My Man [Pentalogi of Definition Of Love]


Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : romance, schoollife, marriage life, family, brothership, friendship

Rating : Teen (High School)

Length : Chaptered

Cast : Oh Sehun (EXO), Kim Jongra (OC), Kim Jongin a.k.a Kai (EXO), others cameo.

Main Title : Definition of Love

Subtitle : My Man

.

.

Masa SMA adalah masa terindah. Ungkapan seperti itu mungkin tidak benar sama sekali dalam kehidupan Jongra. Di masa yang ‘katanya’ terindah itu, Kim Jongra sudah terikat dengan Oh Sehun, namja berkulit albino yang selalu berekspresi bak tembok. Mengesalkan, tidak ada hal manis diantara hubungan mereka.

Pagi sekali, Jongra bangun dari tidur cantiknya. Dia menyisir rambutnya rapi sebelum menggelungnya menggunakan tali rambut yang dibelinya 2 bulan lalu. Setelah dirasa rapi, dia bergegas keluar kamar melaksanakan kewajiban paginya, membuat sarapan.

Suasana rumah masih sepi senyap. Keadaan rumah tidak jauh berbeda dari tadi malam. Jongra yang membenci suasana terang, memilih untuk mematikan semua lampu dan menggantinya dengan membuka semua tirai. Langit masih berwarna ungu pekat, meski begitu sudah bisa menerangi ruang tamu serta ruang tengah. Sekarang, dia mengayunkan kakinya menuju dapur.

Baru saja Jongra membasuh wajahnya di wastafel, suara derit pintu terbuka langsung merangkak memasuki indera pendengarannya. Tanpa bersusah payah menoleh, dia tahu jika itu adalah ulah si namja berwajah datar.

Kim Jongra tak memedulikan suara langkah kaki yang mendekatinya. Dia sibuk menyiapkan segala alat untuk memasak, rencananya dia akan membuat sup jamur pagi ini.

Terdengar suara pintu kulkas terbuka. Jongra menduga pasti Sehun sedang mengambil botol minuman, karena ada suara denting kaca yang menyertainya. Jongra berlagak tak peduli. Dia mengambil seplastik penuh Jamur untuk segera dia cuci bersih.

Tapi tidak mungkin dia menangkup puluhan jamur itu dengan kedua tangannya. Dia butuh setidaknya baskom. Tatkala mencari di buffet bawah, dia tidak menemukan benda itu. Dan saat mencari di buffet atas, dia menemukan bayangan benda tersebut. Hanya saja benda itu sangat sulit dijangkau.

“Aish.. kenapa jauh sekali..” gumamnya kesal sambil berusaha menggapai benda itu dengan kaki berjinjit. Namun karena tingginya tidak seberapa, dia tidak sadar jika menyenggol sebuah panci.

“Aaaaa!”

Matanya perlahan terbuka saat dia tidak merasakan benda logam yang seharusnya jatuh mencium puncak kepalanya. Perlahan tapi pasti dia mengangkat kepala, matanya spontan melebar menemukan sebuah tangan kekar sedang meraih sebuah baskom merah.

Jongra memandangi pergerakan tangan itu, hingga sorot matanya bertemu dengan mata datar seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Sepersekian detik mereka saling menatap, pemuda itu menyodorkan baskom tersebut ke hadapannya. Jongra menerimanya ragu.

Setelah benda itu berpindah tangan, pemuda pemilik nama Oh Sehun segera berlalu dari tempatnya. Dia membiarkan arah pandang Jongra mengikuti kemana tubuhnya pergi.

Begitu punggung lebar itu menghilang, Jongra kembali focus pada aktifitasnya pagi ini. Seolah dia melupakan kejadian beberapa detik lalu.

*

Suasana di meja makan sangat hening, jauh dari kata rumah tangga bahagia. Wajar saja, keduanya memang masih sama-sama berusia 16 dan 18 tahun, hidup seatap seperti ini tidaklah mudah.

