Se-Tae Series (17/05/15)


B9tRq18CQAAB9df

Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : Romance, family, marriage life

Rating : Teen

Length : Chaptered

Casting : Kim Taehyung, Oh/Kim Sena, dll

.

.

Esoknya mereka telah kembali ke apartemen. Taehyung mencoba untuk tidak mengungkit tentang Halloween itu. Akan tetapi, pesan dari Jungkook sungguh menyebalkan. Tempat sewa pakaian untuk Halloween dibuka hari ini. Jika Taehyung dan Sena tidak segera mencari pakaian untuk acara itu, bisa dipastikan besok atau lusa stock di sana sudah habis.

Dengan berat hati Taehyung mendatangi Sena yang kini sedang menyiram tanaman gantung di balkon apartemen mereka.

“Sena..”

“Ne?” wanita itu menoleh dengan wajah berseri. Oh!! Taehyung semakin tidak rela untuk mengatakannya lagi.

“Sedang apa?” dalam hati Taehyung merutuki dirinya. Bodoh! Kenapa harus basa-basi segala?

“Menyirami mereka. Aku tidak mau mereka kekurangan nutrisi,” balas Sena sambil kembali menekuni aktifitasnya.

“Sena.. bagaimana..”

“Bagaimana apa, oppa?” tanya Sena tanpa menoleh di saat dia membuang daun kering ke dalam tempat sampah.

“Anak kita..” lagi-lagi Taehyung merutuk. Sial! Apa susahnya berkata terus terang?!

Sena tersenyum lalu menoleh. “Dia baik-baik saja. Sedang bertumbuh sepertinya.”

Taehyung balas tersenyum. Senyumnya ini tidak biasa, dan itu bisa ditangkap dengan jelas oleh indera wanita Sena.

“Wae? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Sena meletakkan penyiram tanamannya dan kini focus menatap Taehyung.

Taehyung menggeleng. Dia pun menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang ragu. Akan tetapi terlambat, Sena sudah menyadari gerak-geriknya yang sedang bimbang ini.

“Oppa.. katakan saja. Aku tidak akan marah.”

Taehyung mengangkat kepala. “Benarkah kau tidak akan marah?”

Untuk membuat Taehyung buka mulut, Sena memilih mengangguk. “Eum. Katakan saja.”

Taehyung memperhatikan bola mata Sena yang sepertinya memang sedang terbuka dengan apa yang akan dikatakannya sebentar lagi. Akan tetapi Taehyung masih takut. Dia bukan takut dengan taruhan itu, tapi dia takut kalau Sena terganggu lagi pikirannya.

“Mengenai Halloween itu..”

Ekspresi wajah Sena berubah. Taehyung tahu akan seperti ini dan dia memilih menyerah. “Ani, tidak jadi.”

Di saat Taehyung akan masuk ke dalam, Sena langsung menahan tangannya hingga dia tak jadi masuk. Sejujurnya dia terkejut melihat Sena tersenyum.

“Aku sudah janji untuk tidak marah. Apakah kau benar-benar akan mengikuti acara konyol itu dengan istrimu yang sedang hamil ini?”

Pertanyaan itu seakan pisau yang menancap ke ulu hati Taehyung. Dia merasa bersalah, dia merasa tidak menjadi suami yang baik selama ini.

“Aku hanya tidak mau berpisah denganmu selama seminggu, itu saja. Kalau hukumannya hanyalah menjadi budak mereka, aku lebih baik melakukan itu ketimbang harus mengajakmu dengan kondisi seperti ini. Tapi berpisah denganmu, aku tidak bisa. Kalau kau sungguh tidak mau ikut, aku akan coba bicara dengan mereka dan meminta pengertian mereka,” kepalanya tertunduk.

Jadi hanya karena dia takut hukuman itu? batin Sena dalam diam.

“Aku tidak mau mereka tahu kalau aku sedang hamil. Dan aku tidak mau ikut acara konyol itu. Bukannya kau bisa menolak? Kenapa saat itu kau justru menyetujuinya? Aku pasti akan menemanimu Taehyung, tapi tidak dengan acara seperti itu. Acara itu ramai dan tidak berguna sama sekali. Bagaimana kalau kandunganku terguncang? Bagaimana kalau aku tiba-tiba jatuh dan menyebabkan akibat fatal pada anak kita ini? Aku tidak mau membuat dia terluka, kau mengerti, Taehyung?”

