Pure Love ^5^


Pure Love

Genre: Romance, general, family, friendship

Length: Chaptered

Rating: G

Cast: Do Kyungsoo, Lee Jihyun, other cameo

.

.

@ohnajla|chosangmi15

.

Nothing is impossibble for pure love

Mahatma Gandhi-

.

Chapter sebelumnya: 1 | 2 | 3 | 4

.

H-16 pernikahan mereka.

“Ada apa dengan wajahmu, Jihyun-a?” Sara dan Haera datang bersamaan, si kembar itu duduk di kanan dan kiri Jihyun.

“Tidak ada,” balas Jihyun cepat. Matanya tetap menatap lurus pada rerumputan hijau yang membentang di hadapannya.

“Ah, sebentar lagi kau menikah ya?”

Ucapan Haera spontan membuat Sara dan Jihyun menoleh.

“Ha? Tahu darimana kau?” tanya Sara pada adiknya. “Apa itu benar, Jihyun-a?”

Jihyun tidak menanggapi pertanyaan Sara. Matanya masih terpaku tajam pada Haera. “Darimana kau mengetahuinya?”

“Chanyeol. Dia bilang kau dan Kyungsoo sunbae akan menikah. Benar kan?”

Gadis itu membelalak. Namun detik berikutnya kepala itu kembali tertunduk. “Ya, kau benar.”

“Kyungsoo sunbae, jinjja?” Sara sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan adiknya. Apalagi mendengar kalau pasangan Jihyun adalah Kyungsoo. Bukankah…

“Jadi mate mu bukan Woohyun? Syukurlah, Kyungsoo sunbae adalah pria baik yang kukenal,” ujar Sara yang entah kenapa mendadak sudah tidak tertarik lagi.

“Jadi kapan kau akan menikah?”

“Entahlah, aku tidak tahu kapan tepatnya. Lusa kemarin kami bahkan baru saja merencanakan acaranya.”

“Wah.. menyenangkan sekali menjadi dirimu, Jihyun-a,” gumam Sara yang tiba-tiba saja tersenyum. Kakinya bergerak ke kanan dan kiri membentur rumput hijau yang asyik bergoyang.

Jihyun pun menoleh. “Menyenangkan apanya? Memangnya kau mau dijodohkan begitu saja dengan orang yang tidak kau kenal?”

Sara menggeleng, tapi bibirnya tetap tersenyum. “Tidak tentu saja. Maksudku.. andai saja aku ada di posisimu dan Jongdae oppa ada di posisi Kyungsoo sunbae, kau tahu, aku akan sangat senang. Rasanya ingin waktu cepat-cepat berlalu agar kami bisa saling bersama.”

Haera terkikik kecil mendengar penuturan kakaknya. “Eonni, Jongdae sunbae benar-benar membuatmu tidak waras! Ckckck, aku tidak akan membiarkanmu menikah sebelum aku menikah, eonni.”

Yaa! aku lebih tua darimu dan sudah seharusnya aku menikah lebih dulu darimu!” pekik Sara tak terima.

“Iya aku tahu, tapi kan kau hanya beda lima detik dariku.”

“Tapi tetap saja. Hari lahir kita sudah beda.”

“Hei hei kalian! Aish! Tidak perlu bercekcok di depanku,” pekik Jihyun menengahi. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian.

“Mau siapa yang menikah duluan itu urusan kalian. Ah sudahlah, kepalaku pusing. Aku kembali ke kelas dulu,” lanjutnya sebelum beranjak meninggalkan si kembar itu.

“Eh? Jihyun-a! yaa! Jihyun-a!”

**

Kyungsoo baru saja mengganti sepatunya dengan sandal rumah begitu tangannya ditarik paksa oleh Jihyun. Gadis itu membawanya menuju rooftop. Dilihat-lihat sekilas, di tangan gadis itu terdapat sebuah kantung plastic hitam yang isinya entah apa. Kyungsoo yang tidak tahu apapun hanya bisa mengikuti langkah gadis tersebut.

Dingin menerpa kulitnya yang tidak tertutupi kain. Bulu-bulunya langsung meremang dan yang terjadi setelahnya adalah…

“Hatsyi!”

Dia mengusap hidungnya yang masih gatal dengan tangannya yang bebas. Ya ampun, dia benar-benar tidak tahan dingin. Apalagi hanya memakai kaos berlengan pendek yang terbuat dari kain tipis.

Mereka berhenti berjalan saat berhasil menemukan sebuah kursi kayu panjang yang berdiri menghadap cahaya bulan.

