Perfect One Pt.14


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser || Pt.1 || Pt.2 || Pt.3

Pt.4 || Pt.5 || Pt.6 || Pt.7

Pt.8  || Pt.9 || Pt.10 || Pt.11

Pt.12 || Pt.13

.

“Yoboseyo..”

“Joonmyeon-ah.. ini aku.”

Suho yang saat itu sedang menulis kata-kata penting, gerakan tangannya mendadak berhenti. Dia langsung melihat siapa si penelpon yang tertera di layar ponsel. Wajah yang semula penat kini berubah ceria.

“Youngie.”

“Eum. Selamat pagi, Joonmyeon-ah..”

Suho terkekeh pelan mendengar sapaan Youngra. “Pagi juga, sayang.”

“Ternyata dugaanku benar, kau pasti belum tidur. Apa yang sedang kau lakukan? Eum… biar kutebak. Pasti belajar kan?”

“Ne, kau benar. Aku sedang belajar. Kau sendiri kenapa belum tidur?”

“Bukannya belum tidur, aku sudah tidur tadi, lamaaaa sekali. Kupikir sudah jam enam pagi, ternyata masih pukul 2 dini hari. Aku tidak bisa tidur lagi. Jadi, aku memutuskan meneleponmu.”

Suho tersenyum tipis. Dia langsung menutup bukunya lalu menggeser duduknya untuk bersandar pada dinding.

“Bahumu baik-baik saja?”

“Ne. tapi bagaimana kau tahu kalau saat itu bahuku tidak baik-baik saja?”

Suho tersenyum sambil memeluk kedua kakinya yang terlipat. “Karena kau sedang membawa hatiku. Di manapun kau berada, apapun kondisimu, hatiku akan ikut merasakan apa yang kau rasakan.”

“Joonmyeon-ah~~”

“Youngie.. aku merindukanmu.”

“Nado, Joonmyeon-ah.”

Terdiam beberapa saat.

“Young.. aku mengantuk. Bisakah nyanyikan lagu sebagai pengantar tidurku?”

“Eum, tentu. Tapi dengan syarat, pergilah ke ranjangmu dulu.”

Suho tertawa kecil. “Baik, nyonya.”

Lelaki itu lekas bangkit dan menyeret kakinya untuk mendekati kasur lantainya. Ia pun berbaring dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh kecuali leher dan kepala.

“Aku sudah berbaring di kasurku.”

“Baiklah. setelah kunyanyikan lagu ini, langsung tidur, uh?”

Dear Santa (Wahai Santa)

It’s me Kwon Youngra (Ini aku, Kwon Youngra)

I know it’s been awhile but I really need (Aku tahu sudah lama, tapi aku sungguh butuh)

Your help this year (Bantuanmu tahun ini)

Let me make this clear (Biar kuperjelas)

See I really love him (Lihat, aku sungguh mencintainya)

And it’s been kinda tough cause (Dan rasanya agak sulit karena)

He’s only in town for the holidays (Dia di kota ini hanya untuk liburan)

Tomorrow he’s flying away (Esok dia kan pergi jauh)

Away from me (Jauh dariku)

I don’t need another gift (Aku tak butuh kado)

I just have one wish (Aku hanya punya satu harapan)

This year can you (Tahun ini bisakah kau)

Just make it snow in California (Turunkanlah salju di Kalifornia)

I’ll even settle for rain (Atau, hujan saja tak apa-apa)

Don’t want him to go tomorrow morning (Tak ingin dia pergi esok pagi)

Give me something to make him stay (Beri aku sesuatu agar dia tinggal)

Wrapped in his arms by the fireplace (Dalam pelukannya di dekat perapian)

Will be the perfect gift (Akan jadi kado yang sempurna)

Let it snow let it snow let it snow (Turunkanlah salju)

Let it snow (Turunkanlah salju)

In Calif-orn-i-a (Di Kalifornia)

-Ariana Grande *Snow in California*-

“Jalja-yo… nae suho.”

PIP

**

Teror menimpa mereka lagi. Kini, Lay diculik secara diam-diam oleh anak buah Dragon White yang lain. Alasan di balik itu karena si pemimpin Dragon White tidak terima anak buahnya di penjara selama setahun. Penculikan itu terjadi saat Lay pulang sendiri ke rumahnya usai sekolah. Suho dkk yang mendengar kabar itu, langsung mencari Lay di seluruh sudut kota Seoul. Karena lingkup wilayah yang terlalu besar, mereka meminta bantuan kepolisian dan ajudan-ajudan Suho serta Sehun. Pencarian besar-besaran itu dilakukan seharian penuh.

