Boy In Luv ~Series~ [Prolog]


main cast boy

Author : Park Dae Na
Genre : Romance, Schoollife, family, little sad, little comedy
Rating : Teen
Length : Chaptered
Main cast : Park Youngra (OC), Park Daena (OC), Lu Han (EXO), Se Hun (EXO), Baekhyun (EXO)
Support cast : Kim Tae Hyung (BTS), Jeon Jungkook (BTS), Woohyun (Infnite), Kris Wu (EXO), Victoria Song f(x), Park Chanyeol (EXO), Son Na Eun (A-pink), Yoon Bo Mi (A-pink), Park Chorong (A-pink), Yoo Sungjae (BTOB), other

{Trailer}

Xoxo High School
Pagi masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Mentari pagi bersinar terang menyinari sebagian permukaan dunia. Memancarkan sebuah semangat dan keceriaan bagi para makhluk di muka bumi. Tak terkecuali dengan seorang gadis tinggi yang sedang berjalan malas memasuki gerbang sekolah. Kondisinya sangat kontras dengan apa yang terjadi di pagi ini.
Lingkar hitam di bawah matanya membuatnya terlihat seperti seekor panda. Tapi dia tidak memedulikan hal itu karena baginya ini sudah biasa.

Bruk!

Dia menjatuhkan tubuhnya di atas bangku setelah membanting tas di atas meja. Dia meletakkan kepalanya di atas tumpukan tangan, menghadapkan mukanya ke sisi kanan membelakangi cahaya matahari. Tak sampai semenit dia sudah pulas tertidur. Ini sudah biasa, setiap senin datang, dia pasti datang lebih awal sekadar untuk tidur di kelas sebelum bel upacara berbunyi.

Di sebuah rumah jalan Gangnam

Seorang gadis sedang sibuk menyisir rambutnya di hadapan sebuah cermin meja rias. Dia baru saja mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Setelah dirasa cukup, gadis itu segera keluar kamar kemudian menuruni tangga menuju ruang makan.

“Pagi appa, eomma..” sapanya riang sambil mendaratkan pantatnya pada sebuah kursi di meja makan itu. Dia duduk tepat menghadap sang ibu.

“Pagi chagiya. Bagaimana tidurmu semalam?” tanya wanita paruh baya –ibunya- sambil menyendokkan sup rumput laut ke dalam mangkuknya.

“Seperti biasa eomma, aku tidur dengan baik,” ucap gadis itu diiringi senyum manis.

“Anak pintar. Cepat makan, setelah ini berangkat dengan appa.”

Gadis itu mengangguk sebelum meraih sebuah sendok untuk membantunya melahap sup yang telah dihidangkan.

Insadong street

Pemuda itu mengusap peluh yang mengucur di dahinya. Akhirnya dia sampai di sebuah restoran. Bi Mong Resto, adalah restoran makanan Korea milik pamannya. Dia segera masuk sambil membawa kardus berisi apel.

Kring

Bel berbunyi tatkala pemuda itu mendorong pintu. Karena saat itu restoran belum buka, maka wajar saja jika dia langsung disambut oleh beberapa pelayan serta sang paman.

“Kau datang tepat waktu. Apa ini apel?” tanya pria berusia 40 tahun yang langsung mengambil alih kardus itu dari tangan si pemuda.

“Ne. Karena appa tidak bisa mengantarnya sendiri, jadi aku yang disuruh mengantar itu,” jawab si pemuda seraya mendekati sebuah kursi dan duduk disana.

“Aku sudah tahu. Vic! Bisakah kau berikan si anjing kecil itu minum?!”

Seorang wanita berumur 20 tahunan yang bekerja sebagai ketua pelayan di restoran itu, segera mengambil segelas air putih setelah menjawab ‘baik tuan’ pada majikannya.

“Ini.”

“Kamsahammida,” ucapnya seraya mengambil alih gelas itu dari tangan wanita tersebut.

“Bukannya setelah ini kau harus sekolah?”

Pemuda itu mengangguk masih tetap meneguk cairan liquid di dalam gelas transparan tersebut. setelah isi gelas itu ludes, dia berikan kembali gelas itu pada Victoria.

“Masih ada 45 menit lagi, boleh aku bermain disini sebentar, noona?”

Guangzhou China

Seorang pemuda sedang dirundung rasa kebosanan. Tangannya yang bertumpu pada meja sedang menopang dagunya. Sedangkan tangannya yang lain sibuk mengetuk-ngetuk meja. Meski suasana di bandara sangat bising, tapi dia sama sekali tidak terganggu. Matanya sesekali bergerak saat melihat sesuatu yang menurutnya ‘sedikit’ menarik.

