Hidden Love [Pentalogi of Definition of Love]


Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : romance, schoollife, marriage life, family, brothership, friendship

Rating : Teen (High School)

Length : Chaptered

Cast : Oh Sehun (EXO), Kim Jongra (OC), Kim Jongin a.k.a Kai (EXO), others cameo.

Main Title : Definition of Love

Subtitle : Hidden Love

 

@Seoul Hospital

Bias cahaya matahari membuat kelopak mata di ranjang itu terangkat perlahan, memperlihatkan manic hitam indah di matanya. Gadis itu mengedarkan pandangan, berusaha melihat dan beradaptasi dengan tempat yang sangat dibencinya ini. Disinilah dia, di rumah sakit.

Disini dia sendiri. Aneh. Ruang yang 2 kali lebih luas dari kamarnya ini hanya dihuni oleh dia seorang. Dia benar-benar sendirian, di tempat yang sangat dibencinya ini. Perlahan tapi pasti dia beringsut duduk, meski kepalanya masih berdenyut nyeri. Bahkan dia bisa merasakan, cairan infuse berjalan memasuki organ tubuhnya.

CKLEK

Pintu di depannya tiba-tiba terbuka, menampilkan postur tubuh seorang pemuda yang hanya memakai kemeja warna putih dengan logo SMA Seoyang di dada kirinya. Pemuda itu rupanya sudah ada di dalam kamar mandi sejak beberapa menit lalu, jadi Jongra tidak mengetahui keberadaannya.

Mereka saling menatap untuk beberapa detik sebelum postur tegap itu berjalan menghampiri ranjang di tengah ruangan.

Pemuda itu, tanpa mengucapkan apapun langsung menempelkan telapak tangannya di dahi Jongra. Lagi-lagi mereka harus saling beradu pandang, sebelum akhirnya pemuda itu menurunkan tangannya dan duduk di pinggiran ranjang pasien.

Jongra membuang pandangan ketika melihat fakta yang dihadapannya kini. Sehun benar-benar membuat suatu kejutan untuknya.

“Gomapda.”

Sehun menoleh sekilas. Sedangkan Jongra belum berani untuk menoleh.

“Seharusnya kau tidak perlu membawaku kemari. Aku…. Baik-baik saja.”

Hening. Sehun tak merespon apapun, situasi ini sudah sangat biasa bagi Jongra.

“Aku tidak ingin semakin membebanimu, aku lebih baik pulang.”

Jongra menyingkap selimut yang membalut tubuhnya dan akan beranjak turun sambil melepas paksa jarum infuse. Akan tetapi sebuah tangan menahannya.

“Kau tidak baik-baik saja,” ujar pemuda itu seraya mendorong pelan tubuh Jongra untuk kembali duduk di ranjang. Suaranya terdengar kaku dan dingin, akan tetapi inilah kalimat pertama yang dilantunkan Sehun setelah sebulan mereka menikah. Terbesit rasa senang dalam hati Jongra, akhirnya Sehun mau berbicara padanya.

Tiba-tiba terdengar lantunan nada intro lagu Beast-black paradise. Suara itu berasal dari saku blazer sekolah Sehun yang terletak tak jauh dari tempat mereka berada. Sehun pun bangkit dan beranjak mengambil benda itu.

ain’t no light deullyo-oneun sorineun Gun shot

gomeun haneurare ullyo pojineun Scream & Shout

mom gwa morineun chagapge Cold like Ice

sumi kkeutkkaji cha ollado Keep Runnin

Pemuda itu memainkan jarinya di atas layar ponsel, sebelum nada lagu itu berhenti dan dia mendekatkan ponsel pada telinga.

“Yoboseyo.”

“Ne, dia sudah sadar.”

“Eum.”

“Eum.”

KLIK

Panggilan di akhiri. Pemuda itu memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celana kemudian memutar tubuhnya dan berjalan kembali menghampiri Jongra.

“Kai ada keperluan dan tidak bisa menjengukmu,” ucap Sehun saat mereka tak sengaja saling beradu pandang.

“Eum, gwaenchana.”

