Pure Love ^7^


Genre: Romance, general, family, friendship

Length: Chaptered

Rating: G

Cast: Do Kyungsoo, Lee Jihyun, other cameo

.

.

@ohnajla|chosangmi15

.

Nothing is impossibble for pure love

Mahatma Gandhi-

.

Chapter sebelumnya: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

.

16.30 waktu Selandia Baru…

“Huwaaaaaa!!! Takapuna!!”

Gadis itu berlarian mendekati bibir pantai tanpa memakai alas kaki. Ironisnya alas kakinya dia tinggalkan di dekat Kyungsoo, benar-benar menyusahkan.

“Hei! Sepatumu!” pekik pria itu. namun mau berteriak seperti apapun, Jihyun tidak akan pernah mendengarkannya. Akhirnya dengan bersungut-sungut dia memungut highheel itu dan membawanya sambil berjalan mendekati bibir pantai.

Seperti anak kecil yang baru pertama kali pergi ke pantai, Jihyun bermain air yang mengusap bibir pantai. Dia bergerak maju ke depan saat air sedang surut, tapi begitu ombak datang, dia cepat-cepat mengayunkan kakinya ke belakang. Karena seperti itulah dia menabrak Kyungsoo yang baru saja tiba di belakangnya. Beruntung mereka tidak sampai jatuh bersama-sama, karena Kyungsoo telah menyeimbangkan tubuhnya dengan memeluk pinggang gadis itu.

Kaki mereka berdua yang tanpa alas seketika tersapu oleh air laut yang hangat.

Lagi-lagi Kyungsoo bisa menangkap aroma wangi dari rambut hitam panjang itu.

Lain pula dengan Jihyun yang terdiam berkat lengan kokoh yang sedang merangkul pinggangnya.

Seolah kehilangan kesadaran, Kyungsoo perlahan memajukan wajahnya, menenggelamkannya di sela-sela rambut indah itu. Dihirupnya aroma yang menggoda itu dalam-dalam, hingga dia yakin seluruh rongga paru-parunya telah terisi penuh oleh aroma itu.

Aku tidak akan pernah menyukainya. Tidak. tidak. dan tidak. tidak sebelum dia meninggalkan semua hal itu.

Tapi.. ada apa dengan diriku sekarang? Kenapa jadi seperti ini? apa yang sedang terjadi?

Aroma ini…

Kyungsoo membuka matanya perlahan. Dia menatap kosong ke depan, entah apa yang ada di pikirannya. Yang pasti, dia tidak kunjung melepas pelukannya.

Jihyun yang mulai penasaran pun akhirnya menoleh. Rasanya lubang hidungnya seketika tersumbat sesuatu saat netranya bertemu dengan netra yang kosong itu. Jarak sedekat ini benar-benar mengejutkan. Apalagi saat pria itu makin mempersempit jarak di antara mereka.

Oppa..”

“Hm.”

“Ada apa… denganmu?”

“Apa yang terjadi padaku… sama halnya dengan apa yang terjadi padamu setelah mengonsumsi alcohol..”

“Kenapa bisa?”

Kyungsoo pun kembali memejam. “Entahlah, aku juga tidak tahu.”

Tak lama kemudian, si fotografer tiba-tiba datang. merusak moment di antara dua sejoli itu.

“Permisi, bisakah kita mulai pemotretannya?”

Kyungsoo seketika menoleh. Tanpa melepas pelukannya dan sambil memasang ekspresi datar, dia pun menjawab, “silahkan dimulai.”

Si fotografer pun mulai menjalankan tugasnya. Dia berjalan menjauh demi mencari angle yang tepat. Sementara Kyungsoo sendiri memutar tubuh Jihyun agar menghadapnya. Lagi-lagi seolah tak mau kehilangan, dia kembali melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu.

“Hei… bisakah kau tinggalkan semua dunia kelammu itu?”

