High School Love On ^1^


Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : romance, schoollife, teen, family

Rating : Teen

Length : chaptered (maybe)

Cast : Kim Taehyung (BTS), Kim Cheonsa (OC)

.

^1^

Hal yang paling sulit adalah berhubungan dengan sosok yang tidak pedulian. Biar bagaimanapun mereka memang acuh, tapi ternyata juga minta lebih diperhatikan. Begitupun dengan Cheonsa yang sepertinya harus benar-benar merubah sikapnya agar lebih perhatian pada Taehyung. Kekasihnya yang satu itu memang sangat dingin, tidak peka, cuek, tapi ingin sekali diperhatikan.

“Taehyung-ah.. kaja kita pulang,” untuk kesekian kalinya Cheonsa harus membujuk Taehyung untuk pulang.

Tapi yang ada Taehyung tetap tak bergeming seolah ucapan itu tidak pernah ada. Dia masih terbujur di atas ranjang pasien ruang kesehatan sekolah dimana tubuhnya penuh lebam akibat pertengkaran yang terjadi antara dia dengan seorang adik kelas saat kompetisi basket beberapa jam lalu.

Cheonsa mendesah. Ia pun mengusap pipi Taehyung yang terdapat memar berwarna ungu di sana. Sebenarnya Taehyung kesakitan, tapi demi gengsinya yang tinggi ia tetap diam seolah tak merasakan apapun.

“Taehyung-ah… mianhae..”

Bagai sihir, kata itu langsung membuat Taehyung membuka mata. Ia menatap Cheonsa dengan tatapan khasnya yang tajam sebelum duduk.

Melihat tingkahnya yang cukup unik, Cheonsa hanya tersenyum tipis. “Kaja kita pulang.”

Tanpa mengucapkan apapun, Taehyung beranjak turun, menyampirkan tasnya di punggung dan kemudian keluar dari ruangan itu. Di luar ternyata sudah gelap, pantas sekarang sudah mendekati pukul 11 malam.

Mereka pulang dengan bus. Tapi sebenarnya mereka tidak benar-benar pulang karena harus datang ke tempat bimbingan belajar. Sudah hal lumrah di Korea kalau hal ini pasti terjadi pada setiap siswa. Justru aneh jika siswa Korea Selatan tidak mengikuti bimbingan belajar setelah jam sekolah selesai.

Dengan bus ini, mereka akan sampai di tempat bimbingan belajar sekitar 15 menit kemudian. Dengan suasana bus yang kosong, mereka bisa bebas memilih tempat. Namun mereka kompak memilih kursi yang ada di paling belakang. Cheonsa duduk tepat di samping kaca, sementara Taehyung ada di sebelahnya.

Mendengar Taehyung yang berulang kali mendesis menahan sakit di kepalanya, Cheonsa pun menggerakkan kepala pemuda itu untuk bersandar di bahunya. Taehyung sama sekali tidak menolak karena ia butuh itu. Akibat dipukul hingga terjatuh, kepalanya sampai terantuk lantai lapangan dengan cukup keras. Beruntung ia tidak sampai pingsan, hanya nyeri saja.

Berawal dari adik kelas yang suka cari gara-gara dengan Taehyung. Pemuda yang setahun lebih muda dari Taehyung itu bermain curang dengan sengaja mendorong punggung Taehyung ketika akan membuat tembakan tiga angka. Taehyung yang saat itu sangat kesal, langsung saja balas dendam pada si adik kelas dan berakhir dengan datangnya guru olahraga yang langsung melerai mereka. Taehyung hanya memberi pelajaran pada adik kelas dengan memukulnya sekali, tapi si adik kelas memang pada dasarnya menyebalkan. Pemuda berwajah unyu yang sok itu memberikan pukulan bertubi-tubi pada Taehyung sampai ujung bibir Taehyung mengeluarkan darah. Begitu berhasil dilerai oleh guru olahraga, Cheonsa yang saat itu ada di sana langsung membawa Taehyung ke ruang kesehatan sambil mengomelinya. Taehyung yang tidak suka disalahkan segera saja melepaskan diri dan pergi dengan terseok-seok menuju ruang kesehatan sendiri. Itulah mengapa ia tetap diam saat Cheonsa mengajaknya pulang.

