Perfect One Pt.7


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser // Pt.1 // Pt.2 || Pt.3

Pt.4 || Pt.5 || Pt.6

.

“Aaaaaaakh!! Semua menyebalkan!!!!”

Dia akan berteriak sekuat tenaga untuk melepas semua beban di pikirannya. Tipe penyendiri seperti dirinya memang tidak akan mudah untuk mengungkapkan isi pikiran pada orang lain. Jiwanya adalah jiwa anti social. Dia butuh ketenangan ketika menjernihkan pikiran.

“Semua siapa?”

DEG!

Itu suara yang amat familiar. Ia pun sontak berbalik untuk memastikan bahwa orang itu adalah orang yang ada di pikirannya sekarang.

“Siapa yang menyebalkan?”

Benar, orang itu adalah Youngra. Gadis itu sepertinya baru saja sampai di sini dan sekarang sedang berjalan mendekati Suho.

“Berhenti di situ.”

Mendadak Youngra berhenti. Dahinya berkerut hingga menghasilkan lipatan-lipatan kecil. “Kenapa?”

Jangan mendekat!

“Tetaplah di situ.”

Youngra masih bingung dengan ekspresi heran. Akan tetapi dia tetap berdiri di posisi semula.

Suho mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya tenang. Ia pun mulai mengambil langkah maju.

Kenapa kau selalu muncul di saat aku kesal, sih?

Kamu berniat mengganggu ketenanganku?

Hubungan kita telah berakhir, kenapa kau mengatakan kalau hubungan kita tidak akan berakhir?

Kamu pikir aku akan semakin menggilai kamu yang kurus ini?

Aku bukan namja seperti itu. Aku tidak butuh yeoja cantik.

Aku tidak pernah berharap bertemu denganmu lagi. Kau mengerti tidak sih?

Apa sekarang kau ingin menggodaku? Aku tidak akan mengajakmu berkencan!

Suho berhenti tepat selangkah di hadapan gadis itu. untuk beberapa saat mereka hanya saling berpandangan. Youngra harus sedikit mengangkat kepala karena tubuh Suho sudah lebih tinggi darinya. Mereka saling memperhatikan perubahan wajah mereka akibat masa pubertas. Diam-diam Youngra mengagumi wajah Suho yang semakin tampan.

“Young.. aku merindukanmu.”

Sontak kedua mata Youngra melebar.

“Jadi tolong…. Pergilah sejauh-jauhnya dari pandanganku.”

Tanpa senyuman, tanpa air mata, Suho lantas pergi meninggalkan Youngra. Dia tidak lagi berjalan, melainkan berlari. Karena dengan berlari, bulir-bulir air mata yang tertahan di pelupuk matanya akan kering dengan cepat.

**

Tak terasa, ujian nasional telah tiba.

Saat-saat seperti ini adalah saat yang paling menegangkan bagi para siswa kelas akhir khususnya kelas 6 SD, 3 SMP dan 3 SMA. untuk siswa di bawah kelas itu, dengan bangga hati harus diliburkan agar tidak mengganggu konsentrasi para siswa kelas akhir.

Suho menempati ruang 8. Dia datang lebih pagi dari biasanya. Itu karena dia ingin lebih siap dalam menghadapi ujian. Mata pelajaran yang akan diujikan hari ini adalah bahasa Korea dan IPA.

Beberapa menit setelah kedatangannya, hadirlah seorang siswa lain. Suho tidak sempat melihat siapa siswa itu karena dia terlalu berkonsentrasi dengan bukunya.

Tigapuluh menit kemudian, lambat laun ruang ujian yang ditempatinya ini mulai penuh dengan para peserta ujian. Ruangan mulai ramai, Suho paling benci suasana seperti ini ketika dia sedang belajar. Di saat dia berencana untuk pergi ke perpustakaan, bel tanda ujian tiba-tiba dibunyikan. Suho mendesah pasrah. Dia segera memasukkan bukunya ke dalam tas dan berganti mengeluarkan alat tulis.

Guru pengawas membagikan lembar soal dan jawaban ke setiap bangku. Suho terlalu malas melihat guru itu dan memilih mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Tak sengaja, dia malah bertemu tatap dengan seorang gadis yang duduk di dekat jendela. Gadis itu tengah menatapnya dengan mata melebar.