Ditodong dengan permintaan seperti itu membuat Jihyun seketika membeku. Dirinya seakan terperangkap dalam penjara si mata bulat itu.

“Kenapa?”

“Kau tahu seberapa berharganya kaummu bagi kaumku?” Jihyun lantas menggeleng.

“Aku sangat benci melihatmu mabuk, apalagi pulang ditemani laki-laki lain. Seperti ini kah gambaran seorang gadis baik yang ibuku katakan?”

Jihyun hanya bisa mengerjap ketika menatap netra pria di hadapannya. Bermula dari insiden kecil karena dia menabrak tubuh Kyungsoo, dampaknya malah jadi melankolis seperti ini. tapi harus dia akui, pelukan ini sangat menenangkan. Tidak seagresif dari yang Woohyun lakukan biasanya.

Sampai detik ini, Jihyun masih belum bisa mengucapkan sepatah katapun.

Dan gadis itu kembali dikejutkan dengan perilaku Kyungsoo. Kyungsoo mencium dahinya.

“Tolong hentikan semua itu..”

Masih… Jihyun terdiam.

**

Setelah pemotretan, mereka pergi makan malam di restoran Al Forno Italian. Kyungsoo lah yang merekomendasikan tempat ini karena hanya dia yang tahu seluk-beluk Takapuna dari pada Jihyun. Dia tampak cukup antusias, mengingat dia adalah seorang koki dari sebuah restoran Italia yang berdiri di Seoul.

“Kau seorang vegetarian?” tanya Kyungsoo setelah beberapa saat terjadi keheningan di antara mereka. kedua sejoli ini sedang menunggu pesanan datang.

Aniya.”

“Kalau begitu kenapa tidak pesan daging?”

“Sangat tidak baik bagi wanita untuk mengonsumsi daging di malam hari. Daging di malam hari membuat bobot tubuh bertambah,” ujar Jihyun dengan aksen yang begitu tenang.

“Ah.. jadi intinya kau sedang menjaga berat badan? Ck, selalu begitu, demi kesempurnaan kaummu rela menderita untuk itu,” pria itu menyesap moccachino-nya yang masih mengepul.

Jihyun memandangnya dengan bibir mengerucut, kesal.

Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Seporsi salad dan baked ginger chicken terhidang di hadapan mereka. Dua menu yang berbanding terbalik itu benar-benar ada di satu meja yang sama. Hidangan milik Kyungsoo membuat saliva Jihyun rasanya ingin keluar. Tanpa sadar matanya sampai tidak mau berpaling dari piring yang berisikan tiga potong paha ayam kecil itu.

Kyungsoo segera mengambil sumpit, lalu mengambil satu potong paha ayam itu dan meletakkannya di mangkuk salad Jihyun. “Bukan karena aku perhatian padamu atau apa, tapi… aku sungguh kasian melihatmu hanya makan menu itu.”

Jihyun sama sekali tidak mengindahkan ucapan Kyungsoo. Langsung saja gadis itu melahap semua yang ada di mangkuknya seperti orang yang tidak pernah makan seminggu. Dia bahkan tidak tahu bahwa Kyungsoo diam-diam tersenyum melihatnya.

**

Kembali ke The Spencer on Byron hotel. Semua perjalanan di hari ini sungguh melelahkan. Tidak pernah mereka sangka sebelumnya, bahwa perjalanan ke Selandia Baru tidak seburuk yang mereka pikir. Bahkan jika hanya berdua seperti ini.

Oppa.”

Kyungsoo yang sedang asik bermain game, langsung menoleh ke asal suara. “Wae?”

“Kapan kita kembali ke Seoul?”

Kyungsoo kembali memusatkan perhatiannya pada game. “Lusa.”

“Kenapa tidak besok saja? Apa masih ada pemotretan lagi?”

Aniya. Ayahmu memberikan tiket ke Korea nya dengan jadwal lusa.”

“Lalu besok kita akan melakukan apa?”

