Perfect One Pt.15


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser || Pt.1 || Pt.2 || Pt.3

Pt.4 || Pt.5 || Pt.6 || Pt.7

Pt.8  || Pt.9 || Pt.10 || Pt.11

Pt.12 || Pt.13 || Pt.14

.

“Oh? Bukannya kau Zhang Yi Xing? Ada apa kau kemari?” tanya seorang anggota kepolisian yang pernah bertugas untuk menyelamatkan Lay dulu.

“Ne. Saya kemari ingin menemui seseorang. Bisakah?”

“Seseorang? Maksudmu, Zhou Longwei?”

Lay hanya mengangguk.

Si anggota kepolisian itu langsung membawa Lay ke tempat besukan tahanan. Lay diminta duduk di sebuah kursi yang menghadap sebuah kaca tebal transparan dengan lubang-lubang kecil di tengahnya, sedangkan anggota kepolisian tadi menyuruh temannya untuk memanggil Zhou Longwei.

Beberapa menit menunggu, orang itupun datang bersama kepolisian yang berjaga. Lelaki itu tampak lain dari beberapa minggu lalu. Tubuhnya terlihat lebih kurus, wajahnya makin tua dan kumis di atas bibirnya tumbuh lebat. Tapi senyumnya masih sama seperti dulu.

“Kenapa kau menemuiku?” tanya orang itu begitu duduk di kursi yang ada di seberang Lay. Mereka saling berpandangan dengan kaca tebal transparan di antara keduanya.

Lay mengeluarkan rantang makanan dari tasnya lalu meletakkannya di meja ruang besukan ini. “Saya membawakan anda makanan.”

Pria itu menatap rantang susun itu sebentar, lalu kembali menatap Lay. “Terima kasih banyak.”

Mereka pun terdiam.

“Saya kemari ingin menanyakan sesuatu.”

“Sesuatu? Apa itu kira-kira?”

Lay perlahan menundukkan kepalanya. “Tentang putri anda, yang anda ceritakan pada saya saat itu.”

Zhou Longwei tersenyum. “Ya, silahkan.”

Tenggorokan Lay serasa tercekat. Apa yang ingin dia tanyakan tiba-tiba sulit sekali untuk dilontarkan. Ada perasaan sungkan, karena ini menyangkut anak orang. Tapi dia juga penasaran dengan apa yang Zhou Longwei katakan waktu itu.

“Saya masih belum mengerti. Apa maksud anda saat itu?”

Zhou Longwei lagi-lagi tersenyum. “Bagian mana yang tidak kau mengerti?”

Lay mengusap tengkuknya sedikit gusar. “Apa maksud anda dengan memercayakan putri anda pada saya?”

“Kau sungguh tidak mengerti?”

Lay menggeleng. “Saya sama sekali tidak mengerti.”

Zhou Longwei tersenyum maklum. “Usiamu masih muda, keturunan Zhang. Suatu hari nanti kau akan tahu maksudku.”

“Tapi saya sama sekali tidak mengenal putri anda. Anda.. bisa saja memercayakannya pada.. orang lain,” Lay merutuki cara bicaranya yang terkesan keberatan. Entahlah, dia sepertinya kurang rela kalau putri Zhou Longwei yang masih tanda tanya di benaknya malah dipercayakan pada orang lain selain dia.

“Tidak ada kata orang lain dalam kamusku. Di mataku, putriku, Yui, adalah gadis yang mirip sifatnya denganmu. Pertama kali melihatmu aku tiba-tiba teringat putriku. Saat itu aku beranggapan bahwa kau adalah orang yang dilahirkan untuk mendampingi putriku nanti.”

Kali ini Lay mengangkat kepala dan bersitatap dengan orang itu.

“Tolong temukan dia, berikan dia kebahagiaan yang tidak pernah bisa kuberikan padanya. Jangan pernah mencintainya karena aku, tapi cintailah dengan perasaanmu sendiri. Yui pasti akan bahagia bertemu dengan orang sepertimu, Zhang Yixing.”

Setelah berkata seperti itu, petugas kepolisian membawa Zhou Longwei kembali ke sel. Lay diminta meninggalkan rantang itu di sana dan pergi, karena waktu membesuk sudah habis.

Pada akhirnya Lay pergi, tapi perasaannya masih bercampur aduk.

