Definition of Love [Pentalogi of Definition of Love]


 

Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : romance, schoollife, marriage life, family, brothership, friendship

Rating : Teen (High school)

Length : Chaptered

Cast : Oh Sehun (EXO), Kim Jongra (OC), Kim Jongin a.k.a Kai (EXO), others cameo

Title : Definition of Love

 

Sesampainya di Incheon, tepatnya di kediaman Jongra sekarang tinggal, Kai dan Seoji berjalan beriringan memasuki rumah itu. rumah bergaya Jepang tersebut berdiri di tengah-tengah taman dengan pemandangan pohon Sakura. Ada sebuah kolam kecil yang bersebelahan dengan ayunan dua orang.

Kai mengomando Seoji untuk masuk ke dalam rumah itu. mereka berdua disambut dengan hormat oleh para maid.

“Jongra mana?” tanya Kai pada salah satu maid.

“Nona muda sedang di kamarnya, tuan.”

Kai mengangguk kemudian melangkah menuju sebuah kamar yang terletak di hadapan televise. Kai mengetuk pintu dulu sebelum membukanya.

“Jongra?”

“Eoh? oppa? Nuguseyo?” Jongra segera menutup novelnya untuk memandangi gadis di belakang Kai dengan lebih jelas.

Seoji tidak berekspresi apapun ketika Jongra menatapnya. Tiba-tiba tangan Kai melingkar di pinggangnya. “Ini yeojachingu oppa. Seo Jiyoon.”

Seoji membelalak kaget. Dia langsung menatap Kai meminta penjelasan. Namun yang ada Kai malah tersenyum seolah mereka benar-benar sepasang kekasih.

“Woah.. kenapa kau baru memberitahuku sekarang, oppa? Dia cantik.”

Kai memaling pada adiknya lagi. “Tentu saja dia cantik. Ah Jongra, kau ingin bertemu Sehun tidak?”

“Sehun?” kedua mata Jongra langsung terbuka lebar seolah baru mendengar kabar baik. Seoji yang melihat itu hanya bisa menatapnya nanar, sementara Kai mengangguk.

“Eoh. aku kemari untuk mengantarmu ke rumahnya.”

“Jeongmal? Ah.. ayo oppa..”

Kai melepaskan tangannya dari pinggang Seoji kemudian melangkah mendekati ranjang Jongra. Seoji tidak tahu kalau Jongra ternyata lumpuh, begitu Kai menggendong Jongra menuju kursi roda, Seoji tersentak.

Jongra yang menyadari ekspresi Seoji tersenyum. “Jiyoon-sshi, mianhae, kakiku tidak bisa digerakkan.”

Seoji hanya mengangguk kaku.

“Kaja Jiyoon-ah,” seru Kai sembari mendorong kursi roda Jongra.

**

Di dalam mobil audy hitam milik Kai, suasana terasa dingin. Seoji yang duduk di depan bersama Kai, tidak bicara sepatah katapun. Begitupula dengan Jongra yang duduk di belakang. Suasana seperti ini justru tidak mengurangi keasyikan Kai mendengarkan music dari radio mobilnya.

“Oppa, kau tahu rumahnya Sehun?” tiba-tiba Jongra bersuara.

“Eoh. ibunya yang memberikanku alamatnya,” jawab Kai santai sembari memperbesar volume radionya.

“Kapan? Kalian kapan bertemu?”

“Kemarin. Ibunya yang memintaku untuk membawamu kesana.”

Dari kaca spion atas, Seoji bisa menemukan ekspresi Jongra yang tersipu.

“Wae? Kenapa ibunya memintaku kesana? Ibunya bilang apa saja? Katakan, oppa.”

Kai melirik Seoji sekilas. “Katanya Sehun ingin kau tinggal di rumahnya.”

“Mwo?! Ah oppa, kau jangan bercanda.”

Kai tertawa kecil. “Mianhae, tapi aku sama sekali tidak bercanda. Apa kau membawa mobil-mobilannya Sehun? Kurasa dia akan minta kau mengembalikannya.”

