Our First Date [Pentalogi of Definition of Love]


Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : romance, schoollife, marriage life, family, brothership, friendship

Rating : Teen (High school)

Length : Chaptered

Cast : Oh Sehun (EXO), Kim Jongra (OC), Kim Jongin a.k.a Kai (EXO), others cameo

Main Title : Definition of Love

Sub title : Our First Dating

Recommended Song : EXO – Growl, Girls Day – White Day (translate english)

 

 

Sinar keemasan menembus kaca jendela yang mengembun akibat hujan beberapa menit lalu. Sinar tersebut mengenai wajah Jongra yang sedang terlelap, sehingga Jongra merasa silau dan membalikkan posisinya. Dengan posisi seperti itu, ia merasakan hembusan napas hangat yang berasal dari atasnya. Hembusan napas itu menerpa kulit kepalanya, hangat sekali.

Perlahan, Jongra membuka kelopak matanya. Objek yang pertama kali dia temui adalah gambar motor sport yang tercetak di sebuah kain berwarna putih. Kain itu membentuk sebuah baju, dimana pengguna baju itu adalah Oh Sehun.

Jongra langsung shock saat pertama kali melihat wajah Sehun yang ada di atas kepalanya. Tubuh pemuda itu menghadapnya dengan salah satu tangan yang terselip di bawah bantal. Matanya memejam, bibirnya terkatup rapat dan rambutnya terlihat rapi. Jongra bisa mencium bau maskulin yang menguar dari tubuh pemuda itu.

Jongra tersenyum kecil. Dia merasa senang bisa tidur di kamar Sehun, apalagi satu tempat dengan pemuda itu. dia tidak mengharapkan sesuatu akan terjadi, dia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya berbaring satu tempat dengan seseorang yang telah menjadi suaminya.

Gadis itu bergeser sedikit mendekat hingga ia bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh Sehun. Kehangatan itu jauh lebih nyaman ketimbang kehangatan dari pemanas ruangan. Dan kehangatan itu sukses membuatnya mengantuk kembali.

Tiba-tiba dia mengurungkan niatnya untuk tidur ketika sebuah tangan sudah ada di kepalanya dan mengusapnya lembut. Tangan itu milik siapa lagi kalau bukan Sehun. Sekujur tubuh Jongra langsung menegang karena dia sudah ketangkap basah mendekatkan tubuhnya.

“Eotteohke?”

Jongra mengerutkan keningnya. “Bagaimana… apa?”

“Are you ok?”

“Eoh.”

“Baguslah,” balas Sehun dan CHUP! Dia mengecup puncak kepala Jongra secepat kilat.

Jongra langsung mematung. Dia tidak menyadari kalau Sehun bergeser menjauhinya dan duduk bersila.

“Ayo ke Namsan.”

Jongra spontan memalingkan pandangan. Dia terkejut melihat Sehun yang sudah merubah posisi. Buru-buru gadis itu ikut merubah posisinya menjadi duduk dengan kaki menekuk.

“Sekarang?”

Sehun mengangguk kecil. “Cepat mandi, aku sudah siap.”

Jongra baru menyadari kalau sebenarnya Sehun memakai kaos berlengan panjang berwarna putih serta celana jeans panjang hingga mata kaki.

“Ah begitu. Keurae, kidaryeo.”

Buru-buru Jongra turun dari ranjang dan berlari kecil mendekati pintu yang tertutup.

“Kau mau kemana?”

Jongra mengurungkan niatnya untuk memutar kenop. “Ke kamarku.”

Sehun turun dari ranjang kemudian mendekati satu-satunya lemari pakaian yang ada di sana. Dia membuka lemari itu setelah memutar kunci. “Sepertinya semua sudah ada disini.”

Jongra menatapnya heran. “Semua apa?”

Sehun melambai, menyuruh Jongra mendekat. Dengan berat hati Jongra melangkah mendekati Sehun, dia berhenti tepat di samping pemuda itu. matanya langsung membelalak kala melihat semua pakaiannya ada di sana.

“K-k-kenapa.. ada disini?”

Sehun mengambil sebuah baju rajut berwarna pink, syal berwarna abu-abu dan jeans panjang yang kemudian dia berikan pada Jongra. “Sekarang dingin.”

Sebelum bertanya lebih lanjut, Jongra sudah dituntun Sehun untuk memasuki kamar mandi yang ada di ruangan itu. Sehun juga membantu menutup pintu dari luar ketika Jongra sudah ada di dalam.

“Cepat sedikit,” ucapnya dengan nada tinggi sebelum beranjak keluar dari kamar.

