Part Of My Life [Chap. 2]


part of my life

Genre : Family, romance, little comedy, little sad
Rating : teen
Length : Chaptered
Casting : Oh Sehun, Park Daena (OC), Jung Minri (OC), Jung Hankyung (OC), others cameo

“Chagiya, kenapa kau sendirian disini? Mianhae, kau menungguku lama.” tiba-tiba seorang namja bercoat merah muncul dan langsung berdiri diantara Daena dan lelaki ganas itu.

Daena mengerutkan keningnya bingung, namun saat membaca sebuah tulisan yang ditunjukkan di punggung tangan namja bercoat merah itu, dia baru mengerti.
“A-ah.. ti-tidak apa… cha-chagi..”
Namja berseragam SMA itu langsung bergerak pergi bersama kawan-kawannya saat bus datang. Daena menghela nafas lega.
“Huh… hampir saja.”
Saat bus berlalu, Daena memilih tak peduli tapi malah memandangi namja disampingnya.
“Joesonghammida. Aku.. sangat berterima kasih padamu.”
Namja itu melirik sekilas. “Eum. Tidak masalah. Lain kali jangan menunggu sendirian.”
“Ne, akan kuingat itu.”
Tak berapa lama bus datang. Namja itu langsung melangkah masuk, tapi beda lagi dengan Daena yang kerepotan mengangkat koper.
Pintu hampir saja tertutup kalau saja namja itu tidak keluar dan membantunya mengangkat koper.
“Cepat naik.”
“Ne, kamsahammida.”
Didalam, suasana bus penuh. Tempat duduk sudah terisi semua. Bahkan beberapa orang berdiri. Akhirnya Daena memilih berdiri sambil memegangi kopernya.
CKIT!
Bus berhenti mendadak hingga membuatnya hampir terjungkal kedepan. Beruntung seseorang memegangi tangannya dari belakang. Dia buru-buru menoleh dan mengucapkan terima kasih. Tapi matanya melebar tak percaya jika yang melakukan itu adalah namja yang tadi.
Rasa-rasanya dunia sangat sempit. Tiga kali berturut-turut namja itu membantunya. Mereka bahkan tidak saling mengenal.
“Berpeganganlah.”
Lamunan Daena buyar. Dengan wajah malu, dia menjawab,
“Pegangannya terlalu tinggi.”
“Berpegangan padaku.”
Gadis itu mendongak tak percaya. Namun karena bus bergerak sedikit ugal-ugalan, akhirnya dengan ragu dia mencengkram ujung coat namja itu.
“Itu sama saja.”
Namja itu meraih pergelangan tangan Daena dan menggenggamnya erat. Genggamannya sangat terbilang posesif karena membuat tangan Daena sedikit sesak bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin.
Bus kembali berhenti mendadak. Kini Daena bukannya terjungkal kedepan tapi malah tertarik kebelakang hingga kepalanya membentur tubuh seseorang. Dia langsung memutar tubuhnya hendak meminta maaf. Dan lagi-lagi namja itu.
“Mianhae, mianhae.”
“Tidak masalah.”
Setelah kejadian itu, bus melaju tenang. Tapi tidak dengan Daena. Dia sangat gelisah, kapan bus itu berhenti ditempat tujuannya.
“Myeongdong… myeongdong.. aigoo, kenapa supirnya tidak menyebutkan tempat itu?” gumamnya gelisah.
Suaranya terdengar ditelinga namja itu.
Bus pun berhenti tepat didepan sebuah halte dekat pusat perbelanjaan. Pintu bus terbuka.
“Keluarlah.”
Daena mendongak bingung.
“Ini Myeongdong.”
“Oh? Benarkah? Ah.. baiklah. Sampai jumpa nanti.”
Gadis itu segera mengangkat kopernya dan berlari turun. Dia bahkan lupa membayar busnya.
“Agasshi. Agasshi! Kau belum membayar.” Seru supir tersebut. Namun Daena sudah berlari menjauh. Mau tak mau supir itu bangkit berencana mengejar, tapi seseorang menahannya.
“Saya akan membayar bagiannya.”
