Again 2 -Part 2-


again 2

Author : Park Dae Na
Genre : Romance, sad
Rating : Teen
Length : Two shoot
Cast : Lu Han (EXO), Park Young Ra (OC), Byun Baek Hyun (EXO), Krystal Jung f(x) (cameo), Kim Jong In a.ka Kim Kai EXO (cameo), Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO (cameo)

(Part 1)

Perjalanan menuju makam Kris, Youngra terus dihantui oleh cerita Baekhyun tentang kecurangan di pertandingan basket setahun silam. Dia tak percaya, pemuda itu sudah mencintainya lebih dulu sebelum dia bertemu Kris. Aneh, Youngra merasa aneh dengan dirinya sendiri.

Dia bingung, apa sebab ketiga pemuda itu –Luhan, Kris dan Baekhyun- bisa mencintai dirinya dengan begitu besar? Dia merasa tidak cantik. Dia juga bukan keturunan darah biru. Tapi kenapa? Kisah cintanya harus serumit ini? Disaat dia memilih Kris, Luhan dan Baekhyun sama-sama meradang. Dan disaat dia mulai mencintai Luhan, Baekhyun datang dengan ungkapan yang sangat mengejutkannya. Sungguh, dia tidak pernah membayangkan kisah cintanya akan seperti ini.
Youngra menjatuhkan tubuhnya di samping makam Kris. Dia meletakkan karangan bunga di atasnya, kemudian mengusap nisan bertuliskan ‘Kris Wu | 7 April’ dihadapannya.
“Oppa.. kenapa semuanya harus serumit ini? Tidak bisakah kau tetap hidup sampai kita ditakdirkan mati bersama? Aku tidak siap jika hidup di dalam situasi abu-abu seperti ini. Aku mulai mencintai Luhan, tapi Baekhyun tiba-tiba muncul dalam kehidupanku. Aku harus bagaimana?”
Bibirnya bergetar, mendung mulai menyelimuti mata hazelnya. Tak berapa lama dia terisak, kemudian mencium nisan itu.
“Maaf, sudah mengganggu ketenanganmu dengan ungkapan kekanakan ini. Kuharap kau bahagia disana. Sudah ya, sebentar lagi malam, aku harus pulang. Sampai jumpa kemudian hari oppa. Saranghae..”
Pertahanannya akhirnya runtuh. Dia menangis disana. Suara isakannya sungguh pilu, membuat sebuah bayangan yang sejak tadi memperhatikannya, ikut merasakan apa yang dirasakan gadis itu.
“Nado saranghae..”
~
Untuk malam ini, Youngra memilih tidur di apartemen Luhan. Apartemen Luhan lebih nyaman dari apartemennya. Sekaligus mengobati rindunya pada sosok tersebut.
Tangannya meraba permukaan ranjang king size yang selalu di tempati Luhan. Ya, setiap menginap disini, mereka tidur di ranjang ini. Hanya tidur, tidak melakukan apapun. Karena Luhan, bukanlah tipe nappeun namja seperti kebanyakan pemuda di dunia ini.
“Jangan lakukan apapun padaku. Kalau sampai kau melanggarnya, aku tidak akan mau melihat wajahmu lagi. Mengerti?!”
Luhan terkekeh ringan. Seolah ancaman itu hanya candaan, dia justru menarik Youngra hingga berhasil dia dekap.
“Yaa! lepaskan aku rusa!!”
“Aish, kau cerewet sekali. Apa salahnya aku memelukmu, eoh? Kau gadisku, tidak ada larangan untukku memelukmu, arra?”
Youngra tidak lagi menggeliat namun dia tetap menggerutu. Akhirnya Luhan melepaskan dekapannya. Gadis itu segera bergeser mundur hingga jarak mereka terpaut 30 cm.
“Jangan terlalu menepi, nanti kau jatuh,” ucap Luhan diiringi senyuman tulus.
“Berjanjilah untuk tidak melakukan apapun padaku.”
Pemuda itu terkekeh ringan. “Kita lihat saja nanti.”
“LUHAN!!!”
“Iya iya, aku tidak akan melakukan apapun padamu, puas? Bergeser sedikit kemari, kalau kau jatuh eomeonim akan langsung mengomeliku. Ppali.”
