Perfect One Pt.2


Author: Ohnajla (chosangmi15)

Genre: Romance, School life, friendship, general

Rating: Teen

Length: ???

Cast: Kim Joon Myeon a.k.a Suho EXO, Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO, Kwon Young Ra OC

.

Teaser | Pt. 1

“Yaa! kenapa kau pulang duluan? Bukannya sudah kubilang untuk tunggu?” teriaknya pada Youngra.

Dia berjalan sedikit tergesa mendekati gadis itu, kemudian menepis tangan si haksaeng SMA. dia memberi isyarat pada Youngra untuk mundur.

“Jangan menyentuh kekasihku lagi,” serunya lantang dengan berdiri menantang lelaki itu. dia sama sekali tidak gentar walau tubuhnya jauh lebih mungil dari si haksaeng.

“Hahaha, kekasih katamu? Ya ampun nak.. romantic sekali dirimu. Si pendek dan si gendut, kalian sangat serasi,” ucap si rambut merah seraya mengusap-usap rambut Suho.

Tiba-tiba Suho menepisnya lalu menendang kaki haksaeng itu sekuat tenaga.

“Akh!”

“Sialan dia!”

Tanpa aba-aba, kedua teman haksaeng itu langsung menyerang Suho bersamaan. Suho yang sudah terlatih, bisa dengan cepat menangkis dan balik menyerang. Akan tetapi, 3 lawan satu tetaplah tidak seimbang. Tubuh Suho terlalu kecil dan staminanya belum sekuat tiga haksaeng itu. di akhir, dia yang sudah kelelahan, mendapat serangan penuh dari 3 orang itu.

“Geumanhae-yo!” pekik Youngra sembari membawa sebuah kayu untuk menghalau haksaeng-haksaeng itu. ketika dia mengayunkan benda tersebut, salah seorang haksaeng bisa dengan mudah menangkapnya lalu merebutnya.

“Dasar gadis lemah! Sana temani pacarmu!” haksaeng itu menarik rambut Youngra lalu mendorongnya hingga terjatuh di atas Suho yang sudah tidak lagi berdaya.

“Ck! Ini masih belum selesai, pendek. Jangan harap hidupmu akan tenang setelah ini.”

Haksaeng berambut merah mowhak itu mengomando kawanannya untuk pergi. Sepeninggal mereka, Youngra segera membantu Suho untuk duduk. Dia menyandarkan punggung Suho di dinding. Setelah itu dia mengambil kotak P3K dari dalam tas dan mulai memberikan pertolongan pertama.

“Bertahanlah, eoh. ini tidak akan sakit,” ucap Youngra ketika mengoleskan obat merah ke luka-luka di wajah Suho.

“Sssh..”

“Bertahanlah, sebentar.”

Lima menit kemudian, Youngra menempelkan plester di titik luka itu. Tiap kali melakukannya, dia selalu bergumam agar Suho tetap bertahan.

“Tolong tas-ku,” pinta Suho sambil menunjuk tempat di mana dia menjatuhkan tasnya.

“Ah.. kidaryeo,” Youngra buru-buru bangkit dan segera mengambil tas itu. sekembalinya, dia meletakkan tas itu di sebelah pemiliknya.

“Gwaenchanh-ie?”

Youngra menoleh. “Ne?”

“Gwaenchanheuseyo?” ulang Suho lagi.

“A-ah.. ne, naneun gwaenchanha.”

Suho tersenyum dengan mata terpejam. Dia tidak sadar kalau Youngra tertegun melihatnya. “Mulai sekarang, jangan lagi pulang malam sendirian. Arraseo?”

“A-arra-yo..”

“Ppali, pulanglah.”

“Ba-bagaimana denganmu?” tanya Youngra ragu-ragu.

“Jangan khawatirkan aku. Aku bisa pulang sendiri. Cepatlah,” ucap Suho seraya mengusir Youngra melalui gerakan tangannya.

“Keu-keurae..”

Youngra buru-buru membereskan kotak obatnya. Dia segera bangkit dengan mencangklong tas. Sebelum pergi, dia memandang Suho untuk terakhir kalinya.

“Tunggu apa lagi? Ppali-wa!”

“Ne! annyeong,” Youngra membungkuk 90 derajat penuh lalu segera berlari meninggalkan tempat itu.

Suho masih dalam keadaan terpejam ketika Youngra belum benar-benar pergi dari sana. Dan begitu Youngra sudah jauh dari tempat itu, Suho perlahan membuka matanya.

Apa yang barusan kulakukan? Berkorban untuk gadis gendut itu?

**

Esoknya di sekolah, luka-luka di wajah Suho langsung menjadi sorotan public. Dia begitu tiba di sekolah, langsung diserbu oleh para fansnya, yang mana kebanyakan dari mereka adalah siswa kelas lain dan kakak kelas bergender perempuan.

“Suho-ya? neon gwaenchanha? Kenapa wajahmu begitu?”

“Apakah kau habis jatuh? Kecelakaan?”

