The Letter Code


Author : Park Dae Na
Genre : Romance, Schoollife, Little Sad
Rating : Teen
Length : One Shoot
Cast : Kim Jong In (EXO), Jung Yu Ri

~Summary~
Cinta itu sangat suci, akan tetapi terkadang begitu menyakitkan

the letter code

Cinta Yuri sepertinya hanya bertepuk sebelah tangan. Genap setahun ini, dia jatuh cinta pada sosok yang sangat berbeda dari yang lainnya, Kim Jong In, namja berkulit gelap yang begitu memesona. Rasanya sakit saat menerima keadaan bahwa dia terjebak dalam zona persahabatan. Sungguh, ini adalah cerita cinta tragisnya.
Menyedihkan memang, saat semua orang mengelu-elukan nama kita, tapi satu orang yang kita suka sama sekali tidak memerdulikan kita. Beranggapan kalau kita hanyalah angin lalu yang menerpa wajahnya sekilas. Sakit. Kejadian ini tidak hanya terjadi sekali.
Kelas mereka bersebelahan. Sangat mudah bagi Yuri untuk memantaunya, akan tetapi Kim Jong In bukanlah namja yang suka berlari kesana kemari, pemuda itu akan menetap di kelas kecuali jam makan siang/sore & pulang sekolah.
Di sore itu saat sekolah dibubarkan, tiba-tiba saja hujan turun sangat deras. Dengan terpaksa Yuri menunda kepulangannya ke rumah. Dia tidak membawa payung dan mustahil berjalan santai di bawah hujan sederas ini.
Tubuhnya menggigil pelan. Mungkin karena ini adalah hujan musim semi. Dia memutar kepalanya ke samping kanan dan kiri, berharap ada satu orang murid saja yang masih tersisa di sekolah.
TAP TAP TAP
Gadis itu menoleh ke belakang sekilas, berusaha memastikan siapa yang datang. Matanya sontak melebar seraya memalingkan pandangan ke depan. Dia memeluk tubuhnya erat-erat sambil melirik seseorang yang sudah berdiri satu garis dengannya.
Pemuda yang baru saja datang itu melepas earphone yang menutupi kedua telinganya, kemudian menengadahkan telapak tangannya ke jatuhan air hujan. Matanya hanya terfokus pada satu titik, dimana air yang jatuh dari langit membasahi telapak tangannya.
Untuk sesaat, Yuri terpana akan charisma pemuda itu. Dia terdiam, seakan ikut menikmati bagaimana rasanya air langit itu jatuh membasahi tangannya.
Pemuda itu menurunkan tangannya, kemudian menoleh. Reflek, Yuri membuang pandangan seakan tidak pernah terjadi apapun.
Kim Jong In membekap kedua telinganya dengan earphone kembali. Dia pun berjalan melewati Yuri tanpa sepatah katapun. Aroma wangi-wangian yang menguar dari tubuhnya, tanpa dikomando langsung menyita paru-paru Yuri. Gadis itu mabuk dibuatnya.
Setahun kemudian
Ujian akhir sudah di depan mata. Tapi hubungan antara Yuri dan Kim Jong In tidak pernah beranjak dari gelar ‘hanya kenal saja’. Mereka duduk di kelas yang bersebelahan, tetapi mereka terlihat seperti orang jarak jauh, sangat jauh sekali sampai sulit dijangkau.
Saat belajar, gadis itu tidak habis memikirkan Kim Jong In. 3 suku kata itu membuat kepalanya melupakan seluruh rumus fisika kimia. Dia jadi sering banyak melamun, menyendiri dan tidak bersemangat.
Kawan-kawannya sudah memberinya saran, agar melupakan pemuda itu. Akan tetapi Yuri benar-benar gadis keras kepala, dia tidak akan menyerah atas Kim Jong In.
“Suatu saat pasti dia akan mengetahuinya…” ucapnya saat teman-temannya bertanya apa alasannya tidak menyerah.
Semakin waktu berjalan, semakin Yuri rasakan bagaimana rasa sakit itu. dia tak menggubrisnya, toh informasi yang dia dapat dari teman SMP Kim Jong In, pemuda itu belum sekalipun berpacaran atau bahkan melirik gadis. Di satu sisi Yuri sangat lega, tapi sisi lainnya dia harus menelan pil pahit. Mungkin, Yuri adalah satu dari sekian milyar gadis yang tidak dilirik oleh sosok Kim Jong In.
