Pure Love ^4^


Pure Love

Genre: Romance, general, family, friendship

Length: Chaptered

Rating: G

Cast: Do Kyungsoo, Lee Jihyun, other cameo

.

.

@ohnajla|chosangmi15

.

Nothing is impossibble for pure love

Mahatma Gandhi-

.

1 | 2 | 3

.

H-17 pernikahan mereka.

Pagi itu Kyungsoo bangun lebih lambat dari Jihyun. Dia sudah melihat gadis belia itu berseragam rapi, seragam sekolah perpaduan warna antara hijau dan putih. Duduk di sofa ruang televise dengan kepala tertunduk menghadap sebuah buku yang terbuka di atas pahanya. Pemandangan seperti itu benar-benar langka. Apalagi kemarin malam dia tidak melihat Jihyun keluar dari kamarnya. Perubahan yang cukup drastic dan aneh tentu saja.

“Sudah sarapan?” tanyanya sambil menyeret anggota gerak bawahnya menuju dapur. Suaranya yang serak terdengar membahana di ruang yang cukup besar ini.

Jihyun menoleh, matanya yang membelalak menunjukkan bahwa dia terkejut dengan kehadiran Kyungsoo. “Ah.. belum.”

Kyungsoo sudah berkutat dengan alat-alat masak di dapur, sama sekali tidak mengindahkan ucapan Jihyun. Saat membuka kulkas untuk mengambil bahan, dia baru ingat kalau bahan-bahan makanan mereka sudah menipis.

“Nanti sepulang sekolah pergilah berbelanja. Aku akan mulai bekerja lagi hari ini jadi aku tidak bisa menemanimu. Pagi ini lebih baik kubuatkan kimbap,” jelas pria itu yang hanya dibalas anggukan oleh Jihyun.

Suasana apartemen itu terasa hening saat mereka berdua sibuk dengan dunia masing-masing. Jihyun fokus membaca buku sedangkan Kyungsoo asik membuat kimbap. Buku yang dibaca Jihyun hanyalah buku pelajaran, lebih tepatnya pelajaran Biologi. Ulangan harianlah yang memaksanya untuk membaca buku setebal itu. Jangan salah sangka, meski dia pribadi yang arogan, semaunya sendiri, dan peminum berat, sejujurnya dia tetaplah seorang siswa. Belajar saat menjelang ujian, sibuk saat mendapat tugas rumah. Tidak ada yang menyangka bahkan Kyungsoo sekali pun kalau Jihyun sebenarnya siswa yang pintar dan berbakat. Ada satu bakatnya yang terpendam. Dia adalah seorang ballerina. Bakat yang diturunkan mendiang ibunya itu hanya dia asah selama lima tahun, sejak usia 6 hingga 10 tahun.

Tak lama kemudian Kyungsoo datang ke ruang televise sambil membawa piring oval tanggung, di mana di atasnya terdapat beberapa potongan kimbap yang dipotong rapi. Ia letakkan piring itu di atas meja sementara dia sendiri duduk di sebelah gadis itu.

“Hanya ini yang bisa kubuat, nanti aku akan berikan daftar belanja untukmu.”

Jihyun hanya mengangguk pelan, lebih tepatnya malas menanggapi. Langsung saja dia comot satu potong kimbap dan langsung dia lahap mentah-mentah. Matanya masih tertuju pada buku tebal di pangkuan.

Kyungsoo melirik apa yang sedang Jihyun baca. Menarik. Dia kira Jihyun membaca novel atau buku sejenisnya. Syukurlah kalau ternyata Jihyun masih menyadari statusnya. Dengan begitu Kyungsoo tidak perlu berpikiran kalau Jihyun adalah nenek lampir yang hidup di tubuh gadis belia.

PAK!

Kyungsoo reflek mengarahkan bola matanya ke kiri. Jihyun baru saja menutup buku tebal itu dan sekarang memasukkannya ke dalam ransel. Sepertinya dia belum berniat pergi ke sekolah karena mulutnya masih penuh dengan kimbap.

“Berangkat dengan taxi saja nanti.” ujarnya acuh. Dia juga sedang menikmati potongan demi potongan kimbap hasil kerja tangannya.

“Baiklah,” lagi-lagi Jihyun hanya menurut. Kyungsoo yang awalnya merasa aneh, perlahan mulai terbiasa.

“Apa kau satu tingkatan dengan Sehun?”

