Pure Love ^2^


Pure Love

Genre: Romance, general, family, friendship

Length: Chaptered

Rating: G

Cast: Do Kyungsoo, Lee Jihyun, other cameo

.

.

@ohnajla|chosangmi15

.

Nothing is impossibble for pure love

Mahatma Gandhi-

.

H-19 hari pernikahannya.

Pagi-pagi sekali Kyungsoo sudah bangun. Dia berinisiatif menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Bahan-bahan yang ada di kulkas dia sulap menjadi menu sarapan yang lezat dan bergizi. Memasak adalah hal termudah baginya, tidak hanya masakan Korea, masakan China, Jepang, Italia bahkan Timur Tengah dia jagonya. Andaikata ada seorang produser yang mengetahui bakatnya itu, tidak mustahil untuknya tampil di televise khususnya dalam acara memasak.

Dua porsi sarapan telah terhidang di meja makan. Kyungsoo pun membersihkan dapur. Tak lama kemudian ponselnya bergetar, dia meraihnya dari dalam saku.

Fr: Lu Han hyung

Nanti datanglah ke rumah EXO, aku dan Kris ingin mengucapkan salam perpisahan pada kalian sebelum berangkat ke Amerika.

Kyungsoo pun mengetikkan balasannya.

To: Lu Han hyung

Arraseo.

Dia mengantongi ponselnya lagi.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki. Dia menoleh untuk melihat siapa yang datang. Tatapannya bertabrakan dengan tatapan Jihyun yang masih memakai dress hitam ketat semalam.

“Kau sudah bangun? Butuh kubuatkan gingseng hangat?” tanyanya basa-basi. Pandangannya sudah teralih dari gadis itu.

Jihyun duduk di salah satu kursi berhadapan dengan sepiring makanannya. “Tidak perlu.”

Setelah semuanya beres, Kyungsoo bergegas ke meja makan untuk bergabung sarapan dengan gadis itu.

“Setelah ini aku harus pergi,” ucap pria itu sedetik sebelum melahap suapan pertamanya. Pandangannya fokus pada piringnya, tak sedikit pun berniat memandang Jihyun.

Jihyun tak merespon. Dia memang mendengar hanya saja malas menanggapi, lagipula bukan urusannya kalau Kyungsoo pergi. Bertunangan saja belum, apalagi menikah.

Begitu makanan di piringnya habis, Kyungsoo membawanya ke tempat pencucian piring. Dia mencucinya, lalu menempatkannya di rak piring. Setelahnya dia memutuskan untuk segera bersiap pergi ke rumah EXO.

**

Terbiasa pergi ke sekolah bersama mobil, Jihyun tampak kesulitan beradaptasi saat berada di dalam bus. Apalagi suasana bus yang penuh sesak dan dia tidak mendapatkan kursi kosong satu pun. Dia terpaksa berada di tengah kerumunan itu, tepat bersebelahan dengan Kyungsoo.

“Kau sengaja?”

Dahi Kyungsoo berkerut bingung. “Sengaja kenapa?”

“Jangan pura-pura tidak mengerti, aku tahu kau pasti sengaja mengajakku naik bis ini agar aku tersiksa, ya kan?”

Kyungsoo masih memandangnya tak mengerti. “Tidak, untuk apa aku melakukannya?”

“Aku tidak mau tahu, yang pasti besok kau sudah harus bicara pada ayahku untuk membiarkanku pergi ke sekolah dengan mobil lagi.”

Kyungsoo masih merasa aneh. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Jihyun menuduhnya. Padahal dia sama sekali tidak mengajak Jihyun untuk naik bus ini. Yang ada malah Jihyun sendiri yang mengikutinya masuk. Obrolan pertama mereka ini sangat diluar dugaannya.

“Kenapa harus aku? kau kan bisa memintanya sendiri?” sewot Kyungsoo sembari memalingkan pandangan. Lama-lama kesal juga mendengar rengekan manja dari bibir gadis itu. Dia pikir Kyungsoo ini apa? Suruhannya? Enak saja. Kalau bukan karena ibunya, Kyungsoo tidak akan mau menerima perjodohan ini. Secantik apapun Lee Jihyun, kalau kelakuannya masih seperti anak kecil dan sifatnya tak jauh beda seperti seorang dictator, pria seperti Kyungsoo atau siapapun itu pasti tidak akan mau bersanding dengannya. Menikah itu untuk memulai hidup baru menuju masa depan, tidak seperti hubungan pacaran yang hanya sekadar mengenal satu sama lain tanpa ada kepastian di akhir.

