Pure Love ^3^


Pure Love

Genre: Romance, general, family, friendship

Length: Chaptered

Rating: G

Cast: Do Kyungsoo, Lee Jihyun, other cameo

.

.

@ohnajla|chosangmi15

.

Nothing is impossibble for pure love

Mahatma Gandhi-

.

1 | 2

.

H-18 pernikahan mereka.

Telepon dari Tuan Lee pagi itu membuat suasana di apartemen ini menjadi agak gaduh. Bagaimana tidak? Konglomerat paling kaya di Seoul sekaligus ayahanda dari Jihyun itu akan datang berkunjung bersama beberapa orang lainnya. Kyungsoo meyakini orang-orang yang akan datang itu adalah pihak penyelenggara acara pernikahan, dengan kata lain hari ini ada diskusi terkait acara pernikahan mereka 18 hari yang akan datang.

“Ayah akan datang pukul 9?! Kau gila?! Kenapa tidak membangunkanku sejak tadi?!” omel Jihyun begitu Kyungsoo memberitahunya. Sekarang pukul 08.40 dan Jihyun baru saja bangun tidur, pakaian yang melekat di tubuhnya masih pakaian yang kemarin dan satu hal lagi, tubuhnya masih berbau alcohol.

“Kupikir kau bisa bangun sendiri,” balas Kyungsoo cuek. Pria itu sedang berkutat di dapur menyiapkan hidangan untuk calon mertua beserta beberapa tamu lainnya yang akan datang. Dia tampak fokus saat memotong wortel, sama sekali tidak melirik kekesalan Jihyun.

“Argh! Awas saja kau,” ancam Jihyun sebelum melesat kembali ke kamar.

Kyungsoo hanya angkat bahu tak peduli, dia memasukkan potongan wortel itu ke dalam panci yang sedang memanaskan adonan sup.

Waktu bergerak cukup cepat, tahu-tahu ada yang menekan bel apartemen mereka. Kyungsoo yang saat itu masih memakai apron, cepat-cepat melepaskannya kemudian berlari kecil menghampiri pintu.

Cklek

Pria itu langsung membungkuk sopan begitu melihat sosok calon mertuanya. “Selamat pagi, Tuan Lee.”

Tuan Lee, berusia masih 35 tahun itu tersenyum. “Pagi juga Kyungsoo-ya.”

“Silahkan masuk,” ujar Kyungsoo sembari menepi ke dinding untuk memberi jalan. Setelah semuanya masuk, ia pun menutup pintu.

“Dimana putriku?”

“Jihyun sedang mandi, maaf kami belum sempat membersihkan rumah,” jawab Kyungsoo sambil memunguti buku-buku yang masih berserakan di atas meja. Dia membawa buku-buku itu ke almari buku yang berdiri kokoh di antara kamarnya dengan kamar Jihyun.

Terdengar suara pintu kamar utama di buka, semua orang langsung memusatkan pandangan pada seorang gadis berpakaian semi formal yang muncul dari sana. Dia langsung membungkuk sopan kala menyadari kehadiran ayahnya.

“Selamat pagi, ayah.”

“Ya. duduklah di sini,” Tuan Lee menepuk tempat kosong di sebelahnya. Dia juga meminta Kyungsoo untuk duduk di sebelahnya.

“Baiklah, begini, kurang dari tiga minggu kalian akan melangsungkan pernikahan. Dan kalian pasti tahu kan kalau acara yang sakral itu perlu dipikirkan baik-baik. Jadi, aku memutuskan datang kemari bersama orang-orang ini. Mereka adalah penyelenggara acara pernikahan, fotografer, fashion desaigner, dan ahli perhiasan. Mereka kuajak kemari untuk berdiskusi dengan kalian terkait semua hal yang diperlukan dalam acara pernikahan ini. Pikirkan matang-matang dan ingatlah bahwa acara ini adalah acara pertama dan terakhir untuk kalian berdua.”

Kyungsoo dan Jihyun serentak mengangguk.

“Baiklah, kita mulai. Tuan Jeong, tolong perlihatkan pada mereka apa saja yang kau punya,” ucap Tuan Lee pada pria paruh baya bernama Tuan Jeong yang merupakan pemilik jasa penyelenggara acara pernikahan. Tuan Jeong mengeluarkan sebuah buku tebal yang Kyungsoo-Jihyun yakini sebagai catalog.

Semulanya hanya Jihyun yang asyik melihat foto-foto dekorasi yang ada di tiap lembar buku tebal itu. Tapi karena tidak begitu tertarik, dia menyerahkan buku tersebut pada Kyungsoo. Yang oleh Kyungsoo hanya dilihat sekilas saja, maklum sudah insting seorang pria yang tidak begitu menyukai hal seperti ini.

