifikasi studi tersebut. dengan menggunakan keyword yang sama, “climate change”, menunjukkan hampir 12.000 paper yang dipublikasikan tersebut dalam kategori “dipertanyakan”. Artinya, studi yang dilakukan Dr. Naomi Orekes sama sekali tidak bisa dijadikan panutan.

Setelah kecurangannya terungkap, sama seperti kasus James Hansen, Dr. Naomi Orekes memverifikasi bahwa ia menggunakan keyword “global climate change”. Sekali lagi pernyataan itu diverifikasi yang hasilnya menunjukkan bahwa paper ilmiah dengan keyword itu hanya ada 13 paper yang secara eksplisit mendukung pandangan consensus.

Sebanyak 34 abstrak yang mendukung pandangan bahwa manusia adalah pendorong utama “pemanasan selama 50 tahun pengamatan” dinyatakan ditolak atau dipertanyakaan secara akademik.

Namun Dr. Naomi Orekes tetap bersikukuh dan menyatakan bahwa “tidak ada satupun paper yang menentang adanya perubahan iklim yang terjadi saat ini”. Namun faktanya, ada lebih dari 40 paper yang menyatakan bahwa perubahan iklim berasal dari faktor alam, bukan manusia.

Dr. Benny Peiser pun menuliskan hasil investigasinya yang membuktikan bahwa ada kecurangan dalam studi yang dilakukan oleh Dr. Naomi Orekes, dan mengirimkannya kepada jurnal Science. Namun ternyata, jurnal Science menolak mempublikasikannya.

Hendrik Tennekes, ahli fisika turbulensi dunia yang baru pensiun dari Director of Research, Royal Netherlands Meteorological Institute menyatakan, “Kekolotan para ahli climate, menyebabkan kesalahpahaman –seperti yang dilakukan IPCC- tentang dasar ilmiah climate change. Karena itu, saya merespon ideology itu dengan menyatakan bahwa tidak mungkin fisika dapat menghasilkan dasar ilmiah yang dapat diterima secara universal untuk digunakan dalam mengambil kebijakan tentang climate change.”

Sementara Professor Garth Paltridge dari Australia, ilmuwan terkemuka yang telah pensiun dari jabatannya sebagai Director of the Antarctic CRC and IASOS di University of Tasmania menyatakan, “Tiap laporan (IPCC Assessment report) diutarakan dengan cara tertentu agar tampak lebih meyakinkan –dibandingkan laporan terakhir- bahwa pemanasan rumah kaca berpotensi menyebabkan bencana kemanusiaan. Keyakinan itu tidak berasal dari cabang ilmu manapun. Dan itu merupakan bukti betapa kuatnya pernyataan tentang global warming diutarakan tanpa sanggahan dari komunitas ilmuwan. Selama bertahun-tahun, opini dari komunitas itu telah dimanipulasi, setidak-tidaknya mendukung secara pasif kampanye untuk mengisolasi –dan tentu saja memperburuk- keraguan ilmiah di luar aktivitas IPCC. Audiens telah diposisikan untuk menerima. Dengan demikian mereka secara bertahap menjadi lebih mudah untuk menjual bencana efek rumah kaca.”

Efek rumah kaca inilah yang selalu digembar-gemborkan oleh para pendukung isu pemanasan global, dengan artian menyalahkan manusia atas terjadinya fenomena ini. Mereka menyatakan bahwa emisi anthropogenic CO2 dan penyebab global warming yang lain bertanggung jawab tidak hanya pada peningkatan temperature dan kekeringan, melainkan juga pada peningkatan badai salju, salju yang turun bukan pada musim yang seharusnya, dan juga meningkatnya jumlah angin topan.

Tahun-tahun belakangan ini, Amerika Utara, Inggris Raya dan Eropa Utara mengalami musim dingin yang parah. Hal itu membuat teori pemanasan global seolah hanyalah bualan belaka. Jika memang emisi anthropogenic CO2 adalah faktor utamanya, apakah benar bisa berdampak pada musim dingin yang sangat dingin dan musim panas yang sangat panas.

Salah satu jawaban dan argument yang digunakan oleh para pendukung isu pemanasan global adalah bahwa hal itu terjadi karena berhentinya arus teluk (gulf stream) yang disebabkan oleh adanya pemanasan global.

Argumentasi itu ditertawakan oleh banyak pihak, termasuk diantaranya adalah Carl Wunsch, Professor of Physical Oceanography pada MIT dan ahli kelautan dunia, menyatakan, “Satu-satunya cara untuk menghasilkan sirkulasi laut tanpa arus teluk adalah dengan cara mematikan system angina tau menghentikan rotasi bumi atau bahkan keduanya.”

Artinya, semua itu mustahil (hoax).

Berikut adalah bukti-bukti yang disodorkan para pendukung isu yang sampai saat ini diyakini oleh masyarakat. Bahkan bukti-bukti ini telah diterapkan sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah.