Zhou Yui…

**

Awal tahun, tepatnya menjelang ujian kenaikan kelas. Suho lebih banyak berada di kelas dan rumah EXO untuk belajar. Dia selalu menolak ajakan teman-temannya untuk bermain atau setidaknya jalan-jalan keluar. Fokusnya terpusat penuh pada pelajarannya.

Hari ini dia belajar bersama Lay di perpustakaan Daesang. Waktu sudah hampir menunjuk ke angka 12 malam, tapi keduanya masih betah berada di sana, terlebih Suho. Lay sudah menguap berkali-kali dan menahan matanya agar tidak terkatup.

“Kalau mengantuk tidur saja, Lay,” ucap Suho tiba-tiba tanpa melirik sedikitpun pada Lay. Sebentar lagi dia akan menyelesaikan soal matematika ke-200 untuk hari ini.

Lay meletakkan dagunya di atas buku matematika yang sedang terbuka lebar. “Dan membiarkanmu belajar semalaman? Bagaimana kalau kau mimisan lagi seperti kemarin?”

Sebenarnya Suho sering sekali mimisan akibat belajar sampai larut malam. Kemarin adalah yang paling parah sampai-sampai Lay harus menyiapkan dua kotak tisu untuk menyumbat hidung Suho. Dan sekarang, Lay tidak mau itu terjadi lagi pada kawannya. Dia harus bisa memaksa Suho berhenti belajar tepat saat tengah malam.

Suho mengacuhkan ucapan Lay itu dan malah berkata, “kau pikir aku anak kecil?”

Lay mengacak rambutnya sampai berantakan. “Yaa! letakkan pensilmu sekarang juga!”

“Ssst, ini perpustakaan, bodoh.”

“Aku tidak peduli, cepat letakkan pensilmu!”

“Ck, tanggung Lay.”

Lay tahu berteriak tidak akan ada gunanya. Dia akhirnya mengambil jalan terakhir. Bangkit tiba-tiba dan merebut pensil serta alat tulis lainnya lalu duduk kembali. “Saatnya berhenti, Myeon.”

Suho hanya menghela napas lalu menutup semua bukunya. “Baiklah. Demi membungkam mulutmu yang seperti ember bocor, aku akan berhenti belajar sekarang.”

Lay berdecak tapi setelahnya tersenyum. Kemarin karena Lay tidak ingin hal itu terjadi lagi, Lay terpaksa membuat ancaman yang sudah pasti akan sangat ditakuti oleh Suho. Ancaman itu berbunyi seperti ini, “kalau kau tidak berhenti belajar saat tengah malam, aku akan mengadukan perihal mimisanmu ini pada Youngra”. Dan memang benar, Suho takut pada ancaman itu, terbukti dengan apa yang diucapkannya tadi.

Senyum Lay mendadak luntur saat dia teringat sesuatu. Dia mengembalikan semua alat tulis di tangannya pada Suho. “Myeon..”

“Um?” saking sibuknya memasukkan semua barang-barang ke dalam tas dia sampai tidak sempat melirik Lay barang sedetik.

“Bagaimana kalau tiba-tiba ada seseorang yang menyerahkan putrinya padamu?”

Mendadak Suho menghentikan kegiatannya. Dia menatap Lay lamat-lamat dengan dahi berkerut seperti biasa. “Pertanyaan macam apa itu?”

Lay menghela napas. “Seandainya kalau ada orang yang begitu, apa yang akan kau lakukan?”

Sekarang tatapan Suho berubah menjadi tatapan menyelidik. “Sekarang aku tanya, apa maksudmu tiba-tiba bertanya begitu?”

Lay nampak ragu untuk memandang Suho. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain sembari mengusap tengkuknya beberapa kali. Dari matanya saja, Suho bisa menangkap kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan Lay sekarang.

“Jujur saja padaku, Lay.”

Lay masih belum ingin memandang Suho. Bola matanya masih bergerak mencari sesuatu yang bisa ia lihat. “A-aku sendiri tidak tahu, Myeon. Ada seorang pria yang menyerahkan putrinya padaku. A-aku tidak tahu maksudnya apa. Ja-jadi.. aku bertanya padamu.”

“Nugu?”

Inilah pertanyaan yang Lay hindari. Dia tidak siap untuk mengatakan siapa orang tersebut, apalagi pada Suho. Takutnya Suho akan membencinya karena berbicara pada orang tersebut, Zhou Longwei.

“Lay, nugu?”

Lay memejam. “Zhou Longwei..”

Suho membelalak tak percaya. “Z-Zhou siapa? Zhou Longwei? Pemimpin Dragon White itu?”

