High School Love On ^2^


Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : Schoollife, romance, teen, family

Rating : Teen

Length : Chaptered

Cast : Kim Tae Hyung (BTS), Kim Cheon Sa (OC)

.

1

.

Sebuah bus berhenti tepat di hadapan Taehyung. Penumpang yang hampir seluruhnya adalah para siswa Sungji High School itu turun bergantian meninggalkan bus. Salah satunya adalah Kim Cheonsa. Gadis itu langsung bertemu tatap dengan Taehyung yang ternyata sudah memandanginya sejak tadi.

Cheonsa dengan ekspresi datar yang dibuat-buat, berjalan menyeberangi jalan menuju bangunan sekolah dengan Taehyung di belakangnya. Gadis itu sesekali tersenyum pada para adik kelas yang menyapanya.

Sesampainya di area sekolah, merekapun harus berpisah untuk memasuki kelas masing-masing. Cheonsa memasuki kelas 2-3, sementara Taehyung kelas 2-4.

Begitu bel berbunyi, pelajaran pertamapun dimulai. Kedua kelas yang saling bersandingan itu memulai hari rabu mereka dengan pelajaran masing-masing. Kelas Cheonsa kedapatan jadwal pelajaran bahasa Korea, sedangkan kelas Taehyung kedapatan pelajaran olahraga.

Walau terpisah dinding tebal, Cheonsa tetap bisa merasakan kehadiran Taehyung. Jantungnya berdetak cepat, napasnya terasa sesak, atmosfer di sekitarnya hanyalah terdiri dari molekul-molekul Kim Taehyung. Hal itu merembet ke otaknya. Dia tidak bisa berkonsentrasi pada materi teks ulasan yang dibahas sekarang.

Bagaimana struktur dari teks ulasan? Pertama orientasi. Orientasi mencakup gambaran umum yang memuat tentang Kim Taehyung secara keseluruhan. Kemudian yang kedua adalah tafsiran isi. Yaitu membahas tentang kelebihan dan kekurangan pada diri Kim Taehyung. Ketiga, evaluasi. Yaitu membahas tentang penilaian dari sosok Kim Taehyung. Dan yang terakhir rangkuman, yang merupakan kesimpulan akhir dari Kim Taehyung.

“Kim Cheonsa?”

“Ne?”

“Bisa tolong jelaskan tentang struktur teks ulasan?”

Ekspresi gadis itu tidak bisa ditebak seperti biasa. Ia pun menutup buku tulisnya kemudian bangkit.

“Yah.. dia ratunya..”

“Siapa yang akan melawannya? Kita? Haha.”

“Gadis sombong.”

“Sok pintar.”

Cheonsa mengambil napas dalam-dalam kemudian membuangnya. “Keurae, struktur teks ulasan terdiri dari orientasi, tafsiran isi, evaluasi dan rangkuman…”

**

Teng teng teng!

Cheonsa menghela napas kemudian merapikan alat tulisnya yang berserakan di permukaan meja. Begitu membuang pandangan ke luar jendela, tak sengaja matanya menangkap sosok Kim Taehyung yang sedang berjalan santai di belakang geng sekelasnya. Tatapan mereka pun saling bertemu.

“Saranghae..” batin Cheonsa diiringi senyumnya.

Taehyung sudah memalingkan wajah tanpa sedikitpun membalas senyuman Cheonsa. Meski begitu, entah bagaimana tiba-tiba semangat Cheonsa yang awalnya redup langsung membara. Dia seakan baru saja mendapat semangat baru.

“Assa,” gumamnya sembari membuka buku diktat sejarahnya.

**

Bel pulang berbunyi nyaring, akhirnya hari yang menyebalkan itu berakhir. Dalam sekejap ruang kelas 2-3 berubah kosong yang hanya menyisakan Cheonsa seorang di dalamnya. Gadis itu bukannya memrapikan peralatan tulis, ia justru mengeluarkan kotak makannya.

Tap tap tap!

Cheonsa mengangkat kepala dan tersenyum. Taehyung sudah berdiri di hadapannya dengan ekspresi heran. “Sebelum bimbel ayo kita makan.”

“Makanan sejak pagi?”

Cheonsa menggeleng. “Ini tadi aku beli di kantin. Aku tahu kau pasti tidak akan makan di rumah nanti. Ayolah Taehyung.” Cheonsa meraih tangan Taehyung kemudian menariknya untuk duduk di samping kursinya. Ia memberikan sepasang sumpit yang langsung diterima dengan baik oleh Taehyung.

“Ini japjae kesukaanmu. Makanlah,” Cheonsa mendorong kotak makan itu sepenuhnya ke hadapan Taehyung.

