Pure Love ~Last Chapter~


Genre: Romance, general, family, friendship

Length: Chaptered

Rating: G

Cast: Do Kyungsoo, Lee Jihyun, other cameo

.

.

@ohnajla|chosangmi15

.

Nothing is impossibble for pure love

Mahatma Gandhi-

.

Chapter sebelumnya: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10

.

H-3 pernikahan mereka

Kediaman keluarga Lee.

“Sebutkan apa saja yang kalian butuhkan nanti.”

Kyungsoo dan Jihyun berpandangan untuk beberapa detik. Mereka bicara melalui tatapan mata. Entah apa itu, yang jelas setelah itu Kyungsoo menjawab dengan tegas, “kami tidak butuh apapun, abeoji.”

Tuan Lee nampak terkejut mendengar pernyataan Kyungsoo. Begitu juga dengan Jihyun.

“Benar tidak ada?” tanya Tuan Lee memastikan.

“Ya, tidak ada.”

Jihyun tiba-tiba menarik ujung kemejanya sehingga pemuda itu menoleh. “Kau serius? Kita tidak butuh apapun setelah pernikahan kita nanti?”

Kyungsoo mengangguk mantap. Kemudian dia mengalihkan pandangan pada Tuan Lee. “Kami akan berusaha mencukupi kebutuhan kami sendiri. Meskipun itu sulit, kami akan mencoba untuk mandiri.”

Jihyun terlihat keberatan dengan ucapan Kyungsoo. “Aku tidak yakin dengan pekerjaanmu itu kau bisa mencukupi kebutuhan kita.”

“Tapi abeoji, ada satu hal yang ingin kuminta darimu.”

“Apa itu?”

“Tolong, biayai kami untuk melanjutkan studi. Saya memang tidak yakin jika pekerjaan saya sekarang bisa memenuhi kebutuhan kami ke depannya, tapi setidaknya kami bisa mencari pekerjaan yang lebih baik berkat gelar kelulusan kami nanti. Bisakah?”

Tuan Lee tidak langsung menjawab, dia meminta pendapat Jihyun dulu. Karena sebelumnya mereka telah bersepakat bahwa Jihyun tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi setelah menikah.

“Aku tidak setuju,” jawab Jihyun lugas. Jawaban itu serta merta membuat Kyungsoo menoleh.

“Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi? Harus berapa kali lagi kuulangi? Aku bisa mengikuti semua keinginanmu tapi bukan untuk yang satu itu.”

“Lalu bagaimana caramu mencari kerja nanti?” tanya Kyungsoo yang anehnya tidak terbawa emosi dengan perkataan Jihyun barusan. Dia nampak tenang-tenang saja seperti sudah menduga kalau hal ini pasti akan terjadi.

“Aku pernah belajar ballet dan aku bisa melukis, aku bisa menggunakan bakatku itu sebagai pekerjaan.”

“Memang pekerjaan yang seperti apa? Apa semacam… pelukis jalanan?”

Jihyun tersinggung mendengar sindiran Kyungsoo. Bibirnya mengatup rapat, pun dengan kedua tangannya mengepal tegang. Dia begitu marah. Tidak menyangka jika Kyungsoo akan bicara seperti itu.

Tanpa peduli, Kyungsoo berpaling kembali pada Tuan Lee. “Maafkan kami, abeoji. Sepertinya kami harus bicarakan ini dulu.”

Tuan Lee mengangguk mengerti. “Ya, kurasa memang begitu.”

Kyungsoo pun memutuskan untuk menyeret Jihyun kembali ke apartemen mereka. Dan ketika sampai di apartemen, perdebatan mereka pun tak terelakkan lagi.

“Apa maksudmu bicara seperti itu? kau benar-benar merendahkan diriku!”

“Kalau tidak begitu, kau tidak akan sadar,” ucap Kyungsoo tenang sebelum menegak segelas air dingin.

“Apa yang harus kusadari? Justru kau itu yang harusnya sadar.”

“Berapa usiamu sampai-sampai kau berani bicara begitu padaku?” tantang Kyungsoo agak kesal sembari menuangkan lagi air dingin ke dalam gelas.