Dia menghembuskan nafasnya kasar. Dia juga tidak terganggu dengan teriakan histeris dari para gadis yang menangkap basah dirinya sedang berada disana. Bukan suatu rahasia lagi jika pemuda itu adalah seorang model baru dari China. Dia masih seumur jagung, memulai debutnya sebagai model tiga bulan yang lalu. Dan untuk menambah popularitasnya, dia diharuskan terbang ke negara gingseng untuk menuai kesuksesan disana. Itu tandanya, dia juga harus pindah sekolah ke sana sekaligus menetap disana untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

“Pesawat tujuan Seoul, akan lepas landas dalam 10 menit…”

“Pesawat kita sebentar lagi berangkat, kaja,” seru seseorang yang sukses membuyarkan lamunan pemuda itu. Orang yang lebih tinggi darinya itu merupakan managernya, umur mereka tidak terpaut jauh dan mereka adalah saudara angkat.

Dengan malas, pemuda yang mewarnai rambutnya dengan warna blonde itu, segera bangkit dan mengikuti langkah kakaknya menuju lokasi pemeriksaan paspor.

Xoxo High School, atap sekolah

~Doegopa neoui oppa

Neoui sarangi nan neomu gopa

Doegopa neoui oppa

Neol gatgo mal geoya dugo bwa~

Pemuda itu menggerak-gerakkan kepalanya pelan sambil memejamkan matanya. Dia sangat menikmati music hiphop yang sedang di dengarnya melalui earphone putih.

~Wae nae mameul heundeuneun geonde

Wae nae mameul heundeuneun geonde

Wae nae mameul heundeuneun geonde

Heundeuneun geonde heundeuneun geonde~

Bibirnya pun ikut bergerak seolah dia sedang menyanyikan lagu tersebut. Saking sukanya dengan lagu itu, dia tidak akan pernah bosan untuk mendengarkannya.

Tak sampai 3 menit, dia langsung mematikan lagu tersebut kemudian melepas earphone. Dia baru ingat kalau ada tugas matematika yang belum selesai dia kerjakan. Bukan karena dia takut dengan hukuman guru killer, hanya saja dia merasa kalau dia punya tanggung jawab untuk tugas itu.

Kaki jenjangnya melangkah menuruni setiap anak tangga hingga sampai di sebuah kelas. Begitu membuka pintu, matanya langsung disuguhi dengan pemandangan yang benar-benar biasa. Seorang gadis sedang tertidur dengan kepala berada di atas meja. Tahu ada orang, dia pun menutup pintu dengan pelan saat sudah berada di dalam. Tanpa mau mengganggu, dia segera melangkah menuju bangkunya dan mengeluarkan pena serta buku tugas matematikanya. Usai menenggerkan earphone putih di telinganya, dia langsung mengerjakan 7 dari 10 soal itu yang belum sempat dia selesaikan lusa kemarin.

~

Semua mata menatap kagum pada sosok itu. Siapa lagi orangnya kalau bukan Park Young Ra. Anak dari kepala sekolah itu memang punya bakat untuk memikat hati siapapun yang melihatnya. Dia cantik, dia memesona dan dia juga pintar. Dan jangan lupakan sifat ramah tamahnya. Tidak aneh jika dia memiliki banyak teman, segudang prestasi dan hujan pujian. Dia sangat sempurna, sangat cocok dijadikan sebagai primadona sekolah.

Youngra memasuki sebuah ruang kelas. Dimana dia selama setahun akan menempati kelas itu sebagai siswa kelas 2. Ada perbedaan yang sangat kontras ketika gadis itu menginjakkan kakinya di kelas tersebut. Tidak ada yang menatapnya special. Siswa siswi yang sudah menempati kelas itu tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing saat Youngra masuk. Bukan karena Youngra dikucilkan disini, melainkan kelas ini penuh dengan orang-orang yang memesona. Bisa dibilang penghuni kelas ini memiliki ketenaran yang rata, mayoritas mereka sangat diidolakan di sekolah.

Sebut saja Oh Sehun, si laki-laki berwajah datar berkulit albino yang selalu terlihat memakai plester di wajah setiap masuk sekolah. Dia seorang gangster, tapi dia adalah anak orang berada. Darah biru mengalir ditubuhnya, untuk itulah dia diidolakan. Julukannya adalah pangeran earphone, itu karena dia selalu memakai earphone setiap berada di sekolah.
Ada juga Park Chanyeol, seorang pemuda yang meski tidak berasal dari keluarga berada tapi fisiknya benar-benar memikat hati para wanita. Tubuhnya sangat tinggi, wajahnya tampan, hidungnya mancung, matanya bulat, dan suaranya pun terdengar..err.. seksi. Atas tinggi badannya yang diluar rata-rata itu, dia pun dinobatkan sebagai kapten basket untuk tim inti sekolah.

