Perfect One Pt.3


Author; ohnajla (chosangmi15)

Genre: Romance, school life, general, friendship

Rating: T/G

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser // Pt.1 // Pt.2

.

“Yaa.”

Youngra reflek menoleh. “Ne?”

Suho meletakkan pensil di bagian tengah buku lalu menutup buku tersebut. Dia memutar posisi duduknya hingga berhadapan dengan gadis itu. “Di mana rumahnya?”

“Rumah?”

“Rumah Yixing!”

“Oh ah.. rumahnya .. rumahnya agak jauh dari sini.”

“Ya sudah, kaja.”

Youngra langsung mengangkat kepala. “Ne?”

Suho mendesis kesal. “Yaa, kau itu suka sekali membuat orang mengulangi perkataannya. Kubilang ayo kita, ah! kau dan aku pergi ke sana. Sebenarnya ini menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi. Si rambut merah jarum itu pasti akan mencarimu lagi.”

Youngra berkedip-kedip sebentar. Suho yang tak sengaja melihatnya, lagi-lagi kembali mendesis. “Yaa, kau dengar tidak?!”

“Uh oh.. n-ne. aku dengar.”

Suho memutar bola matanya malas. “Ternyata kau juga gagap.”

Youngra menggaruk kepala belakangnya sambil tersenyum samar. Suho kembali memutar duduknya ke depan. Dia kembali membuka buku, meraih pensil dan mengerjakan soal-soal di sana. Salah satu tangannya dia gunakan untuk menutupi wajah. Di mana dia sedang tersenyum kecil.

**

Untuk ke rumah Lay, mereka butuh naik bus. Tepat pukul 5 sore, akhirnya mereka sampai di kediaman Lay. Rumah Lay ini bergaya China klasik, di bagian depannya terdapat lampion berjumlah 4.

Youngra mengomando Suho memasuki rumah itu. mereka langsung disambut hangat oleh seorang wanita paruh baya.

“Teman-temannya Lay ya?”

“Ne, ahjumma-nim,” balas Youngra sopan. Sementara Suho masih belum bisa bersikap sopan di depan wanita itu karena terlalu sibuk meneliti setiap sudut rumah ini.

“Duduklah. Yixing sudah lebih baik, aku akan memanggilnya ke sini,” ucap wanita itu dengan aksen mandarin yang kental.

“Kamsahabnida ahjumma-nim,” balas Youngra begitu wanita tersebut masuk ke dalam. Youngra segera duduk di sebuah kursi begitu juga dengan Suho.

“Rumah ini seperti yang ada di film-film China,” ucap Suho tanpa sadar. Kepalanya masih terus mendongak memandangi langit-langit rumah Lay.

Youngra yang merasa kalau Suho sedang berbicara padanya, ikut-ikutan mengangkat kepala untuk melihat ke atas. “Eum, kau benar.”

Dahi Suho berkerut, dan tiba-tiba dia menatap gadis itu. “Aku tidak bicara denganmu.”

“Ah.. maaf,” balas Youngra sambil menunduk. Suho berdecak dan kembali mengangkat kepala.

“Oh kalian..” seru seseorang yang muncul dari dalam. Itu adalah Lay. Lelaki itu hanya memakai tank top dengan bawahan celana pendek. Wajahnya terlihat pucat. Ada perban yang melilit pergelangan tangan kirinya.

Suho dan Youngra serentak bangkit.

“Kau sungguh baik-baik saja, Lay-sshi?” tanya Youngra sambil meraih lengan Lay dan membantunya untuk duduk di sofa.

“Gomapda. Eum, aku sudah lebih baik,” balas Lay sambil tersenyum.

Suho dan Youngra kembali duduk. Youngra duduk di sebelah Lay dengan kedua tangan berpangku di atas pahanya.

“Kenapa tanganmu?” tanya Suho tiba-tiba memecah keheningan.

“Tanganku? Ah.. ini.. aku baru saja mendapat tranfusi darah.”