“Uhuk,” Sehun tiba-tiba tersedak saat mengunyah nasi. Reflek Jongra menyodorkan segelas air mineral ke hadapan pemuda itu. Tanpa pikir panjang, Oh Sehun menghabiskan seluruh cairan liquid dari dalam gelas tersebut.

Jongra terlihat acuh tatkala Sehun meletakkan kembali gelas itu. Tidak ada perbincangan setelahnya. Atmosfer di rumah ini selalu dingin, tanpa ada interaksi social satu dengan lainnya.

Merasa sudah kenyang, Jongra pun bangkit dan membawa mangkuknya menuju tempat pencucian piring. Dia memutar kran dan membasahi permukaan mangkuk, lalu membersihkannya dengan sabun kemudian membilasnya. Dia letakkan mangkuk itu di rak setelah dikeringkan menggunakan sebuah kain.

Saat gadis itu akan melangkah menuju garasi guna menyiapkan sepeda kayuhnya, tak sengaja dia menabrak tubuh Sehun dari samping. Untung mangkuk di tangan Sehun tidak melayang mengikuti arah gravitasi bumi. Mereka hanya saling bertatapan sebentar sebelum akhirnya kontak mata itu terputus.

Jongra akan mengganti sandal rumah dengan sepatu sebelum terdengar bunyi nada intro 2NE1-fallin in love dari ponselnya.

Oh my nae mami wae iri seolle neunji molla

ireumdo moreuneun geudae apeseo nan

o cheongug gateun neoui nunbiche jeongmal

Alright Alright Alright Alright

Sudut bibirnya terangkat saat melihat nama di layar ponselnya, Kim Jong In, nama seorang pemuda yang menjabat sebagai kakak kembarnya.

“Yoboseyo.”

“Eodi?”

“Aku di rumah, wae?”

“Chakkaman, aku akan menjemputmu, kita berangkat bersama.”

“Kau bawa mobil?”

“Yap! Chakkaman, arra?”

“Arraseo.”

KLIK

Panggilan diakhiri secara sepihak oleh Kim Jong In, atau sering disebut Kai. Jongra yang sejak sebulan lalu tidak lagi seatap dengan kakak kembarnya, hanya bisa menghembuskan nafas. Jujur saja, dia lebih rindu suasana di rumah keluarganya dari pada suasana di rumah ini.

Tiba-tiba Sehun sudah berada di dekatnya. Pemuda itu akan melakukan hal yang sama sepertinya. Dia melepaskan sandal rumahnya lalu menggantinya dengan sepatu sekolah. Mereka duduk di satu garis yang sama, tapi tetap saja tidak ada atmosfer hangat yang menyelimuti keduanya.

Jongra berusaha mengacuhkan kehadiran Sehun. Dia pura-pura sibuk menyimpulkan tali sepatunya, padahal biasanya dia tidak membutuhkan waktu selama itu. Hanya saja berada di dekat Sehun membuat semua aktifitasnya tidak berjalan baik.

CKLEK

Pintu dihadapan mereka terbuka tiba-tiba. Kepala seorang pemuda menyembul dari balik daun pintu, diikuti seluruh badannya. Menyadari siapa yang datang, Sehun langsung bangkit.

“Yaa, hyung..”

“Ada apa kemari?” Sehun tidak mengindahkan sapaan Kai, akan tetapi dia berbalik menanyai perihal Kai mendatangi rumah ‘mereka’.

“Menjemput Nyonya Oh,” cetus Kai sambil tersenyum jahil. Tapi kelihatannya Sehun tidak berminat dengan ucapan Kai, dia hanya melirik Jongra sekilas sebelum beranjak pergi.

BLAM

“Kaja, oppa.”

Jongra langsung menggaet lengan Kai dan menariknya keluar dari rumah itu. sebelum mereka memasuki mobil, Jongra mengunci pintu terlebih dahulu.