  1. Karbondioksida adalah polutan berbahaya

Jelas pernyataan itu salah. Bahkan siswa SD pun tahu kalau karbondioksida digunakan oleh tanaman untuk melakukan fotosintesis. Pertanyaannya, apakah benar karbondioksida bisa menyebabkan pemanasan global? Bukankah karbondioksida justru bisa membuat kadar oksigen di udara meningkat karena pengerjaan fotosintesis yang cepat? Faktanya, meningkatnya karbondioksida justru merangsang dan mempercepat pertumbuhan tanaman. Sudah banyak bukti ilmiah yang membuktikan hal itu. pada tahun 1970, misalnya konsentrasi karbondioksida di atmosfer sebanyak 325 ppmv (parts per million by volume). Pada saat ini konsentrasinya meningkat menjadi 375 ppmv. Hasilnya, panen gandum di Autralia terus meningkat dalam 30 tahun terakhir yang merupakan bagian pengayaan karbondioksida.

Bahkan Richard Lindzen, Professor dalam bidang Atmospheric Science di Massachusetts Institute of Technology, menyatakan, “Pemanasan global bukan dikarenakan kontribusi CO2 manusia. Ini sebenarnya merupakan tipuan terbesar dalam dunia ilmu pengetahuan.”

  1. Cuaca abad ke 20 adalah yang paling panas

Dalam konferensi pers atas peluncuran Third Assessment Report, IPCC menunjukkan grafik temperature belahan bumi utara dari tahun 1000 sampai tahun 2000. Grafik itu dikenal dengan nama Mann’s Hockey Stick. Berdasarkan grafik tersebut, digambarkan bahwa belahan bumi utara mendingin hingga 0,2 derajat Celcius pada tahun 1000 hingga 1900. Dan menghangat menjadi 0,6 derajat Celcius pada tahun 1900 sampai 2000.

Tujuan IPCC menyodorkan grafik itu adalah untuk melegitimasi klaim mereka bahwa perubahan iklim pada abad ke 20 merupakan kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mereka sebut diakibatkan oleh ulah manusia yang terus menghasilkan karbondioksida. Sekilas paparan mereka terdengar meyakinkan. Tapi, terselip kecurangan yang nyata disana.

Pada tahun 800 hingga 1300 ada suatu periode yang disebut Medieval Warm period. Pada tahun-tahun tersebut, udara bumi menghangat, sehingga waktu itu bangsa Viking bahkan dapat mendirikan koloni di Greenland yang berlangsung selama 300 tahun. Fakta penting itu tidak dimasukkan IPCC dalam grafik mereka. selain itu periode yang disebut Little Ice Age yang terjadi tahun 1560 sampai 1850 juga dihapus dari grafik.

Medieval Warm period sendiri adalah fenomena global dimana Eropa menikmati kemakmuran pertanian dan melimpahnya makanan dan pesatnya pertumbuhan populasi. Pada waktu itu mereka membuat proses besar dibidang teknologi. Merupakan suatu ironi sekaligus kecurangan intelektual bahwa para pendukung isu pemanasan global menghapus era yang luar biasa itu dari kampanye mereka.

Para ilmuwan menemukan bahwa perubahan suhu bumi saat ini terjadi karena meningkatnya aktivitas badai matahari, peningkatan aktivitas gunung api bawah laut dan system arus laut yang kompleks. Hal itu diperkuat oleh temuan NASA yang membuktikan bahwa permukaan suhu bumi dalam beberapa decade ini ternyata diakibatkan oleh peningkatan aktivitas badai matahari, bukan karena manusia yang memproduksi CO2.

Lebih dari itu, tidak selamanya cuaca bumi selalu meningkat. Sejak tahun 1999, bahkan ada tren penurunan suhu global. Data terbaru yang dirilis pada Juni 2009 bahkan menunjukkan suhu bumi mengalami penurunan sebanyak 74 derajat Fahrenheit.

  1. Karbondioksida yang dihasilkan manusia menentukan cuaca

Jika temperature global dan konsentrasi CO2 di atmosfer pada periode 1970 sampai 2000 dihubungkan, akan menunjukkan suatu korelasi yang beralasan. Bahwa emisi anthropogeniclah penyebab dari pemanasan global.

Tapi korelasi yang baik tidak secara otomatis membuktikan sebab dan akibat antar dua variable. Terlebih jika menghubungkan konsumsi bahan bakar fosil dengan perubahan temperature dari tahun 1860 hingga 2000, akan terlihat bahwa tidak ada korelasi sama sekali.

Berdasarkan catatan iklim, dari tahun 1860 sampai 1875 temperatur global meningkat. Kemudian temperature mendingin hingga tahun 1890. Lalu meningkat lagi sampai tahun 1903, turun kembali hingga tahun 1918, dan meningkat drastic dari tahun 1941 hingga 1942. Setelah itu iklim bumi mengalami pendinginan yang panjang hingga tahun 1976, dan sejak saat itu temperature meningkat kira-kira 0,4 derajat Celcius.

Berdasarkan kenyataan itu, sama sekali tidak ada korelasi antar temperature dan anthropogenic CO2 selama 140 tahun.

  1. Es di Kutub Selatan (Antartika) akan menyusut dan lenyap

Karena emisi anthropogenic CO2, es di kutub akan mencair dan permukaan laut meningkat. Peningkatan permukaan air laut dapat menenggelamkan negara-negara yang berada di Pasifik dan samudera Hindia. Beberapa media massa bahkan ada yang menyatakan bahwa es di Antartika akan lenyap 20 hingga 30 tahun mendatang.

Laporan yang menyebutkan bahwa es di Antartika akan lenyap 20 hingga 30 tahun mendatang adalah sebuah prediksi yang dilakukan dari model computer yang diciptakan oleh para ilmuwan Anthropogenic Global Warming (AGW).

