My Love From The Exoplanet #3_END


My Love From The Exoplanet

Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : fantasy, romance, school life, friendship, dark, marriage life, teen, war, action

Rating : Teen

Length : Series

Main Cast : Oh Se Hun (EXO), Yook Ha Na (OC)

Support cast : EXO member, BTS member, Yook Sung Jae (BTOB)

.

#1 #2

.

Hari esok, ketegangan kembali terasa. Seperti biasa, EXO datang bersama layaknya sebuah kelompok besar Hallyu Korea. Namun ada yang berbeda dari mereka.

Luhan dan D.O berjalan paling depan. Luhan merangkul leher D.O sambil tertawa bersama. Keduanya telihat lebih ceria dan dekat dibanding hari-hari kemarin.

Kai dan Tao terlihat seperti orang baru bangun tidur. Rambut mereka berantakan, mata mereka sulit terbuka sempurna, bahkan keduanya berjalan seperti mumi.

Suho dan Lay sibuk membicarakan tentang ilmu pengetahuan. Kali ini Suho terlihat memakai kacamata Harry Potter, rambutnya pun berbentuk seperti jamur, jadi kelihatannya seperti jenius papan atas.

Kris serta Xiumin sedang membahas olahraga. Sedangkan trio beagle line sedang bercanda riang sambil memukul satu sama lain.

Sementara Sehun, kini dia tidak lagi memakai topi. Rambut hitam menantang langitnya terlihat jelas. Dan di sebelahnya sudah pasti ada Hana yang kini mengurai rambut panjangnya.

Mereka berjalan memasuki kelas 2-1. Di depan kelas, mereka berpapasan dengan ketujuh BTS. Mereka saling pandang sebelum Luhan terdengar menyapa Taehyung.

“Oy Taehyung! Mereka teman-temanmu?” Luhan berjalan mendekat bersama D.O.

Taehyung mengangguk ragu. “Eoh. Mereka teman-temanku.”

“Apa dia bukan EXO?”

“Kenapa dia bertingkah seperti ini?”

“Apa yang telah dilakukan Taehyung?”

“Apakah Taehyung berbohong?”

Luhan tersenyum kemudian membungkuk 90 derajat diikuti D.O. “Annyeong. Kudengar kalian berempat adalah sunbae baru di sini. Wǒ de míngzì shì Lǔ Hàn.”

“Nae ireum-eun, Do Kyungsoo,” sambung D.O sambil tersenyum.

Mau tidak mau keempat BTS kelas 3 ikut membungkuk. Namun saat melihat Sehun dan Hana masuk, mereka berempat terdiam. Sedangkan sepasang kekasih itu tidak memedulikan mereka dan Hana terlihat sangat dingin hari ini.

Sehun dan Hana duduk di bangku mereka. Keempat member BTS kelas 3 itu bisa melihat Hana yang tersenyum ketika berbicara dengan Sehun. Entah kenapa mereka merasa tidak suka melihat pemandangan itu.

“Mereka berpura-pura tidak mengenal kami atau memang tidak kenal? Cih, lihat saja nanti. Kemesraan mereka tidak akan bertahan lama karena aku akan membunuh laki-laki itu.”

“Pantas dia adalah EXO versi wanita. Dia dan suaminya benar-benar mirip.”

“Melihat kami mereka berdua masih bisa berduaan seperti itu?”

Luhan tersenyum. “Kami masuk dulu, sunbae. Annyeong,” dia dan D.O membungkuk kemudian melangkah masuk.

“Bagaimana kalau kita menculik gadis itu?” bisik J-hope pada yang lain.

“Yaa, dia terus menempel pada Sehun. Itu sangat sulit untuk dilakukan,” sanggah Jungkook.

“Tapi aku punya taktik,” sahut Rapmon tiba-tiba.

“Taktik apa?” tanya Jimin penasaran.

“Kalian mendekatlah,” mereka pun mulai membentuk lingkaran untuk membicarakan taktik Rapmon agar tidak terdengar oleh yang lain. Mereka tidak tahu, kalau suara sekecil apapun bisa didengar Baekhyun.

Baekhyun menuliskan apa yang didengarnya di ponsel kemudian dia kirimkan sebagai sms ke semua ponsel EXO termasuk Hana.

Fr : Baekhyun

Mereka sedang merencanakan taktik penculikan Hana. Mereka akan melakukannya sepulang sekolah. Kuharap tidak ada yang meninggalkan Hana seorang diri.

Setelah EXO dan Hana tahu, mereka mencoba untuk tidak memedulikannya. Mereka kembali ke aktifitasnya masing-masing untuk menutupi kalau mereka tahu sesuatu.

**

Jam pulang sekolah pukul 7 malam. Sehun dan Hana terpaksa menunda acara date mereka karena situasi yang berubah. Sama seperti kemarin, mereka dan yang lain berpencar. Namun sebenarnya, mereka selain Sehun, Hana dan Luhan sedang bersembunyi di tempat-tempat tidak terduga untuk mengantisipasi terjadi sesuatu.

