Pure Love ^9^


Genre: Romance, general, family, friendship

Length: Chaptered

Rating: G

Cast: Do Kyungsoo, Lee Jihyun, other cameo

.

.

@ohnajla|chosangmi15

.

Nothing is impossibble for pure love

Mahatma Gandhi-

.

Chapter sebelumnya: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

.

Kyungsoo pun melangkah masuk. Dia tidak menemukan siapapun. Saat mendengar suara air, dia beranggapan bahwa Jihyun sedang berada di kamar mandi. Ia pun meletakkan cangkir cokelat panas itu di atas nakas. Berkat itu, dia menemukan sesuatu yang berserakan di atas tempat tidur.

“Ini…”

DEG!

Mata bulatnya langsung berpaling ke pintu kamar mandi. Mendadak firasatnya buruk. “Andwae..”

Suara air masih terdengar jelas dari balik pintu itu. Samar-samar Kyungsoo juga bisa mendengar suara air tumpah. Buru-buru pria itu menghampiri pintu tersebut.

“Jihyun-a? bisakah kau mendengarku? Jihyun-a!”

Dok dok dok! “Jihyun-a!”

Baru kali ini Kyungsoo merasakan kebingungan yang tidak biasa. Apalagi menghawatirkan seseorang yang tak pernah diduganya. Entah mengapa, dia takut sesuatu terjadi pada gadis itu.

Cklek

Tak peduli apapun, sekarang yang terpenting adalah Jihyun. Dia langsung melesat mendekati bath tub, mematikan kran kemudian mengangkat tubuh Jihyun dari air untuk keluar dari tempat itu. Dia baringkan tubuh yang basah itu ke sofa dengan membiarkan pahanya sebagai bantal.

“Apa-apaan kau ini,” geramnya sembari mengeringkan wajah Jihyun dengan handuk. Beruntung dia datang cepat, kalau tidak gadis itu sudah pasti tenggelam ke air.

“Uhuk.”

Kyungsoo langsung menggenggam tangannya. “Mau kuambilkan minum?”

Jihyun menggeleng pelan. Matanya yang merah menatap Kyungsoo nanar. “Oppa..”

“Aku tidak akan memarahimu. Tapi tolong jelaskan padaku kenapa obat-obatan seperti itu ada padamu.”

Bibir Jihyun bergetar pelan. “Maaf..”

“Jelaskan sekarang, Jihyun,” tegas Kyungsoo dengan tatapan menyorot tajam.

“Hiks… i-itu.. i-itu.. terjadi begitu saja. Tidak ada seorang pun di sisiku, aku bingung harus bersandar pada siapa. Aku kehilangan akal sehat dan… maaf oppa..”

“Kau bahkan hampir mencoba membunuh dirimu,” ujar Kyungsoo seraya mengelus punggung tangan kecil yang digenggamnya.

“Maaf… maafkan aku..”

“Kenapa minta maaf padaku? Yang harus kau mintai maaf adalah dirimu sendiri. Kau menyiksa dirimu sendiri.”

Tangis Jihyun makin keras. Sedikit pun Kyungsoo tidak ada inisiatif untuk menenangkannya. Pria itu hanya memberikan sentuhan-sentuhan lembut di wajah lembab Jihyun. Menangis adalah cara terbaik bagi Jihyun untuk sekarang ini.

“Sebelum tidur, ganti dulu pakaianmu,” ujar Kyungsoo setelah tangis Jihyun reda. Dia membantu Jihyun untuk bangkit, tanpa disuruh, dia sendiri yang mengambilkan baju untuk gadisnya. Dia menunggu di luar ketika Jihyun sedang ganti pakaian. Lalu masuk ke dalam lagi untuk menemani Jihyun sampai tidur.

“Tidurlah, aku akan di sini sampai kau benar-benar tidur,” ucap pria itu setelah menyelimuti tubuh Jihyun. Dia duduk di kursi, menghadap tempat tidur. Suasana di kamar itu minim dengan cahaya karena lampu utama telah diganti dengan lampu tidur.