Kyungsoo mematikan ponselnya lalu diletakkan di sebuah meja yang paling dekat dari sofa. “Terserah kau saja. Kita bisa pergi kemana pun ke tempat yang ingin kau datangi.”

“Lumba-lumba! Aku ingin lihat pertunjukan lumba-lumba.”

“Itu jauh dari sini. Paling cepat 20 menit kita sampai jika menggunakan taxi.”

“Aku tidak peduli, yang penting pertunjukkan lumba-lumba,” balas Jihyun penuh semangat. Baru kali ini Kyungsoo menemukan bara semangat di netra gadis itu.

“Baiklah, kita akan pergi ke sana besok.”

Terbentuklah senyum gembira di wajah cantik gadis itu. Kyungsoo hanya membalasnya dengan senyum tipis.

**

H-12 pernikahan mereka.

Hari ketiga di Selandia Baru, mereka sedang berada di Dolphin and Whale Safari. Berada di atas sebuah kapal bersama banyak orang lainnya mengarungi perairan yang diramaikan oleh sekawanan lumba-lumba dan paus orca. Jihyun terus mengoperasikan kameranya untuk mengabadikan semua pemandangan itu. Terkadang dia memekik takjub ketika seekor lumba beratraksi tepat di depan matanya.

“Wah!!”

Kesekian kalinya Kyungsoo menoleh. Dia tersenyum tipis melihat bagaimana ekspresi Jihyun saat ada seekor lumba-lumba melompat di hadapannya.

BYUR!

“Astaga… itu keren sekali,” gumam gadis itu sebelum mengambil gambar sepasang paus orca yang sedang berenang bersama.

“Kau suka?”

Jihyun menoleh. Dia mengangguk sambil tersenyum. “Tentu!”

Cerianya Jihyun adalah cerianya Kyungsoo juga. Pria itu kembali memutar kepalanya ke depan menikmati pemandangan indah yang ada di bentangan air tanpa batas ini.

Di saat asik-asiknya mengambil gambar, tak sengaja Jihyun menemukan potret wajah Kyungsoo dari samping. Profil paling tampan dari yang Jihyun tahu selama ini. Tanpa ada keinginan untuk mengabaikannya, gadis itu mengarahkan lensa kameranya pada pria itu. dan tanpa memberitahunya dulu…

CKRIK!

Satu gambar berhasil dia abadikan.

**

Siang hari berjalan di trotoar mencari restoran, Jihyun asik melihat semua hasil fotonya sementara Kyungsoo berjalan di sebelahnya. Dengan baju yang tidak serasi, mereka benar-benar tidak tampak seperti pasangan yang akan menikah.

“Ini pertama kalinya aku melihat atraksi lumba-lumba dan paus di laut. Biasanya… aku melihat mereka di kolam buatan.”

“Yah.. memang seharusnya mereka hidup di laut.”

“Eum. Dengan begitu, mereka tidak akan merasa diperbudak oleh manusia.”

Puas dengan semua hasil gambarnya, Jihyun pun membiarkan kamera itu menggantung di lehernya. Dia melihat sekelilingnya sekilas, lalu entah bagaimana, dia mempersempit jarak di antara mereka dan merangkul lengan Kyungsoo sebagaimana yang dilakukan para gadis terhadap kekasihnya.

Kyungsoo terkejut, tapi anehnya dia tidak mengucapkan apapun. Tangan kanannya yang dirangkul Jihyun itu setengahnya dia masukkan ke dalam saku celana. Komplit! Mereka terlihat seperti sepasang kekasih sekarang.

**

Dan malam harinya mereka berada di bioskop. Ini salah satu permintaan Jihyun. Meski awalnya sempat ditolak Kyungsoo karena mereka baru sampai di hotel sore hari, tapi akhirnya mereka berada di sini juga.

“Film apa yang kau pilih?” tanya Kyungsoo yang baru saja buka mulut setelah sekian lama diam.

