Best Friend (A)


Author : Park Dae Na

Genre : romance, married life

Rating : Teen

Length : one shoot

Casting : Oh Sehun (EXO), Oh Daena (OC), Byun Baekhyun (EXO/other cast), Byun Jung Ah (OC/other cast)

.

Surprice | Love After Marriage | Romantic Oh Sehun

.

Best Friend (A)

Song : Jason Chen – Best Friend

“Oh Sena!!! Aku mencintaimu!!!”

Gadis yang sekarang memeluk ibunya, terlihat semakin mengeratkan pelukannya. Dia tidak mau mendengar teriakan laki-laki itu lagi. Itulah kenapa begitu sampai di rumah, dia langsung bersembunyi di pelukan ibunya dan tidak membiarkan laki-laki itu masuk.

Sehun yang sedang memantau pemuda itu dari jendela, terlihat tersenyum tipis. Entah kenapa dia teringat masa mudanya.

“Sebenarnya siapa dia?”

“Molla,” jawab Sena cepat. Dia melepaskan diri dari pelukan ibunya kemudian berlari memasuki kamar. Dia membanting pintu kamarnya cukup keras.

Kini Daena mengalihkan perhatian pada Oh Sehun. “Kenapa kita tidak biarkan dia masuk? Diluar sedang hujan bukan?”

Sehun tersenyum sambil menutup tirai. Dia berjalan mendekati Daena dan duduk disisinya. “Tidak perlu. Kulihat dia sedang dipayungi oleh para bodyguardnya. Mungkin dia anak orang kaya.”

Daena menghela napas. “Tapi tetap saja. Aku kasihan padanya.”

Sehun mengusap rambut istrinya sayang. “Kau terlalu baik hati sayang. Sudahlah, biarkan namja itu merasakan bagaimana rasanya berjuang untuk seorang yeoja. Bukannya dulu aku juga seperti itu? Bedanya aku tidak membawa bodyguard, aku bahkan hujan-hujanan sungguhan.”

Wanita itu terkekeh pelan. “Kau saja yang keras kepala, bodoh. Bukannya saat itu ibuku menyuruhmu masuk? Tapi dengan percaya dirinya kau mengatakan kalau ‘aku akan masuk saat Daena menerimaku’. Haha, kau terlihat sangat menyedihkan, makanya aku menerimamu.”

CHU~

“Kau berbohong?”

“Tidak.”

CHU~

“Berbohong?”

“Tidak!”

CHU~

“Bohong?”

“Ti-”

CHU~

“Yaa!”

Sehun tertawa puas. “Ini kebijakan baruku. Mulai sekarang, kalau kau berbohong, aku akan menciummu sampai kau berkata jujur. Otte? Baiklah! Kuanggap kau setuju, tak ada penolakan, tak ada sanggahan. Untuk kali ini aku tanya lagi. Kau berbohong, atau tidak?”

Wanita itu menghela napasnya yang sejak tadi tercekat di tenggorokkan. “Ne, aku berbo-”

CHU!

“Yaa! aku sudah jujur Oh Sehun!”

“Itu ucapan terima kasihku, bukan hukuman,” jawab pria itu sambil menunjukkan seringaian iblisnya. Kalau sudah seperti ini, Daena sungguh sangat membencinya.

“Aish! Kau selalu berbuat seperti itu padaku! Ingatlah kalau aku sedang mengandung anak ke 4 kita.”

“Aku selalu mengingatnya sayang.”

“Tapi jangan menciumku terus-terusan.”

“Waeyo?”

“Itu membuat bibirku geli. Aish! Dia yang di dalam juga sering menendang saat kau menciumku.”

“Mungkin dia senang.”

“Sehun!”

Pria itu memeluk istrinya sayang. “Baiklah baiklah, mian. Eum.. sekarang bagaimana kalau kita mengingat masa lalu? Masa-masa saat kita akan bertunangan mungkin?”

Semburat merah langsung menghiasi pipi putih Daena. Wanita itu membuang pandangannya dari Sehun. “A-a-aku.. sudah.. melupakannya.”

CHU~

Bitch! Aku lupa kalau dia akan menghukumku saat aku berbohong. Aish!

“Aku tahu kau berbohong.”

