Love After Marriage


Author : Park Daena

Genre : romance, married life

Rating : Teen

Length : one shoot

Casting : Oh Sehun (EXO), Oh Daena (OC)

.

Surprice

.

Hanya perlu mencoretkan tinta di atas puluhan dokumen, itulah pekerjaan Oh Sehun sekarang. Dia resmi menjadi seorang direktur perusahaan yang bekerja dalam bidang pariwisata. Biasanya selain duduk di kantor, dia juga pergi ke luar kota bahkan keluar negri untuk bertemu dengan beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaannya.

Berada di kantor dari pagi hingga malam, membuatnya benar-benar lelah dan merindukan rumah. Apalagi Daena sekarang sedang mengandung anaknya yang ke 4. Dia pikir dengan menjadi direktur, dia bisa mendapatkan dispensasi waktu untuk meninggalkan kantor, tapi ternyata tidak. Justru dia harus lebih giat bekerja. Mengingat perusahaan yang tengah dijalaninya ini mulai memasuki masa kritis.

Dok dok dok

CKLEK

Dari balik pintu muncullah seorang wanita dengan setelan dress panjang berwarna biru.

Sehun mengenal dress itu karena dress tersebut adalah hadiah ulang tahun Daena dari ibu Sehun. Dress itu diberikan saat Daena memasuki bulan ketiga kehamilan Sena dulu.

Sehun menanggalkan seluruh pekerjaannya dan memilih mendekati wanita itu. Sudah dua hari ini dia tidak pulang dan itu sangat menyiksanya karena merindukan rumah, Daena, serta anak-anaknya. Ditariknya pinggang wanita itu kemudian memeluknya erat. Aroma raspberry istrinya membuatnya mabuk seketika. Beginilah Sehun saat dia tidak bertemu istrinya barang 2 hari saja.

“Aigoo Sehun.. kau tidak mandi eoh? Baumu, aish!”

Daena mendorong tubuh Sehun hingga laki-laki itu menegapkan tubuhnya, namun tetap memegang pinggang Daena.

“Dae~ morning kiss..”

Bukannya melakukan apa yang Sehun mau, Daena justru bergidik ngeri. Sejak kapan Sehun suami tercintanya menjiplak mata panda? Dan lihatlah aegyo gagalnya itu. Daena justru ingin menimpuk wajah Sehun dengan pantat panci di rumahnya.

“Yaa, kau ini direktur perusahaan. Jangan bertingkah seperti itu disini.”

Laki-laki itu mengerucutkan bibirnya. “Wae? Aku hanya ingin morning kiss darimu. Wajarkan kalau aku sangat merindukanmu..”

Daena memutar bola matanya malas. Kalau sudah seperti ini Sehun benar-benar seperti anak kecil, jauh lebih kecil dari Daehun bahkan.

Dok dok dok

CKLEK!

“OMO!”

Keduanya menoleh ke asal suara. Tidak Sehun tidak juga Daena, keduanya sama-sama menatap datar wanita berpakaian minim itu. Katakanlah wanita itu adalah asisten Sehun, tapi sebenarnya Sehun tidak pernah menganggap wanita itu sebagai asistennya.

“Bisakah kau membuat janji dulu sebelum masuk?” pertanyaan biasa yang terkesan tegas itu membuat si asisten bergetar setengah mati. Bagaimana tidak, mata elang Sehun seperti menusuknya. Lagipula manusia mana yang mau saat manusia lain datang saat si manusia itu sedang berlovey dovey dengan pujaan hatinya. Sehun benar-benar benci dengan tingkah wanita itu, yang menurutnya tidak jauh berbeda dengan gadis bar bar.

“Maaf. Maafkan aku sajangnim.”

“Yaa! kau bahkan memakai bahasa informal. Dia sajangnimmu, harusnya kau memakai bahasa formal,” kini Daena ikut angkat bicara.

