Surprice


Author : Park Daena

Genre : romance, married life

Rating : Teen

Length : one shoot

Casting : Oh Sehun (EXO), OC

.

Derit pintu membuat semua orang di dalam ruangan tersebut menoleh ke asal suara. Seorang pria tampan masuk dalam kondisi rapi. Dia memakai tuksedo berwarna hitam dipadukan dengan kemeja berwarna putih di dalamnya. Dia menutup pintu kembali sebelum berjalan mendekati sofa. Dia membanting tubuh disana, melepas penat.

 

“Appa!!”

Hanya terdengar dengungan tak jelas dari bibir pria itu. Dia terlalu malas menjawab, terlebih matanya tertutup.

“Yaa! Kau mengotori karpetnya lagi!!”

“Dae.. diamlah..”

Wanita yang masih memakai apron itu justru bersungut. “Aku tidak bisa diam kalau kau belum melepas sepatumu.”

“Oh ayolah.. biarkan suamimu yang tampan ini untuk beristirahat sebentar.”

Wanita yang menyandang gelar Nyonya Oh itu, hanya bisa menghela napas dengan kedua tangan disilangkan di depan dada.

“Berjanjilah untuk membersihkannya nanti.”

Pria bergelar Tuan Oh itu, bergumam tak jelas.

“Baiklah, aku akan menyiapkan air hangat untukmu.”

~

Malam hari..

Semua anggota keluarga Oh berkumpul di ruang keluarga. Keluarga ini terdiri dari 5 anggota. Yaitu Oh Sehun, Oh Daena, Oh Sena, Oh Daehun dan Oh Sehyun. Sena adalah anak tertua, usianya sudah menginjak 15 tahun. Daehun adalah anak kedua, dia satu-satunya laki-laki dari ketiga bersaudara ini, usianya 14 tahun. Sedangkan Sehyun, dia adalah anak bungsu yang usianya masih 5 tahun.

Sementara Oh Sehun dan Oh Daena? Mengingat Sena yang sudah berumur 15 tahun, pasti semua orang beranggapan kalau orang tua gadis itu sudah hampir berkepala 4. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. mereka masih sangat muda. Sehun berumur 35 tahun sedangkan Daena berumur 32 tahun. Jadi kesimpulannya, Sena sudah lahir saat Daena masih berumur 17 tahun. Apakah itu hasil cinta terlarang?

BIG NO!

Sehun dan Daena memang sudah dijodohkan sejak kecil. Mereka mengawali hubungan itu selama 17 tahun dengan saling membenci, namun pada akhirnya mereka dinikahkan. Lahirnya Sena yang menjadi buah cinta mereka yang pertama.

Daena sibuk melerai Daehun dan Sehyun yang sedang berebut mainan. Meski usianya sudah 14 tahun, tapi Daehun masih suka memainkan mainan anak kecil.

“Oppa! Itu punya Sehyun..” rengek gadis berumur 5 tahun itu sambil menggapai mainan mobil-mobilan dari tangan Daehun. Anak bungsu itu sekarang berada di atas pangkuan ayahnya. Dia sangat menyukai ayahnya, dan tertular menyukai barang-barang yang berbau otomotif.

“Yaa! jangan mengaku-ngaku kau!” pekik Daehun seraya menyembunyikan mainan itu di belakang tubuhnya.

Sena hanya melirik sekilas pada pemandangan di sampingnya. Dia sudah tidak tertarik lagi dengan perdebatan antara kedua adiknya. Dia lebih baik belajar. Meski suara dari televise dan keributan dari keluarganya, hal itu tidak membuatnya hilang konsentrasi.

“Daehun.. jangan berteriak pada adikmu,” ucap Daena sambil menghapus jejak air mata di pipi chubby Sehyun. Daehun yang melihatnya, mengerucutkan bibir. Dia tidak suka saat ibunya lebih membela Sehyun.

“Eomma tidak sayang padaku lagi.”

Daena mengacak rambut hitam Daehun gemas. “Jangan bicara sembarangan, sayang.”

