Perfect One Pt.12


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser || Pt.1 || Pt.2 || Pt.3

Pt.4 || Pt.5 || Pt.6 || Pt.7

Pt.8  || Pt.9 || Pt.10 || Pt.11

.

“Lay! Kau mau kemana?! Yaa!”

“Aku akan menemukan mereka dan menghajarnya!”

Lay mempercepat larinya dan Suho ikut menambah kecepatan. Lay sama sekali tidak mengurangi kecepatan saat akan menyeberang jalan raya. Dan mungkin Lay tidak tahu kalau ada sebuah motor yang sedang melaju kencang dari salah satu arah. Tapi Suho yang tahu, langsung mengerahkan seluruh tenaganya dan mendorong punggung Lay hingga terjatuh di dekat trotoar. Sementara dia secara reflek berhenti berlari di tengah jalan. Bodohnya dia tidak pergi dari sana dan malah menatap motor yang menghampirinya itu.

Dalam hitungan detik Suho merasa dirinya ditarik ke belakang oleh seseorang. Motor yang tadi melaju kencang ke arahnya sekarang sudah melewatinya tanpa sedikitpun mengenai tubuhnya.

“Dasar bodoh.”

Reflek Suho mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang merangkul lehernya ini. Rupanya si tubuh jangkung itu adalah Kris. Napas lelaki itu terengah-engah dan sorot matanya tajam menusuk.

Suho pun tertunduk karena merasa bersalah pada lelaki yang menolongnya itu.

**

Interogasi akhirnya dimulai. Lay dan Suho duduk bersandingan, dimana di hadapan mereka sudah duduk Kris dan Luhan sementara Xiumin dan Chanyeol mengelilingi mereka. Lay dan Suho sama-sama tertunduk dalam. Tatapan yang disorotkan pada mereka tidak lebih tidak kurang adalah tatapan marah sekaligus kesal. Luhan yang selalu menampakkan wajah ramah dan ceria, kini ikut-ikutan Kris bertampang masam.

“Kalian tidak menghargai kami?” cetus Kris yang akhirnya buka mulut setelah mereka terlibat acara saling diam.

Antara Suho dan Lay, tidak ada satupun yang berani menjawab.

“Kalian berdebat berdua dan tidak melihat kami yang ada di sana. Apa ini yang kalian sebut EXO?” Luhan menimpali ucapan Kris.

“Sejak awal EXO hanya sebuah nama,” sela Suho tiba-tiba.

“Ya, kau benar. Tapi bukankah EXO itu adalah nama persahabatan kalian berdua?” Luhan membalas ucapan Suho dengan cepat yang membuat Suho kembali bungkam.

“Masalah kalian adalah masalah kami juga. Kita bisa menyelesaikan semua masalah jika kita bersama,” ucap Xiumin tiba-tiba. Ekspresinya jauh lebih tenang dari pada Kris dan Luhan.

“Xiumin hyung benar. Aku sebagai fans kalian juga tidak akan membiarkan kalian sendirian,” sambung Chanyeol sembari menepuk-nepuk pundak Suho.

Kris menghela napas. “Apakah aku harus menyuruh kalian saling meminta maaf? Kalian bukan anak SD lagi.”

“Tapi ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kalian. Aku bisa menyelesaikannya sendiri, sungguh.”

PLETAK!

“Sekali lagi bicara seperti itu aku tidak akan segan menendangmu. Dengarkan kami yang lebih tua darimu dan minta maaflah pada Lay,” sentak Luhan tanpa memedulikan Suho yang kesakitan akibat jitakannya.

Antara ragu tidak, rela tidak, Suho akhirnya menjulurkan tangan kanannya pada Lay. Lay memandang sejenak uluran tangan Suho itu. Dia juga melirik Suho yang sama sekali tidak meliriknya. Sebenarnya Lay tidak ragu untuk memaafkan. Dia bahkan sudah memaafkan Suho sejak awal. Namun Lay hanya ingin tahu, Suho ini serius minta maaf atau tidak.

