Our Tomorrow [Pentalogi of Definition of Love]


 

Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : romance, schoollife, marriage life, family, brothership, friendship

Rating : Teen (High school)

Length : Chaptered

Cast : Oh Sehun (EXO), Kim Jongra (OC), Kim Jongin a.k.a Kai (EXO), others cameo

Main Title : Definition of Love

Sub title : Our Tomorrow

 

 

7 bulan kemudian..

Dok dok dok

“Nona muda, sarapan sudah siap,” seru seorang maid yang kini sedang berdiri di ambang pintu sebuah kamar.

Seorang gadis yang dipanggil nona muda, menoleh dan tersenyum. “Arraseo ahjumma. Aku akan kesana sebentar lagi.”

Maid itu terlihat ragu. “Apakah anda butuh bantuan nona?”

Gadis berambut platina panjang itu menggeleng. “Aniya. Aku bisa sendiri.”

“Ah.. arraseummida. Jika anda butuh bantuan, anda bisa panggil saya.”

Dia mengangguk. Detik berikutnya si maid pergi meninggalkan ruangan itu. si gadis yang sedang duduk menghadap sebuah meja itu, kembali melakukan kegiatan sebelumnya yaitu mengerjakan soal-soal statistika dari sebuah buku diktat yang dibawakan kakaknya kemarin.

Sedang asik menghafal rumus dalam pikiran, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di lehernya. Tangan itu adalah milik namja yang berdiri di belakangnya, seorang namja yang mirip dengannya bernama Kim Jong In.

“Ayo sarapan, dongsaengie. Kau tidak akan bisa berpikir kalau tidak makan.”

Jongra mengangkat kepalanya kemudian tersenyum. “Annyeong oppa. Kau tidak sekolah eoh?”

Pletak!

Jongra meringis kecil sambil mengusap kepalanya.

“Sekarang hari minggu. Kau menyuruhku sekolah sekarang?”

Bibir Jongra mengerucut. “Appo-yo.”

Kai mengusap dahinya sayang. “Mianhae. Kaja kita sarapan.”

Jongra meletakkan pena dan menutup bukunya, kemudian Kai menggerakkan kursi roda yang dipakai Jongra menuju ruang makan. Di sana mereka sudah ditunggu dengan banyaknya makanan yang disuguhkan oleh para koki yang bekerja di sini.

“Ah.. ada jajangmyeon juga!” pekik Jongra saat melihat satu mangkuk berisi mie hitam favoritnya.

“Ne, para ahjumma special menyiapkannya untukmu.”

Jongra bertepuk tangan tanpa suara seperti anak kecil. Kai yang melihatnya hanya bisa tersenyum sendu.

Sekarang mereka berdua makan di meja itu menikmati semua makanan yang dihidangkan. Jongra juga meminta para ahjumma untuk bergabung makan, tapi mereka menolak. Saat dia akan mengambil makanan yang letaknya jauh, Kai pasti akan mendorong wadah makanan itu mendekat agar Jongra bisa menjangkaunya. Ketika sekitar bibirnya belepotan dengan saus, Kai dengan sayang akan mengusapnya menggunakan ibu jari.

Selesai makan, Kai mendorong kursi roda itu menuju halaman depan rumah.

“Sekarang musim gugur ya, oppa?”

“Eoh.”

“Pohon itu kasihan. Semua daun meninggalkannya.”

Kai tersenyum. “Aniya, daun-daun itu tidak meninggalkan pohonnya.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Bukan daun yang ingin meninggalkan pohon, tapi pohon yang menyuruh mereka meninggalkannya.”

“Jinjja?”

“Mereka harus berpisah selama musim gugur. Di saat musim semi tiba, mereka pasti akan bersama-sama lagi,” jawab Kai sambil berlutut di hadapan Jongra.

“Lama sekali..”

Kai menepuk pelan poni Jongra. “Pohon punya alasan. Dia tidak ingin daun tersiksa akibat panas yang terjadi selama musim gugur. Demi kebaikan daun, pohon rela berpisah dengannya agar mereka bisa bertemu lagi di saat yang lebih baik. Semua perpisahan pasti ada alasannya, Jongra.”