Wanita itu mengecurutkan bibirnya. “Kau menyuruhku mengingat saat-saat seperti itu? oh ayolah Sehun, aku benar-benar tidak tahan untuk tidak memeluk selimut.”

“Oh.. jadi sekarang kau lebih mencintai selimut daripada aku?”

“Ani, bukan begitu.”

“Lalu?”

Daena tidak tahan untuk tidak memeluk suaminya. “Baiklah, begini saja. Sekarang kau saja yang menceritakan.”

Pria itu tersenyum puas. “Aku ingin bercerita tentang kita dimulai saat pertemuan pertama kita.”

25 years ago

Untuk kali pertama, Sehun diikutsertakan oleh kedua orangtuanya untuk menemui relasi bisnis mereka. hal itu bukan tanpa alasan. Sehun terpaksa ikut karena kedua orang tuanya tidak tega meninggalkannya sendirian di rumah. Para pembantu mereka sedang cuti untuk merayakan natal. Maka dari itu rumah keluarga Oh sedang kosong sekarang.

Malas mendengar perbincangan bisnis orang tuanya, Sehun memilih untuk pergi ke halaman samping rumah relasi bisnis ayahnya. Rumah ini ada di pedesaan, terlihat paling megah karena memang milik direktur Kim Corp.

Laki-laki berumur 10 tahun itu tak menyadari kalau dia sedang duduk saling membelakangi dengan orang lain. Saat mendengar suara perempuan, dia spontan menoleh. Dugaanya benar. Dia sedang duduk membelakangi seorang gadis kecil. Gadis itu memiliki rambut panjang berwarna hitam kelam yang diikat satu ke belakang. Gadis itu sedang berbicara, lebih tepatnya pada sekelompok burung merpati.

“Kalian makan yang banyak, ya. Kata eomma, kalau kalian makan banyak nanti kalian bisa kuat, tumbuh sehat, dan bisa terbang tinggi.”

Salah satu sudut bibir Sehun terangkat. Dia tersenyum.

Angin berhembus memainkan rambut gadis itu. karena terganggu mungkin, gadis berusia 7 tahun itu berusaha untuk merapikan kembali rambutnya. Tapi tak sengaja tangannya menyentuh hidung Sehun. Hingga gadis itu menoleh, Sehun kembali dengan wajah datarnya.

Mereka saling menatap untuk beberapa saat.

“Oh, annyeonghaseyo. Kim Daena immida.”

“Oh Sehun immida.”

Gadis itu tersenyum simpul. “Ah.. jadi kau putra dari tuan dan Nyonya Oh? Senang berkenalan denganmu.”

Sehun hanya menjawabnya dengan anggukan singkat. Pemuda itu membetulkan posisi duduknya untuk kembali menikmati udara di sore hari itu.

“Sehun-sshi, kau tidak ingin memberi makan burung-burung?”

Entah kapan Daena sudah duduk di sampingnya. Cepat sekali, pikirnya.

“Tidak.”

“Oh ayolah, menyenangkan sekali, kau tahu itu?”

Apanya yang menyenangkan? Batinnya.

Sehun berencana menolak sebelum akhirnya gadis itu meletakkan butiran-butiran biji di atas telapak tangannya. Tangan gadis itu hangat.

“Ayo lemparkan,” komando gadis itu.

Sehun menggenggamnya sebentar, sebelum dia melemparkan biji-biji itu. Karena lemparannya yang terlalu kuat, biji-biji itu malah berjatuhan ke kolam. Dalam sekejap habislah sudah biji-biji itu dilalap oleh ikan koi di kolam tersebut.

Daena tidak bisa membungkam mulutnya barang sebentar, dia terlalu shock. Tak lama kemudian, dia menoleh.

“Yaa! Itu makanan untuk burung! Kenapa kau malah melemparkannya ke kolam ikan?!”

“Jangan salahkan aku. Salahkan letak kolam itu yang ada disana.”

“Bagaimana bisa aku menyalahkan kolam?! Aish kau ini!”

“Lagipula sejak awal aku tidak mau memberi makan burung-burung itu.”

“Kau tidak sayang binatang ternyata,” keluh Daena sambil melanjutkan kembali aktifitasnya memberi makan.

“Itu bukan urusanmu.”

