Perfect One Pt.5


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser // Pt.1 // Pt.2 || Pt.3

Pt.4

.

Keesokan harinya, Suho kembali menjadi Suho yang dingin dan tertutup. Dia sama sekali tidak melirik Youngra, apalagi menyapanya. Lelaki itu, begitu sampai di kelas langsung membuka buku diktatnya dan mengerjakan beberapa soal. Dia sama sekali tidak peduli dengan Youngra yang kini memandangnya.

“Dia kenapa ya?” gumam gadis itu dengan tangan yang sibuk mengetuk-ngetukkan ujung pensil ke permukaan meja.

“Ada apa?” sahut Lay tiba-tiba. Lelaki itu sekilas mendengar apa yang diucapkan Youngra. Dia pikir, ada sesuatu yang tidak dimengerti gadis itu.

“Oh? Aku tidak apa-apa, sungguh,” balas Youngra langsung.

“Sungguh?”

“Ne.”

Lay memalingkan pandangan pada Suho. “Yaa, kau kemana saja kemarin? Hasil president school sudah diumumkan. Kau yang terpilih menjadi president school baru.”

Suho menoleh sekilas. “Benarkah?”

Lay mendesis. “Kau ada apa sih? Kurasa kemarin kau tidak semenyebalkan sekarang.”

“Diamlah. Aku sedang mengerjakan banyak soal.”

Lay berdecak. “Terserahlah. Nanti kau harus mengikuti rapat perdanamu. Aku tidak bisa datang.”

“Oh, baiklah.”

Youngra yang mendengar pembicaraan itu, hanya terdiam. Kenapa kau mengabaikanku lagi?

**

Tidak hanya pagi hari itu, istirahat sampai pulang sekolah pun Suho sama sekali tidak melirik keberadaan Youngra. Mereka tidak berbicara seharian ini. Suho selalu menghindar tiap kali berpapasan dengan Youngra. Ia bahkan tidak mau mendengar ucapan Youngra sampai selesai. Dan mungkin, hari ini mereka tidak berkencan lagi.

Suho keluar duluan begitu bel pulang berbunyi. Dia harus menghadiri rapat perdananya. Sedangkan Lay harus cepat-cepat pulang karena dia harus membantu ibunya membuka toko.

Youngra menghela napas. Dia tidak segera membereskan buku-bukunya. Dia justru mengeluarkan sebuah buku diktat IPA dan mulai berkonsentrasi dengan pelajaran itu.

**

“Rapat perdana kali ini selesai. Joonmyeon Kim, mulai minggu depan kau yang memimpin rapat ini. Yixing Zhang diharapkan ikut. Baiklah, silakan bubar.”

Suho bergegas mencangklong tasnya kemudian keluar. Dia harus ke kelas lebih dulu untuk mengambil note nya yang tertinggal. Note itu bukan sembarang note, ada banyak rahasia yang tertulis di sana. Dia takutnya kalau besok dia tidak berangkat pagi, akan ada seseorang yang membaca notenya.

Di ambang pintu kelas Excellent, dia tiba-tiba berhenti.

“Youngra?”

Kakinya melangkah pelan-pelan mendekati satu-satunya bangku yang masih diduduki seseorang. Youngra ketiduran dengan kepala berada di atas meja. Gadis itu tidur berbantalkan sebuah buku diktat.

Ketika sampai di dekat meja itu, Suho melirik buku diktat tersebut. sebenarnya hanya ada beberapa soal yang berhasil dikerjakan. Selebihnya, adalah coretan-coretan.

Suho-sshi

Joonmyeon-ah

Wae geurae?

Suho memandang wajah tenang Youngra dengan perasaan tak tentu. Ada suatu perasaan bersalah, juga rasa menyesal. Harusnya dia tidak mengajak Youngra berkencan kemarin. Harusnya dia tidak menjanjikan kencan selanjutnya di hari ini. Harusnya dia tidak mengabaikan gadis itu seharian ini.

“Eungh? Suho-sshi?”

Youngra tiba-tiba terbangun. Dia lantas mengucek kedua matanya lalu memakai kacamata yang sengaja dia lepas sebelum tidur tadi. Wajahnya seperti sumringah ditambah senyum manisnya.

Suho tersenyum simpul. “Kenapa kau tidak pulang?”

Youngra gelagapan menjawabnya. Dia cepat-cepat membereskan buku-bukunya. “Aku ketiduran ini tadi.”

Suho tetap tersenyum. “Ayo makan malam.”

Youngra sontak mengangkat kepala. “Ne?”