“Kau tidak?”

Cheonsa menggeleng. “Aku sudah kenyang.”

Taehyung mencibir kemudian menggendikkan bahu acuh. Tanpa berkata apapun lagi, ia pun menyendok sedikit japjae ke dalam mulutnya. Buatan ibu kantin, siapa yang bisa menolak? Taehyung tahu kalau Cheonsa sedang memandangnya penuh arti. Tanpa mengucapkan apapun ia menyendok sedikit japjae yang kemudian disodorkan ke hadapan Cheonsa. Seketika Cheonsa terkejut.

“W-wae? Aku sudah kenyang.”

“Buka saja mulutmu.”

“Aku-” Cheonsa mengurungkan niat melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan Taehyung yang tajam.

Akhirnya dengan berat hati, Cheonsa membuka mulut dan HAP! Makanan itu sudah ada dalam mulutnya.

Tanpa berekspresi, Taehyung memasukkan makanan kembali ke mulutnya juga dengan sendok yang sama.

“Aku tidak mau makan banyak. Bagaimana kalau berat badanku naik? Sekarang saja sudah 63 kilogram. Kau mau punya kekasih gendut?”

“Mau.”

Cheonsa mendengus. Celotehannya tadi gagal membuat Taehyung membiarkannya tidak makan. Buktinya pemuda itu kembali menyodorkan sesendok berisi nasi dan lauk pauk ke mulut Cheonsa.

“Kau menyebalkan.”

Taehyung hanya berdehem.

“Ah~ Tae…”

“Kau bisa tidak makan dengan tenang, hm?” tegur Taehyung setelah menelan makannya. Diperlakukan seperti itu Cheonsa cemberut kemudian diam.

Hampir mendekati sepuluh menit, makanan dalam kotak bekal itu sudah ludes. Cheonsa membereskan semuanya sebelum mereka beranjak pergi ke halte bus untuk segera pergi ke tempat bimbingan belajar.

Di dalam bus, seperti biasa mereka duduk di deretan kursi paling belakang. Taehyung sibuk memejam sedangkan di sampingnya Cheonsa tengah membaca buku sambil menggumamkan beberapa rumus.

“Tan x sama dengan sin x dibagi cos x. Cotangent x sama dengan sepertan x atau cos x dibagi sin x. Cos kuadrat x ditambah sin kuadrat x sama dengan…. Sama dengan…”

“Satu.”

“Ah ne! satu! Cos kuadrat x ditambah sin kuadrat x sama dengan satu. Ne, satu. Satu satu satu.”

Taehyung tersenyum kecil tanpa Cheonsa sadari.

“Sin dalam kurung a tambah b sama dengan sin a dikali cos b ditambah cos a dikali sin b. Sin dalam kurung a selisih b sama dengan sin a dikali cos b ditambah cos a dikali sin b. Cos dalam kurung a plus b sama dengan cos a dikali sin a..”

“Cos a kali cos b min sin a kali sin b.”

Cheonsa langsung menoleh dan mendapati wajah tenang Taehyung saat terpejam. Di saat memandangi wajah itu, rumus-rumus fungsi sinus cosines dalam otaknya langsung rontok satu persatu. Kedua ujung bibirnya terangkat, tanpa sadar jemarinya mengusap pipi Taehyung dan merasakan bagaimana kasarnya kulit pemuda itu.

“Fokus ke bukumu. Aku bukan patung arra?”

Pipi Cheonsa bersemu. Gadis itu akan menarik kembali tangannya, namun lebih dulu sudah ditangkap oleh Taehyung.

Perlahan kedua kelopak mata Taehyung terangkat. Tatapan mereka saling bertemu. Di saat seperti itu, detak jantung Cheonsa semakin cepat sampai-sampai terdengar hingga gendang telinganya. Lagi-lagi ia terperangkap dengan sorot tajam itu. Seolah dia tengah menyelam ke dalam mata hitam Taehyung.

“Lanjutkan dengan cos dalam kurung a min b,” ucap Taehyung sembari melepaskan cengkramannya.

Begitu mendapatkan tangannya kembali, Cheonsa pun memulai hafalannya lagi. “Ekhem. Cos dalam kurung a min b sama dengan cos a kali cos b plus sin a kali sin b.”

Taehyung tersenyum tipis sebelum kembali terpejam.

Tak lama kemudian sampailah mereka di tempat bimbel. Cheonsa berjalan sejauh dua meter di depan Taehyung. Ia berpura-pura sibuk dengan buku catatan matematikanya agar tidak harus bertatapan dengan banyak siswa yang masih berkeliaran di luar kelas. Sesampainya di kelas matematika, ia pun duduk dengan tenang di bangku yang tersisa yaitu bangku di pojok belakang. Ternyata, Taehyung mengikutinya dan duduk di sampingnya tanpa ragu.