Faktanya, es di Antartika bukan malah menyusut, melainkan semakin bertambah. Benar bahwa Antartika meleleh atau mencair, namun hanya sebagian kecil saja yang merupakan bagian semenanjung Antartika.

Fakta penting lainnya, bahwa semenanjung Antartika memang sudah meleleh sejak zaman Holocene, alias 6000 tahun yang lalu. Bahkan secara keseluruhan, benua Antartika justru semakin dingin dan lapisan es disana semakin tebal.

Pada April 2009, media-media di dunia melaporkan terjadinya anomaly di Antartika. Anomali yang dimaksud adalah bertambahnya es di Antartika seluas 100.000 km2. Dan hal itu terjadi setiap decade dalam 40 tahun terakhir. Para ilmuwan hampir tidak bisa membantah fakta ini.

Mendengar itu, para ilmuwan AGW pun mengeluarkan kesimpulan yang radikal namun konyol. Menurut mereka, es di Antartika meluas karena lubang ozon telah membuat angin di permukaan Antartika lebih kuat dan menciptakan badai di samudera bagian Selatan. Dan jika lubang ozon telah tertutup kembali, maka es di Antartika akan mencair. Pernyataan ini sungguh menjadi bahan lelucon di banyak pihak. Seolah para ilmuwan AGW itu adalah bocah TK yang baru belajar fisika.

  1. Es di Kutub Utara (Arktik) menyusut

Tidak cukup Kutub Selatan, mereka juga menyeret Kutub Utara. Berdasarkan data NSIDC (National Snow and Ice Data Center), luas es di Arktik pada bulan Desember 2009 adalah 12.480.000 km2. Tiga tahun sebelumnya pada Desember 2006, luas daratan es disana hanya 12.270.000 km2. Itu artinya, dalam waktu 3 tahun, permukaan es di Arktik bertambah luas 210.000 km2. Pada Desember 2012, diperkirakan permukaan es di sana akan bertambah luas.

  1. Jumlah Beruang kutub akan berkurang atau punah

Pernyataan ini jelas salah karena berkaitan dengan pernyataan sebelumnya yang sudah terbukti salah. Faktanya, jumlah beruang kutub terus meningkat. Pada tahun 1950-an, jumlah beruang kutub hanya sekitar 5.000 hingga 10.000 individu. Pada tahun 2009, jumlah itu membengkak menjadi 20.000 hingga 25.000 individu.

Pada tahun 1960-an, populasi beruang kutub memang menyusut drastic, tapi itu terjadi akibat perburuan liar. Ketika perburuan itu dilarang tahun 1970-an, jumlah beruang kutub meningkat drastic. Memang ada beruang yang tenggelam, namun itu disebabkan oleh badai.

Dari data yang dirilis oleh WWF disebutkan bahwa hanya ada 2 jenis beruang kutub yang menurun, 10 jenis stabil dan 2 jenisnya mengalami peningkatan.

Selain beruang kutub, para pendukung isu juga menyebutkan bahwa hewan-hewan yang lain juga dapat terancam punah. Pada tahun 1970-an, Norman Myers menyebutkan lima puluh persen spesies hewan didunia akan punah menjelang tahun 2000. Sama halnya dengan yang diungkapkan Paul Ehrlich.

  1. Marjorie dalam Understanding and Protecting Our Biological Resource menyatakan, “Para ahli biologi akhirnya menyadari betapa minimnya pengetahuan kita tentang organism lain penghuni planet bumi ini. Berbagai usaha untuk mengetahui jumlah total spesies yang ada terbukti sia-sia.”
  2. Gletser-gletser di dunia akan meleleh dan mencair

Jumlah gletser di dunia ini ada lebih dari 160.000 gletser. Baru ada sekitar 67.000 yang dipetakan, namun baru sedikit yang diteliti secara mendalam. Dalam lima tahu terakhir, baru terkumpul data atas 79 gletser yang ada di seluruh dunia.

Gletser di gunung Kilimanjaro memang mencair. Tapi itu sudah terjadi sejak tahun 1800-an. Hilangnya gletser di Kilimanjaro telah menjadi perbincangan akademik selama lebih dari dua abad. Fenomena ini masih menjadi misteri karena Kilimanjaro adalah gunung berapi di garis khatulistiwa yang ada di wilayah hangat.

Berdasarkan penilaian yang objektif, hilangnya gletser di Kilimanjaro dikarenakan penggundulan hutan tropis yang membabi buta. Menyebabkan angin yang berhembus tidak lagi lembab. Jika hutan kembali dihijaukan, mungkin gletser kembali ada.

Dalam majalah Nature edisi 24 November 2003, Betsy Mason menulis artikel berjudul, African Ice Under Wraps.  Ia menyatakan, “Meskipun kita tergoda untuk menyalahkan pemanasan global sebagai sebab dari hilangnya lapisan es, para peneliti berpendapat bahwa penggundulan hutan di lereng gunung Kilimanjaro-lah yang menjadi penyebabnya.”

  1. Permukaan laut semakin meninggi

Faktanya, permukaan air laut memang semakin meninggi. Tapi kenyataan itu sudah terjadi selama 6000 tahun terakhir, tepatnya sejak awal zaman Holocene. Permukaan air laut semakin meningkat dengan kecepatan sekitar 10 hingga 20 cm atau 4 sampai 8 inch per seratus tahun.

