Pure Love ^1^


Pure Love

Genre: Romance, general, family, friendship

Length: Chaptered

Rating: G

Cast: Do Kyungsoo, Lee Jihyun, other cameo

.

.

@ohnajla|chosangmi15

.

Nothing is impossibble for pure love

Mahatma Gandhi-

.

Semua orang kagum terhadap kepopuleran EXO. Yah, mereka memang sanggup menarik perhatian semua orang yang mereka lewati. Siapa sih yang tidak kenal Suho? Dia itu leader di grup populer ini. Siapa juga yang tidak kenal Sehun? oh ayolah, dia itu gangster berhati hello kitty, wajah garangnya sering membuat imej-nya menjadi buruk. Apakah ada yang tidak mengenal Kai, Jongdae, Xiumin, Kris, Luhan, Lay, Tao, Baekhyun, Chanyeol dan Kyungsoo? Jawabannya, tidak ada, semua orang mengenal tiap-tiap member dari EXO. Hanya saja, jika Sehun adalah member high profile, pasti ada member yang low profile. Dialah member yang tidak banyak bertingkah dan sering luput dari perhatian banyak orang.

“Do Kyungsoo?”

Kyungsoo terkesiap mendengar namanya disebut. Dia tersenyum sambil membungkuk sopan pada seorang pelanggan yang sudah berdiri di hadapannya untuk membayar.

Joesonghammida.”

“Ah tidak apa-apa, tolong ini,” pelanggan itu meletakkan keranjang belanjanya di meja kasir. Dengan cekatan Kyungsoo langsung menghitung semua barang-barang itu.

“Semuanya 15 ribu won, tuan.”

Si pelanggan menyerahkan selembar uang 10 ribu won dan selembar uang lima ribu won. Kyungsoo menerimanya dengan sopan kemudian disimpan di dalam mesin kasir.

“Terima kasih, atas kunjungannya,” ucapnya mengiringi kepergian pelanggan itu.

Kyungsoo menghela napas. Lagi-lagi minimarket ini sepi pelanggan. Maklumlah, minimarket tempatnya bekerja ini memang tidak berdiri di tengah perkotaan. Bisa dibilang minimarket ini seperti rumah yang dirombak menjadi lokasi perbelanjaan. Kanan kirinya diapit oleh rumah-rumah warga. Tidak ada area parkir, kalau pun membawa kendaraan harus memarkir dulu di depan gang lalu berjalan untuk sampai ke minimarket ini.

Minimarket yang sepi membuat gajinya dibayar kecil. Sebesar 30 ribu won kalau sepi, dan sebesar 50 ribu won kalau ramai. Sebenarnya nominal segitu sama sekali tidak cukup untuk Kyungsoo. Bukan berlaku tamak, hanya saja kebutuhannya memang sangat banyak. Dia tidak hanya bekerja untuk membantu ibunya, tapi juga memenuhi kebutuhan sekolah, kebutuhan keluarga dan mengangsur hutang-hutang ayahnya. Entahlah dimana keberadaan sang kepala keluarga itu, Kyungsoo sudah malas untuk memikirkannya.

Karena minimarket ini terus saja sepi, Kyungsoo memutuskan mengisi waktunya untuk belajar. Dia membuka-buka bukunya, menelaah materi-materi yang tertulis di sana.

Tak lama kemudian.

Kyungsoo langsung menoleh ketika mendengar suara langkah kaki. Ia pun menyembunyikan bukunya di laci meja, lalu berdiri dan menyapa pelanggan yang baru saja masuk.

Annyeonghaseyo, adakah yang bisa saya bantu?”

Gadis manis berseragam SMA, dengan jepit bermotif kupu-kupu yang terselip di sela-sela poninya, memandang Kyungsoo dengan gelisah. “Ng… ng.. apakah di sini jual… pem-pem..”

Kyungsoo terus menunggu sembari memperhatikan gerakan bibir gadis itu.