“Huh, tunggu saja pembalasannya.”

Sehun mencibir perkataan gadis itu dalam diam. Tiba-tiba sesuatu dari langit terjatuh ke poni rambutnya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, dia mengusap bagian poninya itu. Dia pikir itu air hujan, tapi ternyata..

“Yaa! MWOYA?!”

Daena spontan menoleh dan melihat apa yang terjadi. Dia pun tertawa terpingkal-pingkal.

“Hahaha! Akhirnya kau dapat juga balasannya. Rasakan itu tuan muda, rasakan! Aish, kau jorok sekali. Ah.. bisa-bisa aku ikut berkuman kalau terus-terusan di dekatmu. Wek.”

Gadis itu segera beringsut meninggalkan Sehun yang masih sibuk menggerutu dan mengatai para burung, yang dia rasa seperti sedang menertawakannya. Sejak hari itulah dia benci burung, dan juga benci pada seorang gadis bernama Kim Daena.

18 years ago..

Daena adalah satu-satunya murid Busan yang masuk di sekolah Seoul. Dia masuk ke Daesang Middle School. Sekolah ini berada satu tempat dengan Daesang High School. Di sekolah inilah dia mendapatkan seorang teman bernama Park Jung Ah, gadis dari Incheon yang satu kelas dengannya. Sebagai murid bukan asli Seoul, mereka dijauhi oleh murid-murid lain. Daena yang berdandan aneh dengan celana olahraga di dalam rok sekolahnya, sedangkan Jung Ah yang selalu mengepang rambutnya, mereka terkenal karena keunikan style mereka itu.

Hari ini mereka mendapat tugas untuk ikut berlatih bersama para senior mereka dari SMA, mewakili sekolah mereka dalam ajang seni. Daena kedapatan tarian pasangan dengan seseorang, sementara Jung Ah mendapat tugas bernyanyi duet.

Kedua gadis itu saling menggenggam tangan satu sama lain.

“Dae.. entah kenapa jantungku berdebar seperti ini..”

“Nado. Ku rasa akan ada sesuatu yang terjadi nanti. Semoga bukan pembullyan.”

“Aku berharap yang sama.”

Tak berapa lama mereka sampai di ruang aula. Sudah banyak orang ternyata di dalam ruangan ini. Jika dihitung seluruhnya ada 12 orang, semuanya para namja berseragam SMA.

Suara pintu aula yang terbuka tadi, membuat semua orang di dalam sana menoleh pada mereka.  Salah tingkah, itulah yang terjadi pada Daena maupun Jung Ah.

“An-an-annyeonghaseyo,” Jung Ah langsung membungkuk 90 derajat memberi hormat pada para seniornya. Dia menunggu Daena untuk melakukan hal yang sama sepertinya. Tapi gadis itu malah diam membeku. Mau tak mau Jung Ah harus memaksanya.

“Yaa, beri salam pada mereka,” ucap gadis itu lirih.

“Yaa, untuk apa?”

“Kau tanya untuk apa? Ini etika, Dae.”

Karena Daena tak kunjung membungkukkan badannya, maka Jung Ah lah yang menarik tengkuk gadis itu untuk membungkuk.

“Annyeonghaseyo,” sapanya ketus.

“Nado annyeong,” balas beberapa pemuda yang berjalan menghampiri mereka. Spontan mereka menegapkan tubuh kembali.

DEG!

Ini tidak benar, batin Daena. Gadis itu melihat seorang pemuda tampan yang berdiri bersandar pada dinding aula. Tatapannya yang tajam dan mengunci dirinya, membuat Daena tidak sadar kalau mulutnya sedikit terbuka.

Sedangkan Jung Ah, kaki gadis itu bergetar hebat kala melihat seorang pemuda berwajah baby face menghampirinya. Semakin dekat, dekat, dekat dan..

BRUK!

“Yaa? gwaenchana?”

Daena ikut shock karena Jung Ah tiba-tiba jatuh pingsan. Yang paling mengejutkan lagi, temannya itu pingsan dalam pelukan seorang namja.

“Jung Ah!!!”