“Romansa,” balas Jihyun penuh binar. Dia bahkan memperlihatkan senyum cantiknya pada Kyungsoo.

Gadis ini benar-benar…

Kyungsoo hanya bisa pasrah. Dia merebut box popcorn dari genggaman Jihyun tanpa sedikit pun mengucapkan permisi. Hal itu membuat Jihyun jengkel.

“Hei, berbagi.”

Kyungsoo mencomot segenggam popcorn lalu dengan kasarnya memasukkan itu semua langsung ke mulut Jihyun. “Itu bagianmu.”

“Bwobwo!”

Kyungsoo hanya tersenyum tipis mendengarnya.

Di saat film dimulai, suasana bioskop yang semula gaduh tiba-tiba berubah hening. Tidak ada suara pun yang terdengar kecuali audio dari film itu. semua orang fokus ke depan, mengikuti alur cerita. Begitu pula dengan Jihyun dan Kyungsoo. Kyungsoo meski ogah-ogahan tetap saja fokus ke depan. Mengerti tidak mengerti, berminat tidak berminat, yang penting lihatlah.

Mungkin film telah diputar selama hampir 45 menit. Mendekati klimaks, Kyungsoo mendadak malas melihat kelanjutannya. Menurutnya ending film romansa hanya ada dua, bahagia selamanya atau mati. Terlebih popcorn nya sudah habis. Ya mau bagaimana lagi.

Dia menyingkirkan box popcorn ke kaki kursi. Dilihatnya sekitar, semua orang sama, duduk diam seperti patung. Dan tatapannya pun berhenti di satu orang. Iseng-iseng dia menyenggol lengan gadis di sampingnya itu.

Terlihat gurat kekesalan dari ekspresi Jihyun. Dia menoleh sambil mendelik pada Kyungsoo. “Wae?”

Kyungsoo terkekeh senang. Senang karena berhasil menjahili Jihyun. “Kupikir kau sudah jadi patung.”

Jihyun memutar bola matanya. “Benar-benar mengganggu.”

Di saat Jihyun kembali fokus pada film, terbesit satu ide kejahilan lagi di pikiran Kyungsoo. Pria itu dengan hati-hati meletakkan lengan kirinya di belakang Jihyun, kemudian saat Jihyun benar-benar fokus ke depan, dia menepuk bahu kiri gadis itu lalu menarik tangannya dengan cepat, bertingkah seolah tidak melakukan apapun.

Jihyun menoleh ke kiri. Dahinya membentuk dua lipatan samar saat mendapati orang di sisi kirinya sedang asik tidur. Kemudian dia menoleh pada Kyungsoo.

“Hm?” gumam pria itu dengan kedua alis terangkat.

“Kau ya yang melakukannya?”

“Melakukan apa?” tanya Kyungsoo dengan ekspresi dibuat bingung.

“Aish, sama sekali tidak lucu,” balas Jihyun sambil menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua tanganya bersidekap di depan dada.

“Memang bukan untuk melucu,” ucap Kyungsoo diiringi kekehan yang menurut Jihyun sangat menyebalkan.

Adegan yang paling menegangkan pada bagian klimaks adalah saat pemeran utama pria dan wanita di film itu melakukan kissing. Kalau hanya sekadar itu sih tidak masalah bagi Jihyun maupun Kyungsoo, tapi kalau sampai adegan 21+…

Reflek Kyungsoo menutupi wajah mereka dengan jaketnya.

Y-yaa!

“Ssst, adegan seperti itu tidak cocok untuk anak SMA sepertimu,” bisik Kyungsoo seraya menyalakan lampu ponselnya di antara mereka.

“Aku bisa sesak napas kalau begini caranya,” kilah Jihyun yang entah mengapa kedua pipinya memerah.

“Ya angkat saja bagian bawahnya, begitu saja susah,” ketus Kyungsoo.

“Tapi..”

