Again -Chapter 2-


again

Author : Park Daena
Genre : Romance, sad
Rating : Teen
Length : Chaptered
Casting: Luhan EXO, Kris Wu EXO, Park Youngra (OC), Krystal Jung f(x) (cameo)

(Chapter 1)

Lantunan nada tuts piano yang lembut terdengar membahana di salah satu ruang music milik Universitas Yonsei. Youngra yang baru saja melintas di depannya, tiba-tiba berhenti. Dia berjalan mundur hingga mendapati seorang pemuda dengan coat biru dongker sedang memainkan jemarinya pada sebuah grand piano.

Pemuda itu memejamkan mata saat lantunan music Mozart dari piano itu merangkak memasuki indera pendengarannya. Youngra ikut memejamkan matanya, dia juga menikmati bagaimana alunan nada itu memenuhi otaknya. Rasanya sangat menenangkan sekaligus menyenangkan. Dia tidak pernah lagi mendengar music Mozart ini setelah kepergian ayahnya, ya.. music Mozart ini pertama kali diperkenalkan oleh ayahnya padanya.
Music itu berhenti, perlahan Youngra membuka matanya. Dia tersenyum simpul sebelum mengedarkan pandangannya ke balik pintu kaca ini. Dia terkesiap, saat mengetahui pemuda bercoat biru dongker itu sudah tak ada di sana.
“Apakah terdengar bagus?”
Suara baritone itu sekejap membuat Youngra menoleh. Dia sedikit terlonjak karena orang yang dicarinya ternyata sudah berdiri di dekatnya.
“Ah… eum.. itu… ya, itu terdengar bagus,” jawabnya sedikit kaku karena masih dirundung oleh rasa terkejut yang sangat.
Pemuda itu tersenyum simpul. “Aku Kris Wu, kau?”
Youngra mengangkat kepalanya. Dia tak menyangka pemuda itu setinggi ini, tingginya saja hanya mencapai sikunya, sungguh semampai sosok ini.
“A-a-aku… Park Youngra.”
Lagi-lagi pemuda bernama Kris itu tersenyum, karena Youngra yang terlampau gugup. Senyumnya itu seketika membuat Youngra membeku. Senyum itu sungguh manis, seperti senyum ayahnya saat masih hidup dulu. Mereka sangat mirip, apa mungkin Kris….
Youngra menggeleng cepat. Tidak mungkin Kris adalah reinkarnasi ayahnya, itu jelas mustahil terjadi di era baru seperti ini.
Sikap Youngra membuat Kris mengerutkan keningnya.
“Ada apa denganmu, Youngie?”
Jantung seakan berhenti berdetak. Kris baru saja memanggilnya Youngie, panggilan yang diberikan Luhan untuknya.
“Youngie? Park Youngra?” pemuda itu melambaikan tangan tepat di depan wajah Youngra, karena gadis itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Ah.. eh.. hehe, mianhae. Nan gwaenchana.”
Kris terdiam sebelum akhirnya dia tersenyum. “You look so beautiful. Nice to meet you.”
Youngra tercengang untuk beberapa detik sebelum menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Gomawo.”
Kris tersenyum hingga deretan giginya terlihat. Untuk kesekian kalinya, Youngra terpana karena senyum itu.
Keesokan harinya..
Mereka tak sengaja bertemu saat Youngra menemani Luhan tanding basket di kampus. Kris tiba-tiba duduk di sampingnya, sambil menyodorkan sebuah minuman isotonic.
“Gomawo,” ucap gadis itu seraya menerima uluran botol tersebut. Dia kembali membuang pandangan ke depan, focus pada permainan Luhan. Begitu pun yang di lakukan Kris.
“Kau mendukung siapa?” tanya pemuda itu yang membuat Youngra sedikit tersentak.
“Ah.. aku mendukung tim fakultas music.”
