Death Angel (The Story Love Vancouver)


Death Angel

Untitled-1

“AKH!”
Perlahan aku merogoh saku coat lalu setelahnya melahap 2 pil kuning sekaligus. Pahit. Tapi jantungku kembali berdetak normal. Semenjak kejadian itu, jantungku mengalami gangguan yang berhenti berdetak saat aku tersenyum. Ini sungguh menyakitkan.
Dengan langkah gontai, aku mendekati jendela disudut kamar. Kepalaku sedikit terangkat

hingga kedua mataku bisa menatap lurus bulan yang sedang purnama.
Kupejamkan mataku. Aku tidak akan pernah lupa untuk memanjatkan harapan ini.
“Tuhan.. hadirkanlah sosok malaikat pencabut nyawa.”
Kemudian kubuka mataku. Alangkah terkejutnya diriku tatkala melihat lelaki berpakaian hitam berambut merah menyala dan sayap hitam transparan tengah melayang di langit. Aku perlahan melangkah mundur. Ia sangat mengerikan.
Lelaki itu mendekat. Ia berhasil memasuki jendela tanpa membukanya terlebih dulu, sayapnya menghilang dan kini ia sudah berada tepat 10 cm didepanku. Ia menyeringai, seringaian yang menakutkan.
“S-s-siapa kau?”
Saat lampu kuhidupkan, wajahnya berubah tampan dengan senyuman yang menawan. Ia meraih tanganku. Anehnya, tubuhnya transparan namun bisa menyentuhku layaknya manusia biasa.
“Kau memanggilku bukan?”
Mataku membulat sempurna. Berbagai dugaan muncul di kepalaku. Dan dari kesimpulan yang kudapat, mungkinkah ia..
“Malaikat kematian?” gumamku lirih.
Ia tersenyum, lalu tangannya yang lain mematikan lampu dan wajahnya kembali menakutkan. Sontak aku berteriak histeris kemudian menutup kedua mataku. Sedikit demi sedikit aku bergerak mundur, terus seperti itu hingga punggungku menyentuh dinding. Bulu kudukku menegang. Aku tetap bisa merasakan aura-aura aneh disekitarku. Kubulatkan keberanian untuk membuka mata.
“Aku bukan malaikat kematian, nona. Aku malaikat pencabut nyawa. Tenang saja, aku disini bukan untuk membawa rohmu pergi. Aku disini atas perintah.”
Bertahap, kulitku bisa menangkap bagaimana kulitnya. Aku bisa merasakan kulit halus tangannya dalam suhu normal. Dahiku berkerut. Belum lagi, saat ia menghidupkan lampu, tubuhnya sudah tidak transparan dan dia sempurna menjadi manusia.
Ia tersenyum hingga kedua matanya menyipit layaknya bulan sabit. Kulitnya putih bersih, rambutnya tetap merah menyala, kedua iris matanya hitam namun terlihat sedikit merah, tingginya sekitar 180 cm, telinganya normal, hidungnya mancung, badannya tegap, wajahnya tampan, ia sangat sempurna. Berbeda jauh dengan dia yang kulihat beberapa detik lalu.
“Panggil saja aku Virgo.” Titahnya sembari melangkah mundur. Ia berjalan mengelilingi kamarku. Kemudian, ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurku. Oh jangan bilang jika dia akan tinggal disini.
“Aku terlanjur menjadi manusia, jadi aku tinggal saja disini.” Ucapnya sembari memejamkan kedua mata.
Aku mendesah pelan. Semoga ia tidak menyentuhku karena hanya ini ruangan kamarku di flat murah yang kubeli. Perlahan aku membaringkan tubuhku sedikit jauh darinya bahkan hampir saja aku terjatuh. Dan tanpa perasaan, aku menguasai seluruh selimut dan membiarkannya tidur tanpa selimut.
“Hei nona, jangan bersikap egois. Udara malam itu dingin, aku tidak akan menyentuhmu karena aku tidak punya hasrat sama sekali pada siapapun bahkan wanita. Tenang saja, aku hanya mencoba bersikap layaknya manusia.”
Masih dengan mata terpejam ia menarik selimut sehingga membuatku sedikit tertarik. Sambil menggerutu sebal, aku memposisikan kembali tubuhku untuk menjauh darinya.
“Nanti kalau kau jatuh, aku akan mengambil jiwamu.”