Bus berhenti di sebuah halte yang berada tak jauh dari rumah EXO, tanpa pikir panjang Kyungsoo langsung turun.

“Eh? Yaa! Tunggu aku!” Jihyun yang panic melihat Kyungsoo turun, lekas mengejarnya. Teriakannya itu tak membuat Kyungsoo berhenti. Begitu turun dari bus pria itu langsung ambil langkah lebar-lebar menuju rumah EXO.

Yaa! yaa! kau!”

Kyungsoo reflek berhenti, begitu menoleh dia dikejutkan dengan Jihyun yang tiba-tiba menabrak tubuhnya karena terlambat memberi sinyal ke otak untuk berhenti. Tubuh Jihyun yang hampir limbung langsung ditangkap baik oleh Kyungsoo.

“Kau baik-baik saja?” tanya pria itu khawatir.

“Kalau mau berhenti itu bilang! Aish! Sakit sekali,” ucap Jihyun sambil mengusap dahinya. Saat menyadari kedua tangan Kyungsoo masih mencengkram bahunya, dia spontan menepis kedua tangan itu.

Kyungsoo menurunkan tangannya perlahan. Dia perhatikan gadis di hadapannya yang masih asik mengomel. “Mau menuduhku lagi? Kau yang mengikutiku masuk ke dalam bus dan kau juga yang mengikutiku keluar dari bus. Kau yang melakukannya sendiri, bukan aku.”

Jihyun berdecak. “Baiklah, baiklah. Sekarang bagaimana nasibku? Aku sama sekali tidak tahu di mana ini? dan sekarang… OMO! 10 menit lagi bel masuk!! ah eotteohke? Yaa! kau harus mengantarku ke sekolah apapun yang terjadi!”

Kedua ujung alis Kyungsoo hampir menyatu. Matanya menyorot tajam pada gadis yang terus bergerak seperti cacing kepanasan ini. Lagi-lagi! Ya, lagi-lagi harus dia.

“Kau ini benar-benar,” dengus pria itu, “berdiri di sini, lambaikan tanganmu saat ada taxi lewat. Semoga berhasil.”

Tanpa banyak bicara lagi Kyungsoo lekas melanjutkan perjalanannya menuju rumah EXO. Harus cepat, sebelum Jihyun mengejarnya lagi.

“Hei! Kau mau kemana?! Yaa! kau tega membiarkanku di sini sendirian? Hei kau! Si mata bulat!!”

Tanpa sengaja netra gadis itu menemukan seekor anjing berjenis German Shepherd yang terus memperhatikannya dari balik pagar sebuah rumah yang letaknya berseberangan dari halte ini. Anjing itu memang memakai rantai di lehernya, tapi karena tatapan yang seperti itu, tak ayal kaki Jihyun bergetar hebat. Hati-hati dia memalingkan wajah, memperhatikan punggung Kyungsoo yang masih terlihat di pandangannya.

Yaa! tunggu aku…

Guk!

“KYAAAAAAAAAAAAAAA!!!! Eomma!! Appa!!”

Guk guk guk!

Jihyun berlari sekencang-kencangnya mendekati Kyungsoo yang terus melangkah menjauh. Berulang kali dia meneriaki kata eomma appa. Begitu sudah dekat dengan Kyungsoo, gadis itu memperlambat kecepatan larinya lalu menarik lengan pria itu. Spontan Kyungsoo berhenti dan menoleh.

“Hhh.. hhh… tunggu aku, jebal.”

Kyungsoo menatapnya heran. Entah kenapa dia tidak merasa simpatik sedikitpun. Mungkin karena kekesalannya yang sudah memuncak sehingga hati nuraninya tertutup begitu saja. “Apa lagi, huh? Aku ada kepentingan sekarang, aku tidak bisa mengantarmu ke sekolah.”