Akan tetapi, sampai malam tiba, mereka belum bisa menemukan batang hidung Lay. Jejak kepergian si penculik tidak dapat dilacak. Hal itu membuat Suho dkk semakin cemas.

“Dragon White… Dragon White… Dragon White…” Sehun tidak henti menggumamkan nama itu saat duduk di kursi belakang mobil yang dibawa oleh supirnya. Pandangannya tertuju lurus ke luar jendela memandang lampu-lampu jalan di trotoar kota Seoul.

“Ahjussi, berhenti!”

Sopirnya mendadak menginjak rem. Tanpa bertanya apa maksud anak majikannya menyuruhnya berhenti, dia hanya melihat dari spion kalau Sehun turun terburu-buru dan berlari memasuki sebuah rumah lama yang ada di depan mobil ini.

BRAK!

“Lay hyung! Eodi-ga?! Jawab aku!” teriak Sehun sesaat setelah menendang pintu rumah lama itu. suaranya menggema seakan di rumah itu hanya ada dia seorang.

BUG!

Itu bukan suara orang jatuh, bukan juga suara dari seseorang yang memukul Sehun, lebih tepatnya, itu suara dimana Sehun baru saja menendang seseorang yang menyerangnya dari belakang. Sekali tendang, orang yang Sehun yakini sebagai anak buah Dragon White langsung jatuh dan hilang kesadaran.

“Hyeong! Jawab aku!”

BUG! BUG! Brak!

Kali ini dua orang sekaligus. Sehun mengabaikan mereka dan kembali melanjutkan langkahnya. Semakin ke dalam, ruangan semakin gelap. Dan tanda-tanda keberadaan Lay belum juga telihat olehnya.

Sementara di luar, sang sopir mengambil ponsel Sehun di jok belakang yang sedang berdering. Tertera nama Kai di sana. Tanpa pikir panjang, si sopir langsung menerima panggilan itu.

“Yoboseyo.”

“Ah, ahjussi, kalian di mana sekarang?”

“Kami ada di distrik xxx blok perumahan lama. Tuan muda sekarang sedang ada di dalam salah satu rumah lama.”

“Ne? dia sendirian?”

“Ne.”

“Baiklah, aku akan kesana sekarang. Terima kasih infonya, ahjussi.”

“Sama-sama Tuan muda.”

PIP.

Sehun sampai di suatu ruangan di mana dia dikepung oleh banyak orang. Orang-orang itu memakai masker sehingga Sehun tidak bisa mengenali wajah mereka. Namun Sehun yakin, orang-orang itu pasti anak buah Dragon White yang ditugaskan menjaga rumah ini.

“Bisakah aku bertemu dengan bos kalian? Aku tidak mau membuang waktu dengan kalian,” ujarnya tenang sambil menatap mereka satu persatu.

Orang-orang itu seakan tuli. Mereka bukannya mengatakan keberadaan bos mereka, tapi justru menyerang Sehun bersamaan. Hal itu tidak bisa membuat Sehun terkejut, dalam kata lain, Sehun sudah menebak kalau ini akan terjadi. Maka dari itu, dia memilih melawan daripada mati.

Sementara di suatu ruangan rahasia rumah tersebut, Lay yang sedang disekap di sana sedang berhadapan dengan pemimpin Dragon White. Ruang ini kedap suara, jadi pantas kalau Lay sama sekali tidak mendengar teriakan Sehun.

“Ini sangat menggelikan mengingat kalian hanyalah anak-anak ingusan. Terlebih kau.”

Lay tidak mengucapkan apapun. Meski bibirnya tidak diplester, dia sepertinya enggan berbicara dengan orang itu. Matanya hanya menyorot tajam pada orang tersebut.

“Sebenarnya aku tak masalah melihat anak-anak itu dipenjara. Toh mereka yang mencari gara-gara. Tapi ternyata, dengan mereka dipenjara apa yang menjadi pekerjaanku selama ini pasti akan diketahui polisi. Aku lupa kalau anak-anak kecil itu bermulut besar.”

Lay bisa dibilang masih hidup karena terus bernafas.