“Yaa, ppali,” gumam Suho tiba-tiba yang membuat Lay membuang pandangan.

“Ck, kau ini,” desis Lay sambil menjabat tangan Suho. Mereka hanya berjabat tangan dalam waktu singkat karena Suho terburu-buru melepaskannya.

“Nah.. berbaikan begini kan kalian keren, hyung. Jangan bertengkar seperti tadi lagi ya?” Chanyeol tiba-tiba memeluk punggung Suho yang membuat Suho terkejut. Di saat dia menoleh ke belakang, dia dikejutkan lagi dengan pelukan dari samping, pelukan Lay.

“Nappeun saram.”

“Yaa, ige mwoya?”

Antara Luhan, Xiumin dan Kris sama-sama tersenyum melihat ketiga anak itu. Mungkin beginilah perasaan seorang hyung ketika melihat adik-adiknya berdamai.

“Masalah selesai, kan? Baguslah, sekarang kita buat rencana untuk melacak keberadaan si rambut merah. Kalau mereka tidak segera mulai, maka kita yang akan memulai peperangan ini.”

Lay, Suho dan Chanyeol menyudahi pelukan mereka. Ketiganya kompak menatap heran pada Luhan yang tiba-tiba berubah menjadi rusa bersemangat.

“Peperangan apa, hyung?”

“Tentu saja melawan si rambut merah. Kenapa? Huh? Kenapa kalian menatapku seperti itu?” Luhan kembali menjadi rusa garang saat menyadari arti tatapan tiga anak kecil itu.

Suho tiba-tiba tersenyum. Entahlah perasaan apa ini. Dia hanya ingin tersenyum melihat bagaimana mereka berenam berkumpul seperti ini. Terima atau tidak, inilah perasaan yang timbul ketika mereka bersama. Kebahagiaan, kedamaian dan kasih sayang.

“Yaa Myeon! Kau tersenyum?! kau tersenyum Myeon!”

Senyum di wajah Suho langsung hilang dan digantikan dengan lirikan tajamnya. Walaupun dia sudah tidak tersenyum lagi, Lay tetap menatapnya dengan takjub.

“Aaah!! Akhirnya Kim Joon Myeon tersenyum!!”

Suho langsung melotot saat Lay tiba-tiba memeluknya. Dia akan mengomeli lelaki itu, tapi urung dilakukan saat melihat wajah Lay yang begitu senang. Memang apa istimewanya kalau dia tersenyum?

Dia ini menyukaiku atau apa?

**

Awal bulan Mei, sekolah mulai efektif lagi. Sekarang status Suho bukan lagi siswa SMP, melainkan siswa SMA. Dia menempati kelas 1-4 sedangkan Lay di kelas 1-3. Penempatan kelas ini bukan dari kecerdasan, tapi hasil acak dari guru BK.

Beradaptasi dengan suasana baru adalah hal tersulit dalam hidup Suho. Dia akan merasa terancam bila berada di tengah banyak orang asing. Buktinya sekarang dia memilih duduk di kursi paling belakang dekat pintu.

Dia nampak tenang di bangkunya sambil memperhatikan wali kelas berbicara. Tapi siapa sangka kalau dia sedang tidak focus ke guru itu dan pikirannya sedang melayang ke mana-mana.

Ck, kapan selesainya sih?

Btw, bagaimana kabar Youngra ya? apa dia bisa beradaptasi dengan orang-orang di sana? Apa aku harus menghawatirkannya? Dia kan pintar, tentu dia bisa beradaptasi dengan cepat di sana.

Tapi kan bisa saja dia kena bullying.

“Kau yang ada di sana.”

Suho menggaruk rambutnya karena bingung dengan pikirannya sendiri. Dia masih belum sadar kalau wali kelasnya sedang memanggilnya.