“Tapi apa? Ah.. atau jangan-jangan kau selalu menonton film seperti itu? ya ampun..”

Aniya! Bukan begitu maksudku.”

Kyungsoo tersenyum tipis. “Kalau begitu diamlah. Kau ini cerewet sekali.”

“Ish… yang sejak tadi banyak bicara itu kau.”

“Yah.. kau benar. Jadi aku juga cerewet, begitu kan maksudnya?”

“Ah molla.”

Kyungsoo hanya tersenyum. selanjutnya tak ada pembicaraan lagi. Bibir mereka terkatup rapat namun netra mereka saling bertemu. Sudah tak ada lagi kata canggung di antara mereka. memang sih, awalnya Jihyun gugup diperhatikan sedemikian rupa oleh pria itu. tapi lama-kelamaan dia mulai terbiasa.

“Sebenarnya… tatapanmu tidak terlalu mengerikan.”

“Yah.. begitulah,” jawab Kyungsoo sambil menahan senyumnya.

“Aku ingin bertemu dengan eommeoni.”

Ekspresi itu perlahan hilang. Kyungsoo cukup terkejut mendengar permintaan Jihyun. “Maksudnya… ibumu?”

Jihyun menggeleng pelan, sedikit memperlihatkan senyumnya. “Bukan. Maksudku ibumu.”

Mata bulat itu semakin bulat saja ketika terbelalak. “Ibuku? Wae?”

“Kau sering bertemu dengan appa, masa iya aku tidak bertemu dengan eommeoni? Kau dan ayah sangat dekat bahkan ayah terlihat begitu menyukaimu. Aku juga ingin seperti itu, dekat dengan ibumu dan disukai oleh ibumu.”

Ekspresi Kyungsoo kembali menjadi wajah penuh senyum. “Begitu kah? Tapi harusnya kau tahu, ibuku sangat membenci gadis pemabuk dan penyuka dunia malam.”

Jihyun mengangguk kaku. “Y-ya.. aku tahu.”

“Selain itu, ibu selalu berharap memiliki menantu yang bisa bersih-bersih rumah, tidak manja, penyuka hewan dan anak-anak. Sopan santun juga diutamakan. Yah… sepertinya kau harus memenuhi semua persyaratan itu dulu sebelum bertemu ibu.”

Jihyun menelan salivanya susah payah. Dia tahu kenapa Kyungsoo bicara begitu, karena dia tidak masuk semua kategori tersebut! Jihyun merasa berkecil hati. Sudah pasti tidak mungkin jika ibu Kyungsoo akan menyukainya. Mengingat dia hanyalah seorang gadis manja yang baru-baru ini suka mengonsumsi minuman beralkohol, dunia malam dan obat-obatan terlarang. Dia tidak lebih dari gadis yang tak berguna.

Kyungsoo sangat memahami perubahan sikap gadis itu. Dia hanya memandangnya dalam diam tanpa ada sedikit pun keinginan untuk menenangkannya.

“Y-ya, a-aku juga.. hiks.. a-aku.. aku…” Jihyun mendekap bibirnya erat-erat, berusaha agar suara isakannya tidak mengganggu pengunjung lain.

Kyungsoo mematikan lampu ponselnya. Dia berikan seluruh bagian jaketnya untuk Jihyun, sementara dia sendiri memutuskan untuk tidak menutupi wajahnya lagi. Lagi pula adegan dewasanya sudah berlalu.

Puk. Puk. Puk.

Tepukan berulang yang menenangkan sengaja ia berikan di bahu gadis itu sebagai bentuk kepeduliannya. Ia biarkan gadis itu menangis dengan kepala bersandar di bahunya. Dia tahu kalau ucapannya sudah sangat menyakiti hati gadis itu. Namun seperti sebelumnya, jika dia tidak berlaku tega, maka Jihyun tidak akan pernah menyadari sikapnya. Kyungsoo melakukan ini semua hanya untuk satu tujuan.