“Anakku seusia denganmu, dia seorang gadis. Kalau bukan karena putriku, aku tidak akan hidup sampai saat ini. Kau pasti mengerti tentang arti seorang anak bagi orang tua kan? Ya, anakku sangat berharga untukku. Setelah ibunya meninggal, hanya anakku lah yang aku punya saat ini.”

Lay mengerutkan dahinya. Apa maksud dia menceritakan hal ini?

“Setelah kepergian istriku, aku kehilangan akal sehat. Pekerjaan-pekerjaan curang mulai kulakukan. Saat itu anakku masih berusia 5 tahun, dia belum mengerti apa yang dilakukan ayahnya di luar. Awalnya kupikir apa yang kulakukan itu benar. Tapi ternyata, saat putriku berusia 10 tahun, dia tahu apa yang kulakukan dan dia pun membenciku. Aku tidak bisa melarangnya karena aku memang pantas untuk dibenci. Sampai sekarang dia terus mengacuhkanku. Dia bilang, jika aku tidak berhenti dari pekerjaan ini, dia tidak akan menganggapku sebagai ayahnya.”

Lay merasa iba dengan orang tersebut. tatapannya lebih melembut dari sebelumnya.

“Dan dia benar-benar melakukan itu. Setiap kali ada rapat wali murid, dia lebih memilih menghubungi kakak istriku daripada aku. Semula aku merasa kesal, tapi sepertinya aku tidak punya hak untuk merasa begitu.”

Lay hanya meresponnya dengan helaan napas.

“Hanya saja, aku sepertinya masih punya hak pada anakku. Aku masih punya hak untuk menerima dan menolak lelaki yang akan mendampingi putriku nanti. Di samping sikapnya yang acuh padaku, aku tahu kalau putriku adalah gadis yang baik. Dia tidak pernah mengeluh saat harus di rumah sendirian. Dia juga tidak suka terlalu bergantung pada orang lain.”

Lagi-lagi Lay heran. Orang ini kenapa tiba-tiba menceritakan putrinya padaku?

Sang pemimpin kelompok Dragon White itu mendadak tersenyum. “Aku percayakan putriku padamu.”

DEG!

“Ne?”

BRAK!

“Hyeong!”

Lay serta pria itu reflek menoleh ke asal suara. Sehun dengan napas terengah-engah dan tubuh lebam sedang berdiri di ambang pintu. Dia melangkah dengan cepat menghampiri Lay.

“Sehun-ah?”

“Syukurlah kau baik-baik saja, hyung,” gumam Sehun seraya melepaskan semua ikatan di tubuh Lay. Dia agak terbatuk-batuk.

“Yaa, kau sendirian? Mana yang lain?”

“Sekarang bukan waktunya untuk menjelaskan. Kita harus keluar dulu dari sini.”

Semua ikatan di tubuh Lay sudah terlepas. Sekarang Lay bisa berdiri di sebelah Sehun.

“Kau kah pemimpin Dragon White?” tanya Sehun pada pria itu dengan bahasa informal.

“Eum, aku Dragon White.”

Kedua tangan Sehun mengepal di sisi kanan kiri tubuhnya. Dia berniat menyerang pria itu tapi Lay sukses menahannya. “Tidak Sehun, dia tidak menyiksaku.”

Sehun sebenarnya kesal ditahan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Dia akhirnya berdiri kembali di samping Lay. “Apa menipu perusahaan Oh sajangnim belum cukup untukmu, tuan Zhou Longwei? Apa maksudmu menculik Lay hyung, uh? Kau memanfaatkan kelemahannya?”

Pria yang dipanggil Zhou Longwei itu tersenyum. “Jadi kau tahu soal penipuan itu?”

Kedua tangan Sehun kembali mengepal.

“Ah.. bukannya kau dan ayahmu tidak punya hubungan baik?”

“Ne, kau bertanya alasanku menculik hyungmu? Keurae, aku akan katakan. Kasih aku saran untuk memulai cerita ini dari mana.”

Belum sempat Sehun menjawab, sekelompok polisi bersenjata tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu dan langsung meringkus pria tersebut. Tidak ada perlawanan berarti. Zhou Longwei pasrah saja saat beberapa polisi membawanya keluar.

“Kalian baik-baik saja?” seorang polisi bertanya pada Lay dan Sehun.