Tanpa berkata-kata, Jihyun melepaskan genggamannya kemudian duduk. Dia mengeluarkan apa-apa saja yang di dalam kantung plastic itu. dan semuanya adalah hal yang tidak terduga oleh Kyungsoo.

“Kau beli itu semua?” tanya pria itu sembari duduk di sebelah Jihyun. Matanya masih melotot memandang beberapa kaleng beer yang baru saja dikeluarkan Jihyun.

“Ya. Kita akan pesta beer sambil makan malam bersama,” jawabnya yang juga mengeluarkan dua mangkuk sterofoam yang berisi ramen panas.

Kyungsoo memandangnya tak habis pikir. Kalau dia yang menjadi penjual minuman beer itu, sudah pasti dia mengusir Jihyun untuk tidak datang lagi ke tokonya. Di Korea ada peraturan usia dalam mengonsumsi minuman beralkohol. Dan usia Jihyun masih jauh di bawah standar usia yang ditetapkan, bahkan Kyungsoo pun sebenarnya belum diperbolehkan.

“Hanya usia di atas 20 saja yang boleh minum minuman itu,” peringat Kyungsoo.

“Aku tahu. Tapi, peraturan itu ada untuk dilanggar kan? sekali saja apa salahnya,” balas Jihyun santai, sangat santai bahkan.

Kyungsoo menghela napas. Dia mengalihkan pandangannya ke depan, menikmati tiap keindahan yang dipancarkan langit malam. Angin yang awalnya membawa suhu dingin ke kulitnya, sekarang malah terasa sejuk. Bulunya tidak lagi meremang, paru-parunya pun tidak lagi bermasalah. Karena sekarang permasalahannya hanya satu..

“Kenapa harus mengajakku? Kau kan bisa pergi ke pub sesuka hatimu.”

Jihyun tersenyum miring. “Aku inginnya bersamamu. Kenapa? Kalau kau tidak mau ya tidak usah ikut minum. Ini ramennya, aku yakin meskipun kau bekerja di restoran, belum tentu kau sudah makan malam.”

Kyungsoo menerima mangkuk sterofoam itu tanpa banyak protes. Dia langsung memakannya, karena yang dikatakan Jihyun barusan benar adanya.

Tidak ada suara lagi, hanya suara gemerisik angin dan padatnya lalu lintas di bawah apartemen. Kyungsoo menikmati ramennya dengan syahdu sementara Jihyun sudah menegak dua kaleng beer.

“Ah.. ini sangat menyegarkan meskipun kandungan alhokolnya jauh lebih rendah dari vodka.”

Kyungsoo meletakkan mangkuk sterofoam kosong miliknya di dekat kaki kursi. “Kau mengonsumsi minuman itu tiap pergi ke pub?”

“Ya. Aku menyukai rasanya.”

“Mengerikan,” gumam Kyungsoo lirih.

“Kau tidak mau mencobanya? Tenanglah, beer ini tidak akan membuatmu mabuk.”

“Kalau sudah selesai ayo kembali ke apartemen,” balas Kyungsoo acuh.

Jihyun mengerucutkan bibirnya. Bukannya segera beres-beres, dia justru membuka kaleng baru. “Sebentar, masih ada 4 kaleng lagi yang harus dihabiskan.”

Kyungsoo melotot tak suka. Dari cara minum Jihyun, entah kenapa dia semakin anti dengan gadis itu. Inikah gadis yang ibunya sebut sebagai gadis baik? Darimananya bisa disebut baik? Ugh! Kyungsoo paling benci dengan peminum. Salahkan ayahnya yang sudah membuatnya membenci orang macam itu.

Satu kaleng sudah habis, kini Jihyun beranjak ke kaleng selanjutnya. Begitu membuka penutup kalengnya, tiba-tiba saja Kyungsoo merebut kaleng itu. Jihyun terperangah melihat cara pria itu menegak beer tersebut dalam sekali tarikan napas. Apalagi yang diminum tidak hanya satu kaleng, melainkan semua kaleng yang tersisa. Begitu semuanya habis, pria itu menyeka bibirnya yang basah dengan punggung tangan.

“Sekarang ayo kembali,” ucapnya sebelum menarik lengan Jihyun pergi dari rooftop. Langkahnya yang tegas dan cepat tidak bisa diimbang oleh Jihyun. Gadis belia itu harus sedikit berlari untuk menyamakan langkah mereka.

“Hei, itu tadi keren,” ujar Jihyun sesaat setelah mereka sampai di dalam apartemen. Kyungsoo sudah tidak lagi mencengkram lengannya. Pria itu sibuk menegak air hangat di dapur.