Mendadak gadis manis itu menutup wajahnya sambil mengerang kecil. “Ah, eotteohke?”

Kyungsoo memandangnya bingung. “Ng.. nona, sebenarnya apa yang anda butuhkan?”

Gadis manis itu perlahan menampakkan wajahnya. Rona kemerahan di pipinya terlihat begitu jelas saking putihnya kulit gadis itu. “Kau tahu, itu… saat yeoja mendapat siklus bulanan. Ng.. aku membutuhkannya.”

Kyungsoo berpikir sejenak. “Ah.. arraseo. Kau bisa mengambilnya di rak sebelah sana.”

“Bisakah aku bayar dulu baru kuambil?” lagi-lagi gadis itu gelisah.

Kyungsoo menggeleng meski tak enak hati. “Maaf nona, anda harus bayar terakhir sambil membawa barangnya. Di sini menggunakan system kasir computer, nona.”

Gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya. Inilah pertama kalinya dia mendatangi minimarket di pinggiran kota, dengan seorang remaja lelaki yang bertugas sebagai kasir! Dia terus dirundung gelisah karena malu. “Ba-baiklah. Ng, di sana kan?”

Kyungsoo mengangguk. “Ya di sana.”

Tanpa pikir panjang gadis itu pun melesat ke sana.

Tak lama kemudian dia sudah kembali di hadapan Kyungsoo sambil menenteng barang-barang yang diperlukannya. Kyungsoo sebenarnya bertingkah biasa saja, tapi gadis di hadapannya ini kelewat gelisah. Lama-lama Kyungsoo bisa tertular juga.

“Tidak mengapa, nona. Kau tidak perlu gelisah seperti itu,” tegur Kyungsoo begitu dia sudah tak tahan lagi dengan helaan napas si gadis yang terdengar terus menerus di telinganya.

Gadis itu hanya tersenyum kikuk.

Setelah semua barang sudah masuk ke dalam kantong belanja, Kyungsoo pun segera menyerahkannya. “Terima kasih sudah datang.”

Begitu menerima barang belanjaannya, si gadis beranjak pergi.

**

Dua tahun berlalu begitu saja.

Kyungsoo sudah tak lagi bekerja di minimarket itu. Dia telah bekerja sebagai koki di sebuah restoran Italia yang letaknya sangat dekat dari rumah. Pekerjaan ini sangat cocok untuk seorang yang hobi memasak sepertinya. Dan secara panghasilan pun, nominalnya berkali-kali lipat lebih besar dari gajinya di minimarket pinggir kota dulu. Karena pekerjaan ini, Kyungsoo memilih untuk berhenti dua tahun sebelum kuliah.

Sepulang kerja, dia membawa kantong plastic berisi masakan yang sengaja dia buat. Dalam perjalanan pulang tak hentinya dia tersenyum, membayangkan wajah ceria dan bangga ibunya ketika dia datang.

Begitu sampai di rumah, Kyungsoo menemukan ibunya yang sepertinya baru datang juga. Wanita berusia 45 itu tersenyum begitu melihat anaknya datang.

“Oh, kau sudah datang? eomma juga baru saja tiba. Apa yang kau bawa itu?”

Kyungsoo berjalan mendekati ibunya. “Menu spesial untuk eomma.”

Mata bulat wanita itu berbinar. “Terima kasih banyak, adeul.”

Kyungsoo sama sekali tidak merasa risih saat wanita itu mencium pipinya. Justru inilah yang dia suka. Kebahagiaan ibunya adalah kebahagiaannya.

Malam itu mereka makan makanan itu bersama.

“Kyungsoo-ya.”

Ne, eomma?” Kyungsoo memusatkan seluruh perhatiannya pada sang ibu.

Eomma ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Apa itu?”

“Kau tahu, eomma sangat-sangat menyayangimu. Eomma bangga sekali memiliki anak sepertimu. Eomma ingin kau bahagia, sayang. Eomma selalu mengharapkan yang terbaik untukmu.”

