Perfect One Pt.13


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser || Pt.1 || Pt.2 || Pt.3

Pt.4 || Pt.5 || Pt.6 || Pt.7

Pt.8  || Pt.9 || Pt.10 || Pt.11

Pt.12

.

“Kenapa hanya ingin? Kita langsung habisi saja dia.”

Orang-orang itu mempercepat langkah mereka. Lay yang panic mulai kehilangan akal. Dia bukannya lari malah memungut batu dan melemparkannya ke mereka.

“Ah.. kau berani melawan ya? keurae, aku juga tidak akan segan membunuhmu.”

Di saat keadaan semakin genting, dewi fortuna akhirnya menyelamatkan Lay. Entah dari mana datangnya, tiga haksaeng berseragam SMP Daesang muncul dan berdiri di depan Lay. Ketiganya tampan. Tapi kata ‘tampan’ itu lebih cocok digantikan dengan kata ‘garang’. Tak peduli setinggi apa para berandalan itu, ketiga haksaeng itu tidak takut untuk tetap berdiri di depan Lay.

“Aigoo.. ada apa dengan anak-anak ingusan ini?”

Satu dari tiga haksaeng yang berdiri di tengah, dengan kasarnya langsung melempar tas pada berandalan yang tadi mengatainya ingusan. Tas itu nampak berat, tapi nyatanya bergerak cepat sekali menghantam wajah berandalan itu. Haksaeng yang melakukan ini adalah seorang lelaki berkulit putih pucat dengan rambut berwarna abu-abu. Tingginya tidak seberapa. Sorot matanyalah yang menjelaskan bahwa dia berani.

Dua haksaeng lain melepaskan tas mereka dan menjatuhkannya ke tanah. Mereka juga menanggalkan blazer sekolah lalu melipat kemeja bagian lengan hingga memperlihatkan lengan bawah mereka.

“Sialan. Aku tidak akan memaafkanmu, anak ingusan!”

Haksaeng berwajah imut yang berdiri di sisi kanan langsung menghindari serangan berandalan itu kemudian menendang tengkuk sekuat tenaga. Lain lagi dengan haksaeng berkulit kecoklatan yang berdiri di sisi kiri. Dia terus menghindar dan menghindar, oh ya jangan lupakan smirk menyebalkannya juga saat dia berhasil menghindar, tapi sama saja, di akhir dia memberikan ending yang memuaskan pada si berandalan dengan pukulan mematikan tepat di bagian dada.

Beda dengan haksaeng berkulit putih pucat. Dia seakan-akan seorang veteran dari master pertarungan. Tubuhnya yang lincah, cekatan dan lentur, membuatnya mudah sekali menghindar dan menyerang lawan. Kedua matanya tajam seperti elang. Dia seakan bisa membaca gerakan lawan dan melakukan aksi menghindar yang tepat.

Pemandangan itu membuat Lay terpana. Mungkin dia tidak pernah membayangkan akan melihat para haksaeng SMP yang berani melawan para berandalan. Apalagi para haksaeng itu menolongnya.

“Ah Tao.”

Buru-buru Lay mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menekan call pada kontak Tao.

“Ya?”

“Cepat datang kemari. Kami membutuhkanmu.”

“Kalian ada di mana?”

Begitu Lay menyebutkan lokasi keberadaannya, panggilan langsung terputus.

Tidak usah menunggu lama, Tao datang tiga menit kemudian ke lokasi yang disebutkan Lay. Saat Lay menelepon tadi, dia sedang berbelanja di sebuah swalayan yang letaknya sangat dekat dari lokasi. Mendengar panggilan darurat itu, Tao melupakan daftar belanjanya dan langsung melesat pergi.

Tawuran itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya polisi datang dan langsung membekuk mereka semua termasuk EXO, tiga haksaeng SMP Daesang dan Tao. Mereka di bawa ke kantor polisi untuk diperiksa.

Seorang polisi yang menginterogasi mereka bilang bahwa mereka akan ditahan di sel kantor sampai wali mereka datang. Tapi untungnya, kepala kepolisian datang. Kepala kepolisian itu tidak lain tidak bukan adalah ayah Chanyeol. Melihat anaknya babak belur diantara yang lain, tanpa basa-basi beliau langsung menghampirinya.

Chanyeol mengangkat kepala saat kepalanya ditepuk dua kali secara lembut oleh sang ayah. Harusnya dia mendapat amarah karena ikut tawuran, tapi yang dia herankan, kenapa ayahnya malah tersenyum?