Si wali kelas merasa jengah dengan sikap Suho. Dia langsung menghampiri meja Suho dan..

BRAK!

Suho berjingkat sedikit dengan reflek memegangi dada kirinya. Dia langsung menatap sang wali kelas dengan tatapan polos. “Ne seonsaengnim?”

“Berdiri di luar. Sekarang!”

Terlalu takut dengan ekspresi sang wali kelas, Suho bergegas mengikuti perintah dengan keluar dari kelas melalui pintu belakang. Dia berdiri di depan kelasnya dengan kedua tangan bertautan di belakang tubuhnya.

“Angkat kedua tanganmu!”

Suho langsung mengangkat tangannya tanpa berbicara sepatah katapun. Begitu guru tersebut sudah masuk, dia pun menghela napas.

Ini gara-gara dirimu, sayang.

Pipinya tiba-tiba merona dan bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis.

“Yaa yaa. di saat seperti ini kau masih bisa tersenyum?”

Merasa familiar dengan suara itu, Suho langsung menelengkan kepalanya. Dia hanya bersmirk ria melihat Lay yang juga dalam posisi yang sama dengannya.

“Kenapa senyummu begitu? Tidak usah mengejekku, kau juga kena hukuman kan?”

“Tapi aku yakin penyebabnya beda. Kau pasti ketiduran di kelas kan? Sudah kuduga.”

Lay berdecak tidak suka. “Dasar sok tahu.”

“Tapi memang benar kan? Namamu bukan Lay kalau kau tidak pernah ketiduran di kelas,” Suho memandang lurus ke depan pada dinding yang tidak pernah bergerak sedikitpun dari tempatnya.

“Lalu kau? Biar kutebak. Pasti memikirkan bagaimana Youngra beradaptasi di Hongkong, memikirkan siapa saja yang akan menjadi temannya dan mungkin… memikirkan apakah ada namja yang akan menyukainya.”

“Yaa.”

Lay tersenyum bangga. “Aku benar kan?”

“Dasar sok tahu.”

Lay tertawa kecil. “Yaa. Apa kau berpikiran sama denganku?”

“Berpikiran yang bagaimana?” dahi Suho berkerut tapi dia tidak sedang memandang Lay.

“Kehidupan SMA ternyata tidak sebebas saat kita SMP. Dulu aku ketiduran di kelas, seonsaengnim tidak menyuruhku keluar. Sekarang, baru saja aku tidur aku sudah diusir keluar. Apa begini ya dunia SMA?”

Suho melirik lelaki itu, memastikan kalau tebakkannya benar bahwa Lay sedang memandang langit-langit. “Kau bisa menyimpulkannya secepat ini? Kurasa ini belum menjadi bukti kuat. Kita harus mengalami banyak hal dulu sebelum menyimpulkan sesuatu.”

“Kau terlalu teoritis, Mr. Kim. Kalau kau menyimpulkan semua yang terjadi di akhir, itu artinya kau ingin hidup ini mengendalikan dirimu.”

“Mengendalikan bagaimana? Kau tidak pernah melihat contoh makalah? Semua kesimpulan itu di akhir, bukan di tengah. Biar bagaimanapun, kesimpulan itu selalu ada di akhir.”

“Kan sudah kubilang, kau itu teoritis. Yang kau maksud itu adalah kesimpulan akhir, yaitu gabungan dari beberapa kesimpulan awal. Dari setiap titik, kita bisa menarik kesimpulan dari sana. Dan karena kesimpulan pertama masih belum meyakinkan, maka ditarik kesimpulan kedua, begitu seterusnya sampai menghasilkan kesimpulan akhir. Dan kesimpulan akhir itulah yang menjadi makna hidup kita, bukan sesuatu yang akan kita gunakan untuk mengubah apa yang telah terjadi pada kita. Kau mau menyesal di akhir?”