Lay membuka matanya perlahan lalu mengangguk lemah. “Eo.”

Hening.

Lay sudah siap dengan semua yang akan dikatakan Suho. Tapi sudah hampir dua menit Suho tidak berbicara apapun. Lay yang penasaran, memilih menoleh untuk melihat apa yang terjadi pada Suho.

Suho tersenyum.

“W-wae?”

Sekarang Suho malah tertawa. Air matanya bahkan sampai menetes saking kerasnya tertawa. “Dasar bodoh.”

Lay memandang Suho tak mengerti.

“Dia lucu sekali, haha. Apa-apaan menculikmu hanya untuk mengatakan kalau dia akan menyerahkan putrinya padamu. Kau tidak berpikiran ini lucu, Lay?”

“Aku serius, Myeon. Dia memang mengatakan itu padaku.”

Suho tertawa untuk sekian kalinya. “Ne, ne. Aku tahu kalau kau serius, Lay. Sudah, jangan gunakan ekspresimu yang itu. Kau terlihat menggelikan, serius.”

Lay berdecak. Percuma saja dia merasa cemas dengan respon Suho tadi, nyatanya Suho malah menertawakan ekspresi blank-nya. Lelaki itu lekas membereskan barang-barangnya ke dalam tas.

“Lalu kenapa kau mesti bingung, Lay? Kalau dia memang ingin menyerahkan putrinya padamu, kau bisa menerima atau menolaknya. Jangan karena gadis itu adalah putri orang itu kau jadi benci padanya, putrinya tidak salah apapun. Sekarang tergantung padamu, Lay. Kalau kau ternyata penasaran dengan gadis itu, coba temui dia. Mungkin saja cocok denganmu.”

Lay tidak menyangka Suho bisa berbicara seperti itu. Dia berusaha mencerna kembali ucapan Suho tersebut.

“Ngomong-ngomong, aku juga ingin melihatmu berkencan dengan seorang gadis. Kabari aku kalau sudah berhasil mendapatkan hatinya. Kaja kita pulang.”

Lay memandang punggung Suho yang semakin menjauh. Terbesit suatu perasaan aneh di hatinya.

Aku penasaran padanya, Myeon. Jadi.. apa aku harus menemuinya?

**

Hari ujian telah berlalu. Suho dan Lay dinyatakan naik kelas, begitu pula dengan Luhan, Kris dan Xiumin. Chanyeol, Baekhyun, Tao dan Kai dinyatakan lulus SMP dan telah diterima di SMA Daesang. Dan untuk Sehun, dia baru saja naik kelas 3 SMP.

Mereka merayakan hari pertama libur ajaran baru dengan jalan-jalan seharian mengelilingi kota Seoul. Mereka sepakat untuk tidak pergi menggunakan mobil Sehun atau Suho. Mereka memilih pergi menggunakan bis kota.

“Adakah yang berniat menjadi tour guide?” seru Lay tiba-tiba. Mereka sudah berkumpul di halte dekat rumah Lay untuk menunggu kedatangan bus.

“Suho hyung, Kai, Baek,” balas Sehun tiba-tiba. Dia merasa tenang-tenang saja saat bicara begitu padahal ketiga orang yang dia sebut sedang melotot garang padanya.

“Yaa! seenakmu saja memilihku,” sembur Baekhyun saat itu juga sembari menendang tulang kering Sehun. Sehun sendiri bisa menghindar sehingga aman dari dampak kesakitan parah yang akan ditimbulkan dari tendangan sang ahli hapkido.

“Baiklah, mari kita voting. Kandidatnya adalah Suho hyung, Baekhyunie dan Kai. Siapa yang memilih Suho hyung?” Chanyeol angkat tangan dengan sendirinya bahwa dia memilih Suho.

“Aku memilih Suho,” ucap Kris dengan nada datar yang malah memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Selain itu, Luhan dan Lay juga angkat tangan, jadi total yang memilih Suho ada empat orang.

“Siapa yang memilih Kai?”

Baekhyun, Tao, Sehun dan Chanyeol angkat tangan. Total empat orang.

“Siapa yang memilih Baekhyun?”

Entah ini karena sudah direncanakan sebelumnya atau tidak, semua orang kecuali Baekhyun kompak angkat tangan. Bahkan Kris yang tidak pernah mau bertingkah konyol di depan banyak orang sekarang malah ikut-ikutan angkat tangan.