Mengembalikan Jihyun ke jati dirinya yang sesungguhnya.

**

H-11 pernikahan mereka..

Hari ini mereka akan meninggalkan Selandia Baru. Penerbangan akan dilaksanakan siang hari. Maka dari itu, pagi harinya mereka berbenah dan saat ada waktu luang mereka pergunakan untuk pergi mencari sarapan sekaligus makan siang.

“Maksimal dua jam lagi kita sudah harus berangkat dari Byron Ave,” ucap Kyungsoo saat mereka sedang menunggu pesanan. Keduanya memilih sebuah restoran yang berdekatan langsung dengan pantai Takapuna. Sesuai keinginan Jihyun, melihat pantai itu sekali lagi sebelum meninggalkan negara ini.

“Naik taxi kan?”

“Yah, kita lihat kondisi saja,” balas Kyungsoo enteng. Pembicaraan mereka berhenti sejenak ketika dua orang pelayan pria menghidangkan pesanan mereka.

Begitu para pelayan itu pergi, “Ini bukan perkara manja atau tidaknya. Tapi aku sungguh benci dengan bau bus.”

“Memang seperti apa bau bus yang kau maksud?” tanya Kyungsoo yang fokus memotong steak nya.

“Ng.. bagaimana ya?” netra gadis itu bergerak ke kiri atas. “Bagiku, aneh. Ya, aneh saja. Tidak seperti taxi yang selalu harum oleh parfum mobil.”

“Ah.. jadi kesimpulannya, tiap kau akan naik bus, kau harus menyiapkan parfum mobil. Alasan kenapa kau benci bus hanya karena baunya kan? kalau baunya disukai olehmu, kurasa kata benci sudah tidak berlaku lagi.”

“Benar sih… tapi..”

“Cepat habiskan makananmu.”

“Baiklah.”

**

Dalam perjalanan menuju The Spencer on Byron Hotel, mereka mengobrol tentang suatu hal yang hanya bisa dimengerti oleh mereka.

“Ada yang ingin kuberitahukan padamu,” ucap Kyungsoo tiba-tiba. Gadis yang sedang berjalan di sampingnya sekaligus yang merangkul lengannya itu spontan menoleh.

“Tentang?”

“Dua sahabatmu.”

“Sahabat? Oh! Sara dan Haera maksudmu?”

Kyungsoo mengangguk. “Ya, ini tentang mereka.”

Wae? wae? wae? cepat katakan padaku,” pinta Jihyun tak sabaran, ia bahkan menarik-narik lengan Kyungsoo.

“Tapi berjanjilah untuk tidak memberitahu mereka.”

“Eh? Kenapa begitu?” kedua alis Jihyun hampir saja menyatu. Dia tak habis pikir dengan apa yang barusan diucapkan Kyungsoo.

“Karena kalau kau memberitahu mereka, maka semuanya tidak akan menjadi kejutan.”

“Hah? Kejutan? Memang apa yang akan kau katakan? Ayo cepat katakan, aku sudah tidak sabar ingin mendengarnya.”

Hotel Byron Ave terlihat beberapa meter lagi dari posisi mereka.

“Chanyeol dan Jongdae sepakat untuk melamar mereka di hari kelulusan kalian nanti.”

MWO?!! K-kau serius?”

Kyungsoo mengangguk pasti. “Aku ada di sana saat mereka membicarakannya. Janji untuk tidak memberitahu mereka terlebih dahulu.”

“Tentu! Aku tidak akan memberitahu mereka. Wah… jadi di sini yang akan menjadi calon nyonya bukan hanya aku. Ck, mereka membuatku iri.”

Wae? kenapa kau iri pada mereka?”

“Kau sungguh ingin tahu alasannya?” tanya Jihyun balik, berniat menggoda Kyungsoo.

