High School Love On ^3^


Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : Schoollife, romance, teen, family

Rating : Teen

Length : Chaptered

Cast : Kim Tae Hyung (BTS), Kim Cheon Sa (OC)

.

1 | 2

Di saat terbangun, apa yang Cheonsa lihat pertama kali adalah senyuman yang berasal dari wajah seorang namja. Dia sempat terkejut karena belum terbiasa dengan itu semua. Namun di saat sudah menyadarinya, dia balas tersenyum kemudian bangkit.

“Bagaimana tidurmu?”

Cheonsa tersenyum kemudian menguap lebar. Karena dia tidak menutup mulutnya, Taehyung lah yang melakukan hal itu.

“Tidak baik menguap seperti itu,” tegur Taehyung sembari menurunkan tangannya lagi. Dia tertawa melihat ekspresi malu Cheonsa.

Di saat tertawa itu, ia tidak sadar kalau Cheonsa diam karena tertegun. Gadis itu memandanginya intens, tak luput dengan pujian-pujian yang dilontarkan dari perasaannya. Ya.. gadis itu sangat menyukai tawa Taehyung.

“Taehyung-ah..”

“Eum? Ne?”

Cheonsa mengusap pipi Taehyung dan CHUP!

“Gomawo.”

Taehyung memaku. Dia hanya bisa memandangi Cheonsa dengan sorot matanya yang berubah lembut. “Untuk apa?”

“Tentu saja menjagaku semalaman disini. Ah.. bagaimana tidurmu?”

Taehyung mengangguk kecil. “Seperti biasa.”

“Kau tidur dimana?” Cheonsa menatap sekeliling dan tidak menemukan bekas tempat yang ditiduri Taehyung.

Taehyung tersenyum. “Sebenarnya aku baru tidur jam 4.”

Cheonsa membelalak. “Wae? Sekarang jam… 6?! Yaa Taehyung, kau hanya tidur dua jam. Kepalamu akan pusing nantinya.”

Taehyung terkekeh. “Tapi kurasa tidak.”

Cheonsa meletakkan punggung tangannya di dahi Taehyung. “Oh.. tidak panas… yaa! kenapa tidur segitu paginya? Tak mengapa kalau hari ini minggu, tapi sayangnya sekarang hari jum’at Taehyung-ah..”

“Bagaimana aku bisa tidur kalau kau ada di sampingku?”

Cheonsa kembali membelalak. “J-j-jadi.. semalam.. k-k-kita..”

Taehyung mengusap rambut Cheonsa sayang. “Mianhae. Sungguh aku tidak melakukan apapun. Aku berbaring di sisi yang jauh darimu.”

Cheonsa mengerjap. “Tapi.. itu sama saja kan..”

“Arra. Mianhae..”

Cheonsa mulai tidak enak melihat ekspresi Taehyung yang sepertinya merasa sangat bersalah. Gadis itu berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan.

“Kau sudah sarapan?”

Taehyung menggeleng cepat. “Jangan makan disini. Kita lebih baik makan di luar.”

Tanpa harus bertanya, Cheonsa sudah tahu sendiri jawabannya. Gadis itu hanya tersenyum agar tidak membuat Taehyung lebih cemas lagi.

**

Mereka berdua sukses keluar dari rumah tanpa terlihat oleh ayah Taehyung. Keduanya berjalan berdampingan menyusuri trotoar menuju sebuah restoran yang menyediakan menu sarapan. Kali ini mereka tidak lagi saling diam. Meski ada beberapa siswa yang berasal dari sekolah mereka berkeliaran di sekitar sini, namun Taehyung dan Cheonsa tidak menjauhi satu sama lain. Keduanya sepakat untuk meresmikan hubungan mereka di depan semua siswa.

Sesampai di restoran SeongHo, mereka disambut dengan ramah oleh ahjumma pemilik restoran. Keduanya digiring menuju sebuah meja yang baru saja dibersihkan.

“Pesan apa?”

Cheonsa menoleh pada Taehyung. “Kau mau makan apa?”

“Terserah,” balas Taehyung malas. Cheonsa tersenyum, ia pun kembali memandang pada ahjumma restoran.