Termasuk kenapa kami memisahkan kalian berdua seperti ini.

Jongra memandang pohon itu lagi, kini dengan senyum mengembang. “Pasti mereka akan saling merindukan. Dan ketika mereka bertemu kembali, rindu itu pasti akan terbalaskan. Hebat, pohon bisa merelakan perasaannya demi keadaan daun.”

Kai hanya tersenyum sendu.

**

Seorang maid sedang membersihkan kamar seseorang yang dipenuhi dengan tema mobil. Kamar itu adalah milik seorang namja, yang sekarang sedang ada di ruang televise bermain mobil-mobilan. Di kamar tersebut, keadaannya sangat kacau. Bantal berceceran kesana kemari, selimut berantakan di atas ranjang, buku tulis berserakan di atas karpet, dinding ruangan itu dipenuhi dengan coretan spidol yang mengukir gambar-gambar serta tulisan Hangeul yang tidak jelas.

Sementara pemilik kamar tidak peduli. Bibirnya asik menggumamkan suara deru mobil mainannya. Apa yang ia lakukan sama sekali kontras dengan tubuhnya. Dia adalah namja berusia 18 tahun yang memiliki badan besar, tinggi 183 cm, suara berat serta wajah yang tegas. Ia memakai kemeja kotak-kotak merah dengan bagian kerah yang dikancing, celana panjang selutut berwarna hitam, serta kacamata harry potter yang bertengger di atas hidungnya. Dia adalah Oh Sehun, si pewaris perusahaan internasional.

Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang dari arah belakang. Wanita itu berjalan perlahan-lahan supaya Sehun tidak menyadari kehadirannya. Di saat itulah, dia berusaha menahan air mata. Dia tidak menyangka kalau anaknya akan menderita seperti sekarang ini.

“Chagiya..”

Pemuda itu terkesiap dan langsung menoleh. Matanya memancarkan sinar bahagia ketika melihat sang ibu berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum manis.

“Eomma!” dia langsung berlari ke pelukan wanita tersebut.

Rasanya sang ibu bisa tenggelam kapan saja ketika Sehun memeluknya dengan begitu erat. Ya, bahkan tinggi Sehun sudah jauh melampauinya.

“Sehun kangen eomma!!”

Nyonya Oh mengelus punggung anaknya dengan lembut. “Eomma juga, chagiya. Sehun sudah mandi?”

Sehun mengangguk semangat. “Sudah. Sehun sudah mandi. Sehun harum kan, eomma?”

Nyonyah Oh tertawa kecil sebelum menyudahi pelukannya. “Sehun haruuum sekali. Ah, anak eomma tampannya.”

Sehun menikmati belaian tangan sang ibu dipipinya dengan ekspresi semanis mungkin. “Bbuing bbuing eomma mumumu.”

Nyonya Oh mencubit pipi Sehun kemudian tertawa. “Kyeopta chagiya..”

“Eomma, Sehun mau bubble tea.”

“Sekarang?”

Sehun mengangguk cepat. “Eum! Sehun mau rasa coklat. Sehun maunya beli sama eomma.”

Nyonya Oh mengangguk. “Boleh chagiya. Kaja.”

**

Pukul 11.00 KST tepatnya, Kai mengabulkan permintaan Jongra untuk jalan-jalan di sekitar rumah. Kai tidak tega membiarkan adiknya di rumah terus menerus sejak pertama kali gadis itu dipindah kemari.

“Oppa?”

“Eum?”

“Aku ingin bertanya satu hal padamu.”

“Apa itu? katakan saja.”

Jongra menyentuh dada kirinya yang selalu merasa ada sebuah desiran aneh. “Oppa, apa aku punya namjachingu?”

Wajah Kai langsung berubah pucat. Beruntung Jongra tidak bisa melihat ekspresi itu. Kai berdehem untuk menenangkan dirinya. “Aniya. Wae?”

Jongra masih merasakan sesak dibagian yang sedang ia sentuh itu. “Disini sesak sekali, oppa. Jantungku berdetak sangat cepat.”

