Kisaeng & Love


Author : ohnajla

Genre : romance, classic, drama, general, life

Rating : Teen

Length : Oneshoot

Casting : Oh Sehun (EXO), Choi Ka Eun (OC)

.

.

Menjadi Kisaeng adalah mimpi terburuk yang pernah dirasakan Ka Eun.

Ibunya adalah mantan kisaeng, ibu dari ibunya adalah mantan kisaeng, nenek dari ibunya adalah kisaeng, dan seterusnya. Seakan hidupnya sudah ditentukan menjadi kisaeng bahkan sebelum dia lahir ke dunia.

Ini adalah jaman modern, tapi kisaeng masih tetap ada. Dia tinggal di lingkup kerajaan modern, dimana rajanya bukan lagi sebagai pemimpin pemerintahan. Rumah-rumah tempat tinggal kisaeng juga tidak seperti jaman dahulu. Nuansanya tetap tradisional tapi juga terlihat modern.

Kisaeng modern sama saja seperti kisaeng masa lampau. Tugas mereka adalah menghibur para petinggi negara. Bedanya sekarang yang dihibur lebih banyak dari kategori pejabat. Hal inilah yang sangat tidak disukai Ka Eun. Dia harus terus berhadapan dengan para pria yang lebih cocok dibilang sebagai ayahnya.

Choi Ka Eun masih sangat muda, usianya baru menginjak 17 tahun. Di usia inilah dia sering mendapat job. Hal itu sungguh melelahkan mengingat dia harus melakukan hal yang sama tiap kali bertemu dengan para tamu.

Sampai suatu hari, seorang kisaeng haengsu memberitahunya bahwa ada seorang pejabat yang menyewanya untuk menghibur selama seminggu penuh. Hal ini sangat mengejutkan, tapi mau bagaimana lagi. Pejabat itu adalah salah satu orang yang berpengaruh di Korea.

Hingga hari itu datang, Ka Eun sudah bersiap di rumahnya. Senang atau tidak, dia tetap menunggu kedatangan si pejabat itu.

“Sampai kapan aku harus seperti ini? Bisakah satu orang saja yang mau membebaskanku dari sini? Tolong, siapapun itu… bawalah aku pergi dari sini..”

Dok dok dok

Ka Eun lekas menyeka air matanya. Setelah itu dia buru-buru membukakan pintu.

DEG!

“Silakan masuk, tuan.”

Ka Eun bergeser untuk memberikan jalan bagi tamunya. Setelah tamu itu di dalam, barulah dia menutup pintu.

Si tamu meletakkan kopernya di sudut ruangan, baru setelahnya dia berbalik menghadap Ka Eun.

“Oh, jadi kau kisaeng modern itu?”

“Iya tuan,” balas Ka Eun dengan kepala tertunduk. Ini adalah bentuk tata krama seorang kisaeng pada tamunya.

“Boleh juga,” balas lelaki itu sembari mengacak rambut Ka Eun tanpa basa-basi. Hal itu membuat Ka Eun terbelalak tak percaya.

“Di mana kamar mandinya? Cepat katakan, aku mau mandi.”

**

Ternyata tamu yang dimaksud tidak setua yang Ka Eun bayangkan. Kalau diperkirakan, usia tamunya sekarang adalah sekitar 20 tahun. Sementara pejabat yang menyewa jasanya itu adalah ayah dari tamunya. Sang pejabat itu ingin mewarisi perusahaan pada putranya, dan sebelum mewarisinya, si pewaris ini harus mengikuti tradisi keluarganya yaitu menginap di rumah kisaeng selama seminggu.

Suatu tradisi yang aneh. Jelas. Sebab si pewaris dilarang jatuh cinta apalagi menikah dengan kisaeng itu.

“Kupikir kisaeng sudah tidak ada, ternyata setelah melihatmu dugaanku salah,” ucap lelaki itu yang diketahui bernama Oh Sehun. Dia sedang asyik bermain game dari ipad ketika sedang berbaring di sebelah Ka Eun. Ini sudah malam, jadi wajar kalau mereka sudah ada di atas tempat tidur.

