Again -Chapter 1-


again

Author : Park Daena
Genre : Romance, sad
Rating : Teen
Length : Chaptered
Casting: Luhan EXO, Kris Wu EXO, Park Youngra (OC), Krystal Jung f(x) (cameo)

Di sebuah coffee shop, duduklah seorang gadis yang berada di meja paling sudut ruangan. Dia hanya terdiam dengan tangan menopang dagu. Pancaran matanya sangat dingin dan kosong, seakan tidak ada satu orang pun yang bisa menyelami relung hatinya saat ini. Dia hidup, dia sehat, namun hatinya kosong. Hanya satu nama yang terpatri di lubuk hatinya, yang telah dirantai sekaligus di gembok, nama itu adalah Kris Wu.

“Park Youngra..”
Lamunannya buyar tiba-tiba dan dengan ekspresi datar dia menoleh ke asal suara. Tidak sampai 2 detik, dia sudah membuang pandangannya kembali. Dia tidak ingin ada seorang pun yang mengusiknya sekarang, termasuk pemuda yang sedang berjalan ke arahnya, Luhan.
Seolah tak mengerti dengan apa yang dipikirkan gadis itu, Luhan mendaratkan tubuhnya di kursi tepat berhadapan dengan gadis itu. Mereka tidak saling menatap walau tatapan mereka bertemu, karena pada hakikatnya yang Luhan rasakan sekarang adalah kehampaan dari sorot mata Youngra. Pemuda itu sedikit tahu dengan apa yang dirasakan Youngra, dia membuang nafasnya sedikit kasar.
“Kau masih mengingatnya?”
Hening. Sedikit pun tak ada pergerakan berarti dari Youngra. Luhan menatapnya iba. Semenjak kejadian setahun lalu, Park Youngra yang awalnya ceria berubah murung seperti ini. Hidup tanpa gairah dan tujuan seperti mayat hidup.
“Sampai kapan kau akan seperti ini, Youngie? Dia sudah tiada, Kris sudah meninggal. Mau sampai kapan kau mengingatnya?”
Kekosongan di mata Youngra tiba-tiba terisi dengan sebuah amarah. “Kau tidak perlu ikut campur urusanku, Luhan! Tidak perlu memerdulikanku!”
Luhan menatapnya iba. Dia sudah terbiasa dengan bentakkan Youngra. Bahkan dia pernah merasakan bagaimana tamparan gadis itu saat dia mengatakan hal yang sama seperti ini.
“Aku hanya tidak ingin kau berbuat bodoh, Youngie.. Kris sudah tidak ada, dia sudah meninggalkanmu selam-“
PLAK!
Youngra mengatur nafasnya yang memburu karena tersulut emosi. Dia benar-benar tidak terima Luhan mengatakan bahwa Kris sudah meninggalkannya selamanya, meski fakta yang terjadi adalah benar.
“Tutup mulutmu, Luhan! Kris tidak pergi! Dia hanya berpindah tempat! Aku pasti akan menemuinya sebentar lagi.”
Kalimat terakhir dari mulut Youngra, spontan membuat Luhan membulatkan matanya. Dalam sekejap dia melupakan rasa sakit di pipinya. Dilihatnya Youngra sedang sibuk menggeledah isi tas hingga menemukan sebuah benda tajam yaitu cutter. Luhan tak menyangka ada benda seperti itu di tas Youngra. Dia semakin melebarkan matanya saat melihat Youngra mendekatkan cutter itu ke pergelangan tangan kirinya.
“Aku akan menemuinya sebentar lagi. Aku akan bertemu Kris sebentar lagi..”
Ujung tajam cutter itu hampir menekan pergelangan tangan Youngra, saat Luhan menepis tangan kanannya. Cutter itu terjatuh ke lantai, menimbulkan bunyi yang cukup mengejutkan. Seolah baru saja kehilangan kendali, kedua tangan Youngra bergetar, matanya melebar takut, dia mengangkat kepalanya, menatap tepat di manic mata Luhan.
“Lu…………Han…”
Pemuda itu segera membawa Youngra ke dalam dekapan hangat. Dia memberikan sandaran bagi Youngra, agar bisa menangis sepuas-puasnya. Dia bisa merasakan tubuh Youngra yang bergetar hebat disertai dengan suara isakan yang amat parau. Kaos yang tengah ia kenakan, tiba-tiba terasa basah di bagian pundak karena air mata Youngra. Dia tak mempermasalahkannya. Pemuda itu mengusap pelan punggung Youngra, sebagai salah satu upaya menenangkan.