Untuk pergi ke halte, mereka harus menyusuri gang sempit yang sepi. Hana menggenggam erat tangan Sehun dan berdiri sedekat mungkin dengannya.

“Mereka sebentar lagi datang. Persiapkan senjata kalian.”

Luhan mengetik suara yang barusan di dengarnya kemudian dia perlihatkan pada Sehun.

Mereka sudah menunggu kita. Lima puluh meter dari sini.

“Kau sudah mendapatkan kekuatanmu, eoh?”

“Eoh, yang kutahu, aku bisa melihat dengan sudut 360 derajat.”

Luhan mengetikkan lagi suara yang barusan dia dengar.

Kim Tae Hyung, dia memiliki kemampuan penglihatan 360 derajat. Berhati-hatilah.

Setelah Sehun membacanya, Luhan mengirimkan pesan itu ke semua ponsel EXO yang kini bersembunyi.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Hana pada Luhan dan Sehun. Wajahnya mulai pucat, dia takut dengan situasi mencekam seperti ini.

Sehun berhenti berjalan, begitu juga dengan Hana dan Luhan. Dia melepas genggaman Hana dan mulai memeluk gadis itu erat. “Jangan lakukan apapun yang bisa membahayakanmu. Kalau kau dalam bahaya, aku akan membuat bayangan untuk melindungimu.”

“Tapi Sehun, itu bisa menguras tenagamu.”

“Gwaenchanha. Aku akan berlari padamu untuk menambah tenagaku.”

“Aish! Pantas mereka lama sekali.”

“Bagaimana kalau kita serang langsung?”

“Ja! Aku sudah tidak tahan untuk membunuhnya.”

“Tapi ingat misi pertama kita. Kita hanya menculik Hana, bukan membunuhnya.”

“Arra arra. Kaja.”

Luhan mengirimkan panggilan darurat pada tim satu. Lima detik kemudian mereka sudah datang, dengan tubuh yang telah bertransformasi. Sementara tim dua, terlihat sedang duduk-duduk santai di tempat tinggi seperti atap.

Sehun melepas pelukannya dan saat itulah dirinya telah berubah menjadi pendekar vampire.  Hana memandangnya dengan takjub, namun itu tidak lama karena Luhan langsung menariknya mundur.

Sehun maju bersama enam lainnya. Dia menyambut kedatangan BTS yang juga telah bertransformasi menjadi para mutan.

Rap monster sebagai leader BTS, maju ke depan di garis yang memisahkan mereka. “Ternyata kalian menampakkan diri juga. Annyeong, kami penghancur bumi, BTS.”

Suho yang sudah mengeluarkan sepasang sayapnya, ikut mendekati garis itu. “Akhirnya kita bertemu.”

Di belakang EXO tim satu, Luhan sedang membuat dinding transparan berbentuk kubus yang akan melindunginya serta Hana. Rapmon dan grupnya, menyeringai melihat apa yang dilakukan Luhan.

“Kupikir tidak hanya tujuh yang memiliki kekuatan seperti itu.”

SRING!

Sedetik setelah Rapmon berbicara seperti itu, ternyata Sehun sudah melancarkan serangan pertamanya pada Taehyung. Kini kedua orang itu terlihat sedang beradu pedang.

“Sialan,” ketus Rapmon tepat saat EXO yang lain memulai serangan bersama-sama.

Terjadilah pertempuran sengit di antara mereka. Tao sengaja menghentikan waktu agar tidak menimbulkan kehebohan di antara manusia lain. Suara aduan pedang terdengar jelas. Mereka tidak bertarung di satu tempat. Suho dan Rapmon bertarung satu lawan satu di langit dengan kemampuan sayap mereka. Xiumin dan Jungkook beradu keahlian bela diri mereka dengan pedang di kedua tangan. Baekhyun dan Jimin juga beradu dengan pedang mereka namun keduanya juga saling bertarung menggunakan suara. Jin dan Chanyeol, bertarung dengan melompati dinding-dinding bangunan di daerah sekitar sini. J-Hope dan D.O saling melukai satu sama lain tidak dengan pedang, melainkan dengan kekuatan yang mereka miliki. Suga dan Chen, sedang beradu suara karena mereka memiliki kemampuan yang hampir sama, yaitu Suga yang melukai musuhnya dengan music sementara Chen melukai musuhnya dengan suara tingginya.

Dan untuk Taehyung serta Sehun, keduanya seolah tidak terlihat di tengah malam kelam ini. Mereka sama-sama bertarung dengan kecepatan mereka. Menyerang satu sama lain dengan pedang dan masing-masing benar-benar kuat. Sudah tidak diragukan lagi kalau Taehyung sulit dilukai, dia dan BTS memang penghancur bumi yang diberi keistimewaan berupa tubuh yang tidak bisa dilukai oleh apapun. Dan untuk Sehun, sebagai pemilik type vampire, dia juga memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan akan sembuh dengan cepat jika terluka. Keduanya adalah lawan yang seimbang, mereka juga mengeluarkan bayangan untuk menyerang satu sama lain.

“Sepertinya ini akan lama,” gumam Kai sambil melahap popcorn-nya. Entah dari mana dia bisa mendapatkan makanan itu di saat seperti ini.