Rasa bersalah kembali menyergap perasaan wanita itu. “Sekali lagi saya minta maaf tuan, nyonya.”

“Kenapa masih ada disitu? Cepat pergi. Jangan kembali lagi kemari..”

“Karena kau kupecat!” suara itu bukan dari Sehun, melainkan Daena. Pernyataan tiba-tiba itu membuat sang asisten mengangkat kepala tak percaya.

“Di-di-dipecat?”

“Eum, kau tidak dengar ucapan istriku?”

Wanita itu meneguk salivanya paksa. Tidak mungkin baginya untuk melawan sepasang suami istri yang notabene adalah atasannya. Bukannya mendapatkan kembali pekerjaannya, justru dia akan semakin dipermalukan. Mengingat perilakunya selama ini yang suka sekali mencuri-curi perhatian sajangnim barunya.

“Saya permisi.”

Dengan kepala tertunduk, wanita itu pergi meninggalkan ruang kerja Sehun dengan tenangnya. Padahal, begitu berada diluar dia langsung menangis Bombay karena kehilangan pekerjaan sekaligus perasaan cintanya yang ditolak mentah-mentah. Dia benar-benar tidak tahu kalau ternyata Sehun sudah beristri.

Daena menggeleng pelan ketika mendengar suara tangisan dari luar ruang kerja suaminya. Dan begitu menolehkan kepala ke depan, bibirnya sudah disambut oleh bibir Oh Sehun.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

2 menit..

3 menit..

Sadar sikon, Daena memilih mendorong dada Sehun pelan. Morning kiss berakhir sampai disini.

“Ini sudah hampir jam 12 bodoh, sudah bukan morning kiss lagi namanya,” ucapnya seraya membetulkan simpul dasi Sehun.

“Lalu apa peduliku? Asal itu dari istriku aku akan menganggap ini morning kiss.”

Kupu-kupu seperti beterbangan di perutnya, tepatnya di perut yang sedang berisi itu. Untuk menutupi rona kemerahannya, Daena membenamkan wajahnya di dada bidang Sehun.

“Aku benci saat kau menggombal, karena setiap kali kau mengatakan kata-kata manis sepertiku, aku rasa perutku dipenuhi banyak kupu-kupu.”

Sehun tersenyum simpul. “Kenapa tidak ular?”

Daena mencubit pinggang Sehun sampai lelaki itu berteriak histeris. “Susah-susah aku mengatakan itu padamu, kau malah bercanda.”

Sehun hanya mengusap rambut Daena sayang. “Ne, arraseo. Eum, apa kau memakai bedak bayi?”

Wanita itu melepaskan pelukannya, dia menatap Sehun malu-malu. “Kau menyadarinya?”

Pria itu tersenyum jenaka. “Kau pikir hidungku sudah tidak berfungsi? Aku ingat betul bau ini. Ini bau bedak Sehyun. Pantas kau cantik sekali hari ini.”

Sehun menyelipkan rambut wanitanya ke belakang telinga, dia tersenyum begitu manis sampai rasanya Daena seperti melihat madu-madu yang bergelantungan di depan mata.

Terus berlama-lama menatap mata Sehun, Daena seperti mayat hidup. Jadi wanita itu memilih membuang pandangan dan sekali lagi untuk menutupi rona wajahnya. Setiap kali dia bertingkah seperti itu, Sehun justru gemas. Dia seperti melihat Daena yang masih berumur 17 tahun. Sangat cantik, manis, anggun dan menggoda mungkin.

Atas pikiran kotornya yang tak kesampaian, pria itu menghela nafasnya. “Sayangnya sudah hamil..”

“Mwo?”

“Ah ani,” Sehun buru-buru memutar tubuhnya dan berjalan menuju meja kerja. Dia masih harus menyelesaikan banyak tugas sebelum matahari tenggelam.

