Dracula


dracula

Author : Park Daena
Genre : Romance, Fantasi
Rating : Teen
Length : Oneshoot
Casting: Oh Sehun EXO & Author OC

Gadis itu terlalu lelah berlari. Dadanya sesak. Dia kesulitan bernafas untuk sementara waktu. Ketika dirinya berhenti untuk menghirup oksigen dalam-dalam, suara mengerikan itu kembali terdengar. Orang-orang berkata, suara itu adalah suara Dracula.
Bulu kuduknya meremang. Dia takut, sangat takut. Meski kata orang Dracula itu tidak seburuk monster, tapi tetap saja bayangan Dracula menghisap darah sudah membuatnya ketakutan setengah mati. Meski lelah, dia kembali berlari. Mengayunkan kaki selebar-lebarnya agar segera menjauhi aura-aura hitam di belakangnya. Sialnya! Semakin jauh dia berlari, semakin terasa dekat aura hitam itu.
BRUK!
Batu sialan, rutuknya.
Dia berusaha bangkit, tapi tenaganya telah terkuras banyak. Mengangkat tubuhnya saja tidak kuat. Hal itu membuatnya semakin panic.
Tak berapa lama, seseorang dengan mudah mengangkat tubuhnya. Menghadapkan dirinya pada sosok itu. Dracula tampan.
Seringaian iblis terukir dari wajah itu. Gadis tersebut tidak bisa untuk tidak terpesona akan senyumnya. Dracula, terkenal akan pesonanya, dan itu sangat diakui oleh semua manusia.
“Aku ingin kau jadi istriku.”
Pernyataan mematikan. Jika saja manusia tersihir akan ketampanannya, maka sudah dipastikan hidup mereka akan berakhir beberapa detik setelahnya.
Sialnya, gadis itu mengangguk, menyetujui pernyataan Dracula tersebut.
Dalam hitungan detik, keduanya menghilang dari tempat itu. Tanpa jejak dan arah. Hingga akhirnya mereka telah berada di suatu tempat, ujung jurang.
Pancaran sinar purnama menguatkan tangan Dracula yang mencengkram bahu gadis itu. Setiap seringaian yang dia perlihatkan, layaknya mengatakan jika kematian akan datang.
Tapi entahlah. Gadis itu merasa tak gentar sama sekali. Dia terbius terlalu dalam. Dracula itu tampan, sebuah fakta mengejutkan. Mata tajam, hidung mancung, bibir tipis dengan ujung kedua taring yang terlihat, rambut hitam kelam menantang langit, kulit putih pucat yang lembut, sebuah postur yang begitu sempurna.
“Hiks.”
Bukan teriakan yang terdengar, melainkan sebuah isakan. Gadis itu menangis. Dia menunduk menyembunyikan tangisnya. Ada satu alasan penyebab dia seperti itu. Dracula dihadapannya, tidak jauh beda dengan kekasihnya dulu. Wajah itu mengingatkannya pada seorang pemuda di masa lalu, yang mana meninggal dunia karena penyakit kanker darah stadium akhir.
Pantang bagi Dracula melihat manusia menangis, terlebih santapannya di malam purnama. Haruskah Dracula melihat adegan melankolis tepat di depan matanya? Padahal mereka sudah haus darah melihat seonggok manusia di depan mata.
“Bolehkah aku memelukmu?”
Pertanyaan yang terlontar dari bibir gadis itu semakin membuat sang Dracula kebingungan. Apa yang harus dia jawab? Haruskah dia membiarkan seorang manusia memeluknya sambil menangis?
Gadis itu melangkah mendekat dan kemudian mendekap sang Dracula. Tak dihiraukan dinginnya tubuh Dracula itu. Sang gadis hanya memikirkan sosok di masa lalunya, sosok yang begitu berarti baginya. Ibarat, gadis itu memeluk kekasihnya sendiri.
“Sehun-ah.. aku merindukanmu,” cetus gadis itu yang terdengar parau di dekapan sang Dracula.
Sehun
Sehun
Sehun
Sehun
Sehun
Otak beku Dracula menangkap kata itu. Kata tersebut bagaikan hipnotis yang membuat seluruh sudut otaknya hanya dipenuhi oleh satu hal.
Sehun, siapakah dia?
Sehun, mungkinkah manusia tampan yang mengidap kanker?
Sehun, apa hubungannya nama itu dengan gadis ini?
Sehun, kupikir aku tak asing dengan kata itu.
Sehun, bukankah itu namaku?
DEG!
Dracula itu reflek menjauh. Perasaan terdalamnya berdetak, kembali. Tidak! Katakan tidak jika Sehun itu adalah dirinya! Yakinkanlah Dracula itu.
Gadis itu menatap tepat pada manic mata Dracula. Ada secercah rasa sakit yang menguar dari bola mata bening gadis itu. Bahkan terbesit pula suatu perasaan rindu terdalam. Haruskah sang Dracula itu menyangkal semua yang dibaca dalam pikirannya?
CTAR!
Petir tiba-tiba menggelegar. Langit yang semula cerah dengan sinar purnama, kini berubah kelam dan gelap. Akankah bulan purnama yang berubah warna menjadi bulan merah darah itu akan menghukum sang Dracula?
Angin berhembus kencang, membuat dress gadis itu berkibar tak beraturan. Siapakah yang akan hancur setelah ini? Gadis itu atau Dracula tampan?