“Dia dingin sekali,” keluh Kai saat membukakan pintu mobil untuk Jongra.

“Bahkan seperti mayat hidup,” tambah Jongra begitu sudah duduk manis di dalam.

“Aku ingin sekali menghajar tampang sok kerennya itu,” cetus Kai sebelum dia memutari sisi depan mobil dan duduk di kursi kemudi.

“Pakai sabuk pengamanmu.”

*

Sesampainya di sekolah, Kai dan Jongra berpisah. Kai masuk di kelas A, sedangkan Jongra di kelas C. Sebelum pergi ke kelas, Jongra ingin mengunjungi madding sekolah, sekiranya cerpennya seminggu lalu sudah termuat disana.

Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar, berjalan sedikit tergesa menuju koridor yang menghubungkan antara ruang kelas dengan lobi. Sampai akhirnya dia berhenti dan menemukan apa yang sedang dicarinya. Dengan antusias dia mencermati seluruh post yang tertempel disana. Nihil, dia tidak menemukan satu cerpenpun disana. Tubuhnya seketika lemas.

DUG!

Kepalanya membentur sesuatu saat dia akan menoleh ke belakang. Perlahan namun pasti, dia mengangkat kepalanya berusaha memastikan apa yang terjadi. Sepersekian detik setelahnya, kedua matanya melebar.

Orang yang mengejutkan, Oh Sehun.

Kim Jongra spontan melangkah mundur. Dia tahu Sehun sedang tidak menatapnya, tetapi dia merasa salah tingkah. Dia benar-benar harus bersandiwara bahwa dia bukan ‘gadis’ Sehun, melainkan ‘hoobae’ Sehun. Tanpa mengucapkan apapun, Jongra memilih pergi lebih dulu dari tempat tersebut. dia tak menyadari, sorot mata Sehun mengikuti arah kepergiannya.

“Jong-ie!”

Gadis itu berhenti berjalan saat mendengar suara cempreng khas wanita yang hanya dimiliki oleh Yoon Seoji, sahabatnya.

Seoji melirik sekilas bayangan pemuda yang mulai menjauh dari madding melalui bahu Jongra. “Kau berbicara dengannya?”

Jongra menoleh ke belakang sekilas. “Aniyo, wae?”

Tiba-tiba sorot mata Seoji berubah sengit. “Dia milikku, hanya milikku.”

Gadis itu tersenyum geli dengan sikap sahabatnya. “Up to you.”

“Aku sudah memperingatkanmu. Yo! Kaja kita ke kelas,” mood Seoji terlihat ceria seperti biasa sambil menggandeng Jongra menuju ruang kelas.

*

Mata pelajaran bahasa Korea terasa hambar lantaran Jongra tidak menyukai dandanan Ahn seonsaengnim, seorang guru baru yang menggantikan guru yang telah tiada. Gadis itu berulang kali mencibir gaya bicara dan berpakaian guru itu. Mungkin jika Ahn seonsaengnim menyadarinya, Jongra bisa dipastikan akan dijemur di bawah terik matahari.

Kriiiiiiiiiiing

Bel akhirnya berbunyi. Dengan perasaan lega Jongra segera mengemasi barang-barangnya dan langsung melesat menuju kantin bersama Seoji. Karena SMA di Korea pulang malam hari, dia selalu makan siang dan malam yang disediakan oleh sekolah.

Kedua gadis itu sudah mendapatkan tempat duduk yang nyaman, mereka hanya tinggal menunggu makanan datang. Sesuai menu yang tertera di depan pintu masuk, hari ini mereka akan disuguhkan makan siang berupa sushi.