Gelagat aneh Sehun membuat Daena semakin penasaran. Tapi dia tiba-tiba teringat sesuatu. Wanita itu berjalan menghampiri suaminya yang kini sudah duduk manis di meja kerja.

“Appa..”

“Jangan memanggilku appa disini, sayang. Panggil sebagaimana mestinya.”

Daena mengangguk pelan. “Eum.. apa nanti malam kau pulang?”

Sehun mengangkat kepalanya. “Wae?”

Wanita itu memainkan jarinya, bingung akan menjawab bagaimana. Tapi yang ada Sehun malah memikirkan hal-hal pervert yang mungkin diinginkan istrinya.

Sambil tersenyum miring, Sehun berucap. “Kau sedang hamil, sayang. Haruskah kita melakukan itu? mau kembar berapa nanti?”

Daena spontan melempar death glarenya. Sehun bergidik ngeri hingga memilih memokuskan diri kembali pada pekerjaan. “Ekhem, say what you want baby.”

Wanita itu membuang nafas panjang. “Hari ini Sena ada camping, jadi dia tidak pulang.”

“Lalu?”

“Daehun menginap di asrama temannya karena harus mengerjakan tugas.”

“Lalu?”

“Sehyun merindukan eommamu, jadi dia juga menginap disana sampai lusa.”

Sehun mengangkat kepalanya. “Jadi?”

Daena langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku takut sendirian di rumah. Bagaimana nanti kalau ada hantu? Aku tidak mau sendirian.”

Sehun membuang nafas sebelum tersenyum. “Cha! Duduklah disini, temani aku bekerja.”

Daena hanya menurut saja dan dia pun duduk di pangkuan Sehun. Tubuhnya berat, jelas, karena ada calon manusia baru di perutnya. Tapi Sehun tak mempermasalahkan itu karena Sehun mencintainya. Ingat! Sehun mencintai Daena, jadi dia mau melakukan apapun demi gadisnya.

“Apa aku tidak berat?”

“Tidak,” jawab Sehun cepat.

Daena menatap rahang tegas Sehun. “Jinjja? Kau tidak hanya menopangku, tapi juga calon jagoan kecil kita.”

Sehun tersenyum tanpa melirik wanita itu. “Memang kenapa?”

Daena menggeleng pelan sebelum menyandarkan kepalanya di dada Sehun. Dia bisa merasakan degub jantung pria itu yang berirama cepat. Dia tersenyum, dia menyukai irama jantung suaminya.

amuraedo nan niga joha~ amureon maldo eobsi utdeon~ nareul anajwo baby

Sehun segera meraih ponselnya kemudian menerima panggilan itu. Sebelum mendekatkan ponsel ke telinga, Sehun lebih dulu memberikan isyarat pada Daena untuk diam.

“Nde?”

“…”

“Ah, hari ini?”

“…”

“Oh begitu, baiklah.”

“…”

“Nde.”

Sehun mematikan ponselnya kemudian meletakkan kembali ke tempat semula. Begitu mengalihkan perhatian pada Daena, dia sudah lebih dulu mendapatkan ekspresi gadisnya yang seolah mengatakan ‘apa yang terjadi?’.

Pria itu tersenyum miring kemudian menopang kepalanya dengan lengan di meja, menghadap wajah istrinya.

“Aku harus pergi ke Incheon hari ini.”

“Mwo? Jadi… kau tidak pulang lagi?”

Sehun menggendikkan bahu, dia juga tidak tahu. “Tapi kuusahakan untuk pulang.”

Daena mengerucutkan bibirnya. Dia kecewa. Harapannya akan Sehun yang pulang cepat, pupus sudah. Sepertinya dia memang harus sendiri di rumah malam ini.

“Kapan berangkat?”

“Secepatnya.”

“Baiklah, antar aku pulang.”

Sehun mengangguk pasti sebelum membiarkan istrinya bangkit dari pahanya.