“Dua porsi bibimbap dan dua gelas susu hangat.”

“Bibimbap dan susu hangat. Keurom, kidaryeo.”

“Ne,” balas Cheonsa sembari tersenyum ramah.

Ketika sang ahjumma menghilang di balik dinding, Cheonsa mengalihkan perhatiannya pada Taehyung dengan tangan menopang dagu.

“Pasti mengantuk,” tebak Cheonsa yang tepat sasaran.

Taehyung tersenyum miring lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja. “Ini buruk.”

Cheonsa meringis sambil mengusap rambut Taehyung. “Seharusnya kau tidak menahan kantukmu semalam. Lagipula kalau kau tidur di sampingku, kemungkinan kau menghancurkanku kecil. Kau itu kalau tidur seperti mayat, arra?”

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Aku takut aku akan seperti dia.”

Cheonsa menggeleng. “Tidak semua teori genetic itu nyata. Ayahmu memang seperti itu, tapi belum tentu kau juga, kan? Semua itu berasal dari pribadi masing-masing.”

“Lain kali, kalau kau mengantuk lagi seperti kemarin, lebih baik kita menginap di hotel.”

Cheonsa membelalak. “Itu bukan lebih baik, Taehyung-ah..”

Taehyung langsung mengangkat kepala. “Wae? Bukankah sebelumnya kau bilang belum tentu aku akan meniru dia? Tapi kenapa sekarang kau sendiri yang tidak memercayaiku? Apa perlu aku ceritakan apa yang kulakukan semalaman kemarin? Apakah aku juga harus menceritakan bagaimana perasaanku saat berbaring di sampingmu? Itu semua membuatku gugup, arra? Mengertilah Cheonsa. Aku tidak akan berbuat hal mengerikan itu padamu. Justru dengan tidak menginap di rumahku, kau lebih aman..”

Ini pertama kalinya Taehyung berbicara panjang lebar. Dan perkataan yang dilontarkanpun sangat sulit untuk dicerna secara langsung. Apakah mungkin karena ketidakserasian golongan darah mereka? Taehyung si AB yang tidak romantic dan Cheonsa si O yang sangat romantic. Jalan pikiran Taehyung lebih sulit dipahami ketimbang rumus-rumus trigonometri. Dan apa yang dilakukan Taehyung selalu di luar dugaan. Terkadang, Cheonsa tidak bisa mengerti pemuda itu.

“Ah.. mianhae. Maksudku.. orang-orang akan berpikiran negative jika kita pergi ke hotel berdua. Terlebih memakai seragam sekolah. Aku hanya tidak ingin kau menjadi bahan gunjingan orang. Aku tidak pernah tidak memercayaimu, Taehyung-ah..”

Taehyung menghela napas berat. Dia kembali menyembunyikan wajahnya diantara tumpukkan lengan. “Nado mianhae.”

Cheonsa tersenyum tipis. Tak lama kemudian ahjumma restoran datang. Cheonsa menggoyangkan tubuh Taehyung agar mengangkat kepala dan menerima sajian menu yang mereka pesan. Bau bibimbap tercium sedap, membuat mata mengantuk Taehyung tergantikan dengan teriakan-teriakan cacingnya yang ganas. Begitu sang ahjumma pergi, dia langsung meraih sumpit.

“Selamat ma-” Cheonsa tak melanjutkan ucapannya ketika melihat Taehyung sudah melahap makanannya.  Bahkan di ujung bibirnya terdapat sebutir nasi yang menempel di sana. Cheonsa menggeleng pelan. Ia mengambil nasi itu, membuangnya dan mengusap ujung bibir Taehyung.

“Makanlah yang tenang. Kau ini seperti anak kecil,” omel Cheonsa saat ditatap oleh Taehyung.

Sedangkan Taehyung mengerucutkan bibirnya. Ia pun melanjutkan makannya dengan tenang.

“Dasar kau ini..” gumam Cheonsa sambil tersenyum. Dia juga memulai makannya.

