Perfect One Pt.8


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser // Pt.1 // Pt.2 || Pt.3

Pt.4 || Pt.5 || Pt.6 || Pt.7

.

Gossip tentang Suho-Jihyo kian lama kian menurun. Kini, muncul gossip baru lagi. Suho berkencan dengan seorang hoobae. Hoobae yang dimaksud adalah seorang gadis popular yang sangat pandai dalam bidang seni. Gadis itu bernama Seulgi. Dengan wajah cantik, tubuh mungil dan talenta yang luar biasa, kebanyakan siswa sangat menyukai keduanya berkencan.

Di hari jadwal kencannya dengan Seulgi dilaksanakan, Suho sebenarnya berniat untuk langsung pulang saja karena tiba-tiba mood nya buruk. Dia sudah bersiap-siap kabur dari janjinya ini. Akan tetapi, Seulgi sudah menunggu di depan kelasnya lebih dulu. Tidak masalah sih kalau sendiri, faktanya, gadis itu membawa keempat teman-temannya.

“Oppa! Di sini!” pekik gadis itu sambil melambai ceria.

Suho yang sudah tahu keberadaan Seulgi beserta geng-nya yang bernama Red Velvet itu, memilih untuk segera menghampirinya dari pada pergi karena itu akan semakin membuat dirinya malu. Kelima RV ini sebenarnya memiliki wajah yang cantik semua. Namun tiap kali melihat seorang gadis, Suho akan secara tak sadar membandingkannya dengan Youngra.

“Mereka akan ikut?” tanya Suho dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Malas sekali untuk menyentuh Seulgi meski hanya seujung kuku.

“Tentu. Kita akan date bersama-sama,” balas Seulgi lagi-lagi dengan cerianya.

Suho menghela napas. “Maaf, aku paling tidak suka pergi dengan banyak orang.”

Seulgi dan geng-nya terkejut mendengar penyataan Suho. Lelaki itu memutar begitu saja dan melangkah pergi tanpa beban. Hati siapa yang tidak akan sakit melihat perlakuan seperti itu? rasa sakit tidak hanya dirasakan Seulgi, tapi juga keempat kawannya.

“Memang kau pikir kau siapa? Kau tidak berhak melarang kami!” pekik Irene, si ketua geng tersebut.

Suho lantas berhenti dan menoleh. “Apa aku menyisipkan kata jangan barusan? Aku tidak melarang kalian pergi bersama-sama. Aku hanya bilang kalau aku tidak suka pergi dengan banyak orang. Ya terserah sih apa kata kalian. Jangan membuang-buang waktuku untuk berbicara dengan kalian lagi.”

Ucapan yang ketus, sinis dan menyinggung hati itu adalah cirri khas dari sosok Suho. Dia bukanlah Suho kalau dia tidak berbicara seperti itu. Golongan darahnya AB, wajar kalau dia sering menyuarakan pikiran tanpa memikirkan perasaan orang lain. Memang sih, semua ucapannya itu terdengar jahat, tapi apa yang dikatakannya itu 99,9% adalah kebenaran.

Tanpa mendengar umpatan-umpatan dari para gadis cantik itu, Suho berjalan dengan tenangnya meninggalkan sekolah untuk kembali ke rumah. Besok dia harus mempersiapkan diri untuk mendaftar ke sebuah SMA terbaik di negara ini. Dia akan melupakan masalah lawan jenis karena pendaftaran SMA lebih penting untuknya.

**

Pukul delapan pagi, Suho bersama manager-nya telah sampai di pelataran SMA Daesang. SMA ini berdiri satu area dengan SMP Daesang. Kalau dilihat secara sekilas, sudah tentu SMP di sini jauh lebih bagus dari SMP Jinkook.

Suho segera pergi ke ruang pendaftaran. Di sana, ada banyak siswa dari berbagai SMP yang juga tengah mendaftar. Mereka ditemani orang tua masing-masing, bukan seorang manager seperti dirinya. Tapi Suho tak peduli. Dia kan hanya akan memberikan berkas di sini, lalu lusa akan mengikuti tes tulis untuk penjaringan siswa. Baginya hidup itu sangat sederhana.