“Mana teman-temanmu?”

Chanyeol langsung menoleh ke samping untuk menunjukkan para member EXO. Sang ayah memperhatikan detail mereka satu persatu. Tatapannya berhenti pada Suho dan salah satu haksaeng SMP Daesang.

“Kalian bukannya putra dari Kim Joon Suk dan Oh Jaejun?”

Merasa nama orang tuanya disebut, Suho dan haksaeng itu langsung angkat kepala. Mereka juga sama seperti Chanyeol, heran mengapa pria itu kenal ayah mereka.

“Kalian, teman-teman anakku, bisa pulang malam ini. Tapi ingat, jangan ulangi perbuatan ini lagi. Pulanglah besok setelah wajah kalian baik-baik saja. Aku yang akan menghubungi orang tua kalian.”

Setelah mendengar kalimat itu, Chanyeol membawa semuanya termasuk Tao dan tiga haksaeng SMP Daesang ke rumah EXO. Hanya rumah ini satu-satunya yang bisa digunakan untuk singgah. Mungkin malam ini mereka akan menginap di sana untuk memulihkan luka-luka di tubuh mereka.

Sesampai di sana…

“Ini rumah EXO,” terang Lay pada tiga haksaeng SMP begitu mereka ada di dalam. Lay satu-satunya yang tidak terluka.

“Kamar di sini hanya satu, tapi cukup luas untuk menampung semuanya. Kalian tidak apa-apa kan? Mereka anak-anak yang baik, jangan khawatir.”

“Aku tidak akan merepotkan kalian, hyung,” ucap haksaeng berkulit kecoklatan yang diketahui namanya sebagai Kim Jong In alias Kai. Dia duduk bersadar pada dinding sambil mengusap-usap pipinya yang lebam. Matanya tertuju lurus pada Lay yang sedang menyiapkan tempat tidur bagi mereka semua.

“Mereka tadi siapa, hyung? Kenapa mereka menghadangmu?” kini Byun Baekhyun si haksaeng berwajah imut angkat bicara. Dia tidak duduk menonton seperti Kai, dia membantu Lay menyiapkan tempat tidur.

“Bukan siapa-siapa, mereka hanya pengganggu,” balas Lay tanpa pikir panjang.

“Mereka anak buah Dragon White,” cetus haksaeng berkulit putih pucat Oh Sehun secara tiba-tiba.

“Dari mana kau bisa tahu itu?” seloroh Baekhyun yang rupanya masih penasaran dengan orang-orang yang tadi menghadang EXO.

“Kau tidak lihat tato di leher mereka? sudah jelas-jelas itu tato naga.”

Kai menoleh ke samping melihat Sehun heran yang sedang memejam. “Sepertinya kau tahu banyak soal dunia gangster.”

“Hanya kebetulan tahu saja.”

“Cha. Sudah selesai. Kalian bisa tidur.”

Kai dan Sehun langsung berebut tempat tidur. Mereka memperebutkan satu tempat, padahal tempat tidurnya masih luas. Pemandangan ini sudah biasa bagi Baekhyun, tapi mungkin tidak bagi EXO.

“Ey kalian, tempatnya masih luas. Jangan membuatku kesal dua kali,” tegur Kris dengan suara datarnya sambil merebahkan tubuh di satu tempat yang jauh dari mereka.

Mendengar itu, Kai akhirnya mengalah. Dia menempati sisi kosong di sebelah Sehun. “Awas kau.”

“Mwo?” gumam Sehun acuh sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Kenapa kalian bisa tiba-tiba muncul?” tanya Suho lebih tepatnya pada tiga haksaeng SMP itu.

“Oh itu. Sebenarnya kami hanya berniat lewat sana. Rencananya kami akan pergi ke game center untuk bermain game dance. Tapi tidak sengaja kami melihat sunbaenim ini. Sehun bilang sunbae ini dalam bahaya, jadi kami langsung datang dan menolongnya,” terang Baekhyun panjang lebar sambil menunjuk Lay. Dia masih belum tahu nama Lay ataupun yang lainnya.

“Namaku Zhang Yixing, panggil saja Lay hyung,” seru Lay yang sedang sibuk menata tas mereka di sudut ruangan.

“Oh? Aku boleh memanggilmu hyung?”

