Beautiful Liar


Author : ohnajla

Genre : Hurt, romance, marriage life, songfic, drama, sadnes

Rating : Teen

Length : Oneshoot

Casting : Byun Baek Hyun (EXO), Kim Ye Rin (OC), other cameo

recommended song : VIXX – Beautiful Liar

.

“This is a beautiful lie
My last lie
Even if it hurts to death
I am hiding myself under a mask for you”

Beautiful Liar English trans (VIXX)

.

Baekhyun akhirnya berhasil mendapatkan hati Yerin. Ya, gadis cantik primadona sekolahnya akhirnya berhasil jatuh ke pelukannya. Dia tidak butuh banyak usaha untuk bisa mendapatkan gadis itu, karena gadis itu sendiri yang datang padanya.

Mereka pun mengawali hari kencan mereka dengan pergi ke club. Sudah biasa… Baekhyun adalah laki-laki penuh kebebasan sedangkan Yerin adalah gadis yang dari sananya sudah di cap sebagai player.

Walaupun Baekhyun adalah laki-laki bebas, nyatanya dia tidak berani menyentuh Yerin lebih dulu. Ke club saja adalah permintaan Yerin, Baekhyun hanya menuruti keinginannya karena Yerin terus saja mengancam minta putus.

Mereka pun masuk ke club dengan Yerin yang bergelayut manja di lengannya. Dia melihat ke sana kemari karena beberapa gadis yang lewat terus saja memanggilnya. Wajarlah, Baekhyun itu memiliki wajah tampan ditambah dengan imut. Gadis mana yang akan menyia-nyiakan wajah lelaki yang seperti itu.

Mereka duduk di meja yang berhadapan dengan seorang bartender. Yerin sepertinya sudah mengenal baik bartender itu karena mereka berbicara sambil tertawa. Baekhyun hanya mengamati bagaimana cara Yerin bicara dan tertawa. Sebenarnya, dia tidak begitu tertarik dengan kecantikan gadis itu.

“Beri kami alcohol,” ucap Yerin mengakhiri obrolannya dengan si bartender. Dia pun duduk di sebelah Baekhyun dengan kaki kiri di atas kaki kanannya.

“Memang kau kuat minum alcohol?” tanya Baekhyun dengan sedikit berteriak. Dahinya sedikit berkerut mengingat tempat itu terlalu ramai dengan suara music.

Bukannya menjawab, Yerin justru menarik kerah baju Baekhyun dan menempelkan bibirnya di bibir lelaki itu. Baekhyun tidak perlu terkejut karena ini bukan kali pertamanya dia mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari Yerin. Cara Yerin yang terkesan memaksa dan agresif ini dibalas serupa oleh Baekhyun tanpa sedikitpun menikmatinya.

Mereka saling menjauhkan wajah saat si bartender menyuguhkan alcohol pesanan Yerin. Nampak Yerin mengusap bibirnya sambil tersenyum penuh arti pada Baekhyun. Beda lagi dengan Baekhyun yang langsung meneguk alkoholnya.

“Baek.. ayo menari,” Yerin sudah turun dari kursinya dan menarik lengan Baekhyun untuk bergabung dengan orang-orang yang sejak tadi sudah menari mengikuti irama music.

Yerin melingkarkan tangannya di leher Baekhyun dan memaksa lelaki itu untuk kembali menautkan bibir mereka. Sama seperti sebelumnya, hanya Yerin yang menikmati aktifitas itu. Baekhyun meski membalas tapi tidak menikmatinya.

Tautan itu terlepas. Yerin memperhatikan wajah Baekhyun dari bawah dengan ekspresi kagum seperti biasa. Jiwa player-nya bangkit. Atau mungkin juga karena pengaruh tiga gelas alcohol berukuran besar yang dia minum dalam sekali tarikan napas. Dia mulai berani untuk menggoda Baekhyun dan berakhir dengan suatu paksaan.

Malam itu… entahlah… Baekhyun juga tidak tahu kenapa…

**

Dua bulan kemudian…

Mereka menikah secara diam-diam. Alasannya satu, Yerin hamil. Yerin terpaksa keluar dari sekolah sementara Baekhyun tidak. Pernikahan diam-diam ini semata-mata untuk melindungi Baekhyun agar tidak dikeluarkan juga dari sekolahnya. Ngomong-ngomong, mereka berdua masih kelas 2 SMA.