Kris tersenyum tipis. Tiba-tiba saja salah satu pemain di tim fakultas music terjatuh, itu disebabkan oleh permainan curang dari tim fakultas seni rupa. Youngra tercengang melihat kejadian itu, karena Luhan sampai tersulut emosi hingga memukul salah satu pemain tim fakultas seni rupa.
“Omo.. bagaimana ini?” gumamnya khawatir. Tak berapa lama suara peluit berbunyi menandakan waktu break darurat, berbarengan dengan Kris yang bangkit.
“Kris-sshi, kau mau kemana?”
Pemuda itu tersenyum seraya melepas coat coklat di tubuhnya. Apa yang dikenakan Kris hari ini, adalah alasan sesungguhnya mengapa Youngra terkejut.
“Ini waktuku untuk bermain. Sampai bertemu nanti, Youngie,” pemuda itu berjalan meninggalkan Youngra yang masih terlihat terkejut.
Peluit kembali dibunyikan, pertandingan dilanjutkan. Kini, pemain yang cidera itu digantikan oleh sosok tinggi semampai, siapa lagi orangnya jika bukan Kris Wu. Dia adalah pemain andalan fakultas music karena selain badannya yang tinggi, dia juga lihai dalam memasukkan bola jarak jauh. Dia pemain yang fenomenal walau bertindak sebagai cadangan, dialah namja bernomor punggung 00.
Quarter kedua ini benar-benar menegangkan. Kedua tim saling merebut nilai dengan beringas. Terlebih Luhan, dia benar-benar tak terima salah satu anggotanya di ciderai sehingga permainannya kali ini terlihat keras. Dia berulang kali memakai tekhnik menipu lawan agar bisa memasukkan bola dengan mudah. Sebelum quarter kedua ini berakhir, dia tiba-tiba dikepung oleh 3 pemain sekaligus, dia terpojok. Akhirnya dengan terpaksa dia melemparkan bola pada Kris, kemudian Kris melemparnya dari tengah lapangan.
PRANK!
Priiiiiiit!
29-20
Tim fakultas music unggul 3 angka. Mereka saling melakukan high five sebelum berjalan ke base mereka. Sekarang waktunya istirahat sebelum memasuki quarter ketiga.
Dari bangku penonton, Youngra tersenyum senang lantaran tim fakultasnya berhasil memenangkan quarter kedua. Disaat itu juga, tak sengaja dia bertemu tatap dengan Kris, pemuda itu tersenyum, membuat jantung Youngra kembali berdesir. Gadis itu mengusap tengkuknya sejenak seraya membalas senyumnya.
30 menit kemudian permainan berakhir. Fakultas music resmi menang dari fakultas seni rupa, setelah saling memberi selamat dan Luhan meminta maaf pada pemain fakultas seni rupa yang dipukulnya, mereka pun bubar. Dalam sekejap suasana lapangan basket sepi, hanya tinggal Youngra di sana dengan memegang botol minuman isotonic di tangannya.
“You look so beautiful. Nice to meet you.”
Ucapan Kris kemarin kembali terngiang di telinganya. Tak sadar gadis itu tersenyum, betapa beruntungnya dia mendapat pujian seperti itu dari seorang pemuda tampan yang baru di kenalnya. Apakah dia mulai bergerak untuk mencintai pemuda itu? entahlah, dia sendiri saja tidak mengerti bagaimana perasaannya.
Tiba-tiba seseorang menghempaskan tubuh di sampingnya dengan kepala bersandar di pahanya. Gadis itu hampir saja menjatuhkan botol minuman itu, kalau orang itu tidak segera menangkap tangannya.
“Permainanku bagus bukan? Wah… kau pasti masih teringat dengan ketampananku saat bermain,” cerocosnya dengan senyum menggoda yang bagi Youngra sungguh menjijikkan. Gadis itu meletakkan botol minuman itu di samping tubuhnya sebelum memandang mata rusa di bawahnya.
“Aku tidak mengingat ketampananmu.”
Pria itu, Luhan, tersenyum geli melihat ekspresi kesal Youngra. “Jeongmal? Buktinya kau masih duduk disini padahal pertandingan sudah selesai sejak tadi. Apa lagi yang kau pikirkan kalau bukan mengingat ketampananku. Ne?”