Aroma shampoo Cheonsa yang lembut langsung menyita semua ruang di paru-parunya. Aroma mawar itu sukses membuatnya mabuk hingga berfantasi ria soal itu. Dengan mata terpejam, ia hirup dalam aroma itu hingga dadanya terasa sesak. Tanpa ia sadari, sebagai respon dari rangsangan aroma ini, kepalanya bergerak perlahan mendekati asal aroma dan menghirupnya dalam-dalam. Ia tidak tahu kalau Cheonsa sudah gugup setengah mati dengan sikapnya yang tiba-tiba ini.

“T-t-taehyung-ah..”

“Eum?” balasnya dengan tetap asik menghirup aroma mawar dari rambut Cheonsa.

“A-a-ada apa denganmu?”

Taehyung membuka matanya perlahan. Ia sudah benar-benar mabuk, bukan di bawah pengaruh alcohol tapi di bawah pengaruh aroma itu. Ia menatap Cheonsa dengan tatapan yang mengantuk, entahlah apa yang sedang ada di pikirannya. “Rambutmu harum sekali..”

Ia sama sekali tak peduli dengan tatapan Cheonsa yang takut setengah mati. Gadis itu langsung membuang pandangan.

Pemuda itu, tanpa tahu bagaimana suasana hati Cheonsa, melanjutkan aksi mabuknya dengan menarik bahu gadis itu agar wajahnya bisa tenggelam dalam lautan rambut hitam Cheonsa. Lagi-lagi matanya terpejam ketika menghirup aroma itu.

Cheonsa tidak cantik. Gadis itu memiliki mata bulat yang indah serta rambut hitam bergelombang. Tubuhnya tidak S-line, bahkan terbilang tinggi untuk ukuran gadis dan terbilang gendut untuk usianya. Kulitnya putih bersih yang disebut sebagai fair skin. Terdapat dua tanda lahir di pipinya yaitu di bagian kiri dan kanan. Tulang rahang bawahnya lebih maju dari tulang rahang atasnya. Deretan giginya tidak rata tapi saat tersenyum dia selalu dipuja banyak orang. Hidungnya tidak mancung, alisnya sangat tebal dan bulu matanya begitu lentik. Namun aroma ini, yang Taehyung bayangkan justru adalah sosok bidadari yang sangat sempurna.

CUP!

“Aku tidak akan membiarkan aroma ini hilang,” gumamnya sembari menjauhkan wajahnya. Pemuda itu meski sebenarnya tak rela memutuskan sambungan indera penciumannya dengan bau itu, tapi dia tidak mau kelewat batas.

Dia memang indah. Keindahannya selalu bisa membuatku tergoda dan memabukkanku. Tapi biar bagaimanapun keindahan itu tidak akan kuhancurkan, sampai akhirnya aku benar-benar menjadi pemilik dari keindahan itu sendiri.

Jantung Cheonsa hampir mencelos begitu Taehyung tak lagi menempelkan wajah di kepalanya. Ia mengambil dan membuang napas hingga pernapasannya kembali normal. Begitu menoleh, ia mendapati Taehyung sedang terpejam dengan kepala bersandar pada sandaran kursi. Mungkin, agar tidak tergoda lagi, pemuda itu memilih untuk tidak meletakkan kepalanya di atas pundak Cheonsa. Dan dalam hati, Cheonsa sangat memuji sikap pemuda itu.

Gadis itu tersenyum.

**

Tatapan tidak suka langsung membanjiri mereka ketika mereka baru saja datang ke tempat bimbingan belajar. Sorot mata para gadis tidak lepas dari Cheonsa yang dengan santainya berjalan angkuh melewati mereka. Sebenarnya yang tidak mereka suka dari Cheonsa itu adalah ekspresi wajahnya yang selalu datar dan dagunya yang sedikit terangkat. Beberapa dari mereka adalah teman sekelas Cheonsa, yang mudah tersinggung ketika Cheonsa tidak menyapa mereka saat lewat.

Beda lagi kalau mereka melihat Taehyung yang berjalan semeter di belakang Cheonsa. Tatapan datarnya justru membuat para gadis terpesona. Langkahnya yang tegas, sorot matanya yang tajam, gaya berjalannya dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana, bohong jika para gadis tidak akan tersihir.