Jongra lekas merogoh saku coatnya. “Ah.. aku membawanya. Eung… apa kau sudah memberitahukan kondisi Sehun pada Jiyoon-sshi? Nanti dia terkejut seperti tadi, sama sekali tidak lucu.”

Kai tertawa untuk kedua kalinya. “Kenapa aku harus memberitahunya? Nanti dia juga akan tahu sendiri. Lagipula Jiyoon tidak akan meninggalkanku hanya karena aku memilikimu dan mengenal Sehun.”

“Ah.. begitukah. Joesonghammida Jiyoon-sshi.”

Jiyoon hanya mengangguk sembari tersenyum tipis.

Tak lama kemudian mobil itu memasuki sebuah rumah megah dengan motif Italia yang kental. Kai memarkirkan mobilnya tepat di samping sebuah Lamborghini putih.

“Jiyoon-ah, bantu aku mengambilkan kursi rodanya.”

Tanpa menjawab, Seoji langsung turun dan bergegas ke bagasi untuk mengambil kursi roda. Sementara Kai menggendong Jongra ala bridal style sebelum dia dudukkan di kursi roda.

Dengan dikomando oleh seorang maid, mereka memasuki rumah megah tersebut.

“Woah.. rumahnya mewah sekali..” gumam Jongra yang tak hentinya mengagumi keindahan artistic dari rumah ini.

“Sebentar lagi kau akan tinggal disini,” bisik Kai yang langsung membuat Jongra merona.

Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya berserta pemuda berusia 18 tahun, datang ke ruang tamu menyapa mereka.

“Selamat datang Jongra, Kai dan..”

Seoji langsung membungkuk 90 derajat penuh. “Annyeonghaseyo Seo Jiyoon immida.”

“Ne, Jiyoon-sshi,” lanjut Nyonya Oh sembari tersenyum.

Sehun yang berdiri di samping ibunya hanya melambai dan tersenyum pada Jongra.

“Duduklah,” ucap Nyonya Oh memersilahkan mereka duduk di ruang tamu.

“Oh ya ahjumma, ini perkenalkan Seo Jiyoon kekasihku,” ucap Kai sambil menarik lengan Seoji untuk mendekat padanya. Meski sebenarnya keberatan, Seoji tetap tersenyum pada Nyonya Oh.

“Ah.. ternyata kekasihmu. Kupikir siapa gadis cantik ini,” ucap Nyonya Oh diiringi senyum keibuan.

Sehun yang semula duduk di samping ibunya, segera berlutut di hadapan Jongra. Kedua matanya memerhatikan kursi hitam beroda yang diduduki Jongra.

“Ini kursi roda, ne?”

Jongra mengangguk. “Jongra tidak bisa jalan, Sehun.”

Sehun menatap Jongra terkejut. “Jinjja? Ah.. Jongra kasihan.”

Jongra membelalak ketika tangan Sehun mengusap rambutnya sembari tersenyum polos. “Themangat Jongra!”

Kedua mata Jongra berkaca-kaca, bibirnya bergetar dan wajahnya memanas. Dia langsung menunduk untuk menghindari tatapan mata Sehun.

“Nanti Jongra bilang ke Thehun kalo mau ngapa-ngapain. Biar Thehun yang gendong. Thehun kuat kok, Thehun bisa ngangkat badannya Jongra.”

Tanpa mereka tahu, Nyonya Oh sudah menitikkan air mata. Kai berusaha menenangkan wanita itu dengan mengusap bahunya pelan. Tapi Kai berpaling ke sampingnya dimana Seoji menangis sesegukan dengan kedua tangan menutup wajahnya. Kai yang tidak ingin Sehun maupun Jongra tahu, segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Sehun menurunkan tangannya kemudian menggerakkan kepalanya agar bisa melihat kedua mata Jongra. “Yah … Jongra jangan menangis.”

Jongra menggeleng. “Jongra tidak menangis.”

