Perfect One Pt.4


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser // Pt.1 // Pt.2 || Pt.3

.

Buk!

Youngra jatuh terduduk. Tanpa sadar dia juga menjatuhkan kertas tersebut.

Yaa, sepulang sekolah nanti, berkencanlah denganku

**

Seharian ini, tiap bertemu, mereka pasti akan saling mengabaikan. Padahal, kedua-duanya sama-sama tidak berani menyapa duluan. Begitu melewati Suho, Youngra pasti akan langsung berlari ke tempat sepi untuk menangkup wajahnya yang panas. Sementara Suho, akan langsung hilang keseimbangan dan tangannya memegang dada kiri. Mungkin inilah yang dinamakan cinta monyet.

Dan akhirnya, jam pulang sekolah datang juga. Masa bodoh dengan hasil pemilihan itu. Suho bergegas keluar kelas. Padahal seharusnya dia tetap di dalam kelas saja karena mereka berdua masih sekelas sampai saat ini. Tapi memang dasar Suho. Ini pertama untuknya dan dia sudah melangkah terlalu cepat. antara yakin dan tidak, dia bersikeras menunggu di depan gerbang.

“Ada apa sih dengan Myeon?” celetuk Lay tiba-tiba. Dia menghampiri Youngra setelah mencangklong tas.

“Ne? ah… mollaseo,” balas Youngra yang langsung tertunduk. Wajahnya seketika merona, dia tidak mau Lay tahu rona itu.

“Ck, anak itu memang menyebalkan. Oh ya, pulang bersamaku atau tidak?”

“Sepertinya tidak, Lay-sshi. Aku ada perlu sebentar.”

“Oh… baiklah. aku pergi duluan, eo? Be careful.”

Youngra hanya mengangguk. Dia bisa bernapas lega karena Lay sama sekali tidak menyadari apa yang sedang disembunyikannya. Yah.. untuk kali ini Lay jangan tahu dulu. Biar Suho saja yang mengatakannya sendiri.

Youngra segera mencangklong tasnya. Dia melangkah pelan-pelan menuju pintu keluar. Namun mendadak dia berhenti di ambang pintu.

“Tenangkan dirimu Youngra… tenang..”

Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya pelan. Setelah dua kali melakukannya, ia pun memantapkan diri untuk melangkah lagi.

Sekolah sudah benar-benar sepi. Youngra mendapati Suho yang berdiri bersandar pada gerbang sekolah. Lelaki itu asyik memainkan ponsel tanpa menyadari kedatangannya. Semakin dekat, perasaan Youngra jadi makin tak menentu. Dia agak meragukan kalau isi kertas itu benar.

Gadis itu berhenti lima langkah dari tempat Suho berdiri.

“Suho-sshi.”

Suho langsung menoleh. Dia tersenyum dan segera mengantongi ponselnya. “Kaja.”

**

Sebenarnya, mereka hanya jalan-jalan di taman kota. Setiap pasang mata melihat mereka. Tapi Suho sama sekali tidak merasa risih. Dia santai saja berjalan di sebelah Youngra.

“Kita kan masih SMP, jadi aku tidak bisa mengajakmu ke tempat yang lebih jauh dari ini,” ucap Suho seraya menoleh sekilas. Dia tersenyum lebar mendapati ekspresi polos gadis itu.

“N-ne, gwaenchanha.”

“Eum.. aku sebenarnya ada les bahasa Jerman jam lima nanti. Apa kau mau ikut bersamaku? Ayo kita belajar bahasa Jerman.”

“Tapi.. aku tidak mengerti bahasanya.”

Suho terkikik. “Kau kira aku mengerti? Ini hari keduaku belajar bahasa Jerman. Kita sama-sama pemula. Seonsaengnim pasti tidak akan memarahimu. Ayolah… ya ya ya?”