“Kalau aku 17 tahun memang kenapa?! Kau merasa lebih tahu segalanya hanya karena usiamu dua tahun di atasku?!”

Kyungsoo menghela napas, berusaha menenangkan emosinya. “Ya, aku lebih tahu banyak hal ketimbang dirimu.”

“Apa? Kau tahu apa memang? Apakah kalau kau mengerti banyak hal dariku, kau bisa berbuat seenaknya padaku? Begitu?”

Air dingin yang semula ingin ia berikan pada Jihyun, tanpa sadar dia minum sendiri berkat ucapan Jihyun yang memancing amarahnya. “Seharusnya kau senang ada yang mengusulkan hal seperti itu untukmu.”

“Melanjutkan studi maksudmu? Kenapa aku harus senang?! Aku sama sekali tidak mengharapkannya.”

“Baiklah. Begini, aku bisa menyanyi, memasak dan nilai akademikku selalu bagus, itu lah bakatku. Apakah kau pernah bertemu denganku tiga tahun yang lalu? Tidak kan? kau pun tidak akan tahu kalau saat itu eomma didiagnosis memiliki tumor di otaknya. Dalam kondisi tanpa seorang ayah, bagaimana perasaanmu? Sama sepertimu, aku hanya berpikir kalau aku bisa bekerja hanya dengan mengandalkan bakatku saja. Ya, aku bekerja mengandalkan bakatku. Dan kau tahu apa yang terjadi? aku hanya bisa bekerja sebagai penyanyi jalanan. Hanya itu satu-satunya pekerjaan, selain menjadi seorang bartender di pub. Jika aku tidak bertemu EXO, sampai detik ini pun aku akan tetap menjadi penyanyi jalanan.”

Jihyun terdiam seribu bahasa. Dia nampaknya terkejut, karena inilah pertama kalinya dia mendengar riwayat hidup pemuda itu. Rupanya, jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

Kyungsoo menuangkan air dingin ke dalam gelas, kemudian dia mendekat pada Jihyun sembari membawa gelas itu. “Aku berbuat seperti itu agar kau tidak menjadi aku yang dulu. Aku tidak bermaksud mengatur kehidupanmu, aku hanya ingin kau belajar dari masa laluku, dari apa yang pernah kulalui dalam hidupku. Jangan ulangi kesalahan yang sama, itu lah yang ingin kukatakan padamu.”

Kyungsoo pun menyodorkan gelas itu. Jihyun memandanginya beberapa saat. Di mata cokelatnya kentara sekali kalau dia merasa bersalah pada Kyungsoo. Ada keraguan saat menerima gelas itu. Namun bahasa tubuh Kyungsoo terus memaksanya untuk menerima. Dan pada akhirnya, Jihyun memutuskan untuk menerimanya.

“Setelah ini istirahat,” usai bicara seperti itu, Kyungsoo lekas pergi. Bukan tidur, bukan juga bersantai, pria itu pergi bekerja.

Menyisakan gadis itu sendirian di apartemen sebesar itu, membuat gadis itu bisa leluasa memikirkan hal bodoh apa yang baru saja dilakukannya pada pasangannya. Tidak pernah ia sangka bahwa perseteruan seperti itu akan terjadi pada mereka. Ia menegak habis minumannya, kemudian melaksanakan perintah untuk beristirahat.

**

H-2 pernikahan mereka

Kyungsoo memberikan kejutan manis pada Jihyun. Malam itu, mereka pergi kencan.

“Apa aku tidak berat?” pekik Jihyun dari belakang.

“Justru aku khawatir kalau-kalau kau sudah tidak di belakangku, tubuhmu ringan sekali.”

Jihyun memukul punggung Kyungsoo pelan. “Aku tidak akan jatuh selama masih berpegangan pada pakaianmu.”

“Itu bagus. Eratkan jaketmu.”

“Baik.”

Mereka menyusuri jalan satu arah dengan tenang. Udara malam tidak membatalkan mereka untuk bersepeda romantis di waktu-waktu mendekati tengah malam seperti ini. Jihyun bahkan senang sekali mereka pulang dengan bersepeda, bukan taxi biasanya.