Sehun mengusap air mata di pipi Jongra dengan ibu jarinya. “Jongra bohong, ya? kata eomma bohong itu tidak baik lho. Thehun tidak akan kasih Jongra pukpuk lagi.”

Jongra mengangkat kepalanya untuk menatap Sehun. Dia mengerucutkan bibirnya karena Sehun malah tertawa. “Kok Sehun tertawa? Nggak ada yang lucu ah.”

Sehun langsung terdiam. “Mianhae Jongra. Aduh, Thehun lupa kalo nggak boleh menertawakan orang yang lagi sakit. Maafin Thehun, Jongra. Jongra tetep mau kasih Thehun pukpuk kan? Thehun anak baik, sungguh.”

Jongra tidak tega kalau harus menolak. Dia akhirnya tersenyum kemudian bergantian mengelus kepala Sehun. “Ne, Sehun anak yang baik.”

Sehun sangat senang diperlakukan seperti itu. dia sungguh menikmatinya hingga membuat wajahnya menjadi sangat imut dimata Jongra. Jongra jadi tertawa dan mulai mengacak rambut Sehun saking gemasnya.

“Iih! Jongra jahat!” seru Sehun begitu tahu rambutnya berantakan akibat ulah Jongra. Sementara Jongra sendiri tersenyum kecil sambil merapikannya kembali.

**

Jongra resmi tinggal di rumah Sehun malam harinya, setelah Kai mengantar pakaian-pakaiannya ke rumah tersebut. Kai pulang ke Seoul hari itu juga karena tidak ingin terlambat sekolah besok, sehingga tidak bisa membantu Jongra menata barang-barang di kamar barunya. Jadi Jongra dibantu oleh para maid.

Usai menata barang-barangnya, dengan dibantu lagi oleh seorang maid, dia pergi ke meja makan untuk makan bersama Sehun dan Nyonya Oh.

Sehun yang baru saja melihat bayangan Jongra dari jauh, lekas berlari menghampiri gadis itu dan mengambil alih dorongan kursi roda. Dia terlihat senang ketika bisa mendorong kursi roda Jongra mendekati meja makan.

Sesampainya disana Sehun duduk di samping gadis itu.

Nyonya Oh tersenyum. “Sehun senang sekali ya, Jongra ada disini?”

Sehun mengangguk dengan mata masih tetap memandang Jongra.

“Jongra, besok ahjumma akan pergi ke Seoul. Ahjumma titip Sehun, bisa?” kini pandangan Nyonya Oh teralih pada Jongra.

“Ah.. ne ahjumma.”

“Sehun tidak menyusahkan, dia anak yang baik dan mandiri.”

“Eum! Thehun itu baik dan mandiri,” seru Sehun dengan nada bangga.

Jongra maupun Nyonya Oh sama-sama tertawa.

“Keurae. Kaja dimakan.”

Mereka bertiga mulai menyendokkan sayur ke mangkuk masing-masing. Di saat Jongra akan mengambil lauk yang jaraknya jauh darinya, Sehun yang menyadari itu langsung mendekatkan piring tersebut.

“Gomawo Sehun,” ucap Jongra sembari mengusap puncak kepala Sehun.

Mereka pun makan dengan tenang. Mungkin karena terlalu bersemangat makan, Sehun tidak sadar kalau bibirnya belepotan dengan saus. Jongra yang melihatnya tersenyum, kemudian mengambil tisu dan membersihkan bercak saus itu.

Nyonya Oh yang melihat interaksi mereka, hanya bisa bergumam dalam hati. Tuhan, terima kasih telah mengirimkan malaikat cantik seperti Jongra. Sungguh kau telah memberikan yang terbaik untuk putraku. Aku tidak akan pernah menyalahkan kecelakaan itu, karena dengan begini aku tahu bagaimana sucinya hati Jongra pada anakku.

Selesai makan, Sehun mengantar Jongra ke kamarnya. Dia juga menggendong gadis itu ke atas ranjang tanpa diminta sekalipun.

“Gomawo, Sehun.”

