Dark Love | Artificial Love(r)


dark love2

ohnajla || romance, drama, marriagelife, family || Teen (17 y.o) || Chaptered ||

Oh Sehun (EXO) || Tzuyu (Twice) || Kim Sowon (Gfriend)

#1 Lucky One

#2 Monster

#3 Artificial Love(r)

Perkataan Sowon kemarin tentang bulan madu ke Jeju tidaklah main-main. Paginya ketika Sehun bangun, dia mendapati koper miliknya yang sudah bersiap di ruang tamu berdiri bersama satu koper lain yang Sehun yakini adalah koper milik Sowon. Sehun yakin kalau kemarin malam dia tidak berbenah sedikit pun, lalu siapa orang yang menyiapkan semua ini?

Di saat Sehun sedang sibuk menerka-nerka itulah muncul Sowon dari balik pintu kamar mandi. Gadis itu memakai kaos berlengan pendek dan celana yang juga sangat pendek. Ia langsung menghampiri Sehun saat dilihatnya Sehun sudah bangun.

“Kau sudah periksa barang-barangnya? Kalau masih ada yang kurang kau rombak sendiri saja,” ujarnya sembari mengeringkan rambut dengan handuk yang tersampir di bahunya.

Sehun reflek menoleh. “Kau yang menyiapkan koperku?”

Sowon mengangguk santai. “Eum. Kalau menunggumu, pesawatnya akan meninggalkan kita.”

Di saat itulah Sehun hanya bisa menghela napas. “Siapa yang bilang kalau aku mau pergi? Aku sama sekali tidak berencana bulan madu denganmu.”

“Jaga bicaramu, Oh Sehun. Sowon itu istrimu,” sahut Nyonya Oh dari dapur. Sehun melirik keberadaan ibunya sekilas, dan kembali menghela napas.

Kalahnya Sehun adalah kebahagiaan tersendiri bagi Sowon. Gadis itu menepuk pelan puncak kepala Sehun. “Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa di rumah ini, Oh Sehun.”

Sehun segera menepis tangan Sowon kasar.

“Pesawat akan lepas landas satu jam lagi. Kalau kita tidak mau terlambat, bersiaplah sedikit cepat, Sayangku.”

Sehun bergidik ngeri mendengar panggilan baru Sowon padanya. Panggilan yang seharusnya romantis malah terkesan horor kalau Sowon yang menyebutnya. Mengerikan.

Sowon beringsut menuju kamarnya. Mungkin berdandan, mungkin ganti baju, atau mungkin-mungkin yang lain. Sehun terlalu malas menebaknya. Karena ada yang lebih penting sekarang daripada menebak kegiatan Sowon. Sebelum ia dibunuh oleh gadis itu gara-gara ketinggalan pesawat, lebih baik dia cepat membersihkan diri.

Setelah keduanya sudah siap, mereka pun bergabung sarapan dengan Tuan dan Nyonya Oh di ruang makan. Saat keduanya melihat satu sama lain, mereka sama-sama terkejut. Warna baju yang mereka pakai sekarang sama, sama-sama atasan putih bawahan hitam.

sowonwhite  sowonwhite

Tidak terima dengan warna yang sama, timbullah percikan api tak kasat mata yang terjadi di antara mereka.

Tuan Oh yang tidak sengaja melihat persamaan pasangan muda itu, tersenyum.

“Kalian tampak sangat serasi.”

“Tidak,” sahut Sehun cepat. Sedikit cemberut mendengarnya.

Namun Sowon justru tersenyum. Menoleh pada Tuan Oh dengan ekspresi menyenangkan seperti biasa. “Benarkah itu, Abeonim?”

Reaksi yang diberikan Sowon membuat Tuan Oh makin gatal menggoda mereka. “Tentu. Kalian memang pasangan yang serasi.”

Abeoji!

Sowon sedikit tersipu. Akting yang sangat bagus mengingat sebelumnya dia tidak pernah bertingkah seperti itu. “Sebenarnya kami tidak merencanakan ini. Dan sebelumnya aku khawatir kalau-kalau pakaian yang kukenakan ini tidak cocok dengan yang dipakai Sehun. Syukurlah kalau ternyata kami memakai warna baju yang sama.”