Berdasarkan pengukuran satelit, peningkatan ketinggian permukaan laut global dalam satu decade terakhir adalah sebesar 3,1 milimeter per tahun atau sedikit di atas 30 cm dalam satu abad. Namun hasil-hasil pengukuran satelit juga menunjukkan adanya variasi yang besar. Ketinggian permukaan laut di Pasifik Utara dinyatakan meningkat sedangkan di Pasifik Selatan dinyatakan menurun.

Pada 11 hingga 12 Juni 2006 dalam pertemuan di Sydney, Alliance of Small Island State (AOSIS), mengklaim bahwa pemanasan global menyebabkan permukaan air laut meningkat, dan pulau-pulau mereka kini berada di bawah permukaan laut. Untuk itu, mereka menyampaikan permintaan khusus kepada pemerintah Australia untuk memberikan visa permanen pada warga negara di daerah itu. klaim serta permintaan tersebut dilatarbelakangi oleh penelitian yang dilakukan IPCC.

Faktanya, tidak ada bukti yang mendukung klaim ataupun latar belakang klaim mereka. The South Pasific Sea Level and Monitoring Project menemukan tidak adanya bukti kenaikan permukaan laut.

Dalam laporannya, IPCC menyatakan pula bahwa pulau Maldive di samudera Hindia berisiko atas kenaikan permukaan laut yang disebabkan pemanasan global. Ketika laporan pernyataan itu diteliti dan diverifikasi, ditemukan bukti kuat bahwa permukaan air laut di pulau Maldive justru turun selama 30 tahun terakhir. Pada masa lampau, permukaan laut di sana memang meninggi, namun pulau dan penghuninya selamat.

Selain itu, fakta yang tidak pernah diungkap oleh IPCC atas hal itu adalah bahwa pulau Maldive berada di dekat perbatasan lapisan kerak bumi, yang pergerakannya ikut memengaruhi naik turunnya pulau tersebut terhadap permukaan laut.

  1. Mengganti energy listrik dengan sumber yang dapat diperbaharui

Mereka menyatakan bahwa penggunaan energy listrik yang dapat diperbaharui (semisal kincir angin dan matahari) tidak akan menimbulkan kerugian ekonomi, karena harganya lebih murah. Inilah bukti pernyataan omong kosong yang tidak didasari fakta valid.

Salah satu pengguna energy listrik berbasis batu bara terbesar di dunia adalah Australia. Jika negara ini diminta untuk mengganti energy batu bara yang mereka gunakan, maka industry di Australia akan mengalami kematian. Dan mengenai harga, berikut faktanya.

Energy berbasis batu bara di Australia seharga 30 dolar sampai 40 dolar per megawatt jam (MWh). Sementara energy listrik berbasis nuklir, harganya dua kali lipat dari itu, yaitu 70 dolar hingga 80 dolar per MWh. Harga energy listrik berbasis kincir angin jauh lebih mahal, yaitu 80 dolar hingga 130 dolar per MWh, itu pun kalau angin berhembus. Kemudian energy listrik berbasis matahari, memiliki harga 300 dolar sampai 500 dolar per MWh, dan tersedia jika matahari bersinar.

Jadi sungguh aneh jika para pendukung isu menyebutkan bahwa sumber energy kincir angin dan matahari jauh lebih murah dari yang lain. Karena pada kenyataannya tidak begitu.

 


 

Pendapat Para Ahli yang Kontra

Terhadap Isu Pemanasan Global

 

  1. Sorokhtin et al

Sorokhtin et al. (2007) : Global Warming and Global Cooling: Evolution of Climate on Earth. –Elsevier Amsterdam, yang ulasannya ditulis oleh Lee Gerhard di AAPG Bulletin edisi Desember 2007. Sorokhtin dkk menulis buku ini dengan prinsip “starting from first principles when examining a controversial topic is always a good approach”. Mereka mengakomodasi prinsip ini dengan ekstrim. Mereka memulai dengan teori komperehensif asal fisik dan atmosfer bumi berdasarkan prinsip fisika dan geokimia. Mereka menguantifikasi proses-proses alam dan memunculkan teori adiabatic evolusi bumi. Perubahan iklim skala besar didekati oleh teori adiabatic evolusi atmosfer dan iklim, sementara perubahan skala kecilnya dikontrol oleh gerakan benua, daur Milankovitch dan produk sinar matahari.

Sorokhtin dkk menolak hipotesis bahwa global warming adalah akibat manusia(anthropogenic). Menurut mereka, berdasarkan teori adiabatik, emisi gas CO2 dan gas rumah kaca lainnya dalam jumlah besarpun tak akan mengubah temperatur atmosfer global. Mereka juga menolak teori gas rumah kaca sebagai penyebab perubahan iklim. Menurut perhitungan berdasarkan teori adiabatik, mereka menyimpulkan bahwa di dalam waktu 600 juta tahun, kandungan oksigen di dalam atmosfer akan menyebabkan temperatur global meningkat menjadi 80° C, sehingga bumi menjadi tidak layak dihuni oleh manusia.