Ka Eun memandang benda di tangan Sehun dengan penasaran. Selama 17 tahun hidupnya dia tidak pernah melihat benda seperti itu. Yang dia tahu hanya sebatas ponsel, karena benda itu sering dibawa oleh para tamunya. Dia ingin bertanya pada Sehun tapi mengingat tata krama, dia memilih untuk bungkam.

“Yaa, kau masih bangun, kan? Kenapa kau hanya diam saja?”

“Oh.. maafkan saya, tuan. Saya..”

“Berhenti bicara formal seperti itu, eoh? aku bukan ahjussi, usiaku masih 20,” sahut Sehun dengan nada ketus.

“Ah.. maaf.”

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Di ruang itu hanya terdengar suara dari ipad Sehun. Akan tetapi 10 menit kemudian, Sehun memilih mematikan ipadnya dan meletakkannya di atas meja. Ia pun meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantal.

“Yaa.”

“Ya tuan.”

Sehun nampak mendengus. “Panggil aku Sehun saja.”

“Ah.. maaf.”

Sehun menoleh ke samping, tepat untuk melihat Ka Eun. “Apa pekerjaan kisaeng modern sama seperti yang ada di drama-drama kerajaan?”

“Ne?”

“Apa pekerjaanmu adalah sebagai penghibur?”

“Ne,” balas Ka Eun lirih.

Sehun memalingkan pandangannya ke langit-langit rumah itu. “Aku sama sekali tidak tahu maksud tradisi keluargaku. Kurasa tradisi ini konyol. Bagaimana bisa pewaris perusahaan harus menginap di rumah kisaeng selama seminggu sebelum mewarisi perusahaan? Aku sempat bertanya-tanya, kenapa harus menginap di rumah kisaeng? Kalau memang tidak boleh jatuh cinta apalagi menikah dengan kisaeng itu, aku harus melakukan apa di sini? Ck, ini benar-benar membuatku kesal.”

Sehun sama sekali tidak tahu kalau Ka Eun merasa sedih saat mendengar kenyataan bahwa pewaris perusahaan di keluarga Sehun tidak boleh jatuh cinta apalagi menikah dengan kisaeng. Awalnya Ka Eun pikir kedatangan Sehun adalah sebagai malaikat penolongnya, namun… pikiran itu mendadak putar haluan. Sepertinya dia akan mewariskan karir kisaengnya pada putrinya kelak.

Sehun menghela napas. “Tenanglah. Aku disini bukan memintamu menghiburku. Aku hanya sedang menjalani tradisi konyol keluargaku. Jadi, tidurlah dengan nyenyak.”

Sehun yang tiba-tiba bangkit seraya membawa ipad membuat Ka Eun bingung. Dia ikut-ikutan bangkit. “Tuan.. ah, Sehun, a-anda mau kemana?”

Sehun berhenti lalu berbalik. “Kau mau aku tidur di sebelahmu? Ck, sudahlah jangan banyak bicara. Cepat tidur.”

Lelaki itu menghilang di balik tirai kamar. Sebenarnya Ka Eun tidak mengerti dengan jalan pikir Sehun, tapi… dia merasakan sesuatu yang damai dalam dirinya. Entahlah apa itu, yang pasti dia bisa benar-benar tersenyum sekarang.

**

Di saat matahari belum terbit, Ka Eun terbangun. Dia lekas menata tempat tidur dengan sedemikian rapi lalu memakai hanboknya, sebab saat malam hari dia memakai hanbok berwarna putih yang bisa dibilang sebagai baju tidur. Setelah semuanya rapi, dia bergegas keluar untuk melihat Sehun.

Di ambang pintu dia mendadak berhenti. Pandangannya tertuju pada satu titik di mana Sehun sedang tidur di lantai tanpa memakai bantal serta selimut. Tubuhnya melingkar seperti embrio dengan posisi punggung menempel pada dinding.

Ka Eun cepat-cepat kembali ke dalam kamar untuk mengambil selimut serta bantal. Dia menyelimuti Sehun hingga sebatas leher lalu menyelipkan sebuah bantal di bawah kepala Sehun. Sehun hanya bergerak sedikit untuk mengubah posisi tidurnya. Ka Eun bernapas lega ketika dia tidak mengganggu tidur Sehun.