**

Sehun langsung memaling dari androidnya ketika melihat Jongra yang muncul tiba-tiba. Pemuda itu terdiam beberapa detik sambil memperhatikan Jongra dari bawah ke atas. Saat pandangan mereka saling bertemu, Sehun tersenyum.

“Kaja.”

Mereka pergi menuju halaman depan di mana disana sudah terparkir Gallardo hitam milik kedua orang tua Sehun. Pemuda itu membukakan pintu untuk Jongra. Dia tidak berhenti tersenyum hingga Jongra sudah duduk di posisi nyamannya. Setelah itu, barulah dia duduk di kursinya.

Dia tersenyum kecil melihat Jongra yang berinisiatif memasang seltbeltnya sendiri. Setelah memasukkan kunci, mobil itu langsung meluncur menuju namsan tower.

Sesampai di sana, Sehun menggandeng Jongra ketika menaiki lift menuju bagian teratas tower itu. sedetik setelah sampai di atas, Sehun bergumam kagum ketika disuguhi pemandangan indah langit sore.

“Indah, kan?”

Sehun menoleh, ia terdiam sejenak memperhatikan wajah Jongra yang sangat cantik, versi perempuan dari Kai yang sangat lembut dan manis. Keindahan langit sore tadi, tidak jauh lebih indah dari wajah seorang gadis yang selama sebulan ini telah menjadi istrinya.

“Eoh,” ia tersenyum.

Jongra tersenyum sangat manis. Dia mengajak Sehun mendekati kumpulan gembok yang siap untuk diambil oleh para pengunjung. Jongra langsung mengambil dua gembok pasangan yang memiliki warna unik yaitu orange. Dia langsung menyerahkan satu gembok ke tangan Sehun.

“Apa ini?”

“Gembok harapan. Tuliskan harapanmu disana lalu gantungkan di pohon gembok. Mungkin saja harapanmu akan tercapai.”

Sehun menatap Jongra sejenak, kemudian tersenyum.

Usai menuliskan sederet harapan di gembok itu, mereka menggantungkannya di pohon yang berbeda agar tidak diketahui satu sama lain. Setelah itu, mereka pergi ke area yang tidak dipenuhi oleh pengunjung.

Jongra melepaskan cengkraman Sehun di tangannya saat dia akan mengambil selca dengan ponsel pribadinya. Gadis itu memakai kamera belakang, sehingga dia tidak sadar kalau Sehun sudah berdiri di belakangnya sambil menunjukkan love sign.

Tanpa melihatnya lebih dulu, Jongra berlari mendekati besi pembatas untuk mengambil foto yang diambilnya dari samping.

CKRIK!

Puas mengambil foto, dia pun melihat hasilnya.

DEG!

Jantungnya berdetak satu kali dengan keras ketika dia melihat hasil foto yang pertama dan dikejutkan dengan pelukan seseorang dari belakang. Dia hanya bisa berdiri kaku saat orang yang tak lain Sehun itu meletakkan dagunya di atas bahu Jongra.

Deru napas tenang yang ia rasakan beberapa jam lalu, sekarang kembali terasa.

“Kau benar. Aku memang tidak tahu kalau ada tempat seperti ini.”

Jongra memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dia meletakkan tangannya di atas pagar pembatas sambil menatap lurus ke depan.

“Kenapa tidak tahu?”

“Hidupku hanya didedikasikan untuk mewarisi perusahaan,” gumam Sehun bertepatan dengan kepalanya yang bersandar di kepala Jongra.

Jongra hanya terdiam dengan kepala tertunduk. Dia tidak mungkin tidak tahu kalau Sehun adalah pewaris perusahaan. Adanya pernikahan di usia muda ini memang dikarenakan bisnis orang tua Sehun. Sehun harus segera menikah di usia 18 tahun agar bisa menjadi pewaris sah perusahaan. Meski Sehun adalah anak tunggal, bukan berarti warisan itu akan jatuh ke tangannya begitu saja, karena dia memiliki pesaing berat yaitu Xi Luhan, cucu lain dari kakeknya yang sekarang berusia 19 tahun. Oleh karena itu, orang tua Sehun langsung menikahkan Sehun dengan seorang gadis biasa yaitu Jongra. Pernikahan mereka hanya diketahui oleh pihak perusahaan, keluarga Sehun dan keluarga Jongra. Tidak ada satupun warga di sekolah mereka yang tahu tentang ini.

“Ah.. aku mengerti.”

“Mianhae.”

“Untuk apa?”

Sehun melepaskan pelukannya kemudian berpindah di samping Jongra dengan meletakkan kedua tangan di atas pagar pembatas. Matanya menatap lurus ke depan dengan sorot dingin dan tajam.