“Kau sedang lihat apa? Ini soalmu,” tegur sang pengawas yang lantas membuat Suho mengalihkan pandangan dari gadis itu.

“Ah.. kamsahammida.”

Di saat guru itu pergi, Suho tidak lagi menoleh ke arah lain. Dia memilih untuk berkonsentrasi pada lembar soalnya.

Ini bukan tentang dia…

**

Dalam lima hari ujian berlangsung, Suho harus bisa menahan dirinya untuk tidak menyapa bahkan melihat gadis itu. sesungguhnya dia tidak membenci gadis itu. dia hanya menahan diri untuk tidak ‘menyuburkan’ perasaan cintanya ke gadis itu. dulu dia memang pernah bilang kalau perubahan fisik Youngra sama sekali tidak menarik perhatiannya. Akan tetapi, itu hanya terucap secara lisan, dalam hatinya, dia benar-benar tertarik pada gadis itu lebih dari yang dulu.

Begitu ujian nasional selesai, presiden sekolah yang kini dijabat siswa kelas 2, mengadakan acara memperingati hari valentine. Acara ini diadakan secara diam-diam, di mana para gadis dibiarkan meletakkan hadiahnya di loker para lelaki. Uniknya, si presiden sekolah yang baru ini memberikan kunci cadangan pada masing-masing loker siswa laki-laki.

Dan agar para lelaki tidak tahu, presiden school mengalihkan perhatian para siswa laki-laki dalam turnamen olahraga yang wajib diikuti. Suho sebenarnya malas mengikuti turnamen macam ini. Akan tetapi dia sudah lebih dulu terpilih sebagai perwakilan kelas dalam taekwondo.

Mau tak mau, suka tidak suka, dia tetap mengikuti turnamen ini.

“Wah… kau kelihatan keren dengan pakaian itu, Myeon,” ucap Lay yang ikut berkumpul di kelas 3-1 bersama Suho dan siswa laki-laki lainnya. Lay ikut pertandingan basket bersama empat rekannya, dia nampak sudah memakai rompi bertuliskan namanya Yixing Zhang di punggung berserta nomornya 10.

“Diamlah. Aku sedang mencari cara untuk lolos dari penyiksaan ini,” ketusnya dengan tangan menahan dagu di atas meja.

Lay terkekeh heboh. “Penyiksaan? Yaa, percayalah padaku, kau bisa memenangkan turnamen ini. Ini turnamen terakhir kita. Kau sungguh tidak ingin memberi kenangan pada sekolah yang sebentar lagi kita tinggalkan ini.”

Suho mendengus. “Aku benci kata-kata puitismu.”

Lay hanya nyengir lebar. “Sejak dulu kau memang tidak berubah.”

“Tentu saja. Memangnya aku manusia serigala?”

Lay lantas menggeleng. “Kau lebih mirip kucing hutan dari pada manusia serigala.”

“Mwo? Kau mau mati?”

Lay menjulurkan lidahnya lalu pergi dengan cepat. dia sih tidak takut pada Suho. Wajah Suho meskipun sedang marah, tetap akan terlihat seperti anak kecil yang menggemaskan. Suho hanya mendengus melihat kepergian Lay.

“Yaa Suho! Taekwondo sebentar lagi akan dimulai.”

“Eo,” balas Suho singkat dan segera pergi menuju tempat taekwondo berlangsung.

Ketika menyusuri koridor, dia mulai menemukan keanehan. Tidak ada seorang gadis pun yang lalu lalang di sekolah sejak pagi tadi. Semua siswa yang datang adalah siswa laki-laki. Suho masih belum sadar kalau hari ini bertanggal 14 Februari. Dia terlalu focus pada sekolah sehingga tidak hafal dengan tanggal-tanggal ‘keramat’ seperti hari ini.

Tapi Suho tidak mau ambil pusing. Dia malah lebih senang kalau begini karena tidak akan ada perempuan yang akan mengganggu kehidupannya. Ingat, dia berjiwa antisocial.