Kai menggigit bibir bagian bawahnya karena bingung harus melakukan apa. “Aku juga tidak tahu saengi. Bagaimana kalau kita beli bubble tea?”

“Ne.”

Kai pun segera mendorong kursi roda itu mendekati kedai bubble tea yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Setelah mendapatkan 2 cup choco bubble tea, Kai menemani Jongra untuk pergi ke perpustakaan kota. Jongra bilang dia ingin meminjam buku dari sana.

Di tikungan yang mereka lalui, tiba-tiba saja keduanya menemukan pemandangan yang tidak mengenakkan. Ada 4 orang disana, dua wanita paruh baya, anak laki-laki berusia 7 tahun serta seorang pemuda yang menangis sambil duduk di trotoar.

Salah seorang wanita sedang berteriak sambil melontarkan makian pada pemuda yang sedang menangis itu.

“Bubble tea Sehun, eomma!!! Huwaaa!!”

Jongra yang tidak tega segera mendekat tanpa meminta bantuan Kai untuk mendorong kursi rodanya. Dia sampai di hadapan pemuda itu ketika ibu dan anak berusia 7 tahun itu beranjak pergi.

Kai berdiri di samping Jongra, menatap wanita yang ada di hadapannya.

Jongra mengulurkan cup bubble teanya. “Ini untukmu.”

Tangis pemuda itu berhenti. Matanya terlihat bersinar saat melihat cup choco bubble tea yang masih utuh. Senyumnya pun merekah. Dengan segera ia mengambil cup itu dari tangan Jongra.

“Gomawo noona.”

Jongra menggeleng. “Aniya. Panggil aku Jongra saja.”

Sehun membulatkan matanya. “Jongra? Hehe, Jongra.”

Jongra tersenyum kecil melihat tingkah pemuda itu. “Lalu namamu siapa?”

Dengan semangat Sehun berjongkok di hadapan Jongra sambil menggenggam cup bubble tea menggunakan kedua tangan. “Oh Sehun. Namaku Sehun.”

“Sehun? Nama yang bagus,” ucap Jongra sambil tersenyum.

“Gomawo-yo Jongra..” balas Sehun sebelum menyeruput bubble tea barunya.

Melihat keduanya saling berinteraksi, Nyonya Oh dan Kai hanya bisa bungkam. Jongra terlihat sangat tertarik dengan segala tingkah kekanakan Sehun. Ia bahkan dengan tenang mendengarkan cerita Sehun tentang mobil-mobilan kesayangannya.

“Jongra boleh pinjam mobil Sehun, tidak?”

Sehun dengan cepat merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebuah mobil-mobilan kecil berwarna hitam. “Boleh. Ini Sehun pinjamkan.”

Jongra mengambil benda itu. “Gomawo Sehun.”

Tiba-tiba Sehun tak sengaja melihat interaksi antar sepasang kekasih dimana si gadis sedang mengelus rambut si laki-laki ketika gadis itu memberikan sesuatu. Entah karena dorongan apa, Sehun merundukkan kepalanya di hadapan Jongra.

“Ada apa Sehun?”

“Pukpuk.”

“Eoh?”

Dengan gemas Sehun meraih tangan Jongra lalu ia letakkan di atas kepalanya. “Pukpuk.”

Jongra yang mengerti maksudnya langsung tertawa. “Keurae Oh Sehun.”

Sehun sangat menikmati belaian itu sampai-sampai dia memejamkan mata. Keduanya sama-sama tidak tahu kalau Nyonya Oh mulai menitikkan air mata.

Setelah puas mendapat belaian itu, Sehun bangkit lalu menggandeng eommanya ke hadapan Jongra.

“Jongra, ini eomma Sehun. Cantik kan?”

Jongra tersenyum kemudian membungkuk sopan. “Annyeonghaseyo ahjumma.”

Nyonya Oh menyeka air matanya dengan cepat. “Annyeonghaseyo Jongra.”

Jongra menoleh ke belakang lalu menyeret tangan Kai untuk mendekat. “Sehun, ahjumma, perkenalkan ini oppa Jongra. Namanya Kim Jongin.”

Kai membungkuk sopan. “Annyeonghaseyo.