“Appa..” kali ini Sehyunlah yang merengek pada ayahnya. Dia mengangkat kepalanya, melihat dagu ayahnya dari bawah.

“Eum?” Sehun mendekatkan wajahnya pada gadis mungil itu kemudian mengecup pipinya.

“Aku mau mobil-mobilan seperti oppa.”

Sehun tersenyum lembut. Daena yang melihatnya juga ikut tersenyum. Laki-laki yang dijodohkan dengannya sejak kecil itu, hanya akan tersenyum lembut padanya, orang tua mereka dan anak-anak mereka. Daena tahu Sehun bukan tipikal orang yang tebar pesona.

“Akan appa belikan besok.”

“Jinjja?”

Sehun mengangguk yakin. Gadis kecil itu bersorak ria yang membuat Daena maupun Sehun gemas dibuatnya.

“Kau itu yeoja, seharusnya kau main boneka, bukan mobil,” ketus Daehun dengan nada tak suka. Sena menggeleng pelan.

“Oppa saja yang main boneka, aku tidak suka boneka, wek!”

Kini Sehun dan Daena juga ikut menggelengkan kepala mereka.

“Eomma, besok adalah hari terakhir membayar tagihan sekolah,” cetus Sena tanpa menoleh sedikitpun pada orang yang sedang diajaknya bicara.

Daena maupun Sehun memalingkan wajah mereka ke gadis berambut coklat madu itu. “Apa tidak bisa diundur lagi?”

Sena melirik sekilas pada ayah ibunya. “Tidak. Seonsaengnim mengingatkanku setiap hari.”

Daena menghela nafas, sementara Sehun tersenyum simpul.

“Mana ada uang?” keluh Daena seraya mengusap kepala Daehun.

“Besok appa yang akan membayar sendiri ke sekolahmu,” sahut Sehun tiba-tiba. Sena maupun Daena menoleh kaget kepadanya.

“Uang bulan ini sudah menipis, appa.”

Sehun mengacak rambut Daena gemas, membuat Sena tersenyum misterius melihatnya. “Ibu kalian ini memang tidak pernah percaya pada appa. Jangankan membayar tagihan sekolah Sena, tagihan sekolah Daehun bahkan biaya pendaftaran Sehyun masuk taman kanak-kanak, aku sanggup membayarnya.”

“Jinjja?” seru Sena kaget. Sehun mengangguk meyakinkan.

“Kau berhutang penjelasan padaku,” ucap Daena sambil mengerucutkan bibirnya. Sehun mengangguk mengiyakan.

~

Begitu pintu kamar tertutup, Daena menyandarkan punggungnya di daun pintu dengan tangan disilangkan di dada. Beberapa meter dihadapannya terdapat Sehun yang sedang mengganti kaos. Pemandangan itu sudah sangat-sangat biasa baginya. Sejak kecil Sehun memang tidak punya malu untuk mengganti kaosnya di depan Daena.

Begitu menutup pintu almari, Sehun mendapati pantulan diri Daena dari cermin pintu almarinya. Dia bersmirk ria kemudian memutar tubuhnya dan berjalan mendekati wanita itu. Dia menghentikan langkahnya begitu ujung kakinya menyentuh ujung kaki Daena.

“Kau suka sekali menontonku mengganti pakaian,” ucapnya sambil menarik pinggang wanita itu dan memeluknya.

Tapi reaksi Daena berbeda. Dia justru mendorong Sehun hingga pelukan itu berakhir. Dari ekspresinya, Sehun tahu jika wanitanya sedang marah. Tapi dia tidak mau ambil pusing, justru saat marah Daena terlihat jutaan kali lebih manis dari biasanya.

“Kenapa sayang?” tanyanya lembut setelah mendaratkan kecupan di pipi chubby istrinya.

“Jelaskan padaku ucapanmu tadi.”

Laki-laki itu menyunggingkan senyumnya. “Kau begitu ingin tahu, eoh?”

DUG!

Sehun mengusap keningnya yang barusan diadu dengan dahi Daena. Dia tak menyangka kalau tulang tengkorak istrinya jauh lebih keras daripada batu.