Suho menggaruk rambutnya sejenak, berpikir. “Siapapun juga tidak akan ada orang yang mau menyesal di akhir.”

“Nah, kau tahu sendiri kan. Ck, kenapa tiba-tiba aku membicarakan hal seberat itu denganmu?”

Suho menoleh dengan tatapan tidak suka. “Kau yang memulainya.”

Ekspresi Lay sepertinya menunjukkan kalau dia tidak terima. “Aku? Jelas-jelas kau yang mulai.”

“Mwo? Aku? Memang kau ingat apa yang aku ucapkan, huh?”

“Tentu saja aku ingat. Kau yang bilang kalau kesimpulan itu ada di akhir.”

“Jadi menurutmu, aku bicara begitu lebih dulu sebelum kau memancingku?”

“Kapan aku memancingmu?”

“Sebelum aku bilang kalau kesimpulan itu ada di akhir.”

Lay mendengus. Dia begitu bukan berarti dia mau kalah. “Memang kau ingat apa yang aku ucapkan, huh?”

“Jangan mengulang kalimatku.”

“Wae? Kau tidak bisa menjawabnya, kan?”

“Siapa bilang aku tidak bisa? Aku hanya melarangmu mengulang kalimatku.”

“Itu bukan hanya kalimatmu, bodoh. semua orang berhak memakai kalimat itu.”

“Apa? Bodoh? yaa! beraninya kau menyebutku bodoh.”

“Mwo? Kau mau apa huh?”

“Neo! Sekiya!”

“Yaa! jaga ucapanmu!”

“Kau yang mulai!”

“Aku menyebutmu bodoh, bukan brengsek!”

“Bodoh dan brengsek itu sama saja!”

“Sama saja jidatmu!”

“Mwo? Apa kau bilang? Sekali kali bicara begitu, aku akan membunuhmu!”

“Kau berani? Silakan. Bunuh aku silakan, biar kau puas!”

“Yaa sekiya!”

“Apa, bodoh?!”

“Yaa yaa yaa! kalian!” mereka berdua langsung menghentikan perdebatan kecil itu saat mendengar teriakan seorang lelaki. Suara ini sudah tidak asing. Xiumin beserta dua namja China sedang berjalan menghampiri mereka.

“Jaga ucapan kalian kalau tidak mau diskors,” ucap Kris dengan suara datar khasnya.

“Kalian mendengarnya? Baguslah, karena dia benar-benar brengsek!” Suho mengarahkan telunjuknya tepat pada Lay. Masa bodoh dengan hukumannya.

“Yaa babo-ya! tutup mulutmu!”

“Yaa! kalian bisa diam tidak, huh?”

Begitu Luhan yang berteriak, mereka berdua akhirnya bungkam. Mereka tidak mau ambil resiko mendengar amarah Luhan.

“Hm.. kalian murid baru memang menyebalkan. Nanti pulang sekolah, kita berkumpul di rumah EXO. Ada yang ingin kami bicarakan,” ucap Xiumin sebelum melangkah pergi menuju lorong kelas 2.

Setelah sunbae mereka pergi, Suho dan Lay saling menatap satu sama lain.

“Apa lihat-lihat?” seru Suho dengan ketus seperti biasanya.

“Kau sendiri kenapa?” balas Lay tak mau kalah.

Mengingat Luhan yang marah-marah dan tatapan Kris yang mengerikan, Suho akhirnya mengalah. “Sudahlah. Aku lelah berdebat denganmu.”

Lay mendengus. “Kau pikir aku tidak lelah.”

“Tentu saja tidak, kau yang memulai semuanya.”

“Yaa.”

**

Sesuai janji, mereka berkumpul di rumah EXO tidak terkecuali Chanyeol. Karena semuanya kelaparan, selama limabelas menit mereka hanya tidur-tiduran di lantai menunggu Chanyeol dan Lay selesai masak. Hanya mereka berdua yang bisa diandalkan soal urusan ini.