“Annyeonghaseyo hyung. Aku Sehun.”

Kai hanya tersenyum.

“Ah Sehun, sebentar lagi waktunya makan siang. Kaja kita pulang.”

“Ah eomma… Sehun masih mau sama Jongra.”

“Aniya Sehun.. kau pulang saja,”bujuk Jongra.

Sehun menggeleng cepat. “Sehun mau main sama Jongra!”

“Sehun.. jangan berteriak seperti itu,” tegur Jongra lembut sambil meraih tangan Sehun. “Kita pasti akan bertemu lagi arrachi? Sekarang Sehun pulang saja. Jongra juga mau pulang.”

Sehun mengerucutkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca. “Pokoknya nanti ketemu lagi.”

Jongra mengangguk pasti. “Ne, nanti kita ketemu lagi.”

“Janji?”

Jongra mengelus lembut tangan Sehun. “Janji.”

Sehun tersenyum senang. “Ne. eomma, ayo pulang. Pai pai Jongra! Pai pai hyung! Nanti ketemu lagi, ya!”

Dengan langkah riang Sehun menggandeng ibunya pergi dari hadapan Jongra dan Kai.

“Oppa.”

“Eum?”

“Sehun lucu ya? dia manis sekali.”

Kai mengusap rambut adiknya perlahan. “Begitukah? Kau menyukainya?”

Jongra mengangguk semangat. “Dia juga tampan. Mungkin kalau mentalnya tidak seperti itu dia pasti keren. Tapi, sekarang dia juga kelihatan keren.”

Kai tersenyum tipis. “Eoh. kaja kita pulang.”

**

Semenjak bertemu dengan Sehun, Jongra tak henti-hentinya membayangkan wajah pemuda itu. Dia selalu tersenyum manis saat melihat mobil-mobilan hitam pemberian Sehun. Bahkan dia juga memainkan mobil itu seperti anak kecil.

Dok dok dok

“Nona?”

Dengan malas Jongra menoleh. “Ne?”

Maid yang tadi mengetuk pintu, langsung berjalan masuk sembari membawa sebuah kotak. “Ini untuk anda.”

Jongra mengernyit. “Untukku? dari siapa?”

Tanpa menjawab, maid itu membungkuk lalu pergi. Usai pintu tertutup, Jongra memandang kotak itu dengan aneh.

Dengan melupakan mobil mainan itu, Jongra segera membuka tutup kado berpita hitam itu. dia semakin mengernyit ketika melihat sebuah pigura kecil dengan foto dua orang gadis. Ia mengambil pigura itu untuk melihat foto dari dekat.

Jongra tahu kalau gadis dengan kulit agak gelap itu adalah dirinya, lalu gadis berkulit putih dengan mata sipit itu Jongra sama sekali tak mengenalinya. Sebelum mendapat jawaban, Jongra mengambil sebuah note kecil yang ada di dalam kotak. Ketika dibuka, note itu dipenuhi dengan tulisannya serta tulisan orang asing. Jongra membuka tiap halamannya hingga menemukan dua nama di halaman akhir note.

Kim Jongra & Yoon Seoji

“Yoon Seoji?” matanya menerawang sebentar untuk mengingat pemilik nama itu. lima menit kemudian dia mendesah.

“Apa aku mengenalnya?” gumamnya sebelum membuka halaman depan lagi.

1 September

Yoon Seoji, saengil chukkae! Woah.. usiamu sudah berkurang 14 tahun, kekeke. Bercanda! Maksudku usiamu sekarang sudah 14 tahun. Mianhae Seoji-ah.. aku tidak bisa memberimu hadiah apa-apa, huhu. Aku hanya bisa memberimu note kecil ini, tapi sayang halaman depannya sedang kupakai, kekeke. Oh ya Seoji, aku mau bercerita nih. Kau tahu kan, si hitam majikannya Monggu? Dia menyebalkan sekali! Mentang-mentang usianya sudah 14 tahun, dia seenaknya padaku. Padahal kami anak kembar. Camkan! ANAK KEMBAR! Sungguh kalau dia bukan kakak kembarku aku sudah menenggelamkannya ke dalam bumi yang panas ini ! -.-

Kuharap nantinya kau tidak berkencan dengan majikan Monggu itu. Bisa-bisa kau ketularan hitam seperti dia. Ah sudahlah, sekarang kan hari ulang tahunmu ^_^ sekali lagi chukkae!! Jangan pernah lupakan aku Seoji-ah. Ingatlah aku sebagai Kim Jongra yang unyu dan ceria, kekekeke. Saranghae!

