Perfect One Pt.10


Author: ohnajla

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser // Pt.1 // Pt.2 || Pt.3

Pt.4 || Pt.5 || Pt.6 || Pt.7

Pt.8  || Pt.9

Recommended song : Infinite – Back

.

Paginya, Suho menepati janji dengan datang ke rumah Youngra pukul tujuh kurang dua puluh menit. Dia pergi bersama sopirnya. Sangat tidak mungkin kalau dia menyetir mobil sendiri. Dia bergegas turun dan segera mengetuk pintu rumah Youngra.

DOK DOK DOK

CKLEK

Seorang pria berkacamata menyambutnya. “Kau yang bernama Kim Joonmyeon?”

Suho lantas mengangguk.

“Masuklah dulu,” ucap pria itu sembari membuka pintu lebar-lebar.

Suho melangkah masuk, ia pun duduk di sofa begitu dipersilakan. Pria yang tadi menyambutnya nampak terburu-buru pergi ke dalam. Sepertinya akan memberitahu Youngra.

Tak lama menunggu, Youngra akhirnya muncul bersama dengan pria tadi dan wanita paruh baya yang Suho temui kemarin. Mereka bertiga membawa koper, melihat itu Suho lantas bangkit dan membantu mereka.

“Biar aku,” bisik Suho sembari merebut penarik koper dari tangan Youngra. Dia seolah tidak menerima penolakan. Begitu koper besar itu sudah ada di tangannya, dia langsung membawanya menuju bagasi mobil. Layaknya seorang lelaki, dia membawanya dengan dipikul di bahu.

“Ahjussi, tolong bantu memasukkan barang-barangnya,” pekiknya pada sang sopir yang tadinya sedang asyik berkaca di spion mobilnya. Tanpa mengatakan apapun pria itu segera mengambil alih koper dari tangan kedua orang tua Youngra dan memasukkannya ke bagasi.

Lima menit kemudian, Suho dan Youngra berpamitan pada kedua orang tua Youngra sebelum pergi. Agaknya ayah ibu Youngra menyukai Suho. Mereka tidak memudarkan senyum saat Suho bicara.

“Kami pergi dulu eomeonim, abeoji.”

“Ya, hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siangnya,” pesan ayah Youngra.

Suho mengangguk santun. “Kami akan mengingatnya. Kalau begitu permisi.”

Suho segera menarik Youngra untuk masuk dalam mobil. Dia sendiri yang membukakan pintu untuk gadisnya. Mereka berdua duduk di kursi belakang.

Youngra membuka kaca mobil untuk melambai pada orang tuanya. Dia terlihat semangat sekali dan mungkin juga sedih. Begitu sudah jauh, ia pun menutup jendela lalu menoleh pada Suho.

“Kau sudah sarapan?”

Suho yang semula memandang ke depan, lantas menoleh dan tersenyum. “Belum.”

Youngra lantas membuka tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah kotak bekal. Begitu kotak bekal itu dibuka, isinya ternyata adalah dua potong sandwich. Tanpa ragu Youngra menyodorkan kotak makannya.

“Ini makanlah.”

Suho hanya menerimanya. “Kau tidak ikut makan?”

“Aku sudah sarapan tadi. Aku sengaja menyiapkan itu kalau-kalau kau belum sarapan.”

Suho memandangi isi kotak makan itu sejenak sebelum kembali menatap Youngra. “Gomawo.”

**

Mereka sampai di Incheon pukul 1 siang. Karena penerbangan masih jam 9 malam, Suho berinisiatif mengajak Youngra singgah di villa nya sebentar. Villa itu adalah villa milik keluarganya, akan tetapi dia jarang mengunjungi karena keluarganya tidak pernah mengadakan pergi bersama. Walau jarang dikunjungi, villa ini nampak sangat bersih.

“Ahjussi, kau bisa datang kemari sebelum jam sembilan,” ucap Suho di saat dia dan Youngra turun dari mobil. Usai bicara seperti itu, ia menggiring Youngra memasuki villa-nya.