Flashback end.
Sehun mendorong pelan pundak Daena. Dia sedikit membungkuk agar wajahnya bisa sepantaran dengan tinggi gadis tersebut.
“Dae-ya, lain kali jangan menyembunyikan apapun dariku. Sekarang kau bagian dari hidupku juga. Aku… akan membiarkanmu tinggal disini.”
“Eoh? Ani Hunie.. aku akan-”
“Kau punya tanggung jawab mengurus anak-anak. Aku tidak tega melihatmu pulang pergi dari sini ke sekolah dan ke apartemen setiap harinya. Transportasi harus membayar, Dae.”
Gadis itu terdiam, kemudian mengangguk. “Baiklah. Aku akan membayar uang se-”
“Sekarang ini adalah rumahmu. Lakukan apapun yang kau mau seperti setiap kau datang kemari. Tidak ada larangan untukmu.”
“Hunie..”
“Ini bukan rumah appa, tapi rumahku. Kedua anak itu juga punya hak dengan rumah ini, begitupun dirimu sekarang.”
“Hiks.. kau benar-benar menyebalkan..”
Daena langsung berhambur memeluk namja itu. “..aku punya hutang yang sangat banyak padamu. Hiks. Sejak awal kau memang sangat menyebalkan. Aku benci dirimu. Terima kasih untuk segalanya.”
Sehun terkekeh ringan. “Dasar kau ini. Berterima kasih saja harus secerewet itu.”
“Aku cerewet karena dirimu.”
Tanpa kedua remaja itu tahu, dua anak kecil disebuah sudut sedang mengintip mereka. Kedua anak itu terlihat senyum-senyum sendiri melihat pemandangan itu.
“Noona, hyung itu keren ya? Nanti Hankyung ingin seperti dia.”
Minri tersenyum geli. “Noona nanti juga ingin seperti eonni itu. Mereka sangat serasi.”
“Ne, mungkin appa eomma juga seperti itu.”
“Bagaimana kalau mulai sekarang kita panggil mereka appa eomma? Sepertinya akan lebih menyenangkan.”
“Ide bagus.”
Daena menyudahi pelukannya kemudian menghapus jejak air mata di pipinya.
“Ah.. aku sampai lupa kewajibanku. Aku harus segera memasak. Kau, bangunkan anak-anak.”
Sehun tersenyum sambil mengusap puncak kepala Daena. “Kau sangat cocok menjadi eomma, haha. Sudah cerewet, suka memerintah pula. Dasar.”
Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal. “Suatu saat nanti aku pasti menjadi eomma. Dan kau menjadi appa. Ish, kau harus merubah sikapmu pada anak-anak.”
“Ne, aku pasti akan merubah sikapku.”
“Sudahlah, cepat bangunkan mereka.”
Sehun mengangguk kemudian melangkah menjauhi Daena, namun langkahnya berhenti tiba-tiba saat dia menangkap bayangan dua orang anak kecil yang berada dibalik dinding. Dia lipat kedua tangan didepan dada dengan ekspresi dingin dibuat-buat.
“Yaa kalian, keluarlah.”
Daena mengerutkan keningnya bingung. Dia masih akan mencuci sayuran saat Sehun tiba-tiba berkata seperti itu.
“Hunie, sikapmu belum berubah.”
“Kau diam saja. Mereka itu sudah bangun. Minri Jung, Hankyung Jung, cepat keluar atau kalian tidak akan mendapat jatah sarapan.”
Ancaman itu berhasil. Kedua anak itu keluar dari balik dinding dan berjalan pelan-pelan dengan kepala tertunduk. Mereka berhenti tepat didepan Sehun.
“Sedang apa disana?”
“Tidak ada, appa.”
Daena berjalan mendekat. Sama halnya dengan Sehun, dahinya semakin berkerut.
“Kau memanggilku… appa?”
Kedua anak itu mengangguk dengan kepala tertunduk. Sebagai wanita, Daena pun mengangkat dagu mereka lembut.
“Katakan, kalian sedang apa disana? Noona janji tidak akan memarahi kalian.”