Youngra mengerucutkan bibirnya sebal sebelum dia sedikit bergeser mendekati Luhan kemudian membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba Luhan mengalungkan tangannya di leher Youngra. Gadis itu shock, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
“Yaa!”
“Sudahlah, diam. Aku tidak akan melakukan apapun, nona mesum.”
Youngra mengangkat kedua alisnya. “Yaa! aku tidak mesum. Aku hanya waspada kalau-kalau kau berbuat yang tidak-tidak padaku. Di banyak drama yang kulihat, serig terjadi KECELAKAAN saat seorang gadis dan seorang pe-”
“Kau terlalu banyak menonton drama, sayang. Kau tahu? Drama itu hanyalah cerita khayalan, acting, dimana endingnya akan selalu bahagia. Kita ini hidup di dunia, menjadi pemeran utama dalam drama kehidupan kita sendiri. Jangan selalu berkiblat pada drama, karena yang seharusnya kau kiblatkan adalah dirimu sendiri. Kurangi pikiran negatifmu itu, tidak semua pemuda sama seperti apa yang ada di drama.”
Youngra tertegun untuk sesaat, sebelum sebuah lengkungan tipis menghiasi bibirnya.
“Kau bijak, Lu. Ah.. kau benar-benar membuatku iri.”
Luhan tertawa ringan. Dia mengecup puncak kepala Youngra sebelum memejamkan kedua matanya.
“Tidurlah, ini sudah malam. Besok kita harus bangun pagi untuk melihat sunrise.”

Youngra tersenyum getir. “Lagi… aku merindukanmu..”
~
Dua minggu berlalu..
Youngra menjemput Luhan di kantor polisi. Atas kebaikan sekaligus kenekatan Chanyeol, Luhan akhirnya dibebaskan lebih awal. Karena ini adalah hari minggu, mereka berdua sepakat untuk pulang.
@apartemen Luhan
“Karena kau bebas lebih awal, maka aku mengadakan pesta barbeque untuk merayakannya. Sekarang bersihkan dirimu, aku tunggu di balkon.”
Luhan menurut, pemuda itu segera mengambil seribu langkah menuju kamar mandi. Dia ingin cepat merayakan pesta barbeque itu karena dia sudah sangat merindukan barbeque buatan Youngra.
Tidak sampai 10 menit, Luhan sudah keluar dari kamar mandi. Usai mengeringkan rambutnya, dia segera menuju balkon apartemen. Disana, dia melihat Youngra sedang memotong-motong daging. Karena gadis itu membelakanginya, Luhan pun berjalan mendekat sambil mengendap-endap.
Youngra sedikit terkejut saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya, ulah siapa lagi kalau bukan rusa manjanya.
“Cepat sekali. Apa kau tidak menyisir rambutmu?”
Luhan meletakkan dagunya di atas pundak Youngra. “Untuk apa? Begini saja aku sudah terlihat tampan.”
Youngra terkikik pelan. “Penyakit percaya dirimu masih saja ada.”
“Letakkan pisaunya.”
Sedikit bingung, Youngra akhirnya meletakkan pisau itu. Setelahnya Luhan memutar tubuh Youngra hingga mereka saling berhadapan. Sosok Luhan sedikit berbeda. Wajahnya semakin terlihat tegas dengan sorot mata yang menajam.
Pemuda itu merogoh saku celananya, hingga ditangannya terdapat sebuah kotak kecil berwarna merah. Youngra tidak berkata apa-apa hingga kotak itu terbuka dan memperlihatkan sebuah cincin permata di dalamnya.
Luhan mengambil cincin itu, kemudian mengaitkannya di jari manis Youngra. “Menikahlah denganku.”
DEG!
Air mata Youngra tiba-tiba jatuh. Luhan menghapusnya. Youngra pun memukul dada Luhan berulang kali.
“Kau bodoh Luhan!! Kenapa baru sekarang kau mengatakannya?! Apa kau tidak tahu aku sudah menginginkannya sejak dulu?!”
Luhan menangkap kedua tangan mungil Youngra, kemudian dia mendekatkan wajahnya.
“Apa… aku terlambat?”
Gadis itu langsung berhambur memeluk Luhan. Hampir saja Luhan terjungkal ke belakang karena tenaga Youngra cukup kuat.