Sesampainya di sebuah ruangan besar yang digunakan sebagai tempat turnamen taekwondo, dia menemukan hampir 20 siswa yang telah berkumpul di sana. Sepertinya mereka juga baru datang karena masih melakukan stretching. Seorang lelaki berkacamata duduk di meja panitia yang sedang membaca selembar kertas.

“Oh? Bukankah kau mantan presiden school sebelumnya?”

Suho mendapati seorang siswa kelas 2 yang tiba-tiba berbicara padanya. perawakan siswa itu tinggi, matanya bulat dan telinganya lebar seperti peri. Ekspresi siswa itu terlihat jenaka, tapi sejenaka-jenakanya seseorang, Suho tidak akan tersenyum jika dia tidak mengenal orang itu.

“Ne. kau siapa?”

Siswa itu membungkuk 90 derajat penuh dengan kilat. “Namaku Park Chanyeol. Aku dari kelas 2-3.”

“Chan..yeol?”

“Ne. Aku sering mendengar tentangmu sejak kelas 1. Ah.. kau pasti tidak tahu kalau aku sangat mengagumimu. Aku sangat mengagumimu dan juga Lay sunbae. Kalian terlihat sangat keren. Aku ingin sekali bergabung dengan kalian berdua,” celoteh Chanyeol dengan cepat. dia mana peduli dengan ekspresi Suho yang berkerut bak kasur lipat. Yang terpenting baginya adalah, aku mengagumimu Suho sunbae.

“Bergabung apa?”

“Tentu saja bergabung dengan EXO. Aku tertarik pada kalian karena nama itu. kupikir akan sangat keren kalau aku bisa bergabung dengan kalian.”

Suho menatap siswa itu heran. Ada saja adik kelas yang seperti ini. Dia tertarik padanya dan Lay hanya karena nama EXO? memang apa yang keren dari nama EXO selain pemberian dari gadis special dalam hidup Suho?

“Yaa, EXO bukan nama geng. Itu hanya sebuah nama.”

“Ya itu, karena itu nama, aku ingin sekali bergabung dengan kalian. Boleh ya? boleh boleh?”

Menjijikkan, dengus Suho ketika melihat si hoobae tinggi itu beraegyo di depannya. Iya sih, dengan mata bulat itu Chanyeol akan terlihat manis saat beraegyo. Tapi, Suho paling tidak suka dengan berbagai macam aegyo –meski dia pintar melakukannya-.

“Keurae keurae. Kau bisa bergabung dengan kami. Tapi ingat, ini bukan nama geng.”

“Assa! Gomapda sunbae-nim, jinjja gomawo,” Chanyeol membungkuk berulang kali tanda berterima kasih yang dalam.

“Iya iya, sudah hentikan itu.”

“Baik,” balas Chanyeol cepat diiringi cengiran gigi ratusannya. Suho hanya menghela napas.

**

Acara itu berakhir pukul 8 malam. di pertandingan taekwondo, dimenangkan oleh Suho. Dia mendapat juara pertama setelah berhasil mengalahkan Chanyeol yang ternyata mahir bela diri. Tapi meskipun begitu, Suho dan Chanyeol tetap sportif. Mereka tidak mencampurkan urusan pertandingan dengan urusan EXO. Chanyeol tetap menjadi anggota baru EXO apapun yang terjadi.

Untuk pertama kalinya, Suho berjalan dengan orang lain selain Lay dan Youngra. Dia sih sebenarnya terpaksa, karena Chanyeol sulit sekali dilarang untuk tidak mengikutinya. Hoobae yang tidak pernah berwajah sedih itu ngotot mengikutinya.

“Wah.. sunbae terlihat keren tadi. Aku tidak tahu kalau sunbae sudah bersabuk hitam.”

Suho menyibakkan poninya ke atas hingga membentuk wave hair. “Lebih baik panggil aku hyung.”

“Bolehkah? Sungguh? Sungguh aku boleh memanggilmu hyung?”

Suho langsung menoleh memperlihatkan tatapan tajamnya. Tapi ya namanya juga Chanyeol, diperlakukan begitu dia masih sempat tersenyum lebar.

Suho menghela napas. “Ya. sungguh.”