Mereka menatap Daena dan Sehun bergantian. Dan Minri pun angkat bicara.
“Maaf eomma, appa… kami tidak sengaja melihat kalian.”
Kedua remaja 18 tahun itu mendelik horror. “EOMMA APPA?!”
Mereka berpandangan sejenak. Sama-sama terkejut akan panggilan yang dilontarkan kedua anak itu.
“Ne. Hyung sangat keren, Hankyung rasa hyung seperti appa.”
“Eonni sangat baik dan cantik, Minri juga merasa eonni seperti eomma.”
Kedua remaja itu mengerjap sejenak. Hingga kemudian Sehun bergerak menjitak kening kedua anak itu bergantian.
“Dasar anak kecil. Aku dan dia masih muda dan belum menikah. Aigoo.. kecil-kecil sudah tahu hal yang seperti itu.”
“Sssh, appo appa.” Keluh Hankyung sambil mengusap keningnya.
Beda lagi dengan tindakan Daena. Dia benar-benar menunjukkan sisi keibuannya.
“Maafkan appa, ne? Sekarang lebih baik kalian cepat mandi. Eomma akan memasakkan sesuatu yang special untuk kalian.”
Kedua anak itu mengangguk semangat. “Siap eomma.”
Mereka melesat pergi sesaat kemudian. Tinggal kini Sehun dan Daena saling bertatapan.
“Baru saja kita membahas masalah appa eomma, mereka sudah lebih dulu memanggil kita seperti itu.” Ketus Sehun sambil memperparah bentuk rambutnya.
Daena tertawa ringan. “Tapi aku suka. Aku seperti merasa punya anak. Huwaa… menyenangkan juga bertingkah seperti ibu.”
Sehun menggeleng prihatin. “Dasar AB style.”
“Sudahlah, sekarang kau menyingkir dari sini. Kita akan terlambat kalau kita terus mengobrol seperti ini.” Gadis itu melenggang mendekati tempat pencucian piring untuk mengerjakan tugasnya yang tertunda.
Lagi-lagi Sehun menggeleng prihatin. Dia berjalan mengikuti gadis itu.
“Kau mau mendapat hukuman karena seragammu kotor?”
Daena berputar tiba-tiba. “Maksudmu?”
Sehun mendesah. Dia memilih untuk tidak menjawab dengan kata-kata tapi menjawabnya dengan tindakan. Sama sekali tanpa niatan buruk, dia berbaik hati melepaskan blazer sekolah Daena dan menggantinya dengan apron biru muda. Apron itu sering digunakan Song ahjumma saat memasak di rumahnya.
“Tidak ada orang yang memasak memakai blazer.” Ucapnya sebelum bergerak pergi. Dia tersenyum tipis saat berjalan menjauhi gadis tersebut. Dia sama sekali tidak menyangka akan bersikap sejauh ini pada seorang gadis.
“Eoh jinjja! Seharusnya aku tampar pipinya sewaktu melepas blazerku. Akh! Apa aku dan dia benar-benar serasi menjadi appa eomma? Aigoo!!! Andwae!!”
~
Setelah menitipkan Jung bersaudara pada Song ahjumma, Sehun dan Daena pun pergi ke sekolah menggunakan sepeda motor. Sesampainya di sekolah, mereka mendapat sorotan dari semua kalangan. Mulai dari siswa, guru, satpam bahkan para penjaga kebun. Pemandangan ini sangat langka, Sehun yang terkenal dingin itu membonceng seorang gadis dan gadis itu adalah Daena si yeoja kuper.
Setelah motor terparkir di tempat biasa, mereka pun turun. Daena merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, sedangkan Sehun sibuk mengatur seragamnya.
“Annyeong chagiya.”
Seorang yeoja langsung merangkul lengan kanan Sehun. Dia adalah Kim Yeon hee, gadis yang suka sekali mencari gara-gara di sekolah. Dia berada satu tingkat diatas mereka.
“Singkirkan tanganmu, gadis jelek!” seru Sehun sambil mendorong kasar tubuh gadis itu.
“Akh! Kenapa kau seperti itu chagiya?”