Matahari akan kembali ke singgasananya, saat sekolah dibubarkan. Yuri merapikan semua peralatannya dengan rasa malas. Dia masih belum ingin pulang. Dia masih ingin merasakan bangku ini sebelum beberapa minggu lagi dia akan meninggalkannya.
Gadis itu membuang nafasnya pelan. Setelah meresleting tasnya, dia pun menyampirkan benda itu di bahunya sebelum melangkah pergi.
“Yaa! kau!”
Suara berat khas laki-laki membuatnya memutar tubuh. Ada siswa seangkatan yang tidak dikenalnya, berlari mendekatinya sambil membawa satu kotak berisi amplop.
“Ini untukmu.”
Yuri menerima benda itu. sebelum dia bertanya lebih lanjut, pemuda itu sudah berlari meninggalkannya. Kini, dia bingung sendiri di tempat.
Yuri mengambil satu dari sekian amplop disana.
W
Dahinya berkerut. Isi dari amplop itu hanyalah sebuah abjad yang tidak dia tahu maksudnya.
Amplop kedua,
Y
Amplop ketiga,
B
Amplop keempat,
M
Amplop kelima
G
Amplop keenam
F
Amplop ketujuh
-K
“Apa maksudnya ini?” gumamnya bingung. Dia memasukkan amplop terakhir itu ke dalam kotak. Matanya mengedar berharap ada seseorang yang kira-kira adalah penulis surat ini. Akan tetapi nihil. Koridor tempat berpijaknya ini sepi, tidak ada siapapun kecuali dia seorang. Semua ini bagai sebuah misteri untuknya.
Akhirnya, Yuri memilih untuk beranjak pergi dari tempatnya. Dia tetap membawa kotak amplop itu, mungkin saja saat di rumah nanti dia bisa memecahkannya.
Sekian detik setelah punggung Yuri menghilang, seorang pemuda berjalan keluar dari balik dinding. Dia menatap lurus ke arah dimana punggung Yuri sirna. Tatapan matanya datar, seakan menutupi sebuah perasaan manis dalam dirinya. Mulutnya tetap bungkam, dia memutar badannya kemudian pergi setelahnya.
2 minggu kemudian
Yuri memijat pelan bahu kanannya. Sejak 3 jam lalu, tangan kanannya sibuk menulis dan menahan berat tubuhnya. Ujian akhir sekolah akhirnya selesai dilaksanakan, minggu depan dia akan melaksanakan ujian masuk universitas.
Lelah berpikir, dia memilih pergi ke cafeteria. Sekiranya secangkir coklat panas mampu menghapus lelah di pikirannya. Dia mengambil duduk di sudut ruangan, yang berhadapan langsung dengan taman belakang sekolah. Cafeteria ini tidak seluruhnya dibatasi oleh dinding. Di satu sisinya, bahkan dibiarkan terbuka, yaitu tempat Yuri sekarang.
Angin semilir memainkan rambut gadis itu. Dia sangat menikmati dengan mata memejam. Gadis itu mengambil nafas dalam-dalam, kemudian dia keluarkan perlahan. Kegiatan itu terus dia lakukan hingga sebuah suara mengejutkannya.
“Pesanan coklat panas datang.”
Yuri tersenyum seraya menunggu si pelayan meletakkan pesanannya di atas meja. Setelah dia mengucapkan terima kasih, pelayan itu pun berlalu.
Kini, hanya ada Yuri dengan cangkir coklat panasnya. Dengan menggunakan kedua tangan, dia membekap cangkir itu kemudian meniupnya pelan. Berbahaya jika diminum dalam keadaan panas.
Saat cairan kental gelap itu memasuki indera pengecapannya, dia merasakan sesuatu yang lain. Yaitu ketenangan. Dia akan selalu merasa tenang setelah meminum minuman seperti ini.
“Ah.. mazda..” gumamnya seraya meletakkan cangkir itu ke tempat semula.
Dia menyandarkan punggung pada bantalan kursi. Matanya masih tertuju pada cangkir berwarna merah dengan sudut bibir terangkat. Dia memalingkan pandangan, berinisiatif untuk merefreshingkan matanya.
Akan tetapi pandangannya berhenti pada siluet seseorang yang duduk di meja tak jauh darinya. Orang itu adalah seorang lelaki, yang sedang duduk sendirian tanpa memesan apapun. Kedua telinganya tersumbat dengan earphone, bahkan matanya terpejam. Wajah pemuda itu nampak damai saat terpejam, meski Yuri tahu bahwa pemuda itu tidak sedang tidur.