“Aduh perutku… yaa! bisakah kau cepat sedikit?!” pekik Suho yang sejak tadi meringis memegangi perutnya.

“Tunggulah sebentar! Kau pikir memasak itu mudah?” balas Lay dari dapur. Dia sedang memotongi daging sapi yang Suho beli sebelum mereka ke sini.

“Apa tidak ada yang bisa kumakan eoh? perutku benar-benar sakit.”

Chanyeol yang berperan dalam urusan membuat ddeokbeokki, segera mewadahi dua sendok besar ddeokbeokki lalu membawanya kepada Suho. “Baru ini yang matang, hyung. Makanlah dulu.”

Baru tercium baunya saja Suho sudah cepat-cepat duduk. Dia langsung merebut mangkuk kecil yang di bawa Chanyeol dan segera melahap makanan itu dengan rakus. Masa bodoh dengan Kris, Luhan, Xiumin dan Chanyeol yang terperangah melihat tingkahnya.

“Chanyeol-ah! cepat angkat ramennya!”

Chanyeol bergegas kembali ke dapur.

“Uhuk.”

“Pelan-pelan saja, kau ini sungguh merepotkan,” ketus Kris seraya melempar sebotol air mineral pada Suho. Pemuda bermarga Kim itu langsung meneguknya tanpa membalas ucapan Kris.

“Ah… Akhirnya…” Suho nampak lega begitu ddeokbeokkinya habis. Dia mengusap-usap perutnya seakan mengatakan kalau cacing-cacing di perutnya sudah tidak berdemo lagi.

“Sudah tenang? Baiklah aku akan mulai. Waktu itu kau menanyakan tentang si rambut merah kan?”

Suho langsung memusatkan perhatiannya pada Xiumin. “Ne. Kau tahu di mana mereka?”

“Eoh. Mereka adalah anak buah Dragon White, gangster yang menguasai Seoul. Sebenarnya mereka bukan apa-apa dibanding pemimpinnya. Mereka tidak lebih hanyalah anak-anak ingusan dari SMA Kyunghee.”

“Dragon White? Aku tidak pernah mendengar nama itu,” gumam Suho yang bisa didengar jelas oleh Xiumin.

“Anak sepertimu yang gila sekolah tahu apa tentang ini. Kau pasti tidak tahu kan kalau mereka tahu nama EXO?”

Suho langsung mendelik. “Mwo? B-b-bagaimana bisa?”

“Sejak nama itu ada kau semakin terkenal di kalangan banyak orang. Mungkin si rambut merah dendam padamu dan dia mencari informasi tentangmu dari anak-anak SMP Jinkook,” sambung Luhan yang walaupun matanya terpejam, dia ternyata tidak tidur.

“Sayangnya Dragon White terlalu banyak. Aku tidak yakin kalau kita bisa menyelesaikannya berenam,” Kris melihat ke langit-langit sambil berpikir.

“Tidak. Kita jangan menyelesaikannya berenam. Lay tidak boleh ikut, sedikitpun tidak.”

“Yaa!” pekik Lay yang datang membawa panci ramen mengepul dari dapur. Dia meletakkan panci itu di ruang kosong di antara mereka dengan hati-hati.

“Ini untuk kebaikanmu, Lay. Diamlah.”

“Berenam saja belum tentu bisa, apalagi berlima. Sudahlah, lupakan tentang penyakitku.”

“Aku setuju dengan Suho. Kau tidak boleh ikut, Lay,” kini Luhan bergegas bangkit dan mendekati panci yang masih mengepul itu.

“Wae? Kenapa aku tidak boleh ikut, ge? Aku juga ingin membalas perlakuan mereka pada Youngra,” Lay memasang wajah sesedih mungkin agar Luhan bisa luluh dengan itu. Tapi sayangnya, Luhan terlalu ngotot dengan keputusannya.

