Perfect One Pt.9


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser // Pt.1 // Pt.2 || Pt.3

Pt.4 || Pt.5 || Pt.6 || Pt.7

Pt.8 

Recommended Song : Justin Bieber – Fall

.

Hari ini diadakan tes tulis masuk SMA Daesang. Suho tidak lagi datang sendirian, dia datang bersama Lay. Hal ini bukan berarti Suho yang menginginkannya sendiri, tapi Lay yang memaksanya untuk pergi bersama. Lay bilang, dia ingin mempertemukan Suho dengan temannya lagi.

“Kau gila? Mengendarai benda ini sejauh itu? terbuat dari apa kakimu, huh?” seloroh Suho begitu dia turun dari boncengan sepeda kayuh Lay. Ia mengeratkan jaket di tubuhnya ketika menunggui Lay memarkir sepeda.

Lay mendekat pada Suho sambil menyeka keringat di dahinya. “Kau tidak pernah olahraga ya? jujur, kau berat sekali. Jangan bilang, Youngra jadi kurus sedangkan kau semakin gendut.”

PLETAK!

Lay mengelus dahinya sembari memicingkan mata pada Suho. “Awas saja kalau aku sampai berdarah.”

Suho mendengus. “Kalau bukan kau yang memulai, aku tidak akan begitu. Lagipula siapa suruh kau menyebut-nyebut namanya di depanku? Tidak ada hubungannya dengan berat badanku, arraseo?”

Lay memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. “Kau tidak tertarik mendengar kabar gadis itu? kau tidak mau tahu bagaimana kabarnya?”

Memang dia kenapa? Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja?

Suho langsung mengambil langkah. “Mana aku peduli.”

Ekspresi Lay seketika berubah masam. Kesal rasanya mendengar ucapan Suho yang selalu bergaya sok tidak peduli. Lay sering bertanya-tanya, anak itu masih normal tidak sih? Yang Lay tahu, orang yang paling sering ditemui Suho hanyalah dirinya. Chanyeol? Jangan tanyakan, tiap kali si gigi ratusan itu muncul, dia pasti akan langsung mengusirnya. Luhan Xiumin Kris? Apalah Suho itu, kalaupun dia mau bergabung yang dia lakukan hanyalah duduk diam sambil memainkan ponselnya, sama sekali tidak peduli sekitar.

“Yaa, namja bernama Lay Zhang! Kau mau mati kesambat setan di sana? Tes sebentar lagi akan dimulai!” pekik Suho yang sudah sampai di teras gedung SMA Daesang. Tangannya melambai-lambai untuk menarik perhatian Lay.

“Kalau bukan karena Youngra, mana mau aku bicara dengan manusia es itu. Ne! kidaryeo!”

Lay langsung berlarian menyusul Suho yang ternyata tidak menunggunya. Dia sempat mengumpat-ngumpat tidak jelas karena kelakuan Suho itu. Tentu saja, kalau bukan Youngra, Lay sudah pasti tidak akan mau berteman dengan Suho. Si menyebalkan itu semakin didekati semakin menyebalkan.

Mereka memulai tes di ruangan yang berbeda. Tes yang mereka ikuti ini adalah tes kemampuan di bidang pelajaran. Yang diujikan adalah matematika, ilmu alam, ilmu social dan bahasa. Total soal 120 yang harus selesai dikerjakan selama 150 menit.

Tes dimulai pukul 8 pagi dan berakhir pukul 10.30 pagi. Suho dan Lay saling bertemu di teras gedung. Mereka terlibat perdebatan sebentar sebelum akhirnya mereka sama-sama memutuskan untuk segera menemui teman yang akan Lay pertemukan dengan Suho.

“Temanmu laki-laki atau perempuan?”

“Rahasia.”

“Apa inisial namanya?”

“Rahasia.”

“Dimana tempat bertemunya?”

“Rahasia.”

“Sekali lagi mengatakan rahasia, aku tidak akan pergi.”

“Rahasia. Eh?!”

Di saat Lay menoleh, ternyata Suho sudah berjalan pergi.

“Myeon!! Hey!! Kau mau kemana?!”