~

Hari ini adalah hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Daena. Enam dari dua belas seniornya, membawa Jung Ah ke ruang kesehatan, maklumlah, tubuh Jung Ah jauh lebih berat dari Daena. Sementara gadis yang suka memakai celana olahraga itu sendiri, masih berada di ruang aula bersama enam senior sisanya. Hanya dia saja yang tahu kalau tubuhnya sudah banjir keringat.

Dia masih duduk kaku di bangku penonton, melihat para seniornya yang sedang melakukan latihan. Bukan dia tidak mau berlatih, hanya saja partner latihannya sedang asyik tidur. Itulah hal yang paling membuatnya kesal. Bak kejatuhan bulan, ternyata partner tarinya itu adalah seorang namja yang dikatainya tampan tadi. Entah ini takdir atau hanya sebuah kebetulan, dia juga tidak tahu.

“Yaa Sehun! Ireona!” pekik seorang pemuda yang memiliki wajah begitu mirip dengan partner dance Daena, saat turun dari panggung.

Pemuda yang dipanggil Sehun itu menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Dia tidur di lantai, pasti tidak nyaman.

“Ck! Jangan ganggu tidurku, hyung.”

Pemuda itu menggoyangkan tubuh Sehun menggunakan kakinya. “Kau mengganggu pemandanganku saja.”

“Aish! Jauhkan kakimu yang kecil itu.”

“Mwo? Apa katamu? Kaki kecil? Bitch! Yaa! kalau kau tidak segera tidur, aku akan menendangmu. Kuhitung sampai 10. Satu!”

Sehun membalikkan tubuhnya kearah kanan, membelakangi sosok Lu Han.

“Dua!”

Tak ada pergerakan dari pemuda itu.

“Tiga!”

Pemuda itu menguap sebentar.

“Empat!” Luhan sudah mengepalkan tangannya kuat. Tapi Sehun malah semakin terlelap.

“Lima! Enam! Tujuh! Delapan!”

Sehun mengubah posisi tidurnya lagi. Kini dalam keadaan terlentang.

“Sembilan! Sepuluh! Waktu habis!”

DUG!

“AKH! Hyung!!! Appo!!!”

Luhan meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Bukannya sudah kubilang untuk segera bangun, huh?! Itulah balasan untukmu, nappeun saeng.”

Sehun masih dalam keadaan berbaring dan memegangi pantatnya yang baru saja ditendang Luhan. Kaki Luhan jauh lebih kuat dari pemukul baseball. Pantas tadi aku bermimpi dipukul kaki raksasa, batin Sehun saat dia beranjak duduk.

Daena yang melihat scene itu sejak awal, hanya bisa menggeleng pelan. Apa semua orang tampan itu bodoh? Gumamnya dalam hati.

~

Inilah saatnya dia berlatih. Jung Ah sudah lebih dulu berlatih bersama Baekhyun. Keduanya mendapat urutan manggung yang pertama, jadi untuk gladi bersih kali ini, mereka juga yang membuka sesi latihan sungguhan. Suara seriosa Jung Ah terlihat begitu klop dengan suara ala rocker Baekhyun. Mereka menyanyikan lagu Evanescence yang berjudul Bring Me To Life. Baekhyun ternyata cukup mahir dalam rapp, dia terlihat sejuta kali lebih keren saat rapp daripada saat tersenyum, setidaknya itulah kesan Daena pada performa Baekhyun.

Setelah nyanyi duet, kini waktunya Daena dan Sehun yang tampil. Mereka melakukan tarian pasangan yang menunjukkan jika mereka adalah pasangan kekasih. Di awali dengan Sehun yang berlutut di hadapan Daena dengan mengangkat karangan bunga. Daena mengambil bunga itu, menghirup aromanya sebentar, kemudian melemparnya dan setelah itu mulai menari dengan pemuda itu.

Daena sering melakukan kesalahan. Dia gemar menginjak kaki Sehun. Sehun pun sama. Bedanya dia tidak menginjak, melainkan dahinya selalu membentur kening Daena saat mereka akan melakukan kiss scene. Setiap bergerak mengikuti irama music, tubuh mereka tidak habisnya bergetar. Sesuai tuntutan konsep, mereka harus mengambil setidaknya 4 kiss scene saat menari. Entah itu di dahi, hidung, pipi, atau bahkan bibir.