“Ne.. kau terlambat, orang lain sudah melamarku lebih dulu.”
Seolah petir memecah belah perasaan Luhan saat ini. “Ja-ja-jadi…”
“Aku menerimamu, Luhan.”
Kedua mata pemuda itu membulat tak percaya.
Sepulang kuliah, Youngra dan Baekhyun sepakat pergi ke toko buku bersama. Mereka sama-sama sedang mencari buku tentang sejarah Korea, karena pelajaran itu masuk dalam ujian semester mereka.
Setelah sibuk berkutat di toko itu, mereka pun pulang. Tidak dengan mobil, melainkan jalan kaki. Sampai akhirnya hujan tiba-tiba datang, mereka segera berlari menuju pelataran sebuah toko untuk berteduh. Hanya ada mereka berdua disana.
“Youngra-ya..”
Gadis itu pun menoleh. Mereka saling menatap, tatapan Baekhyun sungguh berbeda dari biasanya. Kontak mata itu terputus saat Baekhyun melepas kalungnya untuk mengambil cincin yang tergantung disana. Sebuah cincin emas.
Disaat Baekhyun meraih tangan Youngra untuk melingkarkan cincin itu di jari manis Youngra, gadis itu justru menarik kembali tangannya. Baekhyun sedikit terkejut akan responnya.
“Wae?”
Youngra membuang pandangan. “Aku butuh waktu, Baek.”
Pemuda itu menghela nafasnya. “Baiklah, kutunggu sampai lusa.”

Cardigan Youngra basah, itu karena ulah air mata Luhan yang tiba-tiba saja jatuh. Laki-laki mana yang tidak terharu disaat orang yang dilamarnya telah dilamar lebih dulu oleh orang lain tapi yang diterima justru dirinya. Luhan bersyukur, waktu telah memberinya kesempatan untuk melamar Youngra.
“Yaa! kau sang namja, pabo! Kenapa kau menangis, eoh?” Youngra tertawa kecil saat menangkup pipi Luhan. Dia mengusap pelan pipi pemuda itu kemudian mengangkat paksa kedua sudut bibir pemuda tersebut.
“Aku hanya menangis dihadapanmu.”
Youngra tersenyum tipis. “Benarkah?”
“Menurutmu?”
CHU~
~
“Bagaimana?”
Youngra membuang nafasnya. Dengan berat hati, dia mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar manis di jarinya.
Baekhyun terpaku. Langit seakan runtuh tatkala dirinya melihat kenyataan ini.
“Seminggu lagi aku akan menikah.”
Rasa sakit Baekhyun bertambah dalam. Tapi dengan bodohnya dia malah menanyakan suatu hal.
“Siapa dia?”
“Luhan.”
~
4 hari sebelum pernikahan, mereka berdua sepakat untuk pergi ke kediaman keluarga Youngra. Mereka sudah mendapat persetujuan dari keluarga Luhan, tapi keluarga Youngra belum.
Sesampainya disana, sudah terdapat ayah ibu Youngra serta Chanyeol, kakak Youngra. Entah kenapa, ekspresi ibu Youngra terlihat sinis tidak seperti karakternya yang ramah tamah. Meski begitu, Luhan tetap mengutarakan keinginannya pada ‘calon’ mertuanya itu.
“Ahjumma, bolehkah saya sebagai Luhan meminang puteri anda?”
“Aku tidak akan keberatan jika kau bukanlah mantan narapidana.”
Seketika mental Luhan down. Tubuhnya berubah lemas dan hampir saja terjungkal ke belakang.
“Lagipula Youngra sudah kujodohkan.”
Kali ini berganti Youngra yang shock. “Mwo?! Kenapa eomma memutuskannya seperti itu?!”
“Dia anak dari teman bisnis ayahmu, Byun Baekhyun.”
Dunia seolah mengecam mereka. Tiba-tiba Baekhyun muncul dari ruang kerja ayah Youngra dengan memasang tampang terkejut saat melihat kejadian disana. Jujur, dia tidak tahu menahu terlebih soal perjodohan itu.
“Saya permisi.”
Luhan memutar tubuhnya kemudian berlari pergi. Youngra akan mengejarnya, tapi lebih dulu ditahan oleh sang ibu.