“Aku menurut padamu saja,” ujar Kyungsoo sembari menyerahkan buku tebal itu kembali ke pangkuan Jihyun. Mereka duduk bersisian jadi Kyungsoo bicara sambil berbisik.

Jihyun menghela napas. Dengan malas dia membuka lembar buku itu sembarang hingga berhenti di halaman ke 112. Mata sipitnya meneliti empat gambar yang terdapat di sana. Setelah mempertimbangkannya matang-matang, dengan mantap ia pun mengarahkan telunjuknya pada gambar ketiga.

“Bagaimana kalau ini?”

Kyungsoo melihat gambar itu sekilas, tanpa pikir panjang langsung dijawab dengan anggukan. “Boleh juga.”

Tanpa mereka sadari, Tuan Lee yang sejak tadi memperhatikan, tersenyum tipis melihat interaksi keduanya. Mungkin dalam pikirannya ia menganggap Jihyun dan Kyungsoo sudah ada kemajuan berarti. Padahal pria 35 tahun itu tak menyadari bahwa kedua insane itu hanya berpura-pura tampak romantic di hadapannya. Hanya saja kepura-puraan mereka tidak pernah direncanakan sebelumnya. Semua ini terjadi sangat alami.

Jihyun memperlihatkan gambar itu pada Tuan Lee. “Kami sepakat mengambil dekorasi ini, ayah.”

Tuan Lee memperhatikan gambar itu sebentar. “Ah, cukup bagus. Kita akan laksanakan di pantai Haeundae. Tuan Jeong, tolong persiapkan tema ini di pesisir pantai Haeundae.”

“Baik Tuan Lee,” ujar Tuan Jeong dengan sopan sembari menerima buku tebal itu dari tangan Jihyun.

“Tuan Min, sekarang giliran anda,” ujar Tuan Lee pada seorang fotografer yang mungkin usianya jauh lebih muda dari Tuan Lee.

“Baik, Tuan Lee. Nona Lee, Tuan muda Do, sekarang aku tidak bisa menunjukkanmu apa-apa. Bisakah kita lakukan interview saja?”

Antara Kyungsoo maupun Jihyun sama-sama mengangguk.

“Baiklah. Untuk pertama ini, saya ingin tahu, kira-kira dimana tempat yang sekiranya ingin anda berdua kunjungi? Anda berdua bisa menyebutkan nama pantai, nama tempat bermain, atau bahkan negara sekali pun. Sesuai selera anda berdua saja.”

Kyungsoo tak punya ide apapun, dia menoleh pada Jihyun yang sekiranya gadis itu mungkin ingin pergi ke suatu tempat. Tapi anehnya, Jihyun malah balas menatap.

Mereka terlibat acara saling tatap untuk waktu singkat. Lalu terputus begitu saja saat Kyungsoo menghela napas. “Aku terserah padamu.”

“Kau sungguh tidak keberatan?”

Kyungsoo hanya mengangguk. Dia menyandarkan tubuhnya pada bantalan sofa dengan mata masih tertuju pada iris cokelat terang di hadapannya. Tatapannya mengisyaratkan pada Jihyun untuk segera mengungkapkan pada si fotografer kemana ia ingin pergi.

“Baiklah,” Jihyun menelengkan kepalanya pada si fotografer yang masih setia menunggu jawaban dari mereka. “Selandia Baru.”

Mata bulat Kyungsoo terlihat melebar dari ukuran semula ketika mendengar tujuan yang diinginkan Jihyun. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Jihyun akan menyebut negara itu sebagai latar foto pre-wedding mereka. Hei, negara itu sangat jauh dari Korea Selatan dan bisa dibilang Kyungsoo tidak akan pernah menyangka kalau nantinya mereka berdua akan pergi ke sana sekadar untuk berfoto!

“Kau serius? Selandia Baru?” Kyungsoo nampaknya belum bisa mengontrol rasa terkejutnya, matanya masih terlihat dua kali lebih lebar dari ukuran semula.

“Tentu saja. Kau keberatan?” bertolak belakang dengan Kyungsoo, kedua netra Jihyun tampak memicing hingga kornea-nya hanya nampak sedikit.

Kyungsoo lekas menggeleng. “Aku hanya terkejut. Baguslah.”

Jihyun berdecak mendengar jawaban Kyungsoo. Gadis itu kembali mengarahkan pandangannya pada si fotografer. “Sepakat, Selandia Baru.”

“Baik, Selandia Baru. Lalu bagaimana dengan suasananya? Bersalju? Pagi hari? Sore hari atau saat hujan?”

Kyungsoo tersentak ketika Jihyun menyikut lengannya. Dia menoleh dengan sedikit kesal. “Apa?”

“Sekarang giliranmu, aku tidak punya ide sama sekali.”

