When You Bad Mood…


when you bad mood...

Author : Park Dae Na
Genre : Romance, Schoollife, General
Rating : Teen
Length : One Shoot
Cast : Oh Se Hun (EXO), Lee Na Yeon (OC)

Summary
Aku menyukai kepribadiannya, bukan fisiknya

Gadis itu mendecih sebal. Setiap kali berbicara dengan Sehun, respon yang dia dapat pasti sangat singkat dan tidak memuaskan. Sepertinya hal itu hanya terjadi di hari ini. Gadis itu mulai berpikir, kira-kira apa penyebab pemuda itu bersikap dingin padanya.
“Yaa! kau mau apa?!”
Gadis tersebut menoleh ke asal suara. Rupanya itu berasal dari suara Sehun yang tengah menghardik teman satu bangkunya bernama Xiumin. Lee Na Yeon hanya menggeleng pelan melihat tingkah pemuda itu.
Tidak ada yang salah sebenarnya. Keduanya bukan sepasang kekasih, hanya dekat satu sama lain. Biasanya mereka selalu bercanda tawa berdua, tapi entahlah hari ini temperament pemuda itu sedang berada di puncaknya.
Lagi-lagi Na Yeon membuang napasnya. Otaknya semakin buntu memikirkan pemuda itu. Berulang kali dia memutar otak, mencoba menerka apa yang sedang ada dipikiran Sehun. Hanya saja semuanya gagal total.
Tak sengaja keduanya bertemu pandang. Sehun membulatkan matanya, seperti tengah melampiaskan rasa kesalnya. Na Yeon hanya terdiam, tapi sesaat kemudian Sehun tersenyum tipis. Misterius, pemuda itu sangat misterius.
Apa mungkin dia melampiaskan kekesalannya padaku? Apa mungkin karena tadi dia dimarahi seonsaengnim? Atau, dia memang sedang banyak pikiran?
Otak Na Yeon masih saja berperang dengan banyak pendapat yang muncul. Pikirannya semakin kalut, kalau saja semua pendapat itu benar, lalu apa yang harus dilakukannya? Apa iya dia harus mengelus punggung Sehun hanya untuk menenangkan emosi pemuda itu? mustahil!
Sibuk memikirkan alasan bad moodnya Sehun, tiba-tiba terlintas ingatan pada sebuah mimpinya semalam. Mimpi itu sangat jelas, mengandung 75% fakta dan 25% ilusi. Mimpi itu berlatar sekolahnya, dimana saat itu tengah pulang sekolah. Dia berjalan pulang, hendak menyusuri jalanan seorang diri, akan tetapi saat menoleh ke belakang, dia mendapati Sehun tengah mengikutinya.
Seketika gadis itu terbeliak, dia menoleh bukan tanpa alasan. Dia menoleh karena ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di kelasnya. Oleh sebab dia takut kembali ke kelas sendirian, tak sengaja Na Yeon menggandeng tangan Sehun dan menariknya pergi ke sekolah sambil berlari. Gerakan reflek itu tidak disadari oleh Na Yeon. Dia terus saja berlari seraya menggenggam tangan kekar Oh Sehun. Gadis itu baru menyadarinya saat Sehun balas menggenggam tangannya, sangat erat hingga pori-pori untuk jalannya udara pun tidak ada. Mereka tetap dalam posisi seperti itu. Diantara mereka tidak ada yang saling berbicara, menoleh pun enggan. Akhirnya mereka sampai di kelas dan genggaman tangan itu terputus.
Mimpi itu berakhir seperti itu. Tanpa ada sedikit pun makna yang tersirat di dalamnya. Membuat Na Yeon penasaran dan juga bahagia. Dia kira hari ini mimpi itu akan terwujud, nyatanya tidak, Sehun justru bersikap 180 derajat berbeda dari Sehun sebelumnya.
Lee Na Yeon lagi-lagi membuang nafas. Dia tetap tidak menemukan alasan yang sebenarnya.
Kalau saja bisa, Na Yeon pasti sudah berhenti untuk mencintai Sehun, karena dia menyayangi sosok Sehun atas kepribadian pemuda itu. akan tetapi berusaha sampai ratusan kali pun, dia tidak akan bisa berhenti mencintai sosok itu. entahlah, mungkin dia sudah dibutakan oleh sosok Oh Sehun.
Pernah beberapa waktu silam, Na Yeon memilih berhenti mencintai Sehun. Dia bersikap sangat dingin, setiap kali bertemu dia akan menjauh, bahkan menyapa pun tidak lagi. Alasannya karena Sehun adalah pemuda cerdas yang mencontek saat ujian kenaikan kelas. Dia mati-matian membenci pemuda itu. dia mengatakan pada semua sahabatnya, kalau dia akan berhenti mencintai pemuda itu, apapun yang terjadi. namun, respon yang diberi Sehun atas sikapnya justru sangat membuat hatinya sesak. Pemuda itu juga bersikap dingin padanya. Rasanya sungguh sakit, saat pemuda itu menatapnya dengan pandangan datar dan tidak tersenyum lagi saat bertemu. Na Yeon merasa, dia sudah kehilangan mutiara indahnya.