“Ne, Jongra,” balas Sehun sembari duduk di samping Jongra.

Tiba-tiba saja…

CTAR!

“AAAA!!” Sehun spontan memeluk tubuh Jongra dari samping. Seketika Jongra membeku.

“Hiks.. Thehun takut.”

Deru napa Sehun yang mengenai lehernya, langsung membuat otaknya memutar sesuatu seperti film lama.

Jongra membeku di tempatnya ketika seseorang memeluknya dari belakang. Orang itu meletakkan dagunya di atas bahu Jongra. Dan deru napasnya terdengar hingga telinga Jongra.

“Kau benar, aku memang tidak tahu kalau ada tempat seperti ini.”

Cahaya keemasan menyinari keduanya di tempat tinggi yang begitu indah.

Tiba-tiba kepalanya pusing. Dia mendesis ketika menahannya. Tanpa ia sadari, dia telah membuat Sehun panic. Namun Jongra tidak bisa mengatakan apapun. Berbagai kejadian-kejadian aneh itu semakin memenuhi kepala. Terlebih suara seorang namja yang sama persis dengan suara Sehun.

“Jongra! Jongra kamu kenapa?”

Jongra pun langsung terkulai di pelukan Sehun.

**

Perlahan tapi pasti, Jongra membuka matanya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah gambar batman yang tercetak di kain berwarna abu-abu. Kain itu membentuk sebuah baju yang melekat pada tubuh seseorang. Di saat Jongra mengangkat kepalanya, dia terkejut setengah mati mendapati Sehun sedang terlelap.

Lagi-lagi film lama itu terputar di kepalanya.

Di sebuah ruangan yang cukup luas, cahaya keemasan menembus kaca jendela yang mengembun akibat hujan yang baru saja reda. Cahaya itu membuat kedua mata Jongra silau sehingga ia membalikkan tubuhnya. Di saat itu juga, puncak kepalanya diterpa hembusan hangat berkali-kali. Penasaran dengan itu, Jongra perlahan membuka mata. Objek pertama kali yang ia lihat adalah gambar motor sport yang menempel di sebuah kaos berwarna putih. Jongra pun mengangkat kepala, dia terkejut mendapati orang itu adalah Sehun.

Jongra tersentak dengan gambaran orang di film lama tersebut. ia pun kembali memandangi wajah Sehun yang tepat berada di atasnya.

Matanya memejam, bibirnya terkatup rapat dan salah satu tangannya terselip di bawah bantal. Beberapa detik kemudian, Jongra mencium bau maskulin yang menguar dari tubuh Sehun.

Jongra tersenyum kecil. Entah kenapa perasaannya sangat senang. Dengan gerakan pelan, dia menggeser tubuhnya mendekati Sehun. Di saat itu juga dia merasakan sambaran kehangatan dari tubuh pemuda itu.

Jongra tetap memandang wajah Sehun meski kepalanya berdenyut parah. Dia sudah memantapkan diri untuk segera mengumpulkan film-film lama itu.

Tapi semakin dia mencoba, dia tidak bisa. Kepalanya semakin sakit dan film lama itu tidak berjalan kembali. Ia pun merintih kesakitan sembari meremas rambutnya.

Rintihan itu sukses membuat Sehun terbangun. Dia mengumpulkan nyawa sebentar sebelum terduduk dan menangkap kedua tangan Jongra. “Andwae!”

Jongra terdiam begitu mendapati kecemasan di mata Sehun.

“Jangan Jongra, nanti sakit.”

Jantung Jongra berdebar aneh. Perlahan dia mengangkat tangannya dan mengusap pipi Sehun. Seketika itu juga Sehun membeku.

Pipinya disentuh oleh sebuah tangan kecil namun hangat. Tangan itu mengusap kulit pipinya dengan lembut, membawanya ke sebuah alam yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Gadis dihadapannya tersenyum, gadis cantik itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“Aniya, sepertinya tidak mudah. Keundae, kurasa kau pasti bisa membuatnya lebih mudah.”