“Kenapa kau tidak tidur di sini?” tanya Jihyun seraya merekatkan jari-jarinya ke sela jari-jari tangan Kyungsoo.

Kyungsoo bereaksi dengan menyentil dahi gadis itu. “Kau ini bicara apa. Sudah, tidur saja.”

“Di Auckland, kita berada di ruangan yang sama. Apa salahnya dengan itu?”

Kyungsoo tersenyum tipis. “Memang kenapa? Kau sering mimpi buruk? Kau takut hantu?”

“Aku hanya ingin bersamamu. Dengan begitu, aku dapat merasakan bagaimana rasanya ditemani oleh seseorang.”

Jihyun nampak begitu menyedihkan, ya itulah persepsi Kyungsoo setelah dia mengenalnya. Keangkuhan waktu itu, Kyungsoo yakin itu hanyalah topeng untuk menutupi sisi lemahnya saja. Satu-satunya yang dibutuhkan Jihyun di dunia ini hanyalah seseorang yang mengerti dirinya. Namun karena jalan pikir Jihyun yang sudah dibuntukan oleh depresinya, maka pelampiasannya adalah hal-hal yang justru merusak diri sendiri. Dan meskipun Jihyun masih memiliki Haera dan Sara sebagai sahabat, Kyungsoo lah orang yang berkewajiban untuk menjadi seseorang itu bagi Jihyun.

Kyungsoo membalas genggaman Jihyun dengan lebih erat dan protektif. Bibirnya membentuk lengkung yang sempurna, menambah kadar kerupawanannya. “Aku tidak akan pergi kemana pun. Apapun yang kau inginkan aku akan berusaha menurutinya. Semua ini tanpa syarat, aku hanya melakukannya bila kau memintanya.”

Perasaan yang membuncah di dada membuat Jihyun kesulitan mengekspresikan diri. Baru kali ini dia merasa sebahagia itu, sekaligus merasa bingung harus bereaksi bagaimana. Kata-kata yang barusan terlontar dari bibir Kyungsoo benar-benar menyelimuti perasaannya, memberikan suatu kehangatan yang tidak pernah dia temukan sebelumnya.

“Aku tidak tahu harus bicara apa. Tapi.. aku senang mendengarnya,” ujar Jihyun akhirnya.

Kyungsoo mengecup punggung tangan Jihyun dalam beberapa detik. “Jika memang begitu, syukurlah. Sekarang waktumu untuk tidur.”

“Tidurlah di sini.”

“Ya, itu gampang.”

Jihyun terkekeh pelan.

**

H-8 pernikahan mereka..

Dua sejoli itu nampak berjalan beriringan keluar dari kamar utama. Kyungsoo terus mengeluh kalau lehernya sakit, beda dengan Jihyun yang justru memijat tengkuk pria itu.

“Ah rasanya darahku tidak mengalir di sini,” gumam Kyungsoo sembari menelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

“Harusnya tadi malam kau tidur di ranjang atau kalau tidak di sofa. Aku tidak memintamu untuk tidur sambil duduk,” omel Jihyun yang masih sabar memijat.

“Bagaimana aku bisa berpindah tempat kalau kau tetap memegang tanganku? Ah… sakit sekali.”

Rona merah terbentuk di pipi putih Jihyun. “Maaf.”

Mereka pun duduk di sofa yang terletak di depan televise. Jihyun tidak berhenti sedikit pun dari aktifitasnya. Dia merasa bersalah karena yang membuat Kyungsoo begini adalah dia.

Kyungsoo melihat pantulan Jihyun dari layar televise. Kemudian dia menoleh untuk melihat objeknya dengan lebih jelas. “Kau merasa bersalah padaku?”

“Eum,” balas Jihyun cepat.

“Kau tidak khawatir?”

Jihyun terdiam sejenak. “Pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku khawatir.”