Chanyeol mulai menghitung. Totalnya ada 10 orang, padahal kalau dihitung secara teliti, harusnya ada sembilan karena sepuluh itu Baekhyun. Tapi…

“Apakah aku boleh ikut?”

Seorang gadis muncul dari balik punggung Lay. Dia terlihat cantik sekali dengan dress biru muda selutut yang dibalut dengan jaket berbahan jeans pendek ditambah sneakers berwarna senada dan sebuah snap back hitam yang dipakai terbalik. Semua orang memandangnya takjub termasuk Suho.

Gadis itu melihat satu persatu para lelaki itu. Pandangannya berhenti pada Suho. Dia menurunkan tangannya kemudian berjalan mendekat pada Suho.

Peluk

Cium

Itulah yang gadis itu lakukan pada Suho. Dia berdiri selangkah di hadapan Suho sembari memiringkan kepala ke kanan. Senyumnya membuat kedua matanya yang berada di balik kacamata berframe hitam menyipit bagaikan bulan sabit. Dia bahkan tertawa kecil melihat ekspresi Suho yang masih saja dengan mata membelalak.

“Annyeong Joonmyeon-ah~”

“Youngie..”

Gadis yang ternyata Youngra itu mengangguk. “Eum. Lama tidak bertemu.”

Suho yang sejak tadi mengangkat tangannya, dengan perlahan menjuntaikan tangannya di sisi tubuh. “Kau… kenapa..”

“Oh Young!! Kapan kau datang, eoh? harusnya kau memberitahuku agar aku bisa meminta Suho menjemputmu. Lihatlah dirimu, Hongkong membuatmu semakin cantik,” Lay berkicau tanpa peduli apa yang akan Suho katakan. Dia sudah berdiri di sebelah Youngra dan melihat Youngra lebih jelas.

Youngra tersenyum malu. “Aku ingin membuat kejutan untuk kalian.”

“Ck, kau itu. Ah ya, mau kuperkenalkan dengan member EXO yang lain?”

“Uh?” Youngra pun menoleh ke belakang dan mendapati para lelaki yang masih menatapnya dengan tatapan bermacam-macam.

“Berkat nama yang kau berikan itu, EXO sekarang jadi terkenal. Mereka tertarik dengan nama yang kau berikan, dan mereka semua ini adalah anggota EXO.”

Youngra langsung membungkuk 90 derajat penuh. “Annyeonghaseyo, Kwon Youngra ibnida.”

“Mereka sudah tahu namamu.”

Youngra buru-buru menegapkan tubuhnya.

“Mari kuperkenalkan. Ini namanya Kris Wu atau Wu Yi Fan. Dia berasal dari China sama sepertiku. Usianya lebih tua setahun dariku.”

“Annyeong,” sapa Kris singkat yang dijawab Youngra dengan kata yang sama.

“Lalu ini Xiumin Kim atau Kim Minseok. Dia seusia dengan Kris ge. Dia asli Korea, hanya saja kami berkenalan saat dia ada di China.”

“Ini Luhan ge, dia juga berasal dari China.”

Luhan tersenyum yang dibalas dengan senyuman juga.

“Ini Park Chanyeol, putra kepala kepolisian Seoul, dia setahun lebih muda dari kita. Ini Byun Baekhyun, Kim Jong In atau Kai dan Hwang Zi Tao yang seusia dengan Chanyeol. Dan yang terakhir ini… Oh Sehun. Dia yang paling muda diantara kita semua.”

Youngra tersenyum pada Sehun, tapi Sehun masih betah dengan tampang datarnya.

“Sekarang kita akan pergi jalan-jalan keliling Seoul. Kau mau ikut?” kali ini Lay berbicara langsung pada Youngra.

“Eo, aku akan ikut.”

“Baiklah semua. Ayo kita pergi sekarang. Dan yaa Baekhyun, kau tour guide kami sekarang.”

Baekhyun mendadak melotot. “Shireo! Kenapa harus aku? Kalian bersekongkol melakukan ini padaku, ya?”

“Ani-yo. Buktinya Youngra noona juga memilihmu,” balas Chanyeol yang berdiri tepat di sampingnya.

“Aish! Keurae keurae. Kaja.”

Bus akhirnya datang. Mereka pun menaiki kendaraan itu satu persatu yang dikomando oleh Baekhyun. Sementara itu, Youngra memilih mendekati Suho dan merangkul lengannya. “Kaja, Joonmyeon-ah. Kau tidak mau ketinggalan rombongan, kan?”