Dan senyum menenangkan itu, berasal dari gadis cantik yang ia kenal.

Reflek Sehun melepas cengkramannya kemudian meremas rambutnya kuat. “AKH!”

“Sehun-ah!”

Sekuat tenaga Jongra berusaha duduk. Kini giliran dia yang cemas. Sehun mulai memukul-mukul kepala dengan kuat.

“Andwae Sehun!”

Hup! Akhirnya Jongra bisa menahan pergelangan tangan Sehun agar tidak melukai kepalanya lagi.

“BERHENTI! HENTIKAN! AKH SAKIT!!”

DUG!

Dahinya terjatuh di bahu Jongra. Dia putus asa. Tanpa bisa melakukan apapun lagi, dia pun menangis keras.

“Appo.. hiks.. appo..”

Jongra langsung memeluk leher pemuda itu. dia tidak peduli saat sebuah kejadian tengah berlangsung di otaknya. Matanya memejam sembari mempererat pelukannya.

“Kaja Sehun, kita ingat bersama masa-masa kita dulu.”

Sehun masih tetap menangis.

“Kita pasti bisa membuatnya lebih mudah.”

**

Keduanya masih dalam keadaan semula. Sehun tak sadarkan diri dengan dahi menempel pada bahu Jongra. Sementara Jongra masih tetap memeluknya dan mengusap kepalanya.

#Jongra P.O.V#

Sehun-ah… ternyata apa yang kurasakan selama ini terjawab. Jantungku berdebar seperti itu hanya karena kehadiranmu. Aku bangga bisa sedikit mengingatmu. Aku yakin, pasti sebelumnya kita saling mencintai, iya kan?

Sekarang dan mungkin sebelumnya juga, aku benar-benar mencintaimu. Perasaanku bisa sedamai ini ketika memelukmu. Ini aneh Sehun, tidak mungkin aku bisa merasakan semua ini tanpa alasan.

#Jongra P.O.V end#

Perlahan Sehun membuka mata. Dia langsung disambut dengan aroma cerry dari tubuh Jongra. Untuk sesaat kepalanya kembali pusing, tapi tak lama kemudian dia memejam lagi sembari membalas pelukan gadis itu.

“Sehun-ah?”

“Eum?”

Jongra memekik tertahan begitu Sehunnya telah kembali. “Eotteohke?”

“Masih pusing.”

“Gwaenchanha. Itu tandanya kau baik-baik saja.”

“Bagaimana denganmu?”

Wajah Jongra tampak murung. “Aku tidak tahu.”

Demi apapun yang ada di dunia ini, Sehun benar-benar telah kembali menjadi Sehun yang dingin. Hanya dengan sentuhan kulit Jongra di pipinya, semua ingatannya kembali dengan sempurna. Rasa cinta yang besar pada gadis itu juga telah kembali.

Sehun mengangkat kepalanya, ia menggerakkan kepalanya menuju wajah Jongra dengan rute melalui leher, telinga, pipi dan berakhir dengan wajah saling berhadapan. Dia sangat merindukan wajah ini, wajah yang selama 7 bulan belakangan tidak muncul di hidupnya. Mereka terpisah selama 7 bulan agar peristiwa kecelakaan itu tidak mengguncangkan jiwa keduanya.

Jongra hanya bisa mengerjap dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat ini. Mereka sampai harus berebut oksigen untuk tetap bisa bertahan hidup.

“Kau mengingatku, Jongra?”

Jongra mengerjap satu kali. “Ne, kau Oh Sehun.”

“Kau mengingat hubungan kita?”

“Ani.”

“I’m your man,” gumam Sehun sebelum mengecup kilat bibir Jongra.

Gadis itu membelalak ketika mereka saling bertatap muka lagi. Dari sorot matanya Nampak jelas kalau dia tidak menyangka Sehun akan melakukannya.

“Sehun-ah..”

“Kita saling mencintai. Ne, aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Bahkan sebelum kau mengetahuinya, aku sangat mencintaimu.”

Jongra tampak tak mengerti.