Kyungsoo tersenyum tipis, kemudian mengelus pipi Jihyun sebentar. “Gomawo.”

Jihyun tak bisa berkata-kata. Dia hanya menatap Kyungsoo yang kini beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

**

Usai taxi yang dinaiki Kyungsoo menghilang di balik persimpangan, Jihyun pun dengan langkah ringan langsung pergi memasuki gedung SMA. Senyumnya tidak berhenti merekah. Hal itu membuatnya terlihat seperti orang tidak waras.

Dia melewati banyak siswa yang juga berjalan searah dengannya dengan bergerombol. Awalnya tidak ada yang aneh. Namun setelah memasuki lorong kelas 3, ada sesuatu yang tidak wajar.

“Kupikir dia tidak berani datang.”

“Sepertinya dia tidak tahu apapun.”

“Ah.. ya, tentu saja. Bagaimana dia bisa tahu itu kalau tiap harinya dia selalu menggoda Kyungsoo oppa.”

Mendengar nama Kyungsoo, Jihyun pun reflek berhenti. Para siswa yang ada di depannya semua menatapnya dengan tatapan merendahkan. Jihyun sangat tidak tahu dengan situasi sekarang ini. dia nampak seperti orang bodoh yang berdiri di tengah-tengah para manusia yang memandangnya hina.

Seorang gadis berpita kuning tiba-tiba berjalan menghampirinya dengan kedua tangan bersedekap di atas perut.

“Keluar masuk pub tiap malam, tinggal di apartemen yang sama dengan Kyungsoo oppa, pergi ke luar negeri bersama Kyungsoo oppa. Apa kau segampang itu menjadi seorang perempuan? Tidak masalah jika kau menggoda pria lain, tapi jika itu EXO, aku sama sekali tidak terima!”

Jihyun terpaksa mundur selangkah berkat tangan gadis itu yang mendorong bahunya.

“Aku tidak menggodanya.”

Gadis berpita kuning dan seluruh siswa di lorong itu tersenyum sinis. “Apa katamu? Lalu apa namanya kalau bukan menggoda. Cih, kau pikir Kyungsoo oppa akan menyukai gadis sepertimu? Bermimpilah saja.”

Gadis itu mendorongnya lagi, kali ini bukan hanya mundur, tapi juga terjatuh. Belum cukup sampai di situ, dia juga diguyur oleh air. Entah air apa itu yang pasti baunya sangat busuk dan membuat rambutnya lengket.

“Oh! Ya ampun!!” pekik beberapa siswa di sana sambil reflek menutup hidung.

“Yah.. seperti itulah dirimu. Kau tak lebih dari gadis yang tidak berguna. Ugh, baunya..”

Hanya dalam beberapa menit kerumunan itu bubar. Jihyun yang dibiarkan sendiri di sana, lekas bangkit dan berlari menuju atap. Dia tidak menyadari bahwa tasnya tertinggal.

Seorang lelaki datang ke lokasi itu. dia memungut tas yang tergolek di sana. Tanpa banyak pikir, kakinya yang panjang lekas bergerak menuju arah kepergian Jihyun.

**

Jihyun P.O.V

“…Cih, kau pikir Kyungsoo oppa akan menyukai gadis sepertimu? Bermimpilah saja.”

Kata-kata itu terus saja terngiang di kepalaku. Sekali lagi aku bertanya-tanya seperti apakah diriku sebenarnya? Mengapa mereka semua selalu menyebut kata itu? sebenarnya gadis seperti apakah yang pantas untuk Kyungsoo oppa?

Akh! Air mataku tidak bisa jatuh sekarang, entah kenapa. Mungkin karena setiap hari aku menangis karena dia. Ugh… aku benar-benar yakin, aku tidak pernah seperti ini saat bersama Woohyun. Tapi kenapa? Pria itu…

“AKH!”

“Aish, mengagetkan.”

Itu… suara siapa itu?

