I Hate You Oh Se Hoon!


i hate you xx

Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : romance, school life, family, brothership

Length : One Shoot

Rating : General

Cast : Oh Se Hun (EXO), Oh Se Na (OC), Byun Baek Hyun (EXO/cameo)

.

.

nb : maap kalo ceritanya kurang gereget -_-

.

Hari ini Sena kedatangan orang special di rumahnya. Ternyata orang itu adalah anak pamannya bernama Oh Se Hun. Oleh pamannya, Sehun dititipkan ke sana karena ibu Sehun baru saja meninggal dunia. Sesuai tujuan utama, Sehun akan disekolahkan di kota ini hingga paman Sehun mendapat pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri.

Sena satu-satunya orang di rumah ini yang tidak mengharapkan kehadiran Sehun.

“Sena, perkenalkan dirimu,” ucap eomma yang membuat Sena membelalak.

“Eomma kan baru saja mengenalkanku. Kenapa aku harus memperkenalkan diri?”

Eomma yang kesal langsung menjewer telinga anak tunggalnya tersebut. “Kamu ini bicara apa? Cepat perkenalkan diri pada oppamu.”

“Oppa? Eomma, dia bahkan jauh lebih pendek dariku. Harusnya dia memanggilku nuna.”

“Dia lahir lebih dulu darimu, babo-ya.”

Sena mendengus sambil melipat kedua lengan di depan dada. Di saat bertemu tatap dengan Sehun, dia sempat memberikan death glare yang hanya dibalas dengan tatapan datar.

“Sepertinya Sena tidak suka pada Sehun,” ucap samchoon-nya sambil tersenyum.

“Aniyo hyung. Sena hanya perlu beradaptasi pada orang baru. Dia ini anak tunggal seperti Sehun, jadi kurang bisa bersahabat dengan orang baru,” hibur appa.

Samchoon mengangguk maklum. “Sehun juga terkadang seperti itu.”

Sena kesal dirinya disama-samakan dengan Sehun.

“Aku yakin nantinya mereka menjadi akrab,” balas eomma dengan penuh keyakinan.

Sena hanya bisa menghela napas.

**

Hari-hari Sena tidak normal lagi sejak kedatangan Sehun. Dia tidak lagi menjadi penguasa lantai 2 karena harus berbagi dengan Sehun. Ruang yang semula menjadi tempat bermainnya, kini berubah menjadi kamar Sehun. Ruang belajar yang semula hanya diisi satu meja, kini malah berhadapan dengan meja lain. Yang pasti, Sena tidak bebas lagi.

“Eomma!! Barbie Sena di mana?!” teriak Sena dari lantai 2. Dia sedang mengobrak-abrik isi laci meja belajarnya mencari boneka plastic dengan rambut pirangnya.

Sehun sedang duduk di hadapannya, sibuk menggambar dan tidak menggubris teriakan gadis tersebut.

“Eomma!!”

“Ada apa?” tanya eomma yang baru datang dengan suara lembut.

“Barbie Sena mana?” Sena masih sibuk mengacak laci mejanya. Eomma mendekat dan membantu Sena mencari Barbie tersebut.

“Sena terakhir taruhnya di mana?”

“Sena selalu taruh di laci.”

“Sehun, kamu tahu di mana Barbie Sena?”

Sehun yang diajak bicara akhirnya berpaling dari buku gambarnya. “Boneka yang rambutnya pirang itu, eommeoni?”

Sena mengangguk semangat. “Iya itu Barbie ku. Ah! atau jangan-jangan kamu yang ngambil. Ngaku!”

Eomma mencubit pipi putrinya hingga gadis kecil itu menjerit kesakitan. “Jangan suka menuduh. Apalagi menuduh oppamu.”

“Sehun, kamu tahu, nak?” tanya eomma pada Sehun dengan lembut.

“Tadi Sehun lihat ada di keranjang baju,” ucap Sehun tenang.

“Kok bisa di sana sih?” rutuk Sena sambil berkacak pinggang.

Eomma beralih memandang putrinya. “Jangan asal menuduh. Mungkin kamu lupa kalau naruhnya di sana. Minta maaf ke Sehun, ppali.”

“Kenapa Sena harus minta maaf ke dia?!” Sena menghentak-hentakkan kakinya kesal.

“Karena kamu sudah asal menuduh dia.”

Sena menatap Sehun dengan penuh amarah.

“Sena yakin, dia yang naruh Barbie Sena di sana,” gadis berkucir 2 itu langsung berlari meninggalkan ruangan.

“Sena!!”

Eomma menghela napas. Beliau memalingkan pandangan pada Sehun, tersenyum. “Maafkan Sena ya?”