“Ne, aku baik-baik saja,” balas Lay cepat. Namun sedetik setelahnya, Sehun mendadak pingsan. Si polisi yang bertanya tadi langsung menangkap tubuh Sehun. Tanpa banyak bicara ia langsung membawanya ke dalam mobil dinas. Lay membuntuti mereka dari belakang.

**

Dokter mengatakan, Sehun mengalami dehidrasi dan kelelahan akibat peristiwa hari itu. Dokter menyarankan agar Sehun di rawat inap selama dua hari dua malam. Lay serta lainnya yang ada di sana, menuruti apa kata dokter.

Lay duduk di sebuah kursi dekat ranjang Sehun. Lelaki itu tak hentinya memandangi si bocah SMP yang terbaring lemah di atas ranjang. Memar-memar di wajah Sehun terlihat sangat menyakitkan. Lay bisa apa untuk menghilangkannya.

Sedangkan yang lain termasuk Suho, sedang duduk melingkar di sofa yang ada di ruangan tersebut. Mereka sama-sama terdiam dengan kepala tertunduk. Tidak ada satupun dari mereka yang terluka parah seperti Sehun. Di saat mereka sampai di rumah tua itu, Sehun sudah pingsan dan sedang dibopong oleh seorang polisi.

Ruang rawat inap ini Suho yang memesannya. Dia melakukan ini karena memiliki tanggung jawab terhadap Sehun, padahal dia sendiri sadar kalau Sehun bukanlah EXO apalagi saudaranya. Suho hanya berterima kasih pada Sehun yang rela terluka demi menolong sahabat dekatnya, Lay.

“Apa ayahnya perlu kuberitahu?” tanya Luhan tiba-tiba. Suaranya itu menggema di ruangan tersebut.

“Jangan, hyung. Ayahnya sedang ada di luar negeri,” balas Baekhyun cepat. Dia tahu keberadaan ayah Sehun karena Sehun sendiri yang menceritakannya.

“Ibunya?” sahut Luhan lagi.

“Sehun tidak pernah mau merepotkan ibunya, hyung,” kali ini Kai yang membalas.

“Lalu sama siapa dia tinggal di rumah?” dahi Luhan berkerut tanda penasaran.

“Dia sering menginap di tempatku. Dia tidak pernah suka tidur di rumahnya sendiri,” ucap Baekhyun hati-hati. Lamat-lamat dia melihat Sehun mulai bergerak.

“Sehun? Kau sudah baik-baik saja?” Lay langsung berdiri ketika Sehun membuka mata. Dia terlihat cemas ketika Sehun sedang berkedip-kedip tanpa tenaga sedikitpun.

“Hyung.. eodi?” tanyanya dengan suara lemah. Matanya bergerak ke kanan dan kiri melihat suasana asing di ruang ini.

“Kau ada di rumah sakit,” balas Lay sembari membenahi letak selimut Sehun.

“Wae?”

“Jangan banyak tanya. Tidurlah,” Suho tiba-tiba muncul di sisi ranjang yang lain kemudian duduk di sebuah kursi yang tersedia.

Sehun menoleh ke samping untuk melihat Suho. “Aku mau pulang, hyung.”

Mata Suho melebar. “Kau masih harus dirawat.”

Sehun menggeleng lemah tapi terkesan tegas. “Aku tidak suka rumah sakit.”

“Wae? Kau sakit dan kau harus di rumah sakit,” sepertinya Suho tidak setuju dengan kemauan Sehun yang satu ini.

“Tapi aku tidak mau, hyung. Baunya tidak enak,” kini kedua mata Sehun berkaca-kaca. Siapa yang tidak cemas melihat anak berandalan macam Sehun tiba-tiba menangis hanya karena tidak mau di rumah sakit. Suho reflek menggaruk kepalanya bingung.

“Tapi dokter menyuruhmu rawat inap dua hari dua malam. Bagaimana kalau ada apa-apa denganmu nanti?”

Sehun meraih tangan Suho lalu mengguncangkannya pelan. Air mata sudah merembes membasahi wajahnya. “Hyung.. jebal-yo..”

Pertahanan Suho akhirnya runtuh. Dia menghela napas, kemudian balas menggenggam tangan Sehun. “Aku akan bicara pada dokternya.”