Sesuatu ganjil baru dirasakan Yuri, bahwa mereka hanya berdua di tempat ini. Tidak ada siswa SMA lainnya, pelanggan di tempat ini hanya mereka berdua.
Yuri cepat-cepat membuang pandangannya saat kelopak mata pemuda itu terangkat. DEG! DEG! DEG! Jantungnya berdetak begitu cepat, hingga rasanya benar-benar menyesakkan dada. Dia segera membekap cangkir coklat panasnya dan meneguknya sedikit rakus.
UHUK!
Alhasil dia tersedak. Matanya melirik sekilas pada pemuda yang sama sekali tidak peduli. Yuri mengambil beberapa lembar tisu dari tasnya untuk membersihkan semua muntahannya tadi. Tiba-tiba seorang pelayan menghampirinya.
“Apa nona baik-baik saja?”
Yuri tersenyum, menandakan bahwa dia baik-baik saja.
“Apa ada yang bisa saya bantu?”
“Tidak perlu.”
Yuri pun mengusir pelayan itu dengan halus. Dia sedang tidak ingin diganggu oleh seorang pelayan. Image nya akan semakin buruk dihadapan pemuda itu.
KRIET
Suara derit membuat Yuri menoleh. Dia mendapati pemuda berkulit gelap itu bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh. Pergerakan tangan Yuri terhenti, terbesit rasa kecewa di hatinya, melihat punggung lebar itu perlahan meninggalkannya.
Sulit sekali mendekatimu, gumam Yuri dalam hati. Gadis itu masih enggan berpaling saat punggung lebar Kim Jong In telah menghilang dari pandangannya. Rasa kecewa itu masih tetap menyelimutinya.
Kejadian itu terjadi beberapa jam lalu. Sekarang, dia sudah berada di rumah. Sudah mengganti seragamnya dengan pakaian rumahan, kaos putih bermotif pinokio di bagian badan serta hot pants sepanjang lutut. Yuri merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang. Dia menggeliat malas seakan tidak pernah merasakan kenyamanan tempat tidur berukuran queen size ini. Bibirnya masih mengerucut imut. Dalam pikirannya, masih terbayang dengan jelas sosok pemuda yang telah membuat hatinya jatuh saat pertama kali bertemu. Siapa lagi orangnya jika bukan Kim Jong In.
“Huwaaaaa! Aku lelah seperti ini!” teriaknya dengan suara tidak jelas karena dia menenggelamkan wajahnya pada bantal.
Tiba-tiba dia mengangkat kepala. Menatap boneka teddy bear di hadapannya dengan mata memicing marah.
“Yaa! Dasar coklat jelek! Kau sudah membuatku terus memikirkanmu hampir 3 tahun ini!”
Yuri meniup poninya.
“Dasar tidak peka! Dasar patung berjalan!”
Dia meraih teddy bear itu lalu memukulnya habis-habisan, seakan boneka itu adalah seseorang yang sedang dibicarakannya tadi.
“Kau tidak akan bisa melawanku, coklat! Aku sangat membencimu, sangat!”
Gerakan tangannya terhenti tatkala air matanya menetes. Suara isakan terdengar selang beberapa detik setelahnya. Dia kembali membenamkan wajah di atas bantal. Semakin lama isakan itu semakin terdengar jelas. Membahana di ruangan ini, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Graduation
Seusai acara kelulusan, para siswa dan orang tua masing-masing, masih enggan untuk pulang. Hari ini adalah hari terakhir para siswa senior itu saling bertemu, karena lusa mereka sudah benar-benar pergi dari sekolah ini. Yuri ditemani oleh ibunya. Dia berfoto dengan teman-teman sekelasnya, sang ibu lah yang mengambil gambar. Setelah semuanya selesai, entah bagaimana tiba-tiba seorang wanita seumur ibunya datang dan langsung memeluk ibunya. Yuri yakin itu pasti adalah teman ibunya dulu. Keduanya berjalan pergi untuk reuni berdua.
Kini Yuri sendirian. Dia malas untuk berfoto dengan lainnya, sehingga dia memilih untuk pergi ke taman sekolah sebelum meninggalkan sekolah ini.
Dia duduk di bawah pohon maple seraya meletakkan karangan bunga dan perabot kelulusannya di dekatnya. Dia merenggangkan kedua tangannya ke udara lalu menyandarkan punggung pada batang pohon.
Tidak ada yang menarik dari tempat ini, hanya sebuah pekarangan taman mini untuk mengisi lahan yang kosong. Hanya saja tempat ini membuat dia bisa bebas menghirup udara segar.