Pandangan Sorokhtin Terhadap Protokol Kyoto

Komunitas ilmiah dan politik harus diingatkan bahwa sebelum tahun 1990 tidak ada teori efek rumah kaca dan dampak dari”gas rumah kaca terhadap pemanasan di wilayah troposfer. Semua yang berbicara tentang hal itu adalah murni intuitif dan spekulatif. Selain itu, saat ini banyak ahli (terutama di Eropa) tidak tahu bahwa teori tersebut muncul dan memungkinkan untuk menentukan kuantitas dari ketergantungan iklim bumi terhadap komposisi dan tekanan atmosfer (Sorokhtin, 2001; Sorokhtin et al.,2007), kami berusaha untuk menunjukkan dalam buku ini (Evolution of Climate on Earth) . Secara sederhana dan “klasik”, model prakiraan perubahan iklim terkait dengan keadaan di atmosfer yang disebut gas rumah kaca”(terutama karbon dioksida), sebagai suatu peraturan, murni intuitif dan masalah ini tidak diatur dengan benar.

Selain itu, saat ini tidak ada satu buktipun yang dapat diandalkan terhadap efek”gas rumah kaca terhadap iklim bumi. Biasanya, para pendukung pendapat lama melakukan pendekatan dengan mengatakan bahwa pemanasan iklim saat ini (yang paling mungkin adalah terkait dengan aktivitas matahari) berkorelasi dengan peningkatan tekanan parsial karbondioksida di atmosfer. Hubungan sebab dan akibat antara fenomena-fenomena ini tidak dianalisis meskipun kenaikan tekanan parsial karbondioksida mungkin adalah akibat, bukan penyebab pemanasan iklim. Itulah sebabnya protokol Kyoto yang ditetapkan tahun 1997 tidak memiliki landasan ilmiah. Pada tahun 2004, ini secara resmi dinyatakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia yang seccara tetapi otoritas Rusia politik tidak mau mendengarkan, sehingga Rusia menandatangani pendapat keilmuan yang merugikan bagi negara.

Selama beberapa tahun terakhir, teori fisika aforedescribed dikembangkan. Ini menggambarkan keadaan temperatur troposfer yang disebut teori adiabatik efek rumah kaca. Teori ini telah diverifikasi dan erat kaitannya antara distribusi suhu teoritis dengan teori model troposfer bumi dan yang sangat penting data eksperimen untuk kepadatan karbondioksida yang tinggi pada atmosfer Venus.

Hal penting dari teori adiabatic efek rumah kaca yang diusulkan di sini adalah akumulasi sejumlah kecil karbondioksida, metana, dan beberapa gas rumah kaca lainnya ternyata”tidak memiliki efek apapun pada iklim bumi. Pada konsentrasi CO2 tinggi di atmosfer (tapi pada tekanan yang sama seperti suasana masa kini nitrogen-oksigen), karbondioksida hanya dapat menyebabkan pendinginan iklim, bukan pemanasan seperti yang diyakini dari Protokol Kyoto, dan sedikit peningkatan dalam aktivitas sinoptik.

Hal ini penting ditekankan bahwa protokol Kyoto, selain tidak memiliki landasan ilmiah, dalam substansinya bertentangan dengan proses alam secara fisika dan telah memberikan penjelasan salah terhadap efek antropogenik terhadap iklim. Selain itu, perlu diperhitungkan bahwa peningkatan tekanan parsial karbondioksida adalah hasil dari peningkatan produktivitas pertanian dan penanaman kembali hutan yang ditebang. Para pendukung protokol Kyoto melupakannya atau tidak ingin tahu sedangkan Robinson et al. (1998) menunjukkan bahwa efisiensi pertanian dan penanaman kembali hutan secara proporsi langsung meningkatan tekanan parsial karbondioksida di atmosfer. Publikasi yang sama meyakinkan dan menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi CO2 ditimbulkan oleh penanaman sereal, termasuk gandum.

Saat ini, berbagai media massa menyebar berita scient (dan kadang-kadang adalah pengetahuan yang salah) perkiraan pemanasan iklim yang drastis, kenaikan permukaan laut yang signifikan, banjir di berbagai tepian kota pantai dan bahkan suatu ekumenis malapetaka yang datang dengan peningkatan tekanan parsial karbondioksida di masa depan. Pada kenyataannya, kita sekarang hidup di puncak pemanasan lokal yang relatif kecil. Dalam waktu terdekat, fase pendinginan baru akan dimulai (atau mungkin sudah dimulai). Pendinginan yang akan datang dapat berubah menjadi yang terdingin selama ribuan tahun terakhir. Kita perlu mempersiapkan diri dari sekarang karena itu akan menjadi pertanda masa es berikutnya.

Penyebab pendinginan sedang berlangsung dan akan datang secara alami. Hal ini terkait dengan penurunan sudut presesi bumi dan penurunan tekanan atmosfer total akibat aktivitas kehidupan bakteri pemakan nitrogen yang secara bertahap menghapus nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi bahan simpanan. Proses ini berada diluar kontrol manusia: kita tidak akan mampu menghentikan mereka.