“Sehun?” Jihyun tampak berpikir sebentar, tak lama kemudian dia mengingat nama itu dan langsung menjentikkan jarinya. “Ah iya, Oh Sehun.”

Kyungsoo tersenyum tipis. “Jadi mungkin kau mengingatku sebagai seniormu.”

Kali ini ekspresi Jihyun tampak blank, bingung dengan apa yang barusan diucapkan Kyungsoo. “Kau… seniorku?”

Kyungsoo menoleh, hanya sekilas. “Menurutmu bagaimana aku mengenal Sehun kalau aku bukan seniornya?”

“Tapi Sehun itu EXO. Dan kau harusnya tahu kalau EXO itu terkenal seantero Seoul. Apa jangan-jangan kau tidak mengenal EXO?”

Kyungsoo memperlihatkan senyum kecutnya pada gadis itu. “Tapi kupikir, justru kau yang tidak mengenal EXO.”

“Ha? Bagaimana bisa? Aku kelas 1 saat Baekhyun sunbae masih menjadi seniorku. Ck, pasti kau juga tidak mengenal Baekhyun sunbae,” kearoganan Jihyun telah kembali. Justru itulah yang membuat Kyungsoo tersenyum penuh makna.

“Benarkah? Apa kau sangat menyukai EXO?”

“Tentu. Siapapun yang melihat mereka pasti menyukai mereka. Kegarangan mereka terkalahkan oleh ketampanan mereka.”

“Ah, bisakah kau sebutkan siapa saja member EXO itu?”

“Xiumin, Luhan, Kris, mereka bertiga adalah yang tertua dan sudah lulus begitu aku menjadi siswa baru. Kemudian Lay dan Suho, mereka juga sudah lulus setelah aku menjadi siswa baru. Lalu Baekhyun, Chanyeol, Chen, Kyungsoo, Kai dan Tao adalah sunbae ku saat aku kelas 1. Yang terakhir adalah Sehun, yang sekarang menjadi teman seangkatanku.”

“Kau mengenal semuanya?”

“Tentu. Aku sering melihat mereka bersama. Hanya saja aku jarang melihat rupa Kyungsoo dan Sehun. Tapi kalau dilihat dari yang lain, mereka pasti juga sama tampannya. Yah… setidaknya tidak menyebalkan sepertimu.”

Kyungsoo hanya menyeringai. “Ah.. seperti itu.”

**

Kyungsoo menemani Jihyun menyetop taxi. Begitu mendapatkan taxi nya, Jihyun pun masuk.

“Ini daftar belanjaannya. Jangan lupa, sepulang sekolah.”

Jihyun menerima selembar kertas yang berisikan daftar bahan makanan yang harus dia beli. Dia membacanya saat mobil angkutan itu berjalan. Begitu berhenti di barisan terakhir, matanya tertarik pada seuntai kalimat di pojok kanan bawah kertas.

Do Kyungsoo

*

Eonni, eonni, sadarlah.”

Sara langsung menoleh ke asal suara. Matanya melotot galak pada adik kembarnya serta sahabat mereka. Sementara yang dipelototi asik terkikik, menertawakan semu merah yang tercetak jelas di pipi putih Sara.

Yaa, pipimu merah, Sara-ya,” ujar Jihyun sembari menunjuk pipi kanan Sara. Dia masih tidak bisa menyembunyikan tawanya saat teringat ekspresi Sara tadi yang seperti orang bodoh ketika pasukan EXO berjalan melewati mereka.

Sara berdecak tak suka. “Diamlah kalian berdua. Mau kusiram teh ini ke wajah kalian?”

Jihyun dan Haera kompak memasang tampang ketakutan, tapi tak lama kemudian mereka tertawa lagi. Mereka yakin Sara tidak akan melakukannya dan memang benar, Sara hanya berniat menakut-nakuti mereka.

Yaa!! apanya yang lucu?” keluh Sara kesal. Bibirnya mengerucut lucu seperti anak kecil yang ngambek karena tidak diberikan permen.

“Tentu saja ekspresimu, eonni. Sebegitu tampan kah Jongdae sunbae sampai-sampai rahangmu jatuh seperti itu?” Haera tertawa lagi setelah berhasil membuat pipi Sara makin memerah.

“Haera!!”

“Ah sudah-sudah. Perutku sakit,” ucap Jihyun sembari memegangi perutnya, yang sakit karena terus-terusan tertawa.