Suasana hening kembali menyelimuti mereka. Seakan terbiasa dengan suasana seperti ini, Sehun menyibukkan dirinya dengan menatap lurus ke luar jendela. Bias cahaya matahari sore menerangi wajah pemuda itu. Jika kalian berada di posisi Jongra, mungkin kalian akan terpesona dengan pemandangan itu. Lekuk wajah Sehun terlihat sangat jelas. Poninya yang menantang langit, sorot matanya yang tajam, alis tebal, hidung mancung, bibir tipis dan rahang lancip, seakan-akan pemuda itu adalah jelmaan dari pangeran hasil coretan para author anime. Tidak ada yang cacat, wajahnya sungguh sempurna.

CKLEK

Kedua remaja itu menoleh ke asal suara bersamaan. Dari balik pintu ruangan, muncullah seorang suster dengan mendorong sebuah troli yang membawa beberapa makanan dan obat-obatan. Suster itu tersenyum menggoda hanya pada Sehun, membuat Jongra diam-diam mencibirnya.

Sehun berjalan menghampiri suster itu, membantu memindahkan piring-piring makanan tersebut ke atas nakas di samping ranjang pasien.

“Gomawo,” ujar suster itu malu-malu. Sehun hanya tersenyum samar.

“Eung… apa gadis itu saudaramu?” tanya suster itu sambil melirik Jongra sekilas. Terbesit rasa tidak suka dari pandangannya.

Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sikapnya ini justru membuat suster tersebut semakin terpesona.

“Aniyo, dia istriku.”

Suster itu berjengit kaget. Dia melirik Jongra dari balik bahu Sehun, disana ternyata Jongra juga terkejut atas apa yang diucapkan Sehun. Tidak biasanya, Sehun mengakui status mereka di khalayak umum.

Suster tersebut seperti kehilangan tenaganya. Dia dengan lemas membungkuk 90 derajat kemudian keluar dari ruang tersebut. Setelah pintu kembali tertutup, Sehun mengambil satu mangkuk berisi bubur dan membawanya ke ranjang Jongra.

Jongra akan meraih mangkuk itu, akan tetapi Sehun menjauhkannya.

“Biar aku makan sendiri.”

Sehun tak merespon. Dia menyedokkan bubur itu, meniupnya sejenak lalu mendekatkannya ke bibir Jongra. Mau tak mau gadis itu membuka mulutnya dan memakannya. Rasanya hambar, tapi dia harus makan jika tidak ingin mati ditempat.

Lagi-lagi suasana yang menyelimuti mereka begitu naïf. Tidak sepatah katapun yang ingin mereka ungkapkan. Tidak mungkin jika mereka tidak memikirkan satu sama lain.

Jongra mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang menarik. Hingga akhirnya matanya berhenti pada bayangan sebuah benda berbentuk balok yang tak jauh darinya. Dia segera meraih benda itu kemudian menekan salah satu tutsnya hingga TV yang menempel pada dinding hidup seketika. Gadis itu menekan semua tuts di benda berbentuk balok itu sampai menemukan sebuah tayangan drama romantic. Sehun sepertinya tertarik dengan apa yang ditampilkan di layar televise. Akan tetapi, sebuah adegan secepat kilat membuat kedua remaja itu sama-sama berjengit kaget. Mereka sama-sama tidak tahu menahu tentang jalan cerita drama itu, tapi mereka sudah disuguhi adegan yang benar-benar mengejutkan.

Sehun merebut remote tersebut dan menekan satu tuts. Channel berpindah ke tayangan film action. Sehun bisa sangat jelas mendengar helaan nafas lega dari Jongra. Suasana yang awkward ini, memaksa keduanya untuk bertingkah biasa. Sehun kembali menyendokkan bubur ke mulut Jongra. Sambil menunggu gadis itu menghabiskan makanan dalam mulutnya, mereka beralih menatap televise, hal itu terus berulang hingga bubur di dalam mangkuk habis.

Tibalah saatnya film action itu memperlihatkan adegan pembunuhan. Jongra terlihat ngeri. Dia mengambil bantal yang ada di belakang tubuhnya sebagai benda untuk dipeluk. Ya setidaknya dia bisa menutup mata saat melihat adegan mengerikan.

“Aaaaa!”

Gadis itu berteriak histeris saat televise itu memperlihatkan potongan-potongan tubuh manusia. Karena terlalu mengerikan, dia tak sengaja memeluk Sehun.

CKLEK

“Omo! Yaa! kalian sedang apa?”

Jongra menoleh ke asal suara sedang Sehun mematikan televise. Gadis itu reflek menjauhkan tubuhnya saat menyadari apa yang terjadi.