Mata Youngra melebar begitu mendapati tingkah Suho yang ternyata sangat kekanak-kanakkan dan sedikit pemaksa. Ini tidak seperti karakter Suho biasanya. Mungkin, saat di sekolah dia menjadi Suho, saat di luar sekolah dia adalah Joonmyeon.

“Apa tidak apa-apa?”

“Tentu saja! Aku bebas membawa siapapun untuk menemaniku les. Daripada dengan manager, aku lebih suka bersamamu.”

Jantung Youngra seakan baru saja terkena hembusan angin. Rasanya.. menyejukkan sekali.

“Baiklah kalau begitu.”

“YES! Akhirnya!!”

Youngra dan Suho tertawa bersama-sama.

“Oh ya, ayo cari makan dulu. Aku akan mengantarmu pulang sehabis les bahasa Jerman.”

Youngra terkejut ketika Suho meraih tangannya dan mengajaknya memasuki sebuah restoran. Ini pertama kalinya Suho menggenggam tangannya. Tangan Suho begitu hangat, sampai-sampai Youngra tidak mau melepasnya.

**

Selesai makan, mereka langsung pergi ke tempat les Suho. Tempat les itu cukup jauh. Mereka harus naik bus agar cepat sampai di sana. Dengan bus, mereka sampai dalam 10 menit.

Tempat les yang dimaksud Suho ternyata adalah sebuah rumah. Rumah itu, milik seorang guru yang mengajar Suho. Rumah ini bergaya Eropa. Pagarnya pendek, rumahnya mungil, pekarangannya dipenuhi oleh tanaman-tanaman musim semi dan warna cat rumahnya klasik.

“Ayo masuk,” ajak Suho yang mana sudah membukakan pintu pagar untuk Youngra.

Youngra pun masuk, lalu mengikuti kemana Suho pergi. Mereka harus menekan bel dulu dan menunggu sebelum akhirnya seorang pria paruh baya muncul.

“Oh, Joon!” pekik lelaki itu. Wajahnya nampak kebaratan dengan rambut putih alaminya. Sepertinya pria ini asli orang Jerman.

“Hai sir,” balas Suho singkat sambil membungkuk 90 derajat.

“Kau selalu datang tepat waktu. Oh? Ini siapa?”

“Ini temanku, sir. Perkenalkan, dia…”

“Namaku Kwon Youngra, senang bertemu denganmu,” sela Youngra tiba-tiba sembari membungkuk 90 derajat penuh.

Pria itu tersenyum. “Senang bertemu denganmu nona Kwon. Aku Michael Jordan. Panggil saja Jordan.”

“Ah, ne, mr. Jordan.”

“Ayo masuk. kita harus memulai pelajarannya sebelum malam.”

Suho dan Youngra pun masuk bergiliran ke dalam. Jika dulu Suho yang terkagum-kagum dengan rumah Lay, sekarang Youngra yang begitu dengan rumah Mr. Jordan.

Keduanya duduk di sebuah ruangan yang sepertinya khusus digunakan sebagai ruang pembelajaran. Di sini sudah ada dua buah bangku kosong, sebuah papan tulis dan meja yang terletak paling depan. Di papan yang tidak lagi hitam itu, terdapat coret-coretan kata yang sepertinya berbahasa Jerman. Youngra sama sekali tidak mengerti kata-kata apakah itu karena tidak ada arti Koreanya.

Keduanya duduk bersisian. Meja yang saling bersinggungan membuat mereka duduk terlalu dekat. Suho sedang mengeluarkan alat tulisnya lengkap, sedangkan Youngra hanya mengeluarkan note serta sebuah pensil, pensil pemberian Suho dulu.

“Pensil itu masih ada padamu ternyata,” ucap Suho begitu mendapati pensil tersebut di tangan Youngra.

Youngra ikut-ikutan memandang pensil itu. “Eum. Terima kasih untuk pensilnya.”

Suho mengacak rambut Youngra pelan. Dia sama sekali tidak peduli dengan ekspresi gadis itu. “Tidak perlu berterima kasih. Itu hadiah untukmu.”