Begitu menoleh, aku bisa melihat potret seorang haksaeng bertubuh tinggi semampai yang sedang membawa tas ku. Um.. sepertinya aku mengenal tas itu… eh?

“Itu tas ku!” aku lekas merebut benda itu dari tangannya. Bagaimana bisa tas ku ada di tangannya?

Sekilas aku melihatnya membelalak, tapi dengan cepat ekspresinya kembali datar lagi. Dia berjalan melewatiku, lalu berhenti tepat setelah berada di dekat pagar pembatas.

“Bukan aku yang menyebarkan itu semua.”

Aku tertegun. Ah, hampir saja aku menuduhnya. Tapi kalau bukan dia, lalu siapa?

“Hanya kau yang tahu tentang itu semua, jelas tidak mungkin kalau Haera dan Sara,” ucapku seraya menghampirinya.

“Memang bukan mereka juga,” balasnya tenang.

“Lalu siapa? Kau tiba-tiba membicarakan ini membuatku curiga.”

Dia mengambil dompet dari saku celananya, dahiku mungkin sudah mengerut karena dia benar-benar aneh. Aku bertanya apa, lalu kenapa dia malah mengeluarkan dompetnya. Apa dia pikir aku baru saja meminta uang?

Eum.. tapi sepertinya dugaanku salah. Dia tidak mengeluarkan uang, melainkan sebuah ID card. Kartu tipis ia berikan padaku. Sekilas aku bisa melihat foto seorang pria. Saat aku benar-benar bisa melihat benda itu, aku tak bisa menutupi rasa terkejutku.

“Ini…”

“Kau mengenalnya, kan?”

“B-bagaimana kau bisa mendapatkan ini?” bohong kalau aku tidak mengenal siapa pria yang ada di ID card ini. Aku pernah bertemu dengannya saat berada di bar, hari ketika aku pindah ke apartemen yang sekarang kutempati bersama Kyungsoo oppa.

“Kau lihat wajahku? Sekali lagi aku harus menghancurkan wajahku demi kalian. Pria itu benar-benar brengsek.”

Aku melihat ID card itu sekali lagi. Lee Ho Won. Ah, jadi pria yang waktu itu menggangguku adalah dia? Cih, bahkan dia masih satu tingkat di bawahku. Ah… hoobae ini benar-benar ingin mati.

“Ah.. jadi yang menyebarkan semua itu adalah dia? Hah. Hoobae macam apa dia.”

Sehun menoleh padaku. “Cara bicaramu aneh.”

Aku meliriknya, lalu menyeringai. “Kau pikir aku gadis yang suka berlindung di belakang seorang pria? Kalau kau berpikir begitu, kau salah besar. Menyingkirkan pria sepertinya tidak sulit. Mungkin memang perlu waktu, tapi… balas dendam itu selalu lebih kejam.”

Bibirnya membentuk senyum miring. Aku membalasnya dengan senyum lebar.

“Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu mencemaskanmu lagi,” dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu beranjak pergi.

Apa selama ini dia mencemaskanku? Tapi kupikir dia membenciku. Dia itu…

Yaa!!”

Langkahnya terhenti, lalu berbalik. “Mwo?”

“Kenapa kau mencemaskanku?”

Matanya menyipit karena cahaya matahari. “Apa harus kujawab?”

“Tentu saja, aku bertanya padamu, bodoh!”

Bibir mungilnya mencebik. “Aku tidak bisa jawab.”

Wae?”

“Kau sebut aku bodoh, bukan? di mana-mana orang bodoh tidak bisa menjawab pertanyaan apapun.”

Setelah bicara begitu ia pun beranjak pergi. Aku baru sadar kalau dia memiliki tungkai yang panjang dan bahu yang lebar. Pantas saja dia disebut sebagai killer nya EXO karena dari penampakan pun dia sudah terlihat menyerupai seorang gangster.