Suara kekehan jahil terdengar dari bibir Kai. Pemuda itu baru saja datang dengan mengenakan coat coklat. Dia mengayunkan kaki menghampiri kedua manusia di sana.

Pemuda berkulit gelap itu mengecup pipi gadis berambut platina tersebut. Dia tersenyum tipis kemudian mengelus pipi itu.

“Mian, aku datang terlambat.”

“Eum,” Jongra membalas dengan senyuman.

Sehun mencibir sikap Kai yang tidak bisa disebut sebagai seorang kakak kembar.

“Aigoo.. sepertinya kalian mulai dekat satu sama lain.”

Sehun membuang pandangan, sedangkan Jongra tersipu kemudian menundukkan kepala. Kai tergelak dibuatnya.

“Haha, kalian itu naïf sekali. Ayolah, kalian sudah terikat, jangan terlihat seperti dua pasangan yang baru saja PDKT.”

Kai menarik kursi dan duduk disana. Dia tidak ingin duduk di pinggiran ranjang karena itu akan membuatnya kehilangan pemandangan langka. Adik kembar sekaligus ‘adik’ iparnya sangat lucu jika dilihat dari angle ini.

Hening.

“Yaa! apa-apaan kalian ini? Tunjukkan padaku kalau kalian itu tuan dan nyonya Oh.”

Sehun mendesis tak suka. “Yaa! kau kenapa kemari, eoh? Kau bilang kau ada urusan.”

Kai tersenyum misterius. “Ey hyung, kau tidak suka aku ada disini, eh? Aku mengganggu acara mesra-mesraan kalian?”

“Yaa!” kilat mata Sehun terlihat makin jelas. Dia semakin benci kehadiran Kai yang justru membuat moodnya tidak baik.

“Hehehe, keep calm hyung. Ah, kau sudah makan? Aku tadi menyempatkan diri beli ddeokbeokki dan sushi kesukaanmu. Jongra-ya, kau jangan ikut makan sushi, atau aku akan menciummu.”

Kai mengeluarkan kantong plastic berwarna putih dan menyembulkan satu porsi tanggung berisi ddeokbeokki dan satu porsi minimalis berisi sushi. Dia menyerahkan porsi sushi pada Sehun.

“Kau saja yang makan itu, hyung.”

Sehun menerima porsi yang diberikan Kai. Tanpa perlu berbasa-basi lagi, dia melahap habis 8 potong sushi di dalamnya.

“Aigoo hyung… cepat sekali kau menghabiskannya. Apa kau juga ingin ini?”

Kai dan Jongra yang baru melahap beberapa potong ddeokbeokki, segera menyodorkan bungkus plastic itu ke hadapan Sehun. Karena porsi yang dibeli adalah porsi tanggung, jadi dimakan berdua pun tidak akan habis dalam waktu singkat.

Sehun menggunakan sumpit untuk mengambilnya. Akan tetapi sangat sulit, karena ddeokbeokki itu sangat licin. Entah karena apa, tiba-tiba Jongra menusuk salah satu potong ddeokbeokki itu kemudian disodorkan ke arahnya. Keduanya saling pandang. Sehun menemukan kilat tulus dalam mata indah Jongra. Sehingga dia pun menggigit ujung makanan yang disodorkan padanya.

CKRIK

Sehun dan Jongra menoleh ke asal suara. Kai terlihat tersenyum puas sambil menatap layar ponselnya. Dia tidak menyadari tatapan ganas dari kedua orang yang barusan menjadi objek potretnya.

“Wae?” tanyanya saat dia baru menyadari situasi.

“Kemarikan ponselmu.”

Kai berkilah cepat saat Sehun akan merebut ponselnya. “Memang kenapa? Kalian itu pasangan terikat.”

“Aish! Jangan banyak alasan, berikan!”

Kai pun menyembunyikan benda itu di belakang tubuhnya, kemudian memamerkan lidah tanda mencibir Oh Sehun.

“Sudah terlambat, aku sudah mengirimnya ke semua orang.”

Mata Sehun dan Jongra spontan melebar. “MWO?!”

*

Esok harinya, Jongra sudah diperbolehkan pulang. Akan tetapi sesuai saran dokter, dia belum dibolehkan untuk masuk sekolah. Jadi untuk hari ini, Jongra akan kembali ke rumah bersama Sehun.