“Everything. Aku tidak bisa menyebutkannya satu persatu.”

Jongra menoleh ke samping. Dia tersenyum kecil melihat wajah Sehun yang selalu terlihat lebih tampan tiap menitnya. “Apa maksudmu? Memang kau salah apa padaku?”

Sehun menghela napas kemudian memandang Jongra dari samping. “Kau masih belum mengenalku? Apa semudah membalikkan telapak tangan untuk mengatakan apa yang aku rasakan?”

Jongra mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Sehun, kemudian dia menggeleng. “Aniya. Sepertinya tidak mudah. Keundae, kurasa kau pasti bisa membuatnya lebih mudah.”

Sehun terkejut mendapati sentuhan halus di pipinya. Dia meraih tangan Jongra dan menurunkannya. Kepalanya menggeleng lemah. “Aniya, tidak mungkin.”

Jongra melihat tangan Sehun yang sedang mencengkram pergelangan tangannya. Gadis itu tersenyum, meski mereka sudah menikah, sepertinya Sehun masih menolak untuk melakukan skinship dalam durasi lama.

“Eoh, arraseo.”

Sehun melepaskan tangan itu kemudian kembali lagi dalam posisi semula. Dia menatap suasana langit sore dengan khidmatnya tanpa memedulikan tatapan Jongra yang selalu memuja ketampanannya. Sebelumnya Jongra tidak pernah mau memuji ketampanan alami yang dimiliki Sehun, namun entah kenapa persepsinya berubah ketika insiden memalukan dimana dia memakan makanan yang pantang dia makan.

“Yaa, kau tidak bosan? Aku bosan kau pandangi seperti itu.”

Pipi Jongra sontak memerah, buru-buru ia memalingkan pandangan. “Aku tidak memandangimu.”

“Arraseo,” sahut Sehun datar sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku.

“Ah… aku melewatkan ulangan statistika,” gerutu Jongra sembari menggigit kuku ibu jarinya.

“Gwaenchanha.”

“Tidak apa-apa bagaimana? Song Ji Eun saem selalu berlaku tidak adil pada siswa yang telat ikut ulangan. Pasti beliau akan memberikanku soal yang akan membunuhku perlahan-lahan.”

“Aniyo.”

“Kenapa tidak?” pekik Jongra kesal sambil menoleh pada pemuda itu.

“Jieun seonsaengnim selalu berlaku adil. Apa kau pikir untuk membuat soal ulangan statistika hanya ada satu cara? Aniya, jawabannya tidak. ada banyak cara untuk membuat satu soal ulangan statistika. Jieun saem mengganti angkanya saja, tidak dengan rumusnya. Sama halnya seperti phytagoras, rumus mencari phytagoras di dunia ini hanya ada satu, c2 = a2 + b2, tapi setiap soal yang ada di seluruh sekolah berbeda, karena cara membuat soal ulangan tidak hanya satu, tapi banyak. Kau hanya perlu menghafal rumus median, mean, quartile, jangkauan dan semua tentang statistika. Aniya, kalau bisa kau harus memahaminya. Disitulah kunci keberhasilanmu dalam ulangan.”

Sehun hanya tersenyum ketika mendapati ekspresi blank Jongra. Dia mengacak rambut gadis itu.

“Ayo pulang.”

—-

Oh Sehun-ah, akan kuingat hari ini sebagai hari pertama kita berkencan. Aku menyukainya, berjalan berdua denganmu di tempat yang sejujurnya belum pernah kudatangi langsung ini. Aku berbohong kalau aku pernah bilang kemari, karena aku hanya pernah membaca tentang Namsan Tower dari internet. Gomapda. Kuharap, pernikahan kita akan berjalan selamanya. Aku mencintaimu, Oh Sehun –dari istrimu, Kim Jongra-

Jongra, ingatlah hari ini sebagai hari pertama kencan kita. Aku akan memelukmu untuk pertama kali di sini. Aku akan berusaha menjadi kekasih romantic hari ini. Kuharap kau menyukainya. Mianhae, aku tidak bisa berkata banyak. –saranghae, Oh Sehun-

**

“Sehun-sshi, kenapa kita kemari?” Jongra tidak bisa diam di tempat duduknya ketika mereka berdua berada di area taman sungai Han. Gadis itu celingukan ke kanan dan kiri melihat orang-orang yang asik bersepeda.

Sehun memasangkan earphone di telinga Jongra juga di telinganya sendiri. Ibu jarinya langsung menekan tombol play untuk sebuah lagu.