Suho malas menjawab, dia memilih mempercepat langkah sambil menyumbat telinganya. “Masa bodoh. Rahasia katanya? Lalu kenapa mengajakku kalau rahasia. Dasar dia.”

Lay yakin kalau dia tidak akan bisa menghentikan Suho hanya dengan teriakan. Suho harus dikejar, ya, Suho harus dikejar. Tapi kalau dengan berlari, itu sama saja dengan ikut turnamen marathon. Setelah memaksa otaknya untuk bekerja, akhirnya Lay ikut menggandeng sepedanya untuk mengejar Suho.

“Myeon-ie!!! Kidaryeo!!”

Lay mengayuh sepedanya dengan cepat. tepat dengan perkiraannya, dia bisa menghadang Suho sebelum Suho masuk ke dalam bus.

“Yaa! menyingkirlah! Ppali!”

Terjadilah aksi tarik menarik tas diantara keduanya. Suho berusaha menggapai-gapai pintu bus yang masih terbuka. Sialnya Lay tidak mau kalah menarik tasnya sampai dia berulang kali tertarik ke belakang. Mungkin karena si sopir bus-nya kesal, tanpa aba-aba pintu langsung ditutup otomatis dan BRUM! Harapan kabur Suho akhirnya menjauh.

Suho terdiam memandangi kendaraan balok itu perlahan menghilang di balik perempatan. Itu bus pergi menuju arah rumahnya. Seharusnya kalau dia naik, dia bisa sampai di rumah lebih cepat. Dia bisa bermalas-malasan di ranjangnya, bermain video game tanpa henti, menyantap segala macam kudapan. Tapi nyatanya…

“Hey? Myeon? Kau dengar aku?”

Lay langsung bergidik ketika mendapati lirikan tajam Suho. Suho terlihat sangat mengerikan. Ekspresinya seolah memvisualkan kata-kata, “gara-gara kau, mimpi indahku tidak terwujud!”.

“Kau mau apa huh?” geram Suho dengan kesal tertahan. Kalau saja Lay tidak punya penyakit mematikan seperti blood disorder itu, Suho pasti akan langsung menyerangnya dengan kick andalannya.

Lay tersenyum lebar, persis seperti senyum tanpa dosa Park Chanyeol. “Ayo bertemu temanku.”

Suho sekali lagi menatap Lay tajam sebelum menghentakkan kaki tiba-tiba. “Kalau begitu cepatlah! Aku ingin segera sampai di rumah!”

Lay sempat melindungi telinganya karena Suho berteriak dengan suara yang terlalu melengking. Selanjutnya dia tersenyum puas melihat Suho yang mau dia ajak menemui teman yang masih dirahasiakannya itu.

“Lama-lama kau mirip seorang gadis, Myeon. Jaman apa ini kau masih bertingkah seperti anak kecil begitu.”

BUK!

Akhirnya Suho melayangkan tendangannya tepat ke pantat Lay. “Masih mengataiku gadis? Awas kau.”

Lay mengusap pantatnya yang terasa panas. Seakan tendangan Suho itu adalah cipratan air panas yang sedang mendidih. “Kau sungguh keterlaluan.”

“Diam. Aku akan pulang kalau kau tidak segera.”

Bibir Lay mencebik kesal. “Sejak kecil kau dididik menjadi pangeran, eoh? tingkahmu.”

Kedua mata Suho melotot. “Mau kutendang lagi?”

“Ah tidak! keurae keurae. Kita pergi sekarang.”

Suho menyeringai puas. Dia terlihat menikmati tontonan di saat Lay panic membangunkan sepeda. Lagipula salah siapa yang tiba-tiba datang dan langsung melempar sepeda ke sembarang arah. Suho terkadang merasa terhibur dengan tingkah Lay yang satu ini.

“Puas melihatku kerepotan sendirian? Berhenti tersenyum dan cepat naik!”

Suho terkikik dulu sebelum menuruti perintah Lay. Meski mereka selalu bersama-sama sejak kelas 1, Suho rasa dia baru bisa menerima kehadiran Lay sekarang. Kenapa? Karena Lay bisa menjadi orang yang membuatnya kesal sekaligus tertawa secara bersamaan. Intinya, Suho suka cara Lay bertingkah menjadi orang bodoh.

Youngra… bagaimana kabarmu?