“Dagingnya datang!!” pekik Chanyeol yang berjalan mendekat dengan membawa dua buah piring berisi olahan daging sapi. Tanpa melunturkan senyumnya, dia duduk di sebelah Kris lalu menghidangkan makanan itu.

“Kita bahas nanti, sekarang waktunya makan!”

Lay mengerucutkan bibirnya dan menerima suapan dari Luhan.

**

Sepulang dari rumah EXO, Suho menyempatkan diri mampir ke rumah Youngra. Sudah tiga hari semenjak kepergian Youngra ke Hongkong, Suho belum mengunjungi rumah itu sama sekali. Dia seperti punya hutang pada kedua orang tua Youngra. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau dia sedikit merindukan gadis itu.

DOK DOK DOK

CKLEK

“Selamat malam, abeoji,” ucapnya sopan sembari membungkuk 90 derajat penuh.

“Oh? Nak Joonmyeon? Ayo masuk dulu.”

“Kamsahammida,” Suho pun mengambil langkah melewati ambang pintu. Sedetik menginjakkan kaki di dalam, dia langsung diserbu perasaan rindu yang meledak-ledak. Teringat olehnya aroma tubuh Youngra yang khas. Dia sempat terpekur sejenak mengingat siluet Youngra terakhir kali sebelum pergi meninggalkan Korea.

“Teringat Youngra?”

Lamunan Suho langsung buyar dan dia segera menoleh ke belakang. Ayah Youngra yang usianya lebih muda dari ayahnya sedang berdiri di belakangnya dengan senyum kebapakan. Melihat itu, Suho tidak punya alasan untuk tidak membalas senyumnya.

“Kau boleh masuk ke kamarnya. Dia tidak mengunci kamarnya jadi dengan izinku kau boleh masuk ke kamarnya.”

“Tapi abeoji..”

“Gwaenchanha. Youngra tidak keberatan kalau orang yang masuk kamarnya adalah kau. Asalkan dia tidak ada di dalamnya, ya tidak apa-apa.”

Suho nampak menimang-nimang sejenak. Setelah merangkai keputusan yang tepat, ia pun mengangguk.

“Pergilah ke sudut sana, nanti kau akan menemukan sebuah pintu yang penuh dengan tempelan stiker princess. Itulah kamarnya.”

Sesuai petunjuk ayah Youngra, Suho pun pergi ke sana dengan langkah sopan. Di perjalanan menuju pintu itu, Suho sama sekali tidak menemukan batang hidung ibu Youngra. Pikirnya, mungkin ibu Youngra sudah tidur.

Sesampai di depan pintu yang dipenuhi tempelan stiker princess Disneyland, Suho kembali menimang-nimang apa yang akan dilakukan selanjutnya. Di satu sisi dia merasa tidak enak dengan keluarga Youngra, tapi di sisi lain dia sangat merindukan gadis itu dan ingin menyentuh sesuatu yang bisa membuat rasa rindunya terobati. Maka dari itu, keputusan yang dia ambil adalah…

CKLEK

Aroma sitrus langsung menyergap indera penciumannya. Tidak butuh waktu lama, dia langsung menutup pintu dan berjalan mendekati ranjang di sudut ruangan dekat jendela. Semuanya di sini tertata rapi. Satu-satunya jendela yang ada ditutup rapat dan dilapisi tirai berwarna kekuningan.

Suho duduk di tepian ranjang itu lalu mengelus bantal yang bertumpuk rapi. Yang ada di pikirannya, Youngra sedang tidur di situ dan dia mengelus rambutnya. Kebiasaannya mengacak dan mengelus rambut Youngra membuatnya teringat moment itu lagi.

“Young…”

Suho tersenyum ketika imajinasinya mengatakan bahwa Youngra menjawab panggilannya.

“Bagaimana harimu di sana?”

“Aku merindukanmu. Apakah kau juga merindukanku?” Suho tersenyum getir ketika dia hanya bisa mendengar suaranya sendiri di ruangan ini.