Jihyun POV end

**

Malamnya…

Kyungsoo terkejut ketika mendapati rambut Jihyun yang lepek seperti baru saja terguyur air apalagi aroma wangi yang biasanya membuatnya tergoda, tergantikan oleh aroma busuk khas telur.

“Kenapa rambutmu?”

Jihyun memperhatikan bagaimana Kyungsoo dengan hati-hati menyentuh rambutnya. Dia juga memperhatikan ekspresi Kyungsoo yang sedang menghawatirkannya.

“Kalau aku menceritakan kejadian yang sebenarnya, apa yang akan kau lakukan?”

Netra Kyungsoo beralih mengamati iris cokelat terang milik Jihyun. “Itu tergantung.”

Bibir Jihyun mengerucut lucu. “Itu sangat tidak meyakinkan.”

“Memang apa yang terjadi?”

Bukannya menjawab, Jihyun justru memeluk Kyungsoo. Hal itu jelas membuat Kyungsoo sedikit shock. “Wae? Wae?

“Tidak. Aku hanya ingin memelukmu.”

Tanpa Kyungsoo tahu, Jihyun tersenyum saat memeluknya. Gadis itu entah kenapa merasa bahagia sekali saat dalam posisi seperti ini.

“Ya ampun rambutmu. Bisakah kau mencuci rambutmu dulu?”

Jihyun terkekeh, kemudian dia melepaskan pelukannya. “Sepertinya kau juga perlu mandi.”

Dahi Kyungsoo berkerut. Setelah mengikuti arah pandang Jihyun, Kyungsoo pun sadar bahwa Jihyun baru saja menularkan bau busuknya ke dia.

“Aish, kau ini.”

Jihyun tertawa riang. Sebelum kena marah, dia lekas bangkit dan berlari menuju kamarnya. Kyungsoo hanya bisa menggerutu di tempat sambil melepas coat nya.

**

H-7 pernikahan mereka…

Penampakan Jihyun sekeluar dari kamar membuat dahi Kyungsoo berkerut. Pria itu memperhatikannya dari bawah ke atas. Baru saja Jihyun pulang dari sekolah, sekarang sudah mau pergi lagi. Gadis itu memakai dress selutut tanpa lengan berwarna merah maroon. Kontras dengan coatnya yang berwarna putih gading.

“Kau mau pergi ke suatu tempat?”

“Eum. Aku akan pergi ke pub.”

Ne?” ketidaksukaan terpancar dari picingan mata Kyungsoo. Dan Jihyun bisa merasakan hal itu.

“Tenanglah. Aku tidak akan minum.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” agaknya Kyungsoo menahan amarahnya.

Jihyun meraih tangan Kyungsoo, kemudian menggenggamnya erat. “Ada hal yang harus kulakukan di sana. Kau percaya padaku kan?”

“Apa yang harus kupercayai?”

“Percaya lah, aku berjanji untuk tidak minum dan melakukan hal selain yang ingin kulakukan sekarang. Aku akan kembali setelah selesai.”

“Baiklah,” Kyungsoo membantu Jihyun melepas tangannya, kemudian beranjak menuju balkon apartemen. Dia sengaja menutup pintu dari luar agar Jihyun tidak mengikutinya.

Jihyun menghela napas, setelah puas melihat punggung Kyungsoo, ia pun pergi.

**

Malam itu pub ramai oleh orang-orang. Dengan begini Jihyun yakin kalau dia pasti akan menemukan orang yang dicarinya. Dia ingat, waktu itu juga saat pengunjung sedang ramai-ramainya. Pasti tidak sulit untuk menemukan pemuda macam Lee Ho Won itu.

Jihyun memasuki pub dengan tenang. Pakaiannya sangat kontras dengan suasana pub. Dia berhasil menyedot perhatian banyak orang berkat itu. akan tetapi Jihyun tidak minder. Dia tetap percaya diri melangkah ke depan sambil mencari orang yang menjadi alasannya datang kemari.