Sehun melotot. Tidak menyangka kalau Sowon akan berbicara dengan semudah itu. Seolah dia dan gadis itu sama-sama sudah saling mencintai, padahal, sangat berkebalikan dengan itu. Tapi ada satu hal yang membuat Sehun kesal, bagaimana bisa ayah dan ibunya begitu percaya pada semua kata-kata gadis itu daripada kata-kata anak kandungnya sendiri?

Sama halnya dengan Tuan Oh, Nyonya Oh juga tersenyum melihat keserasian pasangan muda itu. “Jadi teringat masa-masa muda dulu.”

Sowon tersenyum malu. “Ah Eommeonim….”

“Kalau begitu duduklah. Sangat tidak lucu ‘kan kalau kalian yang sudah serasi ini tiba-tiba ketinggalan pesawat?”

Sowon tertawa dengan anggunnya, semakin membuat Sehun keki.

Sarapan di meja itu dilalui dengan obrolan ringan antara orangtua Sehun dengan Sowon. Sowon begitu lihai membawa percakapan. Sikapnya pun mampu menuai pujian dari orangtua Sehun. Di sisi lain Sehun hanya bisa menjadi pendengar yang baik, sesekali mencibir tingkah Sowon yang menurutnya terlalu sulit untuk disebut ‘dibuat-buat’.

Mereka pergi ke bandara terdekat dengan diantar oleh sopir pribadi Tuan Oh. Sebenarnya Sehun menolak, dia ingin pergi dengan mobilnya sendiri. Tapi lagi-lagi Sowon berhasil mengambil hati kedua orangtuanya, Sowon berkilah kalau dia ingin bermesra-mesraan dengan Sehun di mobil, bukankah kalau Sehun menyetir mereka jadi tidak bisa banyak berinteraksi?

Perjalanan ke bandara hanya butuh waktu 20 menit. Akan tetapi waktu sesingkat itu bagaikan dua abad untuk Oh Sehun.

Bermesra-mesraan apanya? Lihatlah, Sowon justru begitu mesra dengan ponsel ketimbang pria tampan yang notabene suaminya ini. Entah apa yang ada di benda kotak itu, sesekali Sowon kedapatan sedang tertawa keras, tersenyum geli, memaki, dan lain sebagainya. Sehun benar-benar tidak betah berada di situasi aneh ini. Mana si sopir dengan santainya menyalakan musik hip hop pula. Argh … kepalanya serasa mau pecah.

Sesampai di bandara, mereka hanya punya waktu 10 menit untuk naik ke pesawat. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan lagi. Keduanya harus sedikit berlarian memasuki tempat pemeriksaan.

Lolos dari tempat pemeriksaan, mereka pun segera memasuki pesawat. Sehun tidak menyangka kalau Sowon memesan tempat first class. Sebenarnya perjalanan ke Jeju tidak memakan waktu lama, memakai kelas ekonomi juga tidak masalah bagi Sehun. Tapi entahlah kenapa Sowon malah harus memilih kelas eksekutif ini.

“Kupikir kau hanya memesan untukmu sendiri.”

Sowon duduk di dekat jendela. Sibuk sendiri mencari novel di tas kecilnya. Begitu ketemu, dia langsung menyimpan tas kecilnya di bawah sementara novelnya berada di atas paha.

“Ini tidak gratis. Biaya di Jeju nanti kau yang harus menanggungnya.”

Sudah Sehun duga. Sudah sangat jelas kalau Sowon itu tidak mungkin akan berbuat baik padanya. Bahkan dalam urusan kecil pun Sowon paling pelit, apalagi kalau berhubungan dengan uang. Sehun sudah terlalu malas berdebat dengannya, sehingga ia memilih jalan terbaik, mengalah.

Suasana di kursi mereka hening, ah tidak, lebih tepatnya suasana di kabin kelas ini hening. Hanya terdengar suara ketukan sepatu tinggi para pramugari. Sesekali Sehun menoleh ketika terdengar suara sepatu mereka. Kalau ada kesempatan bersay hi, Sehun tentu tidak akan melewatkan itu. Lagipula para pramugari yang disapanya banyak yang tersipu malu.

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengan gadis China itu?”

Pertanyaan tiba-tiba Sowon menyentak Sehun. Pria itu mengurungkan niatnya untuk menyapa seorang pramugari sexy demi menoleh pada gadis di sebelahnya. Ada sedikit perasaan kecewa karena harus melewatkan pramugari sexy itu.

“Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan itu?”

Sowon mengangkat bahu tak acuh. “Hanya mau tahu saja. Sepertinya si gadis China itu cinta mati padamu.”

Mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Sowon, entah kenapa Sehun tiba-tiba teringat gadis China itu. Ah … baru saja 50 jam yang lalu Sehun memeluk Tzuyu di kamarnya, sekarang posisi gadis itu tergantikan oleh si monster ini. Apakah yang dibilang Sowon itu benar? Tentang Tzuyu yang cinta mati padanya? Kalau memang iya, kenapa tidak ada kabar sedikit pun darinya? Kenapa saat nomornya dihubungi, malah operator yang menjawab?

“Ng … tiap kali bermalam di apartemenku, dia selalu tidur di kamarku.”

Bisa saja Sowon marah atau kesal mendengar itu. Tapi sikapnya malah tenang-tenang saja, benar-benar tidak peduli. “Jadi kalian pernah melakukan ‘itu’?”

Sehun melipat kedua lengannya di depan dada sembari menyandarkan punggung pada kepala kursi yang empuk. “Bersyukurlah, karena aku masih suci sampai detik ini.”

Sowon membalik halaman novelnya. “Tidak ada yang patut kusyukuri darimu.”

Pria di sampingnya reflek menoleh, dengan mata melotot dan rahang yang mengeras. Direbutnya novel Sowon dengan kasar lalu membantingnya ke lantai hingga menimbulkan keributan kecil yang mengusik penumpang lain.

Sehun tidak peduli dengan tatapan kesal semua orang. Kini dia hanya terpaku pada sosok dingin di sampingnya. Mereka saling menatap, dengan dua jenis tatapan yang berkebalikan.

“Apa?” tanya Sowon tenang. Sedikitpun tidak menunjukkan rasa gentar pada Sehun.

“Kau … kau … argh!” Sehun mengacak rambutnya frustasi, kembali membanting punggung pada kepala kursi. Ia kesal pada dirinya sendiri yang kehabisan kata-kata untuk memaki gadis itu. Mungkin lebih tepatnya bukan memaki. Sehun sebenarnya tersinggung karena Sowon mengatakan bahwa ia –Sowon- tidak bersyukur memilikinya, hanya saja Sehun tidak mau mengakui itu, bisa-bisa Sowon mengiranya sudah jatuh cinta.

Seorang pramugara datang, memungut novel Sowon di dekat kaki kursi Sehun, lalu diserahkan pada Sowon dengan sikap yang sangat sopan.

pramugara_ganteng_mirip_bintang_korea-20160622-004-rita

ceritanya ini si pramugaranya

 

“Maaf, buku Anda jatuh.”

Sowon yang semula memasang tampang dingin andalannya, seketika berubah ramah begitu bertemu tatap dengan si pramugara. Ia menerima uluran buku tersebut dengan sopan pula.

“Oh terima kasih banyak. Suamiku membuangnya karena cemburu melihatku hanya membaca buku tanpa memperhatikannya. Tolong maafkan kami.”

Si pramugara menyeringai canggung. “Oh ya, tidak apa-apa. Saya permisi.”

“Silahkan.”

Sepeninggal pramugara tampan itu, Sowon bisa mendeteksi aura membunuh di sampingnya. Dan begitu menoleh, ia pun mendapati wajah Sehun yang semerah tomat.

“Siapa yang cemburu?”

“Kalau aku bilang kau tersinggung karena aku mengatakan bahwa aku tidak bersyukur memilikimu, apa itu tidak lebih memalukan?”

Yaa.”

Sowon kembali menyeringai. Sembari menunggu pesawat landing, ia kembali menekuni bacaannya. Mengabaikan Sehun yang sedang bertanya-tanya ‘bagaimana bisa dia tahu apa yang aku pikirkan?’.

Tanpa sepengetahuan Sehun, ada seulas senyum tipis di wajah gadis tersebut.

***

Waktu di Jeju masih pagi saat mereka selesai mengurus seluruh administrasi untuk penginapan mereka selama dua hari semalam. Sowon yang tidak suka hanya berdiam diri di satu tempat, memaksa Sehun untuk pergi keliling Jeju bersamanya. Gadis itu juga memaksa Sehun menyewa sebuah mobil yang langsung dituruti Sehun setelah ia mengancam akan menangis keras-keras kalau Sehun tidak mengabulkannya.