“Baiklah. Saat hujan.”

Sekarang giliran Jihyun yang membelalak. “Apa?! Kau pikir ini pemotretan untuk majalah? Yaa! dimana-mana pemotretan pre-wedding itu tentu yang romantic. Pemotretan sambil hujan-hujanan apa bagusnya?! Pokoknya aku tidak setuju!”

Kyungsoo menggendikkan bahu acuh. “Kan kau sendiri yang memintaku menjawabnya. Harusnya kau tidak keberatan.”

“Iya, tapi itu sangat keterlaluan. Aku sangat benci hujan, kau tahu?!”

Kyungsoo spontan menggerakkan bola mata untuk memandangnya. “Mana kutahu, kenapa tidak bilang sejak tadi?”

Jihyun menghela napas. “Kau kan tidak bertanya.”

“Ya sudah, saat sore hari saja kalau begitu.”

“Saat sore hari?” ulang si fotografer untuk memastikan jawaban dari mulut Jihyun. Gadis belia itu hanya mengangguk singkat.

“Lalu untuk pertanyaan terakhir, pemotretan diambil saat anda berdua memakai pakaian pengantin atau pakaian casual?”

“Casual!” jawab kedua insane itu bersamaan, nyaris dengan gesture tubuh yang mirip. Keduanya saling menatap satu sama lain, terheran-heran kenapa bisa reflek seperti itu.

“Ah baiklah. jadi pemotretan ini diadakan di Selandia Baru, saat sore hari dan memakai pakaian casual. Final?”

Kyungsoo dan Jihyun yang sudah saling mengalihkan pandangan pun mengangguk mantap.

“Baiklah. Tuan Lee, saya sudah selesai.”

Tuan Lee hanya mengangguk, ia memperhatikan sejoli muda di sampingnya dengan senyum merekah. “Baiklah, sekarang Nyonya Jung.”

Seorang desainer cantik tanpa mengucapkan kata perkenalan langsung saja menyerahkan buku sketsanya ke hadapan dua sejoli itu. “Kemarin malam, aku membuatkan beberapa rancangan untuk setelan pernikahan kalian. Silahkan dipilih mana yang cocok.”

Jihyun dengan mata penuh minat langsung meraih buku sketsa itu. beberapa detik kemudian dia sudah tenggelam dalam beberapa gambar yang tergores di sana. Sesekali matanya melebar, menggambarkan betapa takjubnya dia pada hasil rancangan seorang desainer kelas dunia.

“Bagaimana nona?” tanya Nyonya Jung sedikit kurang sabaran.

Jihyun tersentak dari keasyikannya. Dia pun berdehem lalu mencondongkan tubuhnya sedikit kepada Kyungsoo. “Menurutmu bagaimana?”

Kyungsoo yang hampir ketiduran langsung terjaga. Dia mengamati sketsa yang sedang ditunjuk Jihyun. Tidak ada perubahan berarti dari wajahnya. Dia hanya mengangguk, “boleh.”

“Baiklah, kami pilih ini,” ujar gadis itu seraya mengembalikan buku sketsa tersebut.

Dan yang terakhir adalah perhiasan. Untuk masalah satu ini sepertinya mereka berdua sama sekali tidak tertarik. Jihyun tidak begitu tertarik dengan perhiasan apalagi Kyungsoo. Mereka hanya asal memilih tanpa mengindahkan ucapan tuan Song yang menyarankan agar mereka mendesain perhiasan pernikahan sendiri.

Setelah semua itu selesai, Kyungsoo mempersilakan para tamu termasuk Tuan Lee untuk menyantap makanan yang telah dia siapkan. Semuanya telah berkumpul di meja makan, menikmati masakan seorang chef Do.

“Aku yakin ini bukan masakan Jihyun. Bakat memasakmu memang tidak main-main, Kyungsoo-ya.”

Jihyun hanya tersenyum kecut mendengarnya. Yah walau ucapan ayahnya benar juga tapi imbasnya dia jadi merasa malu pada para tamu. Bisakah ayahnya memuji Kyungsoo nanti saja?

“Terima kasih,” ucap Kyungsoo sopan. Dia tersenyum tipis sekadar bentuk formal saja.

Tepat 30 menit menjelang tengah hari, para tamu termasuk Tuan Lee pamit pulang. Jihyun dan Kyungsoo hanya mengantar mereka sampai lift. Setelah itu para tamu sudah lenyap dari pandangan mereka, keduanya pun bergegas kembali ke tempat tinggal.

Jihyun langsung membanting diri di sofa ruang televise. Dia nyalakan benda kubus itu lalu menekan tombol-tombol di remote untuk mendapatkan channel yang menurutnya menarik. Tapi baginya semua channel sama, tak ada yang menarik perhatiannya.

Trang!