Sehun mengusap air matanya dengan tangan yang lain. Dia tersenyum, senyum polos seorang anak berusia 14 tahun. Senyum itu membuat orang yang melihatnya ingin membalas dengan senyum juga.

Detik itu juga, bertemankan Luhan, Suho pergi ke ruang dokter untuk berkonsultasi dengannya. Butuh waktu agak lama untuk meyakinkan sang dokter. Tapi akhirnya, perjuangan mereka tidak sia-sia. Sehun diperbolehkan pulang asalkan selama dua hari penuh tangannya tetap tersambung jarum infuse.

Malam itu, mereka semua pulang dari rumah sakit. Hanya Suho, Sehun, Lay, Luhan dan Baekhyun yang pulang ke rumah EXO. Yang lain memilih pulang ke rumah masing-masing karena kelelahan seharian berkeliling kota Seoul.

“Kau tidak ingin makan?” tanya Lay pada Sehun yang sedang duduk bersandar pada dinding bersebelahan dengan Baekhyun yang mengacak tasnya.

“Sedikit saja, hyung,” balas Sehun dengan suara lemah. Bibirnya nampak kering karena belum minum apapun seharian ini.

“Eum, aku akan memasakkan sesuatu,” Lay pun segera bangkit dan pergi ke dapur. Dia berpapasan dengan Luhan yang membawa segelas air putih di ambang pintu kamar.

“Minum ini dulu. Dokter bilang kau dehidrasi.”

Sehun menerima gelas itu lalu meneguk isinya hingga ludes. Begitu gelas menjadi kosong, Luhan langsung membawanya ke dapur sekalian membantu Lay kalau diperlukan.

Sekarang focus pandangan Sehun tertuju pada Suho yang sibuk menata tempat tidur. Sehun tahu kalau Suho sudah lelah karena seharian ini juga ikut mencari Lay bahkan sampai ke Incheon. Sehun bukannya tidak mau memberitahu keberadaan Lay kepada Suho. Sehun hanya tidak ingin orang-orang macam Dragon White melukai para hyungnya. Dia sudah terlalu lama berurusan dengan Dragon White dan secara pribadi dia ingin membalaskan dendam pada mereka akibat bangkrut sementara yang mendera perusahaan keluarganya.

Semenjak mengenal EXO, terlebih Suho, dia menjadi lebih semangat untuk tetap hidup. Walaupun awalnya dia hidup hanya untuk main-main belaka. Baekhyun dan Kai yang dulu tidak bermakna apapun untuknya, sekarang sudut pandangnya berubah, Baekhyun dan Kai adalah keluarganya dan EXO adalah keluarga barunya. Dengan melihat mereka mengurusnya di saat dia sakit, Sehun sadar kalau mereka benar-benar tulus padanya.

“Kau melamun? Aku memanggilmu tiga kali dan kau tidak menjawab. Tempat tidurmu sudah siap. Berbaring dulu sambil menunggu makananmu datang,” ucap Suho tiba-tiba yang sukses membuyarkan lamunan Sehun. Suho sendiri setelah berkata begitu, langsung berdiri untuk memasang kantong infuse dengan benar di tiang yang dia dapatkan dari rumah sakit.

“Ternyata aku bawa bajunya. Ini, pakai dulu baju yang ada. Kau kan kecil, aku yakin bajuku cukup di tubuhmu,” Baekhyun meletakkan satu setel pakaian bersih di atas paha Sehun.

Sehun nampak berpikir sebentar. “Tapi hyung.. tanganku..” dia menunjukkan tangan kirinya yang tertancap jarum infuse.

Baekhyun menepuk dahinya. “Oh ya aku lupa. Suho hyung, bagaimana cara memasang bajunya dengan tangan seperti itu?”

Suho yang baru saja selesai menggantungkan kantong itu, langsung menoleh. “Kenapa memang?”

“Dia kan masih memakai baju rumah sakit.”

Suho nampak berpikir sebentar. Lalu tak lama kemudian dia menghela napas dan meraih kantong infuse itu lagi. “Dari pada melepas jarumnya, lebih baik pakai cara ini saja.”

Suho dan Baekhyun membantu Sehun berganti pakaian. Kesannya seperti dua kakak yang sibuk menggantikan pakaian adik kecilnya. Sehun yang mendapat perlakuan seperti itu tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Entah senang, entah geli. Dia tidak pernah diperlakukan begini oleh keluarganya.