**

Mereka pun sampai di sekolah. Ada yang berbeda sekarang. Taehyung yang biasanya hanya berjalan dalam diam, sekarang bahkan tidak hanya bicara saja, tapi tertawa juga. Dia asyik berbincang dengan Cheonsa dan merespon guyonan Cheonsa dengan tawa yang cukup menakutkan akibat suaranya yang berat. Mereka berdua tak peduli saat semua pasang mata menatapnya aneh.

“Mereka berpacaran? Jeongmal?”

Seorang gadis berambut pendek dengan tubuh S-line mengangkat bahu. “Molla! Kenapa kau malah bertanya padaku?!”

“Dia merebut incaranmu, kau tidak marah?”

Gadis itu menggeram marah. Dia menendang tong sampah di dekatnya kemudian beranjak pergi.

Cheonsa melambai pada Taehyung saat mereka akan berpisah. Cheonsa memasuki kelasnya sementara Taehyung masih harus berjalan sebentar menuju kelasnya.

Ekspresi wajah Cheonsa berubah datar ketika berada di dalam kelas. Dia meletakkan tas di bawah meja, mengeluarkan beberapa buku yang ia butuhkan dan mulai tenggelam dalam aktifitasnya. Nanti di jam terakhir ada ulangan kimia, dia harus mengulang materi kalau tidak mau nilainya jelek.

“Apa?! Tinggal bersama?!” pekik seorang gadis yang langsung menggemparkan seisi kelas, termasuk salah satu diantaranya adalah Cheonsa yang langsung memasang kupingnya dengan baik.

“Ne! Tadi saat berangkat sekolah aku melihat mereka keluar bersama dari sebuah rumah! Kalian tahu itu rumah siapa?!”

“Rumah siapa? Rumah siapa?”

Jantung Cheonsa berdebar ikut penasaran dengan siapa yang mereka perbincangkan.

“Kim. Tae. Hyung.”

DEG!

“MWO?! Kim Taehyung?! Kim Taehyung kelas 2-4?!”

“Ne! Kim Taehyung kelas 2-4. Kalian tahu, ayah Taehyung adalah seseorang yang mempermainkan wanita! Aku sering melihat ayahnya datang dan pergi bersama wanita yang berbeda tiap malam. Aku yakin seyakin-yakinnya! Mereka pasti melakukan itu di tempat yang sama.”

Wajah Cheonsa memanas. Tidak! itu tidak benar! Mereka yang dimaksud adalah dia dan Taehyung. Ya, mereka keluar dari rumah Taehyung pagi ini. Tapi mereka tidak sedang tinggal bersama, apalagi melakukan hal yang hina itu.

Tanpa sadar Cheonsa sudah mengepalkan tangannya.

“Siapa gadisnya? Siapa?”

“Aku sempat mengabadikan gambar mereka. Dan wajah si gadis itu terlihat jelas sekali! Kalian pasti akan terkejut melihatnya.”

“OMO!”

Air mata Cheonsa jatuh saat itu juga.

**

Taehyung menghampiri bangkunya di mana di sana sudah berkumpul keenam anggota Bangtan Sonyeondan. Mereka sedang berbicara hal yang seru mungkin sampai-sampai mereka tertawa terpingkal-pingkal begitu Taehyung datang.

“Hahaha, itu lucu sekali, Kook!” ucap Jimin dengan mata terpejam karena tertawa.

“Bodoh! Kenapa kalian malah tertawa, sih?!” omel Jungkook yang ternyata berekspresi 180 derajat dari member yang lain.

“Kalian sedang bicara apa?” tanya Taehyung dengan dahi berkerut.

Keenam pemuda itu tersentak melihat kehadiran Taehyung. Mereka benar-benar tidak sadar kalau Taehyung sudah ada di antara mereka.

“Yaa! sejak kapan kau disitu?” tanya J-hope sambil menunjuk bangku Taehyung.

“Sejak kalian tertawa,” balas Taehyung malas.

“Oh?! Taehyung-ah..”

Taehyung langsung menoleh pada bigbrother Bangtan Sonyeondan, Kim Seok Jin. Dia mengernyit melihat ekspresi blank Seokjin saat memandang sesuatu di layar ponselnya.

“Apa itu.. omo!” Suga langsung menutup mulutnya.