“F aksen x dari a sin bx sama dengan a kali b cos bx. F aksen dari a cos bx adalah min a kali b sin x. Oh… jadi begitu…”

“Jika f(x) sama dengan cotan x, maka f aksen x?”

“Cotan x?” gumam Cheonsa dengan melirik ke kanan atas.

“Cotan x itu sama dengan cos x dibagi sin x. eum… aksen dari cos x itu min sin x, aksen dari sin x itu cos x. jadi min sin x dikali sin x dikurangi cos x kali cos x semuanya dibagi sin x dikuadratkan. Hasilnya min sin kuadrat x dikurangi cos kuadrat x seluruhnya dibagi sin kuadrat x. hasilnya…. Min cosec kuadrat x?”

Taehyung mengangguk kecil. “Sempurna.”

Cheonsa tersenyum bangga atas keberhasilannya tersebut.

Tak lama kemudian tutor datang dan bimbingan matematika untuk hari ini dimulai. Sesuai dugaan, ternyata materi yang akan dibahas memang fungsi trigonometri, materi yang hanya diberikan sekilas saat jam sekolah biasa.

Satu jam berlalu, kini giliran mata pelajaran bahasa Inggris. Cheonsa yang kurang meminati bahasa itu mulai tidak bisa menahan kantuknya. Dia berulang kali melamun dan berulang kali hampir menjatuhkan kepalanya. Beda lagi dengan Taehyung yang justru sangat focus mendengarkan ucapan tutor yang berasal dari London tersebut.

Tepat pukul 12, bimbingan belajarpun berakhir. Dengan daya mata yang masih tersisa beberapa watt, Cheonsa pun membersihkan mejanya yang di luar dugaan ternyata sangat berantakan. Bolpoint, pensil, penghapus, rautan, penggaris, semuanya tidak berada di dalam kotaknya. Belum lagi ditambah dengan note book, buku catatan, buku diktat, kamus bahkan buku harian. Sepertinya dia kelelahan saat semua barang itu sudah kembali dalam ranselnya.

Taehyung yang sejak tadi memperhatikan wajah mengantuk Cheonsa, sedikit tak tega membiarkan gadis itu untuk tetap terjaga sampai rumah. Setelah melihat sekitar yang ternyata sudah tak ada siapapun, Taehyung mengusap rambut Cheonsa dengan lembut hingga sang pemiliknya menoleh.

“Menginap di rumahku, eotteohke?”

Cheonsa mengerjap-ngerjap hingga bola matanya memerah. Dia menguap untuk kesekian kalinya sampai membuat matanya mengeluarkan air.

Taehyung menarik kepala Cheonsa untuk bersandar di dadanya. “Eotteohke, Cheonsa?”

Mendapatkan tempat bersandar yang nyaman, Cheonsa langsung memejam. “Nanti eomma appa mencariku..”

“Aku yang akan bilang,” jawab Taehyung yakin.

“Keurae,” balas Cheonsa sebelum mengangkat kepala lagi. “Ppali kaja.. aku mengantuk sekali.”

Taehyung tersenyum. ia meraih ransel Cheonsa dan membawanya di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menggandeng lengan Cheonsa agar tidak limbung saat berjalan.

“Taehyung… bagaimana kalau ada yang lihat?” protes Cheonsa ketika mereka berjalan menyusuri koridor yang sepi sambil bergandengan seperti itu.

“Kita resmikan saja sekarang,” balas Taehyung sembari tersenyum.

“Eum.. ya sudahlah,” karena mengantuk Cheonsa hanya bisa pasrah. Bahkan ia tak peduli saat beberapa gadis melihat mereka dengan tatapan kaget saat Taehyung bahkan merangkul pinggangnya.

Lima menit kemudian, mereka sampai di depan sebuah rumah kecil.

CKLEK!

BRAK!

Taehyung agak terburu-buru menarik Cheonsa masuk ke kamarnya sebelum kedua orang di dalam ruang tamu yang gelap mengetahui kalau ada Cheonsa di sampingnya. Pemuda itu bahkan menutupi telinga Cheonsa agar tidak mendengar suara-suara aneh yang membahana di ruang tersebut.

CKLEK!

BRAK!

Cepat-cepat Taehyung mengunci pintu. Di saat menoleh, dugaannya terbukti dengan tatapan Cheonsa yang cukup menyelidik.

“Kenapa ruang tamunya gelap?”