**

Dahi Suho mengernyit bingung ketika mereka sampai di tempat tujuan. Demi apa Lay malah mengajaknya ke taman bermain kanak-kanak. Dia menatap Lay dengan kepala sedikit miring ke kiri.

“Apa teman yang kau maksud itu anak TK?”

PLETAK!

Akhirnya Lay punya alasan membalas jitakan ke dahi Suho. Dia sungguh menantikan saat-saat pembalasan dendam seperti ini. Untungnya kesempatan selalu datang karena Suho merupakan tipe yang hobi mencari gara-gara.

“Kenapa tidak sekalian tendang pantatku juga?” sewot Suho sembari mengusap dahinya agak kasar.

“Itu ada waktunya nanti. Kau tunggu saja. Tanpa kau minta pun, aku akan menendangmu.”

“Lalu sekarang mana teman yang kau maksud? Kau sebenarnya serius tidak, eoh? atau jangan-jangan temanmu itu..”

BUG!

“Sekarang impas. Biasakan dirimu tidak secerewet itu. Kau bukan seorang gadis kan? Bicara tentang temanku itu, dia sedang dalam perjalanan ke sini. Kau tunggu saja.”

“Yaa! kau mau kemana?!” Suho langsung cemas saat Lay akan meninggalkannya.

“Kau pikir aku tidak lelah memboncengmu? Aku mau tidur, di sana. Kalian bicara saja,” ucap Lay sembari melepaskan cekalan Suho.

“Eh tapi… kau kan harus mengenalkan kami.”

“Itu tidak perlu kulakukan. Sudahlah. Tunggu saja dia.”

Suho akan menyahut lagi, tapi urung dia lakukan. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya terasa hangat dan detak jantungnya bertalu-talu. Dia buru-buru mengedarkan pandangan ke sekeliling taman kanak-kanak ini. Jumlah perabot yang tidak terlalu banyak, membuat Suho bisa melihat ke segala penjuru dengan mudah.

Dari satu sudut, datanglah seorang gadis berbalut coat cokelat yang berjalan ke arahnya. Radius 50 meter gadis itu masih berekspresi datar. Begitu sudah semakin mempersempit jarak dengan Suho, wajahnya tiba-tiba sumringah. Dia bahkan berlari dengan terburu-buru dan akhirnya…

HUP!

“Suho-sshi. Ini sungguh kau kan?”

Jantung Suho berdetak semakin cepat. Nafasnya menjadi agak sesak. Tidak terpikirkan olehnya dia akan disambut seperti ini. Mendapat pelukan hangat dari seorang gadis yang lama dia jauhi padahal dia sangat merindukannya. Gadis berkacamata bersuara lembut yang dulu berbadan gendut itu adalah gadis yang tengah memeluknya sekarang.

“Aku tidak tahu kebohongan apa lagi yang dikatakan Lay untuk membawamu ke sini. Tapi.. jujur aku senang melihatmu sekarang.”

Suho bisa merasakan getaran di suara Youngra. Tiba-tiba feelingnya buruk. Dia cemas dengan situasi instingnya sekarang.

“Eung… Young?”

“Ne?”

Suho perlahan mengangkat dagu Youngra hingga dia bisa bertemu tatap dengan gadis itu. Tebakannya benar, Youngra sedang menangis. Tapi menangis karena apa? Ketidaktahuannya ini membuatnya frustasi.

Kedua ibu jarinya dia perintah untuk menghapus setetes cairan bening yang turun dari pelupuk mata mantan kekasihnya. “Ini kedua kalinya aku melihatmu menangis. Kau kenapa?”

Youngra tersenyum tipis sebelum dia cepat-cepat menyeka air matanya. “Aku senang bertemu denganmu lagi.”

Jawaban itu masih terdengar ambigu di telinga Suho. “Katakan saja apa. Aku yakin kau menangis bukan karena senang.”

“Ih Suho-sshi, aku serius. Aku menangis karena aku senang,” Youngra berusaha memperlihatkan senyumnya. Tapi yang ada, Suho malah semakin penasaran. Suho ngotot kalau bukan itu alasan pastinya.

“Young.”