Kyungsoo tersenyum tipis. “Aku tahu semua itu, eomma.”

Nyonya Do tersenyum, tapi sesaat kemudian ekspresinya kembali serius. “Adeul, jangan berpikiran kalau eomma memanfaatkanmu untuk hal yang eomma inginkan. Itu sungguh tidak benar, sayang. Sudah eomma bilang kalau ini untuk kebaikanmu. Sayang.. menikahlah.”

Sesuai dugaan, Kyungsoo terkejut. “Eomma…”

Nyonya Do buru-buru meraih tangan Kyungsoo lalu menggenggamnya dengan tangannya yang hangat. “Sayang… eomma sudah memikirkan ini dengan tuan Lee. Ini untuk kebaikanmu sayang, sungguh.”

“Aku tidak sedang memikirkan diriku, eomma. Tapi aku memikirkan gadis yang akan dinikahkan denganku. Eomma lihatlah, apa yang bisa dia suka dariku? Aku belum memiliki pekerjaan yang baik untuk menghidupinya.”

“Itu bisa kau pikirkan nanti, sayang. Gadis yang akan kau nikahi adalah putri tunggal dari tuan Lee. Kau tahu kan, Tuan Lee memiliki hutang pada eomma yang sebenarnya tidak seberapa bagi eomma. Selama ini kau selalu menolak pemberiannya, sekarang eomma memutuskan menerima pernikahan ini.”

“Baiklah.”

**

H-20 hari pernikahan.

Kyungsoo resmi pindah ke apartemen yang telah disediakan untuknya dan untuk calon istrinya. Beginilah tradisi di Korea, beberapa hari sebelum menikah kedua mempelai dibiarkan tinggal dalam satu rumah untuk membiasakan diri. Mungkin hal seperti ini lumrah, namun itu tidak berlaku bagi Kyungsoo.

Pertama kali berhubungan dengan wanita, pertama kali pula tinggal serumah dengan wanita yang bukan keluarganya. Rasanya… aneh. Sejak keberangkatannya dari rumah hingga ke apartemen ini, jantung Kyungsoo tak hentinya berdebar. Dia terus membayangkan bagaimana nasibnya bila hidup bersama seorang wanita yang belum dia tahu siapa nama dan bagaimana rupanya.

Apartemen itu masih kosong ketika Kyungsoo datang. Pria itu menghela napas lega, setidaknya dengan begini debaran jantungnya bisa mereda meski sedikit. Dia memasukkan barang-barangnya ke sebuah kamar yang bukan sebagai kamar utama. Kamar itu masih terisi oleh perabot-perabot sederhana seperti tempat tidur, almari pakaian, sebuah bangku di sudut serta dua buah nakas di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Luas kamar ini dua kali lebih kecil dari kamar utama, namun bila dibanding kamarnya di rumah, luas kamar ini berkali-kali lipat lebih lebar. Kyungsoo merasa kecil saat berdiri di tengah-tengahnya.

“Aku harus bekerja sebagai manager kalau ingin membeli rumah seperti ini,”gumamnya sembari menarik koper ke dekat lemari pakaian. Dia membuka lemari itu, melihat-lihat kolomnya sebentar kemudian memindah pakaian-pakaiannya yang ada di koper ke kolom-kolom tersebut. Sebagai seorang yang menjujung nilai kesempurnaan, dia menata pakaiannya sesuai dengan model. Model jeans di letakkan di kolom yang paling atas, kaos oblong diletakkan satu di kolom sebelahnya dan untuk jaket ditumpuk di kolom yang berada lurus dengan kepalanya.

Setelah menata pakaian selesai, dia beralih menata buku-buku yang ia bawa. Buku-buku itu adalah buku yang diperuntukkan khusus mahasiswa. Kebanyakan bukunya berbau music, ya, sesuai bakatnya dia berencana mendaftar kuliah dengan jurusan tersebut nantinya.