Selain itu ada juga Byun Baekhyun. Pemuda berwajah manis itu sering dianggap anak dibawah umur. Wajar, dia memiliki wajah baby face yang sangat disukai oleh para gadis. Dia berasal dari keluarga petani yang ekonominya setara dengan Sehun. Dia sangat berbanding terbalik dengan Sehun yang dingin serta suka berkelahi. Baekhyun adalah pemuda baik-baik yang ramah sekaligus patuh pada orang tua. Dia sudah tidak memiliki ibu, oleh karena itu dia sangat dekat sekali dengan Victoria Song, pelayan yang bekerja di restoran pamannya.

Kini beralih pada Jeon Jungkook, tangan kanan Sehun saat berkelahi. Mereka tidak benar-benar gangster karena mereka tidak punya geng. Akan tetapi mereka sangat ditakuti karena kemampuan bertarung mereka seperti petarung yang sesungguhnya. Wajahnya manis, tidak jauh beda dengan Baekhyun. Beda dengan Sehun juga, dia adalah pemuda yang ramah. Jika Sehun ditakuti, maka Jungkook malah ditertawakan saat dalam medan pertarungan. Dia anak dari wakil kepala sekolah, jadi wajar kalau dia sangat dekat dengan Youngra.

Jungkook bersahabat dekat dengan Taehyung dan Woohyun. Kedua pemuda itu meski jarang ikut berkelahi tapi mereka juga memiliki kemampuan bertarung yang setara dengan Sehun maupun Jungkook. Kedua pemuda ini dikenal badboy, mereka suka sekali membuat ulah di sekolah, tapi karena prestasi mereka, sekolah enggan untuk menendang mereka.

Masih banyak lagi siswa siswi yang memiliki sejuta pesona disini. Tapi ada satu siswi yang kehadirannya seperti ditelan bumi. Namanya adalah Park Daena. Dia seorang gadis yang sangat sangat biasa. Dia terlahir dari sebuah ‘kecelakaan’, dia memang memiliki ayah, tapi ayahnya tidak pernah mau meliriknya sedikitpun. Ibunya juga pergi entah kemana sejak dia dilahirkan. Untuk itu dia diasuh oleh neneknya, sampai sang nenek meninggal saat usia Daena masih menginjak 15 tahun. Di umur semuda itu, dia harus menafkahi kehidupannya sendiri dengan bekerja. Beruntung dia memiliki otak cerdas hingga bisa mendapat beasiswa menempuh sekolah ini. Dia bekerja dengan keras setiap hari. Dini hari jam 3 dia akan pergi ke pasar membantu In Ahjumma –tetangganya- untuk membuka kios, sepulang sekolah dia harus ke sebuah kedai es krim untuk bekerja paruh waktu, dan mulai jam 7 hingga tengah malam dia akan bekerja di sebuah perusahaan rekaman terbesar Korea sebagai office girl. Waktu tidurnya di rumah hanya 3 jam, untuk itu dia sering kedapatan tidur di kelas sebelum upacara/kelas berlangsung.

Bel masuk berbunyi, itu tandanya upacara akan segera berlangsung. Seakan mendengar alarm jam weker, Daena langsung terbangun dan bersiap untuk segera ke lapangan.

“Kudengar sebentar lagi ada murid baru di sekolah kita.”

“Jeongmal?”

“Ne, rumor yang kudapat, orang itu adalah seorang model.”

Daena langsung membekap kedua telinganya dengan telapak tangan. Suasana sepagi ini dia terlalu malas untuk mendengar berita-berita burung yang selalu diungkap Bomi dan Naeun. Dia merutuki dirinya sendiri karena berada satu kelas dengan mereka.

Para siswa lain sudah beranjak keluar kelas. Dengan malas Daena menurunkan tangannya dan bangkit untuk mengikuti mereka pergi.

Bruk!

Dia hampir saja terpental saat tak sengaja menabrak seseorang. Kepalanya mendongak dan menatap datar seseorang yang barusan menabraknya. Mereka sempat terlibat ‘acara saling menatap tanpa ekspresi’ dalam 10 detik sebelum suara berat Taehyung menginterupsi acara menatap keduanya.

“Yaa! ppali!”

Tanpa mengucapkan apapun, Sehun segera beranjak usai memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Begitupun yang dilakukan Daena. Gadis tak berekspresi itu mengekor di belakang Sehun dengan jarak 2 meter.