Sepeda kayuh itu berhenti di sebuah kedai kecil pinggir jalan. Kyungsoo memarkirkan sepeda, di tempat yang mudah terlihat, kemudian mereka memasuki kedai itu bersama.

Ahjumma, tolong jajangmyeon dua,” pekik Kyungsoo begitu mereka berdua mendapatkan bangku.

“Ya, tunggu sebentar,” balas ahjumma pemilik kedai dengan suara jauh lebih melengking dari Kyungsoo.

“Apa enaknya kita pesan soju?” tanya Kyungsoo tiba-tiba. Jihyun reflek menoleh dan tak lupa tampang terkejutnya yang begitu khas.

Soju?”

Kyungsoo tersenyum. “Sebenarnya usia kita memang belum boleh. Menurutmu bagaimana?”

Tanpa pikir panjang, Jihyun menggeleng tegas. “Jangan. Kita ke mari naik sepeda, kalau kau mabuk, bagaimana kita pulang? Lagipula kau yang melarangku untuk tidak meminum minuman beralkohol lagi.”

Kyungsoo tersenyum, senyum lebar dari senyum sebelumnya. “Itu jawaban yang kumau. Baguslah kalau kau sudah tidak ketergantungan lagi.”

Tak lama kemudian jajangmyeon yang mereka pesan terhidang di atas meja. Ahjumma pemilik kedai kembali ke belakang setelah mendapat ucapan terima kasih dari sejoli itu.

“Hari ini adalah hari gajianku. Tidak apa-apa kan kalau kita merayakannya dengan makan di sini?” tanya Kyungsoo saat menyerahkan sepasang sumpit pada Jihyun.

Jihyun menerima sumpit itu dengan senyum mengembang di wajahnya. “Tidak masalah, aku suka begini.”

Kyungsoo membalasnya dengan senyuman pula.

Mereka menikmati semangkuk jajangmyeon itu. Sesekali mengobrol untuk memecah keheningan antara keduanya. Di tengah-tengah makan, Kyungsoo memesan soda untuk mereka. Lebih baik begitu daripada mereka harus minum soju.

Tepat tengah malam, mereka sudah angkat kaki dari kedai itu. Dalam perjalanan pulang menuju apartemen menggunakan sepeda.

“Kau mengantuk?” teriak Kyungsoo dari depan. Dia khawatir kalau Jihyun ketiduran karena sejak tadi dia tidak mendengar suara gadis itu.

Jihyun mengeratkan pegangannya di pinggang Kyungsoo sembari menyandarkan kepalanya di punggung pria itu. “Tidak, aku masih terjaga.”

“Bagaimana kalau kita mencari kopi?”

“Tidak perlu, aku tidak mengantuk sama sekali.”

“Baiklah. Tapi kau jangan diam saja seperti itu, aku tidak akan tahu kau ketiduran atau tidak.”

“Jadi aku harus bermonolog sendiri begitu?”

“Ya itu terserah padamu. Berteriak juga silahkan, menyanyi juga silahkan.”

Jihyun tersenyum tipis mendengarnya. “Kau yang akan malu sendiri kalau aku melakukan semua itu.”

“Haha, ya kau benar.”

Suasana di antara mereka hening untuk beberapa saat.

Oppa, aku sungguh ingin tahu bagaimana pertemuanmu dengan EXO. Apakah peristiwa itu sangat berharga untukmu?”

Sepeda kayuh berwarna biru muda itu berbelok ke kiri saat menghadapi perempatan.

“Ya, pertemuan dengan mereka sangatlah berarti untukku.”

“Lalu bagaimana saat bertemu denganku? Apa sama berharganya? Sama berartinya?”

“Menurutmu bagaimana? Kalau aku memutuskan menikah denganmu, apakah menurutmu pertemuan kita tidak berarti apapun?”

Jihyun melihat punggung Kyungsoo yang masih tetap tegak meski perjalanan yang mereka tempuh tidaklah dekat. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya melalui ekspresi maupun kata-kata. Dia benar-benar ingin mendengar langsung dari bibir Kyungsoo.

“Sebelum ini, kita pernah bertemu sebelumnya kan? kurasa, di saat itulah pertemuan kita menjadi lebih berarti saat ini.”