Setelah menyerahkan berkas di ruang secretariat, bersama dengan managernya, Suho berjalan-jalan sebentar melihat calon sekolah barunya. Sebentar lagi dia akan menjadi siswa di sini dan menikmati segala fasilitas yang diberikan. Dia berharap kalau dia tidak akan bertemu Youngra di sini. Dengan begitu, akan mudah baginya untuk melupakan gadis tersebut.

Di saat asik-asiknya berjalan, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.

“Myeon!”

Suho reflek menoleh ke asal suara dan menemukan batang hidung Lay yang tengah melambai ke arahnya. Lelaki itu tidak sendiri. Di sekitarnya berdiri tiga orang lelaki yang memakai seragam SMA Daesang.

Suho berbicara sebentar pada managernya. Dia bilang dia akan menyusul ke mobil setelah berbicara dengan Lay. Si manager menyetujui, ia segera pergi dari tempat itu. sedangkan Suho, bergegas menghampiri Lay.

“Kau juga mendaftar di sini?”

Lay mengangguk. “Ini sekolah tujuanku sejak kelas satu, Myeon. Ah, perkenalkan ini teman-temanku. Dua orang dari China dan satu dari Korea.”

Suho memandangi ketiganya satu persatu. Tahu maksud ekspresi Suho, ketiga siswa itu sama-sama tersenyum.

“Dia bohong. Kami kakak kelasnya, bukan teman-temannya. Namaku Lu Han. Asalku dari Beijing. Aku sering mendengar tentangmu dari Lay,” ucap lelaki berambut blonde yang memperkenalkan diri sebagai Lu Han. Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk mengajak Suho berjabat tangan. Oleh Suho, uluran tangan itu diterima dengan baik.

“Aku Suho.”

“Kurasa Lay ada benarnya. Apa kau benar-benar antisosialis? Aku Wu Yi Fan, panggil saja Kris. Aku dari Guangzhou. Kuharap kita bisa menjadi teman begitu kau masuk ke sekolah ini,” sambung Kris begitu jabat tangan antara Luhan dan Suho berakhir.

“Aku Kim Min Seok. Panggil saja Xiumin. Oh ya, Lay bilang kalian punya grup ya?”

“Grup?”

“Eoh. kalau tidak salah, namanya… EXO! ya, EXO.”

Dahi Suho berkerut. “Aku tidak membentuk grup apapun. EXO itu hanya sebuah nama.”

“Kenapa nama itu tidak dijadikan nama grup saja? Kami bersedia bergabung dengan grup ini,” cetus Luhan sambil mengangguk-angguk kecil, sebuah aksen kentalnya.

“Bagaimana Myeon? Bukannya bagus kalau sekarang EXO memiliki banyak anggota? Kita sudah kehilangan Youngra. Tidak salah kan kalau kita menerima mereka? total EXO akan menjadi 6 sekarang,” ujar Lay.

“Enam? Siapa satunya?” tanya Xiumin dengan dahi berkerut.

“Park Chanyeol. Dia adik kelasku dan Myeon.”

“EXO bukan sebuah grup atau geng. EXO hanya sebuah nama. Kenapa kalian selalu membesar-besarkan nama itu? bahkan nama itu tidak memiliki makna pasti.”

Lay, Xiumin, Luhan dan Kris, sama-sama menatap Suho tajam. Mereka bukan mengintimidasi Suho, mereka hanya heran dengan tingkah Suho. Jiwa antisosialis Suho sepertinya sudah mencapai taraf maksimal. Di saat ada banyak orang yang ingin berteman dengannya, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarinya, ya itulah Suho.