Keduanya memilih tinggal satu atap di wilayah yang jauh dari hiruk pikuk kota. Mereka tinggal di suatu desa yang jarang penduduk. Akses kendaraannya pun hanya bisa dilalui oleh sepeda motor kalau akan pergi ke kota.

Kehidupan pernikahan mereka sama sekali tidak bahagia. Yerin banyak mengeluh dan manja, yang mana itu sangat mengganggu Baekhyun.

“Yaa Baekhyun! Kau pikir aku harus makan makanan gosong setiap hari, uh?”

Baekhyun asyik menikmati hasil masakannya tanpa sedikitpun mengindahkan omelan Yerin. Mereka sedang duduk berhadapan di meja makan menikmati menu dinner mereka.

PRANG!

Baekhyun hanya melirik piring Yerin yang pecah di lantai bersama makanan yang berserakan. Sekali lagi dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan gadis itu.

“Melihatnya pun aku tidak sudi. Makanan itu lebih mirip makanan anjing daripada manusia.”

Ada panas yang menjalari perasaan Baekhyun. Dia masih terima dengan sikap gadis itu membuang hasil masakannya. Tapi dia tidak terima kalau masakannya itu dihina sebagai makanan binatang. Bukannya sudah bagus Baekhyun mau memasak? Lihatlah gadis berbadan dua di depannya, memegang perkakas dapur saja tidak pernah apalagi memasak makanan. Harusnya Baekhyun marah. Namun, dia memilih untuk memendam kemarahannya dan diam.

Makanan di piringnya akhirnya habis. Tanpa pikir panjang dia langsung bangkit dan berjalan menuju tempat pencucian piring. Dia mencuci piringnya dulu sebelum melesat menuju kamar. Dia sebenarnya menyesali keputusannya memilih rumah yang punya satu kamar. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

“Yaa Baek!”

Baekhyun berhenti namun tidak memutar tubuhnya.

“Kau benar-benar suami yang tidak bertanggung jawab! Kau mau tidur saat istrimu belum makan, uh? Kau mau istrimu kelaparan?”

Ekspresi Baekhyun masih datar-datar saja, tapi dalam hatinya dia sudah mengumpat tanpa henti. Tanpa sadar dia berbalik dan pergi ke dapur. Dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Senyum kemenangan dari bibir Yerin yang sempat dia lihat tidak membuat langkahnya terhenti. Dia terpaksa memasak untuk kedua kalinya demi menuruti keinginan gadis itu. Kali ini dia memasak makanan yang lebih sederhana.

Dua puluh menit kemudian dia menyajikan makanan itu ke hadapan Yerin. Melihat ekspresi Yerin yang nampaknya menerima makanan itu, dia pun memilih untuk membersihkan kekacauan yang tadi sempat dibuat Yerin –membuang hasil masakannya yang pertama-.

“Lumayan. Lain kali belajarlah memasak.”

Baekhyun membawa pecahan piring dan makanan yang dia pungut di lantai ke dapur untuk membuangnya ke tempat sampah. Sekarang, dia bisa pergi ke kamar dengan tenang.

**

Tidur lebih awal adalah kebiasaan Baekhyun semenjak dia menikah. Pagi sampai sore dia full ada di sekolah. Malamnya dia harus membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam mereka. Wajarlah kalau dia merasa lelah dan tidur sebelum pukul 10 malam.

Pukul dua pagi biasanya dia terbangun. Dia selalu menoleh ke sampingnya dan mendapati Yerin yang tertidur lelap. Biasanya yang dia lakukan saat terbangun itu adalah menghadapkan seluruh tubuhnya pada Yerin dan memandangnya tanpa sedikitpun berkedip.

Jari-jari lentiknya akan menelusup ke dalam tiap untai rambut Yerin untuk mengusapnya dengan lembut. Dia juga akan memberikan ciuman tulus di dahi, pipi serta bibir gadis itu. Terkadang dia pun membenahi letak selimut gadis itu. Hal terakhir yang dia lakukan adalah memeluk gadis itu dalam lima menit lalu turun dari ranjang untuk pergi ke luar.

