Again 2 -Part 1-


again 2

Author : Park Dae Na
Genre : Romance, sad
Rating : Teen
Length : Two shoot
Cast : Lu Han (EXO), Park Young Ra (OC), Byun Baek Hyun (EXO), Krystal Jung f(x) (cameo), Kim Jong In a.ka Kim Kai EXO (cameo), Zhang Yi Xing a.k.a Lay EXO (cameo)

Part 1

Semenjak hari itu, Luhan berubah menjadi anak kecil. Dia tidak pernah absen untuk bermanja-manja di pangkuan Youngra. Bahkan sikap manjanya ini jauh lebih parah dari sebelumnya.

Pernah suatu hari dengan innocentnya dia berkata bahwa dia takut berada di apartemennya sendiri, kemudian memaksa Youngra untuk menginap di apartemennya. Dan rupanya itu hanya akal-akalan Luhan saja agar dia bisa bermesraan dengan gadis itu.
Hari ini, Youngra mempunyai janji dengan Luhan untuk pergi ke Lotte World. Karena Luhan belum selesai dengan kuliahnya, Youngra memilih menunggu di cafeteria depan kampus.
Kedua telinganya terpasang sebuah earphone putih. Earphone itu tersambung pada sebuah iphone 6 miliknya. Matanya terpejam saat menikmati alunan music jazz yang merangkak pelan memasuki indera pendengarannya.
Begitu Youngra membuka matanya, dia langsung disuguhi pemandangan yang cukup mengejutkan. Terjadi perkelahian antara dua orang lelaki di depan café. Youngra segera melepas earphone kemudian bangkit untuk melihat siapa kedua pemuda yang ada disana. Pikirannya sedikit kalut tatkala melihat salah seorang diantara mereka memiliki gaya rambut sekaligus warna yang mirip dengan Luhan.
Perkelahian itu memicu orang-orang yang berlalu lalang di jalan itu mengelilingi keduanya. Youngra semakin tidak bisa melihat rupa kedua orang tersebut. akhirnya gadis itu memilih beranjak untuk memastikan, benarkah orang itu Luhan?
Langkahnya terhenti saat dia berpapasan dengan seorang pemuda yang baru memasuki café. Akhirnya Youngra bernafas lega. Ternyata orang yang berkelahi di depan sana bukan Luhan, melainkan orang asing. Sementara orang yang hampir ditabraknya ini adalah Luhan si rusa manja yang sebenarnya.
“Syukurlah kalau itu bukan kau,” ucap Youngra sambil mengelus dadanya.
Dahi Luhan berkerut. “Memang ada apa?”
Sebelum menjawab, gadis itu memalingkan wajahnya menuju tempat perkelahian itu terjadi. Luhan mengikuti arah pandangnya.
“Salah satu dari mereka memiliki gaya rambut yang sama denganmu, jadi kupikir itu kau. Untungnya bukan.”
Luhan tetap focus melihat perkelahian itu kala Youngra kembali memandanginya. Kini giliran gadis itu yang mengerutkan kening.
“Kau… apa mengenal mereka?”
Mata Luhan tiba-tiba membulat saat melihat satu dari dua orang yang berkelahi itu terjatuh.
“Lu? Ada apa?”
“Aku akan kembali sebentar lagi.”
“Tapi Lu-”
Youngra tidak melanjutkan ucapannya karena Luhan sudah menghilang lebih dulu dari pandangannya. Pemuda itu berlari ke kerumunan di sana, dia menengahi kedua pemuda itu. Bahkan Luhan menghajar seseorang yang disebut-sebut mirip dirinya oleh Youngra.
Melihat kebrutalan Luhan dan suara sirine polisi, Youngra segera beranjak dari café ini. Dia menerobos kerumunan orang itu kemudian menahan lengan Luhan.
“Yaa! apa yang kau lakukan?! Ayo lari!!”
Suara sirine semakin terdengar jelas. Luhan yang baru menyadari apa yang barusan dilakukannya, segera menuruti apa kata Youngra. Dia membiarkan pemuda yang akan dipukulnya itu dan memilih kabur bersama Youngra.
“Yaa! kalian berhenti!”