Flashback
“Sayang, kau sudah makan?” tanya seorang gadis berbando motif kupu-kupu yang baru saja duduk di pinggiran ranjang.
Pemuda yang diajak bicara, hanya bisa mengangguk lemah dan memberi sebuah senyuman samar. Walaupun begitu, gadis tersebut merasa tenang.
“Syukurlah, sekarang kau tidur. Semoga sembuh, sayang.”
Kecupan hangat nan tulus mendarat di kening pemuda itu. Dunia sungguh tak adil, batin pemuda itu.
10 menit berlalu, setelah pemuda itu dirasa sudah terlelap oleh si gadis, gadis itu tiba-tiba menangis. Jujur saja dia hanya berpura-pura kuat, berpura-pura mengatakan aku baik-baik saja. Karena yang sesungguhnya, batinnya benar-benar terluka. Dia tidak ingin kehilangan orang paling berharga dalam hidupnya.
Tangisnya begitu pilu. Membuat pemuda yang sudah 5 bulan terbaring lemah di ranjang tersebut, membuka mata dan menarik gadis itu dalam dekapannya. Setidaknya, biarkan sekali saja dia memeluk gadisnya sendiri.
“Jangan menangis. Aku benar-benar minta maaf.”
Permintaan dari suara lemah itu membuat tangis si gadis semakin menjadi. Tidak! Gadis itu tidaklah kuat! Dia sangat rapuh! Rapuh ketika melihat sandarannya lebih rapuh darinya.
“Tolong cintailah aku, setulus hatimu sayang.”
Tanpa menjawab pun, gadis itu akan benar-benar melakukannya. Tak ada yang bisa menggantikan posisi pemuda tampan itu di hatinya.
“Nikahi aku sekarang juga.”
Permintaan gila itu terdengar spontan dari bibir si gadis. Pemuda itu sungguh terkejut, haruskah dia mengabulkan permintaan itu?
“Aku tidak ingin dengan pria lain. Ikatlah aku, aku akan ada disisi mu sampai kau tiada.”
Itulah alasan yang dilontarkan si gadis. Bagaimanapun juga pemuda itu tak bisa menolak. Jika takdirnya tidak seperti ini, maka tanpa gadis itu meminta pun dia akan melakukannya.
Akhirnya keesokan harinya mereka pun menikah. Sebuah pernikahan sederhana yang dihadiri oleh keluarga mereka dan beberapa staff rumah sakit. Pernikahan ini adalah pernikahan termanis sekaligus paling menyedihkan sepanjang sejarah.
Sehari setelah pernikahan sederhana itu digelar, kondisi si pemuda tampak melemah. Wajahnya semakin pucat, bibirnya membiru, keringat dingin pun memenuhi sekujur tubuhnya. Hanya gadis itu yang menemaninya dengan sabar, mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Tangan mereka saling bertautan, mengirimkan suatu energy dan kehangatan yang tidak akan bisa didapat pemuda itu lagi. Dalam sakitnya, pemuda itu takut, jika dia mengakhiri kisah cinta ini dengan pergi dari dunia tanpa menjalankan kewajibannya menjadi suami untuk gadisnya. Pikirannya kalut, jawaban paling tepat adalah, aku ingin hidup selamanya!
Atas dasar itu, pemuda itu menyuruh gadisnya untuk pergi mencarikan dia air mineral. Meski berat hati, gadis itu pergi juga. Setelah punggung itu menghilang, kini saatnya dia berbuat gila.
Aura hitam tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia tak gentar, justru sangat-sangat menunggunya sejak tadi. Dia pun melepas paksa jarum infuse di tangannya, kemudian berjalan mendekati Dracula itu. Setelah mereka saling bersentuhan, mereka pun menghilang dari tempat itu. Tahukah apa yang terjadi? Dracula itu membuat sebuah ilusi dengan membuat seonggok manusia sama persis dengan pemuda itu yang di geletakkan tak berdaya di atas ranjang, dia meninggal.
Flashback end