Gadis itu tersenyum sendiri di tempat duduknya. Tangannya menopang dagunya. Matanya memandang lurus ke depan. Bibirnya membentu parabola dengan lengkungan ke bawah, serta kedua matanya menyipit manis.
Mengingat pertemuan pertamanya dengan Sehun, membuat jantungnya berdetak sangat cepat. Bahkan sampai berefek pada keringat dingin yang membasahi kedua telapak tangannya. Dia masih ingat, pemuda berkacamata tebal dengan hairstyle nerd, yang saat itu duduk tak jauh darinya. Sorot tajam pemuda itulah, daya tarik yang sesungguhnya. Masa itu, Na Yeon beranggapan bahwa pemuda itu sangat sempurna, berbeda dan unik.
Bukankah awal dari cinta itu dimulai dengan penasaran? Na Yeon pasti akan menjawab iya. Terdorong oleh rasa penasarannya pada sosok Sehun, lambat laun mereka dipertemukan dan akhirnya saling mengenal seperti sekarang ini. Banyak oknum yang mengatakan bahwa mereka selalu terlihat serasi seperti sepasang kekasih, akan tetapi fakta yang ada mereka hanyalah teman. Jalinan pertemanan yang masih berumur genap satu tahun. Mereka dari wilayah yang berbeda, sekolah dasar yang berbeda, sekolah menengah pertama yang berbeda, pribadi yang berbeda, tapi mereka dengan mudah bersatu hanya dalam lingkup sekolah.
Na Yeon masih senyum-senyum sendiri di tempatnya. Dia masih ingat, saat semua orang sibuk dengan percobaan masing-masing mengenai miniature sepeda motor, Sehun tiba-tiba menjahilinya dengan mendekatkan cairan korek api padanya. Cairan itu dingin, dan tidak baik untuk dihirup. Akan tetapi Na Yeon yang pada dasarnya adalah gadis yang pemarah, sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda kemarahannya. Dia hanya tersenyum tipis, sekadar membalas senyuman manis pemuda itu. Di hari itulah, mereka mulai saling dekat satu sama lain.
Kisahnya dengan Sehun, tidak hanya sampai disitu. Mereka pernah berjalan berdua, di bawah atap bangunan yang melindungi mereka dari jatuhan air hujan. Bagi Na Yeon, peristiwa itu sangat romantis. Dia tidak pernah mendapati seorang pemuda yang mau berjalan di belakangnya, seolah bertindak sebagai seorang penjaga. Bukan main dia sangat senang. Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali, melainkan 2 kali.
Na Yeon menutupi wajahnya yang mulai memperlihatkan semburat kemerahan. Dia malu untuk mengungkapkan, bahwa dia benar-benar menyayangi Oh Sehun.
Sesuatu yang kecil, bisa membahagiakan bagi seorang yeoja. Pernyataan itu benar adanya. Hanya karena Sehun memakai bolpoint yang baru saja dia beli, dia dengan bangganya berkata bahwa bolpoint itu adalah bolpoint keramat, tidak ada seorang pun yang boleh menggunakannya kecuali dirinya dan Sehun. Tidak hanya itu, Na Yeon juga merasa sangat bahagia saat Sehun menggunakan kaos yang sama dengannya. Meskipun motifnya berbeda, tapi kegunaan sebenarnya dari kaos itu sama. Yaitu, saat olahraga mereka berdua memakai kaos khas kelas masing-masing. Awalnya yang mencetuskan kaos itu pertama kali adalah Na Yeon, akan tetapi selang beberapa hari, Sehun juga mulai sering memakai kaos berjenis sama.
Satu hal yang tidak akan pernah dilupakan Na Yeon. Senyuman Sehun setelah mengantar Na Yeon pulang. Senyum itu bukan senyuman biasa, bukan senyuman yang selalu diberikan pada Na Yeon saat bertemu. Tapi senyum itu menandakan bahwa dia malu, gugup, bahagia. Na Yeon masih penasaran, benarkah dugaannya bahwa Sehun juga mencintainya?
Sehun tahu kalau dirinya sangat membenci film kekerasan atau film horror, Sehun masih mengingat pesan singkat Na Yeon yang sudah dikirimkan beberapa bulan silam, dan Sehun bahkan menghafal siapa saja pemuda yang pernah mendekati Na Yeon. Semua itu misteri, Oh Sehun benar-benar membuat rasa penasarannya semakin tinggi.
KRIET
Sebuah suara mengejutkan Na Yeon dari lamunannya. Gadis itu mendapati Oh Se Hun yang sedang bangkit dan akan beranjak ke luar kelas. Tak sengaja pandangan mereka saling bertemu, jauh dari dugaan Na Yeon, Sehun menatap dirinya sinis sebelum menghilang di balik pintu. Gadis itu hanya bisa membuang nafasnya, pasrah.
Aku tidak akan pernah bisa tidak mencintaimu…
END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s