Sehun hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

**

Tanggal 1 April, adalah hari di mana Sehun masuk sekolah. Dia ditempatkan di sekolah yang sama dengan Sena yaitu Daejung Elementary School.  Tidak hanya sekolah yang sama, kelas pun juga sama. Bahkan mereka duduk sebangku karena sejak awal tahun kemarin Sena duduk seorang diri. Mereka berada di kelas 5-1.

Sena melirik Sehun kesal. “Yaa! kenapa kau harus duduk di sebelahku, sih? Bosan sekali bertemu denganmu lagi.”

Sehun menoleh. Sena tidak salah lihat kalau Sehun sedang menyeringai. “Wae? Kau benar-benar tidak suka padaku?”

Sena butuh waktu beberapa menit untuk beradaptasi dengan sifat Sehun yang tiba-tiba begini. “Ye! Aku memang tidak suka padamu. Sejak awal melihatmu bahkan.”

Sehun tersenyum miring lalu menoleh ke depan sesaat. “Karena itulah aku meminta seonsaengnim menempatkanku di sini.”

Sena membelalak. “Yaa! neo!”

“Mwo? Bersikaplah baik pada oppa mu, arra?”

Sena mengatupkan bibirnya rapat-rapat lalu beberapa saat kemudian dia bersikap layaknya orang frustasi. Gadis itu sama sekali tidak peduli dengan pandangan teman-teman satu kelasnya.

**

Istirahat sekolah, Sena makan sendirian di sebuah meja. Bukan suatu keanehan lagi melihat Sena kemana-mana sendiri. Gadis itu memang tidak punya teman dan sama sekali tidak ingin punya teman. Dia menyukai ketenangan dan kesendirian, karena baginya itu jauh lebih menyenangkan dari pada berkelompok.

Di lain sisi, Sehun yang baru saja mendapat jatah makannya, kebingungan mencari tempat duduk. Dia belum mengenal banyak anak jadi masih canggung untuk bergabung dengan yang lain. Dia mengedarkan pandangan, mencari tempat yang sekiranya masih kosong. Namun tidak satupun ditemukan karena semua bangku telah terisi. Alhasil dia harus mengalah dengan rasa canggungnya. Ada beberapa meja yang masih menyisakan kursi kosong. Yaitu di sebelah si gembul, di depan si kurus, di depan si anak ingusan dan di hadapan Sena.

Dia tersenyum miring melihat gadis berkucir dua itu sedang makan sambil melamun. Dengan mantap, dia melangkahkan kaki ke sana. Akan tetapi di tengah perjalanan, dia menabrak seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berdiri. Minuman yang ada di nampan Sehun, tumpah ke seragam anak itu.

“Ige mwoya!!” pekik anak tersebut yang langsung menggemparkan seisi kantin. Di name tag nya tertulis, Byun Baek Hyun.

Sehun bukannya menghindar justru bengong memandangi seragam anak itu yang menjadi basah.

“Yaa! neo!”

Sehun menggerakkan matanya untuk menatap anak berwajah imut itu. “Ne?”

“Aish! Kau lihat seragamku? Gara-gara kau dia jadi basah!”

Kalau Sehun tidak dalam mode shock, dia pasti sudah mengeluh sakit telinga. Suara Baekhyun selain nyaring, juga sangat cempreng.

Dahi Sehun berkerut. “Bukan aku yang membuatnya basah. Tapi minumannya.”

Baekhyun melongo tak percaya. “Yaa! tapi ini ulahmu! Minumanmu!”

“Oh..”

Baekhyun gemas melihat tingkah Sehun yang sok tidak berdosa.

“Keundae.. kalau bukan kau yang tiba-tiba berdiri, dia tidak akan mengotori seragammu. Jadi kesimpulannya, kau lah yang membuat seragammu menjadi basah,” Sehun bergaya seolah detektif dengan telunjuknya yang mengarah ke seragam Baekhyun.

“Oh benarkah?” gumam Baekhyun. Tapi detik berikutnya, “yaa! itu juga bukan salahku karena aku tidak tahu kau ada di belakangku!”

Sehun menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Lalu salah siapa? Aku juga tidak tahu kau berdiri.”

Wajah Baekhyun berubah menjadi kepiting rebus saking gemasnya dengan tingkah bloon Sehun. “Yang penting kau yang salah!”

“Mwo-ya? tentu saja kau!”

“Yang benar adalah kau!”

“Ani! Tapi kau!”

“Aish! Kubilang kau yang bersalah, cungkring!”

“Yaa! tentu saja kau, cempreng!”

“Dasar cungkring!”

“Dasar cempreng!”

Sena yang ada di sudut sana hanya bisa menggeleng pelan. Malu rasanya punya sepupu seperti Oh Se Hun. Sudah bloon, tidak mau kalah pula. Sena mempercepat makannya lalu pergi dari sana.