CHU~

Untuk yang pertama kalinya, Daena merasa dirinya dijatuhi oleh puluhan bintang di langit. Ini kiss scene pertama yang berhasil dilakukan. Sehun menciumnya tepat di bibir.

Dengan wajah merona hebat, Daena memilih menghentikan performanya dan berlari meninggalkan aula. Semua orang memandang aneh padanya, kecuali Sehun dan Jung Ah yang sedang mengejarnya.

“Tunggu aku Daena!!”

~

Semenjak hari itu, Daena mulai sering bertemu dengan Sehun. Rupanya ke 12 namja itu adalah EXO, mereka dinamai begitu karena mereka adalah cassanova sekolah. Extraordinary Boys, itulah singkatan dari EXO. Selain wajah mereka yang tampan, mereka juga berasal dari kalangan berada dan memiliki talenta luar biasa. Murid dari berbagai jenjang apalagi perempuan, sudah menjadi fangirl mereka. Siapa sih yang tidak tertarik dengan ke 12 manusia itu? Mungkin hanya Daena saja yang tidak berminat.

Bersama dengan Jung Ah, gadis itu pergi keatap sekolah. Sesuai permintaan EXO, mereka akan melakukan latihan terakhir sebelum festival disana. Alasannya banyak sekali.

“Anggap ini sebagai ajang adaptasi karena nantinya kita akan disorot banyak lampu. Karena tak ada lampu, maka sinar matahari pun jadi,” setidaknya itulah alasan yang dituturkan Wu Yi Fan, selaku ketua tim seni di sekolah ini.

Dan di hari ini, Daena diwajibkan untuk berlatih menari menggunakan high heel. Jujur saja, kalau disuruh memakai sepatu seperti itu, dia pasti akan menolak. Lebih baik tanpa alas kaki dari pada memakai high heel. Namun, karena tuntutan konsep lagi, dia terpaksa menggunakannya. Mengambil langkah saja dia hampir limbung ke belakang, beruntung Baekhyun selalu mengawalnya dan membantunya kala dia hampir terjatuh.

“Itu sudah langkah yang bagus, Dae,” ucap Baekhyun diiringi dengan senyumnya. Dia mengambil posisi dihadapan Daena sambil menggenggam kedua tangan wanita itu. Seperti seorang ayah yang membantu anaknya berjalan. Mereka tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang sejak tadi memandang mereka tak suka, siapa lagi orangnya kalau bukan Jung Ah.

Setelah Daena berhasil berjalan dengan baik, latihanpun di mulai. Dengan ogah-ogahan, Jung Ah bernyanyi duet dengan Baekhyun. Suaranya yang tiba-tiba sumbang membuatnya mendapat teguran bertubi-tubi dari Joonmyeon maupun Luhan. Hanya untuk penampilan mereka, waktu yang dibutuhkan harus 2 jam.

“Yaa! Jung Ah! Ada apa sebenarnya denganmu?” keluh Luhan dengan rambut yang sudah tak berbentuk lagi. Dia terlalu frustasi menghadapi buruknya mood gadis itu.

Gadis itu melempar asal botol kosong yang tadi ia digunakan sebagai mike. Semua orang memandangnya aneh kecuali Baekhyun seorang.

“Kau tidak tahu apa-apa sunbae! Aku tidak akan ikut pentas seni!” setelah membentak Luhan seperti itu, dia langsung berlari meninggalkan atap sekolah. Daena hampir akan mengejarnya, sebelum tiba-tiba Sehun menahannya.

“Biar aku saja.”

Entah kenapa gadis itu merasa hatinya sakit. Dia berjalan lemas mendekati Baekhyun untuk duduk di sampingnya. Jelas dia tidak akan latihan hari ini, Sehun sudah pergi bersama Jung Ah entah kemana itu.

Seseorang memegang pundaknya.

“Oppa..”

Baekhyun tersenyum manis. “Bagaimana kalau aku menggantikan posisi Sehun? Aku rasa aku mengingat semua gerakannya.”

Mengganti posisi Sehun, Daena tidak pernah berpikiran untuk itu. sebelum dia menolak, Baekhyun sudah lebih dulu menarik tangannya.

“Kau mau apa?” tanya Luhan begitu melihat Baekhyun yang kembali berada di tengah-tengah atap.