“Apa tidak apa-apa?”

“Sungguh tidak apa-apa. Lagi pula villa ini jarang kutempati,” balas Suho sembari membukakan pintu untuk Youngra.

“Mirip seperti rumahmu. Atau memang sengaja didesain mirip?”

Suho menutup pintu kembali begitu mereka sudah di dalam. Di sini sepi, tidak ada maid, tidak ada penjaga, dan tidak ada siapapun kecuali mereka berdua. “Mollaseo. Yang kutahu ini adalah hadiah saat ulang tahunku ke 9 tahun.”

Youngra mendadak menoleh. “Hadiah ulang tahun? Jinjja? Wah.. keluargamu benar-benar daebak.”

Suho hanya tersenyum tipis sambil melangkah melewati Youngra. “Sayangnya ini sepi.”

Youngra mengikuti kemana Suho pergi. Mereka duduk bersisian di sebuah sofa yang menghadap LCD TV. Suho menyalakan televise itu dan memilih channel music. Dia menekan volume up terus menerus hingga rumah ini ramai akan suara music yang dilantunkan si penyanyi.

“Akhirnya ramai juga,” gumam Suho yang terdengar jelas di telinga Youngra. Lelaki itu mana peduli dengan Youngra yang terus memandanginya dengan ekspresi iba.

“Joonmyeon~”

“Ne?” Suho langsung menoleh begitu di panggil dan dia sedang menunggu apa yang akan dikatakan gadisnya.

“Bagaimana aku bisa pergi kalau melihatmu seperti ini?”

“Memang ada apa denganku?” dahi Suho berkerut tanda bahwa dia tidak menyadari apapun.

“Aku benci melihatmu kesepian.”

“Wae? Ini sudah biasa bagiku.”

“Tapi-tapi.. aku benci melihatnya. Aku ingin kau tidak kesepian lagi.”

Suho menepuk poni Youngra sambil menghela napas. “Tidak usah memikirkanku. Aku bisa mengatasi itu sendiri.”

“Tapi Joonmyeon… walaupun begitu kau harus bisa menerima Lay dan EXO. Di saat aku tidak ada mereka bisa mengusir rasa kesepianmu.”

Suho tersenyum. “Apa ini ulahmu? Tidak ada yang betah berteman denganku. Dan aku yakin Lay juga termasuk diantaranya. Apa kau memaksanya? Mengancamnya?”

“Ne? ah.. ah.. itu..”

Suho beralih meraih kedua tangan Youngra dan menggenggamnya. “Aku berterimakasih sekali, tapi kau tidak perlu melakukannya. Aku sungguh baik-baik saja sendirian. Kenapa kau sangat memikirkanku? padahal aku sama sekali tidak memikirkanmu. Dan kenapa kau betah bersamaku?”

“Ng… Joonmyeon-ah.. itu.. a-aku tidak tahu.”

Suho tersenyum. “Sepertinya kita belum pantas membicarakan tentang cinta, aku benar kan? Yah.. kita baru 15 tahun.”

Youngra memandang Suho sambil berkedip-kedip tak mengerti.

Perlahan Suho melepaskan genggamannya. “Siang-siang begini kenapa tidak tidur saja? Akan kubangunkan nanti malam.”

“Lalu kau?”

“Tentu saja menjagamu. Di sini tidak ada penjaga, ahjussi juga entah pergi kemana. Sebagai satu-satunya laki-laki aku punya kewajiban menjagamu. Pergilah ke kamarku.”

Youngra tidak segera beranjak. Justru dia menggeser duduknya lebih dekat dan memeluk Suho dari samping.

“Wae?”

“Aku tidur begini saja ya? Ini hari terakhirku di Korea. Aku ingin menghabiskan waktu bersama namjachinguku.”

“Begitukah? Tapi bisakah kau tidak memelukku begini? Ini membuatku sesak.”

Youngra lantas melepaskan pelukannya. “Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak mau di kamar.”

Suho terlihat berpikir sebentar. “Eum.. begitu ya. ya sudah, tunggu sebentar di sini.”