Luhan tiba-tiba tersenyum simpul. “Kau tahu? di saat ada banyak orang yang ingin berteman denganmu dan kau selalu berusaha menjauh, sebenarnya alasan terlogisnya adalah, kau sudah terbiasa kesepian. Ketika kau merasa kesepian terus menerus, tanpa sadar kau akan merubah kepribadianmu menjadi seseorang berjiwa antisosialis dan tertutup. Itu bukan perubahan yang buruk memang. Tapi biar bagaimanapun, manusia itu makhluk social. Mungkin sekarang kita belum saling membutuhkan. Tapi nanti? Siapa tahu kita saling membutuhkan. Berteman itu bukan keputusan yang salah, Suho-sshi. Kami tidak bermaksud apa-apa untuk bergabung ke EXO. kami hanya ingin menambah banyak teman.”

Ucapan Luhan terdengar panjang lebar serta diucapkan dengan intonasi sedang. Suho bisa menangkap intinya. Dia sadar kalau dia memang terkesan tertutup karena terbiasa merasa kesepian. Rasa kesepiannya itu berawal dari rumah. Kapan terakhir kali dia tidur bersama ibunya? Kapan terakhir kali dia mendapat ciuman di kening setiap bangun pagi? Kapan terakhir kali dia sarapan dan makan malam bersama orang tuanya? Kapan terakhir kali dia mendapat pelukan orang tuanya? kapan terakhir kali…. Suho sudah tidak ingat lagi. Mungkin semua itu berakhir di saat dia masih sangat kecil, tepat ketika memorinya masih belum bisa menyimpan apapun.

Luhan merangkul leher Suho layaknya seorang hyung. “Mari kita berteman. Semua orang bilang, pertemanan itu bagaikan pelangi setelah hujan. Come on, kami tidak akan membuatmu kesepian di saat kita semua berkumpul. Kalau kau mau, kita bisa kok jadi keluarga. Anggap saja orang tua kita sama dan kita ini adalah kakak beradik.”

“Keluarga?” cetus Suho dengan kedua mata melebar.

Luhan mengangguk. “Aku tidak keberatan menjadi hyung-mu.”

Suho menatap Luhan lamat-lamat. Dia masih belum percaya kalau ada orang seperti ini yang akan menasehati dan bersedia menjadi kakaknya ini. Luhan benar-benar seperti orang yang sangat memahaminya, padahal mereka baru saja bertemu.

“Kalau dia menjadi hyungmu, berarti aku dan Minseok juga hyungmu,” sela Kris yang sejak tadi hanya berdiam diri. Air mukanya terlihat dingin, tapi cara menatapnya secara tak langsung memancarkan kelembutan. Wajah sangarnya menakuti banyak orang, padahal dia itu adalah anak yang baik.

“Berarti aku adalah adikmu dan Chanyeol adalah maknae. Bukannya ini keren, Myeon?” seru Lay dengan ekspresi ceria seperti biasa.

Keempat orang itu membuat Suho bimbang. Antara berteman atau tidak dengan mereka. Suho tidak bisa memantapkan keputusan. Dia butuh waktu yang cukup lama untuk memikirkannya. Dia perlu mempertimbangkan baik buruk serta dampaknya. Meskipun kata Luhan keputusan berteman itu bukan keputusan yang salah, tapi Suho masih belum yakin dengan pendiriannya sendiri.

Apakah mereka akan benar-benar menerimaku? Bagaimana kalau ternyata mereka hanya mempermainkanku? Mereka tulus ya?

“Bagaimana?” desak Minseok.

Suho memandangi mereka satu persatu. “Tapi kutekankan, ini bukan geng.”

Keempat orang itu menertawai ucapan Suho. Luhan akhirnya mengangguk, “ya, aku tahu. EXO hanyalah nama persabahatan.”

“Kalau begitu… baiklah.”

**

Lima hari kemudian..

“Kau kenapa datang?” tanya Suho pada Chanyeol yang ikut-ikutan Lay menyambut kedatangannya di depan gerbang sekolah. Suho dan Lay sama-sama memakai seragam lengkap karena hari ini adalah acara pelepasan siswa kelas 3. Sementara yang dipakai Chanyeol adalah baju bebas yang terdiri dari kemeja berlengan panjang motif kotak-kotak ditambah celana jeans se-mata kaki.

“Lay hyung bilang kau tidak akan membawa wali. Jadi aku datang untuk menjadi wali-mu.”