Sehun terkejut mendengar ucapan ayahnya kalau dia harus menikah di usia 18 tahun demi warisan perusahaan. Selama ini dia tidak menyangka ayahnya akan menyuruhnya menikah di usia muda, apalagi demi warisan yang sama sekali tidak ia inginkan.

“Abeoji akan menikahkanmu dengan…”

“Kim Jongra. Aku mau Kim Jongra.”

Tuan maupun Nyonya Oh tersentak. “Siapa itu, Sehun?”

“Putri dari mantan sopir ayah dulu, Kim Yongshin.”

“Kau akan menikah dengan gadis biasa? Ayah sudah menyiapkanmu dengan anak gadis dari rekan kerja ayah.”

“Jika ayah tidak menyetujuinya, akupun tidak akan menikah.”

“Baiklah. Kalau itu maumu, ayah akan menurutinya.”

Sehun hanya tersenyum sembari membelai poni Jongra dengan penuh kasih. “No other. Only you.”

“Sebelumnya kau bertingkah seperti anak lima tahun,” gumam Jongra yang membuat Sehun terkikik geli.

“Jeongmal? Apakah aku sangat lucu jika bertingkah seperti itu? apa kau tidak suka melihatku yang seperti 18 tahun sekarang?”

Jongra menggeleng cepat. “Aniya, bukan seperti itu maksudku.”

“Eum.. aku mengerti, sayang. Aku akan melakukan apapun yang kau minta, asal kau bahagia. Kalau perlu aku akan menjadi kedua kakimu untuk selamanya.”

“Aku tidak ingin mempermalukanmu, Sehun. Sungguh aku tidak memaksamu untuk tetap di sampingku. Kau boleh berpaling pada orang yang lebih sempurna dariku.”

“Kau sedang membicarakan omong kosong macam apa? Siapa yang akan mempermalukanku? Lagipula siapa juga yang akan berpaling pada orang lain? Kau sudah yang paling sempurna, tidak ada yang lain.”

“Tapi Sehun..”

“Kau ingin aku membungkam bibirmu dengan cara apa, eoh?”

Jongra mengerjap. “Aku cacat, Sehun.”

“Eum, lalu?”

“Aku hilang ingatan.”

“Ya, lalu?”

“Aku tidak bisa melakukan apapun lagi! Aku pasti akan menyusahkanmu.”

Pletak!

Jongra mengelus keningnya yang memanas akibat dijitak oleh Sehun. “Appo..”

“Alat gerakku sempurna, aku bisa menggendongmu kapanpun kau butuh. Ingatanku telah kembali, dengan begini aku bisa membantumu untuk kembali mengingat masa lalu kita. Aku bisa melakukan apapun, kau tinggal hanya memanggilku disaat kau perlu. Kau masih memiliki aku, dan sama sekali tidak menyusahkan karena kau istriku. Sekarang apa ada yang masih ingin kau keluhkan?”

Jongra menggeleng pelan.

“Ne, itu jawaban yang paling tepat. Justru dengan kesempurnaan yang kumiliki, aku bisa melengkapi kekuranganmu saat ini. Jiwamu yang sempurna juga sanggup melengkapi jiwaku yang kekurangan ini. Kau sama sekali tidak menyusahkanku, Jongra. Justru aku sangat membutuhkanmu.”

Jongra mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. “Aku merasa istimewa, Sehun-ah..”

“Eoh, tentu saja. Kau memang gadis istimewa,” ucap Sehun sembari memeluk erat gadis itu.

**

2 tahun kemudian..

Jongra menghadiri acara kelulusan SMAnya dengan ditemani Sehun. Dia sukses membuat teman-teman seangkatannya iri karena Sehun si idol tampan itu ternyata suami dari Kim Jongra si gadis biasa yang lumpuh.