Youngra menghela nafas lelah. “Keurae, terserah kau saja.”
Luhan tersenyum tipis melihat lekuk wajah gadis itu dari jarak sedekat ini. Dia sudah terbiasa melakukannya, bermanja-manja di dekat Youngra, menggoda Youngra sampai gadis itu menekuk wajahnya, dia benar-benar melakukannya, karena mereka sudah berteman sejak duduk di bangku middle school.
Tiba-tiba tangan kanannya terangkat, menarik leher Youngra agar mendekat ke wajahnya. Gadis itu melebarkan matanya takjub. Semakin jarak diantara mereka terhapuskan, semakin lebar mata gadis itu terbelalak.
Dan ketika jarak diantara ujung hidung mereka hanya selebar satu senti, bibir Luhan bergerak mengucapkan sesuatu.
“Tidakkah kau memberiku hadiah setelah memenangkan pertandingan ini?”
Manic mata mereka saling bertemu, Youngra sedikit tak mengerti dengan apa yang sedang dimaksudkan Luhan. Merasa jarak ini terlalu dekat, Youngra pun menarik mundur wajahnya.
“Ish, jangan harap kau bisa mencuri first kissku, Luhan. Itu tidak akan pernah terjadi.”
Luhan tersenyum miring, jawaban itu tak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Ya, sejak dulu, sejak dia memiliki perasaan pada Youngra, dia sangat ingin menjadi pangeran pertama yang mencuri first kiss gadis itu. Namun tiap kali juga, dia selalu mendapat penolakan. Sungguh miris nasib Luhan. Dia tidak pernah mendapat penolakan dari para gadis, tapi Youngra bisa menolaknya dengan mudah.
Mata Luhan tiba-tiba menemukan botol minuman isotonic itu. Dia mengerutkan keningnya bingung, lantaran selama mereka saling mengenal dia sama sekali tidak pernah menemukan Youngra mengonsumsi jenis minuman itu.
“Youngie, kau mendapatkan minuman itu dari siapa?”
Youngra memalingkan pandangannya menuju botol tersebut. “Ah… itu dari Kris. Wae? Kau mau?”
“Kris?”
“Ne, Kris Wu, pemain cadangan di tim fakultas music. Kau tidak mengenalnya?”
“Kau mengenalnya? Bagaimana bisa kalian saling mengenal? Apa yang dilakukannya padamu? Katakan.”
Youngra menautkan kedua alisnya, merasa aneh dengan rentetan pertanyaan dari mulut Luhan. “Wae? Dia tidak melakukan apapun padaku, aku tidak sengaja bertemu dengannya di ruang music.”
Belum saja Luhan membalas ucapan Youngra, tiba-tiba seorang pemuda datang. Pemuda itulah yang menjadi perbincangan di antara mereka.
“Oh, apa aku mengganggu kalian?” tanya pemuda itu saat berdiri tepat di dekat mereka. Luhan membuang muka dingin, sedangkan Youngra tersenyum hangat.
“Ani, duduklah disini.”
Luhan mengerutkan keningnya tak terima. “Yaa! kenapa kau menyuruhnya duduk, dia mengganggu kita.”
Youngra melayangkan deathglare padanya hingga dia menyerah.
Kris duduk di samping Youngra sembari menggenggam botol minuman isotonic yang masih utuh isinya. “Apa kau tidak menyukainya?”
Youngra menoleh dengan mata tertuju pada botol itu. “Ah… bukan begitu, hanya saja…”
“Ne, dia tidak menyukainya,” sahut Luhan cepat yang dihadiahi deathglare lagi dari Youngra.
Kris tersenyum simpul. “Mian, aku tidak tahu apa yang kau suka. Aku hanya memberi ini sesuai dengan apa yang kupikirkan.”
Sedikit rasa tak enak hati, Youngra pada Kris.