Jihyun menggeleng pelan sambil berusaha mengatur napasnya. “Aniya… aniya. Aku tidak jadi sekolah, aku akan ikut denganmu?”

Kyungsoo membelalak tak suka. “Siapa yang mengijinkanmu ikut denganku?” pria itu menepis tangan Jihyun, “pulang saja kalau tidak mau pergi ke sekolah.”

Pria itu langsung pergi tanpa memikirkan Jihyun yang kini sedang tertegun. Apa tadi barusan? Dia ditolak? Hello?! Dia ditolak? Oh ya ampun, pemandangan yang sungguh langka. Selama ini tidak ada satu orang pun yang bisa menolak keinginannya, sekali lagi kukatakan, NOTHING! Apapun yang Jihyun minta selalu terpenuhi, tidak peduli apakah itu baik atau buruk bagi gadis itu. Tapi sekarang… Kyungsoo dengan blak-blakan menolaknya, bahkan lebih kejamnya lagi mengusirnya! Hei! Dia itu Lee Ji Hyun. Haruskah dia menjelaskan pada pria itu bahwa dia adalah Lee Jihyun, gadis yang bisa mendapatkan semua yang ia mau?

“Kau pikir aku akan berhenti sampai di sini? ck, kau hanya belum mengenalku,” gumamnya sebelum mengambil langkah lebar-lebar mengikuti pria itu. Dia membuat jarak yang cukup jauh agar Kyungsoo tidak sadar kalau sedang diikuti.

Di saat pria itu berbelok, Jihyun pun mempercepat langkahnya agar tidak kehilangan jejak. Akan tetapi dugaannya benar, dia kehilangan jejak pria itu. Belokan barusan adalah jalan buntu dan punggung Kyungsoo sama sekali tak tampak. Apa iya dia mengambil jalan yang salah?

“Aku yakin tadi dia berbelok ke sini, tapi… kemana dia sekarang?”

Mendadak dia merasakan hembusan hangat yang menerpa kulit lehernya. Seketika itulah tubuhnya menegang. Dugaan-dugaan mulai terbesit di pikirannya. Jangan-jangan ini jebakan… jangan-jangan…

Begitu dia menoleh…

Yaa!”

“Kyaaaa!” tubuh Jihyun tersentak, reflek dia menempelkan punggungnya ke dinding.

Kyungsoo mendekat hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. Matanya yang bulat itu menyorot tajam menuju lingkar pupil Jihyun. “Kau sungguh keras kepala. Sekali tidak, tetap tidak. Maumu apa sebenarnya?”

Suasana yang pengap dan gelap ini makin mencekam begitu ditambah dengan tatapan Kyungsoo. Mengerikan. Sungguh. Lagi-lagi ini pertama kalinya Jihyun diperlakukan seperti ini. Kakinya bergetar hebat. Tatapan itu seolah bisa mematikan sel-sel syaraf-nya.

“A-aku ingin ikut denganmu.”

“Tidak bisa,” balas Kyungsoo cepat dan penuh penekanan.

“A-aku tidak tahu jalan pulang. Sudah kubilang kan, kalau.. kalau tempat ini asing bagiku. Kau tega membiarkanku sendirian di sini?”

Kyungsoo memiringkan kepalanya ke kiri, namun tetap tatapannya masih begitu tajam.

“Kau bisa keluar malam sendirian kenapa meninggalkanmu sendirian di sini tidak bisa? Memang kau siapa? Kau bukan seorang ratu, kau hanyalah siswa. Aku sudah membantumu cara menghentikan taxi, sebut saja nama apartemennya dan taxi itu akan mengantarmu ke sana. Apakah kau sengaja melakukan ini?”

Jihyun hanya mengerjap-ngerjap bingung. Kata-kata barusan butuh melalui banyak proses penyederhanaan agar dapat dia pahami dengan lebih simple.

“Baiklah, anggap ini yang terakhir kalinya. Aku akan menemanimu sampai mendapat taxi. Hanya ada dua pilihan untukmu, pulang ke apartemen atau pergi sekolah. Aku tidak bertanggung jawab kalau kau tersesat di tempat selain apartemen dan sekolah.”

Seolah terhipnotis, Jihyun mengangguk saja.