Youngra tersenyum simpul lalu merapikan rambutnya.

**

Tepat sepuluh menit sebelum pukul 7 malam, Suho menepati janjinya untuk mengantar Youngra pulang. Arah rumah mereka memang searah, tapi Suho tidak langsung pulang karena dia ada latihan kendo jam 7 nanti.

Mereka pergi dengan bus. Keduanya lagi-lagi duduk bersisian. Youngra duduk di dekat jendela. Dia keasyikan melihat suasana kota di malam hari karena dia jarang sekali pulang malam-malam seperti ini.

“Young.”

“Ne?”

“Besok kau mau menemaniku lagi tidak?” tanya Suho dengan kedua mata penuh binar.

“Eum,” balas Youngra sambil tersenyum.

“Benar? Ah… pasti besok menyenangkan. Aku ada les bahasa Mandarin besok. Kuharap akan semenyenangkan hari ini.”

Youngra terkikik melihat tingkah Suho yang sangat lucu. Jarang-jarang ada pemandangan seperti ini untuk sosok Suho. Tapi tak lama kemudian, senyumnya pudar.

“Apa setiap hari kau selalu begini?”

Senyum Suho juga perlahan-lahan hilang. “Ne?”

“Setiap hari kau selalu sibuk les?”

Suho menyandarkan punggungnya di bantalan kursi. “Eoh.”

“Kau tidak lelah?” Youngra tetap ingin bertanya tanpa peduli mood Suho yang berubah drastic.

“Ne, aku lelah.”

“Kau tidak pernah bosan dengan rutinitas seperti ini? Kenapa kau… ah, maaf. Aku sudah bertanya terlalu jauh ya? maaf.”

Suho mengusap-usap puncak kepala Youngra tanpa sedikit pun tersenyum. “Gwaenchanha. Tidak perlu meminta maaf.”

“Aku tidak seharusnya bertanya begitu. Aku merasa bersalah.”

Suho tersenyum tipis. “Aku sudah terbiasa mendengar pertanyaan seperti itu. gwaenchanha.”

Youngra memandang Suho sebentar, sebelum kemudian tersenyum.

Tak lama, bus sampai di sebuah halte. Keduanya segera turun.

“Di mana rumahmu?” tanya Suho begitu bus telah pergi dari hadapan mereka. jalanan di sini cukup lengang, mungkin karena jalan ini adalah jalan satu arah.

“Ini, tepat di belakang kita.”

Suho membuntuti kemana Youngra pergi. Memang benar, rumah mungil itu berdiri tepat di belakang halte. Pagar hanya sebatas dada orang dewasa dengan bagian atas yang bergerigi. Dua buah lampu taman berdiri tegak di antara pagar itu. satu di antaranya tidak menyala.

“Kau tidak masuk?” tanya Youngra begitu mendapati Suho yang masih berdiri di depan pagar.

Lelaki itu terdiam sebentar, lalu tersenyum. “Ani-yo. Aku ada latihan kendo sebentar lagi.”

“Bagaimana kalau minum dulu?”

Suho menggeleng. “Tidak usah. Sudah hampir jam 7 ini. Cepat masuklah.”

Youngra memandang Suho lamat-lamat. Dia sebenarnya menemukan kelelahan yang berarti di wajah Suho. Tapi mau bagaimana lagi, ini pertama kalinya mereka berkencan. Youngra sendiri masih belum yakin kalau keduanya memiliki perasaan yang dalam.

“Baiklah. hati-hati.”

Suho mengangguk lantas melambai. “Jaljayo.”

“Ne,” balas Youngra malu-malu sebelum berbalik dan bergegas masuk.

Begitu punggung Youngra telah menghilang di balik pintu, Suho segera kembali ke halte dan duduk termenung di sana.

Hari yang panjang. Aku tidak menyangka aku berkencan dengan gadis itu.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s