“Eomma harus tahu kalau dia tidak pantas dipanggil oppa, ih.”

**

Bel masuk berbunyi setelah tigapuluh menit waktu istirahat. Sena sudah ada di kelas sejak sepuluh menit lalu. Sekarang dia sedang mencoret-coret note kecilnya. Biasanya kalau dia sedang tidak ada kerjaan, dia akan memfungsikan note kecil itu sebagai ajang menulis. Di usia 11 tahun ini, bakatnya dalam menulis fiksi sudah terlihat. Hobinya ini masih terbilang baru, namun dia sudah bisa menghasilkan dua karya cerpen yang telah dipublikasikan di madding sekolah oleh gurunya.

Mungkin sekarang ini mood nya sedang buruk sehingga dia tidak memfungsikan note itu dengan baik.

Sehun datang bersama siswa lain begitu bel berhenti berbunyi. Kondisi Sehun benar-benar kotor dan berantakan. Bau tanah di seragamnya tercium hingga ke hidung Sena. Gadis itu reflek menoleh. Matanya membulat begitu tahu bagaimana kondisi Sehun.

“Yaa! ada apa denganmu?”

Sehun menoleh. Tidak hanya di seragam, wajahnya juga dipenuhi dengan tanah. “Tumben peduli.”

Sena merutuk dirinya sendiri. Benar, kenapa juga dia harus peduli pada orang yang dia benci? Namun karena sudah terlanjur menyebur, akhirnya dia menyelam juga.

“Ekhem. Ya aneh saja. Aku harus tahu alasannya kalau tidak mau dituduh yang aneh-aneh oleh eomma.”

Sehun malah memasang ekspresi jijik.

“Mwo?” tanya Sena gugup.

Sehun memalingkan pandangan. “Ani-yo. Lupakan.”

Sena mengerutkan kening bingung. Meski penasaran, dia tidak mau bertanya lebih lanjut. Rasa gengsinya jauh lebih tinggi dari rasa pedulinya.

“Oh? Sehun, lututmu berdarah,” seru seorang gadis yang duduk tidak jauh dari tempat Sehun. Suara gadis itu cukup keras sampai terdengar ke telinga Sena.

“Gwaenchanha,” balas Sehun datar.

“Yaa, kulitmu sampai terkelupas,” sambung seorang anak laki-laki yang duduk sebangku dengan gadis itu.

“Yaa Sena! bawalah Sehun ke ruang kesehatan. Kau ini bagaimana sih? Kembaranmu terluka parah.”

Sena melotot mendengar kata ‘kembaran’ yang diucapkan gadis yang duduk di depannya. “Yaa! dia bukan kembaranku.”

“Tapi nama kalian hampir sama. Oh Se Hun, Oh Se Na.”

“Namamu dan dia juga sama kan? Song Se Kyung dan Jo Se Kyung, tapi kalian tidak kembar, kan?”

“Tentu saja kami tidak kembar, nama marga kami berbeda.”

“Memang kembar itu dilihat dari nama marganya yang sama?” desis Sena.

“Apapun itu, cepat bawa Sehun ke ruang kesehatan,” sahut gadis yang pertama tadi. Gadis itu bahkan melebar-lebarkan matanya yang sipit untuk memaksa Sena.

“Aish! Kalian sekongkol hari ini?! Keurae. Oh Sehun, ttarawa,” Sena bangkit lalu melangkah meninggalkan kelas.

Sehun juga ikut bangkit. Dia berjalan dengan tertatih mengikuti langkah Sena yang terlalu cepat.

**

“Yaa, jangan pikir aku peduli padamu, eoh? kalau bukan karena Yein, aku tidak akan mau mengantarmu kemari,” ucap Sena sambil meneteskan obat merah ke sebuah kapas. Dia memberikan kapas itu pada Sehun.

“Oh, gadis tadi bernama Yein,” gumam Sehun sambil mengoles lukanya dengan obat merah. Lehernya menampakkan urat nadi saat menahan rasa perih di lututnya.

“Lengkapnya Jung Ye In. Wae? Kau tertarik padanya?” tanya Sena saat menyiapkan perban.

“Amado,” balas Sehun singkat.

Sena mendengus sebelum memberikan perban yang telah pasangi plester dan dilapisi kapas pada Sehun. “Namja cungkring sepertimu bukan tipenya.”

Sehun menempelkan perban itu di atas lukanya. “Jinjja? Lalu tipenya seperti apa?”

“Molla. Yaa! kenapa kau berbicara padaku? Ish.”

Sehun duduk sambil memandangi Sena yang kini sedang membereskan semua peralatan. “Barbiemu itu, sebenarnya aku yang menaruhnya di keranjang cucian.”

Sena langsung menoleh dengan bibir mengatup rapat. “Sudah kuduga itu kau.”