“Assa! Aku tidak salah mengagumimu hyung. Kau memang keren.”

Suho menggeleng pelan sembari mempercepat langkahnya. tujuannya sekarang adalah ke koridor loker. Dia ingin mengambil jaket yang sengaja dia tinggalkan di loker. Dia paling tidak suka kalau pulang kena masuk angin karena nekat tidak memakai jaket.

“Eh hyung, kenapa kau tidak membentuk geng saja? Bukannya bagus, geng EXO?”

“Tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu.”

“Tapi hyung, kita bisa membuat geng yang tidak hanya berfokus pada perkelahian saja. Kita tetap bisa focus belajar kok. Geng kan bisa untuk hal positif juga.”

“Sejak awal aku tidak berminat dengan geng yang kau sebut-sebut itu. sudahlah. Kan sudah kubilang kalau ini bukan geng.”

Suho berhenti di depan lokernya, mengeluarkan kunci dari saku, lalu membuka loker itu.

TUK TUK TUK!

Beberapa kotak kado berjatuhan begitu pintu terbuka. Suho maupun Chanyeol sama-sama terkejut melihat gundukan kotak kado berbagai bentuk itu.

“Wah… kau sangat popular, hyung. Apa setiap hari kau selalu kebanjiran kado seperti ini?” seru Chanyeol sembari memungut satu kotak kado yang jatuh di dekat kakinya.

“Baru kali ini sebenarnya. Eh, tanggal berapa sekarang.”

Chanyeol yang tengah membolak-balik kotak kado di tangannya, langsung menatap Suho dengan mata lebarnya. “Empatbelas feb..”

Mereka berdua sontak membulatkan mata.

“Empatbelas Februari!” seru keduanya serempak.

Tanpa sadar Chanyeol menjatuhkan kotak kado di tangannya dan langsung melesat menuju lokernya yang tidak jauh dari loker Suho. Nasibnya sama. Begitu pintu loker dibuka, kotak kado yang terlalu memenuhi lokernya langsung berjatuhan.

Suho kembali memandang lokernya. Dia memungut satu kotak berpita orange yang ukurannya tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Kotak ini begitu menarik perhatiannya. Dia langsung membuka kotak itu tak sabaran.

Isinya hanyalah secarik kertas serta sebuah flashdisk. Suho mengambil kertas tersebut.

Apakah semua ini akan baik – baik saja untukmu jika mulai besok kita tidak saling bertemu lagi?

Mungkin kalimat ‘Selamat Tinggal’ yang bisa kau ucapkan

Aku mulai ketakutan dengan suaramu yang selalu menemani hariku. Tolong jangan ucapkan itu seakan kau sudah siap untuk berpisah denganku

Perpisahan sudah terlihat jelas denganmu yang sedang menahan amarah

Aku mencoba tersenyum, tapi air mata yang menjawab

Selamat malam, seperti sebelumnya

Biarkan malam ini berlalu seakan tidak terjadi apapun

Selamat malam, ucapkanlah itu dari pada salam perpisahan

Siapa yang tahu, mungkin esok hari hatimu akan berubah dimana perpisahan hanya untuk malam ini

Semuanya akan kembali, esok hari

Siapa yang tahu jika ternyata tidak ada kata berpisah untuk seseorang yang sudah tidak ingin kau temui

Seharusnya kau tidak mengucapkan perpisahan dengan begitu mudah secara berulang – ulang

Semua ucapanmu, baru aku mengerti sekarang

AKu fikir kau mengerti

Mungkin inilah cinta

“Maafkan aku,” kalimat itu tidak ingin kudengar lagi, mari kita bicara

Jangan ucapkan selamat tinggal, wajah sendumu sungguh tidak ingin aku lihat. Peluk dan tataplah aku

Siapa yang tahu, mungkin hatimu akan berubah

Aku akan pura – pura memasang ekspresi yang kau suka. Dengan senyum bodoh ini, biar aku sembunyikan setiap tangisan asal aku bisa melihatmu

“Hyung?”

Suho cepat-cepat melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam kotak. Ia pun menoleh pada Chanyeol yang berdiri di sampingnya dengan membawa sebukit kotak kado.