Jongra mengetukkan jarinya ke atas meja dengan bosan. Seoji sibuk dengan novelnya, jadi Jongra tidak mempunyai teman bicara. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar hingga menemukan sebuah objek pemandangan yang menarik. Bibir tebalnya mencibir pemandangan 3 meter dari tempatnya berada. Seorang pemuda berwajah dingin beserta kawan-kawannya sedang dikelilingi oleh para gadis yang membawa kamera serta ponsel. Para gadis itu berteriak senang tatkala si pemuda berwajah dingin berhasil mereka ambil gambarnya.

“Ish.. apa tampannya dia..” gumamnya lirih. Namun dapat didengar oleh gadis dihadapannya. Seoji melupakan sejenak novelnya dan mengikuti arah pandang Jongra.

“Woah… Sehun oppa tampan sekali..”

Jongra mendelik ngeri saat mendengar nada bicara Seoji. Temannya itu sangat sulit untuk beralih dari novelnya, tapi karena pesona Sehun dia dengan mudah melupakan buku bacaannya.

“Annyeong..” suara seorang ahjumma mengejutkan keduanya. Mereka langsung disodorkan dua piring berisi beberapa potong sushi serta semangkuk kecil sambal dan dua gelas air mineral.

“Silakan dinikmati.”

“Kamsahammida,” balas kedua gadis muda itu bersamaan. Ahjumma itu tersenyum tipis sebelum beranjak pergi.

Jongra segera meraih sumpit kemudian memasukkan satu potong sushi ke dalam mulutnya. Dia mengunyah pelan hingga akhirnya tersedak saat mendengar ucapan Seoji.

“Sushi adalah makanan kesukaan Sehun oppa.”

Jongra meraih gelas airnya dan meneguknya hingga ¼ gelas. Dia memicing tak suka pada Seoji.

“Wae?”

Jongra mendesis sinis sambil kembali memakan porsinya. Begitu potong tiap potong sushi masuk ke dalam lambungnya, lagi-lagi dia harus tersedak begitu Seoji berucap, bahwa…

“Bukannya kau alergi sushi?”

Gadis bermarga Kim itu membulatkan matanya horror. Dia segera menghabiskan seluruh air mineralnya untuk mendorong masuk makanan yang tersangkut di kerongkongan.

“Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Aish..”

Sepersekian detik setelah mengungkapkan kekecewaannya pada Seoji, seluruh tubuhnya tiba-tiba panas dan gatal. Bahkan perutnya terasa seperti digoncang hebat. Sambil menutup mulutnya menggunakan tangan, Jongra melesat meninggalkan kantin.

“Kim Jongra! Jongra-ya! Tunggu aku!” Seoji pun mengejar Jongra sambil menenteng novel miliknya. Teriakan gadis itu membuat semua siswa termasuk si pemuda berwajah dingin menoleh ke asal suara.

“Eoh, bukannya Kim Jongra saudara kembar Kim Jongin? Kudengar dia sudah menikah dengan namja seumuran kita,” cetus seorang siswa yang duduk tepat di hadapan Oh Sehun.

“Kudengar dia dan Jongin sama-sama alergi sushi,” timpal siswa lainnya.

Sehun yang mendengar itu, terlihat berusaha acuh. Dia kembali memakan porsi makanannya meski di otaknya sedang berputar kalimat barusan.

Jongra menghidupkan kran dan membasuh wajahnya dengan air yang mengalir. Dia sudah memuntahkan semua yang dimakannya, tapi perutnya masih terasa sakit. Seoji yang sejak tadi setia menemaninya, hanya bisa mengusap punggungnya.

“Benar, kau tidak mau kuantar ke rumah sakit?” Seoji menanyakan kembali pertanyaan yang lima menit lalu ditanyakan pada orang yang sama.

Jongra menggeleng pelan sambil menatap dirinya melalui cermin. Wajahnya pucat dengan bibir membiru dan mata sayu. Tidak terlihat seperti Jongin versi wanita.