Tim dua asik menonton pertarungan itu. Bila Tao tidak menghentikan waktu, sudah pasti pertarungan ini telah berjalan selama terhitung 3 jam. Belum ada luka berarti di tubuh EXO maupun BTS. Mereka sama-sama kuat dan kemampuan mereka juga setara.

Namun lain lagi dengan Hana. Dia terus mencemaskan Sehun-nya. Anehnya di saat seperti ini justru dia bisa menggunakan kekuatannya dengan baik. Kedua matanya mampu melihat seberapa energy yang masih dimiliki Sehun, bahkan Taehyung. Hanya dia yang tahu jika energy Sehun sudah berukurang dari 100% menjadi 85%. Sementara energy Taehyung, hanya berkurang sedikit menjadi 97%.

“Luhan.. Energy Sehun berkurang,” ucap Hana sambil menggoyangkan lengan Luhan.

Pemuda yang bertugas menjaga Hana itu, melihat kedua orang yang tengah bertarung tepat di depan pelindung kubus ini.

“Taehyung sepertinya sudah tahu batasan-batasan Sehun,” ucapnya yang malah membuat Hana semakin panic.

“Eotteohke? Sehun belum meminum darah sejak siang tadi.. tolong lakukan sesuatu.”

Luhan menoleh, melihat Hana yang hampir menangis. “Apa kau membawa darahnya?”

Hana menggeleng. “Aku akan memberikan darahku. Yang penting dia harus makan, kalau tidak begitu dia bisa-bisa hilang. Jebal Luhan.. lakukan sesuatu.”

Sebenarnya Luhan tahu kalau Sehun pantang dengan darah Hana. Namun Hana berbicara seperti ini dengan jujur, gadis itu bahkan tidak peduli kalau Sehun marah padanya. Dari yang Luhan baca, Hana tulus melakukannya.

“Kau tidak khawatir kalau Sehun marah?”

Hana menggeleng. “Ani, aku tidak peduli kalau dia marah, yang pasti dia harus menambah energy-nya.”

Luhan akhirnya menyerah. Dia memberikan pesan pada Kai untuk menggantikan Sehun bertarung. Awalnya Kai membalasnya dengan..

Fr : Kai

Yaa! kenapa harus aku?! Aish! Kau mengganggu acara santaiku!

Luhan mendengus membacanya, dia pun membalasnya,

Fr : Lu

Ppali, kau mau Hana yang keluar dari pelindungku? Dia bilang Sehun sudah kehabisan tenaga.

Fr : Kai

Keurae keurae! Asalkan aku boleh tidur di ranjangmu.

“Sialan,” gumam Luhan sebelum membalasnya.

Fr : Lu

Arraseo! Ppali!!

Detik berikutnya Kai sudah berhadapan dengan Taehyung. Sehun yang melihat keberadaan Kai jadi bingung.

“Yaa! kenapa kau di sini?!”

“Cepat temui istrimu!” jawab Kai cepat. dia sedang beradu pedang dengan Taehyung.

Sehun menoleh ke belakang, dia mendapati sinyal dari Luhan untuk masuk ke dalam pelindung kubus. Tanpa banyak pikir lagi, dia menggunakan kecepatan larinya untuk memasuki pelindung itu.

“Wae?”

Luhan menarik Sehun untuk duduk, sedangkan dirinya beranjak. “Berbicaralah di sini. Aku akan membantu Kai.”

Belum sempat Sehun protes, Luhan sudah keluar dari pelindung itu dan bertransformasi seperti yang lain.

“Kau mau bicara apa?” terdengar napas Sehun yang tersengal-sengal.

Hana meraih kedua tangan Sehun dan menggenggamnya erat. “Energymu tersisa 85%. Aku baru sadar kau belum minum darah sejak siang.”

“Lalu?” dahi Sehun mulai mengerut. Penampilannya sekarang malah jauh lebih mengerikan dari biasanya, namun Hana tidak gentar sedikitpun.

“Aku tidak membawa darah itu. tapi, kau harus minum darah sekarang.”

“Jangan bilang kau..”

“Sekali ini saja, Sehun. Aku ingin menolongmu.”

“Sudah kubilang sebelumnya, kan? Aku tidak akan mau!”

“Tapi ini demi kebaikanmu. Aku janji, aku tidak akan membencimu jika terjadi sesuatu padaku.”

“Bukan itu! bukan karena itu!” kilat di mata Sehun terlihat jelas dan itu semakin memperjelas kalau Sehun benar-benar marah.

“Wae? Katakan alasannya.”

Kini tubuh Sehun kembali menjadi manusia normal. Dia melepaskan genggaman tangan Hana darinya.

“Darahmu jauh lebih berharga dari darah yang lain, Hana…”

“Ne, karena itu berharga, aku ingin memberikannya untukmu.”

Sehun menggeleng. “Geumanhae.”

“Tapi hanya itu yang bisa kulakukan untukmu. Aku tidak memiliki kemampuan seperti yang lain. Aku hanya memiliki ini.”