Ancaman yang baik. Akhirnya aku hanya bisa menurut, membiarkan hanya guling yang memisahkan kami. Aku tidur memunggunginya. Udara malam yang masuk melalui pori-pori ruangan, membuat mataku berat dan aku terlelap setelahnya.
~
Kriiiiing! Kriiing!
Tanganku mencoba menggapai nakas disamping tempat tidur. Tapi beberapa detik lamanya tanganku tidak kunjung mendapatkan benda berbentuk lingkaran yang selalu berteriak tak berdosa dipagi hari.
HUP!
Dahiku berkerut. Sejak kapan jam wekerku halus dan hangat seperti ini. Kurasa, aku salah menggapai sesuatu. Perlahan kubuka mataku dan menyipit saat cahaya yang menyilaukan berebut memasuki pupil mataku.
Ngh? Manusia?
“HUAAAAAA!!” aku langsung terlonjak dan segera menutupi tubuhku dengan selimut. Hell! Siapa laki-laki ini?
Dahiku berkerut saat ia malah tersenyum padaku. Setelah meletakkan jam weker berbentuk bola milikku diatas nakas, ia melangkah mendekatiku. Membungkuk 90 derajat hingga wajahku dengannya hanya terpaut 10 cm.
“Nona.. apa perlu kujelaskan sekali lagi kalau aku ini datang atas perintah tuhan? Jangan bilang kau juga mengidap Alzheimer. Aku Virgo, kau melupakanku?”
Mataku mengerjap singkat. Oh.. aku baru sadar jika mulai saat ini aku tinggal dengan organisme lain.
Ia menyeringai, membuat dahiku berkerut kembali.
“Organisme? Sebutan yang sangat kasar yang kudengar selama ini. Aku manusia, nona.”
Mataku melebar.
“Kau.. bisa membaca pikiranku?”
Ia tersenyum manis lalu mengusak rambutku. “Apa yang tidak bisa dilakukan malaikat sepertiku?”
Ia melangkah menjauhi tempat tidur, membuka pintu lalu menghilang setelahnya. Kuputar kepalaku keluar jendela. Ingatanku tadi malam berputar kembali. Bayang-bayang malaikat kematian yang sekarang berwujud Virgo, masih terekam jelas dipikiranku. Aku masih tidak habis pikir, benarkah dia malaikat kematian yang selalu kuidam-idamkan? Aku ragu, diwujudnya yang manusia, dia terlihat sangat baik padaku, berbeda jauh dengan kisah-kisah malaikat kematian yang selalu kubaca dibanyak novel fantasi.
“Oh.. kau selalu mengharapkanku?”
Suara serak basah tiba-tiba mengejutkanku. Pintu masih tertutup rapat, namun ia sudah 6 langkah didekatku. Ditangannya terdapat sebuah nampan berisi sepiring roti selai dan 2 gelas susu coklat. Ia mendekati nakas lalu meletakkan nampan itu disana.
“Jangan banyak bergerak atau aku akan mencabut nyawamu.”
Aku merengut sebal. Aku tau dia adalah malaikat pencabut nyawa, tapi dia tidak boleh seenaknya mengacamku seperti itu.
“Aku tidak seenaknya, ini demi kau juga.” Ucapnya ketus sembari menyodorkan segelas besar susu coklat tepat didepan mataku. Aku mendesah pelan, sebaiknya aku tidak boleh memikirkan apapun saat disampingnya.
Ia tertawa pelan lalu mengusak rambutku gemas. Sepertinya dia mulai menyukai rambutku.
“Aku tidak menyukai rambutmu. Hanya saja aku ingin membuat rambutmu selalu terlihat berantakkan. Kau benar, sebaiknya kau tidak boleh memikirkan apapun saat bersamaku.” Ia duduk disampingku lalu meneguk susu coklat miliknya. Bahkan ia bisa mengetahui menu sarapanku dan rasa susu yang kusukai.
“Nanti kita berbelanja. Di kulkas tidak ada apapun yang bisa dimasak. Makanan instan tidak baik untukmu.” Ujarnya sambil mencomot satu potong roti selai strawberry dan melahapnya.
“Kenapa kau memikirkanku? Kenapa tidak langsung kau cabut saja nyawaku?” kuletakkan gelas yang masih terisi cukup banyak diatas nakas dengan sedikit bantingan. Kesal juga ternyata berhubungan dengan dia.