Di kelas bimbingan belajar, Taehyung dan Cheonsa kedapatan sebagai teman sekelas. Cheonsa duduk di kursi paling depan deretan bangku ke dua dari pintu, sedangkan Taehyung mengikuti dengan duduk di sampingnya. Seperti biasa mereka pasti tidak akan menyapa satu sama lain. Lagipula, siapa yang tahu kalau mereka adalah sepasang kekasih?

“Di kelasmu kimia sudah ulangan?” tanya Cheonsa sembari mengeluarkan buku tulis kimia beserta alat tulisnya.

“Eoh. Bab pH,” balas Taehyung singkat sambil meletakkan kepala di atas meja menghadap pada Cheonsa.

“Oh.. kelasku belum ada ulangan. Setelah pH, materinya tentang apa lagi? Hidrolisis bukan?”

“Eoh. Kelompokku mendapat tugas presentasi untuk itu,” balas Taehyung dengan mata memejam.

“Ah.. jadi setelah ulangan ada presentasi lagi, ne? baguslah. Kemarin kelasku mendapat tugas mengerjakan lima soal di halaman 73. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana rumus mencari pH untuk larutan basa. Bukankah rumus pH itu min log konsentrasi H plus? Lalu dari larutan NaOH, konsentrasi H plusnya dapat dari mana?” Cheonsa mengetuk-ngetukkan ujung pensil mekaniknya ke dahi.

“pH dapat dicari dengan mengurangkan pH air dengan pOH. Jika larutannya basa, maka pH yang tertulis akan lebih dari 7,” ucap Taehyung masih dengan memejam.

“pH air.. empat belas?”

“Eoh.”

Keduanya pun hening. Cheonsa sibuk mengerjakan soal nomor 3, sementara Taehyung masih asik terpejam. Hingga tak lama kemudian sang tutor datang dan bimbingan hari itu dimulai. Hari ini materi yang dibahas adalah kimia dan bahasa Korea. Kedua murid itu –Taehyung Cheonsa- beserta murid lainnya terlihat sangat serius mendengarkan penjelasan tutor yang belum pernah dijabarkan oleh guru mereka. Taehyung yang masih merasakan sakit di kepalanya, tetap bisa berkonsentrasi dengan baik. Ia tak perlu note untuk mencatat, sekali dengar, apa yang diucapkan sang tutor langsung meresap dalam otaknya. Jika diandaikan, dia itu seperti buku catatan berjalan.

Beda lagi dengan Cheonsa yang berulang kali kehilangan fokusnya. Dia adalah pribadi yang mudah bosan, apalagi dalam hal mendengarkan. Penjelasan tutor yang panjang lebar hanya terdengar seperti suara kicauan burung gereja. Dia tidak bisa menangkap apa maksud dari yang dikatakan tutor itu. berbeda dengan Taehyung, ia tidak bisa mengingat sesuatu dengan baik. Jika bukan dengan tulisan, dia pasti tidak akan mengerti dengan penjelasan materi hari ini. Namun, dia paling baik dalam urusan belajar otodidak. Karena tidak bisa menangkap maksud kata-kata tutor, ia pun sibuk membuka buku diktat untuk mengira-ngira apakah materi yang disampaikan si tutor itu sama. Jika diandaikan, ia itu seperti database yang menyimpan berbagai tulisan.

Tak terasa, sudah satu setengah jam mereka berada di kelas ini. Sekarang sudah pukul 00.30 dini hari. Cheonsa segera membereskan semua buku dan dimasukkan ke dalam tas. Kedua matanya sudah memerah tanda kalau dia mengantuk.

Suasana kelas sudah sepi ketika Cheonsa selesai merapikan barang-barangnya. Ia merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menguap kemudian jatuh dalam pelukan Taehyung. Dia bisa berlaku begini karena di kelas itu hanya tinggal mereka berdua.

“Ngantuk..” gumam Cheonsa dengan suara malas khas orang mengantuk.

DUK!

Taehyung meletakkan pelipisnya di atas kepala Cheonsa. “Nado.”

Cheonsa menguap lagi untuk kedua kalinya. “Bagaimana ini? Aku malas bergerak. Ah… aku ingin menginap di sini saja.”

“Ya sudah, disini saja. Aku pulang,” ucap Taehyung sembari memejamkan mata.

Bibir Cheonsa mengerucut. “Jahat sekali. Kau tega membiarkan aku di sini?”