“Aku menepati janjiku. Sekarang aku berteman dengan EXO. Lalu kau?”

“Meskipun ada mereka.. aku tetap merasa kesepian. Aku bingung harus bagaimana. Aku hanya ingin dirimu, aku merindukanmu. Bisakah waktu berjalan lebih cepat?”

Suho meraih bantal itu lalu mendekapnya erat. Dia memejamkan mata kala mengirup aroma yang menguar dari bantal tersebut. “Kau mendengarku kan di sana? Maaf aku terlalu banyak mengeluh. Aku janji, aku akan menjadi Suho yang kuat setelah ini.”

Dia mencium bantal itu dengan lembut dan tak lama kemudian menatanya kembali.

“Jalja-yo. Aku akan kembali jika ada waktu.”

SeakanYoungra ada di sana, Suho tersenyum sebelum bangkit dan melangkah pergi. Dari balik jendela yang tertutup tirai, terlihat sebuah cahaya keemasan yang melaju cepat melintasi langit malam yang cerah. Bintang berkerlap-kelip dan awan mulai bergeser untuk memberikan ruang bagi bulan menyinari bumi.

**

Esoknya…

Suho, Lay, Kris, Xiumin, Luhan dan Chanyeol seperti biasa akan singgah di rumah EXO sebelum pulang ke rumah masing-masing. Waktu hampir menjelang malam, langit berubah keunguan yang membuat lampu jalan dengan energy solar sel langsung menyala. Keenam lelaki itu berjalan bersama menyusuri trotoar untuk sampai ke rumah EXO.

Namun tiba-tiba saja, segerombolan anak berandalan datang dari sudut berlawanan dan menghadang jalan mereka. beberapa dari anak berandalan itu membawa benda-benda berat.

Suho yang berada paling depan bersama Lay langsung melakukan sikap siaga. Dia berdiri di depan Lay seolah menjelaskan bahwa dia akan melindungi Lay apapun yang terjadi.

Si rambut merah muncul dari segerombol anak berandalan itu. Di bibirnya terdapat rokok yang mengepul sedangkan tangan kirinya memegang sebuah tongkat besi.

“Akhirnya kita bertemu lagi, pendek. Ah… kau masuk SMA Daesang eo? Ngomong-ngomong di mana si gendutmu itu?”

Suho terlihat meremas kedua tangan dan mengatupkan bibirnya rapat.

“Tapi sepertinya kau membawa bala tentara. Kurasa aku telah memilih keputusan yang tepat untuk membawa banyak orang.”

Seperti dugaan si rambut merah, Suho langsung naik darah dan langsung menarik kerah bajunya. Mereka saling bertatapan sengit karena tinggi tubuh Suho sudah bisa menyamai tinggi tubuh lelaki itu. Tatapan mereka sama-sama menyiratkan kebencian.

Kris maju dengan tenang untuk menarik dan merangkul leher Suho. “Jadi dia yang mengganggu Youngra? Kurasa Youngra tidak perlu takut pada si pendek ini.”

Si rambut merah merasa tersinggung ketika Kris menepuk-nepuk kepalanya seakan dia adalah anak kecil. Tubuh Kris jauh lebih menjulang dari dia, dan jauh lebih besar juga. Dia yang semula menyebut Suho pendek, sekarang giliran dia yang disebut pendek oleh Kris.

“Telepon Tao, cepat,” bisik Luhan pada Lay sebelum Luhan melangkah maju mendekati Suho dan Kris.

Lay yang kalut, tanpa aba-aba langsung memutar dan berlari. Dia tidak bermaksud kabur, dia hanya ingin mencari tempat aman untuk bisa menelepon Tao. Tao sendiri adalah teman Lay dari China yang lain yang tinggal di Korea. Tao merupakan master kungfu dan wushu, Luhan pasti menyuruhnya datang untuk membantu sekaligus menggantikan posisi Lay yang tidak mungkin ikut berkelahi.