“Ya, aku sangat ingin tahu alasannya. Apa mungkin, kau iri karena mereka bisa mendapatkan tunangan calon CEO dan calon kepala polisi? Sementara kau hanya mendapat seorang koki dan mantan kasir swalayan kecil sepertiku?”

Jihyun terkejut karena reaksi Kyungsoo yang menurutnya sangat sensitif. Apa perkataannya sangat menyinggung perasaan pria itu? kelihatannya sih iya, tapi… iri kan punya makna yang banyak, lalu kenapa yang terpikirkan Kyungsoo malah alasan yang tak pernah dia pikirkan?

“Aku sama sekali tidak berpikiran begitu.”

“Lalu?”

Aku iri karena mereka akan dinikahi oleh pria yang mereka cintai.

Gadis itu tersenyum. “Aku tidak sungguh-sungguh iri pada mereka. Aku hanya iseng mengatakannya.”

“Tidak. Kau berbohong.”

Ucapan Kyungsoo barusan membuat Jihyun membelalak. Bagaimana pria itu bisa tahu?

“Aku tahu, Jihyun-a. Dari matamu saja sudah terlihat kalau kau sedang berbohong. Ya, mungkin saja bukan itu alasannya. Tapi, hanya ada satu alasan lagi yang kuyakini sedang ada di pikiranmu sekarang.”

Tubuh Jihyun bergetar pelan. Dia memandang Kyungsoo dengan cemas.

“Mereka akan bertunangan dengan orang yang mereka cintai, sedangkan kau… kau akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak kau cintai. Bukankah begitu?”

Lutut Jihyun rasanya seperti mati rasa. Dia hampir kehilangan kesadaran terlebih saat mendapati tatapan tajam yang begitu dibencinya. “Bukan begitu oppa..”

“Ya, aku mengaku bersalah karena telah memisahkanmu dengan orang yang kau cintai. Terserah. Aku tidak berharap kau memiliki perasaan padaku. Tapi aku ingin kau tahu. Sebelum pikiranmu tentang masa lalu benar-benar hilang, aku juga tidak akan membuka perasaanku untukmu. Aku bukanlah orang yang suka melibatkan diri dalam urusan orang lain. Selesaikan dulu urusanmu, baru kita urus urusan kita.”

Tanpa bisa dihentikan, setelah bicara begitu Kyungsoo langsung melesat meninggalkan Jihyun. Posisi mereka memang sudah tidak jauh dari hotel Byron Ave. Setelah berjalan dua rumah, bayangan pria itu sudah lenyap di balik gedung bertingkat itu. Meninggalkan seorang gadis yang kini terduduk di trotoar dengan tatapan kosong ke depan.

“Semua yang kulakukan adalah kesalahan.”

**

Iklan

8 comments

  1. gara gara mod ga baek .. jadi aneh bacanya.. romansa romantis harusnya seneng… eh malah kesel lain lain.. bukannya menyinggung hanya mau curhat ..

    aku hanya mau berkicau aja .. bacanya nanti lw mood dah baik kan.. ga apakan.. biar kerasa romansanya..

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ih kyungsoo ngomongya dalem amat sih? Ya kali,kasian tuh jihyunnya… Bilang aja kalo si mamih dio tuh udah suka sama jihyun… Oh iya kak,,menurut aku eh tapi jgn sakit hati ya,,,menurutku romancenya kurang nge feel,soalnya di awal awal itu udah langsung ada romancenya gitu,harusnya perlahan2 aja… Tapi gpp kok,,part ini sukses bikin aku envy sendiri… Keren pokoknya!!

    Disukai oleh 1 orang

  3. Hallo authornim, aku reader baru disini hoho. Aku udah baca dari awal sampe part 4 di skff. Terus iseng buka wp ini dan nemu sampe part 7. Hoho. Suka gitu sama alurnya sama kyungsoo jg akhirnya nemu ff tntng kyungsoo dengan death glare mulu hmm kasian jhiyun hah ngerasa patah hati huhu

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s