“Apa apa apa?” Namjoon bergegas menghampiri mereka untuk melihat apa yang mereka lihat. Ekspresinya langsung berubah sama seperti dua orang sebelumnya.

“Yaa hyung! Kau curang! Kau membawa ponsel!” kicau Jungkook tak terima saat menyadari apa yang dipegang Seokjin. Namun, lagaknya Seokjin tidak peduli dengan teriakan Jungkook. Dia, Suga dan Namjoon sama-sama mengalihkan pandangan pada Taehyung.

“Mwo?”

“Jangan bilang ini benar, Tae,” ucap Suga dengan suara lirih namun sukses membuat jantung Taehyung berpacu cepat.

“Kau bisa dalam situasi yang serius,” timpal Namjoon pun dengan wajah yang sama seriusnya dengan Suga.

“Yaa yaa! kalian bicara apa?!” Taehyung bergegas bangkit dan langsung merebut ponsel Seokjin.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

Saat itu juga Taehyung menjatuhkan ponsel Seokjin dan berlari keluar dari kelas. Sesampai di ambang pintu kelas 2-3, matanya membelalak melihat Cheonsa yang sedang menangis di saat hampir semua siswa di kelas itu melemparkan sesuatu yang tak pantas ke arahnya seperti telur, kotak susu dan bahkan tepung. Taehyung awalnya tidak tahu dari mana para siswa itu mendapatkan bahan-bahan seperti itu. Namun akhirnya dia sadar bahwa hari jum’at adalah hari khusus keterampilan membuat kue.

Tanpa banyak pikir lagi, Taehyung merangsek ke dalam kelas dan langsung melindungi Cheonsa dengan tubuhnya. Dia hanya bisa meringis ketika beberapa telur langsung pecah mengenai kepalanya.

Beda lagi dengan Cheonsa yang tidak merasakan lemparan-lemparan itu. Dia perlahan mengangkat kepala dan seketika itu juga terkejut. Taehyung sedang tersenyum manis padanya dan sesekali mendesis di saat sebuah telur pecah di kepalanya.

“Taehyung-ah..”

Taehyung tersenyum.

“Ah.. ternyata kekasihnya datang,” ucap seorang siswa yang sontak membuat kegiatan pelemparan itu berakhir.

“Bukannya itu bagus? Bagaimana kalau kita siram mereka dengan air es?”

Cheonsa menggeleng cepat. “Andwae..”

Terlambat, dalam sekejap sudah ada dua orang siswa yang membawa ember berisi air dingin yang siap menumpahkan air itu ke tubuh mereka. Cheonsa menggeleng pelan pada salah seorang diantara mereka. namun orang itu justru tak peduli dan malah menyeringai.

“ANDWAE!!”

BYUUR!

BUG!

Salah seorang yang membawa ember tadi jatuh mengenai meja di saat seseorang memukul kepalanya dari belakang. Kini suasana di kelas itu mencekam. Para siswa yang melempari Taehyung dan Cheonsa terdiam takut memandangi keenam pemuda yang tiba-tiba masuk dengan wajah garang. Seorang pemuda yang lebih dikenal dengan nama Jungkook, mengatur napasnya yang menderu saat berhasil menjatuhkan salah seorang yang berani menyiram temannya.

BUG!

Tanpa ampun, satu siswa lagi yang membawa ember juga disikat habis oleh Jungkook. Sungguh, siapapun yang melihatnya pasti akan takut. Lagi pula siapa yang tidak mengenal Jeon Jungkook, si termuda di Bangtan Sonyeondan dan termasuk seorang killer. Keahliannya dalam berbagai ilmu beladiri membuatnya sangat kuat dan tidak terkalahkan. Bahkan ia pernah menghabisi limapuluh orang sendirian.

“Taehyung-ah..” Cheonsa mengangkat kepala melihat Taehyung yang basah kuyup akibat diguyur air es tadi. Tubuhnya menggigil dan giginya bergemerutuk.

“Eoh.. C-C-Cheonsa..”

“Gwaenchanha?”

Taehyung memaksakan bibir bergetarnya untuk tersenyum. “Eum..”