Pemuda berkulit albino itu menuntunnya hingga ke dalam mobil. Sangat jauh berbeda dengan Sehun sebelumnya. Pemuda itu dengan tulus membukakan pintu dan memasangkan selt belt untuknya.

Deru mesin terdengar lembut. Roda kendaraan itu berputar menyusuri suasana jalanan yang masih lengang. Udara di pagi ini sangat dingin, Jongra pun mengeratkan coatnya.

20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah. Sehun membantu melepaskan selt beltnya dan membukakan pintu kembali. Pemuda itu menuntunnya memasuki rumah.

“Eoh? Kamarku disana,” ucap Jongra tiba-tiba saat Sehun menariknya menuju kamar utama. Pemuda itu berlagak tuli. Dia tetap mengomando Jongra untuk mengikuti kemana kakinya pergi.

Saat pintu dibuka, Jongra dibuat kagum dengan kondisi kamar Sehun. Luasnya sama dengan dua kali lipat luas kamarnya. Fasilitasnya juga lengkap dimana ada pendingin sekaligus penghangat ruangan. Bahkan terdapat balkon pribadi.

“Untuk hari ini lebih baik kau tidur di kamarku. Cuaca hari ini sangat dingin, di kamarmu tidak ada penghangat. Lepas coatmu dan tidur. Aku akan mandi,” ujar Sehun seraya mengambil seribu langkah memasuki ruangan kecil disana, dimana Jongra meyakini bahwa ruang tersebut adalah kamar mandi.

Jongra meneguk salivanya paksa. Dari dalam ruangan kecil itu terdengar suara air berjatuhan. Gadis itu masih belum percaya jika ini bukan mimpi. Dia mencubit pelan pipinya.

“Akh,” sakit, itu berarti semuanya nyata.

Dia mengedarkan pandangan, seketika dia takjub dengan apa yang dia lihat. Ruangan ini tertata sangat rapi dan bernilai seni. Dinding kamar didominasi oleh warna merah kelam. Disetiap dinding yang terlihat, akan dijumpai lukisan-lukisan abstrak yang mungkin hanya dipahami oleh pemilik kamar ini. Mulut Jongra terkatup rapat, tidak bisa berkata-kata.

Gadis itu teringat perintah Sehun. Dia pun melepas coatnya kemudian naik ke atas ranjang. Empuk. Bahkan lebih empuk dari tempat tidurnya. Perlahan dia meletakkan kepala di atas bantal. Benar-benar nyaman, rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Akan tetapi dia tidak boleh tidur, dia harus menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Oh Sehun. Namun entah kenapa, kelopak matanya terkatup begitu saja.

**

Sehun keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan kaos oblong putih serta celana pendek selutut. Di kepalanya terdapat handuk karena rambutnya masih basah. Senyumnya terukir saat melihat seorang gadis telah terlelap di atas ranjangnya. Dia memaklumi hal itu meski sekarang waktu telah menunjukkan pukul 8. Kemarin karena terlalu asyik bermain playstation dengan Kai, dia dan Jongra tidur larut malam. Sehun tidak tahu menahu kalau ternyata Jongra mengidap insomnia.

Pemuda itu mengeringkan rambutnya sambil bergegas menuju dapur. Tidak mungkin baginya menyuruh seorang pasien untuk memasak, jadi dia berinisiatif menggantikan gadis itu memasak sarapan pagi ini.

Saat membuka kulkas, mata tajamnya hanya menemukan dua butir telur dan beberapa potong seledri. Sehun membuang nafasnya sebelum mengambil bahan-bahan yang tersisa itu. sambil mencuci seledri, dia memikirkan menu apa yang akan dia masak pagi ini. Sekian lama berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk memasak omelet.

Dengan kemampuan memasak yang mumpuni, Sehun berhasil menghidangkan dua porsi omelet yang bisa mereka makan pagi ini. Setelah menatanya di atas meja, dia bergegas memasuki kamar berniat membangunkan Jongra.

Begitu berada di kamar utama, dia mengurungkan niatnya. Wajah Jongra terlihat damai saat dalam keadaan tidur. Benar-benar jahat sosok Oh Sehun jika membangunkan seorang gadis yang baru bisa tidur nyenyak setelah semalaman susah tidur.