Luhan tak menggubris panggilan itu. dia tetap menarik lengan Youngra untuk pergi dari area tersebut.
DOR!
Luhan terjatuh saat kulit kakinya ditembus oleh sebuah peluru. Tidak berapa lama dua orang polisi datang dan langsung meringkus keduanya. Mereka di bawa ke kantor polisi bersama dengan dua orang pemuda yang tadi berkelahi.
~
Luhan ditetapkan penjara satu bulan, sementara kedua pemuda itu dipenjara selama 6 bulan. Dan Youngra dibebaskan. Dia diperbolehkan berbincang dengan Luhan karena Luhan masih belum di masukkan ke dalam sel. Pemuda itu mendapat luka yang cukup parah dibagian kaki, sehingga masih terbaring lemas di ruang kesehatan kepolisian.
“Sudah enakan?”
Luhan menggeleng pelan. Dia menindih kedua matanya menggunakan lengan kanan. Youngra membuang nafas berat.
“Benar aku tidak boleh menghubungi orang tuamu? Kau lebih memilih dipenjara daripada ditebus?”
“Jangan hubungi mereka. Aku lebih baik disini.”
“Tapi…” Youngra menggigit bibir bagian bawahnya. Dia ragu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Ini hanya satu bulan.”
Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Sejujurnya dia ingin berkata kalau dia tidak bisa hidup seperti biasa tanpa seorang Luhan. Tapi Luhan terlanjur salah pengertian, jadi Youngra memilih untuk diam.
Malamnya, Luhan sudah berada di dalam sel. Jam kunjungan pun berakhir.
“Aku akan kesini setiap hari. Aku akan bawa makanan yang banyak untuk dirimu. Jaga diri baik-baik, aku pulang dulu.”
Sebelum gadis itu bangkit, Luhan lebih dulu menahan tangannya. Mereka bertatapan untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Luhan mengecup kening Youngra.
“Gomawo.”
DEG! DEG! DEG!
Youngra membuang pandangannya. Dia sedikit terkejut. Perasaan yang sama saat bersama Kris, tiba-tiba hadir kembali. Namun kini bukan dengan sosok Kris Wu, melainkan Luhan.
“Maaf nona, jam kunjungan anda sudah habis.”
Teguran seorang polisi sontak membuat Youngra melepaskan tangannya dari cekalan Luhan. Dia segera bangkit.
“Joesonghammida,” ujarnya sebelum melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Dalam setiap langkahnya, kepalanya selalu tertunduk. Dia terlalu takut, jika nanti dia mengangkat kepala semua orang akan mengintimidasinya. Laki-laki di dunia ini memang bukan Luhan seorang, tapi dia merasa semua orang adalah Luhan, terlebih karena kejutan tadi.
“Joesonghammida.”
Merasa ucapan itu ditujukan padanya, dengan berat hati Youngra mendongak. Seorang pemuda yang tidak lebih tinggi dari Luhan, sedang berada di sampingnya.
“Ne? apa anda memanggil saya?”
Pemuda itu mengangguk mantap. “Ne, aku ingin meminta maaf atas kejadian tadi sore. Karenaku temanmu masuk penjara, aku benar-benar minta maaf.”
Youngra mengerutkan keningnya. Dia perhatikan seksama pemuda itu. Walau cahaya lampu tidak terlalu terang, tapi Youngra bisa melihat banyak plester di wajah pemuda itu. Rambut hitamnya yang menutupi seluruh dahinya…. Ah! Youngra baru sadar, pemuda inilah yang dipukuli oleh Luhan di depan café tadi.
Gadis itu segera membungkuk 90 derajat penuh. “Aku yang harus meminta maaf padamu. Atas nama temanku, Luhan, maukah kau memaafkanku?”
Pemuda itu tersenyum tipis. “Tidak, kalian tidak salah apapun. Apa yang dilakukan temanmu benar. Kalian tidak salah apapun. Tolong jangan seperti ini.”
Mendengar itu, Youngra lantas menegapkan tubuhnya. “Aku Park Youngra, senang bertemu denganmu.”
“Aku Byun Baekhyun, senang bertemu denganmu juga nona.”
Hening. Mereka saling bergelut dengan pikiran masing-masing.
“Mau pergi ke kedai es krim? Anggap saja sebagai permintaan maafku.”