Senyum Youngra lenyap. Air matanya kembali merembes dan dia mulai memukuli bahu Suho. “Kau kenapa menjauhiku, eoh? kenapa kau melakukan hal jahat itu padaku? Aku tidak peduli kau berkencan dengan siapa, tapi setidaknya bisakah kau menyapaku? Aku selalu berusaha sabar dengan sikapmu yang begitu. Kupikir kau tidak akan melakukannya dalam waktu yang lama. Tapi ternyata… kau terus menjauhiku seperti itu. Kau ini kenapa? Aku selalu bertanya seperti itu setiap sebelum tidur. Aku pikir aku telah melakukan kesalahan. Aku terus berpikir dan berpikir. Tapi semakin aku memikirkannya, aku semakin tidak tahu apa salahku. Aku tidak tahu apa yang telah kulakukan sampai kau menjauhiku. Aku benci kau Joonmyeon-ah. aku benci!”

Lelah memukul, Youngra pun menangis dengan wajah yang dia tenggelamkan di bahu Suho. Batinnya terasa plong begitu dia bisa mengucapkan semuanya. Apa yang dia pendam, apa yang dia rasakan, telah dia ucapkan secara terang-terangan pada si pemicu utamanya. Dia lega.

Suho mengusap lembut rambut gadis itu. “Apa masih ada lagi?”

“Besok aku akan pergi ke Hong Kong.”

DEG!

Rasa bersalahnya semakin berkali-kali lipat. Ini bukan kabar baik. Youngra akan melanjutkan study di Hong Kong, dan itu artinya… hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu.

“Kau akan pergi? Besok?” Suho mencoba bertanya untuk memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.

“Ne. ne.”

Tubuh Suho rasanya lemas. “Kenapa secepat ini?”

Youngra masih sesegukan dan dia memilih untuk tidak menjawab.

Suho merasa kesal pada dirinya sendiri. Kalau saja ini tadi dia tidak ikut Lay dia pasti tidak akan bertemu Youngra, tidak akan mendapat pukulan Youngra dan tidak akan mendengar kata-kata perpisahan itu. Semuanya sudah terlambat. Hari ini adalah hari terakhir Youngra ada di Korea. Jika dulu dia tidak mengabaikan gadis itu, dia pasti tidak akan merasa secemas ini untuk melepas kepergian Youngra ke Hongkong. Hongkong dan Korea itu jauh. Beda kelas saja Suho benci apalagi beda negara. Sekarang dia pikir, ini adalah karma untuknya.

“Masih besok kan? Untung Lay berbohong ini tadi. Kalau tidak, aku pasti sudah lari. Kenapa kau tidak bilang sejak dulu? Aku kan bisa… bisa… bisa mengajakmu kencan lagi. Kau tahu, aku benar-benar bodoh mengajak dua gadis berkencan. Mereka sama sekali tidak seru. Aku benci sekali kalau seorang gadis itu anti perpustakaan. Kalau mereka tidak suka membaca buku, apa jadinya mereka saat sudah memiliki anak nanti? Kau pernah dengar banyak cerita tentang seorang anak yang hidup kesepian tanpa ibunya kan? Hm.. meskipun aku masih 15 tahun, aku benci melihat wanita seperti itu. Benar-benar menyebalkan. Mereka pasti tidak akan tahu kalau anak mereka tiba-tiba meninggal dunia.”

Youngra perlahan mengangkat kepalanya saat dia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan dengan suara bergetar. Suho sedang menangis, tapi bibirnya tetap membentuk lengkungan. Lelaki itu hanya berkedip-kedip ketika air mata membuat pandangannya buram. Senyumnya tidak pudar sedikit pun ketika dia bertemu tatap dengan Youngra.

“Kau bicara apa Joonmyeon-ah?”

“Aku benci dengan gadis antiperpustakaan. Mereka tidak sepertimu, mereka sangat menyebalkan. Kalau kau pergi, aku akan berkencan dengan siapa? Siapa yang mau menemaniku ke perpustakaan lagi? Siapa yang mau kuajak les bahasa Jerman bersama? Siapa yang kuantar pulang malam-malam dengan bus? Siapa yang menemaniku makan malam di kedai tenda? Kau sungguh jahat. Kenapa dulu kau datang memberiku minum kalau sekarang kau akan pergi meninggalkanku?” senyum Suho hilang. Dia berulang kali menepuk dada kirinya untuk menunjukkan kalau perasaannya sakit ketika mendengar Youngra akan pergi ke Hongkong.