Suho meletakkan tangan kanannya di puncak kepala gadis itu. “Setelah itu kuantar pulang. Ini sudah malam.”

Youngra terdiam sebentar, setelahnya tersenyum. “Eum..”

**

“Pakai ini,” ucap Suho saat dia memakaikan jaketnya pada tubuh Youngra. Mereka sudah sampai di sebuah kedai tenda yang menjual daging asap.

Youngra hanya tersenyum begitu Suho kembali duduk di sebelahnya. Mereka sedang menunggu daging datang. Suho sedang menyiapkan pemanggangan sementara Youngra tengah memotongi daun salad.

Begitu pemanggangan siap dan si pemilik kedai belum datang, Suho beralih memandangi gadis di sebelahnya.

“Oh? A-ada apa?” seru Youngra begitu mendapati Suho sedang memandanginya.

Suho tersenyum. mendadak dia melepaskan kacamata yang bertengger di atas hidung Youngra.

“S-suho-sshi?” kejut gadis itu yang langsung berpegangan pada bahu Suho.

Suho yang tahu dia sudah kelewatan, lekas memasang kembali kacamata itu. “Mianhae.”

Youngra beradaptasi sebentar dengan kacamatanya. “Ne, gwaenchanha.”

“Kau benar-benar tidak bisa tanpa kacamata?”

Youngra mengangguk. “Ayahku juga berkacamata.”

“Oh.. mian. Aku hanya ingin melihat wajahmu tanpa kacamata. Jujur saja, kau memang cantik.”

Kedua pipi Youngra sontak memerah. Dia langsung membuang pandangan dan terbatuk-batuk begitu saja.

“Kau butuh minum? Akan kuambilkan.”

“Ah tidak!”

“Maaf ya, kalian sudah menunggu lama,” ahjumma pemilik kedai akhirnya datang. Dia membawa sebuah piring berisikan daging sapi yang telah dipotong-potong tipis.

“Kamsahabnida,” ucap keduanya bersamaan.

Begitu si ahjumma pergi, Youngra segera mengambil penjepit lalu memindahkan daging itu dari piring ke pemanggangan. Suho juga begitu. Dia memindahkan daging-daging dari piring ke pemanggangan.

“Sudah lama aku tidak makan di tempat seperti ini,” celetuk Suho tiba-tiba. Youngra spontan menoleh.

“Kau makan malam di mana biasanya?”

“Tentu saja di rumah. Tapi setiap sepulang ikut bimbingan belajar.”

“Kenapa semalam itu? apakah kau tidur cukup?”

Suho meletakkan penjepit daging di atas piring yang telah kosong. “Kehidupanku tidak sesempurna yang orang lain katakan.”

“Kenapa kau bicara begitu?”

Suho pun menoleh. “Kau pernah melihatku bermain?”

Youngra reflek menggeleng. “Aku selalu melihatmu belajar.”

“Ya, itulah maksudku. Aku tidak pernah bebas bermain seperti yang lain. Sejujurnya, ini kedua kalinya aku membolos dari jadwal harianku. Aku bosan sekali melakukan rutinitas itu.”

“Kalau bosan, kenapa tidak berhenti?”

“Itu tidak semudah yang dikatakan. Appa eomma menginginkanku menjadi seseorang yang cerdas. Mereka pikir, dengan melakukan rutinitas itu, aku bisa menembus SMA terbaik tahun depan.”

Youngra meletakkan kepalanya di atas meja dengan menghadap Suho. Mereka berhadap-hadapan dalam posisi seperti itu. dengan posisi begini, mereka bisa saling melihat satu sama lain.

“Maaf atas sikapku hari ini.”

Youngra tersenyum. “Tidak mengapa. Aku yakin kau punya alasan melakukannya.”

“Aku berjanji aku tidak akan begitu lagi mulai besok.”

Youngra lagi-lagi tersenyum. “Baiklah, kupegang janjimu.”

**

Keesokan harinya, Suho benar-benar menepati janjinya. Lelaki itu sudah sedikit membuka diri meski masih terlihat kaku. Dia sudah mau berbicara pada Lay dan Youngra bahkan sampai bercanda. Dia benar-benar sosok yang hangat jika sudah berubah seperti ini. Wajah malaikatnya akan terus nampak tiap kali dia tersenyum.

“Lama-lama kau membuatku takut, Myeon,” cetus Lay tiba-tiba ketika mereka bertiga berada di kantin, makan di satu meja.

Suho tersenyum geli. “Aku tidak akan menggigitmu tenang saja.”

“Bukan itu. Aku takut pada perubahan sikapmu. Kemarin kau sangat mengerikan, sekarang… kenapa kau mendadak gila begini?”