Semua hal tersebut telah menunjukkan langkah-langkah keprihatinan terhadap antropogenik dari “gas rumah kaca, Protokol Kyoto merupakan salah dan solusi berbahaya terhadap masalah lingkungan. Ketentuan protokol itu sangat berbahaya bagi Rusia yang secara ekonomi sangat signifikan dalam peningkatan penggunaan bahan bakar hidrokarbon. Selain itu, Rusia adalah negara terdingin, membutuhkan jumlah yang lebih besar terhadap bahan bakar alami untuk menghangatkannya. Untuk alasan ini biaya yang diusulkan IPCC (puluhan miliaran dolar per tahun) untuk menstabilkan konsentrasi СО2 adalah omong kosong dan berbahaya bagi perekonomian dan pertanian. Uang ini akan lebih baik dihabiskan untuk pengembangan ekonomi, lingkungan sosial, dan ilmu pengetahuan.

Kami juga ingin menarik perhatian pembaca dengan propaganda aktif terhadap para apologis gagasan efek antropogenik pada “pemanasan iklim”. Sebagai contoh adalah Mr Al Gore yang menerbitkan sebuah buku dengan judul menarik “An Inconvenient Truth” (2007) dan menciptakan sebuah film dengan judul yang sama. Sebenarnya, baik buku dan film adalah ketakukan dan ketidaktahuan terhadap iklim, seperti mencairnya es di Greenland dan mencakup Antartika, bencana naiknya permukaan laut, prediksi iklim yang sangat panas dan melawan pusaran angin. Berdasarkan pendapat kami bahwa es Antartika dan massa salju secara signifikan meningkat selama 30-40 tahun terakhir dan tidak menurun seperti yang dipertahankan Al Gore.

Dari sudut pandang dasar fisika pembentukan iklim bumi, baik buku dan film merupakan ketaktahuan dan merusak. Meskipun demikian, mereka menikmati pengakuan luas oleh “ekologi hijau” dan politisi dan dianugerahi hadiah bergengsi internasional. Ini adalah fakta yang sangat menyedihkan yang menekankan bahwa masalah perubahan iklim harus ditangani dengan oleh para ilmuwan profesional dan tidak dilettantes dan politisi.

  1. Mojib Latif

Pada konferensi “Scientific Consensus” tentang Pemanasan Global yang diakibatkan perbuatan manusia, Latif mengakui bahwa Bumi ini ternyata tidak mengalami pemanasan selama hampir satu dekade. Menurutnya, sepertinya kita akan memasuki masa Satu atau dua dekade dimana suhu bumi akan mendingin”.

Teori pemanasan global Al Gore menyebutkan bahwa samudera Atlantik dan Pasifik akan menyerap suhu panas yang terkurung di bumi yang diakibatkan oleh peningkatan jumlah karbondioksida hasil aktivitas manusia. Penyerapan ini akan menyebabkan atmosfer dan daratan menjadi panas. Namun, Prof Latif menyatakan dengan jelas bahwa Atlantik utara malah menjadi dingin. Dan mungkin akan terus mendingin hingga 20 tahun yang akan datang. Ini jelas bertentangan dengan pandangannya sebelumnya yang menyatakan bahwa bumi akan memasuki suhu mematikan pada tahun 2100.

Pernyataan Prof. Latif sebenarnya juga telah diteguhkan oleh dua tim ilmuwan dari Jerman dan Amerika. Menurut mereka pemanasan global saat ini sedang terhenti, namun akan berlanjut lagi suatu saat. Prof. latif adalah ilmuwan terbaru yang bergabung dengan banyak ilmuwan lain yang meragukan adanya pemanasan global yang diakibatkan oleh manusia.

  1. Steven Milloy

Milloy berkata bahwa pemanasan global adalah”Ibu dari segala ilmu pengetahuan sampah”. Ia merujuk kepada perubahan-perubahan suhu bumi yang terjadi secara alamiah tanpa campur tangan manusia. Ia juga merujuk kepada protokol Kyoto yang dianggapnya sebagai suatu lelucon. Protokol ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas karbon dunia menjadi 8% pada tahun 2012. 8% adalah level emisi pada tahun 1990.

Dengan menggunakan data yang disediakan oleh mereka yang mempromosikan Protokol Kyoto, jika setiap negara meratifikasi protokol tersebut, temperatur global rata-rata hanya akan berkurang sekitar 0,0015 derajat centigrades. Pada level ini, dibutuhkan 667 tahun dan $100 Trilyun untuk menurunkan suhu bumi sebanyak 1 derajat centrigades.

Ketika manusia dianggap sebagai kambing hitam penyebab pemanasan global, EPA (Environmental Protection Agency) memperkirakan bahwa 25% emisi gas metana yang dilepas ke Atmosfer berasal dari kotoran ternak. Bukan hanya itu, para ilmuwan kemudian menemukan bahwa perubahan suhu bumi ternyata disebabkan oleh peningkatan aktifitas badai matahari, peningkatan aktivitas gunung api bawah laut, dan sistem arus laut yang kompleks. Trend penurunan suhu global terjadi sejak 1998. Data terbaru Juni 2009 menunjukkan Suhu bumi mengalami penurunan sebanyak 74 derajat Fahrenheit sejak Gore merilis “An Inconvenient Truth” pada tahun 2006.

  1. Khabibullo Abdusamatov

Khabibullo Abdusamatov, matematikawan dan astronom di Observatorium Pulkovodari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia mengatakan dalam sebuah wawancara kantor  berita 2007: “Hasil Pemanasan global bukan dari emisi gas rumah kaca ke atmosfer, tapi dari tingkat radiasi matahari yang sangat tinggi hampir sepanjang abad terakhir – pertumbuhan intensitas yang tinggi”.

