Perfect One Pt.6


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser // Pt.1 // Pt.2 || Pt.3

Pt.4 || Pt.5

.

“Ada apa?” tanya Youngra begitu dia menemukan Suho di sudut perpustakaan yang sepi. Mereka duduk berhadapan mengelilingi sebuah meja dengan beberapa buku yang berserakan di atas meja itu.

Suho masih memandang Youngra. Setelah beberapa lama, dia akhirnya menghela napas.

“Kau masuk kelas apa?”

Dahi Youngra berkerut tidak mengerti. Jadi Suho menyuruhnya ke perpustakaan hanya untuk menanyakan ini? Pikirnya. Tapi dari raut wajah Suho, Youngra tidak bisa mengucapkan kalimat itu.

“Dua… enam.”

Kali ini dengusan Suho terdengar kasar. Lelaki itu tiba-tiba mengacak rambutnya yang membuat Youngra takut.

“W-wae?”

Suho mendadak bangkit. Tanpa mengucapkan apapun, dia pergi begitu saja. Youngra yang tidak mengerti dengan jalan pikir Suho, segera mengejar lelaki itu.

“Suho-sshi? Tunggu. Ada apa sebenarnya?”

Lagi-lagi secara tiba-tiba Suho berbalik.

“A-ada apa denganmu?”

Aku juga tidak tahu!!! aku benci pisah kelas denganmu!

Suho menghela napas gusar. Dia melangkah lebih dekat pada Youngra dan mendadak saja…

CHUP!

“Hubungan kita berhenti sampai di sini,” ucap Suho begitu saja sebelum beranjak pergi dari sana. Apa yang telah diperbuatnya –mencium dahi Youngra-, kembali membuatnya menyesal.

Goodbye..

**

Di kelas 2 ini, Suho tidak tampak berkeliaran seperti saat di kelas Excellent. Dia lebih banyak berada di kelas dan jarang pergi ke kantin karena membawa bekal sendiri. Dia melakukan semua ini semata-mata untuk menghindari Youngra. Ia bertekad untuk tidak lagi peduli dengan segala keadaan gadis itu. memang berlebihan sih, tapi apa yang dilakukannya ini terbilang wajar karena dia masih berusia 14 tahun.

Hubungannya dengan Lay masih berjalan baik. Bagaimana tidak baik kalau mereka selalu kemana-mana berdua sebagai petinggi presiden school. Nama keduanya langsung melejit bak roket karena status itu. Mereka tidak dikenal sebagai presiden school, melainkan mereka dikenal sebagai EXO.

Suho mengatakan pada Lay untuk tidak mengungkit-ungkit atau bercerita soal Youngra, dan untungnya Lay memahami dengan baik. Setiap keduanya bertemu, Lay selalu menahan diri untuk tidak menceritakan perihal Youngra. Padahal dia ingin sekali bercerita pada Suho kalau Youngra kini berubah.

Suho tidak mengetahui fakta itu sampai keduanya menginjak kelas 3. Kali ini Suho dan Lay ditempatkan di satu kelas, yaitu sama-sama kelas 3-1. Di kelas tiga ini, sudah tidak ada waktu lagi bagi mereka untuk bersenang-senang. Suho memforsir tenaga dan pikirannya untuk menyerap semua pelajaran dan menampungnya di otak. Dia pikir, dengan begini dia bisa menguasai materi untuk menyongsong ujian nasional nanti.

Tapi yang terjadi sebenarnya, dia malah jatuh sakit.

“Tuan muda, apa ada yang anda butuhkan?” entah untuk kali keberapa, seorang maid menanyakan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan maid-maid sebelumnya.

“Tidak ada. Tolong keluarlah,” usir Suho halus sembari merekatkan selimut di tubuhnya. Dia menderita demam tinggi disertai flu dan batuk.

Maid itu membungkuk 90 derajat penuh sebelum beranjak pergi. Dia menutup pintu dengan pelan agar tidak mengganggu istirahat anak majikannya.

Baru beberapa menit kemudian seseorang mengetuk pintu.

“Aku tidak butuh apa-apa!” pekik Suho saking kesalnya dengan tingkah laku maid yang terus-terusan mengganggu istirahatnya.

Akan tetapi pintu tetap terbuka. Itu bukanlah maid, melainkan seorang gadis. Gadis itu datang sendirian dengan dress selutut bermotif bunga-bunga dan membawa tas selempang berwarna cokelat. Dia menutup pintu dengan pelan dan berjalan mendekati ranjang yang ditempati Suho.

“Aku tidak butuh apa-apa. Kenapa kalian mengganggu istirahatku terus?” celoteh Suho dengan mata memejam sembari mengeratkan selimutnya.

“Suho-sshi.”

Mendadak Suho membuka mata. Suara yang sangat familiar ini membuatnya terkejut setengah mati. Di dapatinya sosok gadis berkacamata yang duduk di tepian ranjangnya. Gadis itu menatapnya sambil tersenyum.