Suho berlarian memasuki sebuah ruangan yang Youngra yakini itu adalah kamar Suho. Karena detik berikutnya Suho muncul dengan membawa sebuah bantal dan selimut tebal. Lelaki itu nampak ceria sekali ketika menghampirinya.

“Dari pada lehermu sakit, pinggangmu nyeri, kepalamu pusing, masuk angin, lebih baik pakai bantal dan selimut. Jadi, kau tetap bisa berbaring di sebelahku dengan nyaman. Ide bagus kan?”

Youngra tertawa kecil. “Joonmyeon pintar.”

Suho mengedipkan sebelah matanya. “Namjachingu siapa dulu ini?”

Youngra tersenyum dengan wajah merona. Dia menerima selimut yang diberikan Suho. Suho sendiri sedang meletakkan bantal di tempat yang nyaman. Setelah itu dia duduk di dekat bantal tersebut.

“Sekarang berbaringlah.”

Youngra pun berbaring. Dia sibuk mengatur letak tidurnya sebelum mengangkat kepala untuk melihat Suho yang tengah menatapnya. “Benar tidak apa-apa aku tidur?”

“Gwaenchanha. Lebih baik kamu tidur daripada banyak bicara.”

Youngra tersenyum geli. “Aku kan akan pergi. Memangnya salah ya kalau aku banyak bicara denganmu?”

“Aniyo. Aku hanya tidak terbiasa bicara banyak dengan seseorang. Ya sudah tidurlah. Kulepas ya kacamatanya.”

Youngra tidak memberontak ketika Suho menarik kacamatanya. Gadis itu masih menatap Suho dengan senyum di bibirnya. Walau di penglihatannya Suho itu hanya nampak seperti gambar buram, Youngra tetap terus menatapnya untuk menyimpan potretnya di memori. Dia akan sangat merindukan wajah itu ketika di Hongkong.

“Kenapa belum tidur?” suara Suho terdengar bersamaan dengan tangan lelaki itu menyentuh rambutnya.

“Joonmyeon..”

“Ne?”

“Nyanyikan aku sebuah lagu.”

“Lagu? Kau mintanya lagu apa?”

“Lagu yang bisa membuatku mengingatmu dan membuatku ingin waktu berjalan sangat cepat untuk bisa bertemu denganmu lagi. Bisakah?”

Suho tersenyum tipis. Senyumnya itu sama sekali tidak terlihat di penglihatan Youngra, tapi Youngra merasakan bahwa Suho tersenyum padanya.

“Tapi dengan syarat kau harus segera tidur.”

Youngra mengangguk pasti. “Aku akan langsung tidur, janji.”

“Baiklah. Aku akan mulai.”

Gieokhaejwo ne seorapsoge (Ingatlah aku dari jejak yang aku tinggalkan di laci mejamu)

Gieokhaejwo ne jigapsoge (Ingatlah aku dari jejak yang aku)

Naega itdeon heunjeokdeureul (tinggalkan di dompetmu)

Hanado ppajimeobseo saegyeojwo (Ukirlah setiap jejakku agar selalu tertanam di hatimu)

Chueokhaejwo geu sajin soge namaitdeon geu gonggan soge (Kenanglah  aku dari foto, Dari aromaku, dari setiap nafas yang berhembus ke udara)

Nae hyanggi da nae soomgyeol da sarajiji anhge (Hingga tidak menghilang begitu saja)

Jebal nareul jinachyeo on bomnalcheoreom (Tolong jangan biarkan aku terlepas begitu saja)

Baramcheoreom nohji ma (Bagaikan angin musim semi yang menerpaku)

Can you save, can you save me?

Geurae nareul seuchyeo jinan hyanggicheoreom (Seperti aroma yang mulai memudar tiap harinya)

Sumanheun naldeul malgo (Aroma yang terlewatkan olehku)

Can you save, can you save me?