Dinginnya udara pegunungan saat dini hari tidak membuat Baekhyun mengurungkan niat untuk duduk di hamparan rumput halaman rumahnya. Dia membaringkan tubuhnya di atas rerumputan dengan kedua tangan sebagai bantal. Pandangannya tertuju lurus ke atas tepatnya pada langit yang selalu nampak indah di waktu dini hari. Bintang-bintang di langit adalah temannya setiap kali dia berbaring di sini. Dia selalu merasa damai dan tenang setiap kali melihat bintang-bintang yang hanya serupa titik bercahaya di langit.

Setetes cairan liquid jatuh bebas dari pelupuk matanya. Bibirnya sedikit bergetar dan hidungnya memerah. Dia berkedip sekali lalu air mata lain jatuh dengan cepat merambat menyusuri kulit pipinya dan berakhir di tanah.

Bagus Baekhyun, kau telah melakukannya dengan baik.

Dia menghapus air matanya dengan kasar lalu memutuskan untuk tidur.

Bisakah kau kembali menjadi Yerin yang kucintai?

**

Di saat Baekhyun memasuki kelas 3 SMA, bayi di kandungan Yerin akhirnya lahir. Saat proses persalinannya Baekhyun rela tidak makan seharian demi menunggu Yerin yang berada di ruang operasi persalinan sesar. Beberapa jam sebelum Yerin dibawa ke rumah sakit, Yerin mengalami pendarahan hebat dan jatuh pingsan. Baekhyun yang baru saja pulang dari sekolah saat itu lekas membawa Yerin ke rumah sakit.

Nyawa Yerin berhasil diselamatkan, begitu juga bayi laki-laki yang dilahirkannya. Baekhyun diperbolehkan melihat Yerin dan anaknya setelah Yerin dipindahkan ke ruang rawat.

Langkahnya tampak lemah dan terseok-seok. Dia menghampiri tempat Yerin berada dimana gadis itu sedang menyusui anak mereka untuk pertama kalinya. Baekhyun berhenti saat dia sudah berdiri tepat di sebelah ranjang Yerin. Pandanganya hanya tertuju pada bayi merah yang masih terpejam di gendongan Yerin.

Di saat dia dan Yerin saling berpandangan, Baekhyun bisa melihat Yerin yang tersenyum tulus padanya. Sebuah senyuman yang dirindukan Baekhyun dari Yerin.

“Aku memutuskan untuk menamainya Kwang Ho, Byun Kwang Ho.”

Tanpa sadar Baekhyun membalas ucapan gadis itu dengan senyuman. Inilah senyum pertamanya yang bisa dilihat secara langsung oleh Yerin. Keterkejutan Yerin sama sekali tidak dihiraukan oleh Baekhyun. Dia memutuskan untuk mencium dahi Yerin selama dua menit lamanya sampai-sampai dari matanya -yang terpejam- jatuhlah setetes cairan liquid.

Setelahnya, lelaki itu duduk di tepian ranjang untuk melihat bayinya lebih dekat.

“Keurae.. akhirnya aku bisa melihatmu sekarang. Inilah aku, Byun Baekhyun, ayahmu.”

Dia memberikan kecupan di dahi bayinya dengan durasi sama seperti saat mencium Yerin.

Apa yang Baekhyun lakukan ini, Yerin tidak bisa untuk tidak melihatnya tanpa berkedip. Ini seperti sebuah kejutan untuknya. Karena tiba-tiba jantungnya berdetak dengan kecepatan di atas rata-rata.

**

Delapan bulan mungkin adalah masa-masa yang paling bahagia dalam hidup Baekhyun. Setelah setahun lebih bersama Yerin, baru kali ini Baekhyun merasa menjadi lelaki sejati. Yerin berubah menjadi wanita yang lemah lembut serta istri yang taat pada suaminya. Wanita itu juga mulai mau bergerak membersihkan rumah dan memasak makanan. Bahkan sampai menyiapkan seragamnya. Baekhyun rasa dia telah mendapatkan kembali Yerin yang dia cintai.

Namun… semua berubah dalam sehari.

Saat Baekhyun pulang dari sekolah, dia mendapati seorang lelaki asing sedang memeluk Yerin dari belakang dimana keduanya berada di dapur. Sementara Kwangho tidur lelap di ruang televise bertemankan lagu-lagu lullaby.

Baekhyun terpaku sesaat setelah melihat pemandangan itu. Tas kertas berisi sebuah gaun yang dia beli di salah satu butik untuk Yerin, dia jatuhkan begitu saja. Tatapannya masih tertuju pada pemandangan yang tak jauh di depannya.