“Eum. Panggil mereka hyung juga. Oh ya, kecuali Chanyeol, dia seusia denganmu.”

“Ah… algeuseummida, hyung.”

“Kalian tidak takut kena hukuman kalau guru kalian melihat ini?” celetuk Chanyeol yang datang menghampiri Baekhyun dan duduk di sebelahnya.

“Seonsaengnim tidak akan menghukum kami. Karena diantara kami ada si maknae menyebalkan ini,” sahut Kai sembari menunjuk Sehun dengan lirikannya. Merasa dirinya disebut, Sehun langsung membuka mata.

“Kau itu yang menyebalkan.”

“Yaa! aku usir kalian dari sini kalau tidak bisa diam!”

Sentakan Kris langsung membuat dua anak SMP itu bungkam. Mereka memang diam, tapi sebenarnya kedua mata mereka masih saling melakukan perdebatan.

“Kenapa seonsaengnim tidak akan menghukum kalian?” kini giliran Luhan angkat bicara.

“Dia keturunan Oh Jaejun sajangnim, pemilik sekolah Daesang. Kau tidak lupa orangnya kan?” Xiumin menjawabnya dengan tenang. Dia sedang duduk di sebelah Luhan sambil mengompres wajahnya dengan es batu.

“Oh sajangnim? Jinjja?” harusnya Luhan yang terkejut tapi entah kenapa yang terkejut malah Suho.

“Ck, bisakah tidak membicarakan dia? Dia bukan raja dan aku bukan pangeran, jadi jangan bicarakan dia lagi,” ketus Sehun sembari menyembunyikan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.

“Yaa, dia itu ayahmu. Dan lagi, kau bisa tidak sih bicara dengan sopan pada orang yang lebih tua. Dia itu sunbaemu,” tegur Baekhyun dengan wajah kesal sambil memukuli Sehun dengan tangannya. Terkadang dia sebal dengan kelakuan Sehun yang terlalu seenaknya sendiri. Kehidupan Sehun memang sama dengan kehidupan Suho, sama-sama kurang kasih sayang dari orang tua dan sering ditinggal di rumah sendiri. Perangainya menjadi kurang sopan. Dia tidak pernah peduli apakah orang itu lebih tua darinya, cara bicaranya akan sama saja seperti berbicara pada teman sebaya.

“Sehun-ah, kau… tidak jauh beda dengan Suho. Kusarankan kalian berdua pergi bertapa di kuil untuk membenahi perangai kalian. Ah.. hari ini melelahkan sekali,” Luhan lekas bangkit lalu merebahkan dirinya di sebelah Kris. Tidak butuh waktu lama, dia sudah tertidur lelap.

“Kau tidak tidur juga?” tanya Xiumin pada Tao yang sejak tadi berdiam diri di dekatnya.

“Eung? Oh, baiklah.”

“Ayahmu, sampaikan terima kasihku untuknya, ya?” celetuk Baekhyun pada Chanyeol. Seperti biasa, dia akan memberikan senyum termanisnya pada orang yang diajaknya bicara.

Chanyeol balas tersenyum. “Tentu. Akan kusampaikan pada appa nanti.”

“Aku Baekhyun, kau?”

“Chanyeol. Park Chan Yeol.”

Mereka berdua saling berjabat tangan.

“Bagaimana kalau kupanggil Yoda saja? Hehe.”

Ekspresi shock langsung tergambar di wajah Chanyeol. Dia berkedip-kedip selama beberapa saat. “Ne?”

“Hehe, bercanda. Mari kita berteman. Asalmu bukan dari Daesang ya?”

“Ah… aku dari SMP Jinkook. Suho hyung dan Lay hyung juga berasal dari sana.”

“Wah.. oh ya.. kenapa rumah ini disebut rumah EXO?” dahi Baekhyun berkerut tanda penasaran.

Chanyeol tersenyum bangga. “EXO itu nama kelompok kami. Membernya ada aku, Suho hyung, Lay hyung, Kris hyung, Luhan hyung dan Xiumin hyung. Kupikir nama EXO sudah terkenal di Daesang.”

“Ani, aku sama sekali belum mendengarnya. Apa itu kelompok gangster?”

“Itu bukan nama gangster atau apapun. Itu hanya sebuah nama. Jadi kalian berdua, cepatlah tidur,” sela Suho tiba-tiba yang sudah memisahkan Chanyeol dan Baekhyun dari pembicaraan itu. Chanyeol merasa tidak rela, tapi mau bagaimana lagi kalau menolak suruhan hyungnya. Dia langsung berbaring di satu tempat, lalu Baekhyun di sebelahnya.