Giliran Youngra yang menyeka air mata Joonmyeon. “Aku sungguh benci berjanji. Tapi.. aku yakin aku akan kembali nanti. Bisakah kau menungguku?”

Suho perlahan mengangguk. “Ya, akan kucoba.”

**

“Benar kau tidak mau kita jalan-jalan dulu? Ini masih jam 2 siang,” ucap Suho ketika dia dan Youngra sedang dalam perjalanan ke rumah Youngra. Suho berinisiatif mengantar Youngra pulang dengan jalan kaki. Kedengarannya memang nekat. Tapi ini bertujuan agar waktu tidak cepat berlalu. Dia masih ingin berlama-lama dengan sang pujaan hati.

“Bukannya kita sedang jalan-jalan? Nanti malam aku harus packing. Kalau aku kelelahan karena jalan-jalan, eomma akan memarahiku.”

Suho iri mendengar tiga kata terakhir. Youngra masih diperhatikan ibunya, tapi dia? Dia berusaha untuk tidak mempermasalahkannya karena hari ini adalah hari terakhir Youngra di Korea. Tidak lucu kan kalau semisalnya mereka saling jauh-jauhan lagi karena hal sepele seperti itu? Suho ingin mereka memiliki kenangan termanis.

“Apa aku boleh membantu?”

Youngra tertawa kecil. “Tidak perlu. Eomma dan appa yang akan membantuku.”

Suho masih memperhatikan dia ketika Youngra memandang ke depan lagi. Suho suka melihat bulu mata Youngra yang melengkung sempurna ke atas. Walaupun tidak diberi polesan bulu mata, bulu mata gadis itu tetap terlihat cantik di matanya. Sayangnya, bulu mata itu jarang terlihat karena tertutup oleh kacamata berframe.

Iseng-iseng Suho melepas kacamata gadis itu.

“Ah! Joonmyeon~”

Suho tersenyum gemas melihat Youngra yang harus mengerutkan keningnya untuk mempertajam penglihatan. Dia menawarkan lengannya untuk dijadikan pegangan gadis itu. mungkin karena belum terbiasa tanpa kacamata, kepala Youngra serasa berkunang-kunang.

“Kepalaku pusing, Joonmyeon..”

“Sebentar saja. Aku ingin melihat bulu matamu.”

Youngra mengangkat kepalanya untuk bertatapan dengan Suho. Meski sedekat ini wajah Suho tidak terlihat jelas. Dia terus saja mengerutkan dahinya untuk memperjelas penglihatan. Sampai akhirnya kacamata itu kembali terpasang di tempatnya.

Pertama kali yang Youngra lihat adalah senyum tulus Suho. Senyum yang tiba-tiba membuat perasaan Youngra bergetar hingga gadis itu bertanya-tanya apakah yang terjadi dalam dirinya.

“Bulu matamu cantik sekali. Lucu seperti Barbie.”

Wajah Youngra memerah. Dia membalas ucapan Suho dengan senyum malu lalu memeluk lengan Suho dan menenggelamkan wajahnya. Suho tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum. Baginya Youngra terlihat menggemaskan ketika merasa malu seperti itu.

“Mau es krim?” tawar Suho ketika melihat penjual es krim akan datang menghampiri mereka.

Youngra mengangkat kepala lalu tersenyum. “Eum.”

**

Keduanya duduk berdua di bawah pohon yang rindang di atas rerumputan. Mereka asyik menjilati es con yang mereka beli. Suho membeli rasa cokelat, sementara Youngra membeli rasa strawberry.

“Joonmyeon, aku ingin coba punyamu,” ucap Youngra di mana bibirnya masih belepotan dengan krim. kedua matanya nampak memancarkan sinar keinginan yang kuat. Suho yang melihatnya jadi tidak tega untuk menolak. Lelaki itu dengan mudah menyodorkan es con nya.

“Bagaimana kalau bertukar saja? Aku juga ingin mencoba itu.”