Ah iya, Jihyun ingat. Pertama kali mereka bertemu adalah saat Kyungsoo masih menjadi kasir di sebuah swalayan kecil. Waktu itu Jihyun tidak seperti Jihyun sekarang. Jihyun yang dulu jauh lebih polos dan pemalu. Belum pernah menyentuh alkohol dan tingkahnya masih kekanak-kanakkan. Dan sekarang, Jihyun yang seperti itu telah berubah drastis.

“Kenapa saat itu kau membiarkanku pergi?”

“Lalu aku harus melakukan apa?” geli Kyungsoo berkat pertanyaan Jihyun.

“Ya, minta berkenalan atau bagaimana begitu. Setidaknya kau harus menunjukkan ketertarikanmu pada wanita.”

“Apakah iya harus seperti itu?”

“Memang bagaimana lagi?”

“Haha.”

Dahi Jihyun mengernyit. “Kenapa tiba-tiba tertawa?”

“Bagaimana aku bisa melakukan itu kalau kau tak henti-hentinya merasa gelisah? Aku tidak mau membuatmu makin gelisah, jadi ya, kubiarkan saja kau pergi.”

Pipi Jihyun merona. “Kelihatan sekali ya?”

“Ya, dari sorot matamu saja aku sudah tahu.”

“Ah.. ceroboh sekali aku ini.”

“Tidak apa-apa, wajar kalau kau bertingkah seperti itu.”

Jihyun hanya menunduk, tanpa mengendurkan pegangannya pada ujung pakaian Kyungsoo.

“Tapi… aku merindukan tingkahmu yang seperti itu.”

Spontan Jihyun mendongak. “Apa?”

“Aku merindukanmu yang seperti itu,” ulang Kyungsoo sembari menolehkan kepalanya sekilas.

“Oh..”

“Itu pertama kalinya aku melihat seorang gadis yang gelisah saat sedang membeli keperluan datang bulannya di swalayan. Kau sangat manis, pipimu memerah dan matamu bagaikan bulan sabit. Saat melihat seragammu, aku sudah tahu kalau kau adalah adik kelasku di Daesang. Harusnya jika kau mengenalku, reaksimu tidak akan begitu. Aku itu EXO, ingat? Tiap kali ada siswa dari Daesang yang berbelanja di sana, mereka pasti langsung mengenaliku. Tapi anehnya, kau tidak terkejut sama sekali. Jadi, akan lebih baik kalau kau tidak mengenaliku. Aku berharap keputusanku itu akan membuatmu tenang, tapi rupanya tidak sama sekali.”

Jihyun mengingat-ingat lagi sekelebat kenangan mereka di masa lalu. Durasinya hanya beberapa menit, dan tidak ada yang spesial sebenarnya. Namun, kenangan itu justru membuat mereka makin dekat, makin bisa membaca pikiran masing-masing. Jihyun tidak perlu menyesali pertemuan singkat mereka di masa lalu. Dia malah sangat bersyukur, mereka bisa menceritakan ulang kisah itu.

**

Hari pernikahan mereka.

Pukul 8 pagi..

Dok dok dok

Kyungsoo yang saat itu sedang memasak, Jihyun yang sedang menyirami tumbuhan di pot gantung, saling lirik sebentar sebelum salah satu di antara mereka bergegas untuk membukakan pintu. Jihyun lah yang pergi. Dia menata penampilannya sebentar, kemudian memutar knop pintu.

Cklek

Annyeonghaseyo,” sapa seorang anak kecil dan pria jangkung di belakangnya sambil membungkuk.

Jihyun membalas sapaan itu. Namun dia tidak tahu siapa mereka berdua sebelum keduanya menegapkan tubuh.

Deg.

Woohyun oppa.

Pria jangkung yang berdiri di belakang anak laki-laki itu tersenyum. “Hai, Jihyun-a.”

“Jihyun-a, siapa yang datang? kenapa tidak kau suruh masuk?” Kyungsoo tiba-tiba muncul dari balik punggung Jihyun masih memakai apron bermotif kotak-kotak. Dia terdiam saat melihat pria yang ada di hadapan Jihyun, begitu pula pria itu.