Sekian menit menguras air mata, gadis itu akhirnya berhenti menangis. Tubuhnya tidak bergetar sehebat tadi, namun bahunya masih naik turun menahan isakan. Luhan menjauhkan tubuhnya, kemudian mengusap pipi Youngra menggunakan kedua ibu jarinya. Dia pun tersenyum.
“Disaat menangis, kau cantik. Tapi akan lebih cantik lagi jika kau tersenyum.”
Mendengar penuturan Luhan, Youngra tidak bisa untuk tidak tersenyum. Baginya, Luhan sudah cukup bersabar untuk menghadapinya selama ini. Dia tak pernah menyadari, Luhan akan selalu di sampingnya dalam kondisi apapun. Saat berkenalan dengan Kris, date dengan Kris, terpuruk saat Kris meninggal, Luhan pasti ada di sampingnya. Luhan bagaikan malaikat penjaga yang akan selalu ada menemani harinya.
“Kau.. jangan lakukan hal bodoh lagi, ne? kau membuatku khawatir dan… kau juga membuat Kris khawatir disana. Kau tidak mau kan, melihat Kris bersedih karena melihatmu berbuat bodoh? Jebal, demi Kris, kau berjanji tidak akan berbuat hal seperti itu lagi. Arraseo?”
Youngra mengangguk lemah. Jujur dia tidak kuat saat mendengar nama Kris disebut. Saat itu juga, tangisnya pecah kembali dan memeluk Luhan sangat erat.
“Luhan… hiks… aku mencintai Kris..”
Luhan terdiam merasakan rasa sesak di dadanya, sebelum dengan tulus dia menjawab, “aku mengerti dirimu, dan aku tahu itu.”
Namun jawaban Luhan justru membuat hati Youngra bertambah perih. Dia tahu Luhan mencintainya bahkan sebelum dia mengenal Kris, tapi entah kenapa dia selalu mengelak, dia beranggapan Luhan hanya bermain-main dengan perasaan, karena yang dia lihat selama ini, Luhan sering gonta ganti pacar bahkan keluar masuk bar bersama seorang gadis yang berbeda tiap jamnya.
Sejam kemudian, Luhan memutuskan untuk mengantar Youngra pulang. Di dalam mobil audy miliknya, Luhan mengendarai sambil sesekali melirik Youngra yang sedang asik menatap keluar jendela. Terlalu lama menangis membuat kedua mata gadis itu bengkak, wajahnya terlihat lucu memang, tapi juga terlihat menyedihkan.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki area parkir sebuah gedung apartemen. Setelah memarkir dengan benar, keduanya segera turun dan pergi ke lantai 9. Di sanalah mereka tinggal. Youngra tinggal di apartemen 301, sedangkan Luhan di apartemen 300, letak yang bersebelahan membuat mereka sering bertemu dan pulang pergi kuliah bersama.
Sesampainya di depan pintu bernomor 301, Youngra segera mengetikkan 7 digit passwordnya hingga terdengar bunyi unlock.
Sebelum memasuki apartemennya, Youngra membalikkan tubuhnya untuk menatap Luhan.
“Terima kasih sudah mengantarku. Dan terima kasih untuk segalanya.”
Luhan tersenyum simpul, hingga menimbulkan guratan-guratan halus di sekitar matanya.
“Tidak perlu berterima kasih, aku akan selalu melakukan ini setiap hari.”
Mendengarnya, membuat Youngra menunduk.
“Apa kau masih menyukaiku?”
Tak pernah menduga Youngra akan bertanya seperti itu, senyum Luhan seketika luntur. Dia terdiam sambil memandangi puncak kepala gadis itu.
“Aku tahu, kau sudah lama menyukaiku. Aku tahu, kau mengencani gadis yang berbeda tiap harinya hanya untuk membuatku cemburu. Aku tahu, kau merasa sakit hati saat melihatku bersama Kris. Mian.. selama ini aku sudah mengecewakanmu.”