“Eoh. Lebih baik tertidur di bus.”

Cheonsa mengeratkan pelukannya sambil tersenyum kecil. “Ah.. Taehyung.. apa kau tidak pernah sadar kalau tingkahmu itu sangat lucu? Tanpa melucu pun kau sudah lucu dengan sendirinya. Apakah itu bakatmu?”

“Bicara apa? Aku tidak paham.”

“Ey… merendah eoh? hah… masih pusing kah? Apa tidak apa-apa kalau pulang dengan bus? Kita bisa naik taxi.”

“Mahal. Shireo.”

Cheonsa tertawa kecil. “Pelit sekali. Antar aku pulang, ne?”

“Eoh.”

Cheonsa pun melepas pelukannya kemudian mencium ujung bibir Taehyung tempat dimana memar tercipta. Pemuda itu tidak bereaksi se-excited para namja yang mendapat ciuman dari kekasihnya. Wajahnya tetap saja datar dengan mata yang menyorot tajam.

“Kaja,” ajak Cheonsa sembari bangkit dan menyampirkan tas di punggung. Mereka berdua pergi keluar dari bangunan bimbel dengan berjalan bersandingan. Peduli apa dengan tatapan orang lain, toh mereka juga tidak kelihatan saling menyapa satu sama lain.

Menunggu sekitar dua menit di halte, mereka pun mendapat bus jurusan apartemen tempat tinggal Cheonsa. Rumah tempat tinggal Cheonsa itu cukup dekat dengan sekolah, jadi mereka akan melalui jalan yang tadi mereka lalui untuk sampai di sana selama kurang lebih 12 menit. Sementara, rumah Taehyung ada di area perumahan dekat tempat bimbingan belajar mereka. Seharusnya Taehyung tidak perlu naik bus tapi hanya berjalan selama lima menit dan sampailah di rumahnya. Namun, sudah kewajiban Taehyung untuk mengantar Cheonsa pulang dengan selamat hingga sampai di tempat.

Seperti biasa, mereka duduk di kursi paling belakang. Posisinya tetap sama, namun mereka bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa karena ada beberapa siswa dari sekolah mereka yang masuk dalam bus ini. Beberapa diantaranya adalah teman-teman sekelas Cheonsa.

Lima menit berlalu, bus pun kosong, tersisa empat penumpang diantaranya adalah mereka berdua.  Tanpa segan Taehyung menjatuhkan kepalanya di atas pundak Cheonsa lalu memejam. Beban berat di bahunya membuat Cheonsa menoleh. Ia tersenyum.

“Hari yang panjang, ne?”

“Eoh.”

“Bagaimana kalau singgah di rumahku dulu? Aku akan memasakkanmu sesuatu.”

Taehyung menggeleng. “Aku tidak mau memancing gossip.”

Tanpa sepengetahuan Taehyung, Cheonsa tersenyum. Ia pun membelai rambut pemuda itu dengan penuh kasih sayang.

“Arraseo.”

“Kau yang pertama kali memintanya, kan?”

Cheonsa hanya nyengir kuda.

Tiba-tiba sesuatu melingkari pinggang Cheonsa, apalagi itu kalau bukan kedua tangan Taehyung. Jika kekanakkannya muncul. Dia mulai bertingkah seolah Cheonsa adalah ibunya.

“Ck, pusing.”

Cheonsa menggunakan tangannya yang lain untuk mengurut pelipis Taehyung. “Bilang kalau sakit.”

“Enak,” gumam pemuda itu.

Cheonsa menggeleng pelan. Bukannya dia menyuruh Taehyung menyerukan kata sakit? Tapi kenapa malah kata itu? bukan Taehyung namanya kalau dia tidak seaneh ini.

“Sudah baikan?”

“Eum.”

“Keurae, tidurlah. Nanti kalau sudah sampai akan kubangunkan.”

Sebagai anak penurut, Taehyung menuruti saja apa perintah Cheonsa. Ia mulai memosisikan dirinya dengan baik kemudian mulai terlelap. Tidak masalah kalau hanya memiliki 7 menit waktu untuk tidur. Dia sangat mudah dibangunkan, pun mudah untuk terlelap. Tanpa perlu hitungan detik sudah terdengar dengkuran halus dari bibirnya.