“Oh? Anda, ah silahkan masuk.”

**

Jihyun sarapan dengan tidak berselera. Sejak kepulangan Woohyun dan anak kecil itu dari apartemen mereka, Jihyun sama sekali belum buka suara. Terkadang dia melamun sambil mengaduk makanannya, kalau pun sadar paling-paling dia hanya memasukkan sedikit ke dalam mulut.

Kyungsoo yang sudah selesai sarapan sejak tadi, tampaknya enggan untuk berpaling dari Jihyun. Dia terus menatap gadis itu, berharap Jihyun mau menoleh padanya barang sedetik. Bohong kalau dia tidak tahu kenapa Jihyun bisa seperti ini. Namun Kyungsoo tidak mau terbawa emosi, dia sangat mengerti akan perasaan gadisnya.

Klontang

Suara itu muncul karena Jihyun tanpa sengaja menjatuhkan sendoknya. Sontak ia pun sadar, lalu mengambil sendok itu kembali dan menoleh pada Kyungsoo.

“Oh? Kau menatapku sejak tadi?”

Kyungsoo mengangguk tenang. Jihyun pun mengabaikannya, lalu melanjutkan makan.

“Nanti siang kita pergi rumah abeoji. Pernikahan kita akan diadakan di sana, sementara resepsinya lusa di Pantai Heundae,” terang Kyungsoo sebelum bangkit sembari membawa peralatan makannya dan pergi ke tempat pencucian piring.

Jihyun sama sekali tidak menjawab. Entah karena fokus pada makanannya atau kembali teringat pada perbincangan mereka bersama Woohyun tadi.

“Oh, perkenalkan, aku Nam Woohyun dan ini putraku, Nam Joohyuk. Kita pernah bertemu sebelumnya,” ucap Woohyun pada Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum. “Aku Do Kyungsoo, senang bisa bertemu kembali denganmu.”

Woohyun mengalihkan perhatiannya pada Jihyun. “Apakah sebentar lagi kalian akan menikah?”

Jihyun langsung memutus kontak dan enggan untuk menjawab. Pelan-pelan gadis itu mendekatkan dirinya pada Kyungsoo.

“Ya, kami akan menikah nanti malam,” jawab Kyungsoo tenang.

“Aku sudah tahu, aku dapat undangan dari Jihyun sendiri,” balas Woohyun masih menatap Jihyun intens.

Kyungsoo terkejut, dia menoleh pada Jihyun sebentar. Melihat bagaimana reaksi Jihyun, Kyungsoo sadar bahwa pria di hadapannya ini bukan lah pria biasa untuk Jihyun. “Ah, begitu rupanya.”

“Aku ingin sekali datang, tapi karena bertepatan dengan hari peringatan meninggalnya ibu Joohyuk, sepertinya aku tidak bisa. Jadi aku memutuskan datang ke sini untuk bertemu dengan kalian secara langsung. Aku ingin ucapkan selamat atas pernikahan kalian.”

“Terima kasih,” balas Kyungsoo tulus.

“Selain itu, aku kemari karena ada sesuatu yang ingin kukatakan pada Jihyun.”

Gadis yang sejak tadi menunduk, perlahan namun pasti mengangkat kepalanya. Sama seperti Kyungsoo, dia menunggu ucapan Woohyun selanjutnya.

“Aku minta maaf, Jihyun-a.”

Degub jantungnya mendadak terdengar cepat, dia –Jihyun- sekuat tenaga menahan napas agar emosinya tidak muncul ke permukaan.

“Aku minta maaf atas 7 tahun kebohongan yang telah kulakukan padamu. Bukan karena perasaanku padamu, tapi lebih dari itu. Ibu Joohyuk, Jooyeon, meninggal setelah melahirkan Joohyuk. Aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu, dan aku pun bertemu denganmu. Aku ingin memberitahumu dari awal tapi aku selalu merasa tidak sanggup. Aku berharap kau akan menjadi ibu pengganti untuk Joohyuk, tapi begitu mendengar penolakan ayahmu, aku jadi membencimu. Maaf kalau aku telah bertindak gegabah. Aku tidak akan ulangi itu lagi dan tak akan mengganggu kalian. Itu saja yang ingin kukatakan padamu.”