  1. Sallie Baliunas

Sallie Baliunas, astronom, Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics mengatakan dalam sebuah kuliah 2002 untuk The Heritage Foundation: Perubahan output energi matahari telah mendorong sebagian besar perubahan suhu mulai 20 abad. Tren terakhir pemanasan dalam catatan suhu permukaan tidak dapat disebabkan oleh peningkatan aktivitas manusia terhadap gas rumah kaca di udara.

  1. Ian Clark

Ian Clark, profesor hidrogeologi, Departemen Ilmu Bumi, Universitas Ottawa mengatakan dalam sebuah surat kabar 2004: “Komunitas ilmiah mengatakan bahwa pemanasan iklim akibat CO2 bergantung pada hipotesis peningkatan CO2 sebagai gas rumah kaca kecil, yang memicu respon jauh lebih besar untuk menghangatkan uap air. Mekanisme ini belum pernah diuji secara ilmiah dengan model matematika yang memprediksi pemanasan yang luas, dan dikacaukan oleh kompleksitas pembentukan awan yang memiliki efek pendinginan. Kami tahu bahwa matahari bertanggung jawab atas perubahan iklim di masa lalu, dan dalam perubahan iklim sekarang juga masa depan. Hal yang menarik bahwa baru-baru ini aktivitas matahari mengalami penurunan siklus ke bawah.

  1. Chris de Freitas

Chris de Freitas, Associate Professor, Fakultas Geografi, Ilmu Lingkungan dan Geologi, Universitas Auckland mengatakan dalam sebuah artikel surat kabar 2006: “Ada bukti dari pemanasan global, tapi tidak mengkonfirmasi bahwa karbondioksida lah penyebabnya. Iklim selalu mengalami pemanasan atau pendinginan dan ada teori variabilitas alami pemanasan. Untuk mendukung argumen bahwa karbondioksida yang menyebabkan itu, bukti harus membedakan antara disebabkan manusia dan pemanasan alami sampai sekarang belum dilakukan.

  1. David Douglass

David Douglass, profesor fisika zat padat, Departemen Fisika dan Astronomi, Universitas Rochester telah mengatakan dalam sebuah paper tahun 2007 di International Journal of Klimatologi: “Pola yang diamati dari pemanasan, membandingkan tren suhu permukaan dan atmosfer, tidak menunjukkan karakteristik yang berkaitan dengan efek  pemanasan rumah kaca. Kesimpulan yang tak terhindarkan adalah bahwa kontribusi manusia tidak signifikan dalam meningkatkan karbondioksida dan gas rumah kaca lainnya bahkan hanya sedikit kontribusi yang pantas diabaikan.

  1. Don Easterbrook

Don Easterbrook, profesor emeritus geologi, Western Washington University mengatakan dalam sebuah presentasi 2006 di Geological Society of America:”pertumbuhan gletser dari 1890-1920, mencair dengan cepat dari 1925-1945, pertumbuhan kembali dari 1945 -1977, dan telah mundur lagi dimulai pada tahun 1977.

Karena periode pemanasan berosilasi ini terjadi sebelum CO2 di atmosfer mulai meningkat pesat pada 1940-an, maka peningkatan CO2 di atmosfer tidak bisa dijadikan penyebab, dan pemanasan global sejak 1900 bisa saja terjadi tanpa efek CO2. Jika siklus berlanjut dari masa lalu, siklus yang hangat saat ini harus segera berakhir dan suhu global harus agak dingin sampai sekitar 2035, kemudian hangat sekitar 0,5 ° C mulai 2035-2065, dan agak dingin sampai 2100.

  1. William M. Gray

William M. Gray, Profesor Emeritus dan kepala Proyek Meteorologi Tropis, Departemen Ilmu Atmosfer, Colorado State University mengatakan dalam sebuah wawancara surat kabar 2006:”Saya berpendapat bahwa [pemanasan global] adalah salah satu hoax terbesar yang pernah dilakukan terhadap orang Amerika.

  1. William Happer

William Happer, fisikawan yang mengkhususkan diri dalam optik dan spektroskopi, dari Princeton University mengatakan dalam sebuah wawancara surat kabar 2006:”Semua bukti yang saya lihat bahwa pemanasan saat ini adalah seperti peringatan iklim masa lalu. Bahkan, itu belum sebanyak akibat masa lalu. dan mungkin karbondioksida memiliki sedikit andil untuk hal tersebut.

  1. William Kininmonth

William Kininmonth, meteorologi, mantan delegasi Organisasi Meteorologi Australia Komisi Klimatologi Dunia menulis dalam sebuah artikel tahun 2004 dan buku:. Telah ada perubahan iklim yang nyata selama abad kesembilan belas dan akhir dua puluh yang dapat dikaitkan dengan fenomena alam. Variabilitas alam dari system iklim telah diremehkan oleh IPCC yang didominasi oleh akibat manusia.

  1. David Legates

David Legates, profesor geografi dan direktur Pusat Penelitian Iklim, University of Delaware menulis dalam sebuah artikel tahun 2006 pada Pusat Nasional untuk Analisis Kebijakan:”Sekitar setengah dari pemanasan selama abad ke-20 terjadi sebelum tahun 1940-an, dan perhitungan variabilitas alami untuk semua.