Tanpa banyak berpikir lagi, Youngra menyetujui tawaran itu.
~
Mereka sepakat pergi ke taman kota usai membeli dua tudung es krim. Youngra memilih es krim rasa pisang coklat, sedangkan Baekhyun memilih es krim rasa strawberry. Walaupun cuaca cukup dingin tapi tetap tidak menurunkan keinginan mereka untuk menyikat habis makanan ditangan mereka.
“Bukannya kau juga harus dipenjara?”
Baekhyun menoleh sekilas ke asal suara. “Aku sudah ditebus.”
“Oleh siapa?”
“Sekretarisku.”
Youngra spontan menghentikan aktifitasnya. Dia memandangi wajah Baekhyun seakan meminta penjelasan.
“Aku bukan seorang direktur perusahaan.”
“Lalu? Dimana orang tuamu?”
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu benar-benar di luar dugaan Youngra. Terbesit sebuah pendapat dipikirannya. Baekhyun adalah anak orang kaya.
Gadis itu kembali melanjutkan aktifitasnya menjilati es krim traktiran Baekhyun. Tidak ada perbincangan. Mereka sama-sama menghabiskan es krim masing-masing.
“Ngomong-ngomong, kau tadi berkelahi dengan siapa?”
Baekhyun lebih dulu menyandarkan punggungnya. “Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang ingin kupukul.”
Jawaban itu membuat tanda tanya besar dalam pikiran Youngra. “Apa maksudmu?”
“Ini sudah malam. Kaja.”
Pemuda itu bangkit dan berjalan memunggunginya tanpa berkeinginan sedikit pun untuk menjawab. Sedikit kesal memang. Youngra tidak suka dengan orang yang terlalu misterius. Tapi sudahlah, toh mereka memang baru kenal hari ini dan pasti esok harinya mereka tidak akan bertemu lagi.
Youngra berjalan membuntuti orang itu yang ternyata mengantarnya pulang ke apartemen.
~
Esok harinya, Youngra pergi ke kantor polisi sebelum ke kampus. Dia membawa rantang berisi makanan, beberapa setel pakaian serta sebuah selimut. Polisi yang jaga saat itu benar-benar baik hati. Atas dalih bahwa Luhan adalah tunangannya, Youngra mendapat perpanjangan waktu 10 menit untuk berkunjung, jadi total waktu berkunjungnya adalah 30 menit.
“Lu…”
Pemuda bermata rusa itu menoleh. Tubuhnya terlihat lemas dan wajahnya kusut. Ada lingkar hitam di bawah matanya. Youngra yakin, Luhan tidak tidur nyenyak semalaman.
“Tadi malam kau tidak bisa tidur ya?”
Luhan mengangguk. “Aku kedinginan.”
Youngra sedikit merutuki dirinya karena kemarin dia lupa kalau sebentar lagi musim dingin. Dia lupa memberi Luhan jaket, padahal Luhan tidur di lantai.
Gadis itu segera membongkar isi tasnya untuk mengambil selimut tebal yang dia bawa. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menyelimuti tubuh pemuda itu.
“Besok akan kubawakan kasur lipat. Mian, jadwal berkunjung hanya satu kali dalam sehari, jadi aku tidak bisa datang kemari nanti.”
Luhan tersenyum sambil mengangguk. “Tidak apa.”
Gadis itu tersenyum tipis. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.
“Ah! Kau belum sarapan bukan? Ini, aku membawa banyak makanan. Aku sengaja membawa banyak kimchi dan ddeokbeokki untuk makan siang dan makan malam. kalau ternyata kau masih lapar, kau bisa menelponku. Aku akan katakan pada Chanyeol oppa untuk meminjamimu ponsel saat dia berjaga disini.”
Luhan mengulurkan tangannya, menepuk poni Youngra. “Sejak kapan kau jadi cerewet eum? Sudah kukatakan aku akan baik-baik saja disini. Makanan yang kau bawa sudah lebih dari cukup.”
Youngra tersipu malu. “Mian. Aku hanya khawatir pada kondisimu.”
“Terima kasih sudah menghawatirkanku.”