Setelah berganti pakaian, Sehun dan yang lain mulai makan malam. Lalu setelahnya, tepat pukul 10 malam, semua orang sudah berbaring di tempat tidur masing-masing. Lagi-lagi Suho masih terjaga.

“Hyung.”

Suho reflek menoleh. “Uh? Kau butuh sesuatu?”

Sehun menggeleng. “Kenapa kau tidak tidur?”

“Aku harus belajar,” jawab Suho datar dan kembali menatap buku-bukunya.

“Hyung tidak lelah?”

“Tidak juga.”

Sehun terdiam sebentar. Tiba-tiba saja ponsel Suho berdering. Tanpa melihat siapa pemanggilnya, Suho langsung menerima panggilan itu dan menempelkannya ke telinga.

“Yoboseyo.”

“Malam, Joonmyeon-ah..”

Dahi Sehun berkerut heran ketika Suho secara tiba-tiba mengabaikan belajarnya. “Malam, Young.”

“Kau belum tidur?”

“Belum. Kau sendiri?”

“Aku tidak bisa tidur lagi..”

“Wae?” Suho menyandarkan punggungnya pada dinding, matanya menatap lurus ke depan, tidak fokus.

“Hongkong dingin sekali.”

Suho tersenyum. “Sebentar lagi musim salju. Apa tidak ada penghangat ruangan di sana?”

“Disini hanya ada AC.”

“Aku akan mengirimimu penghangat ruangan besok. Kirimkan padaku alamatnya nanti.”

“Andwae. Kau tidak perlu melakukannya.”

“Kalau tidak begitu, kau akan kedinginan sepanjang musim salju. Aku tidak mau kau kedinginan.”

“Joonmyeon-ah~”

“Um? Ada apa?”

“Jangan lakukan itu.”

Suho menarik kakinya dan melipatnya ke atas. “Kenapa jangan? Kau mau memberitahu ayah ibumu? Kau mau merepotkan mereka? tidak, aku tidak akan membiarkanmu merepotkan mereka. Ada aku di sini, repotkan saja aku.”

Sehun masih setia mendengar perbincangan Suho di telepon. Dia kurang lebihnya tertarik dengan apa-apa saja yang dibicarakan Suho. Dia menebak kalau orang yang menelepon Suho adalah orang yang special bagi hyungnya. Terbukti dengan wajah kalem Suho yang tidak pernah sekalipun nampak di penglihatan Sehun sebelumnya.

“Tapi Joonmyeon-ah.. kita..”

“Kita bukan sepasang kekasih? Uhm.. memang iya. Lalu apa salahnya?”

“Aku tidak suka merepotkan orang lain, Joonmyeon-ah. aku-”

“Apa aku adalah orang lain? Aku masuk dalam kategori orang lain?” wajah Suho tetap kalem dan ekspresinya datar seperti biasa.

“A-ani. Bukan itu maksudku. Aku..”

“Ne, aku tahu apa yang akan kau katakan. Aku memahamimu lebih dari yang kau tahu. Aku juga sadar status kita. Ya, kita tidak punya hubungan pasti. Tapi.. bisakah kau biarkan aku?”

“Ne?”

“Biarkan aku seperti ini padamu.”

“Joonmyeon-ah..”

“Aku belum tujuhbelas tahun, aku belum mengerti definisi perasaanku sendiri. Aku butuh dirimu untuk memahami perasaanku sendiri. Jadi, bisakah kau biarkan aku seperti ini?”

“Joonmyeon-ah..”

Suho tersenyum. “Teruslah memanggil namaku seperti itu, aku menyukainya. Aku menyukai suaramu juga, senyummu, bulu matamu, tatapanmu, rambutmu dan semua yang ada dalam dirimu. Aku menyukai semuanya.”

Sehun tanpa sadar tersenyum mendengar ucapan Suho barusan. Dia membayangkan kalau saja dia punya seorang gadis untuk dicintai, mungkin hidupnya bisa terlihat bahagia seperti itu.

“Ini sudah malam, Joonmyeon-ah. Kau baik-baik ya disana. Jaga dirimu di musim dingin. Jalja-yo.”

“Um, jalja.”

PIP

Suho menurunkan ponselnya kemudian mengusap-usap layar ponsel itu. Dia tersenyum sebentar sebelum sebuah suara membuatnya menoleh. Sehun yang berbaring di tempat tidur dalam keadaan menyamping, sedang tersenyum padanya.