“Oee.. oe..” tangis Kwangho yang mendadak terdengar membuat Baekhyun menoleh. Dia hanya bisa memandang Kwangho dengan tatapan kosong.

“Sebentar oppa, Kwangho menangis,” suara Yerin membuat Baekhyun kembali menoleh ke depan. Dia bisa melihat Yerin yang berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu. Sebenarnya Baekhyun ingin sekali berlari pada mereka dan menghajar habis-habisan pria itu. Tapi, cara Yerin tertawa saat pria itu mencium lehernya membuat Baekhyun mengurungkan niatnya. Dia bahkan hanya terdiam saat Yerin dan pria itu menyadari keberadaannya.

“B-Baekhyun-ah..”

Baekhyun langsung membuang pandangannya pada Kwangho yang masih menangis. “Dia menangis, beri dia ASI.”

Tanpa melihat Yerin ataupun pria itu lagi, Baekhyun langsung mengambil langkah lebar-lebar menuju kamar. Sebelum sampai di kamar, samar-samar dia mendengar obrolan Yerin dan pria itu.

“Jadi anak ingusan itu suamimu?”

“Oppa, pulanglah.”

“Keurae. Kuhubungi nanti. Oh ya, besok malam akan kujemput. Pikirkan baik-baik tawaranku tadi, chagiya.”

Selanjutnya Baekhyun tidak mendengar obrolan mereka lagi karena pintu kamar sudah dia tutup rapat. Dia melempar tas ke sembarang arah, melepas dan melempar blazernya, lalu membanting tubuh di atas ranjang. Dia menggunakan lengan kiri untuk menutupi kedua matanya. Dengan begitu, Yerin tidak akan melihat seberapa banyak cairan yang akan keluar dari matanya.

**

Malamnya Baekhyun terbangun. Keadaannya kacau sekali. Ada atau tidaknya Yerin di sampingnya dia tidak peduli. Dia langsung turun dari ranjang untuk pergi ke dapur mencari minum, tenggorokannya terasa kering sekali.

Untuk pergi ke dapur dia harus melewati ruang televise. Di sanalah dia bisa melihat Yerin yang ternyata masih terjaga sambil menggendong Kwangho. Mereka saling berpandangan dalam beberapa detik, sebelum Baekhyun memutuskan acara saling menatap mereka dan pergi ke dapur sesuai tujuan utama. Nyatanya Yerin mengikutinya.

“Baekhyun-ah..”

Baekhyun masih terus berjalan hingga dia berhenti tepat di depan kulkas.

“Baekhyun.. aku ingin bicara.”

Baekhyun membuka pintu kulkas, meraih sebuah botol transparan berisi air dingin lalu menutup pintunya kembali.

“Aku akan langsung pada intinya. Aku sudah memutuskan, aku ingin bercerai denganmu.”

Baekhyun meneguk air dingin itu perlahan-lahan agar bisa merasakan kesegaran yang dirasakan oleh tenggorokannya.

“Aku akan menikah dengan Kyeongwoo oppa dan pergi ke Jerman selamanya. Aku tidak akan membawa Kwangho. Kau tidak perlu khawatir, Kwangho sudah bisa minum susu formula. Aku sudah mengajukan surat perceraian pada pengadilan, dan hak asuh Kwangho ada di tanganmu. Jadi..”

Yerin tidak melanjutkan ucapannya saat Baekhyun tiba-tiba melempar botol yang masih terisi cukup banyak air itu hingga terantuk meja marmer. Suara yang ditimbulkan tidak lebih mengerikan dari bagaimana Baekhyun menatap Yerin sekarang. Lelaki itu melangkah ke depan perlahan-lahan sampai punggung Yerin menempel pada dinding. Saat itu juga Baekhyun menumpukan kedua tangannya pada dinding untuk mengekang ruang gerak Yerin.

“B-Baekhyun-ah..”

“Jadi… beginikah caramu, uh?”

“Ne?”

Baekhyun melirik tubuh Yerin bagian bawah dengan tatapan merendahkan. “Siapa tersangka, siapa korban, kenapa harus aku yang selalu disalahkan?”

Yerin hanya terdiam. Dia bisa merasakan tatapan Baekhyun yang sedang menghinanya.

“Kau bisa salahkan aku atas lahirnya Kwangho. Ya, aku salah sudah menuruti kemauanmu waktu itu.”