~dari Kim Jongra yang cantik~

Jongra tertawa kikuk sambil mengusap tengkuknya. Dia tidak percaya kalau dialah yang menulis ucapan selamat yang memalukan ini. Dia tahu siapa majikan monggu itu, tapi dia masih belum mengingat siapa Yoon Seoji. Jongra rasa pasti mereka sudah bersahabat sejak lama. sejak sebelum 14 tahun mungkin.

Jongra menutup note itu lalu meraih sebuah bando berpita putih. Di salah satu ujung bando itu terdapat sebuah tulisan hangul, terbaca Kim Jong Ra. Iseng-iseng Jongra memakainya di kepala, dan ternyata sangat pas.

“Hampir semuanya milikku. Hm.. apa ini pemberian Yoon Seoji itu?”

Tanpa Jongra tahu, di depan gerbang rumah itu terdapat seorang gadis yang tengah berdiri mematung. Matanya menatap lurus pada gerbang yang tertutup dengan pandangan sendu. Di kepalanya bertengger sebuah bando dengan pita berwarna hitam.

“Semoga kau cepat mengingatku, Jongra-sshi,” gumamnya lirih sebelum berbalik dan beranjak pergi.

**

Sehun tertawa terbahak-bahak ketika melihat Spongebob memukul kepala Patrick. Saking lucunya mungkin, dia sampai menendang-nendangkan kakinya ke sofa.

Tak lama kemudian, muncullah badan seorang wanita yang tak lain adalah Nyonya Oh. Wanita itu tersenyum melihat anaknya yang tertawa terpingkal-pingkal. Dia duduk di samping Sehun dan mengusap rambut anaknya dengan lembut.

“Eomma, kepala Patrick jadi bulat,” adu Sehun sembari menunjuk layar televise.

“Ah jinjja?”

Sehun mengangguk semangat. “Gara-gara dipukul Spongebob.”

“Partick kesakitan sayang, kok kamu tertawakan?”

Ekspresi Sehun berubah blank. “Tapi Partick ketawa, eomma.”

Nyonya Oh menggeleng. “Aniya. Coba, kalau eomma pukul kepala Sehun, Sehun kerasa sakit tidak?”

“Thakit,” balasnya dengan logat cadel.

Nyonya Oh mengusap pipi Sehun dengan penuh kasih sayang. “Trus kalau eomma menertawakan Sehun, Sehun suka tidak?”

“Aniya!” balas Sehun cepat.

“Nah, Sehun sendiri tidak mau kan ditertawakan? Makanya jangan menertawakan kesakitan orang, arraseo?”

“Eum,” balas Sehun patuh. Nyonya Oh tersenyum sembari mengecup pipi anaknya.

“Anak pintar.”

Sehun tiba-tiba mencondongkan kepalanya. “Pukpuk.”

Nyonya Oh tertawa kecil sebelum melakukan apa yang diminta anaknya. “Aigoo.. anak eomma manis sekali..”

Sehun langsung memeluk ibunya dan bermanja-manja disana. “Sehun sayang eomma.”

“Eomma juga chagiya..”

“Eum.. eomma.”

“Ne?”

“Sehun kangen Jongra.”

Nyonya Oh langsung membelalak. “Jongra?”

Sehun mengangguk. “Thehun mau minta pukpuk.”

Nyonya Oh mengambil napas lalu membuangnya perlahan. “Kenapa minta pada Jongra?”

“Pukpuknya Jongra enak.”

Pernyataan polos itu membuat Nyonya Oh mengeratkan pelukannya. “Sehun menyukai Jongra?”

“Ne!! Jongra itu baik.”

Nyonya Oh tersenyum tipis. “Ne, Jongra memang baik, chagiya.”