“Daena harus latihan hari ini. Boleh aku yang menjadi Sehun?”

Pemuda yang sering disebut rusa itu, berpikir sebentar. Sebelum akhirnya dia mengangguk.

“Tap-tapi.. jangan lakukan kiss scene,” ucap Daena tiba-tiba.

Baekhyun tertawa ringan sambil mengacak rambut gadis itu. “Kau menggemaskan sekali Dae. Eum.. kalau itu, kita lihat saja nanti.”

Kedua mata Daena membelalak heboh. Belum sempat dia berpendapat, music Jason Chen – Best Friend sudah lebih dulu diputar. Entah dari mana dapatnya, Baekhyun mengeluarkan sebuah mawar merah dari belakang tubuhnya. Dia berlutut dihadapan gadis itu dengan mengangkat mawar tersebut.

Setelah menelan ludah, Daena pun mengambil mawar itu kemudian menghirupnya. Begitu suara Jason Chen terdengar, dia segera melempar mawar itu dan menari bersama Baekhyun.

~Do you remember when I said I’d always be there. Ever since we were ten, baby. When we were out on the playground playing pretend. Did not know it back then ~

~ Now I realize you were the only one It’s never too late to show it. Grow old together, Have feelings we had before. Back when we were so innocent ~

~I pray for all your love.. Girl our love is so unreal.. I just wanna reach and touch you, squeeze you, somebody pinch me..~

CHU~

Untuk pertama kalinya, Daena membulatkan mata saat Baekhyun mencium pipinya. Semburat merah langsung menghiasi pipinya yang putih. Baekhyun mengambil saat yang tepat, dimana disaat lirik itu, Sehun tidak menciumnya.

~This is something like a movie. And I dont know how it ends girl..But I fell in love with my Best Friend~

“Aku jatuh cinta padamu, Dae..” ucap pemuda itu saat Daena berhasil ditangkapnya setelah melakukan putaran.

~Through all the dudes that came by.. And all the nights that you’d cry. Girl I was there right by your side. How could I tell you I loved you.. When you were so happy with some other guy?~

CHU~

“Aku benci saat dirimu bersama Sehun,” gumam Baekhyun setelah dia mendaratkan satu kecupan lagi di pipi putih itu.

~Now I realize you were the only one.. It’s never too late to show it. Grow old together, Have feelings we had before..When we were so innocent ~

~ I pray for all your love.. Girl our love is so unreal.. I just wanna reach and touch you, squeeze you, somebody pinch me.. This is something like a movie. And I dont know how it ends girl..But I fell in love with my Best Friend ~

~I know it sounds crazy.. That’d be my baby. Girl you mean that much to me.~

“Maukah kau menjadi kekasihku?”

Daena membulatkan matanya. Dia masih bungkam saat sebelum Baekhyun akan melakukan tari solo.

~ And nothing compares when… We’re lighter than air and we do not wanna come back down~

~ And I do not wanna ruin what we have, love is so unpredictable.~

“Aku mencintaimu tanpa alasan.”

CHU~

Kali ini mendarat di keningnya.

~ But it’s the risk that I’m taking, hoping, praying, you’d fall in love with your best friend.. ~

Sampai akhirnya lagu itu selesai, Daena masih tetap membungkam mulutnya. Tanpa berkeinginan menjawab, gadis itu segera melepas diri dari Baekhyun dan berlari pergi dari atap. Baekhyun tidak diam saja, pemuda itu mengejarnya.

“Dae-ya! Tunggu aku! Jangan berlari!”

Air mata yang sudah ditahannya sejak tadi, akhirnya lolos juga.

Dia berlari terburu-buru menuruni tangga. Dia tak peduli kalau masih memakai high heel. Karena yang pasti dia harus menjauh dari Baekhyun dan mencari keberadaan Sehun serta Jung Ah.

Tiba-tiba dia menginjak genangan air, dia pun terpeleset dan hampir terjatuh. Dengan sigap Baekhyun menangkapnya. Keduanya bertatapan untuk beberapa saat.

“Kau baik-baik saja?”

Bukannya menjawab, Daena justru memukuli dada Baekhyun. Meneriakkan kata bodoh berulang kali. Pemuda itu langsung menangkap tangannya.