“Pernahkah kau berpikir kenapa aku menuruti semua keinginanmu?”

Baekhyun menyelipkan tangannya di tiap helaian rambut Yerin. “Kalau kau mau tahu jawabannya… aku.. sangat mencintaimu.”

Dia mengecup sisi kiri kepala Yerin dengan mata terpejam. Setelahnya dia membuka mata lagi dan memandang Yerin dengan tatapan yang sama. “Apakah kau sama sekali tidak mencintaiku, uh? Jadi.. apa yang kau lakukan selama ini? Berakting mencintaiku? Atau… hanya berniat mempermainkanku? Selama ini, kau tidak bahagia bersamaku?”

Yerin memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan, sedangkan bibirnya bungkam.

“Apakah pria itu, bisa membuatmu bahagia nantinya? Kau yakin?”

Samar-samar Yerin mengangguk.

Benda tajam seakan menusuk hatinya tanpa ampun. Seluruh syarafnya seakan berhenti bekerja. Tatapannya mendadak sendu bersamaan dengan kakinya yang melemas. Dia jatuh dalam keadaan duduk, menatap kosong pada dinding di hadapannya.

Yerin ikut duduk di hadapannya. “Baekhyun-ah..”

“Besok kau akan pergi, kan? Bisakah… bisakah… sekali ini saja… kau memelukku… setulus hatimu..?”

“Baekhyun-ah..”

Baekhyun tahu Yerin pasti akan menolaknya. Kini dia begitu frustasi. Tanpa ampun dia menarik rambutnya sendiri dan mengerang dengan mengerahkan seluruh suara yang dia miliki. Suaranya membuat Kwangho terbangun dan menangis tapi dia tidak peduli sama sekali. Keributan yang dia timbulkan itu berakhir saat Yerin akhirnya memeluknya. Pelukan hangat itu berhasil membuatnya jatuh tertidur saat itu juga.

**

Paginya.. Baekhyun mendapati dirinya yang berada dalam rangkulan Yerin. Dia bisa melihat Yerin yang masih tertidur dengan Kwangho di pangkuannya serta dia sendiri yang ada di pelukan wanita itu. ia beralih melihat sekitarnya yang masih kacau seperti yang dilihatnya terakhir.

Setelah teringat apa yang menyebabkan semua ini terjadi, setetes cairan hangat mendadak jatuh dari pelupuk matanya. Tanpa sadar dia menyembunyikan wajahnya di cekungan leher Yerin.

“Eung… Baekhyun-ah..”

Baekhyun masih dalam posisinya karena dia sedang menangis. Dia tidak mau Yerin melihat air matanya.

Belaian lembut terasa di rambutnya. Pilihan yang dia ambil adalah menikmati sentuhan itu dan menganggapnya sebagai sentuhan terakhir dari Yerin.

“Aku harus bersiap-siap.”

“Sebentar saja Yerin-ah.. sebentar saja… jebal..” Baekhyun melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Yerin. Demi apapun, dia tidak rela Yerin pergi dari kehidupannya.

**

Sorenya Yerin sudah siap pergi. Pakaiannya sudah terkumpul semua di dalam tiga koper besarnya. Dia sendiri sudah memakai baju rapi dan tinggal menunggu kedatangan Kyeongwoo. Dia duduk di ruang tamu sembari menggendong Kwangho.

Baekhyun ada di sampingnya, memperhatikan wajahnya untuk terakhir kali.

Tak lama kemudian Kyeongwoo datang. Pria itu tanpa basa-basi langsung memasukkan semua koper dan barang bawaan Yerin ke dalam bagasi mobil. Yerin sendiri tengah mengucapkan salam perpisahan pada Baekhyun. Dia juga menyerahkan Kwangho pada ‘mantan suaminya’ itu.

“Kau harus mengganti popoknya empat kali sehari, beri dia susu saat dia menangis dan jangan biarkan dia kedinginan.”

Baekhyun mendengarkan tapi matanya hanya terfokus pada Yerin.

“Nyanyikan sebuah lagu setiap kau akan menidurkannya. Periksakan ke dokter anak empat kali tiap bulan. Usahakan jangan pernah tinggalkan dia sendirian. Arraseo?”

Baekhyun berjalan mendekat lalu mendaratkan kecupan di dahi Yerin. “Arraseo. Semoga hidupmu bahagia bersamanya. Kami akan selalu ada di sini. Kembalilah.. kalau kau memang ingin kembali.”