“Rasakan itu,” gumam Sara dengan wajah datarnya.

Haera dan Jihyun menyudahi tawa mereka. Lalu mulai menghabiskan minuman yang mereka pesan. Setelah tenggorokkan mereka sudah tidak kering lagi, mereka pun mulai berbicara kembali.

“Ngomong-ngomong tadi aku tidak melihat Chanyeol. Kemana Yoda-mu itu?” goda Jihyun pada Haera. Wajahnya mengulum senyum tipis, menandakan bahwa dia sangat menyukai acara menggoda kembar cantik itu.

Haera menggendikkan bahu malas. “Mana aku peduli. Dan lagi, dia bukan Yoda-ku. Berhenti menyebut elf itu dengan sebutan seperti itu.”

Jihyun terkikik senang. “Kalian memang serasi. Sayang sekali, kenapa kalian harus sama-sama keras kepala seperti itu?”

“Hei sudahlah! Kau benar-benar tidak puas kalau hanya menggoda eonni?”

Jihyun mengangguk cepat. “Kau benar. Aku tidak pernah puas kalau tidak menggoda kalian berdua.”

Sara dan Haera kompak menggeleng tak habis pikir.

“Itulah deritamu yang tidak punya hubungan apapun dengan EXO. lagipula, apa kau tidak bosan bersama Woohyun terus? Kurasa pria itu sudah sedikit menjaga jarak denganmu.”

Jihyun menggendikkan bahu tak peduli. “Itu kan hanya perasaan kalian. Aku tidak merasa begitu. Justru aku senang karena aku tidak harus menjadi korban kejahilan kalian, hahaha.”

Sara dan Haera sama-sama memutar bola mata.

“Tapi jujur, aku tidak suka dengan Woohyun-mu itu. Aneh saja begitu, bagaimana bisa dia yang sudah SMA menyukai kau yang saat itu masih kelas 4 SD. Masa kau sama sekali tidak merasa aneh dengannya?” ujar Haera dengan dahi berkerut.

Jihyun tersenyum tipis. “Sudahlah. Aku memang merasa aneh awalnya, tapi lama-kelamaan aku tidak heran lagi dengan keputusannya itu. Asalkan dia mencintaiku, itu sudah cukup.”

Haera masih menggeleng tidak setuju. “Jangan terlalu memercayai laki-laki, apalagi yang usianya jauh di atasmu.”

Wae? memang apa salahnya?” Sara menyeru tak suka, terlihat dari ekspresinya yang seperti bersiap perang dengan saudari kembarnya.

“Mereka menganggap gadis belia seperti kita ini bisa dikelabui dengan mudah. Kau lihat tingkah elf pengganggu itu? aku yakin dia sudah mengencani hampir setengah siswi angkatan kita. Mengobral kata-kata manis lalu setelah kita terjebak, dia dengan mudah mencampakkan kita. Pria seperti itu benar-benar harus dimusnahkan!”

Sara dan Jihyun tidak menanggapi. Tumben. Netra mereka terpaku pada sesuatu yang berdiri tegap di belakang Haera. Sulit sekali membaca ekspresi kedua gadis itu. Haera yang heran pun memutar kepalanya ke belakang.

DEG!

“C-c-chan..”

Pria setinggi hampir 2 meter menarik salah satu ujung bibirnya ke atas hingga membentuk seuntai seringai yang mengerikan namun masih terkesan tampan. “Aku haus.”

Haera yang semula ketakutan, kini mengganti ekspresinya menjadi keheranan. “Maksudnya?”

Tanpa banyak bicara, Chanyeol langsung merebut gelas yang ada di genggaman Haera. Dia menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Setelah itu ia letakkan ke atas meja hingga menimbulkan suara debum keras. Dalam sekejap wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.

Jihyun dan Sara sama-sama menahan napas mereka. Oh tidak, jarak itu terlalu dekat.

Haera berusaha mati-matian menahan kepalanya agar tidak jatuh ke depan atau ke belakang. Dia membalas tatapan tajam Chanyeol yang menghujam ke dalam matanya. Rasanya sangat mengintimidasi dan menakutkan tentu saja. Chanyeol sungguh berbahaya.

Beda lagi dengan pria tinggi semampai itu. Setelah puas menghujam retina Haera dengan tatapan tajamnya, dia beralih menatap bibir kemerahan Haera yang hanya beberapa senti darinya. Tiba-tiba bibirnya mengulum senyum. Tanpa aba-aba dia langsung menarik kembali tubuhnya.