Dorawajwo I want you back, back, back (Kembalilah padaku, aku menginginkanmu kembali, kembali, kembali)

Neowa nae gieok nareul sigane matgyeo duji ma (Jangan lupakan kenangan kita, jangan tinggalkan aku di saat (aku) melewati masa sulit)

Dorawajwo I want you back, back, back (Kembalilah padaku, aku menginginkanmu kembali, kembali, kembali)

Gidarilke na yeogi namgyeojin chae doraseon chae (Aku akan menunggumu di sini, tepat dimana aku berpijak sekarang, menolehlah padaku)

I say save me

(Infinite – Back)

Mungkin Suho tak tahu kalau Youngra tidak akan bisa tidur bila mendengar nyanyiannya. Lagu ini sarat makna. Siapapun yang mendengarnya pasti tahu apa makna dari lagu ini.

CHUP!

Youngra tak berkutik saat Suho mengecup keningnya. Dia berakting sudah tidur agar Suho tidak menyadari cairan yang tertahan di matanya. Dia juga menikmati sentuhan yang diberikan Suho ke rambutnya.

Aku akan mengingatmu…-

**

Suho membangunkan Youngra pukul 7 malam. Sekarang Suho sedang menunggu Youngra yang ada di kamar mandi. Rencananya setelah ini mereka akan pergi ke restoran dulu untuk makan malam sebelum ke bandara. Tapi rencana ini memiliki makna tersembunyi kalau Suho ingin berada di dekat Youngra lebih lama.

Duapuluh menit lewat dari pukul 7 malam. Youngra selesai membersihkan diri dan telah siap dengan dress putih selutut lengan panjang. Rambut gadis itu dikucir kuda hingga menampilkan lehernya yang jenjang. Dia langsung dihampiri Suho yang sedang membawa sebuah jaket baseball. Jaket itu bertuliskan angka 01 di bagian punggung serta nama lengkapnya di bagian dada. Tanpa aba-aba dia langsung membungkus bagian atas tubuh Youngra dengan jaket berwarna merah itu.

“Malam musim semi itu dingin. Aku tidak mau melihatmu sakit sesampai di sana.”

Youngra tidak mengelak saat Suho memakaikan jaket ke tubuhnya. Dia malah menatap Suho tanpa berkedip yang membuat objek tatapannya itu merasa risih.

“Kenapa melihatku seperti itu?”

Gadis itu tersenyum tanpa dosa. “Dulu Joonmyeon tidak seperti ini. Aneh rasanya.”

Suho tersenyum miring. “Salahkan orang yang membuatku jadi begini.”

“Apa orang itu Lay?”

Suho menggeleng tegas. “Bukan Lay, bukan siapa-siapa. Tapi Kwon Youngra. Seorang gadis yang membuat Kim Joonmyeon gila memikirkannya.”

Cara bicara Suho yang sedikit tegas dan mata melotot, Youngra tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa. Dia reflek menepuk pundak Suho hingga lelaki itu ikut tersenyum.

“Sudah hampir pukul delapan, ayo cari makan dulu.”

Youngra mengangguk. Dia menerima uluran tangan Suho lalu mereka pun pergi dari rumah ini dan memasuki mobil yang sudah terparkir di depan villa. Mereka akan pergi ke restoran yang dekat dengan bandara agar menghemat waktu.

**

Dua puluh menit sebelum waktu mencapai angka 9. Suho dan Youngra sudah berada di bandara. Mereka sedang menunggu pemberitahuan mengenai pesawat yang akan landas pukul 9 nanti. Mereka duduk bersisian di kursi tunggu sambil bergandengan tangan. Mereka nampak lebih kecil dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Maklumlah, mereka masih 15 tahun.

“Kapan ulang tahunmu?” tanya Youngra pada Suho. Mereka asyik menggoyang-goyangkan kaki yang menggantung akibat kursi yang tinggi.

“Duapuluh dua Mei. Kau?”

“Duapuluh sembilan Februari.”

“Ne? kabisat?” kedua mata Suho melotot dan sepertinya tak tahan ingin keluar.