Awalnya dia berniat melihat Sehun sebentar saja, tapi… semakin lama dilihat semakin menarik wajah Sehun. Dia tetap setia duduk di sana demi melihat si rupawan yang tertidur di hadapannya. Sungguh, ini bukan seperti Ka Eun biasanya. Jika Ka Eun yang biasanya adalah gadis yang sedikit takut dengan laki-laki –bahkan hanya dengan memandangnya-, sekarang dia malah ingin berlama-lama duduk sambil memandangi sosok Oh Sehun. Keinginan untuk menyentuh 10% lebih besar dari yang sebelumnya, akan tetapi dia harus menahan diri karena statusnya dengan status Sehun benar-benar berbeda. Hal yang bisa dilakukannya sekarang adalah duduk diam dan memokuskan pandangan pada si rupawan itu.

Oh Sehun… tolong sadarkanlah diriku… jika aku sedang melihat sosok malaikat tak bersayap…

**

Siangnya, sehabis makan siang Sehun memaksa Ka Eun untuk menemaninya jalan-jalan. Sebetulnya Ka Eun tidak berani keluar dari rumah di siang hari karena itulah tradisi kisaeng. Tapi Sehun terus saja memaksanya dan dengan berat hati Ka Eun menyetujuinya juga.

“Apa tidak ada yang perlu kau jelaskan padaku?”

Ka Eun spontan menoleh. “Ne?”

Sehun ikut menoleh dan pandangan merekapun saling bertemu. “Kau pikir aku mengajakmu jalan-jalan untuk mencari uang hilang? Lihatlah ke depan, dan jelaskan tentang kawasan ini.”

“Ah.. mianhada.”

Sehun pun meraih tangan kiri Ka Eun lalu menggenggamnya. “Keurae, sekarang jelaskan padaku tempat apa yang ada di depan itu.”

Ka Eun menjelaskan sebuah bangunan klasik yang berdiri tak jauh di depan mereka. Seharusnya dia bisa menjelaskan secara lancar karena dia sering melakukannya saat para tamu luar negeri memintanya menjadi tour guide. Tapi ini beda. Dia gagap, sering salah bicara dan terkesan kaku. Mungkin jika kisaeng haengsu melihatnya, dia akan mendapat hukuman berat karena tidak menjalankan tugas dengan baik.

“Oh.. jadi bangunan ini adalah gudang penyimpanan. Eum.. ngomong-ngomong, kau memang sulit bicara ya? tadi diam saja sekarang bicaramu gagap. Apakah semua kisaeng seperti itu?”

Mendadak tubuh Ka Eun tegang. Dia langsung menundukkan pandangan saat tahu Sehun menatapnya. Benar kan, sikapnya tadi sudah mencoreng nama baik kisaeng. Oh Ka Eun.. bersiap-siaplah mendapat hukuman dari kisaeng haengsu.

“Mi-mianhada. Mian..”

Cengkraman tangan Sehun semakin terasa erat di tangannya. “Dan sepertinya kisaeng juga lebih banyak meminta maaf daripada menjelaskan kesalahannya.”

“A-aniyo.. bukan seperti-ah! mianhada..”

“Aku penasaran dengan apa yang dipelajari seorang kisaeng. Bisakah kau menjelaskan padaku saat kita berjalan?”

Seakan tidak ada pilihan, Ka Eun hanya mengiyakan keinginan Sehun.

**

Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi istana, Sehun mengajak Ka Eun untuk bersantai di taman kerajaan. Taman di sini adalah taman paling tenang yang ada di Korea. Tidak ada satupun orang kecuali mereka yang berada di taman itu. Suara yang mengisi bentang alam minimalis itu hanya suara percikan air mancur dan burung-burung kecil yang beterbangan. Mereka duduk bersandingan di sebuah kursi kayu yang letaknya berada di antara dua pohon yang dedaunannya berwarna kuning keemasan.

Sehun tengah menatap lurus pada air mancur di depannya sementara kepala Ka Eun tertunduk demi melihat jari mereka yang masih saling bertautan.

“Sebelumnya… apa ada seorang laki-laki berusia di bawah 30 tahun yang datang ke sini?”