“Jangan nodai citra keluargamu dengan mantan narapidana sepertinya.”
Youngra tersenyum kecut. “Justru orang yang eomma jodohkan denganku lah yang merupakan mantan narapidana sesungguhnya!”
“Tutup mulutmu! Jika kau tidak menuruti perintah eomma, ku persilahkan kau pergi dari keluarga ini.”
Ancaman itu membuat Youngra terdiam. Dia tidak sanggup, bagaimana pun dia harus mempertimbangkan keluarganya. Akhirnya dengan miris dia hanya bisa melihat ambang pintu.
~
Setelah pertunangannya dengan Baekhyun dilangsungkan, Youngra langsung mengurung dirinya di kamar. Dia memandangi pigura foto dirinya dengan Luhan di bangku SMA yang ada di atas nakas. Tiba-tiba angin menjatuhkan pigura itu hingga kacanya pecah. Seketika pikirannya kalut. Dia segera melepas higheel kemudian berlari keluar berencana pergi menuju apartemen. Saat membuka pintu kamar, dia hampir saja menabrak seseorang –Baekhyun-. Tapi dia tidak peduli, Youngra langsung berlari menuruni tangga, sampai akhirnya dia terpeleset dan hampir saja jatuh. Beruntung seseorang menangkap pinggangnya dari belakang. Youngra tahu itu tangan siapa, dia segera melepasnya sekaligus melepas cincinnya.
“Mian Baek. Aku lebih mencintai Luhan.”
Tanpa melihat respon Baekhyun, Youngra segera melanjutkan larinya menuju garasi untuk mengambil mobil.
Sementara itu, Baekhyun diam terpaku sambil memandang nanar cincin ditangannya. Sebesar itukah rasa cintamu pada Luhan? Sampai-sampai kau memutuskan ikatan kita ini?
Dengan kecepatan tinggi, Youngra sampai di apartemen Luhan dalam waktu 10 menit. Dia segera mengetik 7 digit password kemudian membuka pintu.
“Lu! Eodi?!” teriaknya sambil berlari mengelilingi apartemen. Di ruang televise tidak ada, di ruang makan juga tidak ada, di kamar mandi tidak ada, di kamar…
“ANDWAE!!”
Youngra langsung menepis pisau yang akan menekan urat leher Luhan.
TING!
Suara yang memekakkan telinga itu cukup membuat Luhan tersadar dari aksi bodohnya. Dia menatap Youngra, sorot matanya sendu dan lemah.
“Young..”
Gadis itu langsung menarik Luhan dalam pelukannya. “Jangan lakukan itu, Lu. Kumohon.”
Kekehan miris terdengar dari bibir tipis Luhan. “Aku tidak bisa mendapatkanmu.”
“Bohong! Kau sudah mendapatkanku sekarang! Aku sekarang disini, Lu!”
“Jangan berkata yang tidak-tidak Young! Kau sudah tunangan! Aku tahu itu! menyingkirlah! Biarkan aku mati bersama Kris!”
Youngra tetap memeluk Luhan meski Luhan melakukan banyak gerakan mendorong. “Tidak, Lu. Aku kemari untuk bersamamu. Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu.”
Tanpa Youngra tahu, Luhan mengeluarkan pisau lipat dari saku pakaiannya. Pemuda itu mendorong Youngra sekuat tenaga seraya menggerakkan pisau itu menuju lehernya.
“Sudahlah, aku tahu kau hanya omong kosong.”
Tubuh Youngra bergetar melihat Luhan seperti ini. Pemuda itu depresi, Youngra memakluminya karena Luhan seperti ini semata-mata karena dirinya.
“Menyingkirlah, atau kau ingin melihatku mati?”
Youngra menggeleng pelan. Dia meraih pergelangan tangan Luhan yang sedang memegang pisau.
“Mari kita mati bersama.”
Mata Luhan spontan terbelalak. “Yaa! apa yang kau lakukan?!”
“Ayo mati bersama! Kita mati bersama! Itu harapanku saat aku berusaha meyakinkan diriku sendiri untuk menikah denganmu!”
Mata Luhan berkaca-kaca. Tapi karena pikirannya kacau, dia malah menepis tangan gadis itu. “Sudahlah Young!”