“Young?”

“Suhu tubuhmu berapa? Wajahmu merah sekali,” ucap gadis itu ringan sambil mengusap keringat di dahi Suho.

“K-kau..”

“Sebentar, akan kuambilkan kompres,” Youngra bergegas pergi setelah meletakkan tas selempangnya di kaki ranjang. Dia nampak tergesa-gesa karena berlari.

Suho memandang pintu kamarnya masih dengan ekspresi terkejut. Dia masih belum menyangka kalau Youngra akan datang ke rumahnya di saat kondisinya drop seperti ini. Dia pikir Youngra akan membencinya dan memilih melupakannya. Tapi nyatanya…

Mungkin ini ulah Lay. Satu-satunya orang yang tahu alamat rumahnya ya hanya Lay. Youngra tidak pernah dia ajak ke tempatnya.

Bukan hanya kedatangan Youngra yang terkesan tiba-tiba. Suho juga terkejut dengan perubahan fisik Youngra. Hampir satu tahun lebih dia tidak menemukan batang hidung Youngra, dan begitu bertemu dia bukan lagi gadis gendut seperti dulu. Tubuhnya mengecil, pipinya makin tirus, kedua kakinya kecil bak pensil, beberapa bagian tubuhnya mulai terbentuk dengan baik dan kulitnya makin bersinar. Suho tidak yakin kalau itu adalah Youngra kalau gadis itu tidak bersuara.

Youngra kembali dengan membawa baskom berisi air kompresan. Gadis itu duduk di tempat semula dengan memangku baskom kecil itu. dia mencelupkan handuk putih yang dia lipat hingga kecil ke dalam air itu lalu meremasnya. Baru kemudian dia meletakkan handuk sedikit basah itu ke atas dahi Suho.

“Kau sudah makan? Para maid mendesakku untuk memaksamu makan. Tapi aku tidak suka memaksa seseorang. Kalau kau bersedia makan, aku akan mengambilkan makanannya. Kalau tidak, ya sudah.”

“Aku tidak mau.”

“Keurae. Kau beristirahat saja kalau begitu. Pasti kau terganggu karena maid-maid itu kan? Aku sudah memohon pada mereka untuk tidak mengganggumu dulu. Sekarang kau bisa bebas beristirahat.”

Youngra sudah bersiap-siap pergi dengan baskom di tangannya. Namun dia mendadak berhenti.

“Kajima.”

Youngra pun menoleh. “Ne?”

“Jangan kemana-mana. Di sini saja.”

Youngra tersenyum simpul. “Keurae. Tapi aku mengembalikan ini ke belakang dulu ya? aku janji tidak akan kemana-mana.”

Youngra segera melangkah pergi tanpa mendengar jawaban Suho. Dia memang hanya mengembalikan baskom ke dapur. Lagi pula niatnya ke sini adalah untuk bertemu Suho. Berkat Lay, dia bisa datang ke sini untuk melihat kondisi ‘mantan kekasihnya’.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Suho begitu Youngra sudah kembali ke kamarnya. Gadis itu tidak lagi duduk di pinggiran ranjang. Ia menyeret sebuah kursi dari meja belajar Suho untuk duduk di samping ranjang itu.

“Apa yang terjadi memang?” tanya balik Youngra dengan wajah ceria seperti sebelumnya.

“Kau bukan gadis gendut lagi,” jawab Suho blak-blakan. Youngra hanya meresponnya dengan senyuman.

“Oh.. lalu kau ingin aku menjawab apa?”

“Itu sih terserah padamu saja. Tidak dijawab ya sudah,” ketus Suho tiba-tiba ketika ia sadar kalau dia masih peduli pada ‘mantan kekasihnya’ itu. lagi pula, bukan Suho namanya kalau dia benar-benar memedulikan orang lain terlebih lawan jenis.

Youngra tersenyum tipis. “Ya sudah, aku tidak akan menjawab.”

“Ke—y-ya terserah,” Suho lekas membungkus kepalanya dengan selimut. Duh.. benar-benar malu kalau Youngra tahu Suho masih ada harapan padanya.

Youngra terkikik gemas. “Yaa, kompresanmu nanti lepas. Baiklah, akan kujawab. Kau sungguh ingin tahu kenapa aku berubah?”

Suho sontak menyibakkan selimutnya. “Wae?”

Youngra membetulkan letak kain di dahi Suho. “Karena aku ingin memberimu kejutan.”

“Mwo?”

Youngra mengangguk pasti. “Ya, ini kejutan untukmu Suho-sshi.”

“Kejutan? Kejutan untuk apa? Apa maksud-” Suho tidak melanjutkan ucapannya ketika tiba-tiba Youngra mengecup dahinya. Gadis itu pun tersenyum kemudian bangkit seraya menyandang tasnya.