Sehun menarik gadis itu dalam pelukannya. “Geumanhae. Jangan membuatku frustasi. Geumanhae.”

Tangis Hana akhirnya pecah. Gadis itu balas memeluk Sehun dengan jauh lebih erat. “Aku khawatir melihatmu, Sehun. Kau bertarung demi aku, demi EXO, demi bumi ini. Aku hanya ingin membantumu, itu saja. Aku tidak tega melihatmu lemah.”

“Aku juga tidak tega melihatmu menangis. Geumanhae.”

“Lakukanlah, sekali ini saja. Demi aku.”

Hatinya hanya mengenal Hana, dan untuk itulah dia akan melakukan segalanya demi gadis tersebut. Dan kini, Hana yang memintanya untuk melakukan hal itu. Di sisi lain dia tidak mau melakukannya, namun di sisi lainnya, dia tidak tega melihat Hana terus seperti ini.

“Itu menyakitkan.”

“Gwaenchanha.”

“Kau akan pingsan dan hilang ingatan.”

Hana menggigit bibirnya sesaat, “gwaenchanha.”

“Dan saat kau terbangun, kau tidak akan mengingat apapun lagi bahkan aku.”

Kali ini Hana meremas erat baju Sehun. “Gwaenchanha.”

Sehun menghela napas. “Mianhae.”

Hana memejamkan mata ketika Sehun mendekatkan bibir ke lehernya. Awalnya terasa geli karena napas serta bibir Sehun yang menggelitik lehernya. Namun sesaat setelahnya, dia meringis akibat penekanan yang dilakukan taring Sehun ke kulit lehernya. Ini memang sungguh menyakitkan. Terlebih saat taring Sehun berhasil menembus kulitnya. Perlahan pandangannya mengabur. Dia tersenyum getir, mengusap rambut Sehun dengan sisa tenaganya sebelum akhirnya semua gelap.

**

Kedua matanya terbuka. Cahaya keemasan yang tidak menyilaukan langsung menyambut penglihatannya. Tidak ada angin sedikit pun di sini namun udara terasa sejuk. Ia pun bangkit duduk dan melihat ke sekitarnya.

Bukan lagi gang sempit yang kotor. Bukan lagi langit malam yang kelam. Bukan lagi salah satu bagian dari wilayah yang padat penduduk.

Ini adalah padang rumput di mana tak jauh dari sini terdapat taman bunga berwarna-warni. Kupu-kupu beterbangan ke sana kemari dengan riang, kelinci berlari dari satu posisi ke posisi lain dengan bibir yang tak henti mengunyah wortel, burung-burung berkicau dengan ceria di bebatuan sekitar danau.

Dia meraba dirinya sendiri. Semuanya berubah.

Bukan lagi seragam. Tidak ada lagi tas. Tidak lagi memakai sepatu. Dia memakai gaun terusan putih, dengan sayap yang muncul dari punggungnya serta kaki yang tidak memakai apapun.

Ia pun bangkit. Berjalan menyusuri tempat damai itu sampai kakinya berhenti lima meter di depan hutan jati. Dia bukan melihat hutan jati itu, melainkan seseorang yang berbaring di rel kereta api yang memisahkan antara padang ini dengan hutan tersebut.

Orang itu adalah laki-laki. Memakai baju rajut berwarna merah muda, celana panjang berwarna senada dan rambut hitam. Kulit laki-laki itu putih bersih, kakinya panjang dan wajahnya sangat tampan. Laki-laki itu tidak menyadari kehadirannya. Laki-laki itu terpejam.

10932367_1606510286256879_953883128_n

Dia mendekat, semakin mendekat sampai bisa melihat wajah laki-laki itu dari dekat. Dia duduk di sebelah laki-laki itu, memperhatikan dengan teliti wajah tenang di hadapannya.

“Dia tidur?” gumamnya seraya menjulurkan tangan untuk mengusap rambut pemuda itu.

Ada suatu kedamaian yang menyelimutinya. Rambut yang terasa di tangannya ini jauh lebih lembut dari sutra. Kemudian ketika menyentuh kulit wajah lelaki itu, tangannya terasa hangat, hangat sekali.

Tiba-tiba saja, kedua mata lelaki itu terbuka. Dia spontan menghentikan gerakan tangannya yang kini tengah menyentuh bagian pipi lelaki tersebut. Mereka saling menatap dalam diam.

Saat sadar kalau dirinya masih menyentuh lelaki itu, dia spontan menariknya namun ditahan tiba-tiba oleh lelaki itu.

“Hana..”

Dia terkesiap. “Bagaimana kau tahu namaku?”

Lelaki itu meletakkan tangan Hana di dada kirinya. “Dari sini.”

Hana memandangnya tak mengerti. Tapi laki-laki itu malah tersenyum. “Aku Sehun.”

“Sehun.. siapa?”

Sehun bangkit duduk. Dia masih menggenggam tangan Hana dengan posisi berbeda. “Kekasihmu.”

Hana menggeleng, “aku tidak tahu siapa kau.”