“Terima kasih minumannya,” ujarnya sebelum berbalik dan beranjak.

Jihyun dan Sara menghela napas lega. Sedangkan Haera masih belum bisa kembali ke alam sadarnya.

“Haera, Haera,” panggil Jihyun sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Haera.

“Ah! pokoknya kalian harus berhati-hati terhadap elf itu. kalian lihat sendiri kan?” Haera meraih gelas minumannya, dia baru sadar kalau gelas itu kosong ketika dia tak menghasilkan apapun ketika menyedot isinya melalui sedotan. “Aish! Elf itu benar-benar.”

*

Sesuai perintah, sepulang sekolah Jihyun langsung pergi ke sebuah supermarket. Dia berjalan mengitari tiap stan sambil mendorong troli dan memegang selembar kertas yang berisi daftar bahan makanan. Nama-nama sayuran seperti kacang panjang, lobak, bawang bombai,dan paprika terdengar aneh di telinganya. Dia harus menajamkan penglihatannya agar dapat menemukan jenis sayur-sayuran itu.

Saat asik-asiknya menjelajah tiap stan, tiba-tiba saja gadis itu dikejutkan dengan benturan antar troli. Ironisnya insiden itu terjadi antara troli nya dengan troli milik seseorang. Baru saja ia akan meminta maaf, mendadak dirinya kaku.

“Oh? Jihyun-a.”

Mata itu, hidung itu, bibir itu, suara itu…

“Woohyun oppa…”

**

Jihyun menerima kaleng soda yang diulurkan Woohyun. Pria itu duduk di sebelahnya, membuka kaleng soda lalu meminumnya.

Semilir angin malam mengibarkan rambut hitam Woohyun. Menyapu poninya sehingga dahinya tampak sangat jelas. Mata yang tertuju lurus ke depan seolah mengisahkan berbagai kejadian dalam hidupnya.

Jihyun tak hentinya mengamati tiap titik wajah pria itu. Mengingat tiap lekuk yang ada dan mengenang tiap lini yang tampak. Semuanya masih sama. Bedanya, sekarang tatapan itu tak sehangat dulu.

“Berhenti melihatku seperti itu,” ucap Woohyun setelah mereka lama terdiam. Pria itu menoleh. Tatapannya yang dingin langsung menghujam ke retina Jihyun. Jenis tatapan yang sama seperti Chanyeol pada Haera.

Jihyun buru-buru mengalihkan pandangan. Dia membuka kaleng minumannya lalu meneguknya hingga mulutnya penuh dan sulit ditelan. Alhasil dia terbatuk.

Jahatnya, Woohyun hanya diam mengamati. Tak sedikit pun ada niatan membantu.

Jihyun memuntahkan cairan itu. Dia menyeka sekitar bibirnya yang basah dengan punggung tangan, ah ya, sekaligus menyeka bagian mata. Ya, dia menangis.

“Bagaimana rasanya?”

Jihyun memukul-mukul dada kirinya. Sakit sekali. Tersedak air memang lebih menyakitkan dari pada tersedak makanan. Dada kiri serasa sesak begitu pula dengan paru-paru.

Woohyun membuang pandangan ke depan. Dia meneguk minuman bersoda itu sampai habis. Lalu meremasnya, “remuk seperti kaleng malang ini.”

Pria itu mengayunkan lengannya hingga kaleng remuk di tangannya terlempar jauh entah kemana. “Dan dibuang setelah tidak berguna.”

Spontan Jihyun menoleh. “Aku tidak mencampakkanmu.”

Begitu pula Woohyun yang ikut menoleh. “Tapi kau melakukannya.”

“Itu bukan kemauanku.”

“Tapi kau tetap melakukannya.”

“Aku terpaksa!”

“Kau tetap melakukannya!!”

Jihyun pun terdiam, memandang Woohyun sendu. Sementara Woohyun sendiri sudah memerah wajahnya karena emosi.

“Kau tetap melakukannya, Jihyun-a..”

Belum sempat Jihyun buka mulut, Woohyun sudah bergegas pergi meninggalkannya. Meninggalkan gadis belia itu di sana, menangis di tengah kegelapan malam.

**

Teng Tong!

Kyungsoo melirik jam sebelum bergegas membukakan pintu. Sudah hampir tengah malam tapi Jihyun belum datang juga. Dengan agak kesal dia pun bergegas membukakan pintu.