Tepat pukul 11 rumah ini langsung senyap. Di urutkan mulai dari sebelah kiri, Sehun, Kai, Baekhyun, Chanyeol, Lay, Luhan, Kris, Tao, Xiumin dan Suho. Masa bodoh dengan batas, yang penting mereka bisa tidur dengan nyenyak dan damai malam ini.

**

“Joonmyeon-ah..”

“Ne..”

Suho langsung mendudukkan dirinya begitu melihat Youngra datang. Gadis itu tersenyum ke arahnya sambil duduk di dekatnya.

“Aku merindukanmu..”

Suho hanya diam saja ketika Youngra mengusap wajahnya. Lembutnya kulit tangan gadis itu membuat kulitnya meremang.

“Hiks.. aku sangat merindukanmu..”

Sekarang Suho terkejut melihat Youngra yang tiba-tiba menangis. Dia tidak tahu harus melakukan apa.

“Kenapa menangis? Kenapa?”

Youngra berniat pergi, tapi tangannya sudah lebih dulu ditangkap oleh Suho. “Yaa, jawab dulu pertanyaanku.”

Gadis itu sama sekali tidak menjawab. Tangisannya justru semakin keras dan itu membuat Suho cemas. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Suho selain memeluknya.

Di saat itulah Suho bisa melihat luka melintang berwarna merah yang nampak di bahu sebelah kanan Youngra. Luka itu terlihat menyakitkan dan sepertinya masih baru.

“I-ini.. lu-luka apa?” Suho hampir saja menyentuh luka tersebut saat tiba-tiba Youngra meremas bajunya.

“Appa-yo..”

“Neomu appa-yo Joonmyeon-ah…”

“Siapa yang melakukan ini?”

Youngra tidak menjawab pertanyaannya tapi terus mengulangi kalimat sebelumnya. Hal itu makin membuat Suho kalut. Melihat luka itu di sela-sela mendengar tangis Youngra, lama-kelamaan perasaan Suho ikut sakit.

Suho mendadak bangun. Dia bisa merasakan dahinya yang penuh dengan keringat dingin. Napasnya sedikit tersendat-sendat dan perasaannya terasa sakit. Dia menoleh ke sekitar, namun hanya menemukan sembilan lelaki yang tidur sangat lelap.

Suho langsung bangkit, mendekati tasnya, lalu keluar dengan langkah pelan-pelan sambil membawa ponsel.

Dia duduk di lantai teras rumah EXO. Karena dingin, dia merekatkan jaketnya dan memasukkan tangan kiri ke saku jaket. Sementara tangan kanannya memegang sebuah ponsel. Dia membuka menu kontak dan melihat-lihat daftar nama yang tertera. Kontak dengan nama Chosarang ternyata masih ada di daftar nama. Menimang-nimang sebentar apakah dia harus menekan nama itu, akhirnya Suho benar-benar memencetnya.

“Uhm.. yoboseyo..”

Suho cekikikan sendiri mendengar suara serak Youngra. Pasti Youngra sedang lelap-lelapnya tidur saat dia sengaja meneleponnya.

“Malam.. sayangku..”

“Uh? Ah.. Joonmyeon-ah..”

Suho menggeleng pelan saat sadar kalau Youngra tidak melihat nama pemanggil sebelum menekan tombol terima.

“Maaf mengganggu tidurmu..”

“Gwaenchanha. Kau sendiri kenapa belum tidur? Sekarang jam.. satu dinihari… kau tidak bisa tidur, uh?”

Suho melirik jam tangannya. “Di Korea masih jam 12 malam.”

“Benarkah? Ah.. aku lupa kalau waktunya berbeda.”

Suho tersenyum. “Sayang… aku merindukanmu.”

“Kau pikir aku tidak?”

“Kau baik-baik saja? Orang-orang di sana baik padamu?”

“Tentu. Orang-orang disini tidak jauh beda dengan yang di Korea.”

“Benarkah?”

“Ne. Kau tidak percaya padaku?”

Suho tersenyum tipis. “Eum, aku percaya padamu, sayang.”

“Yaa, kau memanggilku seperti itu, aku jadi merasa kita sedang melakukan long distance relationship. Kenapa tiba-tiba meneleponku? Kau tidak takut tagihan pulsamu naik karena komunikasi internasional?”