Ka Eun langsung menoleh, tapi setelah menyadari sikapnya yang lancang, dia kembali menunduk. “Seingat saya ada.”

“Dia menyewamu?”

“A-aniyo. Dia.. memilih teman saya.”

Tautan jari mereka terasa lebih erat ketika Sehun mengubah sedikit posisinya. “Lalu siapa saja yang pernah menyewamu?”

Untuk menjawab pertanyaan itu saja Ka Eun harus menata dirinya untuk tidak emosional. Pertanyaan itu adalah pertanyaan paling mengerikan yang harus dia dengar. Sebab di saat menjawabnya, dia akan merasa bahwa harga dirinya sangat rendah.

Kali ini, Sehunlah yang merasakan kalau Ka Eun menggenggam tangannya lebih erat.

“Me-mereka adalah…” Ka Eun tidak kuasa melanjutkan kalimatnya karena mendadak tenggorokannya tercekat. Dia berusaha menelan ludah tapi selalu gagal.

Sehun yang melihat wajah Ka Eun yang tiba-tiba pucat, merasa bersalah. Dia berdehem dan membenahi posisi duduknya lagi. “Tidak perlu dijawab. Lagipula bukan urusanku, kan? Ah… di sini tenang sekali. Sayangnya aku tidak bisa sembarangan kesini. Suasananya benar-benar berbeda dari Seoul. Oh ya, kau pernah datang ke Seoul?”

Ka Eun menjawabnya hanya dengan gelengan.

“Yah… kau benar-benar kuno. Seoul itu keren. Kau bisa mendapatkan segalanya di sana. Sayangnya terlalu padat, jadi meskipun menyenangkan tapi sesak juga, hehe.”

Sehun menyadari ekspresi Ka Eun yang tetap murung seperti semula. Senyum di wajahnya perlahan luntur. Dia memalingkan pandangan ke depan di saat rasa bersalah kembali menyerangnya.

“Ya maaf. Aku tidak bermaksud menjatuhkan harga dirimu. Aku hanya ingin tahu, kalau-kalau aku mengenal salah satu dari mereka. Kau kan tahu siapa keluargaku, bisa jadi aku benar-benar mengenal salah satu dari mereka. kalau kau memang tidak mau menjawabnya, ya apa boleh buat. Itu kan hakmu.”

Mendengar kata ‘hak’, Ka Eun baru merasa kalau dia adalah seorang manusia. Para tamunya sebelumnya sungguh jauh berbeda dengan Sehun. Mereka tidak pernah memikirkan hak-hak Ka Eun dan beranggapan kalau Ka Eun adalah kaum dengan kasta paling rendah. Berlaku seenaknya tanpa memikirkan perasaan Ka Eun, itulah yang membuat Ka Eun merasa dia bukanlah seorang manusia lagi.

“Apakah kita harus kembali sekarang? Kurasa langitnya jadi mendung karena kau terus saja diam.”

“Eung.. Se-Sehun..”

Sehun langsung menoleh. “Eoh?”

Ka Eun memberanikan dirinya untuk menatap Sehun. Tapi tidak bertahan lama, dia kembali menunduk. “Maaf, aku tidak bermaksud memperkeruh suasana. Kita.. ah maaf, maksudku aku dan dirimu tidak perlu kembali sekarang kalau kau tidak menginginkannya. Aku tidak akan diam lagi agar langitnya tidak mendung.”

Sehun perlahan tersenyum. Dia mengusap rambut Ka Eun dengan lembut seakan rambut Ka Eun yang sudah tertata rapi akan rusak oleh ulah tangannya.

“Aku hanya bercanda, ah kau ini. Langitnya tidak mendung. Aku hanya tidak mau kau hanya diam saja. Hey.. kau pasti merasa beruntung kan mendapat tamu sepertiku? Jadi saat aku ada di sini, jangan hanya diam saja. Ayo nikmati waktu karena aku akan membuatmu merasakan apa itu masa muda. Ya ya ya?”

Ka Eun hanya mengerjap tak mengerti melihat ekspresi Sehun yang luar biasa ceria. Detik berikutnya jantung Ka Eun terasa berdesir kala melihat eye smile Sehun. Sungguh luar biasa rupawan.