Youngra mengangguk semangat dan langsung menyerahkan es con nya pada Suho. Mereka saling bertukar es krim. Dan mereka merasa tenang-tenang saja melakukan itu.

“Rasa cokelat ternyata enak. Harusnya aku beli ini tadi,” ucap Youngra yang masih bersemangat menghabiskan es con cokelat yang semula milik Suho.

“Rasa strawberry juga enak.”

Mungkin aku akan merindukan saat-saat seperti ini. Di saat kita sepakat bertukar hati dan sama-sama menjaganya… apakah aku bisa melakukan itu?

Di saat es krim mereka habis, mereka rupanya masih belum ingin beranjak. Keduanya tengah asyik menikmati hembusan angin sejuk akibat produksi oksigen yang dilakukan pohon yang menaungi mereka. Kedua mata Youngra rasanya berat sekali. Setelah makan es krim dan menikmati hembusan angin sesejuk ini, Youngra ingin cepat-cepat ambil bantal dan tidur.

“Mengantuk ya?” gumam Suho lirih sembari menyisipkan rambut Youngra ke belakang telinga. Dia tersenyum geli melihat Youngra yang berkedip-kedip karena hampir saja tertidur.

“Ah.. iya. Udaranya sejuk sekali, membuatku mengantuk.”

“Kalau begitu tidur saja. Letakkan kepalamu di sini,” Suho menepuk pundaknya. Mungkin karena memang sangat mengantuk, Youngra langsung melakukan apa yang diperintahkan. Suho tersenyum simpul dan mengusap lembut rambut gadisnya.

“Tidak keberatan kan kalau aku menyanyikan sebuah lagu untukmu?”

Youngra menggeleng pelan. “Aku justru ingin mendengar suaramu.”

Suho tersenyum. “Baiklah.”

Well let me tell you a story (Baiklah, biar kuceritakan sebuah kisah)

About a girl and a boy (Tentang seorang gadis dan lelaki)

He fell in love for his best friend (Si lelaki jatuh cinta pada sahabatnya)

When she’s around, he feels nothing but joy (Saat si gadis di dekatnya, yang dia rasakan hanyalah kebahagiaan)

But she was already broken, and it made her blind (Tapi si gadis baru saja terluka, dan itu membuatnya buta)

But she could never believe that love would ever treat her right (Tapi dia tak percaya bahwa cinta kan perlakukannya dengan baik)

But did you know that I love you? or were you not aware? (Tapi tahukah kau bahwa aku mencintaimu? Atau tak sadarkah engkau?)

You’re the smile on my face (Engkau adalah senyum di wajahku)

And I ain’t going nowhere (Dan aku takkan pergi ke mana-mana)

I’m here to make you happy, I’m here to see you smile (Aku di sini tuk bahagiakanmu, aku di sini tuk buatmu tersenyum)

I’ve been wanting to tell you this for a long while (Tlah lama ingin kukatakan ini kepadamu)

Who’s gonna make you fall in love (Siapa yang ‘kan membuatmu jatuh cinta)

I know you got your wall wrapped on all the way around your heart (Aku tahu hatimu tertutup rapat oleh dinding)

You’re not gon’ be scared at all, oh my love (Kau tak perlu takut sama sekali, oh cintaku)

But you can’t fly unless you let yourself, (Tapi kau takkan bisa terbang jika kau takut)

You can’t fly unless you let yourself fall (Kau takkan bisa terbang jika tak takut jatuh)

Well did you know you’re an angel who forgot how to fly (Tahukah bahwa dirimu seorang bidadari yang lupa caranya terbang?)

Did you know that it breaks my heart everytime to see you cry? (Tahukah kau hatiku terluka tiap kali melihatmu menangis?)