Sehun tetap berwajah datar. Dia berpura-pura tuli kemudian menangkap pergelangan tangan Daena.
“Hanya dia yang boleh memanggilku ‘chagiya’.” Celetuknya sebelum beringsut pergi dari tempat itu.
“Mwo?! Gadis kuper itu? Argh! Dasar gadis murahan!”
“Jangan didengar.” Bisik Sehun tepat didepan lubang telinga Daena. Gadis itu hanya mengangguk lemah.
Mereka berjalan menyusuri koridor dengan tangan yang saling bertautan. Sehun bertingkah seperti tidak sedang terjadi apapun. Beda lagi dengan Daena yang berusaha menutupi wajahnya.
Akhirnya mereka sampai di ruang kelas bernama ‘XI- A7’. Sehun tidak membiarkan Daena duduk sendiri dibarisan depan. Dia meminta dua teman sekelasnya yang duduk di pojok belakang untuk pindah kedepan. Beruntung mereka mau, jadi Sehun dan Daena langsung menggunakan tempat ini. Dan hari ini, mereka menjadi perbincangan hangat seisi sekolah.
Jam istirahat datang, Daena lekas meletakkan kepalanya diatas meja. Dia terlalu lelah untuk mendengar semua gossip-gosip yang memenuhi otaknya. Matanya memejam, berusaha menghilangkan suara-suara itu.
Tapi tak berapa lama, sesuatu terpasang disalah satu telinganya. Dia membuka matanya perlahan dan langsung menemukan wajah tampan Sehun yang sedang memandangnya dalam posisi yang sama. Telinga kanannya dan telinga kiri Sehun, tersambung oleh sebuah earphone berwarna putih.
“Disaat seperti ini, kita sangat membutuhkannya.”
Senyum samar itu, hanya Daena yang bisa menyadarinya. Meski rasanya berat, tapi dia berusaha untuk balas tersenyum.
“Kau benar.”
Hari itu berlalu sangat cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 9.45 malam. 15 menit lagi bel pulang akan berbunyi.
Daena tiba-tiba bangkit dan membuat Sehun mengangkat kepala.
“Aku ingin ke toilet.”
“Aku antar.”
“Andwae. Tidak apa, kau jangan mengantarku terus. Tetaplah disini.”
“Tapi-”
Tatapan yakin itu membuat Sehun bernafas pasrah. “Baiklah. Jaga dirimu.”
Daena mengangguk pelan kemudian beranjak keluar. Dia langsung melesat ke toilet wanita yang tersedia diujung lantai ini. Dia memasuki satu bilik.
BYUR!
Suara gaduh pun terdengar di ruang itu, seperti suara orang berlari. Mereka tak memedulikan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang terkena guyuran air es seperti itu.
Tubuhnya menggigil hebat. Bahkan kepalanya sedikit pusing karena tertimpa es batu yang ukurannya lumayan besar. Sekuat tenaga ia menyeret kakinya mendekati pintu. Namun sialnya pintu terkunci. Rasa pusing dan dingin itu tak bisa dia tahan lagi. Akhirnya semuanya gelap.
Kriiiiiiiing! Kriiiiiiiiiing!
Sehun melirik arlojinya gelisah. Setelah guru mengakhiri kelas, dia segera berbenah dan melesat keluar sambil membawa tas Daena juga. Diluar suasana sudah sedikit sepi, dan dia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda kemunculan gadis itu.
Namun suara tawa para gadis yang membahana membuatnya menoleh. Kim Yeonhee dan gengnya terlihat berjalan santai dari sudut sana. Sehun segera bersembunyi sambil mendengarkan ocehan mereka.
“Haha, pasti sensasinya fantastik. Ah… harusnya kita jangan meninggalkannya disana. Aku penasaran bagaimana wajahnya.”
“Ugh… pasti dingin ya, diguyur air es, haha. Seperti di kutub utara, brr.”
Suara tawa terdengar membahana.
“Kita lihat dia besok. Aku sudah menguncinya disana dan kunci aku letakkan dibawah pot. Eum.. tidak akan ada yang tahu keberadaannya kecuali kita..”