“Atau kau baru saja berkelahi?”

“Katakan pada kami ada apa?”

Di situasi begini Suho mulai menjadi orang bingung. Antara menjawab tidak, mendorong tidak, dia takutnya malah membuat para gadis ini murka.

“Aku baik-baik saja!” ketusnya akhirnya. Dia berusaha menerobos kerumunan, tapi sayangnya makin lama kerumunan itu makin meluas.

Begini bagaimana aku bisa baik-baik saja?

“Hey! Menyingkirlah! Pangeran datang!” entah siapa itu, seorang siswa berteriak sesuatu yang secara tak langsung menyelamatkan nyawa Suho.

Dari lobi sekolah, muncul dua lelaki tampan yang disebut-sebut sebagai pangeran. Siapa lagi mereka kalau bukan Choi Minho dan Kim Myungsoo. Spontan kerumunan yang mirip semut berebut gula ini, bergeser ke tempat di mana dua ‘pangeran’ itu datang. Kesempatan ini langsung digunakan Suho untuk segera berlari ke kelas.

BRUK!

Karena terlalu tergesa-gesa, dia sampai tidak melihat jalan. Dia menabrak seseorang. Keduanya tidak terjatuh, hanya saja Suho bisa mundur beberapa langkah. Dia meringis kecil saat lengan atasnya disinggung.

“Mianhae..”

Suara ini..

Suho perlahan mengangkat kepala. Sontak matanya melebar begitu melihat orang yang ditabraknya itu adalah si gendut Kwon Youngra. Mungkin karena tak percaya, dia langsung mengangkat kepala lebih tinggi untuk melihat papan nama ruangan.

1-5 class

Dia menelan salivanya diam-diam.

“Ada apa sih ramai-ramai?”

Seseorang muncul dari balik punggung Youngra. Itu adalah Lay. Dia sepertinya baru saja bangun tidur. Sama seperti Suho, dia terkejut mendapati Suho ada di depan kelasnya dengan wajah begitu.

“Yaa, kau Joonmyeon kan? Wajahmu?”

Suho menepis tangan Lay yang akan menyentuh wajahnya. “Bukan urusanmu.”

Hanjang kelas 1-1 itu buru-buru pergi. Dia terlalu malas mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Akan lebih baik kalau waktu seperti ini digunakan untuk mereview materi-materi ujian. Akibat perkelahian tak seimbang kemarin, dia jadi tidak bisa meluangkan waktu untuk belajar. Pipinya terasa nyeri dan lengan atasnya terluka cukup parah. Beruntung kemarin orang tuanya tidak berada di rumah. Dia selamat dari wejangan eksklusif dengan mereka.

“Hanjang, wajahmu..”

“Diamlah!” ketus Suho ketika Chorong menghadangnya di pintu masuk. masa bodoh, dia mendorong gadis itu untuk menyingkir dari jalannya.

“Cih.. yaa! apa orang tuamu tidak pernah mendidikmu untuk menghormati perempuan?! Dasar sombong!”

Suho tidak menyahut apapun karena kedua telinganya sudah disumbat dengan earphone.

**

Seminggu akhirnya berlalu dengan cepat. ujian semester telah selesai. Hari ini, adalah pengumuman siapakah juara parallel tahun ini.

Tepat pukul 8 pagi, semua siswa berkumpul di ruangan utama tiap-tiap lantai. Untuk siswa junior atau kelas 1, berkumpul di ruangan utama lantai 1. Untuk siswa kelas 2 di lantai 2, sementara kelas 3 di lantai tiga. Pengumuman ini selalu dibacakan sendiri oleh para petinggi sekolah. Sebut saja mereka sebagai Dewan Kesiswaan. Dewan Kesiswaan ini terdiri dari 12 orang, dimana mereka merupakan lulusan terbaik dari SMP ini yang berprofesi sebagai pengajar.

Di ruang utama lantai 1, semua siswa kelas 1 sudah berkumpul. 300 siswa dari 10 kelas, di mana satu diantaranya adalah Suho dan Lay.

“Wah.. kita dapat tempat duduk berdekatan, Myeon-sshi,” ucap Lay begitu dia duduk di sebelah Suho. Wajahnya ceria seperti biasa, berbanding terbalik dengan ekspresi Suho yang begitu tegang.

“Itu bukan kabar baik,” ketus Suho sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Lay tertawa kecil. “Ayolah.. barisan depan itu tentu saja barisan para ketua kelas. Tahun depan dan tahun depannya lagi, kalau kita tetap menjadi hanjang, kita akan terus duduk berdekatan seperti ini.”

“Apakah penata kursinya tidak bisa berhitung? Sejak kapan setelah angka 1 itu 5?”

Lay berpikir sebentar, sebelum nyengir. “Iya ya, kau benar.”

Empat orang Dewan Kesiswaan akhirnya tiba. Keempat-empatnya membawa map berwarna putih dan pakaian mereka sama-sama seperti pakaian wisuda. Wajah keempatnya tidak begitu tua, mungkin usia mereka masih berkisar antara 30-35an. Bahkan salah satu dari mereka berwajah baby face yang mana sempat membuat Suho salah paham kalau orang itu masih berstatus siswa SMA.