Dahi Suho berkerut tak mengerti. Anak itu bisa berbicara seperti itu dengan gigi yang terus-terusan terlihat. wajahnya sih terbilang polos meski Suho malas menyebutnya seperti itu. ulah siapa lagi yang membuat Chanyeol begitu kalau bukan Lay. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikir Lay. Temannya satu itu gemar sekali melakukan sesuatu tanpa memberitahunya dulu.

“Aku sudah terbiasa tanpa wali. Lebih baik kau pulanglah.”

“Eh!! Sepertinya acara akan dimulai tuh. Ayo kita masuk!!” Lay tiba-tiba merangkul leher keduanya dan menyeret mereka memasuki gedung pertemuan. Lay tahu situasi, dia tahu kalau Suho sudah kembali menjadi Suho yang ketus, semua masalah kecil akan menjadi masalah besar. Ucapan Suho sangat sulit dikontrol.

Ketiganya duduk berderet di tiga kursi kosong. Lay duduk di tengah, membatasi Suho dan Chanyeol kalau-kalau Suho memancing perang antara keduanya lagi.

“Kau ini kenapa selalu seenaknya, eoh? dulu Youngra, waktu itu teman-temanmu dan sekarang anak ini?! Ck! Yaa! kau pikir kau managerku?” akhirnya Suho meledak lagi, tapi kali ini dia tujukan pada Lay.

“Sssst. Jangan ramai. Kau tidak lihat ada yang bernyanyi di sana? Ngomong-ngomong, dia menyanyikan lagu apa ya? kau kenal lagunya?”

“Mana aku kenal lagunya! Hey!! Jawab pertanyaanku! Kenapa kau selalu seenaknya?!”

“Ssst, diamlah. Aku tidak bisa mendengar suaranya.”

“Yaa!”

“Diam!”

Chanyeol yang melihat pertengkaran mereka hanya bisa memandangnya tanpa sedikitpun berani melerai. Seharusnya posisi duduknya bukan di sini, melainkan berada di antara dua anak itu. tapi bagaimana pun letak duduk mereka, Suho tetap akan perang mulut dengan Lay kalau dia menginginkannya.

Keduanya benar-benar diam ketika acara dimulai. Acara ini berlangsung resmi dan tenang. Tidak ada kendala atau gangguan, semuanya berjalan lancar. Acara berakhir pukul 1 siang. Dalam sekejap, gedung pertemuan yang mampu menampung 500 orang itu berakhir dengan keadaan kosong.

“Eh Myeon, ayo ikut kami.”

Suho yang sedang duduk sendirian di halte menunggu jemputan sang sopir, langsung menoleh. “Kemana?”

“Aku ingin menunjukkan sesuatu.”

“Apa?”

“Itu rahasia. Kau akan tahu nanti. Ayolah, ya?”

“Kenapa aku harus ikut? Jangan membuang-buang waktuku,” dengus Suho sembari mengeratkan jaket di tubuhnya.

“Ah! kau sama sekali tidak seru. Memang kau akan kemana, huh? Les? Hah! Hidup ini tidak hanya sebatas les. Kalau kau hanya mengejar les mu, kau akan menyesal nantinya karena tidak menikmati hidupmu untuk yang lain.”

“Tidak usah berceramah. Lagipula siapa yang mau les? Kau pikir aku membatasi hidupku dengan les?”

Lay mendengus. “Kalau begitu ayo. Ini penting sekali. Kau harus melihatnya.”

“Tapi kenapa kau bawa-bawa dia sih?” tunjuk Suho pada Chanyeol yang ada di belakang Lay. Lay dan Chanyeol membawa sepeda kayuh sendiri.

Lay melirik Chanyeol sebentar. “Aku juga mau menunjukkan itu padanya.”

Suho memandang Chanyeol heran. Padahal Suho sudah terang-terangan menolak dirinya, tapi kenapa Chanyeol masih bisa tersenyum lebar seperti orang bodoh begitu?

“Lalu aku harus bagaimana ke sananya? Jalan kaki gitu?”