Sehun membuang pandangan. “Habisnya kau seperti orang gila kalau ada boneka jelek itu. kau mengganggu belajarku karena ocehanmu itu.”

“Harusnya kau pergi kalau aku mengganggumu. Lagipula itu ruanganku.”

“Itu ruanganku juga.”

“Tidak sebelum kau datang. Kau merebut segala yang kupunya. Lantai dua, ruang belajar, ruang bermainku, semua kau rebut. Kau menyebalkan!” Sena menghentakkan kakinya sebelum pergi dari sana.

“Eodi-e?” tanya Sehun ketika Sena akan membuka pintu.

“Bukan urusanmu, babo-ya.”

CKLEK!

BRAK!

Sehun mengerutkan kening heran. “Dia pemarah ternyata.”

Tak sengaja kedua matanya menemukan sebuah gelang yang terjatuh di dekat nakas. Gelang itu berwarna silver dengan gantungan-gantungan menyerupai kupu-kupu dan bola yang berisi. Sehun tidak yakin ini milik siapa, namun dia kemarin sempat melihat gelang ini di tangan Sena. Mungkin saja ini memang benar milik gadis judes itu.

Bibirnya melengkung sempurna. Dia membayangkan bagaimana paniknya ekspresi Sena begitu tahu gelangnya jatuh. Untuk itu, dia menyimpan gelang itu di saku celananya.

“Kira-kira kau akan sepanik apa, eoh?” batinnya.

**

Mereka berdua sampai di rumah pukul tiga sore lebih duapuluh menit. Suasana rumah masih terlihat sepi karena eomma dan appa Sena masih bekerja. Sehun terburu-buru pergi ke kamar karena dia ingin tidur. Sedangkan Sena, setelah meletakkan tas di kamar langsung pergi ke kamar mandi.

Ketika di kamar mandi, akan menyikat gigi, dia kesal mendapati sikat gigi Sehun di gelas sikatnya. Dia juga mendapati sabun cairnya menipis serta handuk yang diletakkan sembarangan. Ternyata tidak hanya lantai dua, ruang belajar dan ruang bermainnya yang direbut, tapi kamar mandinya juga.

“Oh jinjja!! Kapan dia pergi dari rumah ini?!!”

Sena meraih sebuah krayon yang ada di dekat gelas sikatnya kemudian mulai menuliskan sesuatu di kaca.

AKU BENCI PADAMU, OH SEHUN!

Sena tersenyum puas. Ia pun meraih sikat giginya, mengoleskan pasta dan mulai menyikat gigi. Setelah menuliskan itu, entah kenapa perasaannya menjadi ringan, seolah tidak ada apa-apa lagi di dalam hatinya.

**

Makan malam..

“Bagaimana sekolahmu hari ini, Sehun?” tanya eomma ketika duduk setelah membagikan nasi.

Sehun tersenyum. “Menyenangkan, eommeoni.”

Eomma ikut tersenyum. “Baguslah kalau kau suka. Anak sepertimu pasti cepat punya teman.”

Sena mencibir ucapan eomma. “Eomma, dia bahkan bertengkar dengan Baekhyun di hari pertamanya. Dia tidak akan cepat dapat teman, tapi justru cepat dapat musuh.”

Eomma mencubit pipi Sena hingga Sena meringis. “Tidak boleh bicara begitu. Hormati oppa-mu, Sena.”

“Ish eomma!! Pipiku bisa-bisa melar kalau eomma terus-terusan mencubitnya.”

“Habisnya kamu banyak bicara. Cepat makan.”

“Eomma, eomma harus tahu kalau tadi lututnya berdarah. Chakkaman, bukan aku yang membuat lututnya berdarah. Tadi kutanya dia hanya diam saja.”

“Berdarah kenapa, Sehun?” tanya appa.

Sehun menggeleng sambil memamerkan senyum tanpa dosanya. “Bukan apa-apa samchoon. Hanya jatuh.”

“Benar bertengkar dengan Baekhyun, Sehun?” kali ini eomma yang bertanya.

Sehun juga menggeleng. “Kami hanya bercanda.”

Kini, eomma dan appa menatap Sena lurus-lurus. Sena yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah. “Eomma appa kenapa menatapku seperti itu? dia bohong kalau hanya bercanda dengan Baekhyun.”

Tanpa dua orang dewasa itu tahu, Sehun menjulurkan ujung lidahnya yang diikuti senyum miring. Sena yang tahu itu, melotot.

Appa kembali melanjutkan makannya. Sedangkan eomma, menghela napas sebelum mulai bicara.

“Kamu, tetap anak eomma dan appa yang paling cantik dan hebat. Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hati appa dan eomma. Untuk itu, terimalah kehadiran Sehun dengan lapang dada. Dia ini anak dari Junshik samchoon. Kakak sepupumu. Bersikaplah baik layaknya pada saudara sendiri.”