  1. Tad Murty

Tad Murty, dosen kelautan, Departemen Teknik Sipil dan Ilmu Bumi, Universitas Ottawa mengatakan pada tahun 2005: Pemanasan global”adalah tipuan ilmiah terbesar yang dilakukan terhadap kemanusiaan. Tidak ada perubahan akibat pemanasan global karena aktivitas/antropogenik terhadap atmosfer dalam 280 juta tahun, dan selalu ada siklus pemanasan dan pendinginan di bumi.

  1. Tim Patterson

Tim Patterson, paleo climatologist dan Profesor Geologi di Carleton University Kanada mengatakan dalam sebuah artikel surat kabar 2007:”Tidak ada korelasi yang bermakna antara tingkat CO2 dan temperature bumi dalam kerangka waktu geologi. Bahkan ketika tingkat CO2 lebih dari 10 kali lebih tinggi dari yang ada sekarang. Sekitar 450 juta tahun yang lalu, planet ini berdasar pada periode terdingin mutlak dalam setengah miliar tahun. Atas dasar bukti ini, bagaimana mungkin orang masih percaya bahwa peningkatan relatif kecil CO2 menjadi penyebab utama pemanasan abad yang lalu itu?

  1. Ian Plimer

Ian Plimer, Profesor emeritus Pertambangan Geologi, University of Adelaide mengatakan dalam sebuah debat televisi 2002:”perubahan iklim alami terjadi tidak  berhubungan dengan isi karbondioksida. Jumlah karbondioksida penyebab rumah kaca jauh lebih rendah daripada karbondioksida saat ini. Sepertinya karbondioksida benar- benar mengikuti perubahan iklim.

  1. Nicola Scafetta

Nicola Scafetta, ilmuwan penelitian di departemen fisika di Universitas Duke mengatakan dalam sebuah artikel 2010 awalnya ditulis untuk majalah Italia La Chimicae l’Industri (Kimia dan Industri):”Setidaknya 60% dari pemanasan bumi yang diamati sejak tahun 1970 akan disebabkan oleh siklus alam di tata surya. Sebuah stabilisasi iklim atau pendinginan sampai 2030-2040 diperkirakan oleh model fenomenologis.

  1. Tom Segalsad

Tom Segalstad, kepala Museum Geologi di Universitas Oslo mengatakan dalam sebuah presentasi 2007 kepada Simposium Internasional ke 9 tentang Pertambangan di Arktik: “Suhu Kurva IPCC (kurva yang disebut ‘tongkat hoki’) adalah kesalahan, karena periode hangat abad pertengahan (“Iklim Optimum “) dan Little Ice Age keduanya absen dari kurva mereka. Semua pengukuran luminositas matahari dan isotop 14 C menunjukkan bahwa saat ini ada suatu peningkatan radiasi matahari yang memberikan iklim yang lebih hangat (Willson, RC & Hudson, HS 1991: The Sun’s luminosity over acomplete solar cycle. Natural 351, 42-44, dan Coffey, HE, Erwin, EH & Hanchett, CD: database matahari untuk model perubahan global iklim hangat yang optimal dan tidak  bencana. Pada dasarnya atmosfer bumi terdiri oleh massa ~ 73,5% nitrogen, oksigen~22,5%, air~ 2,7%, dan argon~ 1,25%. Massa CO2 di udara dalam jumlah minimal, ~0,05%, dan kapasitas minimal (~ 2%) baru bisa mempengaruhi Efek Rumah Kaca.

 

 

Kesimpulan

 

Benarkah pemanasan global ada? Jawabannya adalah iya. Tetapi pemanasan global bukan hanya terjadi pada masa sekarang, dan penyebabnya pun bukan manusia namun semata-mata karena gejala alam.

Jadi pemanasan global hanyalah fenomena yang alamiah dan tidak tergantung pada konsentrasi CO2 yang dibuat manusia. Menurut Steven Milloy, “adalah induk dari segala ilmu pengetahuan sampah”.

Seiring dengan itu, segelintir pihak yang mencoba melawan isu dan teori-teori mereka mengenai pemanasan global terus berusaha dibungkam, baik secara akademis sampai ancaman pembunuhan. Dr. Tim Ball misalnya, yang merupakan ahli klimatologi Kanada sekaligus mantan professor di bidang klimatologi di Universitas of Winnipeg, selama bertahun-tahun berusaha melawan teori dan isu-isu yang digulirkan seputar pemanasan global dengan mempertanyakan kesahihan teori-teorinya. Hasilnya, Dr. Tim Ball mendapatkan lima ancaman pembunuhan.

Penyebab kenapa orang-orang itu tetap mendukung isu tersebut, tak lain tak bukan karena faktor kekayaan dan jabatan. Isu ini menyangkut tentang lingkungan, jadi semua orang diharap ikut bertanggung jawab atas ini. Dan orang-orang itu menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan tambahan dana untuk kelangsungan penelitiannya.

 

Daftar Pustaka

  1. http://hoedamanis.blogspot.com/2012/05/pembodohan-massal-bernama-isu-pemanasan_5515.html
  2. https://www.scribd.com/doc/106684698/Pendapat-Ahli-Yang-Kontra-Bahwa-Efek-Pemanasan-Global-Adalah-Akibat-Gas-Rumah-Kaca1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s