TRANG!

Jihyun berjengit akibat suara itu. Dia tertunduk karena ketakutan dengan tatapan Kyungsoo. Tatapan itu seakan menggeram padanya. Menakutkan sekali.

Cukup lama Jihyun menunggu amarah Kyungsoo, namun yang dia dengar justru…

“Minumlah, lalu tidur.”

Saat dia mengangkat kepalanya, pria itu sudah lenyap dari pandangan. Sekarang yang tersisa di hadapannya adalah segelas air yang mengepul. Gelas yang sama dengan yang dipakai Kyungsoo tadi.

Lama-kelamaan terbentuklah seulas senyum tulus di bibirnya.

**

H-15 pernikahan mereka.

Hari ini adalah hari rabu. Hari yang biasa bagi banyak orang tapi luar biasa untuk pasangan yang akan menikah ini.

“Apa?! Pergi ke Selandia baru hari ini?!”

Jihyun adalah yang paling heboh setelah mendengar kabar dari mulut Kyungsoo, sementara Kyungsoo sendiri mendengarnya dari telepon beberapa jam yang lalu.

“Ya. Lebih tepatnya dua jam lagi kita harus berangkat ke Incheon,” sambung Kyungsoo acuh. Pria itu sengaja menjemput Jihyun ke sekolah pukul 2 siang setelah mendapat telepon dari Tuan Lee.

“Ya ampun!! Kenapa harus mendadak seperti ini?! aaa, aku tidak siap!!”

“Lagipula salah siapa yang ingin pergi ke Selandia Baru. Harusnya kau sebutkan pulau Jeju atau Nami saja. Memang hanya kau yang tidak siap?” keluh Kyungsoo sambil menopang dagunya.

“Ah! aku tidak peduli! Pokoknya aku tidak siap, titik!”

Kyungsoo hanya memutar bola mata. Sudah keras kepala, memalukan lagi. Ya ampun, semoga saja sopir taxi yang sedang mereka tumpangi ini tidak kapok dengan penumpang seperti Lee Jihyun itu.

Mereka sampai di apartemen tak lama kemudian. Kyungsoo langsung packing sementara Jihyun harus mengganti pakaiannya dulu. Mereka sibuk dengan kebutuhan masing-masing. Tidak ada waktu, 100 menit dari sekarang mereka sudah harus berada dalam perjalanan ke bandara Incheon.

Setelah semuanya beres, sepasang sejoli itu pun membawa koper mereka ke lantai bawah. Menemui sebuah mobil yang sudah dikirim oleh Tuan Lee. Oleh sopir, barang bawaan mereka diletakkan di bagasi sementara keduanya duduk di kursi belakang. Tidak seperti pasangan kebanyakan, mereka mengambil jarak duduk yang berjauhan satu sama lain.

Mobil Audi A5 hitam itu bergerak normal menyusuri jalanan padat kota Seoul. Berbaur bersama mobil-mobil lainnya yang beranekaragam. Jika dilihat dari kaca mobil samping, gedung-gedung pencakar langit seakan bergerak mundur, begitu pula dengan pohon-pohon di pinggir jalan.

Kyungsoo mengeluarkan sesuatu dari coatnya. Sebatang cokelat. Cokelat itu bukan untuk dia, melainkan ia berikan pada gadis yang sedang bertopang dagu di sebelahnya.

“Hei.”

Seakan tahu siapa yang dipanggil, Jihyun pun menoleh. Kedua alisnya terangkat ke atas begitu mendapati cokelat tersebut. “Apa ini?”

“Untukmu,” balas Kyungsoo datar. Pria itu mendorong benda yang dipegangnya makin mendekat agar Jihyun segera menerimanya. “Cepat ambil. Sebelum aku berubah pikiran.”

Secepat kilat Jihyun pun meraihnya. Dia dekap cokelat itu erat-erat sebelum memandang Kyungsoo kikuk. “Aku suka. Terima kasih.”

Kyungsoo mengangkat bahunya acuh sembari menarik kembali tangannya. Suka atau tidak suka, sebenarnya Kyungsoo tidak begitu peduli. Dia memberikan gadis itu cokelat sebagai antisipasi kalau-kalau gadis itu belum makan siang. Benar-benar sosok pria yang peduli.

Satu jam lebih 15 menit, akhirnya mereka sampai juga di bandara internasional Korea Selatan tersebut. Hanya perlu menunggu 30 menit untuk departure. Mereka menaiki pesawat yang akan membawa mereka ke Auckland. Setelah menemukan tempat, mereka pun duduk. Hanya berdua dan itu sungguh canggung karena harus berdekatan seharian penuh dalam perjalanan ini.