Taehyung hanya diam dengan kepala tertunduk. Sena menghela napas kemudian meresleting jaket yang dikenakan Taehyung.

“Di sini dingin, lagi pula sudah malam. Tidurlah.”

Tanpa mengucapkan apapun lagi, Sena beranjak masuk sembari menenteng penyiram tanaman yang ia gunakan tadi. Sena terpaksa melakukan ini. Dia tidak ingin Taehyung terjebak dengan permainan konyol Bangtan Sonyeondan, Jihwan serta Daehun. Sena juga memberikan pengertian pada Taehyung kalau kali ini mereka tidak bisa bermain-main lagi, karena kehadiran mutiara emas yang ada di perut Sena yang harus mereka jaga dengan baik. Sena terpaksa melakukan itu, meski sebenarnya dia sangat sedih melihat Taehyung yang tersiksa akibat kebimbangannya.

Sena merebahkan diri dengan tubuh menghadap ke atas. Dia cukup lelah hari ini karena sejak pagi hingga pukul enam sore dia berada di kampus untuk mengikuti serangkaian jadwal kuliahnya. Fakultas bisnis dengan fakultas teknik dan arsitektur jarak bangunannya sangat jauh. Meski berada di kampus yang sama, mereka tidak bisa saling bertemu setiap waktu. Apalagi Taehyung sudah memasuki semester lima di mana jadwal kuliahnya semakin padat. Mereka hanya bisa bertemu saat baru datang di kampus dan akan pulang ke apartemen.

Rutinitas itu membuat Sena sangat merindukan Taehyung. Jujur, dia lebih menghawatirkan kondisi Taehyung ketimbang kondisi calon anaknya. Dia mengeluh kalau mereka hanya bisa bertemu saat malam setelah pulang dari kampus dan pagi sebelum pergi ke kampus. Seharusnya saat ini mereka saling berinteraksi untuk mencurahkan rasa rindu masing-masing. Akan tetapi situasinya sekarang beda. Sena terpaksa mengacuhkan Taehyung sementara waktu sampai hari Halloween itu terlewati.

Mendengar suara langkah kaki, Sena langsung memejamkan matanya. Tak lama kemudian suara pintu yang terbuka terdengar, kemudian tertutup setelahnya. Sena berusaha membuat nafasnya terdengar seperti orang yang sedang tidur. Tiba-tiba saja ranjangnya bergoyang pelan, kemudian sebuah tangan mengusap rambutnya lembut.

“Kau benar, kenapa aku harus menyetujuinya. Aku bodoh. Mianhae.. aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu.”

Sengatan listrik dari bibirnya kembali terasa. Sena berusaha tetap tenang meski dia tidak bisa menghentikan aktifitas wajahnya yang memanas begitu saja. Terlebih di saat ranjang itu kembali bergoyang. Taehyung bangkit, berjalan memutari ranjang kemudian tidur di sisi ranjang yang kosong. Hari ini dia tidak peduli dengan tugas yang menumpuk. Otaknya sangat lelah, dia hanya butuh tidur untuk memulihkannya.

Sejam kemudian, Sena membuka mata. Tak terasa cairan bening memenuhi bola matanya. Dia menoleh ke sisi samping, di mana Taehyung sedang tidur membelakanginya dengan bentuk melengkung seperti embrio. Pemuda itu tidak memakai membalut tubuhnya dengan selimut, justru semua lembar selimut itu memenuhi tubuh Sena.

Dengan keadaan begini Taehyung masih bisa memedulikannya, mengorbankan diri demi seorang gadis yang telah membuatnya menderita selama ini. Apa yang dilakukan Taehyung, tidak pernah bisa dibalas dengan nilai yang sama oleh Sena. Sena selalu merasa kurang. Dia tidak pernah membahagiakan Taehyung sekali saja dengan dirinya sendiri. Selalu dan selalu saja dia menyusahkan Taehyung. Seakan-akan dia meminta yang banyak tapi hanya memberi sedikit. Sena merasa dirinya tidak berguna.