“Tidak semudah itu. Dicatatanku, waktumu masih cukup lama. Aku tidak bisa seenaknya mengambil nyawamu. Bisa-bisa aku dipecat jadi malaikat.”
Dengan malas kuambil satu potong roti selai coklat lalu mengunyahnya sedikit cepat.
“Uhuk!”
Gelasku kembali tersodor didepan wajahku, tanpa berpikir panjang lagi aku segera merebutnya dan meneguk cairan coklat didalamnya hingga ludes. Gelas kosong itu kuletakkan kembali diatas nampan.
Kuputar kepalaku untuk menatap manic matanya. Aih.. bisa-bisanya ia menatapku dengan begitu polos. Apa dia lupa siapa dirinya yang sebenarnya?
“Kenapa menatapku seperti itu, eum? Masih menyuruhku untuk mencabut nyawamu lagi?”
Kepalaku serentak menunduk. Meskipun aku sangat ingin itu, tapi aku masih sangat takut.
“Wajar kalau aku memperhatikanmu. Aku hanya ingin kau menikmati sisa hidupmu sebelum rohmu kucabut. Aku memang malaikat pencabut nyawa, tapi bukan berarti aku selalu bersifat jahat.”
Aku mengangguk lemas. Semua yang memenuhi pikiranku sudah terjawab dengan baik olehnya. Jadi, mulai saat ini aku harus bisa beradaptasi dengannya. Aku sudah harus tinggal satu atap dengan orang lain lagi. Padahal, aku hanya ingin menikmati hidupku sendiri dan mati perlahan tanpa disadari orang lain.
“Pikiranmu negative semua. Lebih baik kita pergi berbelanja. Bulan depan sudah masuk musim dingin, persediaan makananmu sudah ludes.”
Ia bangkit lalu mengangkat nampan. Sebelum langkahnya semakin menjauh,
“Virgo!”
Ia memutar tubuhnya lalu menatapku datar. “Ada apa?”
“Sampai kapan hidupku?”
Hening. Matanya tetap menatapku datar. Tidak ada ekspresi terkejut atau kesal atau semacamnya. Ia memutar tubuhnya kembali.
“Itu rahasia. Satu detik sebelum kematianmu, aku akan mengatakannya.”
Punggungnya sudah menghilang. Menyebalkan, bagaimana bisa mengatakan ‘kau mati sekarang’ dalam waktu satu detik.
Lamunanku buyar saat kudengar ia berteriak memanggil namaku. Aih, suaranya begitu menggelegar sampai-sampai telingaku berdegung setelah mendengar teriakkannya.
“Ya! Aku akan kesana. Tunggu!”
~~
Langkahku terbilang santai namun cepat. Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan kota Vancouver. Letak flatku tidak jauh dari pesisir pantai. Setelah berbelanja tadi, aku terus memaksa Virgo untuk menemaniku berjalan-jalan disekitar flat. Aku sangat merindukan suasana luar. Dimana laut terhampar luas didepan mata dan terdapat sebuah gunung yang menjulang didekatnya. Hingga secara tak sadar aku tersenyum, dan spontan langkah kakiku terhenti.
Tanpa banyak bicara lagi, aku segera merogoh saku cardiganku untuk mencari obat tersebut. Sial! Sudah tanganku sangat sulit digerakkan, botol obat itu tak kunjung kudapatkan. Akh tidak!
Aku sudah tidak kuat lagi. Virgo menghilang tanpa jejak. Oh tidak! Nafasku.
Mataku mulai meredup. Kakiku lemas secara otomatis, dan tak berapa lama kemudian semuanya gelap.
~
Ini belum waktunya mati.
Perlahan kubuka kedua mataku. Retinaku menangkap bayangan langit-langit ruangan yang sangat kukenal. Ah.. ini flatku. Aku belum mati.
Kuedarkan pandanganku kesekeliling. Akhirnya mataku menemukan seorang laki-laki seumuranku tengah asyik memainkan mp3 ku. Ku coba untuk turun, namun..
“Jangan bergerak dulu. Tubuhmu masih lemah.”
Aku mengalah dan membatalkan niatku untuk turun dari ranjang. Ia benar. Bahkan saat menggerakkan jari saja itu terasa ngilu dan kaku.