Para gadis itu menghilang disebuah simpangan. Sehun segera berlari menuju toilet wanita. Dia tak peduli akan mendapat hukuman apa jika ketahuan masuk tempat seperti itu. Yang pasti dia harus menemukan gadis yang telah menjadi bagian hidupnya.
Sesampainya disana dia langsung mengangkat satu persatu pot bunga hingga mendapatkan kunci toilet. Setelah itu ia segera membuka pintu menggunakan kunci tersebut. Matanya menemukan seorang gadis yang tergeletak tak berdaya diatas lantai toilet. Wajah gadis itu pucat dengan bibir memutih.
“Dae-ya. Dae.”
Tak ada jawaban, Sehun segera mengangkat tubuhnya ala bridal style kemudian membawanya menuju lantai dasar tempat dimana ruang kesehatan berada.
BRAK!
Tak peduli sopan santun atau tata krama lagi. Dia langsung menendang pintu ruang kesehatan kemudian berlari masuk. Ia baringkan tubuh gadis itu diatas ranjang pasien ditengah ruangan.
“Apa yang harus kulakukan?! Dae-ya! Dae! Bangunlah!”
Menepuk pipipun tidak berpengaruh. Suhu tubuh gadis itu sangat tinggi bahkan wajahnya hingga memerah.
Akhirnya Sehun melepaskan blazernya. Dia lebih dulu melepaskan blazer sekolah Daena yang basah sebelum mengganti dengan blazer miliknya. Dia juga mengganti kaus kaki gadis itu dengan kaus kakinya. Bahkan dia biarkan sepatunya dipakai oleh gadis tersebut.
Tidak ada banyak waktu. Sehun melupakan sepeda motornya. Ia memilih memberhentikan taxi dan melesat pulang.
Dia tidak langsung ke rumah, melainkan berhenti di rumah Song ahjumma.
“AHJUMMA! BUKA PINTUNYA!!”
CKLEK
“Yaa! kenapa kau—omo! Anak siapa ini, Hun?!”
“Aku jelaskan nanti. Cepat rawat dia, dia demam tinggi.”
“Baiklah, ayo masuk.”
Sehun membaringkan tubuh Daena diatas sebuah ranjang. Karena terlalu cemas, dia hampir saja mengganti sendiri pakaian Daena kalau tidak segera dihentikan Song ahjumma.
“Kau mau apa, huh?! Pulanglah ambil pakaiannya.”
Namja itu langsung menurut dan melesat pulang ke rumah. Dia mengambil satu setel pakaian tidur serta berbagai perlengkapan lainnya. Dia bahkan tidak memedulikan dirinya sendiri.
Dia kembali ke rumah kecil itu dengan membawa perlengkapan yang dia ambil tadi. Melihat apa saja yang dibawanya, Song ahjumma tersenyum simpul.
“Dasar kau ini. Kau bahkan tahu semua perlengkapan wanita. Kenapa tidak langsung mencari jodoh saja? Hm.. sekarang keluarlah, buatkan bubur dan minuman untuk gadis cantik ini.”
Sehun mengatur nafasnya sejenak. Dia bukannya langsung keluar tapi malah mendekati Daena.
“Mianhae, aku gagal menjagamu kali ini.” Gumamnya sebelum memberi satu kecupan hangat tepat dikening. Kemudian dia pun melesat keluar. Dia bahkan tak memedulikan senyuman misterius dari Song ahjumma.
“Agasshi, kau tahu? Dia tidak pernah berlaku seperti itu pada siapapun selama ini. Kau gadis yang sangat beruntung.”
10 menit berlalu..
Sehun kembali ke ruangan itu dengan membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu hangat. Dia letakkan nampan itu diatas nakas disamping tempat tidur.
“Aku sudah mengganti pakaiannya, untuk sementara ini dia harus dikompres rutin dan pakaiannya harus tebal. Karena kau hanya membawa satu setel pakaian, makanya aku memakaikan semua jaket dan sweaterku padanya. Jaga dia disini dan makan bubur itu. Kondisimu benar-benar berantakan.”