“Daena-ya.”

Gadis itu berhenti kemudian berbalik. Baekhyun berjalan tenang di belakangnya sambil tersenyum. Setelah posisi mereka sejajar, merekapun berjalan beriringan menuju lapangan.

“Kau tidak lupa dengan tugas matematika, bukan?”

“Eum,” gumam Daena malas.

Baekhyun tersenyum, sikap Daena ini sudah biasa baginya. Pemuda itu memusatkan pandangannya ke depan.

“Restoran pamanku membuka lowongan kerja paruh waktu. Kau tidak ingin?”

Daena menutup mulutnya untuk menguap sebelum memusatkan perhatiannya kembali ke depan. “Daftar pekerjaanku sudah padat.”

Mulut Baekhyun membentuk huruf ‘o’. “Kau hebat Dae. Kau melakukan tiga pekerjaan dalam sehari itu sesuatu yang keren. Andai aku ada diposisimu.”

“Jangan mulai lagi.”

Pemuda itu terkekeh. Dia pun mengalungkan tangannya di leher Daena kemudian menarik gadis itu menuju barisan kelas mereka.

“Turunkan tanganmu,” seru Daena tanpa ekspresi sedikitpun. Dia tidak peduli dengan tatapan membunuh yang menghujani dirinya. Tapi sikap Baekhyun ini membuatnya sangat risih.

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

Daena menggerakkan sekilas bola matanya pada Baekhyun dengan malas. “Ya sudah.”

Pemuda itu mengerucutkan bibirnya kecewa. Daenanya masih tetap sedingin es. Baekhyun benar-benar benci itu.

Akhirnya dengan berat hati Baekhyun menurunkan tangannya. Dia melangkah mendekati barisan depan –barisan laki-laki- untuk bergabung dengan siswa yang lain. Sementara Daena masih setia berdiri di tempatnya sambil merenggangkan otot-otot badannya.

“Ada apa dengan wajahmu, Byun?” tanya Taehyung saat menemui ekspresi Baekhyun yang sangat kontras dengan beberapa menit lalu.

“Tidak ada,” jawabnya ketus sambil membuang pandangan pada pohon cherry blossom 2 meter di belakang tiang bendera.

“Ey, kau selalu saja seperti itu padaku,” keluh Taehyung sambil menggeleng pelan.
Tak berapa lama kemudian upacara berlangsung. Suasana lapangan yang awalnya ramai, kini berubah hening. Tidak ada suara sedikitpun saat upacara berlangsung, para siswa sekolah itu turut tenggelam dalam khidmatnya upacara.

Tak sampai satu jam, upacara berakhir. Pasukan masih akan dibubarkan saat seorang pemuda kelas senior menarik tangan Youngra dan seakan menyeretnya menuju pusat lapangan. Semua yang ada disana, terkecuali para guru, langsung terdiam dan memusatkan perhatian pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Banyak para siswa yang kecewa melihat pemuda di sana meraih tangan Youngra kemudian berlutut. Sementara para gadis terlihat harap-harap cemas.

“Park Youngra, maukah kau menjadi kekasihku?”

Decihan sebal keluar dari bibir mungil Daena. Tanpa menunggu aba-aba, dia langsung putar badan dan beranjak pergi. Dia terlalu muak untuk melihat hal-hal romantic seperti itu. Baginya, cinta itu bodoh dan lelaki itu menyebalkan.

Sebelum ke kelas, dia putar haluan menuju toilet. Dia harus membersihkan wajahnya agar terlihat fresh saat pelajaran nanti. Begitu melewati tikungan,

Bruk!

Dia terpental hingga mundur 2 langkah. Kepalanya menabrak sesuatu yang keras, dan itu membuatnya seketika merasa pening. Setelah mampu menguasai dirinya, dia langsung mengangkat kepala.

-_-

Si pangeran earphone itu lagi. Mereka saling menatap dalam hening dengan wajah tanpa ekspresi. Jika ada orang yang melihat mereka, pasti orang itu akan tertawa terpingkal-pingkal atau bahkan mengatai mereka gila. Seharusnya salah satu dari mereka protes dengan mengungkapkan kata-kata pedas. Namun yang terjadi disini, mereka justru saling menatap tanpa ekspresi. Tidak ada yang benar-benar tahu arti tatapan keduanya kecuali pemilik mata masing-masing.

Kontak mata mereka terputus saat Sehun memakai earphonenya. Sebelum pemuda berkulit putih susu itu beranjak, Daena lebih dulu mengayunkan kaki melewati pemuda itu. Gadis itu segera menuju toilet wanita karena sebentar lagi jam pelajaran akan berlangsung.

~.~

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s