Reflek kepalanya menoleh ke asal suara.

Tidak terjadi apapun.

Hanya punggung seorang pria yang sedang asyik berkutat di depan pencucian piring sembari mengenakan sebuah apron. Sedang apa lagi pria itu kalau bukan mencuci piring. Ya.. meskipun Jihyun tidak pernah sekalipun melakukan pekerjaan seperti itu tapi setidaknya dia tahu istilah ‘mencuci piring’.

Tanpa sadar matanya terus mengamati gerak-gerik pemuda itu. Entah dia sadar atau tidak, dia tersenyum simpul.

Sementara Kyungsoo yang sudah selesai, langsung melepaskan apron itu dan bersiap untuk pergi ke kamar. Rencananya dia ingin segera belajar di kamarnya. Namun saat berbalik, dia terdiam dengan netra terpaku pada sosok gadis yang tak jauh dari hadapannya.

Mereka saling pandang.

.

.

Kyungsoo langsung berpaling. Dia bergegas cepat memasuki kamarnya, menutup pintu dengan sedikit bantingan.

Jihyun sendiri entah kenapa merasa tubuhnya meremang. Dia merasa seperti… kecewa. Cara Kyungsoo memutuskan kontak matanya dengannya… itu sangat menyakitinya.

Gadis itu hanya bisa menghela napas sembari tertunduk. Ia perhatikan tangannya yang sedang menggenggam remote kuat-kuat.

**

Suara ribut-ribut dari dapur membuat Kyungsoo terpaksa keluar dari area nyamannya. Dia menanggalkan kacamatanya dulu sebelum bergegas keluar dari kamar. Dilihatnya seorang gadis baru saja terlonjak ke belakang begitu menyalakan kompor. Melihat api yang begitu besar, Kyungsoo dengan kecepatan tidak normal langsung menghampirinya dan mematikan kompor itu kembali. Napasnya terengah-engah, begitu menoleh ke kiri dia langsung memberikan tatapan tajamnya pada gadis yang sedang menatapnya itu.

“Kau berniat membakar gedung ini?!”

Jihyun yang semula ketakutan karena api dari kompor itu, sekarang bertambah karena nada suara pria di hadapannya. Sudah kubilang sejak awal, dia adalah Lee Jihyun, gadis yang selalu mendapatkan apa yang ia mau. Dibentak seperti ini bukanlah hidupnya, sebut saja ini adalah pertama kalinya dia diperlakukan begini. Berlebihan memang, tapi ini kenyataan. Pria di hadapannya sekarang benar-benar mengerikan, jauh lebih mengerikan dari makhluk penghisap darah. Putri konglomerat itu hanya bisa terpaku dengan kaki bergetar hebat. Dia yang biasanya cerewet sekarang tidak bisa melakukan apapun.

Kyungsoo memperhatikan sekelilingnya. Buruk. Seperti baru saja terjadi perang dunia. Pandangannya kembali teralihkan pada gadis belia itu. Dari bawah sampai atas, semuanya penuh dengan noda, entah itu percikan kuning telur, tepung bahkan saus. Pria itu menggeleng pelan, tak habis pikir.

Krucuk.

Netra Kyungsoo spontan melebar. Tampak di matanya bahwa Jihyun reflek memegangi perut.

“Lapar?” tanyanya to the point.

Jihyun mengangguk samar.

Kyungsoo menghela napas. Sungguh, gadis itu benar-benar menghancurkan harinya. “Baiklah, akan kumasakkan sesuatu. Duduk.”

Jihyun menaati perintah Kyungsoo tanpa banyak bicara. Dia memilih duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan usai melepas apronnya. Mulai tercium bau amis kuning telur dari tubuhnya, dia bergidik ngeri begitu melihat noda yang memenuhi apron tersebut.

Sementara Kyungsoo mulai memasak. Dia memasak makanan yang sederhana dalam artian sesuai kesediaan bahan saja. Tidak butuh waktu yang lama sebenarnya. Sepuluh menit kemudian seporsi makanan sudah dia hidangkan di depan mata Jihyun.

“Lain kali kalau kau lapar, pesan saja pizza. Jangan sekali-kali menghidupkan kompor saat aku tidak ada di sini,” peringat pria itu sebelum bergegas membersihkan kekacauan yang dibuat Jihyun di dapur.

Jihyun hanya mengangguk patuh. Dia mulai menyantap masakan Kyungsoo sementara Kyungsoo sendiri sibuk di dapur.

Setelah urusan dapur selesai, Kyungsoo kembali ke kamar. Sepertinya dia malas berlama-lama menghirup udara yang sama dari ruang yang sama pula dengan Jihyun. Entahlah kenapa, yang pasti Kyungsoo sangat tidak betah berada di dekatnya.

TBC

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s