Sehun mencium punggung tangan, dahi, pipi dan bibir Hana kemudian memeluknya erat. “Tolong bangunlah. Jangan tinggalkan aku. Aku membutuhkanmu. Aku butuh kasih sayangmu. Itulah kekuatan terbesar dalam dirimu yang tidak dimiliki yang lain dan sangat kubutuhkan.”

Hana masih tidak mengerti hingga dia mencium aroma tubuh lelaki ini. Hidungnya yang sensitive, bisa mengenali bau siapakah ini. Dampak dari itu, kedua iris matanya langsung berubah biru laut. Sayapnya berkembang dengan warna kebiruan yang menghiasinya dan dirinya seolah tersedot dalam suatu lubang.

Sehun tidak ada lagi di hadapannya. Tempat tenang yang tidak menyilaukan dan sejuk itu perlahan menjauh dari pandangannya. Dalam beberapa detik kemudian, semuanya telah hilang.

**

Pertempuran itu telah membuat Baekhyun dan Chanyeol terluka parah. Tim dua terpaksa turun ke medan perang kecuali Lay yang kini sedang menyembuhkan kedua rekannya. Pertempuran ini memang tidak seimbang secara jumlah, namun secara kemampuan mereka telah seimbang. Sembilan EXO dengan bersamaan menyerang tujuh BTS.  Mereka terus bertarung tanpa henti dan tidak ada yang menyadari kalau di dalam kubus pelindung, Hana yang semula jatuh pingsan kini telah sadar dan dirinya telah bertransformasi sebagai gadis bersayap putih kebiruan.

Kubus pelindung itu pecah saat Hana bangkit dengan sayapnya. Dengan bibir terkatup rapat dan ekspresi dingin, dia hanya perlu menatap orang-orang yang dibencinya dan senjata mematikannya pun meluncur dengan kecepatan setara cahaya. Tujuh BTS yang terkena senjata itu, otomatis faktor berharga mereka yaitu body protection, tidak berfungsi lagi. Satu persatu dari mereka tumbang, termasuk salah satunya Kim Tae Hyung. Akan tetapi, Taehyung tumbang bersamaan dengan Sehun, di mana posisi mereka saling menusukkan pedang ke jantung.

Sehun..

Dengan sayapnya, dia menghampiri Sehun yang terkapar.

Napas Sehun terdengar putus-putus. Hana menarik pedang itu, kemudian menggenggam kedua tangan Sehun erat.

Melihat wajah Hana di hadapannya, Sehun dengan energy yang berkurang drastic, berusaha untuk tersenyum.

“Hana.. kau… sudah sadar?”

Hana mengangguk. Kini ekspresinya terlihat jelas bahwa sedang menahan tangis.

Sehun tersenyum. “Baguslah… aku… minta … maaf. Mian..”

Hana mencium punggung tangan Sehun. “Tidak ada yang perlu untuk dimaafkan.”

“Semoga… kita… bertemu… lagi… nanti… sarang… hae,” matanya langsung terpejam dengan napas yang telah berhenti. Dia lah satu-satunya EXO yang mati dalam peperangan ini.

Hana tidak menangis keras. Air matanya tetap mengalir namun dia tidak berteriak seolah baru kehilangan seseorang. Dia hanya diam. Meletakkan kedua tangan Sehun di atas perut. Menutup luka di dada kiri Sehun dengan kekuatannya dan mencium lelaki itu untuk terakhir kalinya.

“Nado.. saranghae.”

**

6 years later…

Hana kini berhasil menembus bangku perkuliahan. Dia dengan segala upaya yang dilakukannya sendiri, berhasil menduduki salah satu bangku Korea University dengan jurusan bisnis. Di usianya yang ke-22 ini, dia telah memasuki semester akhir.

Semua yang terjadi di masa lalu, terlupakan begitu saja. EXO, BTS, Exoplanet, semua sudah benar-benar ia lupakan. Enam tahun lalu, sebelum EXO kembali ke asalnya, Tao telah memutar kembali waktu dimana Hana masih menjadi primadona sekolah dan belum berstatus istri Sehun. Memori di pikirannya pun dihapus oleh Luhan.

Kini hidupnya seperti dulu. Mewah dan dipuja oleh banyak orang. Namun, semenjak masuk kuliah dia tidak lagi memamerkan kemewahannya. Dia berupaya terlihat sebagai orang sederhana meski orang-orang tetap memandangnya sebagai putri pemilik Angelo Corp.

Pagi ini, kampus Hana akan mengadakan seminar bersama yang akan diisi oleh seorang dosen yang berasal dari Oxford University. Hana telah menyiapkan diri dengan kemampuan bahasa inggrisnya yang cukup mumpuni. Dia bahkan telah menyiapkan pertanyaan seputar topic yang akan dibahas.

Kini dia sudah duduk di sebuah kursi deretan nomor dua dari depan. Acara mulai tepat pukul 9 pagi. Seorang MC yang merupakan salah satu mahasiswa jurusan jurnalistik, mulai membuka acara dengan gaya khas MC nasional Yoo Jaesuk. Penonton yang hampir seluruhnya adalah mahasiswa jurusan bisnis itu, sedikit terhibur dengan gaya si MC.