Tidak ada jawaban berarti dari bibir Jihyun. Gadis itu terdiam seribu bahasa, hanya menatap Woohyun empati.

Joohyuk tersenyum tipis ketika tatapan Jihyun dengannya bersiborok. Anak yang sopan.

“Ayah, ayo pergi ke makam ibu,” ajak Joohyuk ketika melihat ayahnya yang hanya duduk dan menunduk.

“Oh? Ah iya, berpamitan dulu pada dua kakak ini.”

Joohyuk menurut. Bersama ayahnya, dia pun bangkit dan mengucapkan selamat tinggal.

“Hati-hati. Piringnya bisa jatuh kalau kau melamun seperti itu,” Kyungsoo tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya, berkacak pinggang mengawasi bagaimana Jihyun mencuci piring.

“Ah, kau mengagetkanku.”

Kyungsoo mengacak rambut Jihyun dengan penuh kasih sayang. “Makanya, lakukan dengan benar.”

Jihyun hanya mengerucutkan bibirnya sambil melanjutkan aktifitasnya.

Kyungsoo tetap memandanginya dalam diam.

**

Kediaman Keluarga Lee.

Jihyun dan Kyungsoo dirias di ruang yang sama. Riasan Kyungsoo jauh lebih simple dari Jihyun. Dia hanya harus menata rambutnya menjadi lebih baik dari biasanya. Bahkan kursi mereka bersebelahan.

“Apakah EXO akan datang?”

Kyungsoo melihat gadisnya dari pantulan cermin. “Ya, bagaimana pun kondisinya mereka akan selalu usahakan datang.”

“Kita bukan yang pertama menikah kan?”

“Bukan. Suho hyung dan Youngra noona yang menikah pertama kali.”

“Baguslah.”

“Memang kenapa?”

“Aku tidak mau status kita jadi sorot perhatian.”

“Tenang saja, sebentar lagi Chanyeol, Chen dan yang lain akan menyusul.”

Jihyun tersenyum tipis. “Baiklah.”

Setelah urusan make up selesai, mereka pun diminta untuk segera berpakaian. Jihyun butuh banyak waktu untuk memasang gaunnya, sedangkan Kyungsoo hanya butuh beberapa detik saja. Begitu sudah berpakaian, mereka memutuskan makan siang bersama ayah Jihyun.

“Melihat putriku, aku seperti sedang melihat ibu Jihyun saat muda,” ungkap Tuan Lee sesaat sebelum hidangan makan siang tersaji di hadapan mereka.

Kyungsoo tersenyum mendengarnya. “Pasti eommeoni sama cantiknya dengan Jihyun.”

Tuan Lee mengangguk setuju, “mereka sangat mirip.”

“Terima kasih selama ini telah mengurusku dan ibu dengan baik,” ucap Kyungsoo tiba-tiba seraya membungkuk.

“Tidak, tidak. justru kami yang harus berterima kasih padamu dan ibumu. Jika bukan karena ibumu, kau tidak akan bisa bertemu Jihyun sekarang.”

“Ya, sama-sama abeoji.”

“Ah ya, aku ingin sekali mengatakan ini padamu, sebelum kalian menikah.”

Kyungsoo pasang telinga baik-baik agar dapat menangkap suara dari Tuan Lee.

“Tolong, jadilah seorang pasangan yang baik untuk putriku. Tidak hanya itu, kuharap kau juga bisa menjadi pemimpin, pedoman, panutan dan tempat bersandar untuk Jihyun. Aku yakin kau lah satu-satunya yang sanggup melakukan itu. Meski kalian pernah saling membenci, tapi tolong jangan pernah putuskan hubungan ini hanya karena kebencian akan masa lalu masing-masing. Dan untuk Jihyun, mulai sekarang kau sudah dewasa dan memiliki Kyungsoo di sisimu. Kuharap kau mau mendengarkan semua perkataannya dan mematuhinya. Appa sudah berkurang tanggung jawabnya terhadapmu, jadi tolong jaga dirimu baik-baik.”

“Baik, ayah.”

END

Iklan

11 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s