“Dae.. apa kau tahu perasaan Sehun? Sejak awal bertemu denganmu, dia tidak punya perasaan apapun padamu. Dia menyukai temanmu, Jung Ah. Daripada kau menunggu pernyataan cinta dari dia, terimalah aku. Kau harus tahu kalau aku sangat mencintaimu.”

Gadis itu terdiam, masih menangis hingga membasahi blazer sekolah Baekhyun.

“Kalian sedang apa?” Tangis Daena diinterupsi oleh suara berat itu. Dia menoleh, mendapati Sehun sedang mengalungkan tangannya di pinggang Jung Ah. Daena segera menegapkan tubuhnya.

“Dia hampir terjatuh, jadi aku menolongnya. Lalu kau sendiri?”

Sehun tersenyum bangga. “Ini kekasih baruku, Park Jung Ah.”

Saat Daena menatap gadis itu, Jung Ah justru membuang pandangan.

Tanpa mengatakan apapun, Daena melepas sepatunya kemudian menuruni tangga meninggalkan yang lainnya.

“Chukkae, aku ikut senang melihat kalian. Ah, ya sudah, aku harus mengejar Daena dulu. Sampai jumpa nanti. Oh ya, aku baru saja menggantikan posisimu menari dengan Daena. Gomawo, akhirnya aku bisa mengutarakan perasaanku padanya.”

Jung Ah spontan menoleh. Dia menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan. Seolah tidak merasakan apa yang Jung Ah rasakan, Baekhyun justru tersenyum kemudian pamit pergi.

~

Acara pentas seni waktu itu berjalan lancar. Meski ada kecanggungan diantara Baekhyun-Jung Ah maupun Sehun-Daena, tapi karena profesionalitas mereka, akhirnya kedua pasangan itu sukses.

Tepat sebulan sejak kejadian hari itu. Jung Ah resmi menjadi kekasih Sehun, dan Daena resmi menjadi kekasih Baekhyun. Kedua pasangan itu selalu terlihat bersama-sama. Sehun Baekhyun adalah sahabat sejak kecil. Mereka selalu mengobrol sendiri saat melakukan double date. Sementara hubungan persahabatan Daena Jung Ah hancur sudah. Daena menganggap Jung Ah telah membohonginya selama ini, dan Jung Ah menganggap kalau Daena telah mengkhianatinya. Semua ini hanya karena perilaku Sehun Baekhyun yang tak terduga.

Hari ini Sehun dan Baekhyun melakukan double date lagi. Baekhyun yang menentukan tempat yaitu di sebuah café. Karena sekarang hari ulang tahun Daena yang ke 15, maka Baekhyun telah menyiapkan sebuah kejutan untuk kekasihnya itu.

Kedua pasangan itu duduk di salah satu meja café. Daena duduk menghadap Sehun, sementara Baekhyun duduk dihadapan Jung Ah. Seperti biasa, kedua pemuda itu mengobrol berdua.

“Yaa Baek, lain kali kita double date di Jeju, otte?”

Baekhyun berpikir sebentar, sebelum menjentikkan jarinya. “Ide bagus. Aku akan meminta ayahku untuk memesankan villa untuk kita.”

“Wah.. idemu jauh lebih bagus, Baek,” seringaian mesum terlihat di wajah albino Sehun.

Baekhyun pun ikut menyeringai. Yah, mereka ini sudah terkenal sebagai pasangan berotak mesum. Jauh lebih mesum dari pada Kim Jong In.

Tak berapa lama pesanan datang. Isi nampan yang dibawa pelayan itu terlihat aneh dimata Daena maupun Jung Ah. Ada dua bubble tea rasa choco, dan ada dua gelas jus strawberry. Daena ingat kalau dirinya memesan satu bubble tea. Jung Ah pun ingat kalau dia hanya memesan satu gelas jus strawberry.

Pelayan itu menata minuman di atas meja. Daena segera mengambil satu cup bubble teanya, begitupula Jung Ah yang langsung menarik gelas jusnya. Tersisa dua jenis minuman di sana. Kedua gadis itu terlihat harap-harap cemas, menunggu kedua pemuda itu menarik gelas masing-masing.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s