Romantic Oh Sehun


Author : Park Dae Na

Genre : romance, married life

Rating : Teen

Length : one shoot

Casting : Oh Sehun (EXO), Oh Daena (OC), Byun Baekhyun (EXO/other cast), Byun Jung Ah (OC/other cast)

.

Surprice | Love After Marriage 

.

Pekan yang langka bagi keluarga kecil Oh. Sehun akhirnya mampu mengambil cuti selama seminggu sebelum kelahiran anaknya yang ke-4. Dia seakan mengempiskan ban mobilnya agar tidak memiliki kesempatan untuk keluar. Karena seminggu ini, dia akan berperan sebagai pembantu pribadi untuk istrinya seorang. Siapa lagi kalau bukan Oh Daenanya tercinta.

Pagi-pagi sekali Sehun beranjak dari kamarnya. Rencananya dia akan memperlihatkan pada Daena bagaimana perkembangan kemampuan memasaknya. Dia ingin membuatkan sarapan bagi keluarga dan susu khusus untuk janin di perut istrinya.

Dengan memakai apron berwarna merah muda dengan motif hello kitty –milik Daena- dia mulai memasak sarapan dan meracik susu. Gerakan tangannya sudah seperti orang ahli. Semoga saja kursus memasak pada ibunya waktu itu membuat dia berhasil menciptakan menu sarapan untuk keluarga kecilnya.

Dia tersenyum kecil melihat rasa dari susu milik Daena. Jeruk adalah rasa yang langka untuk susu ibu hamil. Sambil memikirkan ekspresi bahagia istrinya, dia pun menyendokkan sesendok penuh bubuk susu itu kemudian dimasukkan ke dalam gelas berisi air hangat. Dia aduk bubuk itu hingga larut dengan air, dan air yang semula bening berubah warna menjadi jingga. Dia tersenyum puas.

“Appa?”

Pria itu menoleh ke asal suara. Dia tersenyum saat anak pertama mereka berjalan mendekatinya. Fisik Sena 90% mirip dengan Sehun. Mata sipit, kulit albino, hidung mancung, dagu tegas, dahi tercetak sempurna dan jangan lupakan juga bibir kecilnya yang berwarna kemerahan.

Gadis yang beranjak remaja itu memeluk ayahnya sayang. Yah.. semenjak Sehyun lahir, dia sudah jarang memeluk ayahnya, begitu pula dengan Sehun.

“Kau sudah bangun? Apa mau appa buatkan cokelat panas?”

Gadis itu mengangguk manja. Dia mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya. Bahkan semua orang tidak pernah menyangka kalau ternyata Sena jauh lebih tinggi dari Daena.

“Appa tumben belum berangkat kerja?”

“Ey.. siapa bilang appa akan bekerja hari ini.”

Sena mendongak. “Lalu?”

“Appa akan tetap tinggal di rumah sampai ibumu melahirkan.”

Gadis itu tersenyum penuh binar. “Jeongmal? Huwaaa… itu asyik sekali, jadi appa punya banyak waktu untuk kami.”

Sehun mengangguk pasti. “Ne, kau benar putriku. Cha! Sambil menunggu cokelat panasnya selesai, bagaimana kalau Sena membawakan susu ini pada eomma?”

Gadis itu melepaskan pelukannya pada sang ayah. Dia mengambil gelas susu milik ibunya. Dan sebelum beranjak dari sana, dia berjinjit untuk mencuri kecupan di pipi ayahnya.

“Morning kiss appa!” pekiknya sambil berjalan cepat menuju kamar ayah ibunya. Sehun hanya menggeleng pelan dengan bibir yang menyunggingkan senyum. Bahkan sifat usilnya pun menurun.

Sesampai di kamar ibunya, Sena melihat Daena yang sedang kebingungan mencari Sehun. Gadis remaja itu tersenyum kemudian berjalan mendekat dan meletakkan gelas itu di atas nakas. Dia duduk di dekat ibunya.

“Mana appa, sayang?”