Setelah menepuk poni Sehun, Song ahjumma segera keluar ruangan sambil membawa seragam basah milik Daena Sehun. Wanita itu membiarkan kedua anak tersebut disana. Karena dia yakin, Sehun tidak akan berani macam-macam.
Namja itu melangkah lemas mendekati ranjang itu. Dia pun duduk disalah satu sisi ranjang dengan badan menghadap gadis itu. Pancaran matanya lelah. Di sekolah tadi, dia memang berlari sambil menggendong Daena serta membawa dua tas berat dari lantai dua turun ke lantai satu. Dia pun mengejar taxi yang hampir saja meninggalkannya.
Tapi rasa lelah itu seakan terkalahkan oleh rasa cemas, khawatir dan bersalah. Dia merutuki diri sendiri karena tidak setanggap dulu. Dia merasa gagal menjaga satu orang bagian hidupnya.
Tok tok tok. Cklek.
Dia menoleh. Matanya mendapati dua anak kecil yang berjalan kearahnya sambil membawa baskom kecil berisi air dingin serta sehelai kain. Minri segera mengompres kening Daena, sedangkan Hankyung menyerahkan satu setel pakaian bersih pada Sehun.
“Appa.. nanti appa juga jatuh sakit. Ini bajunya.”
Sehun terdiam sejenak, membuat Hankyung menunduk takut. Namun sebuah senyum mengembang diwajahnya.
“Kamsahammida, Kyung-ah.”
Dia rangkul leher namja kecil itu kemudian mengecup kilat keningnya. Setelah itu barulah ia mengambil pakaian ditangan anak tersebut.
“Jaga eommamu, appa mandi dulu.”
Hankyung mengangguk semangat, wajahnya semakin terlihat menggemaskan.
Sebelum dia beranjak dari tempat itu, dia memaling pada Minri sejenak.
“Kalau eomma bangun, suruh eomma makan.”
“Ne appa.”
Sehun tersenyum sebelum menghilang dibalik pintu. 10 detik setelahnya kedua mata Daena terbuka.
“Eomma.. apa eomma sudah sadar?” cicit Hankyung dengan mata berbinar senang.
Gadis remaja itu menoleh, kemudian tersenyum dan mengangguk.
“Eomma.. appa menyuruh eomma untuk makan.” Kini berganti Minri yang angkat bicara.
Daena menoleh kearah lain. Dahinya berkerut samar. “Appa?”
Kedua anak itu mengangguk bersamaan. Jawaban itu membuat Daena tersenyum simpul.
“Dimana appa?”
CKLEK!
Seorang namja yang baru saja muncul itu langsung melesat mendekati tempat tidur. Kondisinya bukan malah membaik tapi semakin buruk. Rambutnya semakin berantakan dan busa-busa sabun masih tersisa di lengannya. Sepertinya dia mandi dengan sangat cepat.
“Kau sudah sadar? Ada yang sakit?”
Daena tersenyum, dia pun berusaha duduk, dan dengan reflek dibantu oleh ketiga orang disana. Senyumnya semakin melebar karena suasana hangat ini.
“Ah.. terima kasih anak-anak dan …………………appa.”
Sehun tertegun untuk beberapa detik hingga Hankyung menyadarkannya.
“Appa, eomma ingin makan.”
“Oh eh ah.. baiklah. Apa kalian berdua sudah makan?” tanyanya sambil meraih mangkuk diatas nakas.
“Sudah. Ahjumma tadi memasakkan sup rumput laut. Woah.. enak sekali.” Cerocos Minri sedikit gemas. Daena tersenyum melihat tingkatnya.
“Tapi lebih enak buatan eomma.” Cetus Hankyung imut. Kini Sehun ikut tersenyum, dia sambil menyendokkan bubur kedalam mulut Daena.
“Ne, buatan eomma memang yang paling enak.” Timpal Minri akhirnya.
“Hoam, Hankyung mengantuk.”
Daena lekas bergeser. Untungnya tempat tidur itu berukuran king size. Gadis itu menepuk sisi kanan tempat tidur tersebut.