Cause I know that it pains if he’s gone everytime he move over on the shoulder you crying (Karena kutahu sakit rasanya dia pergi karena selama ini dialah tempatmu bersandar saat kau menangis)

And I hope by the time that I’m done with this song (Dan harapku saat lagu ini berakhir)

that I figure out (Bisa kutemukan jawabnya)

I will catch you if you fall (3x) (Aku kan memegangimu jika kau terjatuh)

But if you spread your wings (Tapi jika kau kepakkan sayapmu)

You can fly away with me (Kau bisa terbang bersamaku)

But you can’t fly unless you let yourself (Tapi kau takkan bisa terbang jika kau takut)

You can’t fly unless you let yourself fall (Kau takkan bisa terbang jika kau takut jatuh)

 

Tanpa Suho sadari, setetes air mata Youngra jatuh dari pelupuknya. Gadis itu berusaha untuk tidak membuka mata karena Suho akan tahu kalau dia menangis. Cukup dia menangis dalam diam, dia takkan membuat perasaan Suho ikut terluka lagi.

**

Akhirnya pukul 4 sore mereka sampai di depan rumah Youngra. Itu artinya, ini bisa jadi detik terakhir Suho melihat Youngra sebelum gadis itu pergi ke Hongkong. Berat rasanya melepas tangan kecil yang ada digenggamannya kini.

“Kau tidak mau masuk dulu? Kakimu pasti lelah untuk perjalanan sejauh itu,” ucap Youngra yang spontan membuyarkan lamunan Suho.

“Eh? Bukankah seharusnya aku yang mencemaskan itu? daya tahan kakiku sudah pasti lebih kuat dari kakimu,” balas Suho sembari menggerakkan matanya pada kedua kaki Youngra.

Gadis berambut hitam itu tersenyum kecil. Rindu sekali rasanya mendengar Suho kembali menjadi lelaki yang tidak punya sopan santun saat berbicara. Kalau orang lain menyebut itu menyebalkan, Youngra justru sebaliknya. Suho sangat imut.

“Iya iya, aku tahu. Tapi aku tidak bisa dibohongi Joonmyeon sayang. Semua manusia normal pasti merasa lelah setelah berjalan sejauh itu. Istirahat di dalam sebentar ya?”

Suho mengernyit mendengar embel-embel ‘sayang’ di belakang namanya. Kedengarannya aneh. Dia rasa Youngra sudah banyak bertingkah aneh hari ini, ya mungkin karena akan pergi ke Hongkong besoknya. Tapi panggilan ‘sayang’?

Suho meletakkan punggung tangannya ke dahi Youngra dan satu lagi ke dahinya. “Tidak panas. Tapi hari ini kau banyak bertingkah aneh.”

Youngra bukannya tersinggung, dia malah tersenyum lebar. “Soalnya kau mau berbicara padaku lagi. Aku terlalu senang.”

Semua ini salahku.

Suho juga membalasnya dengan senyuman. Dia menata poni Youngra sebentar sebelum tiba-tiba melepaskan kacamata gadis itu lagi.

“Joonmyeon!!”

“Ssst, pejamkan saja matamu.”

“Aku bisa jatuh kalau seperti itu.”

Suho langsung meraih kedua tangan gadisnya dan menggenggamnya. “Sekarang pejamkan matamu.”

Meski tidak yakin, Youngra akhirnya memejamkan mata juga.

CHUP CHUP

Youngra pun membuka matanya kembali. Dia bisa memandang Suho lagi saat lelaki itu mengembalikan kacamatanya. Sekarang matanya terasa aneh, Suho baru saja mencium kedua matanya.

“Aku akan menangkapmu kalau kau jatuh, jadi jangan khawatir. Dan satu lagi, biarkan kedua matamu seperti itu. Aku sangat suka bulu matamu yang cantik.”

Pipi Youngra bersemu-semu merah, tapi ekspresinya terlihat seperti orang bodoh.

“Aku pulang sekarang. Cepatlah masuk dan istirahat. Aku tidak ingin ayah ibumu memarahiku karena membiarkan anaknya jalan kaki. Besok pagi-pagi sekali aku akan datang untuk mengantarmu ke bandara.”

“Kau tidak perlu melakukan itu. Aku akan diantar appa.”

“Begitukah? Sekarang di mana ayahmu? Aku akan bicara padanya,” Suho menoleh ke kanan kiri untuk melihat batang hidung orang tua Youngra.

“Joonmyeon~ kau keras kepala sekali. Incheon itu jauh..”

“Iya aku tahu. Aku hanya ingin memastikan kau pergi dengan selamat.”

“Tapi..”