Dengan tubuh yang sedikit lelah Sehun terpaksa menyetir. Lokasi yang ingin dikunjungi Sowon pertama kali adalah Air Terjun Cheonjiyeon. Awalnya Sehun menolak karena lokasinya cukup jauh dari tempat penginapan mereka. Tapi lagi-lagi karena diancam, mau tak mau dia harus mengikuti kata-kata gadis itu.

“Kau sudah punya lisensi mengemudi sendiri ‘kan? Kenapa tidak pergi saja sendiri?!” sungut Sehun saat mereka dalam perjalanan menuju destinasi pertama.

“Saat pulang nanti, ayah dan ibumu pasti akan menagih bukti-bukti apa kita sungguhan berbulan madu atau tidak. Aku tidak mau mengambil gambar denganmu di tempat tidur, itu terlalu menggelikan. Lagipula mereka akan lebih percaya kalau melihat foto kita sedang jalan-jalan berkeliling pulau ini.”

Bibir Sehun mencebik, menekan pedal gas lebih kuat, menyebabkan laju mobil bertambah.

“Tapi itu bukan alasan kenapa aku yang harus menyetir ‘kan?”

Sowon menekan sebuah tombol di pintu mobil, yang mana tombol itu mengakibatkan jendela di sisinya bergerak turun. Angin yang berhembus dengan kecepatan cukup tinggi dari luar langsung menerpa wajah dan rambutnya, membuat Sowon harus sedikit menyipitkan mata agar debu-debu tidak masuk ke matanya.

“Imej-mu sebagai pria akan jatuh kalau kau kedapatan duduk di kursi penumpang sementara yang menyetir adalah wanita.”

Sial. Kalah lagi. Sehun mendengus kasar.

10 menit perjalanan, akhirnya mobil mereka sampai juga di area wisata Air Terjun Cheonjiyeon. Sowon langsung turun dengan penuh semangat, sedangkan Sehun baru turun setelah memakai sunglasses-nya. Ia melakukan itu agar orang-orang tidak tahu siapa identitas aslinya, ia tak mau disebut sebagai pasangan Kim Sowon.

Setelah mereka membeli tiket seharga 10ribu won per-orang, mereka pun memasuki area wisata itu. Suasananya ramai, padahal bukan hari libur nasional. Di tiap sudut akan ditemukan orang-orang asing dari mancanegara yang seluruhnya membawa kamera masing-masing. Ada yang dari Jepang, China, Thailand, Indonesia, Inggris bahkan wanita-wanita berbaju kurung hitam dari Arab.

Semuanya dalam keadaan sukacita tentu saja. Berbeda sekali dengan Sehun saat ini. Selain harus merelakan uang sakunya sebulan untuk semua ini, dia juga harus merelakan harga dirinya demi berjalan dengan gadis monster yang sayangnya berstatus sebagai istrinya. Ugh….

“Hm, ternyata benar, tempat ini akan indah di malam hari. Tapi sekarang juga sudah seindah ini.”

Sehun menoleh setelah mendengar suara gumaman dari Sowon. Diperhatikannya puncak kepala Sowon dengan teliti. Ia baru sadar kalau rambut Sowon berwarna hitam asli, tidak seperti rambut Tzuyu yang sudah kelihatan jelas sekali kalau sudah sering bergonta-ganti warna.

Oh? Kenapa tiba-tiba dia membandingkan mereka?

Sehun buru-buru menggeleng.

Ia kembali menoleh ketika Sowon tiba-tiba menyerahkan kamera ke tangannya.

“Untuk kali ini aku minta bantuanmu, ambilkan gambarku.”

Belum saja Sehun memberi jawaban Sowon sudah berlarian mendekati area air terjun. Duduk di tepian kolam dengan posisi anggun bak model. Hal itu jelas memaksa Sehun untuk melakukan apa yang disuruh. Ia mengambil gambar Sowon dengan sedikit ogah-ogahan, yang penting melakukan apa yang disuruh tanpa peduli bagaimana hasil potretannya.

Sowon berlarian ke arahnya setelah pengambilan 10 gambar. Gadis itu sangat bersemangat ketika melihat hasil potretan Sehun. Sangat memuji dirinya yang begitu cantik bak bidadari yang konon menjadikan Air Terjun Cheonjiyeon sebagai tempat mandi mereka. Ia melupakan siapa yang sudah berjasa mengambil foto sebagus itu.