Suho menggeleng, dia tahu Youngra tidak akan tahu ini. “Aku tidak takut pada hal seperti itu. Aku hanya takut kalau…” apakah aku harus tanyakan ini?

“Kalau apa?”

Suho buru-buru menggeleng. “Tidak, tidak. aku hanya takut kalau aku tidak mendengar kabarmu. Kau benar, kita seperti sedang melakukan long distance.”

Youngra tertawa di seberang sana. “Rasanya aneh. Aku tidak pernah melakukan ini dengan siapapun.”

“Kau memang tidak boleh melakukannya kecuali padaku.”

“Cih.. egois sekali.”

“Eum… berat badanmu berapa sekarang? Naik? Atau turun? Hm.. kuharap saja naik.”

“Kalau aku jawab naik, apa kau akan menertawaiku? Memangnya apa pentingnya aku menjawab pertanyaanmu?”

“Tentu saja penting, sayangku. Aku tidak akan menertawaimu, janji. Aku justru lebih senang berat badanmu naik daripada turun. Aku ingin memastikan apakah Youngra-ku baik-baik saja di sana.”

“Aku heran kenapa kau mendadak romantis, Joonmyeon-ah. Apa ada yang tidak beres dengan pikiranmu? Kenapa malah sekarang aku yang judes?”

Suho cekikikan lagi. “Bukannya kau harus bersyukur saat aku berubah romantis? Ini jarang kulakukan, sikap romantisku ini limited edition. Hanya Kim Youngra saja yang mendapatkannya.”

“Kim? Yaa, sejak kapan namaku menjadi Kim Youngra?”

“Sejak aku mencintaimu, sayang. mmmuah!”

“Yaa. Kau mengerikan sekali. Bisakah kau tidak membuatku gila malam-malam begini, sayang?”

Suho menyeringai tatkala mendengar panggilan yang sama dari Youngra padanya. “Maaf, tapi aku tidak bisa.”

“Aish Joonmyeon-ah..”

“Apa, sayangku? Mau minta cium lagi?”

“Andwae.”

“Aku akan membuatmu gila malam ini, dan malam-malam selanjutnya. Tapi akan lebih baik kalau kau ada di sini. Kau akan tahu bagaimana gilanya bersama seorang Kim Joonmyeon di malam hari.”

“Uh? Aish!! Hentikan ucapanmu!”

“Aku tidak mau, wek. Aku tidak akan berhenti.”

“Kim Joon Myeon!!”

“Iya sayangku, cintaku, bidadariku, kekasihku, pujaan hatiku?”

“Aku matikan sambungannya kalau kau tidak berhenti.”

“Ey.. mengancam ya? silakan kalau berani. Aku akan berkencan dengan seorang gadis cantik di sekolahku kalau kau benar-benar mematikan sambungannya.”

“Aaah~ Myeon…”

“Panggil aku Joonmyeon sayang dulu.”

“Shireo.”

“Ayolah… apa kau mau aku berkencan dengan-”

“Iya, iya Joonmyeon sayang. puas?”

“Aduh, aku belum puas sepertinya. Bisakah katakan dengan suara lembut?”

“Oppa~~~”

“Ayolah, sekali ini saja.”

Terdengar omelan tidak jelas di seberang sana, tapi tak lama kemudian.. “aku mencintaimu, Joonmyeon sayang.”

“Aku juga Kim Youngra sayang, mmuah mmuah! Sudah ya, aku matikan dulu. Cepat tidur dan mimpikan aku. Dan satu lagi… semoga bahumu baik-baik saja. Aku sangat-sangat mencintaimu. Jalja!!! Mmuah!”

KLIK!

Suho mengusap-usap layar ponselnya sambil bergumam, “semoga bahumu memang baik-baik saja.”

Sementara di Hongkong, pukul 1.30 dini hari…

Setelah beberapa detik terdiam, Youngra akhirnya tersenyum. Dia menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan melihat kontak Suho yang masih terpampang di sana. Baginya lelaki itu penuh kejutan. Bohong kalau Youngra tidak senang Suho menghubunginya. Hanya saja dia tidak habis pikir kalau Suho tahu bahwa bahunya terluka. Luka di bahunya dia dapat bukan dari terjatuh tapi dari kelakuan teman-temannya di Hongkong. Karena dia berasal dari Korea, dia langsung dibully oleh teman-temannya yang mengakibatkan bahu kanannya terluka. Setetes cairan bening mendadak jatuh dari kelopak matanya. Namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum.