“Gwaenchana, kau tidak perlu meminta maaf. Ini salahku juga yang tidak mengatakannya padamu.”
“Cih, kau berkata seperti itu seakan kalian sudah kenal lama,” lagi-lagi Luhan bergumam yang spontan membuat emosi Youngra tersulut.
“Yaa! kau memilih diam atau pergi dari sini? Aku lelah mendengar semua celotehanmu.”
Luhan melipat kedua tangan di depan dada. “Aku akan tetap disini.”
Youngra menghela nafas kasar seraya mengacak rambutnya. Kris yang melihatnya segera menahan tangan gadis itu.
“Kalian tidak perlu bertengkar, aku akan pergi sekarang.”
“Ne, itu lebih baik,” ketus Luhan.
Pemuda itu tersenyum pada Youngra sebelum bangkit. Sebelum tautan tangan mereka terlepas, Youngra dengan sigap menangkapnya. Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Kris melepaskan tangan gadis itu dan berjalan memunggungi keduanya. Tangannya membawa kembali botol minuman itu.
Saat punggung lebar itu menghilang, pandangan Youngra kembali terfokus pada orang yang masih bermanja-manja padanya.
“Yaa!”
Luhan menoleh dengan wajah tak berdosa. “Wae?”
Kedua tangan Youngra menangkup rambut Luhan, kemudian menjambaknya buas.
“Dasar rusa jelek!! Ini semua karenamu!!! Rusa bodoh! Rusa sialan! Rusa mata keranjang! Aku membencimu!!!!!”
Luhan hanya bisa pasrah rambutnya di jambak tak berperikemanusiaan, karena dia tahu Youngra tidak bisa dihentikan jika seperti ini.
Pulang kuliah, Youngra bergegas pergi agar tidak bertemu dengan Luhan. Dia masih menyimpan dendam pada pemuda itu karena sudah membuat momentnya dengan Kris berkurang. Rasa-rasanya dia ingin menjambak rambut pemuda itu lagi kalau mereka bertemu.
Saat menyebrang jalan, tiba-tiba tangannya ditarik mundur oleh seseorang yang berbarengan dengan melajunya sebuah mobil dari arah lain. Secara tak langsung, orang yang menariknya itu telah menyelamatkan nyawanya. Dia membalikkan tubuhnya berencana untuk mengucapkan terima kasih, namun urung dia laksanakan ketika melihat rupa orang itu.
“Kris-sshi..”
Mendengar namanya disebut, Kris tersenyum. Dia melepaskan genggamannya pada tangan Youngra.
“Jangan melamun saat berjalan.”
Gadis itu menunduk karena malu. Dia tertangkap sedang melamun, dan itu memang benar.
“Gomawo.”
“Ne, cheonma. Ah.. kau sendirian? Mana Luhan?”
Mendengar nama itu, emosi Youngra kembali tersulut. “Aku melamun karena dia, aku benar-benar tidak menyangka dia akan memperlakukanmu seperti itu. Rasanya aku masih ingin menjambak rambutnya. Ish, rusa mesum itu harus kuberi pelajaran.”
Kris tertawa geli melihat ekspresi marah Youngra. “Jangan seperti itu. Aku tidak apa-apa. Aku juga sadar diri kalau sudah mengganggu acara kalian. Bukannya dia kekasihmu? Seharusnya kau tidak perlu-”
“Dia bukan kekasihku, dia sahabatku sejak middle school, ah tidak, bukan sahabat lagi, tepatnya musuh bebuyutanku,” potong Youngra tak terima. Dia tidak terima Kris mengatakan bahwa Luhan adalah kekasihnya.
“Ah… jadi dia bukan kekasihmu? Mian.”
Hening. Youngra masih tetap menunduk untuk menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Gadis itu terlalu senang, karena akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan pria itu.
“Eum.. apa kau ada acara hari ini?”
Youngra terdiam untuk mengingat kembali jadwalnya hari ini. “Ani, aku tidak ada acara apapun. Wae?”
“Mau temani aku jalan-jalan?”
^^
TBC

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s