“Bagus, sekarang ikut aku.”

Mereka pun keluar dari gang buntu itu, berdiri di pinggir jalan menunggu taxi lewat. Begitu datang, Kyungsoo segera menghentikannya lalu menyuruh Jihyun masuk.

“Tolong antarkan gadis ini ke apartemen wilayah Gangnam.”

Setelah disanggupi oleh si sopir taxi, mobil itu pun melaju meninggalkannya. Akhirnya, si pengganggu pergi juga.

Kyungsoo pun melanjutkan perjalanan menuju rumah EXO yang hanya berjarak 5 rumah lagi dari tempatnya berdiri.

**

Berguling-guling di kamar ternyata membosankan. Sendirian, tanpa melakukan apapun. Waktu juga serasa bergerak lambat. Terasa sudah lama tapi ternyata masih lima menit. Ugh… Jihyun benci situasi seperti ini.

Akhirnya dia memutuskan untuk membuka akun SNS. Awalnya sih hanya ingin melihat-lihat timeline-nya, tapi berkat nama sebuah akun niatnya beralih dengan cepat.

woohyun.nam | 10 detik yang lalu

Semakin kau kudekati, kau semakin jauh. #nabi

Tanpa sadar telunjuk Jihyun menekan nama akun itu.

*

*

“Jihyun-a, ayo berfoto.”

“Ayo!”

Woohyun mengangkat ponselnya tinggi-tinggi sementara tangannya yang lain merangkul bahu Jihyun. “Senyum ya, satu.. dua… ti…ga!”

CKREK!

“Wah.. hasilnya bagus. Akan kupasang gambar ini sebagai foto profilku.”

Jihyun hanya mengangguk, dia mengamati bagaimana Woohyun menerapkan foto barusan sebagai foto profil akun SNS nya.

“Gambar ini tidak akan kuganti,” ucap Woohyun sembari tersenyum yang dibalas serupa oleh Jihyun.

*

*

Senyum getir tercetak jelas di wajah Jihyun. “Kau mengganti fotonya.”

Jarinya pun menggeser layar ke atas, ada banyak sekali status yang terpasang di sana. Yang seperti ini seperti bukan Woohyun biasanya. Woohyun jarang bahkan tidak pernah memosting apapun di akun SNS nya, kalaupun ada postingan, itu yang membuat bukan Woohyun sendiri tapi Jihyun. Dan sekarang semua postingan Woohyun berisi tentang perasaan hatinya yang sedih, tersakiti dan terluka. Dan lagi, foto profilnya telah diganti dengan gambar kupu-kupu.

woohyun.nam |1 hari yang lalu

Aku tidak bisa menjangkaumu karena kau terlalu tinggi #nabi

 

woohyun.nam | 2 hari yang lalu

Meski menyakitkan, aku tetap harus merelakanmu pergi #nabi

 

woohyun.nam |3 hari yang lalu

Terima kasih untuk segalanya. Sekarang terbanglah setinggi mungkin J

 

Jihyun mengucek matanya yang memerah. Dia lekas menutup SNS nya kemudian memasukkan ponselnya ke dalam laci nakas. Sebelum dia menutup laci itu kembali, tak sengaja netranya menemukan sesuatu yang ada di sana. Obat antidepresan yang pernah dia beli tiga hari lalu saat hari putus hubungannya dengan Woohyun. Diraihnya obat itu, terasa berat karena masih banyak isinya. Sekilas dia membaca tulisan yang tertera di badan botol itu.

Sesuai resep dokter.

Tanpa pikir panjang dia langsung mengeluarkan 5 pil dari dalamnya dan melahapnya mentah-mentah. Setelahnya dia mengembalikan botol itu di laci, kemudian memutuskan untuk tidur.

**

Kyungsoo tiba di apartemen sekitar pukul 8 malam. Baru saja masuk, dia sudah mendapati Jihyun yang bersiap keluar. Dia tidak perlu bertanya, dandanannya yang hampir sama seperti kemarin adalah alasan kenapa dia harus melakukan itu.

“Oh, kau mau keluar? Baguslah, jangan pulang dalam keadaan memalukan,” ucapnya sebelum masuk ke kamarnya. Ucapannya ini membuat kerutan terbentuk di dahi Jihyun.