“Naiklah kesini. Kita tidur bersama.”
“Benarkah? Sama appa juga, ne?” seru Hankyung sambil menarik-narik lengan Sehun.
Kedua remaja disana saling berpandangan sejenak, kemudian Daena mengangguk lirih. Sehun menoleh pada Hankyung.
“Ne, kita semua tidur disini sekarang.”
“Yehet! Noona! Ayo ambil posisi. Aku nanti disamping appa, noona disamping eomma.”
Sehun Daena menggeleng pelan melihat tingkah mereka. Tak berapa lama kedua anak itu terlelap didekat Daena. Mereka sangat lucu.
“Haha, aku seperti merasa punya anak.”
Sehun tersenyum. Dia kembali menyendokkan bubur ke mulut Daena.
“Nado. Mereka sangat penurut dan polos kurasa. Perlahan aku bisa menyukai mereka.”
Daena tersenyum dengan mata menatap kalem kedua anak yang sudah tertidur itu. Tangan kanannya sibuk mengelus rambut mereka bergantian. Sehun tersenyum melihat sifat keibuan Daena yang sama sekali belum pernah dia temui sebelumnya.
“Aku tidak menyangka, pergi ke kota ini akan bertemu kalian bertiga. Ini sangat menyenangkan.”
“Ne, aku juga.”
Mereka pun saling bertemu tatap. Ekspresi wajah Sehun berubah sendu.
“Mianhae… suhu badanmu menjadi seperti ini karena diriku.”
Daena menggeleng tegas. “Ani, ini bukan salahmu, Hunie.”
“Tapi-”
“Sudahlah. Ini hanya sebuah kecelakaan kecil. Buktinya sekarang aku baik-baik saja.”
Sehun menggeleng sambil menggigit bibir bagian bawahnya. “Ani, kau tidak baik-baik saja. Kepalamu juga terbentur sesuatu tadi. Aku tahu ada yang lecet di kepalamu.”
Daena tersenyum lembut. Dia tidak menjawab melainkan mengambil alih mangkuk bubur itu.
“Sudahlah, jangan pernah merasa bersalah. Rasa bersalah itu sama saja dengan kau tidak memaafkan dirimu sendiri. Lebih baik sekarang kau makan karena kondisimu bahkan lebih berantakan dariku. Buka mulut.”
Sehun tetap mengatupkan mulutnya. Namun pancaran mata Daena yang tidak menunjukkan rasa sakit sedikitpun, membuatnya terpaksa membuka mulut dan melahap bubur itu. Ini adalah kali pertamanya dia makan setelah dia melupakan jadwal makannya sejak siang tadi.
“Jangan ikut jadwalku. Aku memang jarang makan siang karena memang tidak ada uang. Kalau kau memaksakan dirimu, bisa-bisa kau kena penyakit maag. Menjadi appa itu harus kuat. Agar bisa dijadikan sandaran untuk keluarganya. Kau lihat bagaimana sinar mata Hankyung? Dia sangat bahagia bisa berinteraksi dengan kita layaknya orang tua untuk dia. Aku yakin, dia pasti sangat membutuhkan peran orang tua di umurnya ini. Yah.. meskipun rasanya aneh juga dipanggil eomma diusia seperti ini, tapi untuk kebahagiaan seorang anak, apapun akan kulakukan.”
Sehun membuka mulutnya lagi saat Daena menyendokkan bubur untuknya. Dalam pikirannya, dia tidak salah memilih bagian hidup. Hankyung, Minri dan Daena, adalah 3 orang yang mampu membuatnya seperti ini. Tak luput juga dengan peran Song ahjumma yang telah dianggapnya sebagai eomma sendiri. Dia bisa melupakan statusnya manjadi ‘anak broken home’. Asalkan keempat orang itu hadir dihidupnya, dia tidak akan pernah merasakan kesepian lagi.
“Sudah, aku ingin tidur.”
Gadis itu meletakkan mangkuk tersebut diatas nakas. Dengan dibantu Sehun, dia kembali memposisikan tubuhnya berbaring. Pakaiannya yang cukup tebal itu sedikit membuatnya kerepotan.