Yerin hanya mengangguk tanpa sedikitpun tersenyum. Dia langsung berbalik saat Kyeongwoo memanggilnya. Dia pergi meninggalkan Baekhyun dan Kwangho saat itu juga.

**

10 years later…

Hidup tanpa Yerin memang tidak mudah. Tapi Baekhyun bisa melaluinya dengan baik. Dia bisa membesarkan Kwangho sekaligus menyukseskan dirinya sebagai pengusaha muda. Usianya masih 27 tahun, sedangkan Kwangho sudah berusia 10 tahun. Mereka telah menjadi pasangan ayah-anak yang sukses di era saat ini.

Sebenarnya, banyak gadis muda yang ingin menggantikan posisi Yerin untuk Baekhyun. Hanya saja.. Baekhyun menolak semua. Dia masih tidak mau membina hubungan baru dengan wanita lain, lagipula dia percaya kalau suatu saat nanti Yerin akan kembali. Itulah sebabnya kenapa Baekhyun masih menempati rumah di pedesaan. Dia tidak mau Yerin kesulitan menemukan keberadaannya dan Kwangho.

Di hari minggu, hari libur untuk anak sekolah dan pekerja kantor, Baekhyun dan Kwangho kompak bermalas-malasan di rumah. Mereka bisa saja bangun tengah hari. Akan tetapi suara bel rumah yang terus saja terdengar membuat Baekhyun terbangun pukul 9. Masa bodoh dengan penampilan, dia langsung pergi ke depan untuk membuka pintu dan mungkin melabrak orang yang mengganggu hari minggunya.

TING TONG

“Kidaryeo! Argh! Tidak sabaran sekali sih!” omelnya sambil menggaruk rambut kasar. Dengan mata setengah terpejam, dia membuka kunci lalu memutar gagang pintu.

“Nugu-”

Baekhyun tidak sempat melanjutkan kata-katanya saat orang yang sejak tadi menekan bel rumahnya mendadak memeluknya.

“Baekhyun-ah..”

Suara ini…

Mata Baekhyun mendadak terbuka lebar. Dia mendorong pelan orang yang sedang memeluknya itu untuk memastikan sesuatu.

“Ye-Yerin-ah..”

“Appa, siapa yang da… tang.” Kwangho yang tadi memutuskan untuk melihat siapa tamu di hari minggu, mendadak berhenti saat melihat seorang wanita yang ada di hadapan ayahnya. Dia sangat-sangat mengenali orang tersebut walaupun belum pernah melihat sebelumnya.

Wanita itu menangis semakin keras saat melihat Kwangho yang terpaku melihatnya. Baekhyun langsung menarik wanita itu dalam pelukannya.

**

Baekhyun baru saja selesai berurusan dengan taxi yang tadi mengantarkan Yerin ke rumahnya. Sopir taxi itu sedikit kesal pada Yerin karena terus-terusan menangis dalam perjalanan. Baekhyun meminta maaf dan membayar ongkosnya.

Sekarang, Baekhyun, Kwangho dan Yerin sedang duduk dalam diam di ruang tamu. Masih terdengar isakan dari Yerin meski dia sudah tidak menangis lagi. Kepalanya tertunduk untuk menghindari tatapan Baekhyun dan Kwangho.

“Kwangho, pergilah ke kamar. Appa harus bicara dengannya dulu.”

Kwangho menuruti perintah Baekhyun dan lekas menjalankannya. Setelah Kwangho sudah masuk ke kamar, barulah Baekhyun buka mulut.

“Jadi.. kau kembali karena Kyeongwoo hampir menjualmu?”

Yerin mengangguk samar.

Baekhyun menatapnya iba. Dilihat dari fisiknya saja, Baekhyun tahu kalau selama ini Yerin tidak diperlakukan selayaknya seorang istri atau bahkan wanita. Tampak sekali tubuhnya yang banyak goresan serta memar yang sepertinya sudah membekas selama bertahun-tahun.

Baekhyun memilih pindah di sebelah Yerin. “Aku pernah bilang kan, kau bisa kembali kapanpun kau mau.”

Yerin mengangguk lagi.

“Kami menerimamu, Yerin-ah. Sekarang semuanya terserah padamu. Kau bisa menerima kami atau tidak.”