Mereka pergi dengan menaiki mobil van hadiah dari appa Daena saat anniversary mereka yang ke 8. Pemandangan yang cukup aneh memang, mengingat Sehun adalah seorang direktur perusahaan. Tapi mereka memang tidak suka memperlihatkan kekayaan, mereka lebih memilih hidup sederhana tapi bahagia daripada hidup kaya tapi penuh masalah.

Karena jalur menuju rumah mereka dengan Incheon sama, maka Sehun mengantarkan istrinya untuk pulang lebih dulu. Mereka berhenti tepat di depan pagar rumah mungil mereka.

“Jaga dirimu baik-baik sayang. Kalau ada apa-apa, hubungi saja aku,” ucap Sehun sambil mendaratkan kecupan di dahi istrinya.

“Eum, kau juga. Jangan memaksakan diri berkendara saat mengantuk. Dan sesampainya disana cepat makan. Jangan kebut-kebutan, dan jangan lupakan juga sabuk pengamanmu. Hati-hati di jalan.”

Sehun mengangguk seraya menikmati sejenak belaian tangan Daena di pipinya. Wanita itu pun turun dan berjalan memasuki rumah kecil mereka. Sampai punggung Daena ditelan pintu rumah mereka, barulah Sehun tancap gas menuju Incheon.

~

Daena menatap gundah pada jam dinding yang bertengger di dinding kamarnya dengan Sehun. Waktu sudah hampir menunjuk ke angka 9, malam sudah semakin gelap dan dia tak kunjung tidur. Suasana rumah yang sepi, membuat bulu kuduknya sering meremang. Sejak jam 8, dia sudah membaringkan diri di kamar berharap segera tidur. Tapi matanya sedang sulit diajak kompromi.

Sialnya dia merasa kehausan. Hal yang paling di takutinya adalah pergi ke dapur. Entahlah, dia sering diajak menonton film horor dengan Sehun, jadilah kepribadiannya penakut seperti ini.

Dia berusaha menekan rasa haus itu sampai dirinya mengantuk. Sialnya lagi, dia semakin sulit tidur.

“Omo!! Aku haus sekali!!” pekiknya tertahan.

Dia segera meraih ponsel di atas nakas kemudian menekan tombol 1, akses telepon cepat ke nomor Oh Sehun. Menunggu lumayan lama, sialnya yang terdengar adalah suara operator wanita. Dia menggerutu habis-habisan karena menganggap Sehun telah melanggar janjinya.

“Dia bilang kalau ada apa-apa aku harus menelponnya. Buktinya? Dia tidak mengangkat panggilanku. Dasar albino.”

Akhirnya dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk bangkit dan pergi ke dapur seorang diri. Tubuhnya dibalut oleh jaket baseball kebesaran milik Sehun. Kulit kakinya juga tertutup sempurna oleh dress panjangnya. Dia membuka pelan pintu kamarnya, menyembulkan kepala melihat situasi sebentar.

Semua lampu sudah menyala, rumah terlihat terang. Ketika berhasil memberanikan dirinya untuk kedua kali, Daena pun mengambil langkah lebar-lebar menuju dapur.

Semua baik-baik saja saat dia melewati ruang keluarga. Hujan yang turun sebagai gerimis, masih terdengar halus membentur atap rumahnya. Tapi begitu menginjakkan kaki di ruang makan, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Suaranya begitu mengganggu diikuti sambaran halilintar. Angin pun bertiup kencang hingga mengibarkan tirai-tirai yang menutupi jendela. Nyali Daena berubah ciut. Dia mematung di tempat dengan wajah cemas bercampur panic.

Tiba-tiba listrik mati, rumahnya berubah gelap gulita. Untuk yang ini, Daena sudah tidak kuat menahan apa yang sejak tadi sudah ditahannya.

“HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”

Dia ketakutan setengah mati. Dia menutup wajahnya berusaha untuk mengikis ketakutan itu. akan tetapi suara ranting pohon yang mengetuk jendelanya karena tertiup angin, membuat wajahnya semakin pucat.