Tepat pukul 9.30, acara inti akhirnya dimulai.

“Wah.. tidak terasa kalau saya sudah cuap-cuap tiga puluh menit. Apakah kalian sudah merasa bosan?”

“Ne!!” balas para mahasiswa koor.

“Baiklah. Karena tamu penting kita telah hadir di sini, kita langsung sambut saja. Inilah dia, Prof Oh Sehun!”

Tepuk tangan terdengar memeriahkan ruang aula ini. Semua orang termasuk salah satunya Hana, penasaran dengan nama professor Universitas Oxford yang ternyata adalah warga negara Korea Selatan.

Histeris para mahasiswi tidak bisa terbendung kala professor muda itu berdiri di podium. Hana bahkan membuka mulutnya lebar-lebar karena tidak percaya kalau professor yang dimaksud masih semuda itu.

Layaknya orang Korea Selatan biasanya, professor itu membungkuk 90 derajat sebelum mulai berbicara.

“Halo semuanya. I’m Oh Sehun, one of the lecturers of Oxford University. Senang bertemu dengan kalian,” professor itu kembali membungkuk bertepatan saat aula ini kembali ramai.

“Professor, bolehkah saya bertanya?” kini MC memulai pertanyaannya pada tamu istimewa.

Professor Sehun mengangguk. “Silakan.”

“Di saat anda berjalan kemari, saya mendengar para mahasiswi berteriak histeris bersamaan.  Saya yakin apa yang akan saya tanyakan ini pasti sama dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Professor, bolehkah kami tahu berapa usia anda?”

Para mahasiswi menyoraki si MC karena pertanyaan itu benar-benar seperti yang ada di pikiran mereka sekarang, termasuk Hana.

Professor tersenyum sedikit, begitu saja ruang aula kembali diramaikan oleh teriakan histeris. “Banyak dari mahasiswi saya di Oxford menanyakan tentang usia saya. Eum, bolehkah saya tahu berapa usia anda?

“Saya? Ah.. saya sekarang berusia duapuluh satu.”

“Jika anda menjadi mahasiswa tingkat junior tahun ini, saya menduduki tingkat dua tahun di atas anda.”

MC maupun para mahasiswa di sini, terkesiap tidak percaya.

“Jeongmal-yo?” ucap MC dengan wajah blank-nya.

Professor Sehun mengangguk. “Ya, usia saya duapuluh tiga.”

Hana meremas coatnya dengan kuat saking tidak tahannya mendengar itu. dia pikir, setidaknya Sehun di usia 25, tapi ternyata..

“Ba-ba-bagaimana bisa anda menjadi professor di usia seperti ini? Bisa tolong diceritakan?”

Sehun mengedarkan pandangannya mengelilingi kursi para peserta. Tak lama kemudian pandangannya berhenti di satu titik. Professor muda itu tersenyum.

“Saya lahir di negeri ini dan menyandang status sebagai anak yatim piatu. Sejak bayi hingga berusia lima tahun, saya diasuh di sebuah panti asuhan. Kemudian, di usia enam tahun, ibu panti menemukan beberapa kemampuan saya yaitu salah satunya adalah mempelajari kalkulus. Beliau menunjukkan buku catatan kalkulus saya pada seseorang yang cukup berjasa untukku. Oleh orang itu, saya dimasukkan ke Sekolah Dasar langsung tingkat 5. Saya lulus dua tahun kemudian tepat di usia 8 tahun.”

Para peserta juga MC, bertepuk tangan memberikan penghargaan.

“Kemudian saya masuk SMP dan SMA, lulus di usia 12 tahun. Di usia 13, orang yang berjasa itu akan memasukkan saya ke kampus ini. Akan tetapi karena usia saya yang masih terlalu kecil, saya ditolak dan dimohon menunggu sampai empat tahun ke depan. Saya, akhirnya memutuskan menunggu, tapi, orang yang berjasa itu dengan diam-diam mendaftarkan saya ke Oxford. Tepat di usia 14 tahun, saya resmi menjadi mahasiswa kampus itu dengan jurusan bisnis.”

“Wah.. anda benar-benar hebat, professor. Jika anda benar-benar masuk kampus ini, saya jamin, tiap tahunnya kampus ini akan kebanjiran mahasiswa baru.”

Sehun tertawa ringan. Tawanya yang seperti itu saja sudah membuat para gadis geregetan.

“Itu terlalu berlebihan. Bisa saya lanjutkan?”

“Tentu, professor. Silahkan.”

Sehun kembali terfokus pada titik tadi. “Sebagai mahasiswa berusia paling muda, saya sering dijadikan bahan bully-an di sana. Apalagi saya terkenal sebagai Litte Boy from Asia. Tapi, dengan perlakuan mereka, saya semakin gigih untuk menyelesaikan study saya di sana. Tidak lebih, saya melakukan itu untuk membayar lunas apa yang telah orang berjasa itu lakukan pada saya.”

“Sepertinya orang berjasa yang anda maksud itu adalah orang terhebat dalam hidup anda.”