“Mau kau apakan itu?”

“Tentu saja kubuka satu persatu. Kau jangan pulang dulu ya, hyung? Temani aku membongkar semua kado ini.”

“Kau kan bisa membuangnya.”

Chanyeol lantas menggeleng. “Kita harus menghargai pemberian orang, hyung. Kalaupun aku tidak mau menerima, aku kan bisa membongkarnya saja. Kau juga bisa membongkar kadomu. Ayolah hyung.. hari ini saja..”

Sebenarnya Suho ingin menolak. Tapi karena sisi hatinya yang lain merasa tidak tega kalau membiarkan Chanyeol di sekolah sendiri, terpaksa Suho mengiyakannya.

Mereka akhirnya sudah ada di ruang kelas 1-2, kelas yang paling dekat dengan koridor loker. Keduanya langsung menggelar tikar yang tersedia di pojok ruangan lalu meletakkan semua kotak kado di sana. Kalau kotak kado yang Suho terima dan Chanyeol terima disatukan, maka gundukannya akan semakin tinggi.

“Aku tidak menyangka kalau aku punya banyak fans. Padahal kan, aku baru saja gabung EXO,” gumam Chanyeol ketika membuka kadonya satu persatu.

“Apa kau kira EXO sepopuler itu? aku dan Lay sama sekali tidak memedulikan kepopuleran EXO,” balas Suho dengan ketus seperti biasa.

“Chanyeol oppa, aku mencintaimu, maukah kau berkencan denganku? Chanyeol-ie, kau sangat manis, aku memberimu cokelat agar kau semakin manis,” gumam Chanyeol yang sepertinya sedang membaca surat-surat yang dia dapatkan dari dalam kotak.

“Ini sangat membuang waktu. Apa mereka pikir ini romantic?” Suho menendang kotak-kotak kado miliknya hingga berserakan ke mana-mana.

“Tapi ini lucu, hyung. Apa kau mendapat banyak surat cinta? kenapa kau tidak mencoba mengencani mereka satu persatu? Mungkin akan ada satu orang yang cocok denganmu.”

Suho menatap Chanyeol tak suka. “Itu sama saja dengan mempermainkan perasaan. Apa kau selalu melakukan itu?”

Chanyeol menggendikkan bahu. “Hanya berkencan, bukan memacari.”

Suho lagi-lagi menatap Chanyeol heran. “Ada ya, hoobae yang pura-pura polos sepertimu. Huh, lagian apa gunanya berkencan dengan mereka, hanya membuang-buang waktu.”

“Oh, atau kau sudah punya kekasih, hyung?”

Pertanyaan itu sukses membuat Suho gelagapan. “Kekasih? Kekasih siapa? Tidak. kau jangan sembarangan bicara.”

“Lalu kenapa kau tidak mencoba saranku? Itu sangat berguna untukmu, hyung. Sebentar lagi kau kan masuk SMA. tidak lucu kalau misalnya kau tidak punya pengalaman berkencan.”

Anak ini sok tahu sekali.

“Ya ya ya. aku akan ikuti saranmu, tapi tidak sekarang.”

Chanyeol nyengir sambil memperlihatkan jempolnya. “Itu bagus.”

“Ck, kapan selesainya? Aku sudah lapar ini!”

Sepertinya aku harus mengikuti saran anak ini untuk menjauhkan Youngra.

**

Acara pelepasan siswa kelas 3 akan diadakan sebentar lagi. Tapi tiba-tiba, ada sebuah kabar panas bahwa Suho sedang berkencan dengan salah satu teman sekelasnya. Orang yang dia kencani itu bernama Song Jihyo.

Sekolah jelas geger. Siapa sih yang tidak kenal Suho? Seorang anak kaya yang disebut-sebut sebagai pemimpin EXO –grup duo legendaries yang kini berganti arti menjadi grup trio penuh pesona- yang pernah memenangkan berbagai olimpiade tingkat nasional. Kabar itu meluas dengan cepat kurang dari satu jam. Berjalan dari mulut ke mulut sampai membuat berita itu tidak lagi menjadi fakta, namun rumor.