Sekian lama terdiam dalam posisi seperti itu, tiba-tiba terbesit sebuah bayangan seseorang di pikirannya. Tatapan mata yang awalnya tenang, kini berubah sendu. Bibirnya bergetar pelan, tangannya meremas ujung blazer yang sebentar lagi akan ditanggalkannya. Sepertinya dia benar-benar sudah gagal. Dia gagal mencintai seseorang.
“Semua ini… percuma..” gumamnya seraya menundukkan kepala. Isakannya mulai terdengar, dadanya naik turun merasakan perasaan itu.
Benar-benar percuma. 3 tahun yang dia lalui di sekolah ini, 3 tahun itulah dia berjuang mencintai pemuda itu. Tapi sampai saat ini, tidak ada jawaban yang berarti. Semuanya sia-sia, percuma.
Bahkan sebelum acara kelulusan digelar, ada sebuah kabar bahwa pemuda bernama Kim Jong In itu telah pergi ke Amerika untuk melanjutkan studi disana.
7 years later
Berkat kecerdasannya, dia diangkat menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang game. Itu adalah sebuah prestasi yang luar biasa, mengingat direktur baru itu adalah seorang wanita muda jelita, Jung Yu Ri.
Kini gadis itu berhasil menduduki kursi tertinggi perusahaan. Meskipun perusahaan ini bergerak dalam bidang game, akan tetapi Yuri sangat menguasainya. Tidak salah dia masuk jurusan teknologi dan lulus cumlaude.
Sore ini, tepatnya pertengahan musim dingin, dia mendapat jadwal bertemu dengan seorang direktur yang bergerak dalam bidang yang sama dari Amerika. Pertemuan akan diadakan beberapa menit lagi. Dengan cepat, Yuri menyelesaikan beberapa dokumen yang harus ditandatangani olehnya.
“Sajangnim, beliau sudah datang.”
Ucapan sekretaris itu membuatnya mengangkat kepala. Dengan sangat terpaksa dia harus membiarkan 4 dokumen yang masih menunggu untuk ditandatangani olehnya. Dia lebih mementingkan tamu, karena perusahaan dari Amerika akan bekerja sama dengannya.
“Dimana beliau?”
“Beliau ingin bertemu anda secara pribadi, beliau sudah menunggu di balkon lantai teratas.”
Yuri mengerutkan keningnya bingung. Akan tetapi dia tetap melangkah menuju tempat yang dimaksud oleh sekretarisnya. Untuk sampai di lantai teratas, dia harus menggunakan lift dan memakan waktu sekitar 2 menit.
TING!
Wanita itu berjalan keluar dengan anggunnya. Dia mendapat sapaan hormat dari para karyawannya, sebagian karyawan yang berjenis laki-laki biasanya akan terkagum-kagum melihatnya, wajar Yuri masih saja sendiri sampai sekarang. Sekian lama berjalan, akhirnya dia sampai di tempat yang dimaksud. Tempat ini jarang dikunjungi siapapun, karena letaknya yang tidak strategis. Dan di lantai ini pun jarang sekali karyawan datang, kecuali untuk pergi ke toilet.
Sesampainya disana, dia tidak menemukan siapapun. Dia berjalan ke tengah-tengah balkon, hening. Tidak ada tanda-tanda orang disini. Apakah sekretarisnya telah berbohong? Ah tidak mungkin, dia kenal betul sekretarisnya. Lalu, kemanakah perginya direktur dari perusahaan Amerika itu.
Tap tap tap
Yuri memutar tubuhnya. Matanya terbeliak saat menemukan sebuah sosok bertubuh tegap nan atletis yang berjalan menghampirinya. Waktu seakan berhenti, Yuri terpaku di tempat.
Tatapan datar itu, kulit coklat itu, sorot mata tajam itu… bukankah dia…
“Kim Jong In?”
Lelaki dihadapannya bergeming. Mereka berdiri berhadapan dengan saling berpandangan. Mata itu tetap sama, mata yang sangat disukai sekaligus dibenci Yuri. Rahang yang semakin tegas, badan yang semakin tegap, tidak bisa dipercaya jika ini sosok Kim Jong In. Benarkah pemuda cinta pertamanya itu sangat sempurna? Dia Kim Jong In atau hanya ilusi saja? Semua itu berputar di otaknya.
“Lama tidak bertemu.”
Suara itu, Yuri baru bisa mendengarnya kali ini. Dia berkedip satu kali, kemudian mengulum senyum yang sedikit dipaksakan.