“Eum. Bukankah itu keren?” Youngra nyengir karena merasa bangga dengan tanggal kelahirannya itu.

Dan Suho benar-benar takjub. Dia sampai geleng-geleng saking terkejutnya. “Daebak. Berarti tahun depan usiamu masih baru empat tahun? Itu sungguh keren, Young.”

“Tentu saja. Yeojachingu siapa dulu?”

Suho menanggapi ucapan Youngra dengan mencubit pipi gadis itu. Dia gemas pada Youngra karena telah menyalin ucapannya. Hanya saja kalau Youngra yang mengucapkan kedengarannya aneh. Ya aneh, karena setelah ini mereka akan terpisahkan jarak dan waktu.

Tiba-tiba saja terdengar suara petugas bandara dari pengeras suara. Si petugas wanita itu memberitahu kalau pesawat menuju Hongkong akan landas sebentar lagi dan para penumpangnya diharap segera bergegas.

“Pesawatnya mau berangkat, ayo,” ucap Suho sembari bangkit dan menarik dua koper besar milik Youngra. Sedangkan Youngra tanpa berkata-kata langsung mengikuti kemana Suho pergi.

“Suho, aku pergi dulu,” ucap Youngra pada Suho sebelum dia memasuki barisan penumpang.

“Eum, baik-baik di sana,” balas Suho sembari merekatkan jaketnya yang masih dipakai Youngra.

“Kau juga, berteman baiklah dengan EXO.”

Suho tersenyum tipis. “Ya, karena itu permintaanmu akan kukabulkan. Di sana nanti kau juga harus memperbanyak teman. Jadi kau tidak akan kesepian juga.”

Youngra mengangguk. “Gomawo.”

“Ya sudah. Cepat masuk.”

Bukannya segera memasuki garis pemeriksaan, Youngra malah berdiri terpaku sambil menatap Suho. Sorot matanya sendu. Mungkin air matanya telah terkuras habis tadi siang dan membuatnya tidak bisa menangis sekarang. Kali ini yang bisa dia lakukan hanyalah memandang Suho lamat-lamat untuk menyimpan potret lelaki itu di memorinya.

Melihat ekspresi itu, Suho sebenarnya juga tidak ingin Youngra pergi. Hanya saja, jalan cerita hidupnya akan berubah jika ia menahan gadis itu pergi. Seolah tidak melihat kesenduan di netra Youngra, Suho pun tersenyum dan mengacak rambut Youngra dengan lembut.

“Kenapa menatapku seperti itu? masuklah, pesawat akan landas sebentar lagi.”

Suho terkejut ketika tiba-tiba Youngra memeluknya. Lelaki itu tertegun untuk beberapa saat sebelum membalas pelukan tersebut.

“Selama dua tahun kau mengabaikanku, akhirnya sekarang kau mau memperhatikanku lagi. Sayangnya ini tidak lebih dari dua hari. Aku masih belum ingin meninggalkanmu.”

Untuk dua tahun itu, aku minta maaf.

Suho tersenyum, senyum palsu. “Kau hanya perlu waktu untuk bisa menerima takdir ini.”

“Tapi sebentar lagi aku akan pergi jauh darimu. Aku tidak yakin aku bisa.”

“Tentu saja kau bisa. Youngra yang kukenal adalah gadis yang kuat. Kau pasti bisa menerimanya dengan pelan-pelan.”

“Benarkah?”

Suho mendorong pelan bahu Youngra sehingga dia bisa melihat wajah gadis itu dari dekat. “Benar. Percayalah padaku.”

Youngra hanya tersenyum melihat senyum lebar di wajah Suho. Seperti biasa, Suho tiba-tiba melepas kacamatanya dan mencium kedua matanya secara kilat. Lelaki itu selalu tak merasa berdosa tiap kali melihat dahi Youngra yang berkerut karena kesal dengan tingkahnya.

“Sekarang begini, tiga tahun lagi, aku akan menunggumu di sini pada hari dan jam yang sama. Kalau bisa aku akan memakai baju ini lagi saat menjemputmu nanti. Kau bisa pegang janjiku.”