“Eomma.. hyung yang kemarin itu wajahnya sama kayak Jongra.”

“Tentu saja. Mereka kembar, chagiya.”

“Kembar? Kembar itu apa, eomma?”

“Kembar itu berarti mereka lahir di waktu yang sama, jadi wajah mereka juga sama.”

“Oh.. jadi Jongra sama hyung itu kembar?”

“Ne.”

“Tapi Jongra cantik seperti eomma.”

Nyonya Oh tersenyum kemudian melepaskan pelukannya. “Benarkah? Bagaimana kalau Jongra jadi anak eomma?”

“Boleh?” Sehun langsung berbinar.

Nyonya Oh tertawa kecil sembari mencubit pipi Sehun. “Tentu, chagiya.”

Sehun memekik senang. “Jongra suruh tinggal disini, ne? Thehun pingin dapat pukpuk Jongra tiap hari.”

“Keurae, nanti eomma akan bilang pada Jongra. Eum.. tapi eomma harus bilang apa?”

Sehun dengan imutnya bergaya seolah sedang berpikir. “Kalo Thehun yang bilang sendiri, Thehun akan bilang, Jongra, Jongra mau tidak jadi anak eomma Thehun? Eomma katanya mau Jongra jadi anaknya. Jongra harus tinggal bareng di rumah Thehun, biar nemenin Thehun. Thehun gak punya teman, Thehun mau Jongra jadi teman Sehun dan kasih Thehun pukpuk tiap hari.”

Nyonya Oh tertawa sendu. “Ah.. eomma akan bilang seperti itu pada Jongra.”

Sehun menangkupkan kedua tangannya di pipi. “Gomawo eomma..”

**

“Kai!” Seoji segera berjalan cepat menghampiri Kai yang baru saja keluar dari kelas. Pemuda itu menatapnya dengan dahi mengernyit.

“Wae?”

Seoji berhenti dua langkah di hadapan Kai. Dia menatap pemuda itu dengan begitu dalam sebelum memeluknya dengan erat. Kai yang diperlakukan tiba-tiba seperti itu, membelalakkan matanya.

“Aku ikut bersedih dengan kondisi Jongra dan Sehun sekarang.”

Kai menghela napas. “Oh, ne, gomawo.”

“Aku harap kau tetap kuat.”

Kai tersenyum. “Eoh.”

Seoji melepaskan pelukannya. “Kemarin aku pergi ke tempat Jongra.”

Kai sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut. “Lalu?”

“Aku tidak berani bertemu dengannya,” ucap Seoji dengan kepala tertunduk.

“Wae? Kau takut Jongra tidak akan mengenalmu?”

Seoji mengangguk. “Aku benar-benar takut, Kai. Aku tidak mau menangis dihadapannya.”

Kai menepuk poni Seoji dengan gerakan kaku. “Bagaimana kalau sekarang ikut aku ke Incheon?”

Seoji spontan mengangkat kepala. “Sekarang?”

“Eoh. aku baru saja mendapat telepon dari ibu Sehun. Beliau bilang Sehun ingin sekali bertemu dengan Jongra.”

Tatapan Seoji semakin sendu. “Jadi benar mereka… Jongra berbohong padaku.”

Kai menurunkan tangannya. “Jongra hanya tidak ingin membuatmu sedih.”

Seoji mengerucutkan bibirnya. “Tapi tetap saja. Dia kan tahu kalau aku fans Sehun. Seharusnya dia jujur padaku tentang hubungannya. Tahu begitu aku kan tidak akan mengaku-ngaku kalau Sehun milikku.”

Kai tertawa terpingkal-pingkal membuat Seoji kesal. Gadis itu menendang tulang kering Kai yang langsung membuat tawa tersebut hilang. “Rasakan itu.”

“Aish! Appo! Yaa! kalau kakiku sakit, aku tidak akan bisa mengendarai mobil. Kau mau kita jalan kaki kesana?”

Seoji menghentakkan satu kakinya. “Habisnya kau tertawa! Aish.”

Dan Kai tertawa lagi. Untuk kesekian kalinya Seoji semakin kesal.

**

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s