“Lu… sadarlah. Jangan seperti ini. Harus bagaimana lagi aku meyakinkanmu bahwa aku hanya ingin bersamamu?”
“Tidak ada, hentikan omong kosongmu!”
Karena pikirannya kalut, Youngra segera merebut pisau itu kemudian membuangnya ke sembarang arah. Setelahnya dia menarik tengkuk Luhan kemudian menempelkan bibirnya pada bibir pemuda itu, hanya menempel, tidak lebih. Tapi, efeknya cukup membuat Luhan sadar. Pemuda itu terlalu lelah, dia tak sadarkan diri dengan dagu berada di atas pundak Youngra.
Beginilah akhirnya, Youngra berhasil meyakinkan Luhan bahwa dia disini hanya untuk Luhan. Tangannya mengusap punggung pemuda itu lembut.
“Dulu kau yang menyadarkanku, sekarang.. akulah yang akan menyadarkanmu. Maafkan aku selama ini Luhan, dan terima kasih dengan segala upaya mu menolongku.”
Dia merebahkan tubuh Luhan di atas ranjang kemudian menyelimutinya. Baru setelahnya di berbaring di samping pemuda itu.
“Young… tetaplah disisiku,” ucap Luhan saat tiba-tiba dia menarik Youngra dalam pelukannya. Dan yang Youngra lakukan adalah mengangguk.
“Ne, aku akan selalu disisimu.”
~
Sebuah ciuman sanggup membuat Luhan sadar. Mungkin karena Youngra selalu melakukan itu dengan Luhan, tidak dengan yang lainnya. Gadis itu juga tidak tahu mengapa. Padahal dulu saat dia dan Luhan SMA, keduanya kelewat polos untuk melakukan hal semacam itu. Dan mereka bahkan tidak ingin satu sama lain menjadi orang pertama yang merebut first kiss. Tapi takdir memang sering berbeda dengan rencana seseorang.
Setelah menyelesaikan kuliah, Luhan langsung membawa Youngra ke Vancouver. Ini bukan semata keinginan Luhan, tapi keinginan Lay. Kenapa? Jawabannya mudah, Krystal mengalami depresi akut setelah meninggalnya Kris. Meski Lay sudah menemaninya setiap hari, tapi Lay juga harus bekerja. Dia –Lay- adalah seorang dokter di Korea yang dipindahdinaskan ke Kanada. Dokter muda itu sudah dianggap Krystal sebagai kakak sendiri, jadi wajar saja dia selalu menemani gadis itu dalam situasi seperti ini.
“OPPA!!! ARGH! HAJIMA!! OPPA HAJIMA!!!”
Youngra langsung memeluk Krystal saat tak sengaja gadis itu melihat foto Kris di atas nakas. Air mata Youngra spontan jatuh. Dia benar-benar tidak menyangka, Krystal yang dia temui saat itu berubah seperti ini. Apalagi kejadian yang lebih mengenaskan menimpa dirinya –Krystal-. Setelah Kris, kedua orang tuanya pun meninggal saat dalam perjalanan menuju Korea. Sungguh, nasib gadis yang telah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu benar-benar mengenaskan.
Tak berapa lama dua orang pemuda datang. Satu dari mereka adalah Luhan, dan satu lagi adalah laki-laki asing. Dan laki-laki asing itulah yang langsung mendekat pada Krystal.
“Rys..”
Luhan segera menarik Youngra untuk melepaskan dekapan dari Krystal. Setelah Youngra sudah berdiri disisi Luhan, pemuda berkulit tan itu langsung memeluk Kystal erat.
“Siapa dia?” bisik Youngra.
Luhan merangkul pinggang Youngra dan menariknya pelan. “Kekasih Krystal.”
Bibir Youngra langsung membentuk huruf O.
“Oppa… hiks hiks.. OPPA!! Argh!!!!”
Krystal mulai mengamuk. Dia memukul keras tubuh pemuda yang memeluknya tanpa dia pedulikan bagaimana sakitnya. Youngra berniat mendekati gadis itu, tapi Luhan mencegahnya, berhubung kondisi Youngra saat ini sedang hamil muda.
“Kriseu oppa.. hiks.. oppa..” Krystal pingsan dalam dekapan Kai –nama pemuda berkulit tan itu-. Setelah mengusap dan mengecup puncak kepala Krystal, Kai pun membaringkan tubuh gadis itu agar tidur dengan nyaman. Lalu dia memutar tubuhnya.