Kulihat ia berjalan mendekatiku setelah memplay lagu dari Christina Perri bertajuk A Thousand Years. Entah kenapa, saat mendengar lagu itu dan melihatnya melangkah mendekat, jantungku bekerja dengan tidak normal yang tentu saja sangat berbeda dari sebelumnya. Ia selalu menampilkan gurat khawatir disetiap langkahnya. Dan begitu ia duduk didekatku, punggung tangannya langsung ia letakkan diatas keningku. Pancaran rasa lega langsung terlihat dari wajahnya. Ia menatapku dengan senyum tulus.
“Suhu badanmu mulai menghangat. Kau sembuh dengan cepat.”
Aku hanya bisa mengangguk menanggapinya lalu memilih untuk duduk. Ia bangkit dan melangkah kembali ke sofa.
Ekspresi wajahnya selalu terlihat seperti itu. Datar dalam diam, tampan dalam senyuman dan mungkin mengerikan dalam amarah. Ia merebahkan punggungnya dibantalan sofa. Tatapan matanya yang datar masih menatapku intens.
“Lain kali jangan memaksaku untuk menemanimu jalan-jalan. Tubuhmu berat.”
Pipiku mungkin memerah. Aih, pasti dia yang menggendongku kemari. Tapi, aku yakin dia membawaku kembali ke flat dengan bantuan teleportasi, kan dia memiliki banyak kekuatan antik yang berbeda dari manusia biasa.
“Aku tidak bisa berteleportasi jika bersama dengan manusia. Teleportasi itu hanya berlaku untuk diriku sendiri.”
Aku mengangguk paham. Baiklah, tanpa perlu kuucapkan ia tau semuanya. Lagi-lagi aku berusaha untuk tidak tersenyum.
Perlahan kuhirup sebanyak-banyaknya oksigen yang langsung membuat paru-paruku dingin. Rasa-rasanya karena terlalu sering mendapat gangguan jantung, paru-paruku ikut terganggu. Aku pasrah, ini sudah jalan hidupku.
Saat lagu itu sudah tidak membahana di kamarku, ia meletakkan mp3 itu diatas meja lalu melangkah kesisi ranjang yang lain. Tanpa memberi aba-aba apapun ia langsung berbaring dan memejamkan matanya. Aku heran, rupanya malaikat juga butuh tidur.
“Aku manusia sekarang.” Ujarnya dengan mata tertutup. Aku tak menjawab dan memilih untuk menonton televise diluar.
~
Musim salju akhirnya datang. Meski udara dingin, aku bersikeras untuk melihat salju turun di teras flat. Gerakkan yang sangat lembut itu membuatku terpana. Ah.. lagi-lagi aku harus menyambut moment ini dengan ekspresi yang sedatar mungkin. Sungguh menyiksa.
“Wah.. salju.” Suara serak basah mengagetkanku. Kepalaku berputar keasal suara dan langsung memberikan deathglare padanya. Ia selalu datang tiba-tiba.
Bukannya merasa bersalah ia malah terkekeh ringan padaku. Pandangannya kembali kedepan, melihat benda-benda putih jatuh dari langit.
“Aneh ya penyakitmu. Hanya karena tersenyum, jantungmu akan berhenti berdetak. Meski aku adalah malaikat, aku pasti akan sangat tersiksa jika tidak tersenyum. Kau wanita yang sangat kuat.”
Jantungku berdesir mendengar penuturannya. Sesegera mungkin kubuang pandanganku agar desiran ini hilang. Namun tak kunjung terjadi, membuatku semakin sesak dibuatnya.
“Jangan. Jangan memiliki perasaan apapun padaku.” Ucapannya yang tiba-tiba membuat kedua mataku terbelalak.
“Aku bisa membaca pikiran, kau tau kan? Sorry, mungkin kehadiranku dan perubahan wujudku menjadi manusia membuatmu jatuh cinta. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu, Lyra.”
Dia tau namaku? Kepalaku terputar kembali padanya. Ia menatapku dengan tatapan dan senyum teduhnya. Ia sungguh malaikat.
“Aku hadir disini, agar kau bisa menikmati hidupmu sebelum aku mengambil nyawamu.”
Kepalaku tertunduk. Aku selalu takut jika membahas kematian dengannya, yang notabene malaikat pencabut nyawa. Namun aku memang selalu bersikeras ingin mati. Aku juga tidak bisa tidak mencintainya.
Kulit yang halus dan hangat menyentuh telapak tanganku. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya lembut. “Sekali lagi maafkan aku, aku tidak bisa membiarkanmu memiliki perasaan padaku.”