Gadis itu mengangguk pelan. Untuk sesaat hening, tidak ada perbincangan diantara mereka kecuali tangan Luhan yang tetap mengusap poni Youngra.
“Yaa.. aku sedang menyuruhmu makan.”
Luhan tersenyum. “Aku tidak bisa makan sendiri. Youngie jebal..”
Gadis itu meniup poninya. “Kau tetap bayi rusa yang manja. Baiklah sekali ini saja. Buka mulutmu.”
~
Tidak biasanya Youngra sibuk berkutat di ruang music. Jika bukan karena tugas membuat lirik lagu, dia pasti tidak akan berada disini. Tempat ini mengingatkannya pada sosok pemuda yang memakai coat biru dongker, Kris Wu.
Dia menekan-nekan tuts piano hingga menimbulkan bunyi. Begitu dirasa pas dengan liriknya, dia langsung menulis not not rumit itu di atas buku partiturnya.
Saking asyiknya mengerjakan tugas, dia sampai tidak menyadari seorang pemuda yang sudah berdiri di samping grand piano.
“Kau sedang apa?”
“OMO!”
Gadis itu terjatuh dengan pantat lebih dulu mencium lantai. Dia mengusap bagian tubuhnya itu seraya bangkit.
“Aish, kau mengejutkanku, Byun Baekhyun.”
Tanpa berdosa pemuda itu terkekeh ringan. Sejurus kemudian dia kembali penasaran.
“Apa kau sedang membuat lagu? Kau mahasiswi jurusan music? Apa kau bisa memainkan grand piano?”
Gadis itu menepuk dahinya. “Bertanyalah satu persatu. Aku jadi bingung menjawabnya.”
Lagi-lagi pemuda berwajah manis itu terkekeh ringan. “Aku tidak pernah bertemu denganmu, padahal kita berada di kampus yang sama. Eum… kau ingin bantuan? Sepertinya moodku sedang baik hari ini.”
Tanpa banyak berpikir, Youngra mengangguk setuju. Kini keduanya sudah duduk disebuah kursi yang menghadap grand piano itu.
“Apa tema lagumu?”
“Kisah cinta tragis.”
“Ey? Kenapa seperti itu? atau jangan-jangan…”
Youngra meniup poninya kesal. “Jangan berpikir yang tidak-tidak. Undian yang kudapat memang itu. Jadi mau tak mau aku harus menerimanya.”
Akhirnya pemuda itu mengangguk paham. Tangannya menengadah membuat Youngra mengerutkan kening.
“Kemarikan bukunya.”
Separuh hati dia menyerahkan buku itu pada Baekhyun. Tepat saat cover buku itu sudah ada digenggaman Baekhyun, Youngra tak kunjung melepaskan cengkramannya. Ada adu tarik antara kedua keduanya sampai akhirnya Baekhyun berhasil mendapatkan buku itu.
Youngra segera membuang pandangan seraya memasang earphone di telinganya. Sementara itu Baekhyun melihat deretan kata di buku tersebut.
Dahi pemuda itu berkerut kemudian memalingkan perhatian pada gadis yang berpura-pura sibuk dengan earphonenya. Tanpa menunggu respon apapun, Baekhyun menarik salah satu sisi earphone gadis itu.
“Yaa, kau yakin memakai bahasa Jepang? Aku rasa ini akan sulit.”
Gadis itu melepas salah satu sisi earphone lain yang masih menyumbat telinganya. “Katakan saja kalau kau tidak bisa bahasa Jepang. Aku ingin sesuatu yang beda, jadi apa salahnya?”
Baekhyun menggeleng pelan. “Baiklah terserah kau saja. Aku akan membantumu tapi dengan satu syarat.”
Youngra memiringkan kepalanya. “Syarat apa?”
“Traktir aku ramen setelah ini, deal?”
“Ah.. ku kira apa. Itu gampang, aku bahkan akan menraktirmu lebih dari ramen JIKA lagu ini selesai dalam satu jam.”
Baekhyun menjentikkan jarinya. “Itu mudah, aku pastikan lagu ini akan selesai kurang dari satu jam.”
“Oke, kita lihat nanti.”
~
45 menit berlalu…
Permainan piano Baekhyun berakhir yang kemudian disambut tepuk tangan kagum dari Youngra. Yap! Baekhyun menyelesaikan lagu itu kurang dari sejam. Itu artinya, Youngra harus menraktir Baekhyun ramen setelah ini.