“Jangan suka berbelit-belit. Cepat katakan.”

Sehun menatap istrinya garang, sejurus kemudian..

CUP!

Daena membelalakkan matanya terkejut. Sehun barusan memberikan kiss singkat di bibirnya. Entah kenapa jantungnya berdetak tak karuan.

“Itu hukuman untuk istriku yang pemarah. Wek.”

Daena mengerucutkan bibirnya kesal. Dia pun mendorong Sehun kemudian berjalan ke tempat tidur. Dia membaringkan tubuhnya dan membalutnya dengan selimut. Wanita itu tak peduli dengan Sehun yang sedang memanggil namanya.

Sebenarnya Daena tidak pernah bisa marah. Dia hanya tidak bisa mengungkapkan dengan baik bagaimana perasaannya. Saat Sehun menciumnya tadi, rasa kesalnya tiba-tiba lenyap. Sekarang di bawah pelukan selimut tebal, dia menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Sehun duduk di pinggiran ranjang dekat Daena. Dia menatap tenang selimut yang sedang membalut tubuh istrinya. Dia tahu istrinya tidak marah, karena saat bertingkah seperti ini, itu berarti istrinya sedang menutupi rona kemerahan di wajahnya. Bagaimana Sehun tahu? Tentu saja dari buku harian istrinya. Setiap kali istrinya belanja, dia pasti diam-diam membuka buku harian istrinya dan membacanya. Seluruh topic yang dibahas adalah mengenai dirinya, hanya sebagian kecil tentang ketiga anaknya. Sehun tahu, istrinya memang hanya mencintainya.

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan,” ucap Sehun tiba-tiba, memecah keheningan diantara mereka.

Dalam selimutnya, Daena sedang menahan degub jantungnya. Banyak dugaan sedang berlarian di pikirannya.

Kira-kira apa yang akan dia katakan? Apa dia tahu kalau aku hamil? Ah tidak tidak! Dia tidak akan tahu itu. apa dia mendengarnya dari eomma? Ah tidak juga! Dia bahkan terlalu sibuk di kantor. Lalu apa?

Perlahan Sehun menyingkap selimut dari wajah istrinya. Dia menangkap ekspresi terkejut sekaligus cemas dari wajah cantik itu. dia tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya.

CHU~

“Aku resmi menjadi direktur perusahaan.”

DEG!

DEG!

DEG!

Daena mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Antara sadar atau tidak, dia mencubit pipinya sendiri kemudian mendesis kesakitan.

“J-j-jinjja?”

Sehun mengangguk dan tersenyum manis. Laki-laki itu kembali ke posisi semula. Dia hanya memperhatikan Daena yang belum bereaksi sedikitpun. Hingga akhirnya wanita itu menyingkap selimutnya dan memeluk Sehun agresif.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!! Kenapa kau tidak katakan sejak tadi?!!! Omo!!! Chukkae my husband!! Mumumu. Jeongmal mianhae, tadi sore aku memarahimu. Aku benar-benar tidak tahu. Ya ampun!!! Kau hebat, sayang!!”

Reaksi seperti itulah yang Sehun tunggu. Dia membalas pelukan itu dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Daena.

“Gomawo. Semua ini juga karenamu. Mian, aku hanya ingin memberi kejutan.”

Daena tersenyum lembut. “Kejutanmu diluar dugaan. Ah.. aku juga ingin memberimu kejutan.”

Pikiran kotor pun mulai menyebar di otak Sehun. Dia menyeringai buas. “Kejutan? Wah… sepertinya aku harus menyiapkan tenaga untuk malam in-AW!”

Daena memberengut kesal karena Sehun tidak pernah move on dari otak yadongnya. Tapi sedetik kemudian wanita itu tersenyum. Dia melepaskan pelukannya kemudian menatap tepat ke manic mata Sehun.

“Kenapa kau mencubit pinggangku? kau tidak tahu kalau akhir-akhir ini aku sering sakit pinggang karena-”

CHU!

Sehun mengerjapkan matanya bingung.