Youngra yang semula kesal akhirnya tersenyum. “Baiklah. aku akan menagih janjinya.”

“Tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Saat kau kembali nanti, jika kau masih punya perasaan yang sama padaku, pakailah jaketku seperti itu. Tapi jika perasaanmu berubah, kau tidak perlu memakai jaket itu, dan kalau bisa buang saja. Bagaimana?”

“Baiklah. aku terima syaratnya.”

“Ya sudah, sekarang cepat pergi,” Suho mendorong tubuh Youngra ke garis pemeriksaan agar gadis itu cepat pergi dari hadapannya sehingga dia tidak akan merasa tak rela lagi. Semakin lama melihat wajah gadis itu, Suho semakin tidak rela Youngra pergi begitu saja.

“Jaga dirimu baik-baik ya! Jangan melirik laki-laki lain!” Suho menyedot banyak perhatian dari para penumpang serta staff bandara, tapi dia mana peduli. Yang penting Youngra tersenyum dan dia pun merasa lega.

Jangan pernah ubah perasaanmu padaku, Youngra. Aku akan selalu menunggu kedatanganmu kapanpun kau ingin kembali.

**

Hasil tes masuk telah diumumkan. Daftar nama yang terdiri dari 10 lembar kertas telah ditempel di papan pengumuman koridor utama SMA Daesang. Puluhan bahkan ratusan siswa berebut untuk melihat daftar nama itu. Salah satu diantaranya adalah Suho dan Lay. Bedanya mereka tidak ikut bergabung dalam lingkaran para haksaeng itu. Mereka bisa dengan mudah mengetahui apakah nama mereka tercantum melalui tiga orang haksaeng SMA Daesang, siapa lagi kalau bukan Luhan, Kris dan Xiumin yang ternyata menjabat sebagai president school SMA Daesang.

“Kalian lolos, selamat ya,” ucap Luhan sembari menepuk pundak Lay dan Suho secara bersamaan.

“Xiexie, ge. Aku tidak tahu apa jadinya kami kalau kami tidak mengenal kalian,” ucap Lay diiringi tawa berdimple-nya.

“Eum, cheonma. Karena kalian sudah menjadi haksaeng di sini, bagaimana kalau kita merayakannya dengan pergi makan?”

“Kau menraktir kami, ge?” tanya Lay dengan tampang polosnya.

“Aniyo, tapi Kris,” Luhan menunjuk Kris yang sedang berdiri cool di sebelah Xiumin menggunakan dagunya. Yang ditunjuk langsung menoleh. Matanya melotot menandakan kalau dia tidak suka ide Luhan.

“Kau mau cari mati denganku, huh?”

Luhan menanggapinya dengan senyum termanis yang dia miliki. Tapi jangan salah, meskipun senyumnya manis dan wajahnya terlihat kalem untuk ukuran lelaki, dia kalau marah sangat menakutkan. Seolah semula dia adalah kucing kecil yang manis, begitu marah dia akan berubah menjadi singa lapar yang siap menerkam siapapun di dekatnya.

“Aku yang traktir.”

Semua mata langsung tertuju pada Suho. Semua tatapan itu menjelaskan bahwa mereka tidak percaya Suho berbicara seperti itu. pasti mereka pikir ada yang salah dengan Suho sekarang.

“Myeon, kau baik-baik saja? Kemarin pacarmu bicara apa saja sampai membuatmu begini?”

Suho hanya bisa mendengus ketika mendengar kata ‘pacarmu’ yang dilontarkan Lay dengan ekspresi polos menyebalkan. Kalau saja Luhan, Kris dan Xiumin tidak ada di sini, Suho pasti sudah menendang pantat lelaki itu.

“Diamlah. Sekarang kita akan makan di mana? Bagaimana kalau restoran Italia? Restoran China?”

Sebenarnya ini sulit kulakukan, Young. Tapi demi kamu, aku akan melakukannya. Aku ingin kau bangga padaku.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s