“Bagaimana? Bagus?”
Youngra mengangguk antusias. “Ini lebih dari yang kubayangkan. Bay the way, kau mahasiswa jurusan music?”
Baekhyun tersenyum tipis kemudian menggeleng. “Aku jurusan seni rupa.”
Air muka Youngra seketika berubah. Perubahan itu sudah diduga oleh Baekhyun sebelumnya. Sudah tidak asing lagi, jurusan seni music dengan jurusan seni rupa adalah musuh bebuyutan abadi. Bukan karena pertandingan basket waktu itu, tapi memang sejak dulu kedua jurusan itu sudah mengibarkan bendera perang.
Suasana berubah canggung. Baekhyun sungguh benci suasana ini. Dia meraih buku partitur Youngra dan menatapnya datar.
“Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin berteman denganmu. Apa aku salah?”
Youngra melirik sekilas pada Baekhyun. “Ani. Kau tidak salah.”
Pemuda itu tersenyum tipis. “Aku sudah memerhatikanmu sejak dulu, kau tidak sadar?”
Kini Baekhyun berhasil membuat Youngra menoleh seutuhnya padanya. Alis gadis itu terangkat.
“Apa maksudmu?”
“Aku yang pernah dipukul Luhan karena curang bermain sewaktu pertandingan basket, kau ingat?”
Petir seakan menyambar ruang music yang hening itu. pikirannya kembali melayang pada setahun silam, dimana Kris harus masuk dalam pertandingan untuk menggantikan pemain yang telah dicederai oleh Baekhyun. Pantas Luhan terlihat sangat bersemangat saat memukul Baekhyun di depan café waktu itu.
“Untuk apa kau curang?”
Pemuda itu memutar kepala hingga pandangan mereka bertemu. “Aku ingin bertanding dengan Kris, dia sudah merebutmu dariku.”
Apa yang dikatakan Baekhyun barusan, membuat pikiran Youngra semakin buntu. Sebenarnya ada apa dengan dia?
~
Baekhyun baru saja selesai berlatih basket saat dia melihat seorang gadis yang selama 2 minggu ini menghiasi hatinya, sedang berjalan seorang diri menyusuri koridor. Usai menutup kembali botol minumannya, dia segera menyampirkan tas di bahu kemudian berjalan mengikuti kemana gadis itu pergi.
Dia tidak ingin gadis itu mengetahui gelagatnya. Baekhyun mengambil jarak 2 meter di belakang si cantik itu. Ya.. bahkan dari belakang si pujaan hatinya terlihat cantik, sepertinya Baekhyun telah dibutakan oleh cinta.
Gadis itu berhenti tepat di depan ruang music, reflek Baekhyun berhenti kemudian bersembunyi di balik dinding dengan kepala sedikit menyembul. Dia melihat, gadis itu tak berkutik sama sekali. Gadis bernama Park Youngra itu masih berdiri memunggunginya dengan aksen yang sama seperti beberapa detik lalu.
Samar-samar Baekhyun mendengar sebuah alunan piano. Walau tidak seluruhnya terdengar, tapi dia bisa menyimpulkan jika ini music Mozart. Pemuda itu sedikit terlena akan kelembutan music ini, hingga akhirnya dia kembali sadar saat music itu berhenti. Entah dari mana asal keberaniannya, dia tiba-tiba keluar dari tempat persembunyian untuk segera menghampiri gadis itu. Tapi, langkahnya terhenti saat sosok tinggi semampai dengan coat biru dongker menutupi arah pandangnya pada Youngra. Seketika itu pula dia cemas.
“Aku Kris Wu, kau?”
“A-a-aku… Park Youngra.”
Baekhyun mendecih sebal. Huh, ternyata Kris.
“You look so beautiful. Nice to meet you.”
Di suasana sepi seperti ini, sebuah petir seolah menyambar tubuhnya. Percaya atau tidak, Kris sialan –menurutnya- itu telah mendahuluinya. Baekhyun kalah telak.
Pemuda itu memutar tubuhnya dan berjalan lemah meninggalkan keduanya. Apakah ini akhir? Ah tidak. Justru ini adalah awal, dimana dia mulai memendam dendam pada Kris.