Taehyung tahu itu akan terjadi. Pemuda itu menghela napas, meletakkan tas mereka di kaki meja belajar lalu menarik Cheonsa mendekati ranjangnya. Mereka duduk di pinggiran ranjang sambil berhadap-hadapan.

“Di rumah ini, hanya ruang ini yang aman. Kau sudah mendengar ceritaku sebelumnya kan? Di rumah ini kamar hanya ada satu, dan inilah tempatnya. Dia selalu melakukan itu semua di ruang tamu.”

Wajah Cheonsa langsung memucat. Dia terdiam saat melihat Taehyung menatapnya.

Ekspresi yang seperti itu, justru membuat Taehyung bersalah. Ia menghela napas kuat-kuat sambil mengusap wajahnya. “Keurae. Tempat ini tidak aman. Kaja kuantar pulang.”

Cheonsa menahan tangan Taehyung saat akan beranjak. Gadis itu menggeleng pelan dan membuat Taehyung kembali ke tempatnya.

“Aniya Taehyung. Kau… tidak akan kemana-mana kan?”

“Eoh.”

Perlahan Cheonsa tersenyum. “Dengan begitu aku aman.”

Meski sebenarnya tak yakin, Taehyung tetap berusaha tersenyum. “Sekarang tidurlah. Ah chakkaman.”

Taehyung bangkit dan langsung mendekati sound. Tanpa ragu-ragu ia menghidupkan music hip hop dengan volume suara yang tidak sekeras biasanya. Setelah itu ia kembali ke samping Cheonsa.

“Kenapa harus membunyikan lagu?”

“Kau mau mendengarkan suara seduktif dari ruang tamu?”

Pipi Cheonsa langsung memerah kemudian menggeleng. “T-t-tentu tidak.”

“Lebih baik mendengarkan lagu rapp kan? Cepatlah tidur, matamu merah.”

Cheonsa tersenyum. “Arraseo.”

Dan untuk malam ini, pertama kalinya Taehyung menampung seorang gadis di kamar pribadinya yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun. Wajah Cheonsa yang damai dengan mata memejam dan tubuh terbalut selimut membuat ujung bibirnya terangkat. Tangannya yang dua kali lebih besar dari tangan Cheonsa, mengusap wajah itu dengan begitu lembut. Kulitnya yang kasar tersentuh oleh kulit halus dari pipi Cheonsa. Setiap kali menyentuh.. ah… melihat saja terkadang, jantungnya selalu berdetak cepat. Karena kecepatan yang tidak normal itu, ia menjadi salah tingkah, berimbas pada sikapnya yang terlampau dingin. Tentu saja, pemiliki golongan darah AB di saat jatuh cinta pasti tidak akan bersikap romantic. Anomaly ini terkadang membuat Taehyung kesal pada dirinya sendiri. Namun di satu sisi, dia cukup beruntung. Jika gadis penakluknya bukanlah Cheonsa, mungkin dia tidak akan merasakan perasaan kupu-kupu itu seperti saat ini. Cheonsa-nya selalu mengerti dirinya. Cheonsa-nya selalu memperlakukannya dengan sangat istimewa. Cheonsa-nya selalu menerima apa yang ada dalam dirinya. Semua itu hanya ada dalam Cheonsa-nya, tidak gadis lain.

Sebagai seorang laki-laki, tentu saja dia harus memenuhi satu keinginan biologis dalam dirinya. Akan tetapi, monster itu berusaha dia kubur dalam-dalam agar tak membuatnya menjadi sosok ‘brengsek’ seperti ‘pria pertama dalam hidupnya’. Dia tidak mau merusak seorang gadis yang tak tahu apapun seperti Cheonsa hanya karena egonya. Ia menyayangi Cheonsa lebih dari apapun, lebih dari keinginan biologisnya itu mungkin. Dia sangat bersyukur memiliki anomaly kepribadian seperti yang disebutkan sebelumnya. Dengan begitu, dengan menjadi tidak romantic, dia akan semakin jarang untuk melakukan skinship dengan Cheonsa. Terlebih untuk ciuman yang belum pernah mereka lakukan di bagian bibir secara mendalam. Mungkin kalau di bagian lain seperti pipi, ujung bibir dan kening mereka sudah terbiasa, karena yang melakukannya pasti Cheonsa. Taehyung selalu memiliki alasan kuat untuk tidak mencium Cheonsa kecuali pada alasan-alasan yang logis.

Karena Cheonsa-nya begitu berarti, dia tidak akan pernah mau menghancurkannya. Dan jika itu terjadi, jika dia menghancurkan Cheonsa maksudnya, dia pasti akan kehilangan arah hidupnya bahkan napasnya. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika itu terjadi.

“Jaljayo..”

CHUP!

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s