Ibunya tetap cantik meski bangun tidur, setidaknya itulah kesan pertamanya saat melihat sang ibu yang sedang berbadan dua dalam keadaan bangun tidur.

“Appa di dapur, eomma. Appa membuatkan susu itu untuk eomma.”

Wanita itu mengikuti arah pandang anaknya. Dia tersenyum tipis, kemudian menoleh kembali pada Sena.

“Ah.. jadi kau kesini disuruh ayahmu?”

Sena hanya mengangguk.

Daena mengulurkan tangannya untuk mengusap sayang rambut pirang anak gadisnya. Warna rambut yang sama dengan milik Sehun. Daena seperti sedang melihat versi perempuan dari suami tercintanya.

“Kau sudah tumbuh sangat cantik sayang. Aigoo.. kau mirip sekali dengan ayahmu.”

Gadis itu tersipu malu. Rona merahnya sama dengan rona merah milik Daena. Pantas jika Sena menjadi salah satu gadis cassanova di sekolahnya. Banyak para remaja yang tergila-gila padanya. Bahkan pernah ada seorang laki-laki yang mungkin telah gila dengan pesona Sena, datang ke rumah ini hanya untuk menanyakan jawaban gadis itu mengenai ungkapan perasaannya.

“Ah ya, bukannya hari ini kau masih harus sekolah?”

Sena melirik sekilas pada jam dinding. “Ne eomma, sebentar lagi aku berangkat.”

CKLEK!

“Sena-ya, cokelat panasmu sudah selesai. Cepat habiskan, setelah ini bersiap sekolah,” tegur Sehun sebelum mendaratkan kecupan di dahi istrinya.

“Arraseumnida,” ucap gadis remaja itu dan beranjak setelahnya. Dia membiarkan kedua orang tuanya berlovey dovey disana. Toh dia juga masih terlalu polos untuk mengetahui bahkan melihat yang seperti itu.

Daena melihat postur Sehun dari bawah ke atas. Tak berapa lama dia tertawa terbahak-bahak. Sehun menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Hahaha, ya ampun Sehun.. kau lucu sekali memakai itu.. hahaha.”

Merasa dihina, Sehun mengerucutkan bibirnya. “Waeyo? Salahkan dirimu yang hanya punya satu apron. Bukannya sudah pernah kusarankan untuk membeli banyak.”

Daena memeletkan lidahnya. “Aku kan tidak tahu kalau ternyata kau akan memasak. Haha.. eommeonim pasti terkejut melihatmu. Dia pasti berpikiran kalau anaknya yang selalu terlihat super duper keren dengan tuxedo kini terlihat sangat konyol memakai apron hello kitty.  Ugh… karyawan-karyawan di kantormu pasti akan menertawaimu juga.”

Benar-benar keterlaluan, batin pria itu. Dia tidak menyangka kalau saat hamil Daena justru terlihat seperti dewi evil baru.

“Kau ini benar-benar.”

Daena menjulurkan lidahnya lagi, kemudian tertawa. Tak tahan dengan sikap istrinya itu, akhirnya Sehun mengangkat tubuh istrinya ala bridal style dan membawanya ke dalam kamar mandi.

“Yaa! Sehun!! Apa yang akan kau lakukan?!!”

“Ini hukuman untukmu. Aku tidak menerima penolakan, kita mandi bersama pagi ini.”

“MWO?! MWOYA!! YAA!! OH SEHUN SIALAN!! TURUNKAN AKU SEKARANG! YAA!”

Suara melengking wanita itu teredam kala pintu kamar mandi telah tertutup sempurna.

~

Sepulang mengantar Sena dan Daehun, Sehun masih harus memandikan Sehyun karena Daena telah dilarangnya untuk beraktifitas. Pria itu terlihat kerepotan saat menyabuni tubuh anaknya. Sehyun benar-benar tidak bisa diam. Gadis mungil itu sangat menyukai air, setiap Sehun menggosokkan sabun ke tubuhnya, dia pasti akan langsung membilasnya dengan air. Hal itu membuat Sehun gemas dan putus asa untuk melanjutkan aktifitasnya.