“Kalau sudah ayo pulang.”

“Kita belum mengambil gambar. Kaja.”

Tanpa memberi aba-aba sebelumnya Sowon langsung menarik tangan Sehun mendekati tepian kolam. Kepala Sehun ada di lipatan siku tangan kanan Sowon, sementara tangan kiri gadis itu terangkat tinggi sambil mengoperasikan kamera.

“Katakan cheese!!”

CKRIK!

.

.

Sowon belum mau pulang. Padahal Sehun sudah lelah dan juga lapar. Bisa saja dia kabur dari sana karena dialah yang membawa kunci mobil. Tapi kalau Sowon terus menggandengnya, bagaimana bisa dia kabur.

“Hei, kau tidak lelah?”

Gadis itu menoleh. “Kau lelah? Hah, baru juga beberapa menit di sini.”

Sehun melayangkan tatapan protes, tapi setelah dipikir-pikir melakukan itu akan percuma saja. Ia pun menghela napas. “Bisakah kau biarkan aku duduk dulu?”

Sowon menyapu pandangannya ke sekitar, tak sengaja menemukan tempat yang indah untuk berfoto sekaligus beristirahat. “Oke, duduk di sana saja.”

Ada perasaan lega dalam diri Sehun. Baru kali ini dia bersemangat mengikuti langkah Sowon. Mereka beristirahat di taman dekat lokasi air terjun itu. Menduduki kursi kayu panjang yang berdiri di tengah-tengah kebun bunga.

Sehun melepas penat di sana. Sowon mengambil banyak gambar.

Ckrik! Ckrik!

“Tersenyumlah sedikit.”

“Ya bagus.”

“Terus seperti itu.”

Tak jauh dari lokasi mereka, terdapat sesi pemotretan untuk cover majalah fashion. Hanya beberapa meter di depan lokasi Sowon dan Sehun. Dan Sehun bisa melihat dengan jelas siapa model yang sedang bergaya di depan kamera.

Energi yang semula lenyap entah kemana, tiba-tiba datang tanpa diundang. Tanpa memberitahu Sowon, ia langsung bergegas mendekati lokasi pemotretan tersebut.

“Istirahat 10 menit.”

Si model menghela napas. Diterimanya uluran botol minuman dari sang manajer. Air di dalam botol itu hanya ia telan sedikit. Lalu tak lama kemudian penanggung jawab make up dan stylist menghampirinya, melakukan tugas mereka.

Di saat itulah tak sengaja dia menemukan siluet seseorang yang berdiri tepat 1 meter darinya. Bukan fotografer, bukan juga sang manajer. Orang itu … orang itu Oh Sehun.

Sehun mendekat setelah penanggung jawab make up dan stylist meninggalkan Tzuyu. Berhenti setelah empat langkah. Menyisakan jarak cukup dekat yang memisahkan mereka.

“Kau … kenapa bisa di sini?” tanya Tzuyu penasaran. Diperhatikannya pakaian Sehun dari atas ke bawah.

“Lalu kau sendiri?” tanya Sehun balik. Matanya tidak melepas tatapannya pada Tzuyu sedetik pun.

“Aku sedang bekerja.”

“Kerja? Baru dua hari kita berpisah, kau sudah punya pekerjaan?”

Tzuyu tampak gelisah. Seperti ada sesuatu yang sedang dirahasiakannya. “Y-ya. Aku mendapat pekerjaan setelah putus denganmu.”

“Jadi selama ini kau sibuk bekerja? Itukah alasan mengapa saat kuhubungi nomormu selalu tidak aktif?”

Gadis itu mengangguk, sedikit ragu.

“Atau karena sudah ada penggantiku?”

Mata Tzuyu membelalak lebar. “A-apa maksudmu?”

Di saat Sehun akan berucap, seseorang tiba-tiba muncul. Dia adalah pria yang asing sekali di mata Sehun, dan Sehun tidak pernah ingat kalau dia mengenal pria jangkung berambut merah itu. Dan anehnya, pria itu tanpa punya malu langsung mengecup bibir Tzuyu tepat di depan Sehun.