Kriiiiiing

Bel masuk terdengar. Jongra pun mematikan kran kemudian berjalan menuju kelas dibantu dengan Seoji. Berulang kali Seoji menanyakan pertanyaan yang sama, jawaban yang diberikan Jongra pun sama.

Saat melewati kelas 1-A, tak sengaja Kai melihat keduanya. Dia langsung menghampiri Jongra dengan ekspresi khawatir.

“Kau baik-baik saja?”

Jongra mengulum senyum yang sangat dipaksakan, dia tidak menjawab. Kemudian Kai meminta penjelasan dari Seoji melalui tatapan mata.

“Dia makan sushi,”

Kai melebarkan matanya tak percaya. Dia pun menyentuh dahi Jongra yang ternyata terasa panas.

“Aigoo.. kenapa kau makan itu? kaja, kuantar ke rumah sakit.”

Jongra menggeleng pelan sambil mengerucutkan bibirnya. “Aku benci rumah sakit.”

Kai mengacak rambutnya gemas. “Ya sudah, Seoji-ya, tolong jaga dia.”

Gadis berambut pendek di samping saudara kembarnya, mengedipkan sebelah mata tanda setuju. Kedua gadis itu pun berlalu dari hadapannya.

Sesampainya di kelas, guru pelajaran etika yang sudah masuk beberapa menit lalu, menyuruh mereka untuk berada di luar. Dengan berat hati, keduanya pun berjalan meninggalkan kelas.

Seoji mendudukkan Jongra di sebuah kursi di depan kelas. Dia membiarkan temannya menempati tempat itu sedang dirinya berdiri. Tak berapa lama datang seorang guru, yang meminta bantuan pada Seoji.

“Jongra-ya, kau tidak apa sendirian?”

Gadis itu tersenyum menyakinkan. Akhirnya dengan berat hati Seoji berjalan meninggalkan Jongra mengikuti guru yang meminta bantuannya barusan.

Disinilah dia, terdiam sendiri sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Begitu melirik lengannya, dia mendapati banyak ruam kemerahan disana. Rasanya gatal sekali, akan tetapi dia tidak punya tenaga sekadar menggaruknya.

Perutnya kosong, karena tadi dia mengeluarkan semua yang dimakannya. Hal itu berefek pada rasa sakit yang melanda kepalanya. Dia berusaha menahan rasa sakit itu dengan meremas rambutnya, akan tetapi sakit itu tidak kunjung reda, justru semakin menyiksanya. Dia pun bangkit berinisiatif pergi sendiri ke ruang kesehatan. Hanya saja pandangannya perlahan kabur. Dia rasa, dia sudah tidak kuat menahan rasa sakit ini.

DUG

Kepalanya membentur sesuatu yang padat namun tidak terlalu keras. Aroma parfum yang familiar langsung menyelinap ke dalam lubang hidungnya, menandakan bahwa dia mengenal pemilik bau ini.

Selang beberapa detik dia merasa sesuatu melingkar di pinggangnya. Kepalanya yang terasa sakit perlahan membaik tatkala dia dalam posisi seperti ini. Mungkin dia berada di dalam dekapan seseorang, tapi siapa? Dia yakin bukan Kai orangnya.

Perlahan tapi pasti, dia mengangkat kepalanya, mencoba memastikan pemilik bau ini.

DEG

Oh Sehun.

Dia terkesiap sesaat dengan fakta yang ada. Oh Sehun si tampan kelas senior yang menjabat sebagai kekasih sahnya itu, ternyata adalah malaikat penyelamatnya kali ini. Dia masih belum percaya jika ini nyata, benarkah orang yang didekatnya ini adalah Oh Sehun? Oh Sehun yang tidak pernah mau meliriknya bahkan saat di rumah sekalipun.

Semakin banyak yang ada di pikirannya, rasa sakit itu kembali muncul melanda kepalanya. Dia sudah tidak punya kekuatan untuk menahannya lagi. Dan perlahan, pandangannya mulai gelap.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s