15 menit berlalu, Sehyun sudah memakai pakaian lengkap. Gadis mungil itu kini mengantuk. Dia langsung terlelap kala Sehun menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya. Yah.. meski suara Sehun terdengar lebih buruk dari suara burung beo, tapi Sehyun sangat menyukainya. Apa saja tentang ayahnya, dia selalu menganggapnya tampan.

Berhasil menidurkan Sehyun, dengan hati-hati Sehun keluar dari kamar anaknya dan berjalan mendekati Daena yang sedang menonton televise. Wanita itu terlihat bosan. Dia mengusap perutnya sambil menatap malas layar televise.

Tanpa babibu, Sehun duduk di sampingnya, memeluknya, memberinya kecupan, dan berakhir dengan tanda kebiruan di lehernya. Wanita itu mendesis kesal sambil memukul pelan lengan Sehun.

“Bagaimana kalau Sehyun lihat? Ish kau ini.”

Sehun tertawa innocent. “Mudah saja, aku akan bilang kalau aku sedang menghisap serangga yang menempel di lehermu.”

“Pabo.”

Pria itu mengulum senyum. Dia mengalihkan pandangan pada layar televise dihadapan mereka. layar itu sedang memperlihatkan sebuah acara drama Korea. Drama remaja memang, tapi Sehun rasa tokoh pria disana lebih mirip dengannya.

“Tunggu saja, dalam hitungan ke-3 dia pasti mencium si tokoh wanitanya.”

Daena melirik malas pada suaminya. “Jinjja? Buktikan.”

Sehun tersenyum menantang. “Baik. Perhatikan. Hana… ddul…. Seis!”

CHU~

Daena membelalakkan matanya horror. Ini jauh dari dugaannya. Sehunlah yang menciumnya. Bertepatan dengan kedua tokoh utama dalan drama itu melakukan kiss scene.

Pria itu menjauhkan wajahnya. Tidak pernah ada hisapan nafsu disana. Bibir tipis itu hanya saling menempel. Memperlihatkan kalau Sehun sebenarnya tidak menyukai hal seperti itu. Asalkan kalian tahu, Sehun tidak sepervert kelihatannya. Hanya dalam beberapa keadaan saja dia merengek-rengek untuk dihujani ciuman oleh istrinya. Contoh seperti sekarang ini.

Pria itu mengulum senyum. Senyum yang membuat kedua matanya hampir terpejam.

“Morning kiss baby.”

Desisan kesal namun sedikit senang itu keluar dari bibir Daena. Dia menyembunyikan semburat merah di wajahnya menggunakan bantal sofa.

Sehun dan Daena sama-sama anak tunggal. Bedanya Sehun kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya ketimbang Daena. Saat itu ayah ibunya memegang perusahaan besar di Korea, yaitu Oh Corp. Setiap harinya mereka akan berangkat pagi dan pulang larut malam. Tidak pernah ada kata istirahat dalam kamus mereka. Dan seseorang yang telah mereka korbankan adalah Oh Sehun, yang masih sangat haus kasih sayang dari keduanya. Hidup Sehun sangatlah redup sebelum kehadiran Daena. Wanita itulah yang membuatnya bisa seceria ini. Tidak malu merengek-rengek seperti anak kecil hanya untuk sebuah ciuman.

Mereka dua insan yang berbeda 180 derajat dari segi kepribadian. Sehun terkesan mandiri sementara Daena terkesan manja. Sesuai fakta di atas, Daena mendapat kasih sayang yang berlimpah daripada Sehun. Sama seperti Sehun, sebelum kehadiran pria itu dalam hidupnya, dia hidup dengan mengandalkan fasilitas dari kedua orang tuanya. Dan di umur yang terbilang muda –Sehun 20 tahun, Daena 17 tahun- mereka akhirnya dipersatukan.

DUG!

Daena langsung melihat kearah perutnya. Dia merasakan sesuatu yang aneh disana. Tapi sebelum mengatakannya pada Sehun, dia menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

DUG!