Sena mengusap setetes air mata yang bergerak turun menyusuri pipinya. Ia pun dengan hati-hati membalut tubuh Taehyung dengan selimut, setelahnya mengecup lama pipi pemuda itu.

“Gomawo. Mianhae. Jaljayo.”

**

Sejak matanya terbuka, Taehyung tidak menemukan Sena di sisinya. Tempat di sisinya kosong dan sudah terlihat rapi. Barang-barang seperti tas juga sudah tidak terlihat keberadaannya. Lalu saat keluar kamar, Taehyung hanya menemukan sepaket breakfast dengan sebuah kertas kecil di sampingnya.

Maaf aku berangkat duluan

-Sena-

Taehyung menghela napas. Dia teringat kejadian kemarin yang sempat membuat perasaannya sakit. Usai membuang pikiran negatifnya jauh-jauh, dia pun menikmati menu breakfast itu tanpa kehadiran penyemangat hidupnya yang biasanya selalu duduk di hadapannya dengan wajah berseri.

Taehyung menyalahkan dirinya sendiri.

**

Sena buru-buru mengangkat telepon dari nomor ibunya.

“Ne eomma?”

“Jangan lupa, besok waktunya periksa ke Baekhyun ahjussi ya.”

Sena mengangguk. “Ne eomma.”

“Sedang di mana kau sekarang?”

“Sena sedang di kampus. Ada apa eomma?”

“Tidak bersama Taehyung? Eomma ingin bicara dengannya.”

Sena bingung harus menjawab apa. Dia tidak ingin ibunya tahu situasi Taehyung dan dia sekarang. “Eomma bisa menelpon ke nomornya. Kami kan berbeda fakultas, eomma..”

“Ah.. iya, eomma baru ingat. Ya sudah, jaga diri baik-baik ya. Jangan sampai jatuh sakit apalagi kurang makan. Eomma tidak bisa menjagamu tiap waktu.”

Sena mengangguk sambil tersenyum. Namun senyumnya memudar ketika melihat bayangan pemuda sedang berdiri di luar gedung fakultas bisnis yang kini sedang menatapnya dengan bibir tersungging tipis.

“Sena? Kau masih di sana sayang?”

“Ah! Ne eomma. Tidak apa-apa eomma tidak bisa menjagaku. Sena bisa menjaga diri sendiri,” kedua matanya masih menatap pemuda itu yang ternyata tidak beranjak sama sekali dari tempatnya.

“Ya sudah, kalau begitu eomma tutup dulu ya. nanti eomma hubungi lagi.”

“Ne..”

KLIK.

Sena tidak tahan diperhatikan seperti itu oleh pemuda tersebut. Dia dengan enggan memalingkan pandangan dan berusaha focus dengan buku bisnis managemen yang ada di atas mejanya.

“Oh Sena.”

“Ne?”

“Dosen Kim mencarimu.”

Sena mengangguk. “Baiklah. Gomawo.”

Di saat dia membereskan semua bukunya, dia pun menyempatkan diri melihat seseorang di luar sana. Kenapa dia masih di sana? Gumamnya lalu memalingkan pandangan.

“Langitnya mendung, sepertinya akan hujan deras,” tak sengaja Sena mendengar perbincangan dua orang gadis yang duduk tepat di belakangnya.

Sena kembali menoleh ke luar jendela. Semoga dia cepat pergi.

Cepat-cepat gadis itu beranjak menemui dosen Kim, atau lebih tepatnya dosen Kim Joon Myeon.

**

Sena kembali menduduki ruang kelas itu setelah dua jam melakukan pertemuan pribadi dengan dosen bidang matematikanya. Dia menduduki kursi yang terletak di samping jendela karena kursi yang ditempatinya tadi sudah diduduki oleh mahasiswa lain.

Hujan masih belum reda, padahal sudah dua jam ini langit itu menguras air matanya. Karena dosen belum datang, Sena memalingkan pandangan ke luar. Dia terhenyak melihat pemuda tadi masih berdiri di sana. Pemuda itu basah kuyup dan masih sempat tersenyum!

Begitu dosen masuk, cepat-cepat Sena bangkit dan berlari keluar. “Maaf saya salah kelas,” ucapnya sebelum menghilang di balik pintu kelas.