Lay menepuk-nepuk kursi boncengannya. “Aku akan memboncengmu.”

Suho memandang dudukan di bagian belakang sepeda itu dengan tatapan tak suka. Meskipun diberi bantalan, Suho belum yakin kalau dia bisa. Dia tidak pernah mengendarai benda seperti itu.

“Aku tidak akan cepat-cepat. lagipula tempat yang ingin kutunjukkan tidak jauh dari sini,” ucap Lay yang mengerti dengan arti tatapan Suho.

Keduanya saling berpandangan sebentar. “Aku akan membunuhmu kalau sampai aku terjatuh.”

Lay tertawa heboh. “Keurae-keurae. Aku akan mengendarai dengan hati-hati, tuan muda.”

Suho mendengus sebelum beranjak mendekati Lay.

**

Sesampai di tempat yang dituju Lay, ketiganya segera memasuki sebuah rumah bergaya Korea klasik yang berdiri tepat di belakang sebuah pohon besar. Rumah itu tidak memiliki pagar dan juga merupakan rumah satu-satunya di tempat itu. Sekeliling rumah tersebut terdapat kebun ilalang yang tingginya hampir menenggelamkan anak seusia mereka. Suasananya sunyi, akan tetapi kesannya damai.

KRIET

Begitu pintu terbuka, Suho bisa melihat tiga orang remaja tanggung yang sedang makan bersama di tengah-tengah ruangan. Ketika remaja tanggung itu mengelilingi sebuah panci yang isinya masih mengepul. Mereka tidak terkejut melihat kedatangan Suho dan Chanyeol.

“Kenapa mereka di sini?” tanya Suho pada Lay.

“Annyeonghaseyo, annyeonghaseyo. Park Chanyeol immida,” ucap Chanyeol sambil membungkuk tiga kali pada ketiga remaja tanggung itu.

“Duduklah. Aku baru saja membuat ramen,” kata Luhan sembari menggeser duduknya untuk memberi tempat pada Chanyeol. Dia meraih sepasang sumpit baru lalu dia berikan pada Chanyeol.

Chanyeol menerimanya dengan sopan. “Kamsahammida.”

“Jangan terlalu formal. Duduk dan makanlah,” timpal Kris dengan mulut penuh ramen. Dia sempat ditegur Xiumin karena kuahnya bermuncratan kemana-mana.

“Ya ini yang mau kutunjukkan,” jawab Lay pada Suho.

“Menunjukkan mereka makan maksudmu?” sahut Suho lagi.

Lay tertawa kecil. Ia pun menarik lengan Suho dan mengajaknya bergabung bersama empat lainnya. Dia mengambilkan dua pasang sumpit di mana satu pasangnya dia berikan pada Suho.

“Anggap sebagai rumah kedua. Mulai hari ini, kalau kau merasa kesepian di rumah, kau bisa datang kemari. Aku sudah menyiapkan enam kunci untuk rumah ini.”

“Untuk apa kau melakukan ini?” tanya Suho heran. Dia tidak menyangka Lay akan berbuat hal seperti ini.

“Ini rumah EXO. Aku memakai rumah peninggalan bibiku ini untuk EXO. Aku yakin, nanti begitu kita SMA, kita akan bertemu banyak orang lagi dan EXO akan menjadi kelompok besar. Kau tahu bintang? Ya, aku ingin EXO seperti itu nantinya.”

Suho masih menatap Lay lamat-lamat. “Kau tidak akan menganggap EXO sebagai geng kan?”

Lay tersenyum misterius. Dia sepertinya enggan menjawab karena dia lekas mengambil mangkuk dan mengisinya dengan ramen. “Aku lapar sekali.”

“Kamu tidak makan, Suho-ya? cepat makan selagi hangat,” sahut Xiumin ketika melihat Suho yang hanya duduk diam sambil melihat mereka makan.

“Ini mangkuknya,” ucap Luhan sambil menyerahkan satu mangkuk kosong pada Suho.

“Eung, gomawo.”

Mereka seperti pemaksa. Tapi… mereka tidak sedang memaksa.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s