“Tapi Sena tidak suka dia, eomma!! Dia yang meletakkan Barbie Sena di keranjang baju. Dia mengakuinya di sekolah tadi.”

Eomma tetap tidak peduli. “Jangan suka mengkambinghitamkan naiga sachon-mu. Dia keluargamu juga, arrachi?”

Sena mendengus. Dia memandang Sehun marah yang justru hanya dibalas dengan lirikan satu detik.

Oh Se Hun benar-benar menyebalkan!

**

Sepuluh hari telah dilalui Sena dengan kehadiran Oh Sehun. Dia mulai terbiasa dengan sifat Sehun yang berbeda saat di rumah dan di sekolah. Dia juga mulai terbiasa melihat Sehun yang dijadikan korban bully-an tetap oleh Baekhyun dkk. Sena malas menolong Sehun karena dia benci anak laki-laki itu. Dia pun malas untuk berurusan dengan si cerewet Baekhyun. Alhasil, dia hanya menjadi penonton ketika Sehun sedang dibully oleh Baekhyun.

“Sudah kubilang yang rasa strawberry, kenapa kau tetap memberiku yang cokelat? Aish!”

BUG!

Sehun hanya meringis kecil ketika kepalanya dipukul dengan sebuah buku. Di sisi lain, Sena hanya menggeleng kasihan.

“Memang adanya yang cokelat, lalu aku harus bagaimana?” akhirnya Sehun berbicara untuk mengungkapkan pembelaannya. Dia agak kesulitan untuk berbicara karena gusinya ada yang berdarah.

“Bodoh! kau kan bisa beli di tempat lain. Kau pikir minuman seperti ini hanya dijual di satu tempat?”

BUG!

Kali ini Sehun terjatuh.

Spontan Sena mendekat dan membantu Sehun duduk. “Yaa, gwaenchanha?”

Sehun masih memegangi kepalanya yang terasa pusing. “Eoh, gwaenchanha.”

“Yaa gadis kucir dua, menyingkirlah kalau tidak ingin kupukul seperti dia,” ucap Baekhyun yang sudah bersiap dengan buku paketnya.

Sena mengangkat kepalanya dengan bibir terkatup rapat. “Ini sudah keterlaluan, Baekhyun. Dia bisa pingsan kalau terus-terusan kau pukul.”

Bukannya sadar diri Baekhyun justru mengangkat buku tebal itu tinggi-tinggi. “Mau menggantikannya?”

Sena mendelik horror. Detik berikutnya buku itu melayang dan Sena spontan memejamkan mata. Di detik-detik sebelum suara tumbukan terdengar, Sena merasakan kehangatan yang membalut tubuhnya.

BUG!

“Byun Baek Hyun!!” seru seonsaengnim marah.

Sena perlahan membuka mata. Dia tercengang melihat seragam kucel yang dikenalnya berada tepat di hadapannya. Belum sempat dia melihat siapa orang yang tengah merengkuhnya ini, seragam itu perlahan menjauh dan Sehun pun terkapar tidak berdaya di hadapannya.

Apakah dia menyelamatkanku?

Apakah dia yang memelukku?

Apakah dia yang kena pukulannya?

Apakah dia adalah Sehun?

Oh Se Hun? Naiga sachon?

Oh Sehun?

Sehun..

“Oh Sehun!!!”

**

Sena adalah satu-satunya yang terus menangis sejak Sehun dibawa ke rumah sakit. Genap 24 jam Sehun tak sadarkan diri sejak pukul 10 pagi tanggal 10 April. Sekarang, hari telah berganti tanggal 11 April.

Sehun telah dipindahkan ke kamar rawat. Dengan begini Sena bebas berlama-lama di sana, menangisi Oh Sehun yang belum juga sadarkan diri.

“Sehun.. Sehun-ah.. cepatlah bangun..”

“Bodoh. Harusnya kau tidak melindungiku kemarin. Kalau aku yang kena pukulannya, aku yang tidur seperti ini, bukan kau.”

“Kenapa kau jahat sekali, eoh? kau sudah memindahkan barbieku, berbohong pada eomma appa kalau kau hanya bercanda dengan Baekhyun, merebut segala yang kupunya, dan sekarang.. kau malah tidur di sini. Oh Sehun jahat.”

“Yaa, mau sampai kapan kau tidur seperti ini? Badanmu makin kurus, bodoh. Cepat bangun, eomma memasakkan bulgogi untukmu. Kalau kau tidak bangun, eomma akan memaksaku untuk menghabiskan itu sendirian.”

Sena tidak berhenti mengoceh selama 4 jam. Dia benar-benar berhenti ketika tertidur.