Dia berlari secepat yang ia bisa. Sayang, sesuatu dalam perutnya membuat dia tidak bisa berlari dengan cepat. Terlebih dia kesusahan membawa barang-barang bawaannya. Sebelum sampai di lobi, dia menyempatkan diri menuju lokernya dan memasukkan tas serta barang bawaannya ke sana. Tak lupa dia menyambar satu mantelnya kemudian berlari keluar dari gedung fakultas.

Tak peduli dengan hujan yang sukses membasahi tubuhnya. Sesampai di hadapan pemuda itu, dia langsung melindungi kepala pemuda itu dengan mantel yang ia bawa.

“Bodoh! Kenapa kau berdiam di sini, huh?! Ini hujan! Kau bisa sakit!!” Sena harus berteriak kalau tidak ingin suaranya tersaingi dengan suara hujan.

Pemuda itu tersenyum. Wajahnya sudah benar-benar pucat. “Aku hanya ingin melihatmu, Sena.”

“Kau bisa melihatku saat di apartemen nanti!”

“Aku tidak bisa menahannya. Aku merindukanmu.”

Sena menghela napas gusar. “Cepat pulang Taehyung! Wajahmu sungguh pucat!”

Di saat akan berlari memasuki gedung fakultasnya lagi, Taehyung dengan cepat menarik tangannya hingga dia kembali menghadap Taehyung. Dalam sekejap mantel itu sudah menutupi kepala serta sebagian punggung Sena.

Taehyung tersenyum lembut. “Kembalilah ke dalam. Jangan memedulikan aku.”

“Taehyung!”

“Ganti pakaianmu dengan pakaian yang kering dan keringkan rambutmu. Ppali.”

Sena menatap Taehyung tidak mengerti. “Keurae! Terserah kau saja!”

Dengan kesal sekaligus menahan air mata, Sena berlari meninggalkan Taehyung detik itu juga. Dia tidak mengerti kenapa Taehyung bersikap keras kepala seperti itu. Dia ingin mengakhiri ini dan kembali untuk memeluk Taehyung. Tapi dia tidak bisa, dia harus tetap bertahan sampai hari Halloween itu terlewati.

**

Sena sampai di apartemen pukul tujuh malam. Dia mengabari Daena kalau dia baik-baik saja. Gadis itu segera memasuki kamar untuk meletakkan barang-barangnya. Tak sengaja dia mendengar suara bersin dari Taehyung yang kini berbaring di ranjang dengan tubuh terbalut dua selimut tebal.

Sena berdecak meski dalam hati dia sangat khawatir. Ia melangkah mendekat dan meletakkan telapak tangannya di dahi Taehyung. Panas, tubuh Taehyung panas sekali.

Di saat mata Taehyung terbuka, buru-buru Sena menarik tangannya.

“Kenapa keras kepala sekali?! Kalau kau sakit bagaimana dengan kuliahmu?! Kenapa kau tidak memikirkannya?! Ah kau ini!” Sena bersungut-sungut keluar dari kamar. Dia bahkan membanting pintu hingga Taehyung berjengit.

Taehyung bersin untuk kesekian kalinya. Aku memang pantas mendapatkan ini, Sena.

Tak lama kemudian Sena kembali dengan membawa baskom berisi air dingin serta sebuah kain. Dia mencelupkan kain itu ke dalam baskom, kemudian memerasnya lalu meletakkannya di atas dahi Taehyung. Sorot matanya sangat datar, dan dia sama sekali tidak membuka mulut.

Taehyung sangat sedih melihat perubahan Sena yang seperti ini. Dugaannya benar, Sena pasti marah di saat dia membahas pertaruhan konyol itu. Memangnya wanita mana yang mau dipisah dengan suaminya hanya gara-gara kalah taruhan? Mungkin Taehyung harus belajar dari peristiwa ini.

Taehyung memilih memejamkan mata saat Sena kembali meninggalkannya. Dia ingin berhenti memikirkan sebab dari situasi mereka sekarang. Dia sedang ingin mengistirahatkan tubuhnya yang drop akibat hujan-hujanan dan tidak makan siang serta malam.