“Kalian cepat pergilah dari sini,” bisik Namjoon dengan mata menyorot tajam pada siswa-siswi di kelas Cheonsa.

Tanpa mengelak, Taehyung melepaskan pelukannya kemudian mengajak Cheonsa berlari meninggalkan kelas itu. Meski tubuhnya sangat dingin, meski kepalanya terasa pusing, Taehyung tetap memimpin Cheonsa berlari. Entah akan kemana mereka, yang pasti mereka ingin menjauh dari kelas itu. Sampai akhirnya mereka sampai di suatu tempat. Inilah satu-satunya tempat yang aman bagi Taehyung. Begitu mereka masuk, dia langsung menutup pintunya.

Mereka tak sadar kalau seseorang melihat keduanya masuk ruangan itu. Dengan seringaian mematikan di wajahnya, orang itu menggembok ruangan itu dengan menggunakan sebatang ranting. Diam-diam dia pergi dari sana dengan perasaan senang.

Ruangan itu adalah sebuah gudang, namun gudang yang masih baru digunakan. Barang-barang yang terkumpul di sini kebanyakan adalah barang-barang untuk ruang kesehatan sekolah, seperti selimut yang sudah berdebu, ranjang pasien yang sudah tidak ada rodanya dan beberapa lainnya.

Taehyung langsung menjatuhkan tubuhnya dengan punggung bersandar pada dinding. Kondisinya sangat kacau, selain basah kuyup, rambutnya juga lengket berkat tepung, telur dan susu yang telah bercampur dengan air.

Wajahnya sudah sangat pucat membuat Cheonsa cemas. Dia langsung mengambil dua buah selimut, membersihkannya cepat dan langsung membalut tubuh Taehyung dengan itu. Akan tetapi dia lebih dulu melepaskan blazer sekolah Taehyung.

“Semua akan baik-baik saja, Taehyung-ah.. bertahanlah,” ucap Cheonsa sambil membersihkan rambut Taehyung dengan satu selimut tipis di tangannya. Dia sangat-sangat cemas, apalagi saat menyentuh kening Taehyung, dia merasakan suatu panas yang pasti bisa membakar sesuatu. Dia bingung harus bagaimana. Di tempat ini tidak ada penghangat ruangan, apalagi air untuk mengompres Taehyung. Akhirnya dia memilih untuk pergi ke luar. Namun..

“Astaga! Siapa yang tega mengunci pintunya?!!” pekiknya sambil menggedor-gedor pintu. “Yaa! siapapun disana tolong buka pintunya!!”

“Cheon-Cheonsa..”

Cheonsa langsung menoleh ke asal suara. Dia terpaksa kembali ke sisi pemuda itu dengan tangis yang kembali pecah.

Taehyung menatapnya dengan mata lesu. “Uljima..”

Cheonsa tidak bisa menghentikan tangisannya jika Taehyung bicara seperti itu. Perlahan dia memeluk pemuda itu dengan erat.

Taehyung semakin merasa panas di tubuhnya, tapi dia jauh lebih baik saat Cheonsa memeluknya seperti ini. Matanya memejam lalu mengecup puncak kepala Cheonsa dengan bibir bergetar.

“Uljima.. uljima.. uljima..”

Cheonsa mengangkat kepala kemudian mengecup pipi Taehyung cukup lama. “Tidurlah Taehyung.. tidurlah saja.”

“Aku akan membangunkanmu saat pintunya terbuka,” sambung Cheonsa dan kembali meletakkan kepalanya di bahu Taehyung yang panas.

Taehyung tersenyum. Dia yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa pusing di kepala, segera memejamkan mata dan terlelap dengan mudah. Dia bahkan tidak mendengar lagi suara Cheonsa yang sedang menangis sambil terus mengecup pipinya.

TBC

Iklan

One comment

  1. uri taehyung-ah T.T yaampun kesian bgt yah mereka, bru aja mau resmiin hubungan di dpn semua org, udah ada aja cobaannya:””) tp mrka pasangan yg sweet bgt, susah senang bersama ya ampun taehyung pria idaman bgt:* ffnya makin keren aja thor, fighting yah nulisnya, next chap jgn kelamaan^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s