Tepat pukul 4 sore, tanpa ada yang tahu, jari-jari tangan Sehun mulai bergerak. Gerakannya belum sempurna dan masih terbilang kaku. Menit-menit berikutnya, tangannya mulai bergerak. Gerakannya tidak beraturan dan berulang kali mengenai kepala Sena.

“Andwae! Andwae! Jangan pukul sachon-ku! Andwae! Jebal!”

Sehun yang sudah membuka mata, menatap puncak kepala Sena bingung.

“Andwaeeee!!” setelah terjadi hentakkan, Sena tiba-tiba membuka mata. Napasnya terburu, dahinya penuh dengan bulir-bulir keringat. Dia berusaha mengatur napasnya dulu sebelum merasakan sesuatu yang mengenai kepalanya.

Dia cukup hati-hati ketika mengangkat kepala, karena di saat itu juga, jantungnya serasa disinggung oleh benda tumpul.

“Sachon..”

“Ng.. Sena?”

Wajah Sena langsung sumringah dengan kepala mengangguk cepat. “Sachon kau sudah bangun?”

“Sena?”

Sena mengangguk. “Eoh. aku Sena.”

“Sena?”

Kini Sena mulai heran. Sejak tadi, tanpa henti Sehun terus menanyakan hal yang sama. Keheranannya itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba pintu terbuka dan suster masuk.

“Suster, Sehun sudah bangun,” adu Sena saat itu juga.

“Benarkah?” suster melangkah dengan cepat mendekati ranjang.

“Tapi dia jadi aneh, suster,” ucap Sena selanjutnya.

“Aneh bagaimana?” suster mulai mengatur letak bantal Sehun agar anak itu bisa duduk.

“Dia terus-terusan menanyakan kata yang sama.”

Tak lama kemudian dokter datang diikuti kedua orang tua Sena. Eomma lah yang paling antusias melihat Sehun yang sudah sadar.

“Sehun? Sehun baik-baik saja? Di bagian mana yang sakit, nak?” tanyanya dengan nada lembut khas seorang ibu.

“Eommeoni?”

“Ne. ini eommeoni.”

“Eommeoni?”

“Ne?”

“Eommeoni?”

“Ne, Sehun.”

“Sehun di mana?”

“Di rumah sakit.”

“Kenapa?”

“Sehun pingsan kemarin. Tapi sekarang Sehun sudah bangun, kok,” eomma tersenyum.

“Jadi benar dia mengalami gegar otak?” ucap appa pada dokter.

Dokter mengangguk. “Ne. tapi untungnya ini hanya gegar otak ringan.”

“Berapa lama penyembuhannya?”

“Karena dia masih anak-anak, penyembuhan penyakit ini cukup lama. tapi dia bisa mulai sekolah lagi minggu depan jika dia dirawat dengan baik.”

Rasanya Sena ingin menangis mendengar itu. Rasa bersalahnya makin besar.

**

Lima tahun kemudian..

Begitu mendengar shower di kamar mandi, Sena cepat-cepat masuk ke dalam kamar Sehun. Dia harus ekstra pelan-pelan kalau tidak ingin tertangkap basah. Misinya kali ini adalah mencari buku harian Sehun. Salah satu teman Sehun bilang, ada fotonya di salah satu halaman daily book Sehun. Sena benar-benar penasaran, apakah teman Sehun itu benar atau malah hanya menjebaknya?

“Aish, sebenarnya di mana sih?” gumamnya ketika mengobrak abrik isi laci meja Sehun.

Setiap penjuru dia cari bahkan sampai almari baju. Kesalnya, dia harus berurusan dengan barang-barang tidak penting yang berserakan. Kamar ini sudah seperti kapal pecah karena melangkah sedikit saja kaki sudah menyentuh sesuatu.

“Kapan dia akan membersihkan kamarnya? Oh jinjja..”

KLIK!

Tubuh Sena langsung tegang begitu mendengar pintu terkunci. Dia merasa kalau seseorang sedang mengawasinya dari belakang. Menebaknya saja takut apalagi membayangkannya. Sena tidak tahu harus bagaimana kalau yang mengawasinya itu adalah orang yang ada di pikirannya sekarang.

“Mau mencari apa? Tidak bertanya?”

Jantung Sena serasa meletus saat itu juga. Matilah kau Sena..

Suara gesekan terdengar mendekat. Sena mulai panic harus melakukan apa. Pikirannya menyuruhnya untuk berlari dari sana, namun tubuhnya malah diam kaku di sini, tepat di depan lemari Sehun yang terbuka.

Epidermis kulitnya serasa baru saja dikejutkan dengan listrik bertegangan 110 volt. Dia terkesiap ketika sebuah tangan besar sedang menjulur dari belakang tubuhnya untuk menutup pintu lemari. Dia lebih terkejut lagi ketika tubuhnya diputar sampai menghadap pemilik tangan itu.