Oh.. jadi ini Dewan Kesiswaan. Apanya yang keren sih?

Suasana ruangan langsung sepi senyap. Ketika seseorang bergerak sedikit saja, maka gesekan pakaiannya akan terdengar ke setiap penjuru ruangan. Situasi ini sangat mencekam bagaikan hidup dalam gua di musim dingin. Suho sempat menoleh ke kanan kiri untuk memastikan bahwa semua orang di tempat ini tidak mati serentak.

“Tahun ini, perolehan point sangat mengecewakan!”

Suho spontan diam membeku seperti yang lain.

“Dari 300 siswa, hanya tiga siswa yang berhasil menembus angka rata-rata.”

Suho berkedip-kedip penuh harap. Semoga aku di antara tiga siswa itu.

“Untuk itu kami putuskan, setelah ini, akan diadakan kelas perbandingan!”

Di setiap penjuru, yang Suho dengar adalah desahan serentak. Suho rasa, sepertinya hanya dia yang tidak tahu apa-apa di sini.

“Tiga siswa dengan nilai di atas rata-rata, berhak memasuki kelas Excellent. Sedangkan siswa sisanya, bersenang-senanglah di kelas pemantapan!”

Lagi-lagi terdengar desahan. Suho menoleh ke kanan kiri untuk mendapatkan jawaban, tapi yang ada, dia justru makin tegang.

“Baiklah! inilah tiga siswa peraih juara parallel tahun ini. Siswa pertama…”

**

Suho memasukkan nasi dalam mulut tanpa henti. Dia akan berhenti sendiri begitu ada nasi yang berhasil membuatnya tersedak. Dia akan ribut mencari minum dan pada akhirnya, seseorang yang memberikan minum itu.

Itulah kebiasaan Suho saat merasa kesal, marah atau sedih.

“Kenapa tidak dihabiskan?”

Suho menggeleng cepat dan kembali melakukan kegiatan itu lagi –memasukkan nasi ke dalam mulut tanpa henti-. Dia sama sekali tidak memedulikan orang di sampingnya atau di depannya. Di mana kedua orang itu adalah Lay dan Youngra Kwon.

Sialan! Mimpi apa aku kemarin? Kenapa juga aku harus sekelas dengan mereka? benar-benar tidak masuk akal, satu kelas hanya tiga siswa? Mereka pikir aku membayar SPP setiap bulan hanya untuk dapat kelas privat dengan mereka? cih! Awas saja nanti, aku akan melaporkan tindakan sewenang-wenang ini pada pihak berwajib! Tunggu saja kau-UHUK!

Suho cepat-cepat meraih botol minuman dari tangan Lay. Dia tidak peduli kalau Lay akan meminum air dari dalam botol itu.

Begitu habis, tiba-tiba saja dia meremas botol itu hingga remuk, kemudian di lemparnya ke tempat sampah.

“Aku selesai!” serunya dengan tiba-tiba bangkit dan melangkah menuju konter untuk mengembalikan wadah makan. Tanpa ada minat untuk menoleh ke belakang sekadar mengucapkan ‘sampai bertemu nanti’, dia begitu saja nyelonong pergi.

“Sepertinya dia lebih suka nasi dari pada telur,” ucap Lay tiba-tiba sembari menoleh pada Youngra yang duduk di depannya.

Youngra menanggapinya dengan senyum tipis.

**

Suho adalah tipikal orang yang berlebihan. awalnya dia rasa, berada satu kelas dengan dua orang itu akan sangat mengganggu privasinya. Nyatanya, tidak juga. Youngra dan Lay justru asyik dengan dunia mereka sendiri. Keduanya akan mendekat pada Suho hanya di saat jam makan siang dan olahraga. Interaksi semacam itu sepertinya sudah lebih dari cukup.

Satu kelas dihuni 3 siswa itu sangat aneh, apalagi jika salah satu atau salah dua absen. Seperti hari ini, Lay absen dengan keterangan sakit. Itu artinya, kelas akan berjalan hanya dengan dua orang siswa.

“Suho-sshi, bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita-”

“Jam lima aku ada les bahasa inggris. Jam delapan aku harus latihan renang. Jam sepuluh aku harus mengikuti bimbingan belajar,” sela Suho tanpa sedikit pun menoleh pada orang yang diajaknya bicara.

Youngra terdiam sebentar. “Ah… begitu.”

Suasana kelas kembali hening. Suho sibuk menyelesaikan soal-soal di buku diktat, sedangkan Youngra masih memikirkan ucapan Suho barusan.

“Yaa.”

Youngra reflek menoleh. “Ne?”

Suho meletakkan pensil di bagian tengah buku lalu menutup buku tersebut. Dia memutar posisi duduknya hingga berhadapan dengan gadis itu. “Di mana rumahnya?”

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s