CKLEK!

Bruk!

Untung dia bisa menangkap tubuh gadis itu dengan baik. Kantong belanja yang semula ditenteng Jihyun terjatuh ke lantai. Oleh Kyungsoo, kantung itu dia dorong ke dalam dengan kaki. Setelah itu mengangkat tubuh Jihyun dan menutup pintu.

“Kau ini hobi sekali minum,” gumam pria itu sembari membopong tubuh Jihyun ke kamar utama. Dia baringkan tubuh itu di ranjang lalu menyelimutinya. Setelah semuanya beres dia pun beranjak pergi.

Oppaoppa..

Kyungsoo tidak berhenti melangkah. Karena dia pikir seseorang yang dipanggil Jihyun bukanlah dirinya.

Oppa..Kyungsoo.. oppa..”

Reflek langkahnya terhenti. Untuk memastikan pendengarannya, dia pun menoleh.

Jihyun masih terpejam, tapi bibirnya terus menggumamkan kata yang sama dan kedua tangannya terulur ke atas. Mimpi buruk. Ya, setidaknya itu yang ada di pikiran Kyungsoo. Melihatnya sungguh tak tega. Pria itu dengan segenap keyakinannya segera kembali mendekat, menarik kursi lalu duduk di sebelah ranjang king size itu.

Dia meraih kedua tangan Jihyun kemudian meletakkannya di atas perut gadis itu. Diperhatikannya Jihyun yang sudah mandi keringat. Entah apa yang sedang dilihat Jihyun dalam mimpinya, tapi namanya terus saja disebut.

“Hei, bangunlah,” tangannya yang bebas ia gunakan untuk menepuk pipi Jihyun. Tidak butuh waktu lama, gadis itu langsung tersadar. Dilihatnya Kyungsoo dengan matanya yang memerah.

Hiks..

Kyungsoo terkejut saat ia mendapat serangan pelukan dari gadis itu. hampir saja tubuhnya limbung ke belakang kalau dia tidak memiliki keseimbangan tubuh yang baik. Gadis itu menenggelamkan wajah di bahunya, menangis sekeras-kerasnya sampai-sampai membuat bulu kuduk Kyungsoo meremang. Kyungsoo paling tidak bisa kalau dihadapkan pada persoalan seperti ini.

Gadis itu terus menangis tanpa berniat mengatakan apapun. Kyungsoo yang mengerti, juga memilih untuk bungkam. Setelah sekian lama diam, akhirnya pria itu meletakkan tangannya sekaligus mengusap punggung Jihyun.

Setelah cukup tenang, Jihyun pun melepas pelukannya. Di keremangan ruang itu, dia menatap netra Kyungsoo dengan salah satu ujung bibirnya tertarik ke atas. Kyungsoo yang melihatnya hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

Jihyun pun menunduk saat melihat tanggapan ekspresi dari Kyungsoo. Cukup kecewa karena Kyungsoo sama sekali tidak menampakkan ekspresi apapun. “Maaf..”

Bruk!

Gadis itu membelalak. Sekarang tubuhnya terbaring begitu saja berkat kedua tangan Kyungsoo yang mendorong bahunya. Pria itu menyelimutinya hingga sebatas bahu, kemudian bergegas pergi.

**

TBC

Iklan

7 comments

  1. Gue mau komen sebelum baca heol ini sudah malam dan gue mengantuk . . Rasanya ga enak lw ga berkicau di ff ini . . Sebenarnya gue mau nyimpan nie ff bru bzok gue baca . . Tapi gue mau berkicau dulu baru di simpan ga masalahkan . .
    Baca di bagian akhirnya kayaknya seru .. Sayang mata susah di ajak kompromi . . Mau di kalahkah mengantuk??
    Heol gitu aja . .ga masalah kan??

    Disukai oleh 1 orang

  2. hai author-nim… sorry aku gk tau harus panggil apa hehe
    aku akhirnya mencari2 blog pribadi kn demi cepet baca ff ini, jadi aku lanjutin baca ff ini disini ya ^^ astaga itu jihyun waktu jelasin anggota exo kok ya polos bgt ya, padahal dia nyebut nama kyungsoo tp blm sadar jg kalo kyungsoo exo ya calon suaminya.. btw si woohyun umur brp ya? kok katanya dia macarin juhyun yg masih SD?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s