Begitu semua barang bawaannya telah tertata dengan rapi, Kyungsoo berdiri membelakangi pintu untuk melihat hasilnya. Dia tersenyum puas. Kamar yang semula kosong seolah menunjukkan tidak adanya tanda-tanda kehidupan, sekarang telah berwarna dan lebih hidup. Yah meskipun masih banyak ruang kosong yang ‘merengek’ untuk dihias, sejauh ini baginya sudah cukup.

CKLEK! BLAM!

Telinga Kyungsoo yang tajam langsung bisa menangkap suara itu. Tanpa tergesa-gesa, ia pun keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang datang.

Pandangannya langsung bertabrakan dengan tatapan seorang gadis muda yang kini sedang berdiri di depan pintu kamar utama. Mendadak dia mengalami déjà vu. Ah! dia ingat! Bukankah gadis itu…

“Bagaimana kau bisa masuk kemari? Atau jangan-jangan, kau…” kedua mata gadis itu memicing, meneliti rupa Kyungsoo yang sangat familiar untuknya.

Kyungsoo hanya membungkuk sopan, tanpa meluncurkan satu katapun.

“Ah, benar, kau kasir yang waktu itu. Aku baru sadar kalau kau lah calon suamiku,” ucap gadis itu dengan aksen dinginnya sebelum masuk ke kamar utama. Dia meninggalkan Kyungsoo yang sedikit tersinggung dengan ucapannya.

Tapi Kyungsoo tidak ambil pusing, dia juga masuk ke kamarnya.

Pria itu merebahkan diri di ranjang, matanya lurus ke atas menatap langit-langit kamar.

“Dia benar-benar angkuh, tidak seperti dua tahun yang lalu. Sepertinya dia tidak menyukai perjodohan ini, kalau itu benar… apakah ini masih pantas dilanjutkan? Haruskah aku bicara pada eommeoni?”

Kyungsoo merasakan kepalanya yang berdenyut. Ugh, memikirkannya saja sudah membuat kepalanya pusing.

“Lebih baik tidak usah, biar dia saja yang bicara pada ayahnya.”

Pria itu membalik tubuhnya ke samping lalu memejamkan mata.

**

Menjelang malam Kyungsoo terbangun. Perutnya yang keroncongan membuatnya mengurungkan niat untuk melanjutkan tidur. Ia pun memutuskan keluar dari kamar, untuk memasak sekalian membersihkan diri.

Di saat dia menutup pintu dari luar, pintu di kamar utama juga baru saja di tutup dari luar. Calon istrinya itu sudah berpakaian rapi, ah tidak, mungkin bisa dibilang gadis itu memakai pakaian yang… sexy. Minimnya dress ketat yang melekat di tubuh gadis itu sengaja disamarkan dengan sebuah coat selutut. Kakinya begitu jenjang dan mulus apalagi ditambah sepatu berhak tinggi 4 cm. Kyungsoo bisa menebak akan pergi ke mana gadis itu hanya dari riasan wajahnya. Pria itu mengalihkan pandangan ketika calon istrinya beralih menatapnya.

“Jangan beritahu ayahku. Kalau dia bertanya di mana aku, jawab saja aku sedang ikut bimbingan,” titahnya sebelum melenggang pergi. Aroma parfumnya yang menyengat seketika langsung tercium oleh indera penciuman Kyungsoo saat dia lewat. Kyungsoo harus menahan napasnya sebentar agar kepalanya tidak pusing.

BLAM.

Kyungsoo masih berdiri di situ, memandangi ruang televise di hadapannya yang tampak sepi. Mendadak rasa laparnya hilang. Dia menoleh ke pintu, memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan.

**

Music remix yang dimainkan DJ menggema begitu keras di bangunan tersebut. Lampu berbagai warna menambah semarak suasana di tempat itu. Sekumpulan manusia memadati tengah ruangan, mengikuti alunan music yang seolah tak akan berhenti selamanya.