Pemuda itu tidak mau makan seorang diri. Dia akhirnya memilih untuk mendengarkan music melalui earphone dan duduk di sebelah Jongra. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Dia memilih beberapa lagu ballad Korea yang membuatnya memejamkan mata, menikmati.

Jongra menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Dia membalikkan tubuhnya ke arah Sehun, jauh di bawah alam sadarnya, dia tak sengaja meletakkan lengan di atas paha Sehun. Hal itu membuat Sehun perlahan mengangkat kelopak matanya. Pemuda itu tersenyum tipis. Tangannya tiba-tiba bergerak mengelus puncak kepala gadis itu.

Entah karena apa, gadis itu membuka matanya. Dia menatap manic mata Sehun, sebelum..

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!”

Jongra langsung mempererat selimut di tubuhnya.

“Yaa! Apa yang sudah kau lakukan padaku? Mengaku!”

Sehun masih mematung sambil memandangi Jongra heran. “Wae? Kalaupun terjadi apa-apa, itu tidak masalah..”

Bug Bug Bug!

“Akh Akh! Appo..”

“Kau bilang tidak masalah? Dasar nappeun namja!”

Sehun masih meringis kesakitan seraya mengelus lengannya yang barusan menjadi korban kekerasan fisik Jongra.

“Memang apa masalahnya? Kita sudah menikah.”

Gadis itu bungkam. Dia memilih memalingkan pandangan daripada harus membahas hal itu lebih jauh. Sehun yang baru menyadari situasi pun, membenahi letak duduknya sambil berdehem.

“Aku sudah memasak sarapan.”

Jongra meliriknya sekilas. “Baguslah. Kenapa masih disini? Kaja,” gadis itu bergerak turun lalu mengayunkan kakinya lebar-lebar keluar dari ruangan. Saat punggung itu menghilang, Sehun menghela nafas lega.

*

Seusai makan, mereka sepakat untuk pergi ke minimarket membeli bahan-bahan makanan untuk persediaan seminggu kedepan. Mereka pergi menggunakan mobil Gallardo hitam pemberian orang tua Sehun. Sesampainya disana, Jongra langsung mendorong sebuah troli dan berjalan menuju tempat daging. Sehun yang sangat benci berbelanja, hanya mengikuti dari belakang.

“Enaknya daging sapi atau ayam?” tanya Jongra tanpa menoleh sedikit pun pada Sehun.

“Terserah kau saja.”

“Eum… aku sedang ingin makan daging sapi, baiklah daging sapi saja,” gadis itu masih terus bermonolog ria seraya mengambil satu paket daging sapi. Setelah itu dia pergi ke stan sayur-sayuran.

“Selain daging, kita juga butuh banyak sayuran. Lobak, bayam, sawi, wah… sepertinya enak dibuat kimchi.”

Kegiatan belanja itu berlangsung hingga troli telah terisi penuh. Sehun benar-benar sudah bosan. Ada sebuah perasaan bahagia saat Jongra melangkah menuju kasir.

Seusai membayar, Sehun membawa 6 kantong plastic sekaligus dan dimasukkannya ke dalam bagasi mobil. Setelah itu dia memasuki mobilnya, menyusul Jongra yang sudah lebih dulu berada di dalam.

“Kemana sekarang?”

“Pulang,” jawab Sehun cepat.

“Shireo.. aku ingin pergi ke Namsan.”

Sehun menoleh cepat. “Mau apa, huh? Tidak ada yang menarik disana.”

Jongra mendesis tak suka. “Bukannya tidak ada yang menarik, kau saja yang tidak pernah pergi kesana.”

Sehun membuang pandangan ke depan. “Shireo, aku lelah hari ini.”

“Pembohong,” gumam Jongra sambil memaling dan melipat kedua tangan di depan dada. Sehun sanggup mendengarnya, hanya saja dia tidak merespon. Gas pun diinjak, mobil itu melaju pelan menyusuri jalanan kota Seoul.

Pemuda berkulit pucat itu menghidupkan pemutar music yang tersedia di mobilnya. Lantunan music hip hop pun menyemarakkan suasana. Sehun menggerak-gerakkan kepalanya pelan, tanda bahwa dia sangat menikmati alunan music itu. Akan tetapi pemandangan yang sangat kontras terlihat pada sisi kanannya.

Sehun meliriknya sekilas. “Kau tidak suka music hiphop?”