DUG!

Kyungsoo spontan menoleh. Didapatinya Jihyun yang tertidur di bahunya. Tidurnya sangat lelap seperti bayi yang baru saja diberi ASI. Padahal ini belum setengah perjalanan dan Jihyun sudah tepar begitu saja. Kyungsoo tidak tahu menahu bahwa Jihyun memang gampang tertidur saat perjalanan udara.

Harusnya pria itu membangunkannya atau yang lebih kejam lagi mendorong kepalanya dari bahu. Harusnya… tapi… entah makhluk apa yang merasukinya, pria itu justru memberikan kenyamanan untuk Jihyun. Mulai dari menyelimuti tubuhnya, sampai merangkul dan mengelus rambut gadis itu. Dia tampak seperti pria yang perhatian dan romantic, meski tak ada secuil pun senyum yang muncul di wajahnya. Setelah dirasa cukup nyaman, dia pun menyibukkan diri dengan membaca.

Waktu seakan bergerak begitu cepat ketika dia membaca di udara. Tahu-tahu langit sudah gelap. Mata bulat Kyungsoo sudah berat, tidak kuasa untuk menahan beban kantuk lagi. Ia pun memutuskan untuk menyudahi membacanya. Diselipkannya pembatas buku di halaman yang sedang terbuka, kemudian menutup buku tersebut dan meletakkannya di meja.

Saat dia menoleh, dia bisa menemukan Jihyun yang tidur dalam keadaan mulut terbuka. Lucu. Ya, itu sangat lucu bagi Kyungsoo. Pria itu tersenyum. Ia mengatupkan rahang gadis itu lalu membetulkan letak kepalanya. Indera penciumannya yang sensitive bisa menangkap aroma shampoo dari rambut tebal gadis itu. Tidak seperti aroma parfum yang sering Jihyun semprotkan ke tubuh, aroma ini tidak menyengat namun sangat memikat. Tanpa sadar Kyungsoo sudah menenggelamkan hidungnya di sela-sela rambut gadis itu.

“Ngh..” Jihyun mengerang pelan sambil bergerak sedikit.

Kyungsoo spontan menarik kepalanya. Dia perhatikan sebentar wajah damai yang masih terlelap itu sebelum ia usap kepala di atas bahunya itu dengan lembut.

Jalja.”

Kyungsoo meletakkan tangan kanannya melingkari tulang belikat Jihyun sementara kepalanya sengaja dia sandarkan di atas kepala gadis itu. Ia terlelap tak lama kemudian.

**

Mereka berada di suatu tempat. Bukan hutan. Bukan gurun. Bukan padang tandus. Melainkan suatu padang rumput yang berbatasan dengan pantai. Cuacanya terang. Tidak terik, tidak mendung, tidak juga bersalju. Angin yang berhembus sangat lembut, sejuk dan menenangkan.

Di situlah mereka. Duduk berhadap-hadapan berjarak dua meter di perbatasan antara padang rumput dan pantai.

“Bisakah kita saling jujur satu sama lain?”

“Tentu. Kita bisa menyebutkan apa-apa yang tidak disukai dan apa-apa yang disukai.”

“Setuju. Bagaimana kalau kita mulai dari apa yang tidak disukai?”

“Ide bagus. Karena kau wanita, maka aku mempersilahkanmu untuk memulai.”

Gadis berkulit putih pucat yang memakai dress berwarna senada dengan kulitnya, mengangguk mengiyakan.

Angin berhembus lembut dari arah timur, mengibarkan rambut hitam legam si gadis ke belakang seolah membentuk kobaran api.

“Hal yang tidak kusukai adalah naik bus, semua jenis anjing, hujan dan memakai celana panjang.”

“Apa ada yang tidak kau sukai dariku?”

“Tentu ada. Aku sangat membenci tatapanmu. Aku merasa, tiap kali kau melihatku, kau seperti sedang melihat musuh. Kedua alismu hampir menyatu di tengah dan tidak ada seulas senyum yang kau tunjukkan.”

Si pria mengangguk pelan. “Semua orang juga membenci hal itu dariku.”

“Lalu kau? Apa yang tidak kau sukai dan apa yang tidak kau sukai dariku.”

Si pria memandang si gadis dengan tatapan yang sangat dibenci oleh gadis itu. “Hanya satu hal yang kubenci sebenarnya, tapi berkat dirimu, aku jadi membenci banyak hal.”