“Tranfusi?” seru Suho dan Youngra bersamaan. Tanpa sadar keduanya saling berpandangan untuk beberapa detik.

Lay sedikit terkejut mendengar seruan mereka. namun beberapa detik kemudian dia tersenyum. “Gwaenchanha, aku sudah biasa dengan ini. Ah kalian, tumben datang berdua? Myeon-ah, kau memang tidak ada jadwal atau sengaja melupakan jadwalmu?”

Suho langsung kelabakan. Dia melirik Youngra takut-takut. Bisa gawat kalau Lay dan Youngra tahu kalau dia memang sengaja melupakan jadwal hariannya.

“Eung.. itu.. itu… ck! Lagipula les bahasa inggris itu tidak terlalu penting. Sebentar lagi aku akan pulang, tenang saja. Aku bukannya melupakan jadwal harianku, aku hanya menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahmu. Yah… itukan karena kita… kita..”

“Kita apa?” ucap Lay tak sabaran. Senyum usil terpampang di wajahnya yang pucat.

“Chingu! Ah sudahlah lupakan!” Suho langsung memalingkan pandangan dengan kedua tangan terlipat di dada.

Lay tersenyum jenaka. “Oh… jadi kita berteman sekarang? Baguslah. Kira-kira kita namai apa pertemanan kita ini? Persekutuan kelas Excellent? Trio Pythagoras?”

Dahi Suho berkerut tak suka. “Nama macam apa itu? lagipula kenapa harus diberi nama? Berlebihan.”

Lay terkikik. “Kau tahu geng? Setiap geng punya nama kan? Itu karena agar bisa membedakan antara geng satu dengan geng lainnya. Maka dari itu aku ingin pertemanan kita punya nama. Jarang-jarang lho orang sepertimu mau berteman dengan kami.”

Suho mendengus. “Memang aku orang seperti apa? Cih.”

“E..XO?”

Lay dan Suho serentak menoleh ke asal suara. Youngra balas menatap Lay, tapi dia langsung menunduk kita menemukan tatapan Suho.

“EXO? nama yang bagus. Bagaimana kalau kita memakai nama itu? bagaimana menurutmu, Myeon-ah?”

“Berhenti memanggilku begitu. Terserah pada kalian lah,” ketus Suho lagi-lagi.

“Assa. We are EXO! We are one!” pekik Lay ceria. Dia tersenyum pada Youngra, yang langsung dibalas dengan senyuman. Sedangkan Suho hanya tersenyum samar sembari menggeleng pelan.

“Kalian sedang membicarakan apa? Aku terkejut mendengar teriakan Yixing,” ucap wanita paruh baya yang merupakan ibu Yixing ketika membawa nampan ke ruangan tersebut.

“Panggil kami EXO, mama. Mereka ini teman-temanku. Perkenalkan ini Kim Joon Myeon dan gadis cantik ini Kwon Youngra.”

“Wah… kalian cantik dan tampan. Ini, silakan diminum dulu.”

“Kamsahabnida.”

Suho dan Youngra sama-sama menyesap minuman mereka. Diam-diam Suho memperhatikan Youngra. Pikirnya, apa yang cantik dari gadis ini? Kurasa hanya suaranya saja yang cantik. Apa ibu Lay pernah mendengar suaranya?

Suho segera melihat ke bawah ketika Youngra berpaling padanya.

Cantik? Apanya?

**

Enam bulan berlalu. Kini ujian kenaikan kelas akan dimulai. Tidak seperti ujian semester, ujian ini memakai system kelas campur. Artinya, para siswa akan diacak dalam 10 ruang kelas. Di mana, satu ruang akan diisi tiga siswa dari masing-masing kelas.

Ruang ujian Suho, Lay dan Youngra ada di ruang 10. Mereka diletakkan secara terpisah. Suho berada tepat di depan meja guru, Lay ada di sudut depan, sementara Youngra ada di barisan paling belakang.