Sangat menyakitkan. Beginikah mencintai sosok yang berbeda? Bibirku bergetar, jariku gemetar, cairan liquid mulai mendominasi kedua mataku. Tak berapa lama aku terisak. Aku bisa merasakan tangannya melepasku dan ia mengusap pelan pundakku.
“Don’t cry.. sungguh aku minta maaf.”
Tanpa menjawab, aku segera melangkahkan kakiku memasuki flat. Kurebahkan tubuhku di ranjang dengan wajah yang tertangkup dibantal. Mungkin.. dicacatan takdirku aku mencintai sosok malaikat.
~
Aku benar-benar ingin mati. Bukan karena Virgo saat itu meminta maaf, tapi aku rasa memang sebentar lagi jiwaku akan pergi. Semakin hari tubuhku semakin lemah. Perutku mulai sakit, sepertinya lambung dan ginjalku bermasalah. Pernafasanku pun semakin tidak teratur, bahkan posisi tidur saja harus menyamping, biasanya Virgo yang membenahi letak tidurku. Dia selalu menjagaku bahkan saat aku terlelap.
Di pagi yang tidak begitu cerah, tiba-tiba saja Virgo mengajakku ke pesisir pantai. Dari gelagatnya hari ini dia terlihat sangat aneh. Dia dengan sabar dan penuh kelembutan, membantuku memakai sweater, jaket bulu, kaos kaki, topi beanie, syal dan bahkan sarung tangan. Ini sudah sangat komplit, tubuhku tidak sedingin sebelumnya, tapi, langkahku terasa berat. Untung dia berbaik hati membantuku berjalan.
Akhirnya kamipun sampai dan ia menyuruhku duduk disebuah bangku diantara 2 pohon cemara. Aku hanya menurut dan duduk disana. Pandanganku tak henti-hentinya menjelajahi panorama laut di musim salju. Suhu disini tidak se ekstrim daerah subtropis lainnya. Sebelum berangkat tadi, aku melihat suhu hanya 2 derajat celcius, setidaknya ini belum mencapai titik beku.
“Katakan padaku, apa harapanmu sebelum mati?”
Suara itu membuatku memandang laut dengan miris. Aku tahu arah pembicaraannya kemana. Mungkin hari ini adalah jawaban dari feelingku akhir-akhir ini.
“Kenapa kau bertanya? Kenapa tidak membaca sendiri dipikiranku?”
“Aku tidak mau. Aku hanya ingin lebih banyak berbicara denganmu saat ini.”
Kutundukkan kepala melihat kedua tanganku yang terbalut sarung tangan. Aku semakin yakin waktunya sudah dekat.
“Aku sebagai manusia memiliki banyak harapan. Aku ingin hidup lebih lama, aku ingin hadir kembali dalam kehidupan keluargaku, aku ingin melanjutkan sekolah, aku ingin tersenyum pada orang lain dan aku juga ingin mencintai seseorang.”
Virgo ikut menunduk. Ia hanya menatap datar kedua tangannya yang saling bertautan.
“Aku sebagai malaikat juga memiliki banyak harapan. Aku ingin kembali menjadi manusia biasa, aku ingin bertemu orang-orang yang menyayangiku, aku ingin pergi ke sekolah lagi, dan aku juga ingin mencintai seseorang.”
Aku hanya diam, kuusahakan untuk memberinya ruang berbicara.
“Aku dulunya seorang manusia. Tepatnya seribu tahun lalu. Hidupku sangat bermakna. Aku hidup bersama seorang adik perempuan. Dia cantik, aku rindu wajahnya.”
Aku menghela nafas. Kuusap pelan punggungnya dan tersenyum manis.
DEG!
“Ah..”
Mataku bisa melihat Virgo menatapku lembut. Tangan kanannya melingkar dipinggangku. Sedangkan tangannya yang lain berubah transparan dan memasuki tubuhku, menarik sesuatu yang membuatku ingin berteriak kesakitan namun suaraku menghilang otomatis.
“Maafkan aku.. inilah waktunya hidupmu berakhir. I love you too..”
Hanya itu kata-kata yang kudengar sebelum nafasku benar-benar menghilang. Senyumannya yang manis terukir sebelum aku memejamkan mata.
“Kita akan bertemu nanti.”
Semuanya pun gelap.

-End-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s