“Baekhyun-ah..”

“Ne?”

Wanita itu pun menoleh. Kentara sekali kalau dia selama ini merasa tersiksa dan kesepian dari sorot matanya yang kosong. “Kau.. masihkah mencintaiku?”

“Kenapa harus bertanya?” Baekhyun menyunggingkan senyumnya bersamaan dengan jarinya yang menelusup ke tiap helaian rambut Yerin.

Yerin kembali tertunduk saat rasa bersalahnya kembali muncul. “Aku sudah meninggalkan kalian.. aku tidak pantas untuk dicintai siapapun lagi.”

Baekhyun mencium sisi kiri kepala Yerin sama seperti 10 tahun yang lalu. Dia bisa merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya lagi.

“Aku telah melakukan kesalahan besar..”

Baekhyun meraih tangan Yerin lalu mengarahkannya ke dadanya. “Rasakan sendiri apa yang terjadi di sini, Yerin-ah. Kau akan tahu jawaban dari pertanyaanmu.”

DEG DEG DEG DEG

Kepala Yerin semakin tertunduk. “Gomawo.. Baekhyun-ah..”

**

Di usia mereka yang ke-28, mereka menikah lagi. Namun kini diadakan resmi dan terbuka. Acara pernikahan mereka dihadiri oleh relasi bisnis Baekhyun serta teman-teman sekolah Baekhyun dan Yerin. Mereka berdua bahkan tidak malu untuk memperkenalkan Kwangho sebagai putra mereka. Toh sebelumnya sudah banyak yang tahu kalau Baekhyun sempat bercerai dengan Yerin sebelumnya. Jadi banyak yang berpikir bahwa dulu Baekhyun dan Yerin dijodohkan, sehingga terjadilah penikahan dini.

Di acara pernikahannya, Baekhyun mempersembahkan sebuah lagu khusus kepada istrinya. Dia tampil di depan para tamu bersama dengan sahabatnya, Park Chanyeol.

“Inilah sebuah lagu, yang khusus saya persembahkan pada Byun Yerin. Lagu ini, mengisahkan tentang kisah kami berdua. Kuharap, anda sekalian menyukainya.”

https://soundcloud.com/l2share11/vixx-lr-beautiful-liar

~Terjemahannya~

Ini adalah kebohongan yang indah

Kebohongan terakhirku

Bahkan jika menyakitkan sampai mati

Aku bersembunyi di balik topengku untukmu

 

Aku melihat diriku di cermin dan aku bertanya pada diri sendiri

Apakah itu benar-benar membuatmu bahagia jika aku membiarkanmu pergi?

Aku akan melemparkan diriku sendiri menjauh sepenuhnya karena kau perlu waktu yang tenang untuk dirimu sendiri

Apakah aku mengatakan hal-hal tanpa sesuatu yang berarti?

Seperti aku memutar ulang wajahmu saat kau berteriak pergi

Aku mencemari kenangan kita yang indah

Aku belum membayangkan hidup tanpamu, belum, tapi tolong senanglah

Sehingga setidaknya kebohonganku bisa bersinar

 

Kulepaskan tanganmu yang memegang erat

Tapi hatiku masih sama

Tapi aku akan membiarkanmu pergi

 

Kulepaskan tanganmu

Tapi hatiku masih sama

Kupikir itu yang terbaik untukmu jika aku mengakhirinya di sini

 

Ini adalah kebohongan yang indah

Kebohongan terakhirku

Bahkan jika menyakitkan sampai mati

Aku bersembunyi di balik topengku untukmu

 

Ini baik-baik saja jika kau meninggalkanku

Aku ingin kau bahagia

Oh aku

Aku pembohong

Aku pembohong yang indah

 

Kau terus menangis di depanku

Itu adalah garis yang tak terduga yang mengarah ke bagian selanjutnya

Kau mengatakan kepadaku untuk mengambil kembali kata-kataku yang telah ku ucapkan

Ketika kau memegang wajahku

Kemudian kau terjatuh

Ini bukanlah masa depan, aku pikir

 

Ini seperti sebuah dosa melihatmu seperti anjing kesepian yang diikat

Jadi aku menelan perasaanku dan membiarkanmu pergi

Kau harus hidup lebih baik dari ini, kuberjanji

Tapi saat aku mengatakannya, kau berbalik

 