“Wah.. kelas Excellent di sini ternyata. Sepertinya kita beruntung,” ucap seorang gadis dengan suara sedikit dikeraskan untuk menarik perhatian Suho, Lay dan Youngra.

“Beruntung menurutmu? Ini namanya adalah bencana. Aku akan berkata ini keberuntungan kalau saja aku memang yakin bisa mengalahkan mereka.”

Pada hakikatnya, di saat kedua gadis itu bicara, Suho, Lay dan Youngra sama sekali tidak mendengar. Suho terlalu berkonsentrasi dengan reviewnya, Lay sedang tidur dengan earphone di kedua telinga, sementara Youngra sedang kewalahan mengurus anak-anak jahil.

“Youngra, aku tidak bawa pensil. Pinjam pensilmu ya?”

Tanpa ragu, Youngra menyerahkan satu pensilnya. Dia masih mempunyai dua pensil lagi.

“Aku juga, Young.”

Youngra masih senang hati saat memberikannya.

“Eung… pensilku hilang kemarin, boleh aku pinjam juga?”

Kali ini Youngra cemas. “Ta-tapi… ini tinggal satu-”

“Ayolah! Kau kan baik hati. Terima kasih ya,” ucap siswa itu tanpa menunggu persetujuan Youngra yang langsung merebut pensil terakhir.

Baguslah, sekarang Youngra tidak memiliki pensil untuk mengerjakan ujian.

Greek!

Suho bangkit dari tempat duduknya lalu pergi ke luar kelas. Lelaki itu tidak tahu kalau Youngra memandanginya hingga dia menghilang di balik pintu. Harapan Youngra yang ingin sekali Suho meminjaminya pensil, hilang sudah. Dia jelas tidak mungkin meminta pinjaman pada Lay karena dia tidak ingin mengganggu tidur lelaki itu. yah.. sepertinya, meskipun ketiganya berteman, Suho masih belum benar-benar menerimanya.

Bel berbunyi tanda ujian akan dimulai.

Suho masuk melalui pintu belakang. Dia sengaja melewati bangku Youngra untuk diam-diam meletakkan sekotak susu serta sebuah pensil. Seolah tidak pernah melakukan apapun, dia berjalan tenang menuju bangkunya.

Youngra yang saat itu sedang membaca buku dengan dagu di atas meja, segera menyembunyikan pensil itu dan meraih kotak susu tersebut. Rupanya, ada secarik kertas yang tertempel di badan kotak susu itu.

Bodoh. Mereka itu hanya ingin menjebakmu.

Youngra menggenggam erat-erat kertas itu lalu memandang lurus pada punggung Suho. Meskipun kata-kata yang tertulis di secarik kertas ini terdengar sangat menyakitkan, tapi entah kenapa.. Youngra bisa merasakan kepedulian yang sangat tinggi dari kalimat tersebut.

Gadis itu mengeluarkan sebuah pensil yang masih baru yang tadi dia sembunyikan di laci. Pensil ini benar-benar baru, merek nya pun merek mahal. Benda ini sebenarnya sangat sepele tapi begitu berguna di saat-saat seperti ini. Tanpa sadar, dia tersenyum.

**

Seminggu berlalu dengan cepat, ujian kenaikan kelas telah berakhir. Para siswa tinggal menunggu hasilnya tiga hari nanti di ruang utama masing-masing lantai. Kini, ada acara besar yang harus diikuti semua siswa. Acara itu tak lain adalah pelepasan jabatan presiden school sebelumnya dan pemilihan presiden school yang baru.

Calon president school hanya ada dua orang, mereka tak lain adalah Zhang Yixing dan Kim Joonmyeon. Siapa yang unggul, dialah yang akan menjadi president school, sementara yang kalah akan menjadi wakil president school.