“Sehun.. hiks… Sehun-ah… Sehun… hiks.. hiks..”

Hanya satu nama itulah yang keluar dari bibirnya.

BRAK!

“Huwaaa! Omo! Omo!”

DUG!

Terdengar lagi suara gaduh yang datangnya dari belakang tubuhnya. Wanita itu sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi, dia terkulai lemas dalam keadaan duduk di lantai. Kedua tangannya masih tetap menutupi wajahnya yang semakin pucat.

“Sehun… hiks hiks… tolong aku…”

Wanita itu memberanikan dirinya untuk membuka mata. Rumahnya tetap sama, masih gelap gulita. Tiba-tiba insting wanitanya mengatakan, kalau ada sesuatu yang sedang menghampirinya dari belakang. Oleh rasa penasarannya itu, dengan takut-takut dia menoleh ke belakang.

Ada cahaya yang datang. Cahaya itu mendekat, semakin dekat, dekat, dekat.. dan..

“HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Wanita itu menutup kembali wajahnya.

“Ssst, Dae-ya, ini aku..”

Mendengar suara yang begitu familiar itu, perlahan Daena menurunkan tangannya. Cahaya itu tepat ada di depan wajahnya, juga wajah … Oh Sehun. Wanita itu segera memeluk pria tersebut dan menangis sejadi-jadinya.

Sehun yang sebenarnya masih basah kuyup, membalas pelukan Daena. Dia mengusap punggung wanita itu pelan berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan.

“Hiks.. hiks… Sehunnie… aku takut…”

“Eum… tenanglah.. aku sudah ada disini..”

“Hiks.. Sehun..”

“Ne?”

“Jangan tinggalkan aku lagi..”

Sehun tertegun sejenak sebelum tersenyum dan mengeratkan pelukannya. “Itu pasti sayang.”

~

Tepat jam 10 malam

Hujan sudah lumayan reda, halilintar tidak berbunyi lagi, angin kencang seolah hilang, listrik pun kembali menyala. Daena sedang berada di kamar mereka. Duduk bersandar pada kepala ranjang sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Dia cemas kalau-kalau ketakutannya tadi membuat kandungannya terganggu.

Pintu kamar mandi –yang berada di ruangan itu- terbuka. Menampilkan sosok Oh Sehun yang baru selesai membersihkan diri. Laki-laki itu hanya memakai celana pendek selutut tanpa memakai kaos di tubuh bagian atasnya. Sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk, dia berjalan mendekati ranjang dan duduk di samping istrinya. Sehun memang tidak suka memakai kaos saat tidur, alasannya gerah.

“Kenapa tidak tidur? Ini sudah malam.”

Daena mengambil alih handuk kepala itu kemudian membantu Sehun untuk mengeringkan rambutnya. “Aku menunggumu.”

“Wae? Kau masih takut.”

Daena hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah dirasa sudah kering, Daena pun menyampirkan handuk itu di kepala ranjang. Untuk beberapa saat, mereka terlibat acara saling menatap. Daena melihat Sehun yang berwajah lelah, begitupun sebaliknya. Daena mengerti apa yang menyebabkan wajah lelah itu selalu bertengger di wajah suaminya, Sehun seperti tidak pernah beristirahat dari kerjanya.

Begitupun dengan Sehun. Dia mengerti kenapa Daena terlihat begitu lelah. Sekian puluh menit yang lalu dia menemukan Daena yang ketakutan setengah mati. Melihatnya Sehun tak kuasa. Ia pun meletakkan kepala gadisnya di atas pundaknya.

“Tidak perlu merasa takut lagi, aku akan selalu ada disini bersamamu.”

Daena tersenyum simpul, kemudian dia menggandeng lengan suaminya itu. “Terima kasih untuk segalanya Sehun.”

Pria itu tersenyum puas. “Aku juga.”

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s