Tatapan-tatapan sinis, merendahkan, kaget, aneh dan segala macam tatapan lainnya, bagi Jihyun itu bukanlah penghalang. Kepalanya terus menoleh ke kanan dan kiri, menelusuri tiap sudut sampai menemukan orang yang ia ingin temui.

“Ya, aku melakukan apa yang kau suruh. Seperti yang kau bilang, imej nya langsung buruk.”

Jihyun berpaling cepat menuju asal suara itu. matanya memicing untuk memastikan apakah yang dilihatnya itu benar Lee Ho Won atau bukan. Dan ternyata, suara itu adalah suara milik Lee Ho Won. Pria itu tidak sendirian, melainkan sedang mengobrol dengan seorang pria lain.

Tanpa perlu mengulur banyak waktu, Jihyun segera melesat ke sana. Dia mengejutkan kedua pria itu dengan gebrakannya.

“Astaga! Kau pikir apa yang-” ucapan pria yang bukan Lee Ho Won itu terhenti. Dia terlibat acara saling pandang dengan Jihyun. Ah tidak! kenapa mereka harus bertemu di tempat seperti ini?

“Kau?!”tidak seperti Jihyun biasanya, Jihyun yang sekarang berani berteriak di depan Woohyun. Ya, pria yang bersama Lee Ho Won sekarang ini adalah Nam Woo Hyun. Kemarahan yang semula hanya dikarenakan Howon, sekarang bertambah berkat pria di hadapannya itu.

“Kenapa kau bisa ada di tempat seperti ini? kau itu masih haksaeng.”

“Memang apa pedulimu? Toh aku kemari hanya ingin memberi pelajaran pada temanmu.”

PLAK!

Sedetik setelah bicara begitu, Jihyun langsung menampar pipi Howon. Dia memandang Howon dengan ekspresi datar, kemudian kembali menatap Woohyun. “Baguslah kalau kita bertemu di sini. ada yang ingin kuberikan padamu.”

Jihyun membuka tasnya, memungut kartu undangan, yaitu undangan untuk pernikahannya dengan Kyungsoo. Kartu itu ia letakkan di atas meja.

“Jangan pernah menggangguku lagi, apalagi pria yang namanya tertera di kartu itu. Dan juga, kalau kau berniat menghancurkanku, jangan gunakan hoobae bodoh ini! aku tahu, kau bukan lah pria yang sepengecut itu.”

Tanpa menunggu balasan dari Woohyun, Jihyun segera angkat kaki dari tempat itu. Dia ingin cepat-cepat pergi. Entah mengapa kedua matanya tiba-tiba memanas. Sesampai di luar pub, Jihyun memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah kursi. Dia mengatur napasnya agar kembali normal, dan juga agar tidak membuat Kyungsoo khawatir saat dia kembali ke apartemen.

Gadis itu terdiam seraya memandang langit. Ada banyak bintang di sana, ukurannya sangat kecil seperti hanya titik bercahaya. Ada yang berkelap-kelip, berwarna merah jingga, dan putih terang. Iseng-iseng telunjuknya dia arahkan ke langit, bertingkah seolah sanggup menggapai angkasa dan menyentuh titik-titik itu. Dia menghubungkan titik satu dengan titik lainnya, terus begitu hingga ia pun tersadar kalau barusan dia menulis aksara hangul Do Kyungsoo.

“Apa-apaan ini,” gumamnya, sembari menarik kembali tangannya.

Dia berusaha memikirkan tentang mengapa dia bisa menulis nama itu. sampai akhirnya ia pun tersenyum, lalu dengan cepat pergi dari sana.

TBC

Iklan

14 comments

  1. Cie cie sehun sama jihyun udah baikan cie,, apalagi dio tambah deket sama jihyun,,seneng deh…
    Ternyata yg bikin jihyun sengsara malah woohyun ckck gak nyangka aku,,,tapi kenapa 2 orang jahat itu bias aku semua?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s