Di dapur, tepatnya di hadapan pancuran air pencuci piringnya, Sena sedang menangis menumpahkan segala perasaan sakit akibat sikapnya yang keterlaluan tadi. Dia merasa bodoh. Dia semakin yakin kalau dia memanglah biang dari segala penderitaan Taehyung. Kalau saja bukan karena tekadnya, dia tidak akan mau membentak Taehyung seperti tadi. Biar bagaimana pun Taehyung adalah suaminya yang sedang sakit dan meminta perhatiannya.

“Kau seperti ini karenaku, kan? Mianhae.. hiks.. aku sangat bodoh kan? Aku egois kan? Hiks.. mianhae Taehyung… aku tidak bisa menepati janjiku untuk tidak marah padamu… aku.. aku hanya takut.. aku tidak bisa tanpamu..”

Begitu kembali ke kamar, Taehyung sudah terlelap. Dengan mata bengkak dan langkah gontai, Sena menghampiri Taehyung berada lalu memeluknya erat. Dia tidak peduli Taehyung akan bangun atau tidak. Yang penting dia bisa memeluk lelakinya.

“Taehyung… sekuat apapun aku mengabaikanmu, tetap saja aku tidak bisa. Maafkan sikapku tadi, sayang. Aku tidak akan mengabaikanmu lagi. Aku juga tidak peduli kalau kau terbangun dan melihatku memelukmu seperti ini.”

Tepat saat Sena mengangkat kepala melihat Taehyung, ternyata Taehyung sedang menatapnya dengan matanya yang lesu.

Sena tersenyum, senyuman yang sangat dirindukan Taehyung.

“Apa kepalamu pusing, sayang? Katakan bagian mana yang sakit.”

Taehyung tersenyum getir. “Ini sudah malam.. kau tidak tidur?”

Sena mengecup pipi Taehyung lembut. “Aku akan tidur setelah mengurusmu. Cha, aku akan memijat kepalamu.”

Sena melepas pelukannya kemudian beralih memijat pelipis Taehyung. Dia bergerak sangat hati-hati agar Taehyung tidak merasa kesakitan. Dia bahkan tersenyum manis saat Taehyung menatapnya dengan mata memerah.

Lima belas menit berlalu, Sena menyudahi pijatannya dan mengecup pipi Taehyung sekilas. “Sekarang tidurlah. Besok aku akan membuatkanmu makanan terenak.”

Sena mengatur letak selimut Taehyung. Sebelum dia pergi, tangan Taehyung berhasil menahannya.

“Ada apa Taehyung?”

“Kau mau kemana?” tanya Taehyung lirih.

“Aku harus mengerjakan tugas.”

Taehyung menggeleng. “Temani aku..”

Kali ini Sena tidak bisa menolak. Dia sudah berjanji untuk mengurus Taehyung. “Keurae.”

Begitu Sena sudah berbaring di tempatnya, Taehyung langsung membagi selimutnya kemudian memeluk gadis itu. dia langsung memejam dalam sekian detik. “Aku tidak bisa tidur kalau tidak di sisimu.”

Sena tersenyum. ia mengerti. Taehyung pasti akan bermimpi buruk jika kondisinya sedang demam tinggi. “Ne, malam ini aku milikmu.”

Taehyung tersenyum. “Aku akan membantumu mengerjakan tugas kuliah setelah aku sembuh.”

“Sudahlah jangan banyak bicara. Cepat tidur.”

“Ne eomma.”

Sena tertawa kemudian mengusap pelan rambut Taehyung. Wajah pemuda itu sedikit tenggelam dalam tebalnya selimut. Dia bisa melihat kalau wajah itu sangatlah manis seperti anak kecil meski terlihat pucat.

Sena merasakan tubuhnya sangat panas, mungkin efek dari konduksi yang dilakukan tubuh Taehyung. Tapi baginya ini tak seberapa, dia yakin Taehyung merasa lebih panas lagi dengan kedua tangan dan kaki yang dingin sedingin es.

Taehyung.. semua ini pasti berbeda jika bukan kau orangnya. Kau adalah orang pertama dan aku yakin adalah orang terakhir yang selalu ada di sisiku. Mianhae Taehyung-ah.. aku tidak bisa melakukan apapun selain menangis dan memelukmu seperti ini.

END

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s