Professor Sehun mengangguk. “Ne, dia sudah saya anggap sebagai panutan.”

“Ah… mengagumkan sekali. Silahkan anda lanjutkan.”

“Usia 16 tahun, di hari libur, orang berjasa itu menyuruh saya untuk pulang ke Korea. Awalnya, saya tidak tahu apapun maksud beliau mengajak saya kembali ke Korea. Namun ternyata, secara diam-diam, beliau menceritakan perihal putrinya.”

Ruang aula ini kembali ramai.

“Orang berjasa itu menceritakan tentang putrinya pada anda?”

Sehun mengangguk. “Ne. usia putrinya saat itu 15 tahun.”

“Lalu? Apa yang diceritakannya?”

Sehun tersenyum. “Aku akan melanjutkan kisahku di Oxford dulu.”

“Oh baiklah, silahkan.”

“Saya lulus sebagai sarjana di usia 18 tahun. Kemudian, saya kuliah lagi untuk meraih gelar professor dan lulus di usia 20 tahun. Rector Oxford, meminta saya secara pribadi untuk bekerja di sana sebagai dosen. Dengan persetujuan orang berjasa itu, saya akhirnya menerima permintaan sang rector dan mulai bekerja di sana sampai sekarang. Dan baru-baru ini, saya kembali ke Korea untuk melakukan sesuatu.”

“Apakah, anda kembali ke Korea bukan hanya karena seminar ini?”

Sehun menggeleng. “Ada keperluan yang lebih penting dari itu.”

“Oh! Apakah ada hubungannya dengan kembalinya anda ke Korea di usia 16 tahun?”

Sehun mengangguk.

“Wah.. bisa tolong anda ceritakan.”

“Sebelumnya, saya akan memberikan sedikit petunjuk siapakah orang berjasa itu. Beliau… adalah pengusaha tersukses di Asia era ini.”

Hana dengan spontan membungkam mulutnya.

“Apakah yang anda maksud, Angelo Corp?”

Sehun mengangguk. “Yook Ki Hae seonsaengnim. Beliau lah yang telah membuat saya menjadi seperti ini dan mengajarkan banyak hal tentang bisnis.”

“Lalu… putri yang dibicarakan oleh CEO Yook, apakah…”

Sehun tersenyum. “Dia hadir di sini.”

Semua orang dengan bersamaan memusatkan pandangan pada satu gadis yang duduk di deretan nomor dua dari depan.

“A-a-apakah yang dibicarakan CEO Yook?”

“Masa depan.”

Seisi ruangan itu mulai tegang.

**

Selesai jam kuliah, sesuai janji,Hana langsung pergi ke sebuah hotel yang telah dipesan keluarganya. Sampai detik ini, dia tidak tahu kenapa keluarganya mengadakan pertemuan di hotel berbintang lima itu.

Dengan dandanan secepatnya, dia akhirnya sampai di hotel itu tanpa membuat keluarganya malu. Dengan arahan seorang pelayan, dia diantar menuju gedung pertemuan. Ekspresinya sulit ditebak saat tahu ada banyak orang di tempat ini. Belum sempat dia bertanya, pelayan itu sudah pergi.

“Yaa Hana.”

Gadis itu langsung menoleh mendengar suara tersebut. itu suara Yook Sungjae.

“Oppa? Kau? Kenapa memakai baju seperti itu?”

Sungjae melihat Hana dari atas ke bawah. “Justru aku yang harus bertanya begitu. Kenapa kau memakai baju seperti itu?”

Dahi Hana berkerut. “Bukankah ini hanya pertemuan keluarga biasa?”

Sungjae menghela napas. “Ini lebih dari pertemuan keluarga. Hari ini pertunanganmu.”

Hana spontan membelalak. “Mwo? Pertunangan?”

“Eoh. kau yang akan bertunangan tidak pantas memakai pakaian seperti ini. Juseyo,” Sungjae langsung menahan seorang pelayan wanita yang baru saja selesai menyediakan minuman.

“Berikan gadis ini dress yang cantik.”

Pelayan itu mengangguk, kemudian mengomando Hana menuju sebuah ruangan.

Lima belas menit kemudian, Hana kembali ke aula pertemuan itu. Dia langsung jadi sorotan berkat gaunnya yang terlihat resmi namun kasual.

dark

“Ah.. akhirnya dia datang,” ucap eomma-nya begitu melihatnya datang.

Ada seorang lelaki berbada tinggi tegap dengan tuxedo hitamnya tengah membelakangi gadis itu. Hana tidak ambil pusing, dia pikir itu adalah relasi bisnis appa-nya. Hana dengan tenang berdiri di sebelah gadis itu.

“Eomma, kenapa di sini banyak orang?”

Eomma dan appa tersenyum penuh arti. Appa menggerakkan kedua matanya pada lelaki di sebelah Hana. Dengan dahi berkerut, Hana menoleh.

DEG!

73b58ed392076f39ea511986281f4780

“P-prof?”

Sehun tersenyum tipis.