“Kenapa ada di sini? Eommeonim, samchoon, sedang ada di Seoul sampai besok. Kau mau mencari apa, hm?”

Sena langsung membuang pandangan. “A-ani, aku tidak mencari apapun.”

Sehun tersenyum melihat wajah Sena yang merah padam. “Lalu?”

CTAR!

“Uwaaa!” reflek Sena memeluk erat tubuh Sehun, tidak peduli kalau Sehun masih bertelanjang dada.

Sehun tertawa ringan. “Baiklah, tidur di sini juga tidak apa-apa.”

“Aku takut petir. Aku takut kilat.”

PIP!

Listrik dengan tiba-tiba padam, diikuti dengan guyuran hujan sangat deras yang terdengar dari luar.

“Aku takut kegelapan. Aku takut hujan deras.”

Sehun tersenyum mendengar semua ketakutan Sena. gadis itu punya suatu kebiasaan unik. Dia akan mengatakan semua yang ditutupinya selama ini di saat merasa takut. Semacam latah.

“Arra, arra. Kalau kau terus memelukku seperti ini, bagaimana bisa aku mencari lampu daruratnya.”

Bukannya malah melepaskan, Sena justru mempererat pelukannya. “Jangan tinggalkan aku, aku takut..”

“Baiklah, dari pada kita berdiri seperti ini. Lebih baik kita duduk. Sekarang genggam saja tanganku.”

Sena beralih memeluk lengan Sehun. Melihat tingkahnya ini, Sehun hanya menggeleng gemas. “Yaa, bukan seperti ini maksudku.”

“Sudahlah. Cepat tuntun aku,” ucap Sena dengan mata terpejam.

“Baiklah, pelan-pelan, ye?”

“Hati-hati,” ucap Sena kontan.

Sehun harus ekstra hati-hati saat menuntun Sena ke tempat tidurnya. Tempat duduk yang tersedia untuk lebih dari satu orang hanya ranjangnya, jadi tanpa harus menunggu kesepakatan Sena, dia membawanya ke sana. Berulang kali dia menginjak barang-barangnya di lantai dan hampir saja tersandung. Untung Sena memeganginya dengan erat sehingga keseimbangannya bisa kembali dengan cepat.

Akhirnya setelah berjuang keras, mereka sudah duduk bersandar pada kepala ranjang.

“Jangan lakukan apapun padaku, arra?” peringat Sena dengan kedua mata yang masih terpejam.

Sehun tersenyum. Baginya, Sena saat ketakutan itu lucu. “Arra. Lagipula aku tidak tertarik padamu. Tapi, harusnya aku yang memperingatkanmu seperti itu. aku belum memakai kaosku.”

Kontan Sena membuka mata. Sialnya bertepatan dengan sambaran kilat.

“Sachon!!!”

Sehun tertawa. Dia mengelus puncak kepala Sena dan menciumnya. “Ini sudah malam. tidurlah.”

Sena menggeleng. “Bagaimana aku bisa tidur di saat seperti ini? Eh sachon, kau tidak kedinginan?”

“Sedikit. Wae?”

“Kau bisa mati kedinginan nantinya. Cepat pakai selimut.”

Sehun menggapai selimut yang tidak jauh darinya lalu membalut tubuhnya sekaligus tubuh Sena.

“Sachon, tidak adakah penerangan sementara? Kepalaku pusing terpejam seperti ini terus.”

Sehun membuka laci nakasnya untuk mengambil dua buah senter. Dia memiliki banyak senter yang tersebar di setiap rumah ini. Bilangnya untuk berjaga-jaga kalau tiba-tiba listrik padam, tapi sebenarnya dia bersikap seperti itu karena dampak gegar otak ringannya lima tahun lalu.

Sehun menghidupkan dua senter itu dan menyorotkannya ke dinding hingga ruangan terlihat lebih terang. “Sudah. Buka matamu.”

Perlahan Sena membuka mata. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar lalu menghela napas. “Ini lebih baik.”

Sehun menoleh. “Kau belum makan, sayang?”

Tanpa orang tua mereka sadari, mereka saling jatuh cinta. Perasaan itu tumbuh semenjak mereka pubertas usia 14 tahun. Namun hubungan ini baru berjalan enam bulan.

“Sudah. Ah oppa, jangan bersandar di situ,” Sena meraih bantal lain kemudian dia letakkan di punggung Sehun agar kepala Sehun tidak bersandar pada kepala ranjang yang keras.

“Gomawo,” balas Sehun sambil tersenyum.

Sejak lima tahun lalu, Sena mulai ekstra menjaga Sehun. Dia yang dulu masih terbilang kecil, sudah pintar merawat Sehun yang sedang mengalami masa-masa gegar otak. Dia yang mengatur letak tidur Sehun, menyiapkan obat anti nyeri serta makanan, bahkan mengingatkan Sehun setiap harinya untuk beristirahat yang cukup.