Sehunlah yang mendorong kursi roda ketika nama Jongra di sebut. Ketika akan menaiki podium, Jongra bingung karena kursi rodanya tidak mungkin bisa menaiki tangga. Kecemasan itu bisa dibaca oleh Sehun, tanpa disuruh, pemuda itu langsung mengangkat tubuh Jongra ala bridal style. Dia tidak peduli dengan tatapan semua orang karena dia focus pada apa yang ia lakukan sekarang. Pemuda itu mendudukkan Jongra di sebuah kursi yang telah disediakan.

Kepala sekolah memindah tali toga Jongra ke sebelah kanan, kemudian memberikan sebuah map padanya. Setelah itu Jongra kembali digendong Sehun lagi untuk turun dari podium.

“Chukkae,” gumam Sehun sembari mendorong kursi roda Jongra mendekati dimana Seoji dan Kai berada.

Jongra tersenyum. “Kamsahammida Sehun.”

Sehun mengacak rambut Jongra lembut.

“Jongra-ya..”

“Ne Jiyoon-ah..” balas Jongra diiringi kekehan jahil. Seoji mendengus kemudian menjambak rambut Kai.

“Dasar kau hitam!! Namaku Yoon Seoji, arra?!”

“Yaa! seharusnya yang kau jambak itu dia, kenapa aku? Appo!!”

“Habisnya kau yang mulai!!!”

“Aw aw! Lepaskan!!”

Akhirnya Seoji melepaskan cekalannya. “Dan satu lagi, aku tidak akan mau menjadi kekasihmu!”

Kai menata kembali rambutnya dengan menatap Seoji heran. “Lagipula siapa yang mau menjadikanmu kekasih. Cih, pede sekali.”

“Yaa!”

“Sssssst!” seru Jongra dan Sehun bersamaan. Kontan kedua remaja itu terdiam.

“Habis dia yang mulai,” ucap Seoji sembari menunjuk muka Kai.

“Aku katamu?! Tentu saja kau! Lihat rambutku berantakan seperti ini karena ulah tanganmu yang jelek itu.”

“Jelek kau bilang?!”

“Aish kalian!” bentak Sehun yang benar-benar membuat keduanya diam.

“Oh Seoji-ah, kau ingin bertanya apa?”

Seoji yang teringat dengan tujuannya langsung berlutut di hadapan temannya. “Kau.. tidak akan melupakanku kan?”

Jongra mengernyit. “Kenapa bicara begitu?”

Seoji menatapnya sendu. “Aku tidak akan punya teman lagi kalau kau melupakanku.”

Jongra tertawa kecil. “Tentu saja tidak, Seoji-ah. Aku tidak akan melupakanmu.”

“Janji?”

“Janji,” balas Jongra mantap.

Seoji pun bangkit. Dia mengambil sebuah bando berpita putih dari dalam tasnya. “Jangan lupakan bando persahabatan kita, arra?”

Jongra hanya tersenyum ketika Seoji memakaikan bando itu di kepalanya. “Haha, keurae. Kau juga.”

“Tentu saja,” ucap Seoji sembari memperlihatkan bando berpita hitam di kepalanya.

“Sudah pukul 12. Ada yang mau kau katakan lagi, Seoji-sshi?” ucap Sehun usai melirik arlojinya.

Seoji tersenyum. “Ne. bolehkah aku memanggilmu oppa?”

“Aish!” PLETAK! Kai berhasil menjitak kening Seoji.

“Yaa! kau ini kenapa, sih?!”

Jongra tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka.

“Eoh, tentu saja,” balas Sehun sembari tersenyum tipis.

Seoji memekik senang kemudian menjulurkan lidah pada Kai. Dia juga balas menjitak kening pemuda itu.

“Keuraseo oppa. Nanti saat kalian sudah sampai di Kanada, jangan lupa hubungi aku, ne? aku ingin dengar kalian baik-baik saja.”

Jongra dan Sehun sama-sama mengangguk.

“Kau adik iparku! Awas saja kalau kau berani mencampakkan adikku. kalau sampai itu terjadi, aku akan menyiksamu sampai mati.”

“Aih oppa..” desis Jongra sembari memukul perut Kai.