“Para hadirin yang sudah berada di sini. Karena putri CEO Yook sudah datang, mari kita laksanakan acaranya,” celoteh Sungjae yang sudah memegang sebuah mic.

Di saat para tamu di ruang itu mencari posisi, tiba-tiba pintu ruang aula terbuka. Delapan belas pemuda masuk dengan membungkuk sopan.

Sehun yang melihat mereka, tersenyum.

“Dia teman-temanmu?” tanya CEO Yook pada Sehun.

“Ne, sajangnim.”

“Wah… kita kedatangan teman-teman professor Sehun juga. Silahkan menempati tempat yang telah disediakan.”

“Mereka tampan-tampan. Apakah mereka juga di Oxford?” kali ini eomma Hana yang bertanya.

“Ne. Mereka teman-teman saya sewaktu kuliah.”

CEO Yook memberikan kotak cincin pada Sehun. “Kita mulai acaranya.”

Eomma dan appa Hana pergi menuju kursi mereka, menyisakan kedua sejoli itu di sana. Hana yang terpaku, jadi tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya, sehingga Sehun lah yang berpindah tempat di hadapan gadis tersebut.

“Nae ireumeun, Oh Sehun. Usiaku 23 tahun, pekerjaanku sebagai dosen Oxford. Kita pernah bertemu sebelumnya, saat kau berusia 15 tahun. Aku tahu ini mendadak dan orang tuamu terpaksa berbohong. Tapi sungguh aku ingin mengatakan ini. Maukah kau bertunangan denganku dan menikah setelah kau lulus?”

Hana terdiam. Dari matanya dia masih ingin menatap Sehun lebih lama. Professor tampan yang dia temui pagi tadi, sekarang telah berubah menjadi seorang pemuda biasa. Tinggi tubuh yang proporsional, kulit putih pucat, kedua mata sipit namun tajam, hidung mancung, bibir mungil seperti bayi…

Aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana? Ataukah… dia pangeran khayalanku selama ini?

“Secara pribadi, aku masih belum mengenalmu,” ucap Hana tiba-tiba.

Sehun tersenyum. “Kita masih punya waktu untuk saling mengenal sebelum menikah.”

Akhirnya Hana tersenyum. “Baiklah.”

Sehun mengeluarkan sebuah cincin dari kotak kemudian dia sematkan di jari manis Hana. Lalu, giliran Hana yang menyematkan cincin terakhir di jari manis Sehun.

Hadirin bertepuk tangan meriah.

“Professor Oh Se Hun bilang, dia akan melangsungkan pernikahannya dua hari setelah Yook Ha Na lulus kuliah. Mohon para tamu di sini, untuk hadir kembali di acara mereka tiga bulan lagi.”

Hadirin bertepuk tangan lagi.

**

Selesai acara pertunangan, Sehun mengajak Hana untuk menemui teman-temannya. Hana awalnya merasa grogi saat tangannya digenggam sangat erat oleh Sehun.

“Yo Oh Sehun! Wah… sekarang kau menggandeng seorang gadis,” sambut salah seorang pemuda berwajah imut dengan mulut yang mengunyah sepotong semangka.

“Aku ingin memperkenalkan kalian pada dia,” ucap Sehun begitu sampai di sekitar teman-temannya.

“Boleh, boleh. Perkenalkan aku dengan baik,” sahut pemuda berambut keriting yang memiliki rahang tegas.

Sehun menoleh ke samping, dia tersenyum kecil melihat ekspresi Hana yang tidak mengerti apapun seperti anak kecil.

“Sayang..”

“Oooooh.. Oh Sehun..” koor teman-temannya begitu mendengar panggilan Sehun pada tunangannya.

Wajah Hana spontan memerah. “N-ne?”

Sehun menunjuk satu persatu temannya. “Ini Luhan hyung, Kris hyung, Xiumin hyung, Tao hyung, Kai..”

“Yaa! Kai hyung,” potong pemuda berkulit eksotis itu.

“D.O hyung, Chanyeol hyung, Baekhyun hyung, Chen hyung, Suho hyung, Lay hyung, Seokjin hyung, Hobie, Rapmon, Syuga hyung, Jiminie, Jungkookie, alien.”

“Yaa!” si pemuda terakhir yang disebut Sehun sebagai ‘alien’ merasa tidak terima.

Hana tersenyum geli mendengarnya.

“Mereka tampan-tampan kan?” Hana mengangguk. “Tapi aku lebih tampan kan?” Hana mengangguk lagi.

“Mwoya??” protes teman-temannya.

“Mereka sudah tahu tentangmu. Jadi kau tidak perlu malu berteman dengan mereka.”

“Algeuseummida.”

Sehun mengacak rambut Hana kemudian mencium keningnya. Pemuda itu tertawa geli melihat wajah Hana yang semakin memerah.

END

footnote : endingnya boleh diteruskan sesuka hati :v soalnya sampe sini feelku udah hilang. Trus untuk para readersku yg cantik2 dan tampan2 (kalo ada), makasih udah baca. Ini FF genre Fantasi-ku yang baru kali ini bisa terstruktur dengan baik. Sekali lagi untuk semuanya, thank you :*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s