“Mian, noona-nim, hyung-nim. Dia memang sering seperti itu. Eum.. kalian bisa beristirahat biar aku yang menjaganya.”
“Sebentar, siapa namamu?” tanya Youngra ragu.
“Oh, namaku Kai, Kim Kai.”
“Kau orang Korea?”
Kai mengangguk. “Eum, aku teman masa kecil Krystal.”
“Oh.. pantas.”
“Kaja, kau harus istirahat. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan bayi kita. Kaja,” Luhan langsung menarik Youngra untuk pergi dari ruang tersebut. Mereka pergi ke kamar mereka, yang letaknya berdekatan dengan kamar Krystal. Biar mudah menjaga Krystal, elak Youngra saat itu.
“Jangan terlalu terbawa emosi dan jangan peluk Krystal saat dia seperti itu,” ucap Luhan saat Youngra sudah berbaring dia atas ranjang dengan Luhan yang duduk sambil menyandarkan punggung pada kepala ranjang.
“Wae? Aku kasihan melihatnya.”
“Tetap tidak boleh. Bagaimana kalau tiba-tiba dia memukulmu seperti yang dia lakukan pada Kai? Kau sudah memasuki bulan ke 7, sudah sangat rawan sekali.”
Youngra hanya terdiam sambil memeluk kaki Luhan. “Syukurlah, kau tidak seperti Krystal.”
Luhan mengerutkan keningnya sebentar, sebelum akhirnya dia menyadari maksud Youngra. Pemuda itu mengelus puncak kepala Youngra dengan lembut.
“Sekarang aku adalah calon ayah, suamimu. Mungkin belum sampai 100 persen, tapi aku rasa aku sudah bisa mengontrol emosiku.”
Youngra tersenyum tipis. “Maafkan aku, Lu. Dulu kita saling bersama, tapi yang aku lakukan adalah mengelak perasaanku padamu. Kau juga hanya diam saja, aku jadi semakin bersemangat untuk menghilangkan perasaan cinta itu dari hatiku. Tapi dari yang kita lalui hingga detik ini, kau benar-benar membuatku sadar. Kupikir cintamu padaku hanya main-main, seperti kau memainkan perasaan gadis lain. Nyatanya aku salah. Maafkan aku, Lu.”
Luhan tertegun untuk sesaat sebelum menarik hidung Youngra gemas.
“Ah! Appo..”
Pemuda itu terkekeh pelan. “Itu hukuman untukmu karena tidak memanggilku oppa.”
Youngra mendesis sebal. “Lalu apa hubungannya dengan penjelasanku barusan?”
“Tentu saja ada hubungannya. Kau tetap memanggilku Lu, seharusnya kau memanggilku ‘sayang’ ‘oppa’ ‘chagi’ atau apalah yang sekiranya terdengar romantic. Kita sudah menikah dan akan memiliki jagoan baru. Jangan memanggilku seperti itu, terkesan formal.”
“Cih, tidak tahukah anda kalau saya tidak menyukai hal romantic? Sudahlah, jangan banyak protes.”
Luhan mengerucutkan bibirnya. “Dasar ibu-ibu hamil. Eum.. ternyata di malam itu kau agresif sekali ya? Kau bahkan mengeluarkan suara-suara menakutkan saat kita melakukan hal itu. Ish.. kalau saja kau memakai pakaian yang lebih tertutup mungkin…”
“Yaa appa! Sudahlah! Jangan diingat ingat lagi.”
Luhan mengangkat kedua alisnya kaget. “Appa?”
Gadis itu spontan mendekap mulutnya dan merutuki dirinya sendiri.
“Yaa, kenapa appa?”
“Eum… eum.. itu karena… bukannya sebentar lagi aku akan melahirkan? Wajar bukan jika aku memanggilmu appa. Kau ayah dari bayi ini.”
Senyum puas menghiasi wajah manis Luhan. “Woah.. itu romantic sekali sayangku. Mulai saat ini aku juga akan memanggilmu mama. Kau ibu dari bayiku ini sayang. Saranghae..”
Wanita itu menyembunyikan wajahnya di balik kaki Luhan. “Nado..”
END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s