“Kau tidak suka? Baiklah, aku tidak akan berbicara denganmu lagi.”

Lay mendengus kesal. “Bukan begitu maksudku. Aish kau ini.”

Suho tertawa, dia menoleh ke sebelahnya untuk mengajak Youngra tertawa. Di saat keduanya tertawa itu, mereka tidak sadar kalau Lay memperhatikan mereka dengan tatapan menyelidik.

Tumben mereka begitu. Ada apa?

“Yaa, sepertinya ada sesuatu di antara kalian. Myeon, Young, kalian menyembunyikan apa dariku?”

Suho begitu juga Youngra mendadak diam. Mereka sama-sama menatap Lay harap-harap cemas.

“Menyembunyikan apa? Tidak ada,” balas Suho cepat. Raut wajahnya yang tegang, membuat kebohongannya mudah terdeteksi.

“Ck, gotjimal! Dari wajahmu saja sudah kelihatan,” cetus Lay dengan dahi berkerut.

“Young?”

“Eh? Eh? Ne? a-a-apa? Kebohongan apa? Haha.”

Lay menggeleng prihatin. Suho maupun Youngra nampak menelan ludah mereka.

“Hah.. kalian benar-benar. Ya ya ya, aku tahu pasti ada sesuatu di antara kalian. Tidak perlu tegang begitu, kalian sangat menakutkan.”

Suho dan Youngra saling pandang, kemudian mereka pun menghela napas. Mereka sama-sama tidak menyadari kalau Lay tersenyum penuh arti.

**

Menjelang pulang sekolah, semua siswa diharapkan berkumpul di ruang utama masing-masing lantai untuk menerima hasil belajar dan pembagian kelas lagi. Ada perasaan tak menentu di benak Suho. Dia selalu membayangkan kalau saja dia pisah kelas dengan Youngra, bagaimana nasibnya nanti?

Mereka –Youngra dan Suho- baru saja memulai hubungan baru yang hangat. Suho tidak ingat kalau tiap pergantian semester, kelas akan dirubah terus. Mungkin saja, ini nanti karena merupakan tahun ajaran baru, pembagian kelas akan disamakan lagi dengan kelas yang dulu.

Satu persatu siswa dipanggil ke podium untuk mengambil raport masing-masing. Di saat Suho dipanggil, lelaki itu naik ke podium dengan aksen kentalnya, dingin dan terkesan sombong. Begitu mendapat rapor nya, dia kembali ke tempat duduk.

“Kau masuk di kelas apa, Myeon?” celetuk Lay tiba-tiba yang duduk tepat di belakangnya.

“Kau sendiri?”

“Aku kembali ke kelas lamaku, 2-5.”

Entah kenapa tiba-tiba saja jantung Suho berdebar. Dia lantas membuka buku rapornya. Semua nilai yang tertulis adalah nilai sempurna. Di kolom rangking, dia memperoleh rangking pertama parallel lagi. Dan begitu melihat catatan kaki di bawah nilai-nilainya, napasnya tiba-tiba terhenti.

2-3

“Ah.. kita tidak sekelas,” keluh Lay sembari menghela napas.

“B-bagaimana dengan Youngra?”

Lay menggendikkan bahu. Perasaan Suho tiba-tiba tidak enak.

**

Begitu melihat bayangan Youngra, Suho lantas berlari mengejarnya. Dia harus menghindari banyak orang yang lalu lalang hingga berhasil meraih tangan gadis itu. Youngra pun menoleh.

“Suho-sshi?”

Suho buru-buru melepaskan genggamannya ketika dia sadar bahwa banyak pasang mata yang melihatnya. “Kutunggu di perpustakaan,” setelah berkata begitu, dia langsung pergi.

Youngra masih berdiri di sana dengan benak penuh tanda tanya. Dia sudah seperti orang bodoh saja, hanya berdiri di tengah-tengah orang-orang yang lalu lalang. Mungkin dia tidak sadar kalau apa yang barusan dilakukan Suho, telah menjadi perbincangan hangat orang banyak.

Untuk menjawab berbagai tanda tanya itu, Youngra lekas pergi ke perpustakaan.

**

“Ada apa?” tanya Youngra begitu dia menemukan Suho di sudut perpustakaan yang sepi. Mereka duduk berhadapan mengelilingi sebuah meja dengan beberapa buku yang berserakan di atas meja itu.

Suho masih memandang Youngra. Setelah beberapa lama, dia akhirnya menghela napas.

“Kau masuk kelas apa?”

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s