“Benarkah? Apa itu?”

“Bau parfum. Alcohol. Dunia malam.”

Si pria menarik napas dalam-dalam lalu dikeluarkan secara perlahan. “Tolong kendalikan hobi minummu.”

Angin berhembus lagi, kini berasal dari arah utara.

“Kau hanya tidak tahu. Hanya alcohol yang bisa membuatku melupakan segalanya. Semua rasa sakit, hampa dan kesedihan, hanya alcohol lah yang bisa melenyapkannya. Jika kau pernah melihatku di masa lalu, kau akan mengerti mengapa aku bisa tergila-gila pada semua jenis minuman beralkohol.”

“Ya, mungkin aku bisa mengerti. Hanya saja, tidakkah kau akan menyesal nantinya? Secara tidak sadar kau menghancurkan dirimu sendiri. Berusaha menghapus sesuatu yang sulit kau hapus, kau hanya membuang-buang waktu. Kau harus melakukan hal-hal baik ke depannya. Karena hari esok itu jauh lebih penting dari masa lalu.”

“Tapi tidak ada seorang pun yang bisa menebak hari esok. Untuk apa aku melakukan hal-hal baik kalau ke depannya nanti hasilnya akan sama saja?”

Si pria tersenyum tipis. “Apakah kau tidak melihat siapa di depanmu? Apakah kau yakin kau tidak bisa menebak hari esok bersama seseorang di hadapanmu?”

“Kau ini bicara apa?”

Si pria tiba-tiba berdiri. Kakinya yang tidak mengenakan alas apapun, melangkah ringan mendekati si gadis berada. Setelah berada tepat di depannya, si pria berlutut.

“Semua orang memiliki masa lalu. Termasuk aku. Pernahkah kau bertanya bagaimana kehidupanku di masa lalu? Apakah kau menyadari bahwa masa laluku juga sama kelamnya seperti masa lalumu? Kita selalu sibuk memikirkan perasaan kita sendiri, hingga kita melupakan perasaan orang lain. Kau tidak sendiri. Di masa lalu, kau boleh bicara kalau dirimu sendirian, tapi di hari esok…” si pria meraih tangan si gadis dan menggenggamnya erat, “aku bersedia melangkah bersamamu.”

Ombak kecil bergulung menjilat tepi pantai, lalu dengan tak berdosanya kembali lagi ke laut menyisakan rupa cokelat gelap di tanah yang barusan dijilatnya. Angin berhembus cukup kencang, menerpa rerumputan hijau yang bak permadani raksasa. Perpaduan alam yang unik itu bekerja sama meramaikan suasana diantara dua sejoli yang saling pandang.

“Benarkah kau mau melakukannya?” ketidakyakinan terpampang jelas di wajah si gadis. Rona wajahnya sendu, binar matanya pun tampak redup.

“Ya, barusan kau mendengarnya.”

Si gadis tertunduk. “Tapi aku tidak yakin. Aku tidak bisa melupakan masa laluku.”

Indera penciuman si pria tiba-tiba menangkap aroma memikat dari rambut hitam legam si gadis. Reflek tubuhnya condong ke depan mendekati aroma itu. Sampai akhirnya dia berhasil memenjara bau itu di paru-parunya.

Si gadis terkejut. Dia akan menarik tubuhnya ke belakang namun gagal. Lengan kekar pria itu sudah mengunci pergerakannya.

“Jujur, seperti ini saja sudah membuatku melupakan semua rasa sakit, hampa dan kesedihan. Lihatlah, aku tidak butuh alcohol. Aku tidak butuh dunia malam. Karena bahagia itu simple. Ceritakan kebahagiaanmu itu pada orang lain, maka kebahagiaan itu akan bertambah dua kali lipat.”

Si gadis masih terdiam, berusaha mencerna semua yang dibicarakan si pria. Samar-samar dia bisa mendengar suara-suara berfrekuensi rendah di sekitarnya. Suara angin yang berhembus, ombak yang bergulung, kicauan burung entah dimana, tarikan napas pria yang memeluknya dan… detak jantung mereka.

“Cinta tumbuh dalam ketakutan tetapi akhirnya cara untuk mengatasi ketakutan dalam cinta adalah cinta itu sendiri.”

TBC

Iklan

10 comments

  1. wah itu yg pas ending bukan kyungsoo kan yg ngomong? bukan kyungsoo bgt kalo blak blakan gitu, kyk nya mereka jg udh mulai buka hati masing2 ya
    aku tadi udh kirim komen tp kok gk ada ya di kolom comment??

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s