Tzuyu mendorong tubuh pria itu untuk menjauh darinya. Ketika bertatapan dengan Sehun, kepalanya langsung tertunduk.

Si pria jangkung berambut merah menoleh mengikuti arah pandang Tzuyu. Matanya yang lebar menatap Sehun sedikit mengintimidasi.

13414228_776322099170983_860171577_n

“Kau siapa? Fans-nya?”

Tangan kiri Sehun mengepal, siap dilayangkan kapan saja. Tzuyu sempat melihat kepalan itu.

“Bu-bukan. Dia bukan siapa-siapa,” sahut Tzuyu tiba-tiba.

Pria berambut merah duduk di samping Tzuyu sekalian merangkul gadis itu mesra. Ia yang tidak tahu situasinya, memandang Sehun dengan tatapan merendahkan.

“Aku tidak tahu siapa kau. Tapi mungkin kau tahu siapa aku ‘kan? Semua orang mengenalku sebagai solois berbakat Park Chanyeol. Dan hanya beberapa orang dan mungkin termasuk kau, yang akan mengenalku sebagai tunangan gadis cantik di sampingku ini.”

Tunangan? Kata itu rupanya jauh lebih mengerikan dibanding nama ‘Oh Sowon’. Sejak kapan? Ya, sejak kapan Tzuyu bertunangan dengan pria berambut darah itu? Seingat Sehun dan memang faktanya, mereka baru berpisah dua hari yang lalu. Apa mungkin rencana pertunangan itu selesai dibuat dalam semalam? Bahkan pernikahannya dengan Sowon sudah direncanakan sejak dua bulan lalu.

“Aku tidak peduli kau ini punya hubungan apa dengan Tzuyu. Tapi aku tidak akan segan membunuhmu kalau kau berani dekat-dekat dengan tunanganku.”

“Sejak kapan … sejak kapan kalian bertunangan?”

Tzuyu langsung mengangkat kepalanya. Chanyeol menyeringai.

“Dari pertanyaanmu, sepertinya kau tidak pernah mengikuti perkembangan dunia entertain ya? Kami sudah bertunangan sejak dua bulan lalu. Setelah berpacaran selama dua tahun tentunya.”

Pernyataan itu seakan petir di siang bolong yang menyambar diri Oh Sehun. Bertunangan sejak dua bulan lalu? Berpacaran selama dua tahun? Benarkah semua yang didengarnya ini?

Tzuyu bukannya menyalahkan pernyataan Chanyeol. Gadis itu malah makin menunduk, menyembunyikan rasa bersalahnya pada Sehun.

“Sehun! Oh Sehun?”

Sehun, Chanyeol dan tak terkecuali Tzuyu menoleh ke asal suara. Itu Sowon, sedang memanggil-manggil nama Sehun sambil menoleh ke kanan kiri. Sehun, meski tahu dia sedang dicari, tetap saja tidak bergerak dari tempatnya. Ia malah menatap Sowon dengan penuh benci.

“Oi nona!”

Pekikan Chanyeol membuat Sowon langsung menoleh. “Ya?”

“Kau mencari pria ini?!” pekik Chanyeol lagi sambil menunjuk Sehun.

Sowon menggerakkan bola matanya ke sosok pria tinggi yang berdiri di depan Chanyeol. Wajahnya yang semula muram karena menghawatirkan Sehun, perlahan mulai bersinar. Ia mengangguk pada Chanyeol. Namun sebelum mengatakan ‘terima kasih’, tak sengaja dia menemukan Tzuyu yang duduk di sebelah Chanyeol. Di saat itulah Sowon menyesal telah menghawatirkan Sehun.

Tapi demi tata krama sosial, Sowon terpaksa memamerkan senyumnya. “Terima kasih, Chanyeol-nim.”

“Sama-sama, Nona,” balas Chanyeol sambil memamerkan barisan gigi putihnya.

“Dia saja tahu siapa aku, kenapa kau tidak?”

Sehun sudah terlalu malas mendengar ocehan Chanyeol. Tanpa mengucapkan apapun pada pasangan yang telah bertunangan itu, Sehun langsung angkat kaki. Tidak mendekati Sowon, tapi pergi begitu saja. Sowon yang tidak mau kehilangan jejak Sehun lagi, segera menyusul pria itu.

Tersisa Tzuyu yang menatap kepergian keduanya dengan cemas.

.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s