“Kenapa masih disitu? Bukannya kau bilang ingin tidur.” Celetuknya saat melihat Sehun yang tetap duduk dipinggiran ranjang.
Namja itu menggeleng pelan sambil tersenyum. “Ada yang harus kulakukan di rumah. Kau tidurlah dulu. Aku akan kembali 10 menit lagi.”
Sebelum Sehun bangkit, Daena lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Sehun tersenyum tipis sambil menurunkan tangan Daena. “Hanya sebentar. Suatu saat kau pasti tahu.”
Daena tidak bertanya lebih lanjut. Dia biarkan namja berambut coklat madu itu pergi dari ruang ini. Lagipula kepalanya sedikit pusing, jadi dia memilih untuk segera memejamkan mata.
~
Esok paginya..
Song ahjumma menyuruh mereka berdua untuk tidak masuk sekolah hari ini. Selain kondisi Daena belum sepenuhnya baik, seragam mereka juga masih basah.
Keduanya memilih pulang ke rumah bersama dua anak kecil itu. Setelah membersihkan diri masing-masing, mereka pun berkumpul di meja makan untuk menyantap makanan yang dipesankan Sehun. Kedua anak kecil itu makan dengan lahap, terkadang Daena harus mengusap sekitar bibir mereka.
Setelah makanan habis, kedua anak itu segera berlari ke ruang televise. Pada jam seperti ini, banyak saluran tv yang menyediakan kartun atau film untuk anak-anak.
Sementara Sehun dan Daena masih berada di dapur. Gadis itu memaksakan dirinya untuk memasak hidangan makan siang nanti, sedang Sehun terlihat sibuk mencuci piring.
“Jangan memaksakan dirimu, Dae.”
Gadis yang sedang mengambil bahan-bahan makanan dari kulkas, terlihat menoleh sekilas.
“Aku tidak mau kau membuang uangmu dan merepotkan ahjumma lagi. Sebagai perempuan terbesar di rumah ini, aku wajib memasakkan makanan untuk kalian.”
Sehun selesai dengan kegiatannya. Ia bawa tumpukan piring itu ke sudut dapur, disana dia membuka salah satu bilik buffet bagian atas dan meletakkan piring-piring itu disana.
“Tapi kau masih sakit, Dae. Sudahlah, biar aku saja yang masak. Kau istirahat.”
Daena tak peduli. Dia malah mengikat rambutnya satu kebelakang dan melipat kemeja bagian lengannya.
Sehun menggeleng pelan. “Ya sudahlah, terserah padamu saja. Katakan, apa yang harus kulakukan sekarang.”
Gadis itu menoleh. “Temani anak-anak menonton tv.”
Sehun melotot tak suka. “Yaa! Aku ingin membantumu.”
“Tidak perlu Hunie. Nantinya kau malah merepotkanku. Sudahlah, cepat pergi dari sini.”
Daena memutar tubuh Sehun kemudian mendorongnya keluar dari dapur. Diperlakukan seperti itu akhirnya Sehun menurut.
~
Siang itu, Sehun Daena memilih untuk belajar matematika bersama. Daena terlihat sangat antusias karena memang dia sangat ingin se jenius Sehun. Mereka belajar di ruang televise. Suasana rumah minimalis itu hening, Jung bersaudara sedang melaksanakan tidur siang setelah makan.
“Apakah caraku sudah benar, Hunie?” tanya Daena sambil menyodorkan buku tulisnya kehadapan Sehun.
Mereka belajar dalam posisi tiduran dan saling berhadapan. Disekitar mereka, buku dan alat tulis terlihat berceceran.
“Hm. Ini sudah benar, tapi hasilnya masih kurang sempurna. Coba lagi.”
Daena menarik kembali bukunya. Suasana lagi-lagi hening.
Tiba-tiba rasa pusing menyerang Sehun. Dia membanting pensilnya kemudian bangkit. Dirinya tak peduli dengan panggilan gadis itu. Bahkan efek dari rasa pusing tersebut membuatnya kehilangan keseimbangan dan menabrak pintu kamarnya.
“AKH!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s