Kebiasaan itu dibawa hingga usia remajanya sekarang.

“Oppa, berhati-hatilah dengan kepalamu. Si cerewet Baekhyun itu sungguh keterlaluan.”

“Arraseo-yo. Ngomong-ngomong, di mana sekarang Baekhyun?”

Sena mengangkat bahunya. “Memang aku peduli dengan dia?”

“Aih, jangan seperti itu. Tidak baik membenci orang lain,” ucap Sehun sambil merapikan rambut Sena.

Sena mendengus. “Jangan terlalu baik pada orang sepertinya. Dia itu pantas dibenci karena sudah membuatmu begini. Ck, aku bahkan berniat melukai kepalanya juga.”

Sehun memeluk tubuh Sena erat. “Andwae, sayang. Jangan kotori dirimu dengan dosa seperti itu.”

Hangatnya pelukan Sehun terasa sama seperti saat Sehun melindunginya lima tahun lalu. Sena memejamkan mata untuk menikmatinya. “Kalau itu maumu, keurae, aku tidak akan melakukannya.”

“Itu baru Oh Sena yang kukenal.”

Sena tersenyum.

“Sena, ada hadiah untukmu,” ucap Sehun di saat menyudahi pelukannya.

“Hadiah? Hadiah apa?”

Sehun membuka laci nakasnya untuk mengambil sebuah kotak kecil. Dia berikan kotak itu pada Sena.

“Ini apa?”

“Buka saja.”

Perasaan Sena tak menentu ketika menyentuhnya, apalagi saat membukanya. Napasnya terdengar pendek-pendek saking gugupnya.

“Oh? Ini gelangku,” seru Sena sambil menoleh pada Sehun.

“Eoh, itu memang gelangmu.”

Sena mengambil gelang itu dan memperhatikannya lekat. “Kupikir ini hilang. Ah.. ternyata masih ada. Eomma bilang ini gelang yang ada di tanganku ketika aku masih bayi. Eomma bilang, aku akan menemukan siapa saudara kembarku jika memakai gelang ini.”

Sehun terdiam. “Oh.. jinjja-yo?”

Sena mengangguk. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Sehun. “Aku kan sudah pernah cerita kalau aku punya saudara kembar. Eomma bilang, dia namja dan memiliki nama yang hampir sama denganku.”

Sehun mengangguk kecil. Dia menarik Sena dalam pelukannya lagi. “Kau pasti akan bertemu dengannya.”

“Kuharap begitu,” balas Sena sambil tersenyum.

Sehun tertawa mendengarnya. Dia menjauhkan wajah Sena kemudian menangkupnya. “Aigoo… cantiknya.”

Sena tersenyum. Dia mengangkat tangan kanannya dan…

PLAK!

“Yaa!”

Sena tertawa puas. “Di balik pujianmu tersembunyi sesuatu yang mengerikan. No no no. Big no, arra!”

Sehun mendesis kesal. “Tingkat pedemu itu jauh lebih tinggi dari langit. Aku hanya memujimu. Wae? Tidak boleh kalau memuji sepupunya?”

“Ani.. bukan begitu.”

“Lalu?”

“Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa diantara kita, karena kita masih 16 tahun dan..”

CHUP!

Buru-buru Sehun mengalungkan lengannya di leher Sena. “Sudah malam. ayo tidur.”

“Sachon!!! Kau mau mati?! Yaa! kau mencuri first kiss ku!!”

“Itu first kiss ku juga,” balas Sehun.

“Aku tidak peduli. Kembalikan kesucian bibirku!”

Sehun menyeringai. “Sungguh? Kau mau aku mengembalikannya?”

Ekspresi Sena sudah merah padam. “Tidak tidak! tidak perlu!”

“Ey.. aku siap mengembalikannya.”

Sena melotot horror.

PLAK!

“Sudahlah, tidur sana.”

Meski kesal karena ditampar, Sehun akhirnya tersenyum juga. Dia mengelus rambut Sena yang kini bersandar padanya.

Sena, aku senang mendapatkan kesempatan seperti ini untuk mencintaimu. Tapi… aku tahu, kita tidak akan bisa bersama. Kenyataan yang sebenarnya, kita adalah saudara kembar non identik, yang diadopsi oleh dua keluarga berbeda. Aku takut mengatakan kebenaran ini padamu, karena pasti kau akan lebih membenciku dari sebelumnya. Mian, sejak awal melihatmu aku takut, takut kalau kita benar-benar jatuh cinta seperti ini. Tapi aku memilih egois. Aku benar-benar mencintaimu, Sena.

Sehun mengecup dahi Sena cukup lama sebelum terlelap.

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s