Bagai terhipnotis, Suho mengikuti kemana Youngra menarik tangannya. Mereka masuk ke dalam bus dan duduk didua buah kursi yang semula kosong. Youngra ada di dekat kaca sedangkan Suho di sebelahnya.

Bus itu merayap.

Sinar matahari pagi yang menerobos kaca itu membuat pandangan Suho menjadi silau. Dia bisa melihat bentuk wajah Youngra dari samping dengan jelas, bagaikan lukisan tangan seseorang. Suasana bus yang tenang membuatnya bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Apalagi saat Youngra menyandarkan tubuh padanya.

“Joonmyeon-ah..”

“N-ne?”

Youngra menggunakan tangan kirinya untuk menghalangi cahaya matahari yang terarah padanya. Tapi tiba-tiba tangan kiri Suho bergerak melingkari punggung Youngra lalu mengangkatnya untuk menggantikan tangan Youngra. Sedangkan tangan kanannya menarik tangan kiri Youngra untuk turun.

Gadis itu mengangkat kepalanya, tersenyum. “Aku senang bertemu denganmu.”

“Aku juga.”

“Kau makin tampan, Joonmyeon-ah..”

“Kau makin cantik.”

Senyum Youngra semakin lebar. “Sudah lama kita tidak seperti ini, kan?”

Suho mendekatkan wajahnya dan mencium dahi Youngra cukup lama. Setelah itu dia menjauhkan tubuhnya kembali dan berkata, “ya.. sepertinya begitu.”

Gadis itu meraih tangan kiri Suho lalu menariknya dan menggenggamnya di atas pangkuan. “Aku terlalu senang sampai tidak tahu harus bicara apa lagi.”

“Kenapa kau kemari?”

“Berlibur. Menemui Joonmyeon.”

Suho mencium pipi Youngra dulu sebelum memeluk gadis itu dengan erat. “Boleh kulihat luka di bahumu itu? aku ingin tahu seberapa parahnya luka itu.”

Youngra melepaskan tautan tangan Suho di atas perutnya. Dia melihat ke sekitar lebih dulu untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat. Setelah situasinya benar-benar sepi, perlahan Youngra menurunkan kain jaket lengan kanannya sampai bahunya terekspos jelas.

Suho menelan salivanya susah payah. Bukan karena dia nervous melihat bahu Youngra yang putih, tapi apa yang dia lihat sama persis dengan yang ada di mimpinya. Luka itu sudah tidak lagi berwarna kemerahan, tapi ukurannya cukup panjang dan warnanya berubah menjadi biru gelap. Dengan hati-hati dia menyentuh luka tersebut.

“Sssh.. pelan-pelan, Joonmyeon-ah.”

Suho reflek menjauhkan tangannya. “Mi-mian.. apa masih sakit, uh? Kau sudah memeriksakannya ke dokter? Dokter bilang bagaimana? Parah tidak?”

Youngra menggeleng pelan. “Aniyo… aku belum memeriksakannya ke dokter.”

“Wae? Harusnya kau segera memeriksakannya. Kalau kau biarkan, kau tidak akan tahu seberapa parahnya luka itu.”

Youngra lekas menutup bagian luka itu. Dia tersenyum pada Suho yang masih memandangnya dengan sedikit kesal. “Aku sungguh tidak apa-apa Joonmyeon-ah. lagipula ini akan sembuh dengan sendirinya.”

“Menurutmu aku akan berpikiran begitu? Apa kau tahu, di mimpiku kau menangis keras karena kesakitan akibat luka itu. Aku terlalu cemas dan di saat itu juga aku bangun dan meneleponmu malam-malam. Apa menurutmu luka itu tidak parah?”

Youngra masih saja memperlihatkan senyumnya. “Aku sungguh tidak apa-apa, Joonmyeon-ah. Kau tidak perlu mencemaskanku seperti itu.”

Suho menatapnya tak percaya. “Begitu?”

Bus berhenti. Baekhyun mengomando semuanya untuk turun. Lay yang melihat Suho dan Youngra belum beranjak, lekas menghampiri mereka.

“Ayo turun.”

Suho menata emosinya dulu lalu menghela napas berat. Dia bangkit tiba-tiba dan menoleh pada Lay. “Temani dia.”

Belum sempat Lay menjawab, Suho sudah mengambil langkah lebar-lebar untuk turun dari bus. Senyum di wajah Youngra perlahan luntur. Dia memandang punggung Suho yang semakin menjauh dengan tatapan sedih. Lay yang menyadari ada sesuatu diantara mereka, buru-buru menarik Youngra untuk turun dari bus karena bus akan jalan sebentar lagi.