Aku sangat merindukanmu, Joonmyeon-ah.

**

Esoknya, EXO kembali masuk sekolah begitu pula tiga haksaeng SMP plus Tao. Jika yang lain memilih pulang ke rumah masing-masing, Suho justru pulang ke rumah Lay. Dia berdalih kalau dia malas pulang karena rumahnya cukup jauh dari sekolah. Awalnya Lay tidak menyetujui keinginan Suho, tapi melihat ekspresi Suho yang terlihat seperti orang tertekan, akhirnya Lay setuju juga.

Mereka pergi ke sekolah menggunakan sepeda kayuh milik Lay.

“Wajahmu sudah tidak apa-apa?” tanya Lay tiba-tiba.

“Eum. Sudah lebih baik.”

Hening sesaat.

“Mian.”

“Untuk apa?”

“Sikap sok pemberaniku. Mian.”

Suho melihat punggung Lay lamat-lamat. “Tidak masalah. Dengan begitu, kau sekarang sadar kan, kenapa aku ngotot melarangmu?”

“Eum. Kau benar. Gomawo.”

Suho tersenyum tipis sembari menepuk pelan punggung Lay. “Tidak usah dipikirkan lagi. Mengendaralah dengan focus.”

Seolah senyum adalah virus menular, Lay yang sedang membonceng tiba-tiba tersenyum.

**

Kehidupan sekolah mereka lancar dan tenang-tenang saja. Tidak ada terror lagi dari Dragon White. EXO dan yang lain menjalani masa muda mereka dengan ceria. Tapi sepertinya, kata ceria itu bukan karena bangku sekolah, melainkan pertemuan mereka setiap hari di rumah EXO.

SMA Daesang memiliki jam masuk pukul 7 pagi dan jam pulang pukul 10 malam. Lay, Suho, Luhan, Kris dan Xiumin sampai di rumah EXO lebih akhir daripada Baekhyun, Sehun, Chanyeol, Kai dan Tao. Sesampai di sana, kelima haksaeng SMA itu dikejutkan dengan kelima haksaeng SMP yang ketiduran jama’ah di depan televise yang menyala. Bungkus snack ringan bertebaran di mana-mana. Melihat kondisi kacau itu, kelima haksaeng SMA hanya bisa menggeleng tidak percaya.

Kris melangkah mendekati Chanyeol kemudian menggoyangkan tubuh Chanyeol dengan kakinya. “Yaa, kau cari mati dengan hyung, uh? Ireona.”

Chanyeol perlahan membuka matanya. “Uh? Hyeong? Kau sudah pulang?”

“Ppali ireona, bersihkan sampah-sampahnya,” balas Kris tanpa sedikitpun punya belas kasihan. Mungkin dia terlalu lelah dengan sekolahnya sehingga dia malas untuk mengalah pada ‘saengi-saengi’nya malam ini.

Meski mengantuk berat, Chanyeol akhirnya bangun juga. Dia harus mengumpulkan nyawanya dulu sebelum mulai menjalankan perintah.

Sementara Kris sibuk membangunkan anak-anak itu, Lay sudah lebih dulu pergi ke kamar untuk menyiapkan tempat tidur. Sedangkan Suho, Luhan dan Xiumin, bekerja sama membersihkan kekacauan.

Dan jadilah, tengah malam semuanya sudah tidur berjejer di kamar, masih dengan formasi yang sama seperti dulu. Tapi, ada satu yang masih terjaga di malam yang sudah larut ini.

Suho.

Lelaki itu duduk bersila menghadap sebuah meja pendek yang di atasnya terdapat bertumpuk-tumpuk buku. Dia sedang belajar. Masuk SMA dan memiliki grup EXO, kebiasaan lamanya gila belajar masih terpatri dalam dirinya. Dia tidak akan tidur kalau kebiasaannya belum terlaksana. Entah ada tugas atau tidak, dia tidak akan tidur sebelum belajar.

Hingga pukul 1 dini hari dia berkutat dengan buku-bukunya, ponselnya tiba-tiba bergetar. Suho dengan reflek langsung meraih ponselnya dan menekan tombol terima tanpa melihat siapa si penelpon.

“Yoboseyo..”

“Joonmyeon-ah.. ini aku.”

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s