“Hubungan kita tidak akan berhenti sampai di sini. Aku pulang dulu, ya? annyeong.”

Sebelum Suho menahannya, Youngra lekas berlari meninggalkan kamar tersebut. sedangkan Suho sendiri masih terdiam di ranjangnya. Masih terpikirkan apa yang barusan diperbuat Youngra.

Hubungan kita tidak akan berhenti sampai di sini?

**

Dua hari kemudian, Suho akhirnya masuk sekolah. Seperti biasa, dia selalu disambut Lay begitu turun dari mobil.

“Pagi chingu. Kau sudah sembuh?” celoteh Lay sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Suho yang langsung ditepis oleh Suho sendiri.

“Ck, kalau aku masuk, kau pikir aku masih sakit?”

“Oh.. tidak sih, hehe,” cengir Lay tanpa dosa.

“Jujur saja, kau kan yang memberitahu alamat rumahku ke Youngra?” todong Suho sembari menoleh ke Lay yang tepat ada di sebelahnya.

“Eh? Dia bilang ya? padahal sudah kubilang untuk jangan bilang padamu.”

Suho mendengus lalu kembali menoleh ke depan. “Memang dari siapa lagi dia tahu rumahku.”

Lagi-lagi Lay nyengir. “Kalau tidak begitu, sampai nanti kau tidak akan tahu apa yang berubah darinya. Sekarang dia makin cantik kan? Apa kau tidak mengajaknya kencan lagi?”

Suho melirik sekilas pada lelaki di sebelahnya. Detik berikutnya, dia melepaskan rangkulan tangan Lay dan mempercepat langkah tanpa ada niatan menjawab. Dia lekas memakai earphone nya sebelum Lay berteriak.

“Yaa! kau belum menjawab pertanyaanku? Jadi kau tidak mengajaknya kencan? Namja macam apa kau ini. Yaa! tunggu aku!” Lay berlari-lari kecil menyusul kemana Suho pergi.

**

Hubungan kita tidak akan berhenti sampai di sini…

Hubungan kita tidak akan berhenti sampai di sini…

Hubungan kita tidak akan berhenti sampai di sini…

UHUK!

Buru-buru Suho meraih botol minum Lay. Dia meneguk isinya hingga ludes. Lay menatapnya heran, lagi-lagi Suho mengulangi kebiasaan buruknya.

“Eh eh! Sudah, jangan makan lagi,” larang Lay begitu Suho akan mengulangi kegiatannya memasukkan nasi ke dalam mulut tanpa henti. Lay kasihan sekaligus sebal. Dia kasihan kalau Suho tersedak terus-menerus, di mana itu akan menghabiskan minumannya lagi dan lagi.

“Berikan padaku!” seru Suho seraya merebut kotak nasinya. Terjadilah aksi saling berebut kotak makan yang akhirnya dimenangkan oleh Lay.

“Di sini sudah tidak ada minuman lagi. Kalau kau tersedak lagi, kau bisa mati.”

Suho membanting sumpit ke atas meja hingga menimbulkan suara gemuruh. Dia tidak peduli dengan tatapan teman-teman sekelasnya yang mayoritas merasa kesal. Dia hanya peduli dengan dirinya yang tidak bisa melampiaskan rasa kesalnya.

“Harusnya kau beli banyak minuman,” dengus Suho yang malah menyalahkan Lay.

“Kenapa harus aku? Kau sendiri kenapa tidak bawa minum dari rumah? Kau bahkan bisa membawa dispenser kalau perlu.”

Suho lagi-lagi mendengus.

“Yaa, aku benar-benar benci dengan kebiasaan burukmu ini. Mau sampai kapan kau melakukan hal ini? Kau bisa mencelakai dirimu sendiri. Kau kan bisa melampiaskannya ke yang lain, yang setidaknya tidak membahayakan nyawamu.”

“Jangan menceramahiku. Kau sama sekali tidak tahu apapun,” cetus Suho akhirnya sebelum beranjak pergi.

“Mwo? Tidak tahu apapun? Keurae, aku akan membiarkanmu tersedak nanti. Lihat saja!”

Suho sudah tidak mendengar apa yang diucapkan Lay karena dia sudah jauh dari kelas. Dia berlari menuju lantai teratas sekolah untuk menenangkan diri. Inilah jalan terakhir yang dia ambil untuk melampiaskan rasa kesalnya.

“Aaaaaaakh!! Semua menyebalkan!!!!”

Dia akan berteriak sekuat tenaga untuk melepas semua beban di pikirannya. Tipe penyendiri seperti dirinya memang tidak akan mudah untuk mengungkapkan isi pikiran pada orang lain. Jiwanya adalah jiwa anti social. Dia butuh ketenangan ketika menjernihkan pikiran.

“Semua siapa?”

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s