Jongra juga melakukan hal yang sama. “Tidak, aku menyukainya.”

CKIIIIT!

Jongra spontan menoleh pada Sehun dengan tatapan deathglarenya. Akan tetapi, Sehun berlagak santai. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke depan, melihat langit dari sisinya.

“Mendung? Ah… sepertinya kita harus putar balik.”

Jongra mengerutkan keningnya. Dia juga mencondongkan tubuhnya ke depan, melihat objek yang dimaksud Sehun. Yang dia temukan adalah langit abu-abu yang sepertinya sedang menahan tumpahan ribuan liter air hasil kondensasi.

“Putar balik bagaimana maksudmu?”

Sehun mengangkat bahunya acuh. Dia langsung menginjak gas dan memutar setir 180 derajat. Jongra yang baru saja menyandarkan tubuhnya pada bantalan kursi, baru sadar jika jalanan yang tadi dilalui mobil mereka adalah jalan menuju N tower. Entah kenapa, Jongra merasa sangat bahagia dalam hati kecilnya.

20 menit perjalanan, mereka pun sampai di rumah. Jongra membawa dua kantong belanja ringan, sedangkan Sehun membawa 4 kantong belanja berat. Mereka meletakkan semua kantong belanja di dapur.

TING TONG! TING TONG!

Kedua remaja itu saling pandang. Mereka seakan berkomunikasi lewat tatapan mata, saling menanyakan siapa yang datang di hari efektif sekolah seperti ini. Berkelebatan kemungkinan memenuhi otak mereka. Yang sangat mendominasi adalah, orang yang memencet bel rumah mereka adalah seorang guru.

“Kidaryeo,” ucap Sehun seraya mengayunkan kakinya menuju pintu depan. Pemuda itu menoleh ke belakang sekilas, sebelum membuka pintu.

“ANNYEONG!!!!”

Untuk sesaat mereka membuang nafas lega. Tapi…

*

Disinilah dua sejoli itu, menikmati duduk berdampingan menghadap para ibu mereka. Kedatangan para ibu ini tidak diduga. Belum ada persiapan matang untuk bertemu dengan mereka.

“Wah… rumah ini benar-benar rapi. Pasti semua hasil kerja Jongra,” cetus eomma Sehun saat matanya menjelajahi tiap sudut ruangan itu. Jongra menanggapi ucapan wanita paruh baya itu dengan senyuman tulus.

“Gomapseummida.”

“Dan Sehun benar-benar menjaganya,” timpal eomma Jongra. Pemuda itu pun tersenyum hingga matanya terpejam.

Di sela-sela kunjungan itu, tiba-tiba seorang pemuda masuk begitu saja. Dia sedikit melompat ke belakang saat mengetahui keberadaan dua ibu disana.

“Eoh? Eomma, eomeonim, annyeonghaseyo.”

“Yaa! kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?! Apa dulu kau tidak mendengarkan gurumu saat menerangkan tentang tata krama?!”

Kai mengerucutkan bibirnya saat sang ibu menegurnya di hadapan orang tua adik iparnya.

“Joesonghammida, eomma.. eomeonim.”

“Gwaenchana, Kai. Kemari, duduklah disini.”

Ibu Sehun menepuk tempat kosong di sampingnya. Kai dengan santun berjalan mendekatinya dan duduk disana.

Dan disinilah, keluarga besar berkumpul. Diam-diam Kai menyeringai misterius pada kedua sejoli dihadapannya. Dia berpikir mungkin sangat menyenangkan untuk menggoda dua sejoli yang tiba-tiba terlihat dekat ini.

“Jongra-ya, kau sepertinya sudah baik-baik saja. Apa Sehun merawatmu dengan baik?”

Pipi Jongra sontak memerah mendengar pertanyaan itu. dia hanya bisa meringis ketika bertemu tatap dengan ibu dan ibu mertuanya.

Ibu Sehun tersenyum. “Aku sungguh khawatir ketika Sehun bilang kau alergi sushi.”

Sekarang Jongra membelalak tak percaya. Dia langsung menoleh pada Sehun, bertanya melalui tatapan mata ‘kau bilang pada eommeonim?’.

Sehun tersenyum kecil tanpa membalas tatapan Jongra. “Bukannya aku sudah bilang untuk tidak khawatir, eomma?”