Mereka berkumpul di halte itu untuk merundingkan destinasi pertama yang akan dituju. Semuanya menyerukan keinginan masing-masing dan Baekhyun sebagai penengahnya. Namun Suho, Youngra dan Lay tidak ikut berunding. Suho berdiri jauh dari Youngra dan Lay dan hanya memperhatikan yang lain bicara. Sementara Youngra memandang lurus pada Suho sedangkan Lay memandangnya.

“Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Lay dengan suara lirih yang sukses membuat Youngra menoleh.

“Ne?”

“Ada masalah diantara kalian, eum?”

Youngra akan berbohong pada Lay tapi dia urungkan. Melihat Lay sekarang, Youngra sebenarnya ingin mengeluarkan segala unek-uneknya mengenai masalahnya dengan Suho hari ini. Hanya saja dia tidak mau merusak acara jalan-jalan ini. Alhasil yang dia lakukan adalah memeluk Lay.

“Apa yang harus kulakukan sekarang, Lay?”

Lay membalas pelukan itu dan mengusap punggung Youngra. “Kurasa lebih baik kita biarkan dia dulu.”

“Tapi.. bagaimana kalau..”

“Percayalah padaku, jika dia mencintaimu, dia tidak akan lama seperti itu. Dia hanya butuh menjernihkan pikirannya.”

Youngra memilih percaya pada Lay. Dia melepas pelukannya dan tersenyum.

“Baiklah! pagi ini kita ke Lotte World. Semuanya, ikuti aku!” suara Baekhyun mampu menyedot semua perhatian EXO termasuk Youngra. Setelah dia berkata begitu, mereka pun berjalan kaki untuk pergi ke sana. Dari halte ini, Lotte World tidaklah jauh. Hanya butuh jalan kaki selama lima menit dan mereka pun sampai.

Di destinasi itu, semuanya merasa gembira, terlebih Sehun yang tidak pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Dia banyak tertawa hari ini dan itu terlihat sangat menggemaskan bagi hyung-hyungnya. Tapi lain halnya dengan Suho.Walaupun ini kali pertamanya dia mengunjungi tempat ini, dia tidak merasa terhibur seperti yang lain. Dia lebih banyak menonton dan menghindar. Termasuk salah satunya saat semua orang sepakat memasuki wahana rumah hantu. Suho memilih menunggu di luar dengan duduk di sebuah kursi. Awalnya dia sendirian, tapi tidak lagi saat Youngra tiba-tiba duduk di sampingnya.

Mereka terjebak dalam keheningan yang berlangsung cukup lama.

“Joonmyeon-ah.. maafkan aku.”

Suho hanya mendengarnya. Dia tidak berminat menoleh apalagi merespon ucapan Youngra. Pandangannya menatap lurus ke depan tepat pada anak-anak kecil yang sedang mengantri untuk beli balon.

“Aku hanya tidak mau membuatmu cemas, itu saja.”

Suho masih terdiam.

“Karena hari ini aku bertemu denganmu lagi, untuk itu aku tidak mau kau hanya mencemaskanku. Maaf Joonmyeon-ah..”

Belum ada jawaban.

Youngra merasakan bahwa kedua matanya memanas. Hatinya jauh lebih sakit saat Suho mengacuhkannya ketimbang Suho berkata kasar padanya. Dia datang ke Korea bukan untuk berlibur, tapi menemui Suho. Dia tidak mau kalau kedatangannya ke sini hanya untuk mengulang apa yang terjadi dulu –saat dia dan Suho tidak saling menyapa selama dua tahun-. Karena sebenarnya dia datang ke sini untuk berbicara banyak pada Suho dan membalaskan semua rasa rindunya.

Setetes cairan liquid jatuh membasahi punggung tangannya. Suara isak tangis perlahan terdengar yang membuat Suho reflek melirik ke sampingnya.

“Apa aku keterlaluan? Ah.. kenapa harus menangis?”

Saat sadar dirinya menangis, Youngra buru-buru melepas kacamatanya untuk menyeka air mata. Dia terkejut saat tiba-tiba ada yang merebut kacamatanya. Dia tidak sempat terpikirkan Suho dan itulah sebab kenapa dia menjadi panic sekarang.

“Ah.. kacamataku? Jebal.. kembalikan kacamataku..”

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s