Ada yang mengatakan Jihyo berkencan untuk mengambil semua uang Suho. Ada yang bilang kalau keduanya pernah berciuman di tempat gelap. Dan rumor-rumor yang lain. Padahal, jika mereka tahu berita yang sebenarnya, mereka pasti tidak akan berbicara seperti itu.

Kisah singkatnya…

Malam itu sepulang dari sekolah tanggal 14 Februari, Suho langsung mengirim pesan pada nomor Jihyo dengan isi pesan :

Besok berkencan denganku. –Suho-

Begitu klik send, dia lekas menonaktifkan ponselnya dan melepas semua perangkatnya. Dia melakukan itu dengan alasan, pertama dia tidak sungguhan mengajak Jihyo kencan, kedua dia menyesal telah mengirim pesan itu.

Dan begitu keesokan harinya, Suho dan Jihyo memang benar-benar berkencan. Tapi, Suho masih tidak bisa mengontrol cara bicaranya yang ketus dan terkesan menyinggung perasaan. Dia dan Jihyo sewaktu makan berdua satu meja di kantin, malah tidak terlihat seperti orang berkencan karena Suho lebih banyak berdiam diri.

“Nanti sepulang sekolah, kita berkencan di mana?” tanya Jihyo dengan mata berbinar penuh harap.

“Sekarang ini kencan,” balas Suho cepat.

Jihyo sebenarnya kecewa, tapi dia berpositif thinking kalau Suho hanya mengajaknya bercanda. “Haha, tidak lucu Suho-ya. bagaimana kalau kita pergi ke Namsan?”

“Tidak ada yang menarik di sana.”

“Kalau sungai Han?”

“Apa bagusnya lihat air?”

“Lotte World?”

“Sama sekali tidak menyenangkan.”

Bibir Jihyo mengerucut. “Lalu kemana?”

“Nanti jam kosong, kutunggu di perpustakaan,” Suho lekas mengangkat kotak makannya yang dia kembalikan ke meja utama kantin. Tanpa mengucapkan selamat tinggal atau bahkan melirik, dia langsung melesat kembali ke kelas. Dia mana tahu kalau ternyata Jihyo malah beranggapan kalau dia mengajak gadis itu ke perpustakaan untuk bisa berkencan ‘lebih dalam’. Jihyo ini, tipikal gadis yang mudah membesar-besarkan suatu masalah.

Ternyata… harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Ketika jam kosong di perpustakaan, Suho bukannya melakukan apa yang ada dipikiran Jihyo. Lelaki itu malah sibuk menyusuri jalan tengah antara rak-rak buku sambil memunguti buku yang menarik perhatiannya. Buku lebih menarik dari Jihyo.

Ya.. mereka memang hanya berdua di sini. Tapi Suho sama sekali mengabaikannya. Mereka duduk berhadap-hadapan di satu meja, tapi dengan buku-buku yang menghalangi arah pandang Jihyo. Buku-buku ini begitu tebal dan juga berdebu.

“HATSYI!”

Suho reflek menutup hidungnya. “Kalau kau tidak kuat debu, silakan keluar.”

“Oh? Lalu bagaimana kencannya?”

“Ya ini kencan.”

Kesabaran Jihyo telah mencapai puncaknya. Dia tiba-tiba bangkit sambil menggebrak meja. “Kau benar-benar. Sebenarnya kau serius tidak sih, berkencan denganku?”

Suho hanya meliriknya sekilas. “Memang kenapa?”

Kedua tangan Jihyo mengepal hingga kuku-kuku jarinya memutih. “Kau sangat menyebalkan!”

Jihyo menghentakkan kakinya kemudian bergegas pergi. Tidak ada niatan Suho untuk menahannya. Kalau mau pergi, ya silakan, itulah yang ada dalam benaknya. Lagipula dia juga kesal dengan gadis itu. Bagaimana bisa dia jatuh cinta ke gadis itu kalau gadis itu menganggap remeh apa yang disukainya? Suho paling tidak suka hobi menyendirinya dijadikan alasan ketidakromantisannya. Entah kenapa, Suho malah terpikirkan Youngra.

Apa gadis seperti itu hanya satu-satunya di dunia?

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s