“Memang kemarin aku begitu ya?” gumamnya. Dia memakai coat nya, kemudian melenggang pergi menuju pub langganannya.

Sesampai di sana, tidak biasanya pub itu sepi. Tapi bagi Jihyun itu bukan masalah. Justru dalam keadaan sepi seperti ini dia bisa leluasa minum dan menari.

“Key, tolong berikan aku Vodka,” ujarnya sembari duduk di sebuah kursi yang menghadap meja bar. Sembari menunggu bartender itu menyiapkan pesanannya, dia mengamati sekitar. Kebanyakan yang datang hari ini hanya sekadar duduk-duduk sambil bercengkrama ditemani sebotol wine. Tidak ada siapapun yang menari akan tetapi music remix tetap diputar menemani lampu disko yang terus berputar.

Suasana seperti ini cukup menyenangkan untuknya. Dia tak perlu khawatir pada para lelaki hidung belang yang selalu mengambil kesempatan untuk menyentuhnya.

“Ini minumanmu,” ujar Key, seorang bartender berusia 25 tahun yang menyodorkan segelas vodka ke hadapan Jihyun.

“Um, terima kasih,” balas gadis itu sebelum mulai meneguknya.

“Aku tidak menyangka kau tetap bersikeras datang kemari.”

Jihyun meletakkan gelas setengah kosong itu ke atas meja kembali. Dia memandang Key dengan ekspresi datar andalannya. “Kan sudah kubilang, tidak akan ada seorang pun yang melarangku. Aku ini Lee Jihyun, kau ingat?”

Key mengangguk malas. “Ya aku ingat itu, tuan putri. Aku hanya berpikir kalau seseorang yang ada di apartemenmu melarangmu untuk datang ke sini lagi.”

Gadis itu tersentak, dia memandang Key dengan mata membola. “Siapa katamu?”

“Seseorang yang ada di apartemenmu. Aku bertemu dengannya kemarin saat mengantarmu pulang. Dia pacar barumu?”

Jihyun tampak memucat. Tangannya melambai mengisyaratkan kata ‘bukan’. “Jadi itu maksud ucapannya.”

Gumaman Jihyun membuat dahi Key berkerut, “apa?”

Jihyun lantas menggeleng. “Tidak, lupakan saja. Dia bukan siapa-siapaku sungguh. Kau pikir aku akan dengan mudah melupakan Woohyun Oppa?

“Ya, aku juga berpikir kau tidak akan bisa melupakan sahabatku yang satu itu. tapi, kalau dia bukan siapa-siapamu kenapa dia tinggal di apartemen yang sama denganmu?” Key masih sangat penasaran sampai-sampai dia tidak peduli dengan ekspresi kesal Jihyun. Dia adalah sahabat Woohyun sejak kecil, tahu asal muasal dan perjalanan cinta Woohyun-Jihyun. Pertemuannya dengan Kyungsoo kemarin membuatnya penasaran, sebenarnya ada hubungan apakah antara Jihyun dengan Kyungsoo?

“Ck, kau tidak akan mengerti. Kau tahu kenapa hubungan kami kandas? Pria yang kau temui itulah yang membuat hubunganku dengan Woohyun oppa berakhir. Sudahlah, jangan bahas dia lagi. Aku kesini untuk menghindari mata bulatnya.”

Key terdiam. Sebenarnya masih banyak yang ingin ia tanyakan pada Jihyun, namun mengingat emosi Jihyun yang cepat panasnya, Key pun memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

“Sekarang beri aku Wiski,” pinta Jihyun usai menghabiskan vodkanya.

Sambil geleng-geleng Key pun memenuhi permintaan gadis itu. “Sekalian saja semua jenis minuman kau beli.”

Jihyun tak menghiraukan ucapan itu. Matanya menerawang ke permukaan meja memikirkan semua yang telah terjadi pada hidupnya.

**

Kyungsoo sedang asyik menonton pertandingan sepak bola saat pintu depan tiba-tiba dibuka. Dia menoleh sekilas untuk memastikan, lalu kembali berfokus pada acara televisi itu.