“Tapi tetap saja Sehunie, biar bagaimanapun dia anak perempuan eomma,” ucap ibu Sehun sambil melempar senyum pada Jongra.

Ibu Jongra tersenyum. “Jongra, lain kali jangan lagi mengulangi kecerobohanmu. Kalau kau masuk rumah sakit, pasti kau memakan banyak potongan.”

Jongra menggaruk tengkuknya. “Habisnya eomma, kalau tidak makan sushi lalu aku harus makan apa?”

“Kau tidak membawa bekal, chagiya?” tanya ibu Sehun dengan mata melebar.

Jongra hanya menggeleng. Ibu Sehun langsung menatap Sehun dengan pandangan kecewa. “Kemana saja kau, Sehunie? Kalau kau butuh uang, tinggal minta ke eomma. Eomma akan memberikannya untuk memenuhi kebutuhan kulkasmu.”

Sehun menatap ibunya dengan perasaan bersalah. “Joesonghammida, eomma.”

“Lalu kenapa kau tidak inisiatif untuk belanja?” kini Jongra mendapat pertanyaan dari ibunya.

Jongra menggigit bibir bagian bawahnya ragu. Dia tidak mungkin membeberkan rahasia kalau selama ini dia dan Sehun tidak saling menyapa, sehingga mereka sering membeli kebutuhan makan sendiri.

Melihat kebingungan adiknya, Kai tidak tega. “Kami semua sering pulang larut malam, eomma. Jadi tidak ada waktu untuk berbelanja.”

Jongra menatap Kai dengan tatapan penuh terima kasih, dan Kai membalasnya dengan tatapan ‘bayari aku dengan fried chicken’. Jongra mendengus lalu tersenyum samar.

“Joesonghammida, eommeonim. Ini sebenarnya salah Sehun karena tidak memiliki waktu untuk mengantar Jongra berbelanja. Lain kali Sehun akan menyisihkan waktu untuk itu.”

Ibu Jongra maupun Sehun tersenyum bangga.

“Aku tidak salah memberikan Jongra pada Sehun,” ucap ibu Jongra dengan tulus sambil menatap ke dalam mata Sehun.

“Aku juga tidak salah merelakan Sehun pada Jongra,” balas ibu Sehun. Kemudian kedua wanita paruh baya itu tertawa tanpa peduli ekspresi dua sejoli yang merona.

Setelah bercengkrama selama satu jam, para ibu dan Kai pamit pulang.  Sekarang, rumah itu kembali hening. Mereka berdua berjalan beriringan setelah mengantar tiga orang itu sampai gerbang. Jongra berjalan di depan dengan langkah pelan, sedangkan Sehun di belakangnya dengan langkah yang lebih pelan. Jongra sesekali harus berpegangan pada dinding ketika tubuhnya hampir limbung saat berjalan.

Saat Jongra akan pergi menuju dapur, Sehun mempercepat langkahnya dan menghadang Jongra dari depan. “Kau mau kemana?”

“Memasak makan siang.”

Sehun hanya menatapnya datar. “Siapa yang mengizinkannya?”

Dahi Jongra berkerut. “Maksudmu?”

“Kau harus istirahat,” gumam Sehun sebelum mengangkat Jongra ala bridal style. Ia mengangkat tubuh itu ke kamarnya dan mendaratkannya di ranjang.

Pemuda itu berlutut di hadapan Jongra yang sedang duduk di pinggiran ranjang. Ia meraih tangan gadis itu lalu menggenggamnya.

“Aniya, kau tidak boleh melakukan apapun sampai kau benar-benar sembuh. Eomma akan kecewa padaku jika melihat anak perempuannya masuk rumah sakit lagi.”

Jongra terus memerhatikan puncak kepala Sehun, dimana Sehun sebenarnya tidak menatap padanya.

Dan saat Sehun mengangkat kepala, tangan Jongra sudah dilepasnya. Dia pun bangkit dan menatap Jongra dengan tatapan datar. “Setelah kau istirahat, kita pergi ke Namsan.”

Kedua mata Jongra melebar. “Nam-san?”

Sehun hanya mengangguk kecil. “Istirahatlah.”

Dia melangkah pergi dengan langkah yang ringan dan tegas. Pintu kamar itu menutup pelan dan rapat setelah punggung Sehun menghilang di baliknya.

Jongra menghela napas dan tersenyum.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s