Kedua kandidat ini akan dipilih melalui pemilihan suara. Pemilihan ini berlangsung sejak pukul sembilan hingga sebelas. Semua siswa dari kelas 1 hingga kelas 3, akan bergiliran memilih di gedung pertemuan, tak terkecuali Youngra.

Gadis itu memasukkan kertasnya ke dalam kotak. Ekspresinya tidak seperti siswa lain. Dia terlihat sangat cemas dan gelisah. Entah apa yang ada di pikirannya. Sepertinya dia sedang berharap kalau pilihannya itu tepat.

Selama pemilihan berlangsung, Suho entah pergi ke mana. Batang hidungnya tidak tampak di gedung pertemuan. Dia membiarkan Lay berdiri sendirian di panggung gedung pertemuan.

“Suho-sshi?”

Suho langsung menoleh. Dia mendapati Youngra yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu seperti baru saja melihat hantu, wajahnya nampak sangat terkejut.

“Oh kau,” gumam Suho singkat. Tumben, dia tidak berbicara selain itu pada Youngra. Bukankah Suho paling jago soal berbicara kasar?

Takut-takut, Youngra tetap memberanikan diri mendekat. Mendadak saja dia ingin dekat pada Suho. Ekspresi Suho tidak seperti biasa. Dia ingin sekali tahu apa yang sedang ada di pikiran lelaki itu.

“Wae geurae?”

“Hm? Nope.”

Youngra ikut-ikutan terdiam. Baru kali ini Suho mau merespon ucapannya. Biasanya, lelaki itu akan menyela ucapannya dulu. Jelas sekali, kalau ada sesuatu yang tidak beres.

“Apa acaranya sudah selesai?” tanya Suho tiba-tiba.

“A-aku tidak tahu. Sepertinya sedang ada penghitungan suara.”

“Oh.. kuharap hasilnya cukup memuaskan,” balas Suho datar.

Youngra menoleh ke samping, memperhatikan wajah Suho lamat-lamat. Dia baru menyadari, Suho memiliki pahatan wajah seperti seorang pangeran. Bukan, bukan pangeran-pangeran Jinkook. Tapi pangeran sungguhan. Kulitnya terlalu putih dan mulus untuk ukuran laki-laki, hidungnya mancung bak pahatan dan matanya begitu bening seperti almond.

“Ng… Young..”

“N-ne?”

Suho mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya lalu dia berikan pada Youngra. “Aku masuk dulu, eoh.”

Belum sempat Youngra menyela, Suho sudah lebih dulu berlari meninggalkannya. Kini, dia hanya sendirian di pekarangan belakang sekolah itu. punggung Suho menghilang dengan cepat. Youngra sampai tidak yakin kalau dia baru saja melihat Suho.

Sekarang, ada apa di secarik kertas ini? Apakah mungkin Suho terdiam seperti tadi hanya gara-gara kertas ini? Memang apa isinya? Suho selalu sukses membuat Youngra bertanya-tanya dalam hati.

Mungkin isinya sama seperti kertas yang dia dapatkan waktu hari pertama ujian. Ya, itu bisa saja terjadi. Suho adalah orang yang sulit ditebak dan gelagatnya selalu aneh kalau sedang menyembunyikan sesuatu.

Youngra mendadak berdebar. Kalau memang isinya mirip dengan kertas waktu itu, apa jangan-jangan Suho…

Youngra menggeleng cepat. Tidak. Suho tidak menaruh perhatian khusus padanya. mungkin lelaki itu iba dan secara diam-diam melakukan itu. lagi pula, siapa sih laki-laki yang tidak malu saat semua orang tahu kalau dirinya menaruh perhatian pada gadis gendut?

Youngra menghela napas. Baiklah, apapun yang Suho pikirkan, Youngra pasti akan mengetahuinya dari secarik kertas ini.

1 detik…

2 detik…

3 detik…

Buk!

Youngra jatuh terduduk. Tanpa sadar dia juga menjatuhkan kertas tersebut.

Yaa, sepulang sekolah nanti, berkencanlah denganku

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s