Petir bersiap menghancurkan gadis itu. Atas dasar bahwa, Dracula itu muncul karena gadis itu adalah pemicu keinginan Sehun untuk hidup selamanya. Ini merupakan berita buruk. Gadis itu akan menghilang setelah ini.
Entah karena pengaruh apa, saat aliran listrik petir itu akan menyambar tubuh mungil si gadis, Dracula tersebut menarik dia kedalam pelukannya. Petir itu salah sasaran.
Perasaan sang Dracula berdesir. Inikah rasanya kembali dipeluk oleh pujaan hati? Rasa cinta yang terlalu besar, rasa sayang yang terlalu menggebu-gebu dan rasa rindu yang sangat menyesakkan, bercampur aduk dalam batinnya. Ini konyol, Dracula kembali bisa merasakan hatinya.
Sialnya, Dracula itu tidak bisa menahan untuk tidak mengucapkan, “Aku merindukanmu.”
Langit semakin kelam. Angin berhembus semakin kencang. Mereka berbeda alam, tidak ada yang bisa menyatukan mereka, selain…. Hati mereka sendiri.
Seolah tak memedulikan alam yang perlahan marah karena ulah mereka, keduanya larut dalam pertemuan yang tak terduga ini. Mereka berpelukan dalam hening. Saling mengirimkan suatu rasa yang telah lama tak pernah terucap satu sama lain, rasa rindu.
Dracula itu berusaha sekuat tenaga menahan bau darah segar yang menguar dari tubuh didekapannya ini. Baunya wangi dan membuatnya benar-benar mabuk. Ini darah sempurna, darah yang memang diperuntukkan sebagai penyempurna hidupnya.
“Bawa aku ke alammu, kumohon.”
“Tidak, ini sangat berbahaya.”
“Aku istrimu, selamanya akan menjadi istrimu.”
“Ini dunia berbahaya, sayang.”
“Aku tidak peduli, aku ingin bersamamu.”
Dracula itu tak menjawab. Haruskah dia meneguk darah segar ini sekarang? Kemudian membuat gadisnya berubah seperti sosoknya saat ini? Jawabannya tidak! Dia tak ingin gadisnya hidup dalam bahaya.
“Kita akan bersama meski berbeda alam.”
“Kumohon, minumlah darahku sekarang.”
“Aku tidak sanggup, dunia ini berbahaya.”
“Aku tak ingin kau dalam bahaya seorang diri. Sempurnakanlah hidupku.”
Lagi-lagi Dracula itu terdiam. Keputusan ada di tangannya sekarang.
Baiklah.
Dia akan mengambil keputusan itu.

“Daena-ya…”
Perlahan gadis itu membuka matanya. Ruangan sungguh gelap. Dia yakin, ini bukan malam hari karena ada cahaya yang masuk dari pori-pori tirai yang sangat tebal. Dia terbangun dan mengedarkan pandangan. Di manakah suara itu?
“Aku disini.”
Gadis itu menoleh ke asal suara. Oh, ternyata pendamping hidupnya.
Gadis itu kembali berbaring dan menolehkan kepalanya pada pemuda disampingnya. Benarkah ini bukan mimpi?
Ini dunia nyata.
Gadis itu mengulurkan tangannya, meraba pipi pemuda itu. Dinginnya sedingin es batu. Dia berinisiatif untuk menghangatkannya walau itu akan sia-sia. Dia kecup pipi pemuda itu sangat lembut.
“Aku ingin selalu menghangatkanmu. Kita mulai hidup ini dari awal.
The end!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s