“Arraseo,” balas Sehun singkat padat dan jelas.

Setelah mengucapkan kata perpisahan, Sehun dan Jongra pun pergi ke bandara menggunakan mobil Gallardo putih milik keluarga Sehun. Yang mengendarai bukan Sehun, melainkan mantan supir keluarga Sehun yaitu ayah Jongra.

Sesampainya di bandara, mereka harus menunggu hingga pukul 2 untuk melakukan penerbangan ke Vancouver, Kanada. Mereka menyempatkan makan siang di bandara agar tidak kelaparan saat pesawat take off.

Di saat menuju tempat pemeriksaan paspor, Jongra tidak lagi duduk di kursi rodanya, melainkan digendong di punggung Sehun. Gadis itu menolak, tapi Sehun tetap ngotot melakukannya. Dia beralasan kalau kursi roda tidak boleh masuk. alhasil, Jongra harus menahan malu karena diperhatikan oleh para petugas bandara dan calon penumpang pesawat ke Vancouver.

Lolos dari tempat pemeriksaan, mereka pun pergi menuju pesawat berada. Jalan yang mereka lalui cukup jauh, Jongra merasa tidak enak pada Sehun karena harus menggendongnya seperti ini.

“Sehun-ah..”

“Eum?”

“Apa punggungmu tidak sakit?”

“Aniya.”

“Aku kan berat.”

“Ani.”

“Nanti kalau punggungmu pegal bagaimana?”

“Kau yang memijatnya.”

“Seharusnya tadi pakai kursi roda saja.”

“Tidak perlu.”

“Sehun..”

“Punggungku akan baik-baik saja. Aku rajin berolahraga, punggungku sudah dicharger dengan matahari sebelum menggendongmu. Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirkan.”

Jongra tetap merasa tidak enak. “Andai kakiku tidak lumpuh.”

“Ssst, lumpuh atau tidak aku tetap mencintaimu.”

Tanpa Sehun sadari, Jongra menitikkan air mata. “Kamsahammida.”

“Nado kamsahammida. Ah Jongra, tolong berikan aku semangat. Kita akan menaiki tangga itu.”

Jongra melihat sejenak tangga yang dimaksud, kemudian dia tersenyum. “Keurae. Fighting Oh Sehun!”

“Assa!”

**

04.00 PM KST

Sebuah pesawat internasional dengan penerbangan Incheon-Vancouver baru saja terjatuh di perairan Pasifik. Dari kecelakaan itu telah dievakuasi 54 penumpang yang tewas dan sekarang berada di rumah sakit Malaysia. Daftar para penumpang itu antara lain 49 orang dewasa, satu orang tua dan 4 anak-anak. 20 warga Korea selatan, 20 warga Kanada, 7 waga jepang dan 7 warga China. Berikut daftar 20 warga Korea selatan:

  1. Kim Sang Bum (pilot, 44 tahun)
  2. Yong Jae Sook (co-pilot 43 tahun)
  3. Yoon Ahna (34 tahun)
  4. Shin Se Kyung (20 tahun)
  5. Oh Jaejong (20 tahun)
  6. Kim Jongra (18 tahun)
  7. Baek Seung jo (22 tahun)
  8. Yong Baek Ho (21 tahun)
  9. Min Soo (4 tahun)
  10. Kang Ha Na (19 tahun)
  11. Oh Sehun (20 tahun)
  12. Cho Sarang (3 tahun)
  13. Moon Haneul (40 tahun)
  14. Bang Yong Hwa (16 tahun)
  15. Bang Yong Jin (16 tahun)
  16. Kim Ae rin (staff, 25 tahun)
  17. Jung Kina (staff, 26 tahun)
  18. Byun Cheon Sa (staff, 24 tahun)
  19. Jang Kibum (staff, 27 tahun)
  20. Seo Soon I (staff, 30 tahun)

Pihak keluarga dimohon segera datang ke bandara Incheon untuk mengonfirmasi anggota keluarganya masing-masing. Berikut berita terkini yang bisa kami wartakan.

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s