Aku tidak akan bertahan pada dirimu, aku akan tersenyum

Ini adalah aku, jangan ragu lagi

Tinggalkan aku

 

Sudah waktunya bagiku untuk memberimu

Potongan terakhir dari hatiku

Fakta bahwa kita saling mencintai begitu indah

 

Sudah waktunya bagiku untuk memberimu

Potongan terakhir dari hatiku

Fakta bahwa kita saling mencintai begitu indah

 

Aku dengan belenggu besi di kakiku

Lebih dari sepertiku yang sebelumnya

(Kau berbalik, berlari ke padaku

Mengatakan kepadaku untuk tidak mengatakan kebohongan bodoh

Kau tersenyum di depanku)

 

Ini rasa sakit yang indah

Membiarkanmu pergi

Aku bunuh diri dari dalam

Menelan air mataku

Dan mengenakan topeng yang tersenyum

 

Aku merasa lega sekarang

Tolong jangan khawatir tentangku

Oh aku

Aku seorang pembohong

Tidak, seorang  pengecut yang berbohong

~VIXX – Beautiful Liar~

 

Hadirin bertepuk tangan, salah satunya Yerin yang duduk di salah satu kursi bersama Kwangho. Kwangho mengusap pipi ibunya yang berurai air mata. Dia hanya tersenyum saat ibunya menoleh.

Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup keluarga kecil Baekhyun.

Semuanya berjalan sangat cepat. Dan tanpa terasa, Baekhyun dan Kwangho sudah berdiri di depan makam bertuliskan nama Kim Yerin.

Wanita itu divonis terkena kanker serviks akibat melahirkan di usia dini -16 tahun-. Dia tutup usia di usianya ke 40. Perkara meninggalnya Yerin merupakan kali kedua Yerin meninggalkannya. Ya… sekarang Baekhyun rela Yerin meninggalkannya, karena dengan kepergian Yerin sekarang, Yerin tidak akan merasa tersiksa lagi di dunia.

“Appa..”

Baekhyun menoleh pada putranya yang kini berusia 23 tahun. “Ne?”

“Bisakah appa katakan padaku apa kata-kata terakhir eomma?”

Pria yang masih nampak muda dan tampan itu tersenyum penuh arti sembari mengusap rambut putranya. “Kau mau mendengarnya?”

Kwangho mengangguk cepat.

Baekhyun-ah… dengarkan aku untuk terakhir kalinya.

Maafkan aku yang berubah dulu. Aku sangat kecewa pada appa dan eomma yang meninggalkanku sendirian. Aku benci kesepian, aku benci sendirian. Maafkan aku karena berubah menjadi Yerin yang kau benci.

Maafkan aku saat aku menjerumuskanmu ke masalah yang serius. Saat itu aku tidak bisa berpikir jernih. Aku terlalu frustasi dengan kondisiku yang sebatang kara. Maafkan aku yang telah mengkambinghitamkan dirimu.

Maafkan aku yang saat itu menghina makananmu. Lagi-lagi aku tidak bisa menerima kondisiku. Maafkan aku yang egois, Baekhyun-ah. Aku hanya sedang tidak bisa mengontrol diri.

Lagi-lagi maafkan aku, aku pergi meninggalkanmu dengan tiba-tiba. Sungguh aku minta maaf, Baekhyun-ah. Saat itu kupikir dengan bersamanya aku bisa melupakan tentang kedua orang tuaku yang selalu terbayang-bayang saat aku melihatmu. Sebenarnya aku tidak bisa meninggalkanmu, Baekhyun-ah. Aku sudah mencintaimu waktu itu. aku bisa merasakan perasaanmu, tapi lagi-lagi, si bodoh ini berusaha menutup mata.

Baekhyun-ah… aku tidak berharap kau menungguku. Aku pun tidak berharap kau mencintaiku. Karena aku takut, kau akan tersakiti saat bersamaku. Dan akan semakin memberatkanmu karena aku tidak bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi dirimu. Aku sama sekali tidak peduli dengan hidupmu yang sejak kecil selalu sendirian, tepat sebelum aku melihatmu sangat frustasi waktu itu.

Baekhyun-ah.. bisakah kau maafkan aku? Maafkan aku yang akan meninggalkanmu lagi. Kwangho akan menjadi temanmu di sisa hidupmu, sayang. Dia tidak akan meninggalkanmu seperti yang dilakukan ibunya.

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s