“Yaa! kejar dia!” teman-teman si rambut merah berpikir kalau Lay akan pergi untuk melapor ke kantor polisi. Empat dari sepuluh totalnya, langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari. Sayang sekali, mereka sepertinya harus melewati Chanyeol dan Xiumin yang tiba-tiba berdiri menghadang.

“Apa? Mau mengejar dia? Keurae, lewati aku dulu,” tantang Xiumin dengan berani walau tubuhnya jauh lebih mungil dari dua lelaki anak buah si rambut merah.

“Tutup mulutmu, kerdil. Menyingkirlah dari pada kau mampus di tangan kami,” satu diantara mereka bersiap untuk pergi. Tapi, Xiumin dengan tiba-tiba meleparkan tas ke arahnya. Jelas, si lelaki itu tidak terima.

“Kau yang memulai ini!”

Xiumin langsung menghindari ayunan tongkat itu lalu melancarkan tendangan tepat ke perut. Si lelaki itu tepar. Sekarang giliran satu lainnya yang ternyata mengayunkan tongkat menuju tengkuknya. Sama seperti tadi, Xiumin menghindar, lalu memberi orang itu pelajaran.

Lain lagi dengan Chanyeol. Dia tanpa basa-basi langsung menghabisi dua berandalan itu. Benar-benar bukan seperti Chanyeol biasanya. Di arena pertarungan, bibirnya akan terkatup rapat, matanya akan menyorot tajam dan ekspresi wajahnya akan sedingin es di Kutub Utara. Sebagai pemegang sabuk hitam, dia bisa saja menghabisi kedua berandalan itu kurang dari lima menit.

Di sana sungguh kacau, terlebih Suho, Luhan dan Kris juga ikut berkelahi. Namun di sudut lain, Lay mendadak berhenti berlari ketika tiga berandalan mencegatnya di persimpangan. Ketiga berandalan itu sama saja seperti yang tadi, mereka membawa alat-alat berat.

“Kenapa lari? Kau takut kau akan mati melawan kami?”

Ekspresi terkejut tergambar jelas di wajah Lay. Sedikit demi sedikit dia bergerak mundur.

“Jika kau pikir kami tidak tahu apapun tentangmu, kau salah. Kalian, EXO, benar-benar bedebah yang menyedihkan. Orang sepertimu sesungguhnya tidak pantas bergabung dalam geng. Kau pergi di saat yang lain terancam? Cih, dasar bedebah bodoh.”

Teringat bagaimana sakitnya merasakan jarum suntik, Lay tidak berani untuk memperlihatkan amarahnya. Walau dia ingin sekali menyerang orang-orang itu, dia pasti akan kepikiran ibunya. Dia tidak mau membuat ibunya sedih seperti dulu lagi ketika dia koma di rumah sakit.

“Aigoo pengecut. Lama-lama kau membuatku ingin cepat membunuhmu.”

“Kenapa hanya ingin? Kita langsung habisi saja dia.”

Orang-orang itu mempercepat langkah mereka. Lay yang panic mulai kehilangan akal. Dia bukannya lari malah memungut batu dan melemparkannya ke mereka.

“Ah.. kau berani melawan ya? keurae, aku juga tidak akan segan membunuhmu.”

Di saat keadaan semakin genting, dewi fortuna akhirnya menyelamatkan Lay. Entah dari mana datangnya, tiga haksaeng berseragam SMP Daesang muncul dan berdiri di depan Lay. Ketiganya tampan. Tapi kata ‘tampan’ itu lebih cocok digantikan dengan kata ‘garang’. Tak peduli setinggi apa para berandalan itu, ketiga haksaeng itu tidak takut untuk tetap berdiri di depan Lay.

“Aigoo.. ada apa dengan anak-anak ingusan ini?”

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s