“Youngra, itu temanmu? Kenapa tidak diajak masuk saja?” seorang wanita paruh baya muncul dari pintu depan sambil membawa penyiram tanaman. Wanita itu bertubuh langsing dengan rambut panjang terurai. Bulu matanya lentik seperti milik Youngra. Wajahnya yang ramah langsung menyapa Suho ketika sekali melihatnya.

“Eomma-”

“Annyeonghaseyo ahjumma. Kim Joon Myeon immida,” Suho langsung melepas genggamannya dan segera membungkuk.

Ibu Youngra menghampiri mereka dengan langkah tenang. “Kim Joon Myeon? Ah.. iya ahjumma ingat, kau yang dulunya masuk kelas Excellent itu kan? Lay sering datang kemari dan menceritakanmu. Ternyata yang namanya Joonmyeon itu anak setampan ini. Ayo masuk.”

Bersama-sama, ketiganya berjalan memasuki ruang depan rumah Youngra. Rumah ini bertingkat dua tapi minimalis. Kalau dibandingkan, ruang tamu Youngra memiliki luas yang sama dengan kamar pribadi Suho. Ruangnya terlihat agak sesak karena banyak perabot besar yang berkumpul di sini.

Suho duduk di sebuah sofa begitu dipersilahkan.

“Besok Youngra akan pergi ke Hongkong. Dia akan melanjutkan SMA di sana. Pasti kalian bertemu untuk mengucapkan salam perpisahan kan? Ah.. pasti berat untuk kalian. Dulu saat aku seusia kalian, aku juga merasakan hal yang sama.”

Suho hanya tersenyum tipis.

“Dimanapun yang namanya cinta monyet itu selalu manis. Apa kalian berkencan di perpustakaan? Ikut les bersama?”

Suho tiba-tiba blank mendengar pertanyaan itu. Pikirnya, tahu dari mana wanita ini?

Youngra juga begitu. Dia tidak menyangka kalau ibunya tahu tentang hubungan mereka yang sebenarnya. Dia pikir ibunya hanya tahu kalau yang namanya Kim Joon Myeon adalah teman sekelasnya di kelas Excellent.

Wanita paruh baya itu tersenyum. “Kalian lucu sekali.”

Suho mengusap tengkuknya salah tingkah sedangkan Youngra menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan wajah malunya.

“Oh ya, kau mau minum apa Joonmyeon-ah?”

“Eh? Tidak perlu ahjumma-nim.”

“Ey.. jangan memanggilku seperti itu. panggil saja eomeonim.”

“Eomeonim?”

Ibu Youngra tersenyum. “Kekasihnya anakku adalah anakku juga. Anggap saja kita adalah keluarga.”

Eomeonim? Kapan terakhir kali aku menyebut kata itu?

“A-ah.. ya, eomeonim. Eung, tidak perlu. Aku harus segera pulang.”

“Kau serius? Baiklah, aku tidak akan memaksa.”

Suho buru-buru bangkit untuk segera berpamitan. Tapi tiba-tiba dia teringat tujuannya masuk ke dalam rumah. “Eomeonim.. bolehkah besok aku mengantar Youngra ke Incheon?”

Ibu Youngra nampak terkejut. “Tapi Incheon itu jauh. Kau sungguh bisa?”

Suho mengangguk pasti. “Aku yakin.”

Ekspresi ibu Youngra masih ragu-ragu, tapi melihat keyakinan yang mantap di wajah Suho, wanita itu akhirnya memilih setuju. “Baiklah. Antarkan Youngra ke Incheon ya besok. Penerbangannya pukul 9 malam. Lebih baik berangkat dari sini pukul 7 pagi.”

Suho mengangguk. “Keurae-yo, aku akan sampai di sini sebelum pukul 7.”

Ibu Youngra tersenyum. “Sekarang pulanglah dengan hati-hati ya. Jangan lupa segera makan sesampai di rumah.”

Suho terdiam sebentar mendengar ucapan wanita itu. Bagi orang lain itu biasa, tapi baginya itu tidaklah biasa. Tidak ada satupun orang yang peduli apakah dia akan makan atau tidak di rumah. Namun wanita yang melahirkan gadis pujaan hatinya ini dengan mudah mengingatkannya untuk makan.

Suho perlahan tersenyum. “Kamsahammida.”

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s