“Ya, lama tidak bertemu.”
Hening.
Mereka tidak ada yang mau mengangkat topic selanjutnya. Lidah Yuri serasa kelu untuk berucap.
Tiba-tiba lelaki itu melepas jasnya. Kemudian dia berjalan mendekati Yuri dan membalut tubuh wanita itu dengan jasnya. Setelah itu, dia pun mundur 2 langkah.
Sedangkan Yuri masih terdiam seraya menatap lelaki itu. Dia masih belum bisa memahami apa yang baru saja terjadi.
Kim Jong In menggaruk kepala bagian belakangnya sebentar sebelum mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil berwarna merah maroon yang sangat manis. Lelaki itu mengusap tempurungnya sejenak, sebelum membukanya dan mengarahkannya pada Yuri.
Seketika wanita itu melebarkan matanya. Sebuah cincin berlian yang sangat indah. Ada sebuah note yang tertempel di sisi yang terbuka, note itu berbunyi…
W Y B M G F –K (Would You Be My Girl Friend – Kai)
L M –K (Love Me – Kai)
M M –K (Marry Me – Kai)
Yuri mengangkat kepalanya, meminta penjelasan dari maksud tulisan itu. Akan tetapi, Kim Jong In hanya tersenyum. Senyuman yang menandakan bahwa dia benar-benar tulus akan maksud tulisan itu. Yuri terdiam, berusaha untuk memahami dengan benar kalimat yang barusan dibacanya.
Kim Jong In menarik mundur kotak itu dan mengambil cincinnya, tanpa mengucapkan apapun dia memasangkan cincin itu ke jari manis Yuri. Dia mengangkat kepalanya, menatap Yuri sejenak. Sebelum dia mengecup lembut kening wanita itu.
“Saranghae..”
END
~Kim Jong In~
Aku terlalu malu dalam mengungkapkan. Aku tidak sesempurna lainnya. Aku tidak siap bersanding dengan seorang putri. Aku tahu kau mencintaiku, tapi aku tidak bisa untuk berbalik mencintaimu. Keadaanlah yang membuatku seperti ini.
“Tolong berikan kotak ini padanya, ini miliknya.”
Maaf, aku hanya bisa memberimu kotak yang berisi surat bodoh. Aku tidak bisa menahan untuk tidak mengungkapkannya. Kau tahu, perasaanku lega saat menulis huruf-huruf itu. Kuharap kau mengerti maksudnya.
Saat kau tersedak, ingin sekali aku mendekatimu sekadar memberimu air putih dan mengelus punggungmu. Hanya saja aku terus menahan untuk tidak melakukannya, aku tidak mau disebut pemuda lancang.
Sejak dulu aku tidak punya teman, aku berbeda. Itulah alasan mengapa aku tidak bisa mengungkapkannya padamu saat itu. Aku tidak mau kau dalam situasi sulit saat bersamaku.
Mendekati hari kelulusan, aku memilih untuk terbang ke Amerika. Aku tidak ingin air mataku jatuh saat melihatmu di detik-detik perpisahan kita. Aku harus melupakanmu, harus! Aku harus bangkit tanpamu, aku harus bisa menjadi Kim Jong In yang lebih baik! Aku adalah Kai…
Semakin lama jauh darimu, semakin besarlah rasa rinduku padamu. Rasanya sangat sesak. Aku bahkan sempat putus asa untuk tidak melanjutkan kuliah. Aku tidak tahu mengapa aku mengambil jurusan tekhnologi. Perasaanku mengatakan, jika kita akan bertemu karena jurusan ini. Semoga saja itu terjadi.
Benar saja, saat aku sedang iseng membuka situs Korea, aku menemukan namamu sebagai seorang mahasiswi yang lulus cumlaude dengan jurusan yang sama denganku. Perasaanku benar-benar bahagia, detik itu juga semangatku kembali tersulut. Membaca jika kau direkrut sebuah perusahaan game di Korea, aku berjuang mati-matian untuk memasuki perusahaan di bidang sama di Amerika. Sepertinya aku terkena karma, aku buta olehmu.
Entah bagaimana, tiba-tiba aku diangkat menjadi seorang direktur. Kendali perusahaan akhirnya berada di tanganku. Ketika membaca situs Korea yang mengatakan kalau kau baru saja diangkat menjadi direktur baru perusahaan, hari itu juga aku memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaanmu dan keesokan harinya langsung terbang ke Korea. Maaf, pernyataan cintaku terlambat. Tolong jangan sesali pertemuan kita selama ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s