“Huwaa! Sehun!!”

Pria yang sedang asyik menonton televise itu, segera memutar kepala pada istrinya. Wajahnya berubah panic, sangat terlihat kontras dengan ekspresi bahagia Daena.

“Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Dia menendang, sayang!!”

Sehun masih menatapnya tak mengerti.

“Calon bayi kita. Dia baru saja menendang.”

“Mwo? Jinjja?”

Daena mengangguk cepat. Sehun sudah tak sabaran untuk memastikan sendiri. Dia menempelkan telinganya ke perut istrinya. Dia menunggu untuk beberapa saat sampai suara dentuman halus merambat memasuki indera pendengarannya. Dia tersenyum bahagia.

“Ini pasti laki-laki.”

“Bagaimana kalau kita ke rumah Baekhyun oppa?”

Spontan senyum Sehun luntur. Pria itu menegapkan tubuhnya kembali. Dia menatap istrinya datar.

“Kau ingin memanas-manasiku lagi?”

Wanita itu tersenyum jenaka. Dia menghujani Sehun dengan ciuman, tapi ternyata sikap seperti itu tidak membuat Sehun tersenyum. Padahal sebenarnya pria itu menjerit senang dalam hatinya, hanya saja dia berusaha untuk tidak luluh.

“Ayolah suamiku yang tampan, aku hanya ingin memeriksakan kandungan saja. Sudah hampir 6 bulan aku tidak memeriksakan kandunganku. Aku juga rindu dengan Baekhyun oppa dan Jung Ah. Kau tidak mengasihani istrimu ini?”

“Aku tidak mau kalau harus ke rumah mereka. Please mrs. Oh, jangan membuatku teringat masa-masa konyol itu lagi. Apa kau ingin aku jatuh lagi pada pesona Jung Ah? Tidak kan? Katakan tidak.”

Wanita itu menjulurkan lidah. “Memaksa sekali. Lagipula kalau kau berani jatuh cinta pada Jung Ah, aku akan meminta eomma untuk membuat surat pernyataan perceraian. Ayolah Sehun.. aku ingin ke rumah Baekhyun oppa sekarang.”

“Lihatlah dirimu, kau juga memaksaku, bahkan mengancamku dengan perceraian? Aish! Pokoknya aku tidak mau.”

“Aaah~ Sehun… jebal… aku benar-benar merindukannya, saaaaaaaaaaaaaaaangat merindukannya. Kau tidak mau kan kalau nantinya aku banyak memikirkan Baekhyun oppa kemudian kondisi kandunganku semakin buruk. Tidak mau kan? Katakan tidak mau.”

Dia bahkan menjiplak ucapanku, jinjja.

Pria itu menghela napas. Dia langsung menarik tengkuk wanita itu dan kembali mencium bibirnya. Kali ini bukan morning kiss, melainkan ciuman tulus yang dia berikan untuk istrinya. Dia ingin Daena menyadari kalau dirinya memang tidak mau Daena bertingkah seperti itu hanya karena Byun Baekhyun. Dia ingin Daena hanya merindukannya, melihatnya dan mencintainya.

“Baiklah, demi kau aku akan menurutinya. Tapi! Ini yang terakhir kalinya kita berkunjung kesana. Setelah itu tidak lagi, arraseo?”

Daena mengangguk senang.

“Dan satu lagi. Karena kita tidak mungkin meninggalkan Sehyun sendirian disini, maka aku akan membawanya juga. Otte?”

“Aku setuju. Saat kita memeriksakan kandunganku, Sehyun kita biarkan bermain dengan Baek Ah. Terakhir aku kesana, aku melihat kalau Baek Ah sudah seumuran Sehyun. Pasti Sehyun senang mendapat teman baru.”

Sehun hanya tersenyum maklum melihat binar di wajah istrinya.

~

At Baekhyun’s Home..