**

Malamnya mereka sedang menyantap makan malam. Sehun berulang kali menggumamkan kata ‘masda’ pada hasil masakan Ka Eun itu. Nafsu makannya seperti monster. Belum habis yang di mulut, dia sudah menyendok nasi lagi.

“Eung.. Sehun.. ada kuah di dekat bibirmu.”

Sehun sama sekali tidak menjawab, tapi dia mendengar dan memajukan wajahnya. Awalnya Ka Eun tidak tahu apa maksud Sehun, tapi saat Sehun semakin mendekatkan wajahnya, Ka Eun baru tahu maksudnya. Gadis itu lekas mengeluarkan sapu tangan hasil jahitannya sendiri lalu mengusap bagian bawah bibir Sehun yang belepotan kuah dengan hati-hati. Ka Eun tidak tahu kalau Sehun terus saja memandangnya, dia terlalu focus dengan kegiatannya. Terlebih dia tidak tahu kalau Sehun tersenyum.

“Gomawo,” celetuk Sehun tiba-tiba. Ka Eun yang sadar tengah dipandangi mendadak merona. Dia lekas menarik tangannya dan menunduk.

Sehun menarik wajahnya. Dia menggunakan sumpit untuk mengambil sepotong daging. Daging itu dia arahkan pada Ka Eun. “Buka mulutmu.”

Ka Eun melihat daging itu sejenak.

“Ayo..”

Perlahan Ka Eun membuka mulut. Dia melahap daging dari sumpit itu dan mengunyahnya.

“Kau hanya makan 1000 kalori tiap hari, uh? Pantas tubuhmu kurus. Tambahlah porsi makanmu menjadi 1500 kalori. Ini, bantu aku habiskan daging ini,” Sehun membagi daging dari piring hidangan ke piringnya dan piring Ka Eun dengan total yang sama.

“Kau masih muda dan butuh banyak asupan gizi untuk tumbuh kembangmu. Kisaeng juga manusia kan?”

Ka Eun memandang piringnya dalam diam.

Kisaeng memang tidak boleh makan banyak. Maaf..

**

“Kau punya rambut yang bagus ternyata..” cetus Sehun saat dia melihat Ka Eun baru saja keluar dari kamar mandi sehabis ganti pakaian. Gadis itu sudah memakai hanbok berwarna putih polos berkain tipis dengan rambut yang sengaja diurai. Dia duduk di sebelah Sehun seperti yang dia lakukan malam kemarin.

“Dengan rambut seperti itu kurasa kau akan diperebutkan para agensi untuk menjadi model,” ucap Sehun lagi. Dia masih setia memandang rambut hitam sepinggang milik Ka Eun.

Seperti biasa, Ka Eun hanya tertunduk. Dia masih agak canggung untuk berinteraksi dengan Sehun di malam hari. Bahkan untuk duduk berdekatan seperti ini saja sudah membuat darah Ka Eun mengalir deras.

“Sekarang aku tahu jawaban kenapa aku harus mengikuti tradisi ini selain untuk mewarisi perusahaan.”

Ka Eun menoleh dan langsung bersitatap dengan Sehun. Mereka saling berpandangan cukup lama, hingga tiba-tiba Sehun mendaratkan kecupan di pipi kiri Ka Eun.

“Jawabannya.. aku harus menghindari larangan tradisi itu dengan mengeluarkanmu dari belenggu ini.”

Jantung Ka Eun bekerja di atas rata-rata. Membeku adalah salah satu dampak dari keterkejutannya. Dia hanya diam memandang Sehun dimana lelaki itu sedang tersenyum padanya.

“Kabar baik, Ka Eun. Aku akan mengganti statusmu menjadi seorang gadis.”

Tuhan sungguh baik. Dia telah mengirimiku seorang malaikat tak bersayap yang sesungguhnya.