Hari itu akhirnya datang, dimana jurusan seni music dan seni rupa dipertemukan dalam suatu pertandingan basket. Sebagai kapten, Baekhyun berdiri di barisan terdepan. Dia berhadapan dengan Luhan, yang juga kapten dari tim jurusan music. Semua orang tidak akan menyangka jika kedua pemuda berwajah baby face itu adalah seorang kapten tim basket. Tinggi mereka memang tidak seberapa, tapi kemampuan mereka sangat mengejutkan.
Baekhyun melempar seringaian tipis pada Luhan, yang hanya dibalas dengan tatapan dingin. Saat peluit dibunyikan wasit pun melambungkan bola. Kedua pemuda itu melakukan lompatan setinggi-tingginya hingga Luhan berhasil mendapatkan bola itu. Baekhyun tak menyesalinya, justru inilah rencananya. Bola itu terpantul ke dalam lapangannya dengan salah satu teman Luhan yang menggiringnya menuju tiang. Karena lompatan Baekhyun tidak seberapa tinggi, dia dapat dengan cepat mendarat dan langsung memersempit wilayah gerak Luhan.
Lagi-lagi Baekhyun melemparkan seringaian tipis pada Luhan.
PRANK!
Tim Luhan pun mencetak angka, tidak tanggung-tanggung angka 3. Melihat situasi itu, Luhan tersenyum penuh kemenangan.
“Kau hanya membuang waktumu denganku, Byun,” ketus Luhan sebelum memutar tubuhnya kemudian berlari.
Pertandingan masih berlanjut. Bola tetap berada di tangan tim Luhan. Kini si ketua tim itu –Luhan- sedang menggiring bola ke lapangan tim Baekhyun. Sebenarnya dia tidak sedang ingin memasukkan bola, ini hanya salah satu taktiknya saja untuk menipu lawan. Begitu memasuki ujung lapangan, dia akan langsung melempar bola ke belakang yang kemudian diterima oleh teman satu timnya. Dan teman satu timnya itulah yang akan menembak dari tengah lapangan untuk mencetak skor 3, karena dia adalah pencetak skor 3 terbaik di tim Luhan.
Luhan sudah sampai di ujung lapangan, dia pun langsung melempar bola ke belakang. Sayang, bola itu tidak dapat diterima dengan baik, karena Baekhyun dengan sengaja menendang tulang kering pemain itu saat mereka sama-sama melompat. Ah ya! Jangan lupakan kemampuan hapkido Baekhyun yang sudah mencapai level sabuk hitam.
Pemain itu berhasil menangkap bola namun dia mendarat dengan cukup menyakitkan. Luhan melihat kronologi kejadiannya. Tanpa banyak pikir lagi dia segera berlari menghampiri Baekhyun dan…
BUGH!
Pemuda bernomor punggung 04 itu terhempas begitu saja. Dia mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Luhan masih belum selesai menghabisinya, kapten bernomor punggung 07 itu mendekati Baekhyun dan memberikan pukulan bertubi-tubi pada wajahnya. Akan tetapi Baekhyun tidak membalas, dia hanya pasrah menerima semua pukulan itu.
Akhirnya, pemain cidera itu digantikan oleh Kris. Pertandingan kembali dilanjutkan dengan Baekhyun yang tetap menjabat sebagai kapten tim. Dia tidak peduli, rasa dendamnya melebihi rasa sakitnya. Dia dan Luhan sama, bermain dengan beringas. Baekhyun selalu gagal dalam melawan Kris, mungkin karena faktor tinggi badan mereka. Dan Kris, terlihat tenang dalam bermain, walau Baekhyun selalu melempar tatapan sinis padanya.
Pertandingan selesai, tim Luhan akhirnya menang. Baekhyun mengacak rambutnya frustasi, rencananya gagal untuk menang dari Kris. Ketika dia mengedarkan pandangannya pada bangku penonton, matanya sontak melebar saat melihat seorang gadis pencuri hatinya sedang melempar senyum pada Kris. Hatinya sakit saat itu juga, luntur dan hancur. Apa yang dilakukannya ini, sia-sia sudah.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s