Sudah sejak 10 menit lalu tidak ada perbincangan di antara mereka berempat. Ah, tepatnya hanya dua orang saja. Daena terlihat akrab dengan Jung Ah, karena mereka pernah sekelas sebelumnya dan merupakan teman dekat. Sedangkan Sehun-Baekhyun? Mereka juga teman dekat dulu, tepatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga SMA. Mereka sama-sama menutupi fakta kalau dulu mereka terlihat seperti pasangan kembar yang tak pernah terpisahkan walau anjing menggonggong dan badai menghadang.

Melihat suasana yang dingin diantara keduanya, Jung Ah dan Daena menghentikan aktifitas mengobrol mereka. Kedua wanita itu saling lirik-lirikkan menunjuk suami masing-masing. Mereka saling melempar tanya. Sama-sama tidak mengerti dengan tingkah keduanya.

Pada akhirnya kedua wanita itu memutuskan untuk menegur keduanya.

Daena side

“Sehun-ah, gwaenchana?”

Pria itu menoleh sekilas, kemudian kembali menatap keluar jendela. Sepertinya pemandangan taman bunga di luar sana jauh lebih menarik.

Wanita itu menghela napasnya. “Mau kubuatkan teh?”

“Tidak perlu. Moodku hanya kurang baik.”

Daena tahu apa maksud dibalik ucapan suaminya. Dia akhirnya memilih menyerah.

Jung Ah side

“Oppa, apa kopinya terlalu pahit?”

Baekhyun tersenyum sambil menatap lembut istrinya. “Ani. Rasanya seperti biasa, enak.”

“Benarkah?”

Pria itu mengangguk pelan. Selang berapa lama kemudian, Baekhyun kembali melamun. Untuk kali ini juga, Jung Ah juga menyerah.

Kedua wanita itu saling menatap satu sama lain.

“Huh.. aku lebih suka Sehun dan Baekhyun oppa yang dulu. Mereka terlihat klop saat bersama, bukan begitu, Jung Ah?”

Wanita berambut hitam sebahu itu mengangguk. “Eum, kau benar. Aku heran, kenapa mereka jadi seperti ini sekarang? Apa karena kita, ne?”

Daena mengangkat tinggi-tinggi kedua pundaknya. “Maybe. Bodohnya dulu kita mau menerima mereka. Kalau saja aku tahu kalau aku sudah dijodohkan dengan Sehun sejak awal, aku pasti tidak akan terlibat dalam pertaruhan konyol mereka. Aish..”

“Nado. Kalau saja sejak awal aku tahu jika Baekhyun oppa yang menelponku saat itu, aku pasti sudah mencampakkan suamimu sejak awal. Bitch! Sudah kuduga kalau mereka hanya taruhan. Dasar para namja sipit.”

Merasa diri mereka sedang disindir, Sehun maupun Baekhyun terlihat gelisah dalam duduknya. Yah.. rahasia mereka terkuak sudah. Mereka benar-benar tidak tahu kalau istri mereka ternyata sudah menyadari pertaruhan itu sejak dulu. Rasanya mereka ingin segera menyembunyikan wajah mereka. Takut-takut harga dirinya tercoreng.

“Aku benar-benar sedih saat Sehun menembakmu dulu. Kupikir… wanita yang dia gambar di sketch book nya adalah aku, tapi ternyata…”

“Eum.. aku bahkan merasa dendam padamu saat melihat Baekhyun oppa lebih memedulikanmu dari pada aku. Dia memayungimu saat kau kehujanan, itu benar-benar… benar-benar…”

“Itu memang kau,” cetus Sehun tiba-tiba. Ucapannya itu mengarah pada istrinya.

“Benar-benar untukmu, yaa! kau bahkan menghindar saat aku mendekatimu. Jadi jangan salahkan aku kalau aku memberikan payung itu pada dia,” kalau ini adalah suara Baekhyun. Dia mengatakan itu pada istrinya.

Daena maupun Jung Ah, sama-sama tersenyum bahagia.

“Akhirnya kalian bicara juga..”

Spontan kedua pria itu membuang pandangannya. Saat pandangan mereka bertemu, yang ada hanyalah sengatan-sengatan listrik yang menyalurkan rasa kebencian antara satu sama lain.