**

Bus berhenti di depan sebuah halte yang letaknya berseberangan dengan gedung apartemen tempat Cheonsa tinggal. Mereka berdua pun turun lalu tak lama kemudian bus merangkak pergi.

Taehyung menguap lebar-lebar dengan kedua tangan terentang ke atas. Tidur sebentar di bus ternyata tidak senyaman yang ia bayangkan. Keduanya pun menyeberang ketika penanda pejalan kaki menyala. Taehyung yang belum sepenuhnya sadar, secara tak langsung menuntut Cheonsa untuk menggandengnya. Bisa gawat kalau tiba-tiba Taehyung ketiduran di tengah jalan.

“Bus ke rumahmu akan datang tiga menit lagi,” ucap Cheonsa saat mereka sudah ada di seberang jalan, tepatnya halte yang membelakangi gedung apartemen. Mereka berdua menunggu disana untuk kedatangan bus terakhir.

“Kau tidak masuk?” tanya Taehyung dengan kepala yang bersandar pada bahu Cheonsa.

“Aku tidak tega meninggalkanmu, Taehyung-ah.”

“Ck, kalau tidak tega, ikut aku pulang. Aku sungguh tidak ingin ada di rumah.”

“Ssst, jangan seperti itu. tidak baik.”

“Aku benci, arra?”

Cheonsa tersenyum. “Eoh, arraseo.”

Tak lama kemudian, bus yang mereka tunggupun datang. Keduanya bangkit, mereka berdiri saling berhadap-hadapan dengan kedua tangan Taehyung mencengkram lembut bahu Cheonsa.

“Hati-hati di jalan,” gumam Cheonsa dengan kedua sudut bibir terangkat.

“Kau juga.”

“Tidulah yang nyenyak.”

“Kau juga.”

Chup!

Kecupan penuh kasih sayang mendarat mulus di dahi Cheonsa. Taehyung pun tersenyum sebelum beranjak memasuki bus.

Cheonsa melambaikan tangannya hingga bus menghilang di persimpangan. Ia pun berbalik dan beranjak memasuki gedung apartemen untuk segera sampai di rumahnya.

Sejauh 12 menit dari gedung apartemen Cheonsa, Taehyung sampai di rumah tepat pukul 1 dini hari. Ia memasuki rumahnya yang tidak terkunci, melewati ruang tamu yang dipenuhi dengan bau alcohol untuk sampai di kamarnya. Ia sama sekali tak peduli dengan apa yang terjadi di ruang tamu yang gelap itu. ah.. sepertinya ruang tersebut lebih pantas disebut ruang maksiat daripada ruang tamu.

CKLEK!

BRAK!

Tanpa peduli kalau dua orang di ruang tamu itu terkejut dengan sikapnya. Taehyung menghidupkan music hip hop dengan volume keras, kemudian menyeret kakinya menuju ranjang dan membanting diri. Tak perlu waktu lama ia pun terlelap.

**

Pagi yang cerah. Taehyung terbangun tanpa bantuan alarm atau pengingat waktu sejenisnya. Dalam sekejap, suara music hip hop langsung menginterupsi telinganya. Ia pun menguap lebar-lebar kemudian duduk di pinggiran ranjang. Semalam ia langsung tidur tanpa melepas dulu kaos kakinya. Dan sekarang ia baru melepas kaos kaki, dasi, blazer bahkan kemeja. Dengan bertelanjang dada, ia pun masuk ke dalam kamar pribadi yang ukurannya meski lebih sempit dari luas kamarnya, ia tetap merasa nyaman karena memiliki privasi.

Usai membersihkan diri selama kurang lebih 15 menit, ia pun keluar dari kamar mandi dan langsung memakai seragam untuk hari itu. setelah semua rapi termasuk rambutnya, ia pun beranjak keluar dengan mencangklong tas di punggungnya.

CKLEK!

BRAK!

Ekspresinya datar-datar saja saat melihat seorang wanita asing dengan tubuh hanya terbalut selimut, sedang sibuk menggelung rambut di samping ayahnya yang menguap lebar-lebar. Ia seolah tak peduli dengan tatapan wanita asing itu yang tengah menatapnya penuh kagum.

Langkahnya terlampau ringan saat berjalan melintangi ruang tamu menuju pintu utama.

“Tae-”

CKLEK!

BRAK!

Baginya, rumah hanyalah tempat singgah sebentar untuk tidur.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s