**

Butuh waktu tiga hari untuk mengurusi pembebasan status Ka Eun dari kisaeng menjadi warga sipil Korea. Selama menunggu itulah, Ka Eun tetap tinggal di rumah kisaeng bersama Sehun yang masih berstatus sebagai tamunya. Lucunya, bukan Sehun yang mengurusi pembayarannya, melainkan ayahnya. Ternyata, rencana di balik tradisi yang sedang dijalani Sehun ini adalah balas budi ayah Sehun terhadap pengorbanan almarhum ibu Ka Eun yang pernah membantu ayah Sehun dalam menuntaskan kejahatan seorang pejabat negara. Ibu Ka Eun saat itu digunakan sebagai mata-mata tak terlihat untuk menyerap semua informasi dari si pejabat, walaupun usahanya sukses, wanita itu terpaksa merelakan nyawanya karena si pejabat itu mengincarnya. Sebenarnya, ibu Ka Eun bukanlah seorang kisaeng. Tapi sebelum dia dibunuh oleh pesuruh pejabat itu, dia terpaksa menyembunyikan anaknya dengan menjualnya pada pihak kerajaan.

“Seharusnya kau berterima kasih pada ibumu, Eun-ah. Walaupun kau menderita di sini, tapi setidaknya kau masih hidup sampai sekarang. Jadi kita bisa saling bertemu seperti ini.”

Ka Eun masih terus mengeluarkan air matanya. Baru saja dia mendengar Sehun membacakan surat dari ayah Sehun, tentang siapa ibunya dan apa maksudnya menyewanya selama seminggu. Surat itu sukses membuat perasaannya bercampur aduk. Entahlah dia harus merasa senang atau sedih. Dia terlalu tak mengerti dengan perasaannya sendiri.

“Sudahlah, jangan menangis. Semuanya belum terlambat, Eun-ah.”

Ka Eun tidak menolak saat Sehun memeluknya. Justru gadis itu membalas pelukan Sehun dengan lebih erat.

Ibu.. apakah ini yang dinamakan surga? Aku benci menjadi seorang kisaeng, ibu. Tapi.. setelah aku mendengar makna di balik semua ini, aku bersyukur. Ternyata masih ada orang-orang yang menyayangiku. Ibu.. terima kasih.. kau sudah membawaku pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan bertemu Oh Sehun…

**

Mereka menikah setahun kemudian…

Di hari pernikahan mereka, banyak sekali orang yang hadir, termasuk para pejabat. Ada kejadian yang terjadi di tengah-tengah acara pernikahan mereka.

“Oh? Kau bukannya… kisaeng?”

Ka Eun membelalak saat melihat seorang pejabat yang dulu adalah tamunya. Gadis itu otomatis bersembunyi di belakang punggung Sehun. Sikapnya ini membuat si pejabat itu yakin kalau Ka Eun adalah kisaeng yang dulu disewanya.

“Ternyata benar. Lucu sekali, sekarang aku mengadiri pernikahanmu dengan seorang pewaris perusahaan yang kaya raya,” pria berusia 47 tahun itu tersenyum miring.

Sehun menanggapi ucapan pria itu dengan senyuman. “Apakah anda tidak ingin mengucapkan selamat pada kami?”

“Oh tentu, selamat atas pernikahanmu dengan KISAENG, pangeran.”

Penekanannya pada kata ‘kisaeng’ sukses membuat orang-orang yang mendengarnya berkasak-kusuk. Mereka serempak membicarakan Ka Eun yang langsung menyebar hingga ke seluruh orang di ruangan itu. Lambat laun banyak dari mereka yang menghujani Ka Eun dengan tatapan merendahkan.

“Sama-sama, tuan Hwang.”

“Ah, Ka Eun-sshi, kau masih penakut seperti dulu ya. Ya Tuhan.. apakah kau akan melarang suamimu untuk membuka bajumu juga? Dulu.. maaf, aku sempat melihat tubuhmu saat kau tidur.”

Ucapan itu benar-benar jauh diluar dugaan Sehun maupun Ka Eun. Kalimat yang terkesan merendahkan dan menyulutkan kemarahan Oh Sehun. Lelaki muda itu mengepalkan tangannya erat-erat. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan.

Ka Eun nampak mengeratkan pelukannya pada Sehun. Tidak peduli bagaimana pandangan orang padanya, asal ada Sehun dia akan tetap baik-baik saja.