“Oh ayolah Sehun sayang.. lupakan masa lalu. Sekarang masa itu sudah berlalu. Mau sampai kapan kau mendiami Baekhyun oppa seperti ini? Kalian sahabat dulu, tidakkah kalian mengingat masa-masa bahagia saat kalian bersahabat?”

“Eum. Jangan karena kami kalian seperti itu. ayo perbaiki hubungan persahabatan kalian.”

“Shireo!” pekik kedua pria itu bersamaan.

“Oh ayolah. Lakukan itu demi kami…”

“Jangan memaksaku Dae-ya,” elak Sehun yang semakin menekuk wajahnya.

“Waeyo?” tanya kedua wanita itu.

“Dia hampir menciummu, mencuri first kissmu,” jawab Baekhyun cepat

“Dia hampir melakukan hal yang tidak-tidak padamu,” kalau yang ini suara Sehun.

“Hanya itu?” tanya kedua wanita disana.

“Apa kau bilang? Hanya itu?! yaa! kau pikir pria mana yang tega melihat wanita yang sangat dicintainya akan diperlakukan tak senonoh oleh pria lain?! Aish! Kau bukan pria, jadi mana kau tahu!!” Sehun mengacak rambutnya frustasi. Ternyata sangat susah berbicara mengenai hati pria pada para wanita. Ya, setidaknya itu yang dirasakan Oh Sehun.

“Yaa! Aku tidak berniat melakukannya! Kalau saja kau tidak berakting akan mencium Jung Ah, aku pasti tidak akan minum-minuman dan aku juga tidak akan mungkin akan lepas kendali.”

“Tapi kau sudah sangat keterlaluan! Bitch! Kalau saja aku tidak datang tepat waktu, aku yakin Sena lahir sebagai anakmu, bukan anakku.”

“Sudah kubilang aku tidak berniat melakukannya!”

“Tapi kau sudah membuat kiss mark di lehernya!”

“Aku mana tahu, bodoh!”

“Tapi aku melihatnya!”

“Jangan gunakan kata tapi!”

“Jangan ucapkan kalau kau tidak berniat lagi!”

Daena maupun Jung Ah sama-sama menepuk kening mereka. Sungguh seperti sedang mempersatukan kucing dan anjing. Benar-benar sulit untuk menyatukan keduanya.

“Rencana kita gagal, Jung Ah..” keluh Daena sedikit berbisik.

“Eum, kenapa jadinya malah seperti ini? Aku tidak habis pikir.”

“Jadi kalian sudah merencanakan ini?”

Daena gelagapan bingung menjawab apa. “It-it.. itu.. ak-aku..”

“Yaa! Jung Ah! Jawab aku.”

“Tidak.. bukan seperti itu maksudnya, tapi..”

“Sehyun-ah! Ayo pulang!” Pekik Sehun saat tiba-tiba bangkit, mengakhiri perdebatan di antara mereka.

“Baek Ah! Cepat mandi!” kini lengkingan suara Baekhyun ikut terdengar di rumah itu.

“Baiklah, Jung Ah, aku pulang dulu, ne. lain kali kita bertemu lagi,” Daena perlahan ikut bangkit dan membungkuk 45 derajat pada wanita dihadapannya.

“Ne, lain kali aku yang akan ke rumahmu,” jawab Jung Ah sambil tersenyum.

“Eum, pintu rumahku selalu terbuka untukmu.”

“Kaja.”

Daena melambai pada Jung Ah serta Baekhyun, sebelum kemudian dia berjalan mengikuti Sehun yang sudah lebih dulu keluar sambil menggendong Sehyun. Entah kenapa Daena senyum-senyum sendiri. Perdebatan antara Baekhyun dan Sehun justru terdengar lucu. Kedua pria itu malah terkesan bodoh dalam urusan wanita. Tapi dengan kepolosan mereka, justru mereka memperlihatkan betul bagaimana rasa cinta mereka pada Daena ataupun Jung Ah. Jantung Daena berdesir saat itu juga.

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s