“Kau tidak tidur?” tanya Suho dengan nada dingin seperti biasa. Dia nampak memainkan ponsel sebentar untuk menutupi keterkejutannya.

“Hyung, dia itu kekasihmu ya?”

Suho meletakkan ponsel itu di atas meja. “Bukan.”

“Noona itu pasti cantik sekali.”

Ucapan Sehun sukses membuat Suho menoleh. “Maksudmu?”

“Aku tahu, hyung bukan tipe yang mudah jatuh cinta. Apalagi hyung-hyung lain bilang kalau sifat kita sama. Kalau hyung bisa seperti tadi, aku yakin noona yang menelepon hyung itu adalah noona yang sangat cantik. Aku benar kan?”

Suho memandang Sehun lamat-lamat. Dia seakan sedang bercermin karena sifat Sehun memang sama dengan sifatnya. Lihatlah si kecil itu, dia yang tadi siang berkelahi sendiri melawan banyak orang, sekarang ada di sampingnya dengan wajah ceria khas anak kecil kebanyakan.

“Kau ini tahu apa, bocah?” Suho menempelkan ujung telunjuknya pada dahi Sehun hingga membuat Sehun memejam lucu.

“Kan kita sama, hyung.”

“Sejak kapan aku mau disamakan denganmu,” balas Suho jahat sembari mengusap dahi Sehun dengan lembut.

“Tapi hyung tidak pernah menolaknya,” kali ini sambil memejam Sehun tersenyum mendapat sentuhan Suho.

“Sudahlah, tidur sana,” kali ini Suho mengusap-usap rambut Sehun yang sedikit berantakan.

“Shireo. Aku masih mau merasakan tangan hyung.”

Suho diam-diam tersenyum. “Bisa saja aku memukulmu.”

“Aku yakin kau tidak begitu, hyung.”

Suho menghentikan pergerakan tangannya lalu mengecup dahi Sehun dalam beberapa sekon. “Tidurlah, aku juga mau tidur.”

Sehun membuka matanya lalu tersenyum. “Gomawo, hyung.”

Suho mengacak rambut Sehun sebentar sebelum bangkit dan melangkah ke tempat tidurnya. Dia berbaring tapi belum bisa tidur. Kedua tangannya bertumpuk di belakang kepala, sedangkan kedua matanya memandang lurus ke atas.

Semua yang kulakukan… apakah aku menyadarinya? Ini seperti bukan aku. Jiwaku adalah Joonmyeon, tubuhku adalah Suho. Dan Joonmyeon-lah yang mengendalikan Suho. Tubuhku dikendalikan oleh ragaku, dan terkadang malah sebaliknya. Jadi sekarang… apakah aku benar-benar menerima kehadiran mereka semua? Youngra? Sehun? Lay?

Ah… ada apa dengan diriku?

**

Sekolah di musim dingin menjadi kendala tersendiri. Perjalanan pergi dan pulang sekolah serasa sedang mengelilingi kutub utara dua kali sehari. Jika pakaian yang dipakai terlalu tipis, dipastikan sampai rumah/sekolah tubuhmu akan memucat dan wajahmu akan memerah. Namun dari semua kesulitan itu, kemudahan yang didapat adalah, sekolah hanya berlangsung selama 7 jam perhari dan hari libur akan bertambah mulai hari jum’at sampai minggu per-pekannya.

Lay berjalan sendirian menyusuri trotoar yang akan membawanya ke kantor kepolisian pusat. Hari ini hari jum’at, Lay menggunakannya untuk pergi ke sana. Dia nampak membawa sebuah tas yang isinya adalah rantang makanan. Rantang makanan itu akan diberikan pada orang yang dikunjunginya hari ini.

Udara dingin menusuk kulit hingga ke tulang-tulangnya. Berulang kali dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangan, rasa dingin it uterus menyergapinya. Dia benar-benar berhenti melakukan itu sesampai di kantor kepolisian. Adanya penghangat ruangan membuatnya lega.

“Oh? Bukannya kau Zhang Yi Xing? Ada apa kau kemari?” tanya seorang anggota kepolisian yang pernah bertugas untuk menyelamatkan Lay dulu.

“Ne. Saya kemari ingin menemui seseorang. Bisakah?”

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s