Luhan membuang pandangannya karena kedua matanya diselimuti oleh kaca-kaca tipis. “Wae? Kenapa kau meminta maaf padaku?”
Youngra tersenyum getir sembari memandangi ujung sepatunya. “Aku menyayangimu, karena kau sahabatku. Rasa sayangku, tidak lebih dari itu.”
Luhan meneguk salivanya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan perasaannya yang hampir meledak.
“Kau tahu semua itu, tapi kenapa kau masih menganggapku sahabat? Apa yang harus kulakukan untuk mengambil hatimu? aku bukan Kris… Aku Luhan. Lihatlah aku sebagai seorang pria.”
Youngra menekan bibir bawahnya yang bergetar menggunakan gigi. Jujur, dia juga sakit menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa melupakan Kris. Dia bisa merasakan perasaan Luhan kali ini, dia benar-benar bisa merasakannya. Namun seolah dia buta, dia semakin ganas untuk menghancurkan hati Luhan.
“Ah… ini sudah malam. aku mengantuk, aku ingin segera tidur. Sekali lagi, gomawo. Jalja, Luhan.”
Gadis itu memutar tubuhnya cukup cepat akan tetapi tidak secepat Luhan menarik tangannya. Luhan merengkuh tubuhnya dari belakang, menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Youngra. Suara isakannya terdengar jelas di pendengaran Youngra. Waktu seolah berhenti berjalan.
“Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya agar kau mencintaiku. Aku mencoba bermain dengan para gadis untuk menarik perhatianmu, tapi kau justru tak menyukainya. Aku sempat kehilangan akal saat melihatmu dan Kris saling jatuh cinta dalam rentan waktu yang sangat singkat. Kenapa keberuntungan tidak pernah berpihak padaku? Kenapa aku harus terlahir sebagai Luhan? Kenapa aku harus… mencintaimu? Semua ini menyiksaku… sungguh ini tak masuk akal…”
Youngra menggerakkan tangannya untuk mengusap punggung tangan Luhan yang melingkar di pinggangnya. Dia tidak bisa mengatakan apapun untuk membalas apa yang sedang di ucapkan Luhan. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah mendengar dan menenangkan sampai pemuda itu berhenti dengan sendirinya.
Tak berapa lama, rangkulan Luhan di pinggang Youngra mengendur. Perlahan-lahan dia menjauhkan dirinya sebelum Youngra memutar tubuh menghadapnya. Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Youngra tidak pernah menyangka dia akan melihat Luhan dalam keadaan seperti ini. Selama ini dia tak pernah menemui, Luhan menangis hingga membuat mata rusanya bengkak.
Tiba-tiba, dia melangkah mendekat, mengisolir jarak diantara mereka. Entah kenapa Youngra hanya terdiam di tempat sambil menatap tepat pada manic mata Luhan. Saat ujung sepatu mereka saling bersentuhan, saat itu juga Luhan mendekatkan wajahnya. Dia membungkuk, mendekatkan wajahnya seraya mengangkat tangan. Lagi-lagi Youngra tak berkutik, dia seperti sedang menunggu apa yang akan Luhan lakukan padanya.
1 detik…
2 detik…
3 detik…
CKLEK!
Pintu apartemen bernomor 301 itu terbuka berbarengan dengan Luhan mendaratkan dagunya di atas pundak Youngra. Terdengar helaan nafasnya yang begitu jelas di telinga Youngra. Usai memejam sejenak, Luhan kembali menegapkan tubuhnya dan mundur dua langkah.
“Masuk dan istirahatlah. Besok kau ada jadwal kuliah pagi. Dosen Kim tidak akan memberimu dispensasi lagi jika besok kau tidak hadir. Jalja,” ucap pemuda itu sebelum melangkah memasuki pintu bernomor 300. Youngra masih mematung di depan apartemennya saat pintu di sebelahnya mengeluarkan bunyi lock.

TBC

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s