Jongra menatap Sehun bingung. Dia benar-benar bingung kenapa Sehun harus memplay lagu hip hop kali ini. Bukankah biasanya jika sepasang kekasih sama-sama mendengarkan lagu ballad untuk menambah kesan romantic. Tapi kenapa ini…

Summi jakku meotneunda

(nafasku terus berhenti)

Niga nal hyanghae georeo onda

(kau berjalan ke arahku)

Nareul bomyeo utneunda

(kau tersenyum padaku)

Neodo naege kkeulli neunji

(mungkin kau juga tertarik padaku)

Jongra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sama sekali tidak tahu maksud lagu ini, mendengarnya juga baru kali ini.

Nun api dakkam kkamhae

(pandanganku menjadi gelap)

Niga tturheo jyeora chyeoda bolttae

(ketika kau menatapku)

Gwit gae gakka wojin sum sori nalmichige mandeuneun neoin geol

(suara napasmu, kaulah satu-satunya yang membuatku gila)

“Ige mwoya?” gumam Jongra sembari melepas earphone di telinganya.

Sehun yang melihatnya sama sekali tidak terlihat marah. Dia hanya diam, ikut melepas earphone dan memainkan lagu itu dengan suara keras.

Jongra keheranan ketika melihat Sehun tiba-tiba berdiri di depannya. Saat lagu itu memasuki bagian reff, saat itu juga tubuh Sehun bergerak dengan cepatnya mengikuti irama. Dia menari dengan baik, tariannya memang tidak ditujukan pada Jongra, tapi Jongra merasa tersihir dengan karisma yang keluar dari penampilan pemuda itu. matanya hampir tidak berkedip saat melihat hal itu terjadi di depannya. Bahkan Sehun tidak merasa malu saat mulai dipandangi banyak orang dari jauh.

Lagu berakhir ketika Sehun berlutut di hadapan Jongra. Pemuda itu mengatur napasnya dulu sebelum mengangkat kepala.

Mereka berdua saling berpandangan dalam diam. Sehun menatap Jongra dengan tatapan yang begitu dalam namun tatapan itu sama sekali tidak dimengerti Jongra, padahal Sehun sedang mengirimkan isi hatinya.

Tak lama kemudian pemuda itu menghela napas. Dia duduk dengan lemas di atas rerumputan, dia kecewa Jongra tidak menerima apa yang dia kirimkan.

Melihat Sehun yang terlihat frustasi, Jongra berinisiatif mengambil ponselnya kemudian memplay sebuah lagu yang dia keraskan volumenya.

If you’re going to confess to me today

If you’re going to give me your heart

Then I will accept it all

Because I like you too

Sehun mengangkat kepalanya dan menatap Jongra tak percaya. Gadis yang dipandanginya hanya tersenyum.

I don’t wanna be just friends anymore

You like me too

Today is your chance

Confess to me and make things a bit clearer

You don’t know what kind of presence you are to me

You don’t know, don’t know, you don’t know my heart

You don’t know my heart, you don’t know

The words “I like you” are good

The words “I love you” are good too

Confess to me, confess to me

Your chance is right now

Gadis itu mematikan ponselnya kemudian menghambur ke dalam pelukan Sehun. Dia memeluk Sehun dengan erat, seolah tidak ingin melepasnya barang sedetik. Entah kenapa air matanya tidak bisa ia bendung, ia menangis saat itu juga.

Sehun yang semula terkejut, akhirnya bisa menyudahi keterkejutannya itu dengan mengelus sayang rambut Jongra. “Gomapda, kau sudah memahami maksudku.”

Jongra menggeleng cepat. “Aniya, hiks, aku sama sekali tidak memahami maksudmu sebelumnya. Tapi saat melihatmu frustasi, aku baru memahaminya. Hiks, mianhae.”

Sehun tersenyum. “Gwaenchanha. Gomapda.”

**

Sekarang mereka dalam perjalanan pulang. Kali ini Sehun mengendarai dengan salah satu tangan menggenggam erat tangan Jongra. Dari ekspresinya, dia terlihat sangat bahagia. Begitu juga dengan Jongra. Suasana mobil yang penuh keheningan, kini terasa seperti dipenuhi gelembung-gelembung cinta.

Saat mobil akan berbelok di persimpangan, tiba-tiba dari belakang datang sebuah truk berkecepatan tinggi yang dalam sekejap menghantam mobil yang mereka tumpangi. Seketika itu juga, Gallardo Sehun terseret jauh dan berakhir saat menabrak sebuah dinding bangunan.

Di dalam Gallardo hitam itu, kedua tangan yang saling bertautan, terlepas.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s