“Ah.. jadi anda mengakui kalau anda pernah pergi mencari hiburan pada kisaeng? Sungguh hebat anda, tuan Hwang. Dan anda pernah melihat tubuh istri saya? Wah.. apakah menurut anda saya pantas mendapatkan wanita secantik dia? Ok, ini terkesan vulgar. Tapi, maukah anda melihat tubuh saya juga? Saya tidak keberatan, tuan Hwang. Karena saya yakin, tubuh anda tidak lebih bagus dari tubuh saya.”

Perkataan Sehun berhasil membuat si pejabat itu tersinggung. Semua orang di sana beralih membicarakan si pejabat itu. Sebagian dari mereka tidak percaya kalau si pejabat itu berani melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pejabat. Suasana makin mencekam saat istri dari pejabat itu tiba-tiba datang dan menapar suaminya sebanyak empat kali.

“Kelakuanmu sungguh kekanak-kanakkan, Inseong. Malam ini juga, aku akan mengajukan surat perceraian pada pengadilan. Dan satu lagi, semua harta keluargaku yang ada padamu, seluruhnya kucabut termasuk posisimu di pemerintahan,” wanita itu langsung pergi.

Si pejabat tidak menyangka kalau istrinya akan datang. Dia yang mendengar kata ‘cerai’, tanpa pikir panjang langsung mengejar wanita itu.

Setelah si pejabat trouble maker itu menghilang di balik pintu, Sehun menghela napas lega. Dia menunduk untuk mengatur napasnya yang sempat memburu. Rasa kesal akibat ucapan si pejabat tadi masih tersisa dalam hatinya.

“Sehun..”

Lelaki itu menoleh saat namanya disebut. Dia mendapati wajah cemas Ka Eun yang sudah ada di sampingnya. Gadis itu mengusap bahunya dengan lembut dengan sorot mata yang menyampaikan satu pertanyaan, “apa kau baik-baik saja?”

Sehun menghela napas lagi. Dia membuang pandangan sembari mengacak rambutnya dengan satu tangan.

Ka Eun menurunkan tangannya dari bahu Sehun lalu mengaitkan jari-jarinya pada sela-sela jari lelaki itu. Dari ekspresi wajahnya, dia sepertinya merasa sangat bersalah pada Sehun atas status kisaeng yang pernah disandangnya. Dia merasa sudah mencoreng nama baik keluarga Sehun.

“Sehun maaf.. seharusnya.. kita tidak menikah.. kita tidak pernah boleh bertemu sebelumnya.”

Sehun terkejut mendengar ucapan Ka Eun. Dia memandang puncak kepala Ka Eun dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Aku tahu semuanya akan seperti ini. Maafkan aku, Sehun. Aku… benar-benar menyesal.”

Ibu.. maafkan aku yang sudah menyakiti malaikat yang ibu kirimkan ini.

“Apa yang kau sesali, uh? Kenapa kau harus menyesal? Atas dasar apa kau menyesal? Ini bukan salahmu, ini bukan salah dia, ini bukan salah siapa-siapa. Ini salahku! Harusnya aku tidak menunda tradisi itu…”

Ka Eun langsung mengangkat kepala. Dia sangat terkejut mendengar penuturan Sehun. Apa maksud dari ucapan si rupawan ini?

Sehun merekatkan kelima jarinya yang lain pada gadis itu. Dia mengangkat kepala agar bisa menatap kedua netra kekasihnya. “Jangan bicara seperti itu lagi, kumohon. Aku mencintaimu, tolong jangan katakan itu lagi.”

Ka Eun memejam saat Sehun mengecup dahinya. Dia bahkan tidak menolak saat Sehun memeluknya.

Pertama kali melihatmu, aku rasa itu adalah mimpi. Aku seperti sedang melihat mendiang ibuku. Akan kukatakan satu rahasia, sayangku. Ibuku adalah seorang kisaeng. Ibu dan ayah menikah setelah ayah membebaskan ibuku dari status kisaeng-nya. Aku dan ayah memiliki kisah cinta yang sama, sayang. Kami terlambat bertemu dengan pujaan hati kami. Ayahku menyesal, aku juga menyesal. Jadi semua ini salahku, jangan pernah menyalahkan dirimu lagi. Aku benar-benar kesulitan untuk mengatakannya, tapi kau bisa rasakan rasa cintaku kan? –Sehun

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s