Jihyun berjalan gontai memasuki apartemen. Dia melepas dan mengganti sepatunya dengan sandal rumah lalu menyeret kakinya menuju tempat Kyungsoo berada.

“Aku pulang!!” pekiknya dengan sedikit kesadaran. Sambil menggaruk rambutnya dia mengagetkan Kyungsoo karena menghempaskan tubuh di sebelah pria itu.

Kyungsoo yang kesal pun memilih bergeser. Dia benci akan bau-bau alkohol yang menyengat hidungnya. “Pergilah ke kamarmu. Bau mulutmu sangat mengganggu.”

Jihyun menoleh, tiba-tiba tertawa begitu saja. Dia memukul-mukul lengan Kyungsoo dengan sedikit kesadarannya. Hal itu jelas membuat Kyungsoo makin jengkel. Namun Kyungsoo tak melakukan apapun, dia hanya diam menahan amarah sambil memperhatikan rupa kusut gadis belia itu.

“Dasar kau ini, hahahaha. Kau jahat sekali, jahat! Jahat! Jahat! Aku benci dirimu! Kau menggunakan sihir apa pada ayahku, huh? Bertahun-tahun aku berusaha meyakinkan ayah bahwa Woohyun oppa adalah yang terbaik, tapi kenapa justru orang baru sepertimu yang bisa mengambil hatinya? Apa bagusnya dirimu, huh? Ya, aku akui kau tampan. Tapi kau tidak lebih tampan dari Woohyun oppa. Aku benci melihat mata bulatmu, aku juga benci melihat bentuk bibirmu yang menggoda itu. Aku benci semuanya! Aku benci dirimu!”

Kyungsoo menarik kepalanya sedikit ke belakang saat Jihyun tiba-tiba menodongkan telunjuk tepat di depan matanya. Dahinya berkerut sangat dalam sampai membentuk tiga lipatan samar. Sudah pulang mabuk, tertawa-tawa sendiri, memukulinya tanpa sebab, sekarang mengomelinya. Mau gadis itu apa sih? Kyungsoo benar-benar tak habis pikir.

“Hiks… kau tahu bagaimana sakitnya hatiku saat dipaksa memutus hubungan dengan Woohyun? Sakit sekali, benar-benar menyakitkan. Aku lebih memilih menderita kanker dari pada harus merasakan sakit itu. Aku mencoba untuk meyakinkan ayah sekali lagi, tapi ayah lagi-lagi menolak. Seketika itu juga aku harus memutuskannya di hadapan ayah, aku harus melihat dia menahan kesedihannya! Hiks… kenapa? Kenapa harus seperti ini?! apa salahku…”

Kyungsoo tetap tak berkutik ketika Jihyun jatuh pingsan dengan kepala menimpa pahanya. Pria itu tetap memperhatikannya, mengamati cairan sebening Kristal yang masih merembes melalui kelopak mata Jihyun yang kini terpejam. Tak ada lagi suara isakan, yang ada hanyalah deru napas yang begitu teratur. Wajah damai gadis itu membuatnya enggan untuk membangunkannya. Atau lebih baik memang jangan dibangunkan jika tak ingin menyiksa telinganya sendiri mendengar ocehan dan jeritan gadis itu.

“Sudah? Baiklah, sekarang waktumu istirahat,” gumam pria itu sebelum mengangkat tubuh Jihyun dan membawanya ke kamar utama. Seperti kemarin malam, dia merebahkan tubuh langsing itu ke tempat tidur di tengah ruangan. Menyelimutinya sebatas bahu, lalu menyalakan lampu tidur dan memadamkan lampu utama. Sebelum pergi dia melihatnya untuk sekali lagi, setelah puas, ia pun melangkah keluar.

**

Iklan

6 comments

  1. Yuhu eonni akhirnya di post kelanjutannya si mata beln hehehe… Jihyun di sini jadi bad girl ya,? Dan aku suka sama ini soalnya gak banyak yg bikin ff dgn main cast si kyungsoo..

    Disukai oleh 1 orang

  2. Haiiii… aku reader skf..
    Aku suka kyungsoo disini karena dy nggak lmah dg jihyun.. dan keras dg jihyun.. sifat jihyun mmng harus dirbah..

    Oo ia.. aku ijin keliling” isi blog kamu ya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s