“Kau terlalu banyak bicara. Eum… kemarin aku pergi ke rumah Baekhyun.”

Dan kini mata Sehun membulat horror. “APA KAU BILANG?! BAEKHYUN?!”

Buru-buru Daena membekap mulut Sehun. Mereka saling adu death glare sebelum Daena mengalah dan menurunkan tangannya.

“Untuk apa kau menemuinya lagi? Belum puas kau membuatku cemburu waktu itu?”

Daena menghela nafasnya malas. “Aku hanya memeriksakan kandungan saja.”

“Dokter kandungan itu banyak di Seoul. Tidak adakah dokter lain selain si sialan itu yang kau percayai? Oh, atau jangan-jangan kau berselingkuh dengannya lagi?”

Wanita itu memutar bola matanya. “Oh ya ampun Sehun, bisakah kau tidak mengatakan hal yang tidak-tidak? Aku hamil.”

“Kau itu yang bicara ngelantur. Memalukan sekali memeriksa kandungan pada orang sepertinya. Dan apa barusan yang kau bilang? Kau hamil? Hamil anaknya??”

“YAA!! aku hamil anakmu, bodoh! Aku positif hamil 3 minggu! Aku hamil anakmu! Ya ampun Sehun!!!”

O.O

“A-a-anakku?”

“Ne.”

“MWOYA?! Thank you baby!!! Love you so much!!! Saranghae saranghae!!!”

“Yaa! yaa! kau membuatku sesak Hun!!”

~

Esok harinya..

Daena berjalan ke dapur dengan rambut berantakan. Dia berjalan melewati Sena yang sedang sibuk membereskan buku-bukunya di atas meja ruang keluarga. Saat melihat kondisi ibunya, Sena tidak bisa menahan diri untuk tidak mengikutinya dan bertanya.

“Eomma.”

“Eum?” balas Daena sambil menggelung rambutnya tanpa menyisirinya lebih dulu. Lehernya terlihat, dan disanalah Sena bisa menemukan tiga tanda kebiruan.

“Ada apa dengan leher eomma?”

Kedua mata Daena yang semula sulit dibuka, kini membulat. Dia gelagapan. Sampai akhirnya sebuah ide muncul dari kepalanya.

“Oh.. ini. Tadi malam eomma susah tidur. Banyak sekali serangga. Eomma bahkan tidak tahu kalau ada tanda ini.”

Sena mengerutkan dahinya bingung. “Tapi apa gigi serangga sebesar itu?”

Sehun tiba-tiba muncul dari kamarnya. Kondisinya tidak jauh beda dengan kondisi Daena. Rambutnya berantakan dengan hanya memakai tank top berwarna putih. Dia berjalan mendekati kedua perempuan itu untuk mengambil air minum dari kulkas.

“Oh? Appa juga susah tidur tadi malam?” tanya Sena pada ayahnya.

“Tidak. Tidur appa nyenyak,” jawabnya cepat.

UHUK!

Dia tersedak saat Daena menendang tulang keringnya. Dia ingin mengomel macam-macam, namun melihat cara menatap Daena yang terkesan horror, Sehun pun meletakkan gelas itu di atas meja kemudian menatap anak pertama mereka.

“Kenapa bertanya seperti itu?”

“Rambut appa dan eomma sama-sama berantakan,” jawabnya polos.

“Kan sudah eomma bilang, ini karena gigitan serangga.”

Sehun melirik sekilas pada Daena. “Eum, serangganya sangat besar sampai-sampai ibumu kewalahan.”

Daena mendelik tak suka pada ucapan Sehun. Laki-laki itu tidak membantunya, malah memberikan celah pada Sena untuk berpikiran tidak-tidak.

“Benarkah itu?”

“Sudahlah Sena, cepat bersiap sekolah.”

Sena menurut dan dia pergi dari hadapan ayah ibunya. Kini Daena menatap intens pada laki-laki di sampingnya. Ditatap seperti itu Sehun tidak juga mengerti.

“Apa aku salah?”

Daena meraih rambut Sehun dan mengacaknya lebih ganas daripada semalam. “Dasar bodoh!!”

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s