Seorang gadis muda masuk. Dia telah melepas coat-nya sejak sebelum memasuki pub ini. Ketukan sepatunya teredam oleh gema music remix tersebut. Namun hal itu tidak membuatnya diabaikan, dia langsung menjadi pusat perhatian para lelaki yang kebanyakan berkumpul mengelilingi meja bar. Gadis cantik dan masih muda, siapa sih yang tidak akan tergiur?

“Kupikir kau tidak akan datang ke sini lagi, Jihyun-a.”

Gadis yang memiliki nama lengkap Lee Jihyun itu hanya tersenyum tipis mendengar ucapan seorang bartender di hadapannya. Dia sudah menempati satu kursi kosong dari sekian kursi yang telah terisi penuh oleh para lelaki. Coat yang sejak tadi tersampir di lengannya sekarang dia letakkan di paha untuk menutupi kakinya.

“Ah, namamu Jihyun? Nama yang sexy se-sexy orangnya,” ujar seorang pria di sebelahnya entah itu pujian atau lainnya.

Jihyun tidak berniat menanggapi, gadis itu langsung meneguk beer yang disuguhkan oleh bartender. Cara minumnya yang sekali teguk itu membuat pria disebelahnya berdecak kagum. Sama sekali tidak menyangka kalau gadis belia seperti Jihyun sangat ‘berbakat’ dalam hal alcohol.

“Satu gelas lagi,” pinta gadis itu yang membuat pria disebelahnya membelalak takjub.

“Woah, kau begitu muda tapi sangat tahan dengan alcohol. Yaa, tidakkah kau ingin menari denganku?”

“Akan kupertimbangkan,” balas Jihyun dingin. Begitu mendapat beer-nya lagi, dia langsung meminumnya hingga ludes.

Pria di sampingnya masih betah memandangnya. Entahlah apa yang ada di pikirannya, yang pasti seringaian tipis di wajahnya sedikitpun tidak luntur.

Sudah empat gelas beer yang Jihyun habiskan dan sekarang pengaruh alcohol mulai menguasai dirinya. Mata yang semula berbinar kini tampak redup, punggung yang awalnya tegak sekarang harus bersusah payah ia tegakkan. Pria di sampingnya tersenyum, melarang si bartender untuk menyuguhkan gelas kelima.

“Ayo menari,” ajaknya sekalian menarik gadis itu ke tengah-tengah ruangan. Jihyun yang hampir kehilangan kesadaran ya ikut saja tanpa protes. Bersama pria yang tak dikenalnya itu, dia menari di bawah lampu berwarna warni. Melepas semua emosi yang tertahan di pikirannya melalui gerakan yang muncul begitu saja. Dia tidak tahu kalau pria itu sangat senang melihatnya seperti itu. Si pria itu bahkan menggunakan kesempatan emas tersebut untuk memeluk dan mencium Jihyun.

**

TENG TONG! TENG TONG!

Kyungsoo memaksa kelopak matanya untuk terbuka. Saat melirik jam, dia mengeluh karena sekarang masih pukul 2 dini hari. Dengan enggan ia pun menyibakkan selimut, kemudian turun dari ranjang dan beranjak keluar.

TENG TONG! TENG TONG!

Kyungsoo bersusah payah menyeret kakinya untuk segera sampai di pintu.

Cklek!

“Maaf, siapa?” tanyanya saat melihat seorang pria berseragam bartender sedang berdiri di hadapannya sambil memapah seorang gadis yang tertunduk.

“Benarkah ini apartemen Lee Jihyun?”

Dahi Kyungsoo berkerut bingung. “Lee Jihyun? Aku tidak mengenal nama itu.”

Si bartender yang sudah berkeringat karena kelelahan mengangkat gadis mabuk di sebelahnya ini mengerang lirih. Dia memandang Kyungsoo putus asa. “Apakah kau mengenal gadis ini? dari kartu pengenalnya tertulis kalau disinilah tempat tinggalnya.”

Kyungsoo mengalihkan pandangan pada gadis yang dipapah bartender itu. Dia perhatikan dengan teliti mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dress serta sepatu tinggi yang tak asing itu membuatnya menyadari bahwa gadis mabuk itu adalah calon istrinya.

“Aku mengenalnya. Ya, dia tinggal di sini.”

Si bartender menghela napas lega. “Dia mabuk, jadi aku mengantarnya pulang. Ng… Anda.. siapa ya?”

Si bartender itu terkejut ketika Kyungsoo mengangkat tubuh Jihyun dengan tiba-tiba.

“Terima kasih, kau bisa pulang sekarang,” ujar Kyungsoo sebelum membawa Jihyun masuk ke dalam. Tanpa menunggu kepergian bartender itu, pintu ditutup begitu saja.

Kyungsoo merebahkan tubuh Jihyun di sofa. Dia melepas sepatu tinggi gadis itu. Matanya tak sengaja berhenti di bibir Jihyun, dahinya berkerut seraya mengamati bekas darah yang sebelumnya tidak ada.

“Dia jatuh?” gumamnya seraya bangkit untuk mencari kotak obat di kamarnya.

Setelah mendapat apa yang ia cari, ia pun kembali ke sofa itu. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara isakan dari bibir Jihyun. Dia sama sekali tidak tahu kenapa Jihyun tiba-tiba menangis, tapi dari yang ia lihat, Jihyun sepertinya bukan menangis karena bibirnya berdarah.

Kyungsoo melanjutkan langkahnya kemudian duduk di karpet menghadap sofa yang ditempati Jihyun. Dia mengeluarkan seperangkat obat untuk menutup luka itu.

“Hiks.. kajima… oppa kajima…

Kyungsoo mengabaikan ucapan itu. Dia tahu Jihyun bukan memanggilnya, tapi memanggil orang lain yang entah siapa. Jadi Kyungsoo lebih memilih menghapus bekas darah di robekan bibir itu dengan sebuah kapas yang telah dia beri cairan alcohol.

“Hiks… appa-yo… oppa kajima..”

Kyungsoo mewadahi kapas yang telah berubah warna menjadi merah tadi ke dalam sebuah plastic, lalu menggantinya dengan kapas baru yang sudah dia tetesi obat merah.

“Kenapa kau tega padaku? Kenapa?”

Tahap terakhir, Kyungsoo menempelkan sebuah plaster tepat di luka itu. Setelah semuanya beres, ia pun membereskan semuanya kembali ke dalam kotak.

Pria itu memindah kotak tersebut ke atas meja. Dia memutuskan untuk memindah Jihyun ke kamar dulu sebelum dia kembali ke kamarnya. Dengan hati-hati ia pun mengangkat tubuh Jihyun ala bridal style kemudian membawanya memasuki kamar utama. Dia baringkan gadis itu di ranjang lalu membalutnya dengan selimut hingga menyisakan kepala dan sedikit leher. Lampu utama dipadamkan, sementara lampu tidur dinyalakan. Setelah semuanya beres, Kyungsoo memutuskan untuk keluar.

Namun..

Kepalanya tertoleh ke belakang saat pergelangan tangannya diraih. Pandangannya jatuh ke mata redup gadis itu yang kini tampak memerah. Tatapan itu sangat berbeda dengan tatapan sebelumnya, tidak ada keangkuhan, yang ada hanyalah ungkapan kesepian.

Kyungsoo melangkah mendekat kemudian berlutut di lantai. Dia mengamati Jihyun yang juga sedang memandanginya.

Oppa… oppa kajima..

Tapi tak lama kemudian, gadis itu tak sadarkan diri lagi. Kyungsoo segera melepas genggaman Jihyun dari tangannya kemudian ia pun bergegas pergi.

***

TBC

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s